Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nuur

An Nuur (Cahaya) surah 24 ayat 55


وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ
Wa’adallahul-ladziina aamanuu minkum wa’amiluush-shaalihaati layastakhlifannahum fiil ardhi kamaaastakhlafal-ladziina min qablihim walayumakkinanna lahum diinahumul-ladziiirtadha lahum walayubaddilannahum min ba’di khaufihim amnan ya’buduunanii laa yusyrikuuna bii syai-an waman kafara ba’da dzalika fa-uula-ika humul faasiquun(a);

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa.
Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.
Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.
―QS. 24:55
Topik ▪ Iman ▪ Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat ▪ Sifat iblis dan pembantunya
24:55, 24 55, 24-55, An Nuur 55, AnNuur 55, An Nur 55, An-Nur 55
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nuur (24) : 55. Oleh Kementrian Agama RI

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi akan menjadikan agama mereka, agama yang kokoh dan kuat, dan akan memberikan kepada mereka nikmat keamanan dan kesejahteraan.
ltulah janji Allah dan janji itu adalah janji yang pasti terlaksana karena mustahil Allah memungkiri janji-Nya selama mereka berpegang teguh kepada perintah dan ajaran-Nya.
Memang janji itu telah terlaksana dengan kemenangan beruntun yang dicapai kaum Muslimin di masa Nabi ﷺ dan di masa sahabatnya Khulafaurrasyidin.
Di masa Nabi Muhammad, kaum Muslimin telah dapat menaklukkan kota Mekah, Khaibar, Bahrain seluruh Jazirah Arab dan sebahagian dari wilayah kerajaan Romawi, bahkan raja Rum, Muqauqis di Mesir dan Najasyi (Negus)di Ethiopia pernah mengirimkan hadiah kepada Muhammad ﷺ.

Sesudah Nabi ﷺ wafat dan pemerintahan dikendalikan oleh para sahabat (Khulafaurrasyidin) mereka selalu mengikuti jejak Rasulullah ﷺ dalam segala urusan.
Dengan demikian kekuasaan mereka meluas ke mana-mana baik ke Timur, ke Barat, ke Utara dan ke Selatan, maka tersebarlah agama Islam dengan pesatnya serta dianut oleh penduduk negeri-negeri yang dikuasai dengan penuh kesadaran tanpa paksaan dan ancaman, dan mereka benar-benar menikmati keamanan dan kesejahteraan karena mereka benar-benar kuat, disegani oleh kawan dan lawan.

Rabi' bin Anas pernah berkata mengenai ayat ini, "Nabi Muhammad ﷺ berada di Mekah selama sepuluh tahun menyeru orang-orang kafir Mekah kepada agama tauhid, menyembah Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan cara sembunyi-sembunyi sedang orang-orang yang beriman selalu berada dalam ketakutan dan kekhawatiran.
Mereka belum diperintah untuk berperang.
Kemudian mereka disuruh hijrah ke Madinah lalu mereka datang ke sana dan turunlah perintah berperang.
Mereka selalu berada dalam ketakutan dan kekhawatiran, tetapi menyandang senjata pagi dan petang, dan mereka tetap tabah dan sabar.
Kemudian datanglah seorang sahabat menemui Nabi dan berkata: Ya Rasulullah apakah untuk selama-lamanya kita harus berada dalam kekhawatiran dan kewaspadaan ini?
Kapankah akan datang waktunya kita dapat merasa aman dan bebas dari memanggul senjata?
Maka Rasulullah ﷺ menjawab: Kamu tidak akan lama bersabar menunggu keadaan itu.
dan tidak lama lagi akan tiba waktunya di mana seorang dapat duduk di suatu pertemuan besar yang tidak ada sepotong senjata pun terdapat dalam pertemuan itu.
Lalu turunlah ayat ini.
Allah telah mengingatkan kaum Muslimin yang telah sukses mencapai kemenangan, keamanan dan kesejahteraan itu dengan firman-Nya:

Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.
(Q.S.
Al Anfal: 26)

Demikianlah kaum Muslimin tetap kuat dan disegani, menikmati keamanan dan kesejahteraan di masa Khalifah Abu Bakar, Umar, Usman, sampai timbul pertentangan yang hebat antara kaum Muslimin semenjak pemerintahan Ali bin Abu Talib dan terjadilah perang saudara antara sesama mereka pada hal perang sesama Muslimin itu sangat bertentangan dengan firman Allah:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada (tali) agama Allah dan jangan kamu bercerai-berai dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.
(Q.S.
Ali Imran: 103)

Dan firman-Nya

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.
Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.

(Q.S.
Ali Imran: 105)

Semenjak itu terjadilah pasang surut dalam pemerintahan Islam.
Pada suatu waktu mereka jaya dan mulia dan di waktu yang lain mereka lemah tak berdaya menjadi mangsa bagi kaum yang lain sesuai dengan keadaan dan kondisi mereka dalam mempraktekkan ajaran Islam, menaati perintah Allah dan Rasul-Nya.
menegakkan keadilan dan kebenaran dan menjaga kesatuan umat agar jangan berpecah belah.

An Nuur (24) ayat 55 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nuur (24) ayat 55 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nuur (24) ayat 55 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Secara tegas Allah telah menjanjikan sesuatu kepada orang-orang yang mempercayai kebenaran, tunduk kepadanya dan mengerjakan amal saleh.
Yaitu, Dia akan menjadikan mereka sebagai pengganti orang-orang terdahulu yang mewarisi kekuasaan di muka bumi, seperti halnya orang-orang yang telah mendahului mereka.
Allah juga akan meneguhkan bagi mereka agama Islam sebagai agama kepasrahan yang diridai-Nya.
Dengan demikian, kalian menjadi memiliki wibawa dan kekuasaan.
Begitu pula Allah akan mengganti keadaan mereka dari rasa takut menjadi rasa aman, sehingga kalian dapat beribadah dengan tenang dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun dalam beribadah.
Barangsiapa memilih untuk kafir setelah datangnya janji yang benar ini, atau keluar dari agama Islam, sesungguhnya mereka itu adalah orang-orang yang fasik, ingkar dan membangkang.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi) sebagai ganti dari orang-orang kafir (sebagaimana Dia telah menjadikan berkuasa) dapat dibaca Kamastakhlafa dan Kamastukhlifa (orang-orang yang sebelum mereka) sebagaimana yang dialami oleh kaum Bani Israel sebagai pengganti dari orang-orang yang lalim dan angkara murka (dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka) yaitu agama Islam, seumpamanya Dia akan memenangkannya di atas agama-agama yang lain, kemudian Dia meluaskan bagi mereka daerah-daerah mereka dan mereka menjadi para pemiliknya (dan Dia benar-benar akan menukar keadaan mereka) dapat dibaca Takhfif yaitu menjadi walayubdilannahum, dapat pula dibaca Tasydid yaitu menjadi Walayubaddilannahum (sesudah mereka berada dalam ketakutan) dari perlakuan orang-orang kafir (menjadi aman sentosa) dan Allah telah menunaikan janji-Nya kepada mereka, yaitu memberikan kepada mereka apa yang telah disebutkan tadi, kemudian Dia memuji mereka melalui firman-Nya, (Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku) ayat ini merupakan jumlah Isti'naf atau kalimat baru, akan tetapi statusnya disamakan sebagai Illat.
(Dan barang siapa yang tetap kafir sesudah janji itu) sesudah pemberian nikmat kepada mereka, yaitu keamanan tadi (maka mereka itulah orang-orang yang fasik) dan orang-orang yang mula-mula kafir sesudah itu adalah para pembunuh Khalifah Usman r.a.
kemudian mereka menjadi orang-orang yang saling membunuh padahal sebelumnya mereka berteman.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah telah berjanji akan memberi kemenangan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih di antara kalian.
Yakni mereka akan mendapatkan bumi tempat orang-orang musyrik, dan menjadikan mereka sebagai khalifah di bumi seperti apa yang telah Allah berikan kepada para pendahulu mereka yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya.
Dia akan menjadikan agama yang diridhai-Nya untuk mereka, yakni agama Islam sebagai agama yang mulia dan kokoh.
Allah akan mengganti keadaan mereka dari rasa takut dengan rasa aman, jika mereka hanya beribadah kepada Allah semata, dan istiqomah di dalam menaati-Nya, serta tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.
Barangsiapa yang kufurterhadap nikmat yang telah diberikan oleh Allah setelah diberikan kepemimpinan, rasa aman, ketenangan, kekuasaan yang sempurna, maka mereka termasuk orang-orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ini merupakan janji dari Allah subhanahu wa ta'ala kepada Rasul-Nya ﷺ, bahwa Dia akan menjadikan umatnya sebagai orang-orang yang berkuasa di bumi, yakni menjadi para pemimpin manusia dan penguasa mereka.
Dengan mereka negeri akan menjadi baik dan semua hamba Allah akan tunduk kepada mereka.
Dan Allah akan menukar keadaan mereka sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa dan menjadi penguasa atas manusia.
Janji itu telah diberikan oleh Allah subhanahu wa ta'ala kepada mereka, segala puji bagi Allah, begitu juga karunianya.
Kerena sesungguhnya sebelum Nabi ﷺ wafat, Allah telah menaklukkan baginya Mekah, Khaibar, Bahrain, dan semua kawasan Jazirah Arabia serta negeri Yaman seluruhnya.
Beliau ﷺ sempat memungut jizyah dari orang-orang Majusi Hajar dan juga dari para penduduk yang ada di pinggiran negeri Syam (yang berada di dekat negeri Arab).

Berbagai macam hadiah berdatangan kepada beliau ﷺ dari Heraklius (Kaisar Romawi), penguasa negeri Mesir dan Iskandariah (yaitu raja Muqauqis), raja-raja negeri Amman (oman), dan Raja Negus (raja negeri Abesinia yang bertahta sesudah As-hamah rahimahullah).

Kemudian setelah Rasulullah ﷺ wafat dan Allah telah memilihnya untuk menempati kemuliaan yang ada di sisi-Nya, maka urusannya dipegang oleh khalifah yang sesudahnya, yaitu Abu Bakar As-Siddiq.
Maka dirapikannya kembali semua kesemrawutan sepeninggal Rasulullah ﷺ, dan seluruh Jazirah Arabia berhasil disatukan kembali.
Lalu ia mengirimkan sejumlah pasukan kaum muslim ke negeri Persia di bawah pimpinan Khalid ibnul Walid r.a.
Akhirnya mereka berhasil menaklukkan sebagian dari negeri Persia, dan banyak korban yang berjatuhkan dari kalangan penduduknya.

Ia mengirimkan pasukan lainnya di bawah pimpinan Abu Ubaidah r.a.
dan para amir yang mengikutinya menuju ke negeri Syam.
Pasukan yang ketiga dikirimkannyalah menuju ke negeri Mesir di bawah pimpinan Amr ibnul 'As.

Di masa pemerintahannya, pasukan yang dikirim ke negeri Syam berhasil menaklukkan Kota Busra, Dimasyq, dan daerah lainnya yang ada di belakangnya dari kawasan negeri Hauran dan negeri lainnya yang berdekatan.
Kemudian Allah mewafatkan Khalifah Abu Bakar dan memilihnya untuk menduduki kehormatan di sisi-Nya.

Allah memberikan karunia-Nya kepada kaum muslim dengan memberikan ilham kepada Abu Bakar sebelum wafatnya untuk memilih Umar Al-Faruq sebagai khalifah penggantinya.

Umar Al-Faruq memegang tampuk kekhalifahan sesudah Abu Bakar, lalu ia menjalankannya dengan sempurna sehingga belum pernah tercatat oleh sejarah tentang kecemerlangan yang semisal dengannya sesudah para nabi dalam hal kekuatan sirah dan kesempurnaan keadilannya.
Dalam masa pemerintahannya telah berhasil ditaklukkan seluruh negeri Syam dan negeri Mesir serta sebagian besar dari kawasan Persia.
Dia telah mematahkan Kisra (Raja Persi) dan mengalahkannya dengan kekalahan yang fatal yang memaksa Raja Persi mundur sampai ke bagian pedalaman negerinya.
Kaisar romawi terpukul mundur dan merebut negeri Syam dari tangan kekuasaannya, lalu terus maju sampai Konstantinopel, dan menginfakkan harta benda keduanya di jalan Allah, seperti yang telah diberitakan sebelumnya oleh Rasulullah ﷺ yang telah mendapat janji dari Allah subhanahu wa ta'ala akan hal tersebut.

Kemudian di masa kekuasaan dinasti Usmanyiah, kerajaan Islam makin meluas sampai kebelahan timur dan barat yang paling dalam.
Di taklukkanlah negeri-negeri Magrib sampai ke bagian yang paling dalam yang ada di baliknya, seperti Andalusia dan Cyprus, juga kota Qairuwan dan Sabtah yang ada di tepi Laut Tengah, sedangkan di belahan timur penaklukkannya sampai ke bagian pedalaman negeri Cina.

Kisra terbunuh dan semua kerajaannya hancur sama sekali.
Kota-kota negeri Irak, Khurrasan, dan Al-Ahwaz dapat ditaklukkan dan terjadilah pertempuran besar-besaran antara pasukan kaum muslim dengan bangsa Turki, dan Allah menaklukkan raja mereka yang besar (yaitu Khaqan).

Kharraj dipungut dari belahan timur dan barat, lalu didatangkan ke hadapan Amirul Mu’minin Usman ibnu Affan r.a.
Yang demikian itu dapat tercapai berkat kerajinannya dalam membaca Al-Qur'an, mempelajarinya, dan menghimpunkan umat serta menggerakkan mereka untuk menghafal Al-Qur'an.
Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya Allah melipat bumi untukku sehingga aku dapat melihat belahan timur dan baratnya, dan kelak kerajaan umatku akan mencapai batas apa yang dilipatkan untukku itu.

Sekarang kita hidup mondar-mandir di dalam kawasan yang telah dijanji­kan kepada kita oleh Allah dan Rasul-Nya.
Mahabenar Allah dan Rasul-Nya.
Kami memohon kepada Allah agar dikaruniai iman kepada-Nya, kepada Rasul-Nya, dan berbuat untuk mensyukuri nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita sesuai dengan apa yang diridai oleh-Nya.

Imam Muslim ibnul Hajjaj telah mengatakan di dalam kitab sahihnya, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abdul Malik ibnu Umair, dari Jubir ibnu Samurah yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Urusan manusia masih tetap berjalan lancar selagi mereka diperintah oleh dua belas orang laki-laki (pemimpin).
Kemudian Nabi ﷺ mengucapkan kata-kata yang tidak dapat kudengar dengan jelas, lalu aku bertanya kepada ayahku tentang apa yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ itu.
Ayahku menjawab: Semuanya dari kalangan Quraisy.

Imam Bukhari meriwayatkannya melalui hadis Syu'bah, dari Abdul Malik ibnu Umair dengan sanad yang sama.
Di dalam riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Nabi ﷺ mengucapkan sabdanya itu di petang hari sesudah menghukum rajam Ma'iz ibnu Malik.
Selain dari itu Nabi ﷺ mengemukakan hadis-hadis lainnya.
Di dalam hadis ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa sudah dipastikan keberadaan dua belas orang Khalifah yang adil-adil.
Tetapi mereka bukanlah para imam golongan Syi'ah yang dua belas orang itu, karena sesungguhnya kebanyakan dari mereka tidak mempunyai suatu peran penting pun.

Adapun mereka yang dua belas orang yang disebutkan dalam hadis ini seluruhnya berasal dari keturunan Quraisy.
Mereka berkuasa dan berlaku adil.
Berita gembira tentang kedatangan mereka itu telah disebutkan pula di dalam kitab-kitab terdahulu.

Kemudian tidak disyaratkan keberadaan mereka berturut-turut di kalangan umat, bahkan keberadaan mereka ada yang berturut-turut dan ada yang terpisah-pisah.
Di antara mereka yang keberadaannya berturut-turut yaitu sebanyak empat orang, mereka adalah Abu Bakar, Umar, Usman, kemudian Ali.
Selanjutnya sesudah mereka selang beberapa masa muncul pula sebagian dari mereka menurut apa yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta'ala Kemudian masih ada sebagian orang dari mereka yang masih menunggu waktu pemunculannya yang hanya diketahui oleh Allah subhanahu wa ta'ala Di antara mereka adalah Al-Mahdi, yang namanya sesuai dengan nama Rasulullah ﷺ dan kunyah-nya sama dengan kunyah beliau ﷺ Dia akan memenuhi dunia ini dengan keadilan, sebagaimana sebelumnya telah dipenuhi oleh kelaliman.

Imam Ahmad, Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Imam Nasai telah meriwayatkan melalui hadis Sa'id ibnu Jamhan, dari Safinah maula Rasulullah ﷺ, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Kekhalifahan sesudahku berlangsung sampai tiga puluh tahun, kemudian muncullah raja yang diktator.

Ar-Rabi' ibnu Anas telah meriwayatkan dari Abul Aliyah sehubungan dengan makna firman-Nya, Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa.
(An Nuur:55), hingga akhir ayat.

Dahulu Nabi ﷺ dan para sahabatnya di Mekah tinggal selama dua puluh tahun, menyeru manusia kepada Allah semata dan menyembah­Nya semata, tiada sekutu bagi-Nya, yang hal ini dilakukan dengan sembunyi-sembunyi.
Mereka dicekam oleh rasa takut dan tidak diperintah untuk berperang, hingga mereka diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah sebagai pendahuluannya.

Kemudian Allah memerintahkan kepada mereka untuk berperang, dahulu mereka tinggal di Mekah dalam keadaan takut memegang senjata, tetapi setelah di Madinah mereka baru dapat memegang senjata.
Mereka dengan penuh kesabaran tinggal dalam keadaan seperti itu (berperang) selama masa yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta'ala Kemudian ada seorang lelaki dari kalangan sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kita akan selalu dalam keadaan ketakutan selamanya seperti ini?
Tidakkah akan datang suatu masa bagi kita yang di masa itu kita hidup dalam keadaan aman dan meletakkan senjata kita?"
Maka Rasulullah ﷺ menjawab:

Kalian hanya memerlukan kesabaran sebentar lagi, karena akan datang masanya seseorang di antara kalian duduk bersila di antara sekumpulan orang yang banyak, tanpa ada senjata tajam pun (padanya).

Allah menurunkan ayat ini dan menjadikan Nabi-Nya berkuasa atas seluruh Jazirah Arabia, para penduduknya beriman dan meletakkan senjata (menyerah kepadanya).

Kemudian Allah mewafatkan Nabi-Nya dan kaum muslim masih dalam keadaan aman seperti sebelumnya di masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar, Umar dan Usman.
Lalu terjadilah peristiwa yang menyebab­kan mereka bercerai-berai, sehingga ketakutan kembali menimpa mereka dan mulailah mereka mengambil (mengangkat) para pengawal pribadi dan para penjaga.
Mereka mengubah tatanan kebijakan dan akhirnya mereka berada dalam keadaan yang berbeda dengan masa sebelumnya.

Sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa kekhalifahan Abu Bakar dan Umar merupakan perkara yang hak yang termaktub di dalam Kitabullah, lalu ia membaca ayat ini.

Al-Barra ibnu Azib mengatakan bahwa ayat ini diturunkan ketika kami (para sahabat) berada dalam ketakutan yang sangat.
Ayat ini semakna dengan firman-Nya yang mengatakan:

Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Al Anfaal:26)

sampai dengan firman-Nya:

agar kalian bersyukur.
(Al Anfaal:26)

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa.
(An Nuur:55), hingga akhir ayat.

Sama seperti apa yang difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta'ala mengenai perkataan Musa kepada kaumnya:

Mudah-mudahan Allah membinasakan musuh kalian dan menjadikan kalian khalifah di bumi-(Nya).
(Al A'raf:129), hingga akhir Ayat.

Dan firman-Nya:

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir).
(Al Qashash:5), hingga akhir ayat berikutnya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka.
(An Nuur:55), hingga akhir ayat.

Sama pula dengan sabda Rasulullah ﷺ kepada Addi ibnu Hatim ketika menjadi utusan kaumnya menghadap kepada beliau,

"Tahukah kamu Hirah?"
Addi ibnu Hatim menjawab, "Belum, tetapi saya pernah mendengarnya." Rasulullah ﷺ bersabda: Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sungguh Allah benar-benar akan menyempurnakan urusan (Islam) ini hingga wanita pengendara unta berangkat dari Hirah, lalu melakukan tawaf di Baitullah tanpa ada seorang lelaki pun yang menemaninya (keadaannya aman sekali).
Dan sungguh Allah akan membuka perbendaharaan Kisra ibnu Hurmuz.
Aku bertanya, "Benarkah dia adalah Kisra ibnu Hurmuz?"
Nabi ﷺ bersabda: Ya, Kisra ibnu Hurmuz.
Dan sungguh harta benda akan di­belanjakan tanpa ada seorang pun yang mau menerimanya (karena semuanya sudah berkecukupan).

Addi ibnu Hatim mengatakan, "Wanita pengendara unta ini berangkat dari Hirah, lalu melakukan tawaf di Baitullah tanpa ada seorang laki-lakipun yang mengawalnya, dan sesungguhnya aku termasuk orang yang menaklukkan perbendaharaan Kisra ibnu Hurmuz.
Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sungguh akan ada peristiwa yang ketiga, karena Rasulullah ﷺ telah mengatakannya."

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Abu Salamah, dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka'b yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Umat ini akan mendapat berita gembira memperoleh ketenaran, kedudukan yang tinggi, agama, kemenangan, dan kekuasaan yang mapan di muka bumi.
Maka barang siapa di antara mereka yang mengerjakan amal akhirat untuk dunia(nya), maka tiada bagian baginya kelak di akhirat.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.
(An Nuur:55 )

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Anas, bahwa Mu'az ibnu Jabal pernah menceritakan kepadanya, "Ketika kami sedang membonceng Nabi ﷺ di atas keledainya, tanpa ada jarak antara aku dan dia selain bagian belakang pelananya.
Nabi ﷺ bersabda, 'Hai Mu'az!' Aku menjawab, 'Labbaika, ya Rasulullah, kupenuhi seruanmu dengan penuh kebahagian.'Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan perjalanannya sesaat, lalu bersabda, 'Hai Mu'az!' Aku menjawab,?
'Labbaika, ya Rasulullah, kupenuhi semanmu dengan penuh kebahagian.' Beliau ﷺ melanjutkan perjalanannya sesaat, lalu bersabda lagi, 'Hai Mu'az!' Aku menjawab, 'Labbaika, ya Rasulullah, kupenuhi seruanmu dengan penuh kebahagian.' Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tahukah kamu, apakah hak Allah atas hamba-hamba-(Nya.)?
' Aku menjawab, 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.?
Rasulullah ﷺ bersabda, 'Hak Allah atas hamba-hamba-Nya ialah hendaknya mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan sesuatu dengan-Nya.' Kemudian Rasulullah ﷺ berjalan sesaat dan bersabda, 'Hai Mu'az!' Aku menjawab, Labbaika, ya Rasulullah, kupenuhi panggilanmu dengan penuh kebahagiaan.' Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tahukah kamu, apakah hak hamba-hamba Allah atas Allah bila mereka mengerjakan hal tersebut?' Aku menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.
' Rasulullah ﷺ bersabda, 'Sesungguhnya hak hamba-hamba atas Allah subhanahu wa ta'ala ialah Dia tidak mengazab mereka'.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah mengetengahkan hadis ini di dalam kitab sahihnya masing-masing melalui hadis Qatadah.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.
(An Nuur:55)

Yakni barang siapa yang keluar dari ketaatan terhadap-Ku sesudah itu, maka sesungguhnya dia telah keluar dari perintah Tuhannya, dan itu sudah cukup merupakan dosa yang besar baginya.

Para sahabat radiyallahu anhum adalah orang yang paling menegakkan perintah-perintah Allah dan paling taat kepada-Nya sesudah Nabi ﷺ Maka pertolongan Allah kepada mereka sesuai dengan keikhlasan mereka.
Mereka berhasil memenangkan kalimah Allah di belahan timur dan barat, dan Allah mendukung mereka dengan dukungan yang besar serta menjadikan mereka berkuasa atas semua hamba Allah dan semua negeri.
Akan tetapi, setelah kaum muslim sesudah generasi mereka melalaikan sebagian dari perintah-perintah Allah, maka kemenangan mereka berkurang sesuai dengan keikhlasan mereka.

Akan tetapi, telah ditetapkan di dalam kitab Sahihain melalui berbagai jalur dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau ﷺ pernah bersabda:

Masih tetap akan ada segolongan umatku yang memperjuang­kan perkara hak, tiada membahayakan mereka orang-orang yang menghina mereka dan tiada pula orang-orang yang menentang mereka sampai hari kiamat.

Menurut riwayat yang lain disebutkan:

sampai datang perintah Allah (hari kiamat), sedangkan mereka tetap dalam keadaan seperti itu (memperjuangkan perkara hak).

Di dalam riwayat lainnya disebutkan:

sampai mereka memerangi Dajjal.

Di dalam riwayat lainnya lagi disebutkan:

sampai Isa putra Maryam turun, sedangkan mereka masih tetap berjuang.

Semua riwayat ini berpredikat sahih, tiada pertentangan di antaranya.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nuur (24) Ayat 55

Diriwayatkan oleh al-Hakim –menurut al-Hakim hadits ini sahih- dan ath-Thabarani, yang bersumber dari Ubay bin Ka’b bahwa ketika Rasulullah ﷺ bersama shahabat-shahabatnya (penduduk Mekah) sampai di Madinah, dan disambut serta dijamin keperluan hidupnya oleh kaum Anshar, mereka tidak melepaskan senjatanya siang dan malam, karena selalu diincar oleh kaum kafir Arab Madinah.
Mereka berkata kepada Nabi ﷺ: “Kapan tuan dapat melihat kami hidup aman dan tenteram tiada takut kecuali kepada Allah.” Ayat ini (an-Nuur: 55) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai jaminan dari Allah subhanahu wa ta'ala Bahwa mereka akan dianugerahi kekuasaan di muka bumi ini.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari al-Barra’ bahwa ayat ini (an-Nuur: 55) turun ketika kaum Muslim merasa tidak tenteram (karena kepungan musuh).

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah An Nuur (النور)
Surat An Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Dinamai "An Nuur" yang berarti "Cahaya",
diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat 35.
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan tentang Nuur Ilahi, ya'ni Al Qur'an yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam se­mesta.

Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk-petunjuk Allah yang berhubungan de­ngan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Keimanan:

Kesaksian lidah dan anggota-anggota tubuh atas segala perbuatan manusia pada hari kiamat
hanya Allah yang menguasai langit dan bumi
kewajiban rasul hanya­lah menyampaikan agama Allah
iman rnerupakan dasar daripada diterimanya amal ibadah.

Hukum:

Hukum-hukum sekitar masalah zina, li'an dan adab-adab pergaulan diluar dan di dalam rumah tangga.

Kisah:

Cerita tentang berita bohong terhadap Ummul Mu'minin 'Aisyah r.a. (Qishshatul lfki).

Lain-lain:

Semua jenis hewan diciptakan Allah dari air
janji Allah kepada kaum muslimin yang beramal saleh.


Gambar Kutipan Surah An Nuur Ayat 55 *beta

Surah An Nuur Ayat 55



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nuur

Surah An-Nur (Arab: النّور‎) adalah surah ke-24 dari al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Dinamai An-Nur yang berarti Cahaya yang diambil dari kata An-Nur yang terdapat pada ayat ke 35.
Dalam ayat ini, Allah s.w.t.
menjelaskan tentang Nur Ilahi, yakni Al-Quran yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta.
Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk- petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Nomor Surah 24
Nama Surah An Nuur
Arab النور
Arti Cahaya
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 102
Juz Juz 18
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 64
Jumlah kata 1381
Jumlah huruf 5755
Surah sebelumnya Surah Al-Mu’minun
Surah selanjutnya Surah Al-Furqan
4.5
Rating Pembaca: 4.7 (11 votes)
Sending







✔ annur 55, Qs an nur:55, Surat an nur ayat 55

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku