Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

Ar Ra'd

Ar Ra’d (Guruh (petir)) surah 13 ayat 13


وَ یُسَبِّحُ الرَّعۡدُ بِحَمۡدِہٖ وَ الۡمَلٰٓئِکَۃُ مِنۡ خِیۡفَتِہٖ ۚ وَ یُرۡسِلُ الصَّوَاعِقَ فَیُصِیۡبُ بِہَا مَنۡ یَّشَآءُ وَ ہُمۡ یُجَادِلُوۡنَ فِی اللّٰہِ ۚ وَ ہُوَ شَدِیۡدُ الۡمِحَالِ
Wayusabbihurra’du bihamdihi wal malaa-ikatu min khiifatihi wayursilush-shawaa’iqa fayushiibu bihaa man yasyaa-u wahum yujaadiluuna fiillahi wahuwa syadiidul mihaal(i);

Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah, dan Dialah Tuhan Yang Maha keras siksa-Nya.
―QS. 13:13
Topik ▪ Malaikat ▪ Sifat-sifat malaikat ▪ Azab orang kafir
13:13, 13 13, 13-13, Ar Ra’d 13, ArRad 13, Ar Rad 13, Ar-Ra’d 13
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. Ar Ra'd (13) : 13. Oleh Kementrian Agama RI

Dan guruh itu bila mengeluarkan suaranya yang mengguntur, maka suaranya itu adalah bacaan tasbih seraya memuji kepada Allah sebagai tanda tunduk kepada Allah, menyucikan Allah dari persekutuan dan pernyataan kelemahan, dibandingkan dengan kekuatan Penciptanya Yang Maha Luhur dan Maha Agung.
Tiap-tiap benda yang bersuara maka suaranya itu berarti tasbih hanya saja manusia tidak mengerti bahasanya, seperti dinyatakan dalam firman-Nya:

Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengetahui tasbih mereka.
(Q.S.
Al-Isra': 44)

Diriwayatkan oleh Bukhari, Ahmad, Turmuzi, Nasa'i dari Ibnu Umar,
bahwa Nabi Muhammad ﷺ.
bila mendengar suara guruh dan halilintar suka mendoa demikian: "Ya Allah, janganlah Engkau membunuh kami dengan kemurkaan-Mu dan janganlah kami dibinasakan dengan azab-Mu, dan berilah sehat walafiat kepada kami sebelum itu."

Abu Hurairah meriwayatkan pula sebuah hadis yang menyatakan
bahwa Rasulullah ﷺ bila ada tiupan angin yang keras, atau mendengar suara guruh berubah warna mukanya, lalu beliau berkata kepada guruh itu: "Maha Suci Allah, yang engkau bertasbih kepada-Nya." Dan kepada angin beliau berkata: "Ya Allah jadikanlah angin itu pembawa rahmat dan jangan membawa azab."

Dan demikian pula para malaikat bertasbih karena takut kepada Allah dan memuji kepada-Nya.
Dan Allah melepaskan halilintar, lalu mengenai siapa yang Dia kehendaki dan membinasakannya, namun mereka berbantah-bantahan juga tentang Allah, tentang sifat-sifat-Nya yang telah diterangkan oleh Rasul-Nya, seperti ilmu-Nya yang sempurna, kekuasaan-Nya, keesaan-Nya dan ketentuan-Nya dan menghidupkan manusia kembali di hari kiamat untuk menghadapkan mereka pada hari pengadilan dan pembalasan.
Pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menyuruh supaya berlaku sabar atas keingkaran orang-orang musyrikin yang menuntut supaya Nabi mengemukakan mukjizat seperti tongkat Musa, mukjizat Isa dan lain-lain padahal Alquran sendiri adalah mukjizat yang paling besar dan kekal sepanjang masa, tidak dapat ditiru oleh siapa pun juga.
Allah menyuruh Nabi-Nya berlaku sabar itu ialah dengan pengertian, bahwa mereka itu bukan saja mengingkari kenabianmu, dan menuntut supaya dikemukakan berbagai mukjizat, bahkan mereka itu sudah melampaui batas sampai mengingkari ketuhanan Allah dan keesaan-Nya, mengadakan berbagai sekutu bagi Allah, mengatakan bahwa Allah mempunyai anak, mengingkari adanya hari berbangkit dan pembalasan.
Maka dengan cara demikian Allah subhanahu wa ta'ala menenteramkan hati Nabi-Nya supaya jangan terlalu sedih dan prihatin menghadapi semua tantangan itu, dan Dialah Tuhan Yang Maha Keras (siksa-Nya) seperti dicantumkan dalam firman-Nya:

Dan begitulah azab Tuhanmu apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat lalim.
Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras.

(Q.S.
Hud: 102)

Ar Ra'd (13) ayat 13 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy Ar Ra'd (13) ayat 13 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi Ar Ra'd (13) ayat 13 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Selain itu, tanda kekuasaan-Nya adalah bahwa guruh pun tunduk dan patuh kepada Allah dengan sepenuhnya.
Suara petir yang kalian dengar itu tak ubahnya sebagai tasbih yang telah menciptakannya, sebagai bukti kepatuhannya kepada Sang Pencipta.
Demikian pula malaikat yang tidak dapat kalian lihat, mereka bertasbih pula memuji Allah subhanahu wa ta'ala Dialah yang menurunkan angin badai yang panas dan membakar, lalu menimpakannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Namun, meskipun bukti-bukti tentang kemahakuasaan Allah begitu nyata dan jelas, mereka masih saja mendebat tentang hakikat Allah.
Padahal, Allah Mahakuat dan siasat-Nya dalam membalas makar kepada musuh-musuh-Nya pun sungguh sangat tajam.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan guruh itu bertasbih) yaitu malaikat yang diserahi tugas untuk menggiring mendung seraya (memuji Allah) artinya ia selalu mengucapkan kalimat 'subhaanallaah wa bihamdihi' (dan) demikian pula bertasbih (para malaikat karena takut kepada-Nya) kepada Allah (dan Allah melepaskan halilintar) yaitu api yang keluar dari mendung (lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki) kemudian halilintar itu membakarnya.
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang laki-laki yang Nabi ﷺ mengutus seseorang untuk menyerunya menyembah Allah.
Akan tetapi laki-laki itu menjawab, "Siapakah utusan Allah itu, dan siapakah Allah itu, apakah ia dari emas atau dari perak atau dari tembaga." Ketika itu juga turunlah halilintar menyambarnya sehingga hancur tulang batok kepalanya (dan mereka) orang-orang kafir (berbantah-bantahan) selalu membantah Nabi ﷺ (tentang Allah dan Dialah Tuhan Yang Maha Keras siksa-Nya) Maha Kuat atau Maha Keras azab-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Petir bertasbih dengan memuji Allah, tasbih yang menunjukkan ketundukannya kepada Rabbnya, dan para malaikat mensucikan Rabbnya karena rasa takutnya kepada Allah.
Allah mengirimkan petir yang membinasakan, lalu dengannya Allah membinasakan siapa saja yang dikehendaki-Nya dari makhluk-Nya.
Orang-orang kafir berbantah-bantahan tentang keesaan Allah dan kekuasaan-Nya untuk membangkitkan (manusia dari kematiannya), dan Dia sangat kuat dan keras (siksa-Nya) terhadap siapa yang bermaksiat kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah.

Ayat ini semakna dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang mengatakan:

Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya.
(Al Israa':44)

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Sa'd, telah menceritakan kepadaku ayahku yang mengatakan bahwa ia duduk di sebelah Humaid ibnu Abdur Rahman di masjid, lalu lewatlah seorang syekh dari kalangan Bani Giffar, kemudian Humaid menyuruh seseorang untuk memanggilnya.
Setelah syekh itu tiba, ia mengatakan, "Hai anak saudaraku, luaskanlah tempat duduk antara aku dan engkau." Syekh itu pernah menemani Rasulullah ﷺ (yakni berpredikat seorang sahabat).
Syekh itu datang, lalu duduk di antara aku dan Humaid.
Humaid bertanya kepadanya, "Hadis apakah yang akan engkau ceritakan kepadaku dari Rasulullah ﷺ?"
Syekh menjawab bahwa ia pernah mendengar dari seorang syekh dari kalangan Bani Giffar bercerita bahwa syekh yang kedua ini pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah mengadakan awan, maka awan itu dapat berbicara dengan suara yang paling baik dan dapat tertawa dengan tawa yang paling baik.

Makna yang dimaksud —hanya Allah yang lebih mengetahui— bahwa ucapan awan adalah petirnya, dan tertawanya ialah kilatnya.

Musa ibnu Ubaidah telah meriwayatkan dari Sa'd ibnu Ibrahim yang mengatakan bahwa Allah mengirimkan hujan, maka tiada tawa yang lebih baik daripada tawanya, dan tiada bicara yang lebih indah daripada bicaranya.
Tertawanya adalah kilat, dan bicaranya adalah petir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Ubaidillah Ar-Razi, dari Muhammad ibnu Muslim yang mengatakan, "Telah sampai kepada kami, suatu berita bahwa kilat adalah seorang malaikat yang memiliki empat muka, yaitu muka manusia, muka banteng, muka elang, dan muka singa, apabila mengibaskan ekornya, maka itulah kilatnya."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid ibnu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Al-Hajjaj, telah menceritakan kepada kami Abu Matar, dari Salim, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ apabila mendengar suara guruh dan petir, beliau mengucapkan doa berikut: Ya Allah, janganlah Engkau bunuh kami dengan murka-Mu, dan janganlah Engkau binasakan kami dengan azab-Mu, dan maafkanlah kami sebelum itu.

Hadis ini merupakan riwayat Imam Turmuzi dan Imam Bukhari di dalam Kitabul Adab, serta Imam Nasai di dalam Bab "Zikir Malam dan Siang Hari".
Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-Hya meriwayatkannya melalui hadis Al-Hajjaj ibnu Artah, dari Abu Mathar, tetapi ia tidak menyebutkan namanya.

Imam Abu Ja'far ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Israil, dari ayahnya, dari seorang lelaki, dari Abu Hurairah yang me-rafa'-kannya (sampai kepada Nabi ﷺ).
Disebutkan bahwa Nabi ﷺ membaca doa berikut apabila mendengar suara guruh: Mahasuci Tuhan yang guruh bertasbih dengan memuji-Nya.

Diriwayatkan dari Ali r.a.
bahwa apabila ia mendengar suara guruh mengucapkan doa berikut: "Mahasuci Tuhan yang engkau bertasbih kepada-Nya."

Hal yang sama telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Tawus, dan Al-Aswad ibnu Yazid, bahwa mereka mengucapkan doa tersebut.

Al-Auza'i mengatakan, "Ibnu Zakaria pernah berkata bahwa barang siapa yang mendengar suara guruh, lalu membaca doa ini, 'Mahasuci Allah dan dengan memuji kepada-Nya,' niscaya dia tidak akan disambar petir."

Dari Abdullah ibnuz Zubair, disebutkan bahwa apabila ia mendengar suara guruh, sedangkan ia dalam keadaan berbicara, maka ia menghentikan pembicaraannya dan mengucapkan doa, "Mahasuci Tuhan yang guruh dan para malaikat bertasbih kepada-Nya dengan memuji-Nya karena takut kepada-Nya." Lalu ia berkata, "Sesungguhnya suara ini benar-benar merupakan peringatan yang keras bagi penduduk bumi." Demikianlah menurut riwayat Imam Malik di dalam kitab Muwata-nya dan Imam Bukhari di dalam Kitabul Adab.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Daud At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Sadaqah ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Wasi', dari Ma'mar ibnu Nahar, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Tuhan kalian telah berfirman, "Sekiranya hamba-hamba-Ku taat kepada-Ku, tentulah Aku sirami mereka dengan air hujan di malam hari, dan Aku terbitkan kepada mereka matahari di siang harinya, dan tentulah Aku tidak akan memperdengarkan suara guruh kepada mereka.”

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Yahya As-Saji, telah menceritakan kepada kami Abu Kamil Al-Juhdari, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Kasir Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Abdul Karim, telah menceritakan kepada kami Ata, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Apabila kalian mendengar suara guruh, maka berzikirlah kepada Allah, karena sesungguhnya guruh tidak akan mengenai orang yang berzikir.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki.

Artinya, Allah melepaskan petir sebagai azab-Nya yang Dia timpakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Karena itulah halilintar banyak terjadi di akhir zaman, seperti apa yang dikatakan oleh Imam Ahmad.
Ia mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mus'ab telah menceritakan kepada kami Imarah, dari AbuNadrah, dari Abu Sa'id Al-Khudri r.a., bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda: Halilintar akan banyak bila hari kiamat telah dekat, sehingga seorang lelaki datang kepada suatu kaum, lalu ia mengatakan, "Siapakah yang telah disambar petir di antara kalian kemarin?” Maka mereka menjawab, "Si Fulan, si Fulan, dan si Fulan.”

Telah diriwayatkan sebuah hadis berkenaan dengan asbabun nuzul ayat ini oleh Al-Hafiz Abu Ya’la Al-Mausuli, telah menceritakan kepada kami Ishaq, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abu Sarah Asy-Syaibani, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas, bahwa Rasulullah ﷺ mengirimkan seorang lelaki kepada seseorang dari kalangan orang-orang Badui yang kafir.
Beliau ﷺ memerintahkan kepada pesuruhnya itu, "Pergilah dan serulah dia untuk memeluk (agama)ku!" Pesuruh berangkat menuju tempat lelaki Badui itu.
Setelah datang, ia berkata kepadanya, "Rasulullah ﷺ menyerumu!" Lelaki Badui itu bertanya, "Siapakah Rasulullah, dan apakah Allah itu, apakah dari emas ataukah dari perak atau dari tembaga?"
Pesuruh Rasulullah ﷺ kembali menghadap kepada Rasulullah ﷺ dan menceritakan apa yang dialaminya, Ia berkata kepada Nabi ﷺ, "Telah aku ceritakan kepadamu bahwa orang itu jauh lebih ingkar daripada apa yang diperkirakan.
Dia mengatakan anu dan anu kepadaku (menunjukkan keingkarannya)." Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku, "Pergilah lagi kamu kepadanya!" Pesuruh Rasulullah ﷺ berangkat lagi kepadanya untuk kedua kalinya, dan lelaki Badui yang diserunya mengatakan hal yang sama dengan sebelumnya.
Maka pesuruh Rasulullah ﷺ kembali dan berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Wahai Rasulullah, telah aku ceritakan kepadamu bahwa dia lebih ingkar daripada itu." Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya.”Kembalilah kamu dan serulah dia!" Pesuruh Rasulullah ﷺ kembali kepada lelaki Badui itu untuk yang ketiga kalinya, tetapi lelaki Badui itu mengeluarkan jawaban yang sama kepada utusan Rasulullah.
Ketika sedang berbicara dengan utusan Rasulullah, tiba-tiba Allah mengirimkan awan di atas kepala lelaki Badui itu, lalu awan tersebut mengeluarkan guruhnya, dan petir menyambar lelaki Badui itu mengenai kepalanya sehingga kepalanya hilang.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya:

...dan Allah melepaskan halilintar., hingga akhir ayat.

Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadis Ali ibnu Abu Sarah dengan sanad yang sama.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar meriwayatkannya dari Abdah ibnu Abdullah, dari Yazid ibnu Harun, dari Dulaim ibnu Gazwan, dari Sabit, dari Anas, lalu disebutkan hal yang semisal.

Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Aban ibnu Yazid, telah menceritakan kepada kami Abu Imran Al-Juni, dari Abdur Rahman ibnu Sahhar Al-Abdi.
Disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah mengutusnya kepada seseorang yang berlaku sewenang-wenang untuk menyerunya agar memeluk Islam.
Tetapi lelaki yang diserunya bertanya, "Bagaimanakah menurut kalian tentang Tuhan kalian, apakah dari emas, atau dari perak atau dari permata?"
Ketika lelaki yang diseru itu membantah mereka yang menyerunya, tiba-tiba Allah mengirimkan segumpal awan, lalu awan itu mengeluarkan suara guruhnya, kemudian Allah melepaskan halilintar mengenai lelaki yang diseru itu sehingga kepalanya hilang.
Dan turunlah ayat ini.

Abu Bakar ibnu Ayyasy telah menceritakan dari Lais ibnu Sulaim, dari Mujahid yang mengatakan bahwa seorang Yahudi datang kepada Nabi ﷺ, lalu berkata, "Hai Muhammad, ceritakanlah kepadaku tentang Tuhanmu, terbuat dari apa, apakah dari tembaga atau dari mutiara atau dari batu yaqut?"
Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa lalu datanglah halilintar menyambar lelaki itu hingga binasa, kemudian Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya:

...dan Allah melepaskan halilintar., hingga akhir ayat.

Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa pernah ada seorang lelaki yang ingkar kepada Al-Qur'an dan mendustakan Nabi ﷺ Lalu Allah mengirimkan halilintar untuk menyambarnya hingga binasa, kemudian Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan Firman-Nya:

...dan Allah melepaskan halilintar., hingga akhir ayat.

Sehubungan dengan asbabun nuzul ayat ini ulama tafsir menceritakan kisah Amir ibnut Tufail dan Arbad ibnu Rabi'ah ketika keduanya tiba di Madinah dan menghadap kepada Rasulullah ﷺ, lalu keduanya meminta separo dari urusan itu buat mereka berdua kepada Rasulullah ﷺ Tetapi Rasulullah ﷺ menolak permintaan mereka berdua.
Maka Amir ibnut Tufail berkata kepada Rasulullah ﷺ, "Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar akan memenuhi kota Madinah untuk memerangimu dengan pasukan berkuda dan pasukan jalan kaki." Maka Rasulullah ﷺ menjawabnya, "Allah pasti menolakmu melakukan hal tersebut, demikian pula orang-orang Ansar." Kemudian keduanya berniat akan membunuh Rasulullah ﷺ Untuk itu, salah seorang dari keduanya mengajak Rasulullah ﷺ berbicara, sedangkan yang lainnya menghunus pedang untuk membunuh Rasulullah ﷺ dari arah belakang.
Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta'ala.
melindungi diri Rasulullah ﷺ dari perbuatan keduanya dan menjaganya.
Akhirnya keduanya pergi meninggalkan kota Madinah, lalu berkeliling menemui kabilah-kabilah Arab Badui, mengumpulkan orang-orangnya buat memerangi Rasulullah ﷺ Maka Allah mengirimkan awan yang mengandung halilintar kepada Arbad, kemudian Arbad mati terbakar disambar halilintar.
Adapun Amir ibnut Tufail, Allah mengirimkan penyakit ta'un kepadanya, akhirnya tubuh Amir terkena penyakit bisul yang besar, sehingga Amir merintih-rintih kesakitan dan berkata, "Hai keluarga Amir, aku terserang bisul seperti bisul punuk unta, dan kematianku sudah dekat, yaitu di rumah keluarga Saluliyah." Akhirnya matilah keduanya.
Semoga mereka berdua dilaknat oleh Allah.
Sehubungan dengan peristiwa seperti itu Allah menurunkan firman-Nya:

...dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah.

Sehubungan dengan peristiwa itu Lubaid ibnu Rabi'ah (saudara lelaki Arbad) mengatakan dalam bait syairnya yang mengungkapkan rasa belasungkawanya, "Aku merasa khawatir maut akan merenggut Arbad, tetapi aku tidak merasa takut akan keselamatannya terhadap hujan-Mu dan singa.
Tetapi sangat mengejutkan aku halilintar dan guruh yang menggelegar menyambar seorang pendekar di hari yang sangat kubenci di Najd."

Al-Hafiz Abul Qasim At-Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mas'adah ibnu Sa'id Al-Attar, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Munzir Al-Hizami, telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz ibnu Imran, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman dan Abdullah (keduanya anak Zaid ibnu Aslam), dari ayahnya, dari Ata ibnu Yasar, dari Ibnu Abbas, bahwa Arbad ibnu Qais ibnu Hazz ibnu Jalid ibnu Ja'far ibnu Kilab dan 'Amir ibnut Tufail ibnu Malik tiba di Madinah untuk menjumpai Rasulullah ﷺ Lalu keduanya menjumpainya, saat itu Rasulullah ﷺ sedang duduk, maka keduanya duduk di hadapan Rasulullah ﷺ Amir ibnut Tufail berkata, "Hai Muhammad, apakah yang akan engkau berikan kepadaku jika aku masuk Islam?"
Rasulullah ﷺ bersabda, "Engkau akan memperoleh hak seperti kaum muslim lainnya dan mempunyai kewajiban yang sama dengan mereka." Amir ibnut Tufail berkata lagi "Apabila aku masuk Islam, maukah engkau jika aku memegang tampuk pemerintahan sesudahmu?"
Rasulullah ﷺ bersabda, "Hal itu bukanlah untukmu, bukan pula untuk kaummu, tetapi engkau boleh memegang tali kendali kuda (memimpin pasukan berkuda)." Amir menjawab, "Sekarang saya adalah pemimpin pasukan berkuda Najd.
Berikanlah kepadaku kekuasaan atas daerah-daerah pe­dalaman, dan engkau mempunyai kekuasaan di daerah-daerah perkotaan." Rasulullah ﷺ menjawab, "Tidak." Ketika keduanya telah pergi dari hadapan Rasulullah ﷺ, berkatalah Amir, "Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya aku akan memenuhi kota Madinah dengan pasukan berkuda dan pasukan jalan kaki untuk memerangimu." Rasulullah ﷺ menjawabnya, "Allah pasti mencegahmu." Setelah Arbad dan Amir keluar dari sisi Rasulullah ﷺ, Amir berkata, "Hai Arbad, aku akan menyibukkan Muhammad darimu dengan pembicaraan, lalu pukullah dia olehmu dengan pedang.
Karena sesungguhnya orang-orang Madinah itu —bila kamu membunuh Muhammad— paling tidak tuntutan mereka adalah diat.
Mereka pasti tidak mau berperang, maka kita beri mereka diat-nya." Arbad berkata, "Akan saya lakukan." Keduanya kembali lagi menemui Rasulullah ﷺ Amir berkata, "Hai Muhammad, kemarilah bersamaku, aku akan berbicara denganmu." Rasulullah ﷺ bangkit dan pergi bersama Amir, lalu keduanya duduk di dekat pagar kebun kurma.
Amir berbincang-bincang dengan Rasulullah ﷺ, sedangkan Arbad menghunus pedangnya.
Tetapi ketika Arbad meletakkan tangannya pada gagang pedang, tiba-tiba tangannya kaku dan menempel pada gagang pedangnya sehingga ia tidak dapat mencabut pedang.
Ketika Arbad dalam keadaan demikian, dalam waktu yang cukup lama dirasakan oleh Amir, tiba-tiba Rasulullah ﷺ berpaling ke belakang dan melihat Arbad dalam posisinya yang demikian, maka beliau pergi meninggalkan keduanya.
Akhirnya Amir dan Arbad pergi dari hadapan Rasulullah ﷺ, dan ketika keduanya telah sampai di Al-Harrah —yaitu Harrah Raqim— keduanya turun beristirahat.
Sa'd ibnu Mu'az dan Usaid ibnu Hudair keluar (dari Madinah) mengejar keduanya.
Sa'd dan Usaid berkata, "Tampakkanlah dirimu, hai dua orang lelaki musuh Allah, semoga Allah melaknatmu berdua!" Amir bertanya, "Siapakah temanmu itu, hai Sa'd?"
Sa'd menjawab, "Ini adalah Usaid ibnu Hudair, panglima pasukan." Keduanya pergi dari Madinah.
Ketika sampai di Ar-Raqm, Allah mengirimkan halilintar bagi Arbad, lalu halilintar menyambarnya hingga mati.
Sedangkan Amir ketika ia sampai di Al-Kharim, Allah menimpakan penyakit bisul yang membinasakannya.
Pada malam harinya ia sampai di rumah seorang wanita dari kalangan Bani Salul, lalu ia mengusap bisul di tenggorokannya seraya berkata, "Bisul seperti punuk unta di rumah seorang wanita Bani Salul," dengan harapan dia ingin mati di rumah wanita itu.
Pada keesokan harinya ia mengendarai kudanya pulang ke negerinya, tetapi di tengah jalan ia sekarat dan mati.
Sehubungan dengan peristiwa kedua orang itu Allah menurunkan firman-Nya: Allah mengetahui apa yang dikandung oleh setiap perempuan.
(Ar Ra'du:8) sampai dengan firman-Nya: dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
(Ar Ra'du:11)

Perawi mengatakan bahwa malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran menjaga Nabi Muhammad ﷺ atas perintah Allah.
Kemudian perawi menyebutkan kisah Arbad dan kematiannya, lalu membacakan firman Allah subhanahu wa ta'ala.: dan Allah melepaskan halilintar.
(Ar Ra'du:13), hingga akhir ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...dan mereka berbantah-bantahan tentang Allah.

Maksudnya, mereka meragukan kebesaran Allah yang sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Dia.

...dan Dialah Tuhan Yang Mahakeras siksa-Nya.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa siksaan Allah yang amat keras hanya ditujukan kepada orang yang kelewat batas terhadap-Nya serta berkepanjangan dalam kekufurannya.
Ayat ini maknanya serupa dengan firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Dan mereka pun merencanakan makar dengan sungguh-sungguh dan Kami merencanakan makar (pula), sedangkan mereka tidak menyadari.
Maka perhatikanlah betapa sesungguhnya akibat makar mereka itu, bahwasanya Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya.
(An Naml:50-51)

Dari Ali r.a., disebutkan sehubungan dengan makna firman-Nya:

...dan Dialah Tuhan YangMahakeras siksa-Nya.Yakni sangat keras pembalasan-Nya.

Mujahid mengatakan bahwa Allah sangat kuat (Mahakuat).

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah Ar Ra'd (13) Ayat 13

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Arbad bin Qa’is dan ‘Amir bin ath-Thufail menghadap Rasulullah ﷺ di Madinah.
‘Amir berkata: “Hai Muhammad.
Jabatan apa yang akan engkau berikan kepadaku apabila aku masuk Islam?” Rasulullah menjawab:
“Hakmu sama dengan hak kaum Muslimin, dan kewajibanmu serupa dengan kewajiban mereka.” Ia berkata lagi: “Apakah engkau akan menjadikanku pimpinan setelahmu?” Nabi menjawab:
“Itu bukan urusanmu dan juga bukan urusan kaummu.”
Kemudian mereka berdua keluar.
Berkatalah ‘Amir kepada Arbad: “Aku akan mengajak bicara Muhammad sehingga ia tidak memperhatikan kamu, dan saat itulah kamu penggal lehernya.” Kemudian mereka kembali lagi kepada Rasulullah.” ‘Amir berkata: “Hai Muhammad, mari kita bicarakan sesuatu.” Maka berdirilah Rasulullah ﷺ bersamanya dan bercakap-cakap dengannya.
Pada waktu itu Arbad sudah bersiap-siap memegang hulu pedang untuk mencabutnya, akan tetapi tangannya tidak berdaya.
Rasulullah berpaling dan melihat perbuatannya.
Kemudian Rasulullah meninggalkan kedua orang itu, dan mereka pun pulang.
Ketika sampai di kampung ar-Raqm, Allah mengirimkan petir untuk menyambar Arbad sampai mati.
Allah menurunkan ayat ini (ar-Ra’d: 8-13) sebagai penegasan bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, termasuk yang masih di dalam kandungan, dan Maha Kuasa mengatur hidup dan mati makhluk-Nya.

Diriwayatkan oleh an-Nasa-i dan al-Bazzar, yang bersumber dari Anas bahwa Rasulullah mengutus seorang shahabatnya kepada seorang pembesar jahilian untuk mengajaknya kepada agama Allah.
Berkatalah pembesar itu: “Apakah Rabb-mu, yang engkau ajak supaya aku menyembah-Nya itu, dibuat dari besi, tembaga, perak, atau emas?” Utusan itu kembali dan melaporkan kejadian itu kepada Rasulullah ﷺ.
Kemudian ia disuruh kembali mengajak pembesar jahiliah itu sampai tiga kali.
Maka Allah mengirimkan petir untuk menyambarnya sampai terbakar.
Turunnya ayat ini (ar-Ra’d: 13) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah Ar Ra'd (13) Ayat 13

MIHAAL
مِحَال

Arti lafaz mihaal ialah pentadbiran Allah dalam menghancurkan dan mengazab orang yang durhaka dengan azab yang kuat dan tidak dapat ditentang. Di dalam Al Qur'an, lafaz mihaal disebut hanya sekali saja yaitu dalam surah Ar Ra(d (13), ayat 13.

Dalam ayat mi diterangkan Allah adalah syadiidul mihaal. Imam Ibn Katsir menyatakan, Imam Ibn Jarir At Tabari mentafsirkan wa huwa syadiidul mihaal yang terdapat dalam ayat itu dengan tafsiran, "Allah sangat keras azabnya kepada orang yang menentangnya, orang yang durhaka dan orang yang melampaui batas dalam melakukan kekafiran,"

Imam Ali mempunyai pendapat yang hampir sama, yaitu makna syadiidul mihaal adalah sangat keras dalam menyiksa. Sedangkan Imam Mujahid menafsirkannya dengan sangat kuat.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:567

Informasi Surah Ar Ra'd (الرعد)
Surat Ar Ra'd ini terdiri atas 43 ayat termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Surat ini dinamakan "Ar Ra'd" yang berarti "guruh" karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya "Dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya",
menunjukkan sifat kesucian dan kesempumaan Allah subhanahu wa ta'ala Dan lagi sesuai dengan sifat Al Qur'an yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan ha­rapan kepada manusia.

Isi yang terpenting dari surat ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta'ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dari ketaatan atau ke­ ingkaran terhadap hukum Allah.

Keimanan:

Allah-lah yang menciptakan alam semesta serta mengaturnya
ilmu Allah meliputi segala sesuatu
adanya malaikat yang selalu memelihara manusia yang datang silih berganti, yaitu malaikat Hafazhah
hanya Allah yang menerima do'a dari hamba­ Nya
memberi taufiq hanya hak Allah, sedang tugas para rasul menyampaikan agama Allah.

Hukum:

Manusia dilarang mendo'akan yang jelek-jelek untuk dirinya
kewajiban mencegah perbuatan-perbuatan yang mungkar.

Kisah:

Kisah pengalaman nabi-nabi zaman dahulu.

Lain-lain:

Beberapa sifat yang terpuji
perumpamaan bagi orang-orang yang menyembah ber­hala dan orang-orang yang menyembah Allah
Allah tidak merobah nasib sesuatu bangsa sehingga mereka merobah keadaan mereka sendiri.


Gambar Kutipan Surah Ar Ra’d Ayat 13 *beta

Surah Ar Ra'd Ayat 13



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah Ar Ra'd

Surah Ar-Ra'd (bahasa Arab:الرّعد, ar-Ra'd, "Guruh") adalah surah ke-13 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 43 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan Ar-Ra'd yang berarti Guruh (Petir) karena dalam ayat 13 Allah berfirman yang artinya ...dan guruh itu bertasbih sambil memuji-Nya, menunjukkan sifat kesucian dan kesempurnaan Allah subhanahu wa ta'ala, dan lagi sesuai dengan sifat Al-Quran yang mengandung ancaman dan harapan, maka demikian pulalah halnya bunyi guruh itu menimbulkan kecemasan dan harapan kepada manusia.
Isi yang terpenting dari surah ini ialah bahwa bimbingan Allah kepada makhluk-Nya bertalian erat dengan hukum sebab dan akibat.
Bagi Allah subhanahu wa ta'ala tidak ada pilih kasih dalam menetapkan hukuman.
Balasan atau hukuman adalah akibat dan ketaatan atau keingkaran terhadap hukum Allah.

Nomor Surah13
Nama SurahAr Ra'd
Arabالرعد
ArtiGuruh (petir)
Nama lain-
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu96
JuzJuz 13 (ayat 1-43)
Jumlah ruku'3 ruku'
Jumlah ayat43
Jumlah kata854
Jumlah huruf3541
Surah sebelumnyaSurah Yusuf
Surah selanjutnyaSurah Ibrahim
4.7
Rating Pembaca: 4.9 (29 votes)
Sending







✔ Qs 13:13, Sooratur- Ra`d: Aayah 13, surat ar ra\d ayat 13