Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ar Ra'd

Ar Ra’d (Guruh (petir)) surah 13 ayat 16


قُلۡ مَنۡ رَّبُّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ قُلِ اللّٰہُ ؕ قُلۡ اَفَاتَّخَذۡتُمۡ مِّنۡ دُوۡنِہٖۤ اَوۡلِیَآءَ لَا یَمۡلِکُوۡنَ لِاَنۡفُسِہِمۡ نَفۡعًا وَّ لَا ضَرًّا ؕ قُلۡ ہَلۡ یَسۡتَوِی الۡاَعۡمٰی وَ الۡبَصِیۡرُ ۬ۙ اَمۡ ہَلۡ تَسۡتَوِی الظُّلُمٰتُ وَ النُّوۡرُ ۬ۚ اَمۡ جَعَلُوۡا لِلّٰہِ شُرَکَآءَ خَلَقُوۡا کَخَلۡقِہٖ فَتَشَابَہَ الۡخَلۡقُ عَلَیۡہِمۡ ؕ قُلِ اللّٰہُ خَالِقُ کُلِّ شَیۡءٍ وَّ ہُوَ الۡوَاحِدُ الۡقَہَّارُ
Qul man rabbus-samaawaati wal ardhi qulillahu qul afa-attakhadztum min duunihi auliyaa-a laa yamlikuuna anfusihim naf’an walaa dharran qul hal yastawiil a’ma wal bashiiru am hal tastawiizh-zhulumaatu wannuuru am ja’aluu lillahi syurakaa-a khalaquu kakhalqihi fatasyaabahal khalqu ‘alaihim qulillahu khaaliqu kulli syai-in wahuwal waahidul qahhaar(u);

Katakanlah:
“Siapakah Tuhan langit dan bumi?”
Jawabnya:
“Allah”.
Katakanlah:
“Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?”.
Katakanlah:
“Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang, apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?”
Katakanlah:
“Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”.
―QS. 13:16
Topik ▪ Tugas-tugas malaikat
13:16, 13 16, 13-16, Ar Ra’d 16, ArRad 16, Ar Rad 16, Ar-Ra’d 16
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ar Ra'd (13) : 16. Oleh Kementrian Agama RI

Katakanlah hai Nabi kepada orang orang yang mempersekutukan Allah dengan lain-Nya: "Siapakah pencipta alam semesta yang sangat mengagumkan pikiran manusia tentang keindahannya itu?"
Jawablah: "Dialah Allah yang menciptakan semuanya mengatur dan memelihara secara tertib dan sempurna." Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan Nabi Muhammad ﷺ.
supaya menjawab pertanyaan itu, karena bunyi jawaban itu akan sama dengan yang diucapkan oleh orang-orang musyrikin sendiri.
Mereka tidak akan mengingkari bahwa penciptanya adalah Allah Taala sendiri seperti tersebut dalam firman-Nya:

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?"
Tentu mereka akan menjawab: "Allah",
maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).

(Q.S.
Al-Ankabut: 61)

Katakanlah: "Jika memang Allahlah Pencipta alam semesta itu, maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindung selain Allah padahal berhala-berhala yang kamu sembah itu tidak dapat memberi kemanfaatan kepadamu atau menolak kemudaratan daripadamu.
Mengapa kamu menjadikan benda-benda mati itu menjadi pelindungmu?
Mengapa otak pikiranmu tidak dipergunakan untuk menentukan pilihan yang benar lagi sehat?
Berhala-berhala itu dalam keadaan kelemahannya diumpamakan seperti lalat sebagaimana firman Allah:

Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya.
Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu.

(Q.S.
Al-Hajj: 73)

Katakanlah dalam rangka membuka tabir tentang kepicikan akal mereka, sehingga tidak dapat mengadakan perbandingan antara yang baik dan yang buruk: "Adakah sama orang buta yang sama sekali tidak melihat dengan orang yang matanya sehat dapat melihat semua benda di hadapannya dengan terang dan jelas?"
Tentu saja jawabannya: "Tidak sama." Dan jika ditanyakan pula: "Samakah gelap-gulita dengan terang-benderang?"
Tentu jawabannya: "Tidak sama." Sehingga akhirnya dapat diambil kesimpulan mengapa Allah Yang Maha Esa Sempurna dalam segala-galanya akan disamakan dengan berhala, benda mati yang sama sekali tidak dapat memberi manfaat dan menolak kemudaratan.
Demikian pula kekafiran seseorang kepada Allah dan Rasul-Nya yang diserupakan dengan gelap-gulita, karena tidak mengetahui jalan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat tidak sama dengan cahaya keimanan seorang mukmin yang memancar dari wajah dan hatinya.
Dan apakah berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah itu dapat menciptakan makhluk seperti ciptaan Allah, sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?
Sehingga sukar dibedakan mana ciptaan berhala dan mana ciptaan Allah?

Jika memang demikian keadaannya, mereka ada alasan untuk mempersekutukan Allah, akan tetapi keadaannya jauh sekali daripada demikian.
Berhala-berhala itu adalah benda yang beku, jangan lagi dapat disamakan ciptaannya dengan ciptaan Allah sendiri, bahkan terjadinya mereka pun karena diukir dengan tangan manusia.
Ditanya tidak dapat menjawab, tidak dapat memberi kemanfaatan dan kemudaratan sedikit pun kepada penyembahnya, sajen-sajen yang dihidangkan di hadapannya jika dicuri oleh lalat, mereka sama sekali tidak dapat mengambil kembali dan jika penyembah-penyembahnya sedang lengah sehingga seekor serigala kencing di atas kepalanya, mereka pun tidak dapat berkutik apa-apa.

Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu, termasuk pula Pencipta berhala-berhala, dan Dialah Tuhan Yang Tunggal dalam keesaan-Nya lagi Maha Perkasa.
Mengapa kamu menyembah kepada selain-Nya yang sama sekali tidak memberi manfaat dan kemudaratan.

Ar Ra'd (13) ayat 16 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ar Ra'd (13) ayat 16 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ar Ra'd (13) ayat 16 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah memerintah rasul-Nya untuk mendebat orang-orang musyrik sambil mengarahkan dan menjelaskan yang benar.
Maka, Dia pun berfirman kepada Rasulullah ﷺ., "Katakan kepada mereka, wahai Muhammad, 'Siapakah yang menciptakan, memelihara dan mengatur segala yang ada di langit dan di bumi?' Kemudian jelaskan kepada mereka jawaban yang benar yang tidak membingungkan mereka.
Katakan kepada mereka, 'Dialah Allah yang patut disembah, bukan selain Dia.
Kalian semestinya memang hanya menyembah kepada-Nya, bukan kepada yang lain.
' Katakan pula kepada mereka, wahai Muhammad, 'Apakah kalian mengada-ada, setelah bukti tentang kemahaesaan Allah itu tampak jelas, lalu kalian tetap menyembah patung-patung yang kalian anggap sebagai tuhan tanpa kalian sendiri mengakui keesaannya?
Padahal, patung-patung itu pun tidak memiliki kemampuan apa-apa untuk menguntungkan atau merugikan diri sendiri! Mengapa kalian menyamakan patung-patung itu dengan Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta ini?
Sungguh, kalian benar-benar menyamakan Zat yang menciptakan segala sesuatu dengan sesuatu yang tidak memiliki apa-apa! Kalian, kalau demikian, bagikan orang yang menyamakan antara dua hal yang saling berlawanan.
Apakah sama antara orang yang dapat melihat dengan orang yang tidak dapat melihat?
Juga, apakah sama antara kegelapan yang kelam dengan cahaya yang terang?' Apakah mereka sengaja membuat persamaan itu, atau mereka terbawa oleh kesesatan mereka sehingga beranggapan bahwa patung-patung mereka adalah sekutu-sekutu Allah dalam penciptaan dan pengaturan makhluk, lalu persoalan penciptaan menjadi kacau bagi mereka seperti mereka sesat dalam beribadah?
Katakan kepada mereka, wahai Muhammad, 'Hanya Allah sendirilah yang menciptakan segala sesuatu yang ada di alam raya ini.
Dialah, hanya Dia sendiri, yang mencipta dan berhak disembah, dan yang Mahaunggul atas segala sesuatu.
'"

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Katakanlah) hai Muhammad kepada kaummu ("Siapakah Rabb langit dan bumi?"
Jawabnya, "Allah.") jika mereka tidak mau mengatakannya, maka tiada jawaban lain kecuali itu.
(Katakanlah) kepada mereka ("Maka patutkah kalian mengambil selain Allah) selain-Nya (sebagai pelindung-pelindung) berhala-berhala yang kalian sembah (padahal mereka tidak memiliki kekuasaan untuk memberikan kemanfaatan dan tidak pula kemudaratan bagi diri mereka sendiri?") kemudian kalian meninggalkan untuk menyembah kepada Yang memiliki dan Yang menguasai kemanfaatan dan kemudaratan?
Kata tanya di sini mengandung pengertian cemoohan dan ejekan.
(Katakanlah, "Adakah sama orang buta dan orang yang melihat?) orang kafir dan orang mukmin itu apakah sama?
(atau samakah gelap-gulita) yakni kekafiran (dan terang-benderang?) yakni keimanan?
Tentu saja tidak.
(Apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa) artinya sekutu-sekutu itu dapat menciptakan seperti ciptaan Allah (menurut pandangan mereka?") sehingga mereka berkeyakinan bahwa berhala-berhala atau sekutu-sekutu itu berhak untuk disembah oleh sebab kemampuan mereka dalam hal menciptakan?
Kata tanya di sini mengandung makna ingkar, atau dengan kata lain berarti bahwa hakikatnya tidaklah demikian karena sesungguhnya tidak ada yang berhak untuk disembah selain daripada Yang Maha Pencipta.
(Katakanlah, "Allah adalah pencipta segala sesuatu) tiada sekutu bagi-Nya di dalam penciptaan ini, maka tiada sekutu pula bagi-Nya dalam hal disembah (dan Dialah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.") di atas semua hamba-hamba-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Katakanlah (wahai Rasul) kepada orang-orang musyrik :
Siapakah Pencipta langit dan bumi dan yang mengatur keduanya??
Katakanlah :
Allahlah Pencipta dan yang mengatur keduanya, dan kalian mengakui hal itu.
Kemudian, katakanlah kepada mereka disertai dengan hujjah :
Apakah kalian menjadikan selain-Nya sebagai sesembahan kalian, padahal mereka tidak mampu memberikan manfaat kepada diri mereka sendiri atau menghindarkan kemudharatan dari diri mereka, apalagi memberikan manfaat kepada kalian atau menghindarkan mudharat dari kalian, dan kalian meninggalkan penyembahan kepada Dzat yang memiliki manfaat dan mudharat tersebut??
Katakanlah, wahai Rasul :
Apakah sama, menurut kalian, orang kafir (ia seperti orang buta) dan orang Mukmin (ia seperti orang yang dapat melihat)??
Atau apakah sama, menurut kalian, kekafiran (ia seperti kegelapan) dan iman (dan ia seperti cahaya)??
Ataukah kekasih-kekasih mereka yang mereka jadikan sebagai sekutu-sekutu bagi Allah itu dapat menciptakan sebagaimana ciptaan-Nya, sehingga rancu atas mereka ciptaan para sekutu itu dengan ciptaan Allah, lalu mereka meyakini keberkahan sekutu-sekutu itu untuk disembah??
Katakanlah kepada mereka, wahai Rasul :
Allahlah Pencipta segala sesuatu dari ketiadaan, dan Dia-lah satu-satunya yang berhak untuk disembah.
Dia-lah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa yang berhak untuk disembah, bukan berhala-berhala yang tidak bisa memberikan mudharat dan manfaat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia sendiri, karena sesungguhnya mereka mengakui bahwa Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi.
Dia adalah Tuhannya dan yang mengaturnya.
Tetapi sekalipun demikian, mereka telah mengambil dari selain-Nya penolong-penolong yang mereka sembah-sembah, padahal sembahan-sembahan mereka itu sama sekali tidak memiliki sedikit manfaat pun —tidak pula sedikit mudarat pun— bagi diri mereka, juga bagi diri para penyembahnya.
Dengan kata lain, sembahan-sembahan itu tidak dapat memberikan suatu manfaat pun kepada para penyembahnya, tidak dapat pula menolak suatu mudarat pun dari mereka.
Maka apakah sama orang yang menyembah tuhan-tuhan ini selain Allah dengan orang yang menyembah Allah semata tiada sekutu bagi-Nya, sedangkan dia berada pada jalan petunjuk dari Tuhannya?
(Jawabannya tentu saja tidak sama).
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

Katakanlah, "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang, apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?"

Artinya, apakah orang-orang musyrik itu menjadikan sembahan-sembahan bagi mereka selain Allah yang mereka samakan dan sejajarkan dengan kekuasaan-Nya dalam menciptakan segala sesuatu, lalu sembahan-sembahan itu menciptakan hal-hal yang sama dengan ciptaan-Nya, sehingga kedua ciptaan itu sama menurut pandangan mereka, dan mereka tidak dapat membedakannya lagi bahwa padahal makhluk-makhluk itu diciptakan oleh selain-Nya?
Jawabannya, tentu saja tidak, yakni tidaklah kenyataannya seperti itu.
Karena sesungguhnya tiada sesuatu pun yang menyerupai dan sama dengan Dia, tiada tandingan bagi-Nya, tiada lawan bagi-Nya, tiada pembantu bagi-Nya, tidak beranak, dan tidak beristri.
—Mahatinggi Allah dari hal tersebut dengan ketinggian yang sebesar-besarnya—.
Sekalipun mereka yang musyrik itu menyembah sembahan-sembahan selain Allah, tetapi dalam hati mereka mengakui bahwa sembahan-sembahan itu adalah makhluk dan hamba Allah.
Hal ini terbukti melalui talbiyah mereka yang mengatakan, "Labbaika, tiada sekutu bagi­Mu, kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu.
Engkau menguasainya, sedangkan dia tidak berkuasa," juga seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
dalam firman-Nya menceritakan perihal mereka:

Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekat­kan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.
(Az Zumar:3)

Maka Allah membantah dugaan mereka itu, dan Allah menyatakan bahwa tiada seorang pun yang dapat memberikan syafaat di sisi-Nya kecuali dengan seizin-Nya, yaitu melalui firman-Nya dalam ayat lain:

Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat itu.
(Saba': 23)

Dan berapa banyaknya malaikat di langit.
(An Najm:26), hingga akhir ayat.

Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.
Sesungguhnya Allah telah menentukan jumlah mereka dan menghitung mereka dengan hitungan yang teliti.
Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.
(Maryam:93-95)

Apabila semuanya adalah hamba-hamba Allah, maka sebagian dari mereka tidak boleh menyembah sebagian yang lain tanpa dalil dan tanpa bukti.
Apa yang mereka lakukan itu tiada lain hanyalah berdasarkan pendapat, buat-buatan, dan ciptaan mereka sendiri.
Kemudian Allah telah mengutus rasul-rasul-Nya dari awal sampai yang terakhir untuk melarang mereka melakukan penyembahan kepada selain Allah.
Akan tetapi, mereka didustakan dan ditentang.
Maka mereka yang menentang para rasul itu benar-benar berhak mendapat azab Allah.

Kata Pilihan Dalam Surah Ar Ra'd (13) Ayat 16

A'MAA
أَعْمَىٰ

Lafaz ini adalah kata nama mufrad dari kata kerja 'amiya yang berarti menjadi buta, jamaknya adalah 'amya.

A'ma ar rajula maknanya menjadikannya buta, atau mendapatinya buta, atau jahil. Jika lafaz ini disandarkan pada hati atau dikatakan maa a'maahu maka maknanya ialah betapa buta hatinya karena disebabkan banyak kesesatannya. Sebab itu, ungkapan makaan a'ma bermaksud tempat yang tidak diberi petunjuk di dalamnya.

Kata ini disebut 13 kali di dalam Al­ Quran yaitu dalam surah:
-Al An'aam (6), ayat 50;
-Ar Ra'd (13), ayat 16, 19;
-Hud (11), ayat 24;
-Al Israa' (17), ayat 72;
-Thaa Haa (20), ayat 124, 125;
-An Nuur (24), ayat 61;
-Faathir (35), ayat 19;
-Al Mu'min (40), ayat 58;
-Muhammad (47), ayat 23;
-Al Fath (48), ayat 17;
-'Abasa (80), ayat 2.

Al Qasim menafsirkan lafaz a'maa dalam surah Al An'aam (6), ayat 50 dengan katanya, ''Ayat ini mengandung perumpamaan orang sesat dan yang mendapat petunjuk. Maksudnya, perumpamaan antara orang yang tidak mengetahui perkara yang benar dan orang yang mengetahuinya, dan ini memberikan pesan supaya menjauhkan diri dari kesesatan dan mendekatkan diri kepada petunjuk'"

Az Zuhaili menafsirkan, perkataan al­ a'maa wal bashiir adalah "orang kafir dan orang yang beriman; atau "yang sesat dan yang mendapat petunjuk." Sedangkan tafsiran al a'maa dalam surah Al­ Fath adalah "buta," karena dikaitkan dengan jihad, ketika diterangkan tiada dosa bagi mereka meninggalkan jihad, disebabkan ada keuzuran yang nyata yaitu buta.

Dalam menafsirkan surah Thaa Haa, ayat 124, Ibn Katsir menukilkan dari Mujahid, Abu Salih dan As Suddi mengenai makna a'maa dalam ayat tersebut, yaitu "tidak ada hujah baginya"

Sedangkan Ikrimah menjelaskan orang yang dimaksudkan buta itu tidak nampak segala sesuatu selain neraka. Ini bermakna, dia dibangkitkan dan diseret ke neraka dalam keadaan buta mata dan hatinya." Yang dimaksudkan dengan a'maa dalam surah Abasa ialah 'Abdullah bin Umm Maktum,

A'isyah meriwayatkan, "Abasa watawallaa" diturunkan kepada Ibn Umm Maktum yang buta, ketika beliau datang kepada Nabi Muhammad dan berkata,
'Wahai Rasulullah, berilah bimbingan dan ajaran kepadaku tentang apa yang diajarkan oleh Allah". Pada saat itu, nabi sibuk menyampaikan dakwah kepada pembesar-pembesar musyrik, lalu nabi pun berpaling darinya dan menghadap kepada mereka. Karena peristiwa inilah ayat itu diturunkan. Kemudian setelah itu nabi pun memuliakannya dan setiap kali nabi berjumpa dengannya, nabi berkata,
"Salam sejahtera, wahai orang yang membuatku ditegur oleh Allah" Lalu nabi memakaikan jubahnya kepada beliau."

Kesimpulannya, lafaz a'maa dalam ayat-ayat di atas mengandung tiga makna.

Pertama, bermakna buta mata sebagaimana pada surah An Nuur, Al Fath dan Thaa Haa.

Kedua, bermakna buta hati atau dalam kesesatan yaitu yang terdapat dalam surah Al An'aam, Hud, Ar Ra'd, Al Israa, Thaa Haa, Faathir,Al Mu'min dan Muhammad.

Ketiga, bermaksud Abdullah bin Umm Maktum, ini terdapat dalam surah 'Abasa.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal: 4-5

Informasi Surah Ar Ra'd (الرعد)
Surat Ar Ra'd ini terdiri atas 43 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Surat ini dinamakan "Ar Ra'd" yang berarti "guruh" karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya "Dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya",
menunjukkan sifat kesucian dan kesempumaan Allah subhanahu wa ta'ala Dan lagi sesuai dengan sifat Al Qur'an yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan ha­rapan kepada manusia.

Isi yang terpenting dari surat ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta'ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dari ketaatan atau ke­ ingkaran terhadap hukum Allah.

Keimanan:

Allah-lah yang menciptakan alam semesta serta mengaturnya
ilmu Allah meliputi segala sesuatu
adanya malaikat yang selalu memelihara manusia yang datang silih berganti, yaitu malaikat Hafazhah
hanya Allah yang menerima do'a dari hamba­ Nya
memberi taufiq hanya hak Allah, sedang tugas para rasul menyampaikan agama Allah.

Hukum:

Manusia dilarang mendo'akan yang jelek-jelek untuk dirinya
kewajiban mencegah perbuatan-perbuatan yang mungkar.

Kisah:

Kisah pengalaman nabi-nabi zaman dahulu.

Lain-lain:

Beberapa sifat yang terpuji
perumpamaan bagi orang-orang yang menyembah ber­hala dan orang-orang yang menyembah Allah
Allah tidak merobah nasib sesuatu bangsa sehingga mereka merobah keadaan mereka sendiri.


Gambar Kutipan Surah Ar Ra’d Ayat 16 *beta

Surah Ar Ra'd Ayat 16



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ar Ra'd

Surah Ar-Ra'd (bahasa Arab:الرّعد, ar-Ra'd, "Guruh") adalah surah ke-13 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 43 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan Ar-Ra'd yang berarti Guruh (Petir) karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya ...dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya, menunjukkan sifat kesucian dan kesempurnaan Allah subhanahu wa ta'ala, dan lagi sesuai dengan sifat Al-Quran yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan harapan kepada manusia.
Isi yang terpenting dari surah ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta'ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dan ketaatan atau keingkaran terhadap hukum Allah.

Nomor Surah13
Nama SurahAr Ra'd
Arabالرعد
ArtiGuruh (petir)
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu96
JuzJuz 13 (ayat 1-43)
Jumlah ruku'3 ruku'
Jumlah ayat43
Jumlah kata854
Jumlah huruf3541
Surah sebelumnyaSurah Yusuf
Surah selanjutnyaSurah Ibrahim
4.4
Rating Pembaca: 4.4 (8 votes)
Sending







✔ surah ar rad ayat 16 penjelasannya

[apsl-login-lite login_text='❤ Bookmark ayat ini?'] [bookmark]📖 Lihat Semua Bookmark-ku