Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nuur

An Nuur (Cahaya) surah 24 ayat 35


اَللّٰہُ نُوۡرُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ مَثَلُ نُوۡرِہٖ کَمِشۡکٰوۃٍ فِیۡہَا مِصۡبَاحٌ ؕ اَلۡمِصۡبَاحُ فِیۡ زُجَاجَۃٍ ؕ اَلزُّجَاجَۃُ کَاَنَّہَا کَوۡکَبٌ دُرِّیٌّ یُّوۡقَدُ مِنۡ شَجَرَۃٍ مُّبٰرَکَۃٍ زَیۡتُوۡنَۃٍ لَّا شَرۡقِیَّۃٍ وَّ لَا غَرۡبِیَّۃٍ ۙ یَّکَادُ زَیۡتُہَا یُضِیۡٓءُ وَ لَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡہُ نَارٌ ؕ نُوۡرٌ عَلٰی نُوۡرٍ ؕ یَہۡدِی اللّٰہُ لِنُوۡرِہٖ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ یَضۡرِبُ اللّٰہُ الۡاَمۡثَالَ لِلنَّاسِ ؕ وَ اللّٰہُ بِکُلِّ شَیۡءٍ عَلِیۡمٌ
Allahu nuurus-samaawaati wal ardhi matsalu nuurihi kamisykaatin fiihaa mishbaahul mishbaahu fii zujaajatinz-zujaajatu kaannahaa kaukabun durrii-yun yuuqadu min syajaratin mubaarakatin zaituunatin laa syarqii-yatin walaa gharbii-yatin yakaadu zaituhaa yudhiyu walau lam tamsashu naarun nuurun ‘ala nuurin yahdiillahu linuurihi man yasyaa-u wayadhribullahul amtsaala li-nnaasi wallahu bikulli syai-in ‘aliimun;

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.
Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar.
Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.
Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
―QS. 24:35
Topik ▪ Iman ▪ Hidayah (petunjuk) dari Allah ▪ Sikap manusia terhadap kitab samawi
24:35, 24 35, 24-35, An Nuur 35, AnNuur 35, An Nur 35, An-Nur 35
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nuur (24) : 35. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia adalah pemberi cahaya kepada langit dan bumi dan semua yang ada pada keduanya.
Dengan cahaya itu segala-galanya berjalan dengan tertib dan teratur, tak ada yang menyimpang dari jalan yang telah ditentukan baginya, ibarat seorang yang berjalan di tengah malam yang gelap gulita dan di tangannya ada sebuah lampu yang terang benderang yang menerangi apa yang ada di sekitarnya.
Tentu saja dia akan aman dalam perjalanannya tidak akan tersesat atau terperosok ke jurang yang dalam, walau bagaimanapun banyak liku-liku yang dilaluinya.
Berbeda dengan orang yang tidak mempunyai lampu, tentu akan banyak menemui kesulitan, meraba-raba ke sana ke mari berjalan tertegun-tegun karena tak tahu arah, maka pastilah orang ini akan tersesat juga jadinya atau mendapat kecelakaan karena tak melihat alam sekitarnya.
Amat besarlah faedahnya cahaya yang diberikan Allah kepada alam semesta ini.
Pastilah bahwa cahaya yang dikaruniakan Allah itu bukan sembarang cahaya.
Ia adalah cahaya yang istimewa yang tak ada bandingannya, karena cahaya itu bukan saja menerangi alam lahiriah tetapi menerangi batiniah.
Sesungguhnya demikian, untuk mendekatkan paham dan pengertian, Allah memberikan perumpamaan bagi cahaya-Nya itu dengan suatu yang dapat dilihat dan dirasakan oleh manusia-manusia pada waktu diturunkannya ayat ini yaitu dengan cahaya yang pada masa itu adalah cahaya yang paling cemerlang.
Mungkin bagi kita sekarang ini cahaya itu kurang artinya bila dibandingkan dengan cahaya lampu listrik seriba watt apa lagi cahaya yang dapat menembus lapisan-lapisan yang ada di mukanya.
Sebenarnya suatu cahaya yang menjadi sumber kekuatan bagi alam semesta tak dapat diserupakan dengan cahaya apapun yang dapat ditemukan manusia seperti cahaya laser umpamanya.
Allah memberikan misal bagi cahaya-Nya itu dengan cahaya sebuah lampu yang terletak pada suatu tempat di dinding rumah yang sengaja dibuat untuk meletakkan lampu sehingga cahayanya amat terang sekali.
berlainan dengan lampu yang diletakkan di tengah rumah, maka cahayanya akan berkurang karena luasnya ruangan yang akan disinarinya.
Sumbu lampu itu berada dalam kaca yang bersih dan jernih.
Kaca itu sendiri sudah cemerlang seperti bintang kejora.
Minyaknya adalah hasil dari pohon zaitun yang banyak berkahnya yang ditanam di atas bukit, selalu disinari cahaya matahari pagi dan petang.
Maka pada ayat ini diibaratkan dengan tumbuh-tumbuhan yang tidak tumbuh di Timur dan tidak pula di Barat, karena kalau pohon itu tumbuh di sebelah Timur, mungkin pada sorenya tidak ditimpa cahaya matahari lagi, demikian pula sebaliknya.
Minyak lampu itu sendiri karena jernihnya dan baik mutunya hampir-hampir bercahaya dengan jernihnya dan baik mutunya hampir-hampir bercahaya dengan sendirinya, walaupun belum disentuh api, apalagi kalau sudah menyala tentulah cahaya yang ditimbulkannya akan berlipat ganda.
Di samping cahaya lampu itu sendiri yang amat cemerlang, cahaya itu dipantulkan oleh tempat letaknya, maka terjadilah cahaya yang memantul, cahaya di atas cahaya-cahaya yang berlipat ganda.
Demikianlah perumpamaan bagi cahaya Allah meskipun amat jauh perbedaan antara cahaya Allah dan cahaya yang dicontohkan itu.

Allah memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya untuk mendapat cahaya itu sehingga dia selalu menempuh jalan yang lurus yang menyampaikannya kepada cita-citanya yang baik dan selalu bertindak bijaksana dalam menghadapi berbagai macam persoalan dalam hidupnya.
Berbahagialah orang yang mendapat bahagian dari Nur Ilahi itu, karena dia telah mempunyai pedoman yang tepat yang tidak akan membawanya kepada hal-hal yang tidak benar dan menyesatkan.
Untuk mencapai Nur Ilahi itu haruslah seseorang benar-benar beriman dan taat kepada perintah Allah dan menjauhi segala perbuatan maksiat.
Imam Syafii pernah bertanya kepada gurunya bernama Waki' tentang hafalannya yang tidak pernah mantap dan cepat lupa hafalannya.
maka gurunya itu menasihatinya supaya ia menjauhi segala perbuatan maksiat karena ilmu itu adalah Nur Ilahi, dan Nur Ilahi itu tidak akan diberikan kepada orang yang berbuat maksiat.
Yahya bin Salam pernah berkata, "Hati seorang mukmin dapat mengetahui mana yang benar sebelum diterangkan kepadanya, karena hatinya itu selalu sesuai dengan kebenaran.
Inilah yang dimaksud dengan sabda Rasulullah ﷺ Berhati-hatilah terhadap firasat orang mukmin, karena ia melihat dengan Nur Allah.
Tentu saja yang dimaksud dengan orang mukmin di sini ialah orang-orang yang benar beriman dan bertakwa kepada Allah dengan sepenuhnya.

Ibnu Abbas berkata tentang ayat ini: Inilah contoh bagi Nur Allah dan petunjuk-Nya yang berada dalam hati orang mukmin.
Jika minyak lampu dapat bercahaya sendiri sebelum disentuh api, dan bila disentuh oleh api bertambah cemerlang cahayanya, maka seperti itu pula hati orang mukmin, dia selalu mendapat petunjuk dalam tindakannya sebelum dia diberi ilmu.
Apabila dia diberi ilmu, akan bertambahlah keyakinannya, dan bertambah pula cahaya dalam hatinya.
Demikianlah Allah memberikan perumpamaan kepada manusia tentang Nur-Nya.
Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

An Nuur (24) ayat 35 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nuur (24) ayat 35 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nuur (24) ayat 35 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah adalah sumber segala cahaya di langit dan di bumi.
Dialah yang menerangi keduanya dengan cahaya yang bersifat materiil yang dapat kita lihat dan berjalan di bawah cahayanya.
Cahayanya juga ada yang bersifat maknawi seperti cahaya kebenaran, keadilan, pengetahuan, keutamaan, petunjuk dan keimanan.
Dia juga menerangi langit dan bumi dengan bukti-bukti yang terkandung di dalam alam raya ini dan segala sesuatu yang menunjukkan wujud Allah serta mengajak untuk beriman kepada-Nya.
Kejelasan cahaya-Nya yang agung dan bukti-buktinya yang mengagumkan adalah seperti cahaya sebuah lampu yang sangat terang.
Lampu itu diletakkan di sebuah celah dinding rumah yang dapat membantu mengumpulkan cahaya dan memantulkannya.
Lampu itu berada dalam kaca yang bening dan bersinar seperti matahari, mengkilap seperti mutiara.
Bahan bakar lampu itu diambil dari minyak pohon yang banyak berkahnya, berada di tempat dan tanah yang baik, yaitu pohon zaitun.
Pohon itu ditanam di tengah-tengah antara timur dan barat yang membuatnya selalu mendapat sinar matahari sepanjang hari, pagi dan sore.
Pohon itu bahkan berada di puncak gunung atau di tanah kosong yang yang mendapatkan sinar matahari dalam sehari penuh.
Karena teramat jernih, minyak pohon itu seakan hampir menyala, meskipun lampu tersebut tidak disentuh api.
Semua faktor tersebut menambah sinar dan cahaya lampu menjadi berlipat ganda.
Demikianlah bukti-bukti materi dan maknawi yang terpancar di alam raya ini menjadi tanda-tanda yang jelas yang menghapus keraguan akan wujud Allah dan kewajiban beriman kepada-Nya serta risalah-risalah-Nya.
Melalui itu semua, Allah merestui siapa saja yang dikehendaki untuk beriman jika dia mau menggunakan cahaya akalnya.
Allah memaparkan contoh-contoh yang bersifat materiil agar persoalan-persoalan yang bersifat rasionil mudah ditangkap.
Allah subhanahu wa ta'ala Mahaluas pengetahuan-Nya.
Dia mengetahui siapa saja yang memperhatikan ayat-ayat-Nya dan siapa yang enggan dan sombong.
Dia akan memberi balasan kepada mereka atas itu semua.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Allah cahaya langit dan bumi) yakni pemberi cahaya langit dan bumi dengan matahari dan bulan.
(Perumpamaan cahaya Allah) sifat cahaya Allah di dalam kalbu orang Mukmin (adalah seperti misykat yang di dalamnya ada pelita besar.
Pelita itu di dalam kaca) yang dinamakan lampu lentera atau Qandil.
Yang dimaksud Al Mishbah adalah lampu atau sumbu yang dinyalakan.
Sedangkan Al Misykaat artinya sebuah lubang yang tidak tembus.
Sedangkan pengertian pelita di dalam kaca, maksudnya lampu tersebut berada di dalamnya (kaca itu seakan-akan) cahaya yang terpancar darinya (bintang yang bercahaya seperti mutiara) kalau dibaca Diriyyun atau Duriyyun berarti berasal dari kata Ad Dar'u yang artinya menolak atau menyingkirkan, dikatakan demikian karena dapat mengusir kegelapan, maksudnya bercahaya.
Jika dibaca Durriyyun dengan mentasydidkan huruf Ra, berarti mutiara, maksudnya cahayanya seperti mutiara (yang dinyalakan) kalau dibaca Tawaqqada dalam bentuk Fi'il Madhi, artinya lampu itu menyala.
Menurut suatu qiraat dibaca dalam bentuk Fi'il Mudhari' yaitu Tuuqidu, menurut qiraat lainnya dibaca Yuuqadu, dan menurut qiraat yang lainnya lagi dapat dibaca Tuuqadu, artinya kaca itu seolah-olah dinyalakan (dengan) minyak (dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah Timur dan pula tidak di sebelah Barat) akan tetapi tumbuh di antara keduanya, sehingga tidak terkena panas atau dingin yang dapat merusaknya (yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api) mengingat jernihnya minyak itu.
(Cahaya) yang disebabkannya (di atas cahaya) api dari pelita itu.
Makna yang dimaksud dengan cahaya Allah adalah petunjuk-Nya kepada orang Mukmin, maksudnya hal itu adalah cahaya di atas cahaya iman (Allah membimbing kepada cahaya-Nya) yaitu kepada agama Islam (siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat) yakni menjelaskan (perumpamaan-perumpamaan bagi manusia) supaya dapat dicerna oleh pemahaman mereka, kemudian supaya mereka mengambil pelajaran daripadanya, sehingga mereka mau beriman (dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu) antara lain ialah membuat perumpamaan-perumpamaan ini.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah Pemberi cahaya kepada langit dan bumi.
Dia mengatur segala perkara yang ada di dalamnya dan memberi petunjuk kepada penghuninya.
Allah adalah cahaya, hijab-Nya adalah cahaya.
Dengan cahayanya Dia menerangi langit dan bumi dan aapa yang ada pada keduanya.
Kitab dan hidayah-Nya merupakan cahaya Allah.
Jika sekiranya tidak karena cahaya Allah, niscaya kegelapan akan menutupi sebagian di atas sebagian yang lain.
Perumpamaan cahaya Allah yang memberi petunjuk kepada-Nya, berupa iman dan al-Qur’an dalam hati seorang Mukmin adalah seperti misykat yakni suatu lobang di dinding rumah yang tidak tembus yang di dalamnya ada lampu, yang mana lubang itu mengumpulkan cahaya lampu tersebut sehingga cahayanya tidak menyebar.
Lampu itu ada di dalam kaca, karena kejernihannya sehingga seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara.
Lampu itu dinyalakan dengan minyak dari pohon yang penuh dengan berkah, yakni pohon Zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur saja, sehingga tidak terkena cahaya saat sore hari.
Dan tidak hanya tumbuh di sebelah barat saja sehingga tidak terkena cahaya matahari saat pagi hari.
Ia tumbuh di posisi tengah-tengah, tidak di timur juga tidak di baratnya.
Karena kejernihannya hingga hampir saja minyak tersebut menyala dengan sendirinya meskipun belum di sulut dengan api.
Dan ketika di sulut dengan api maka ia akan bercahaya dengan sangat terang.
Cahaya di atas cahaya.
Yakni cahaya minyak berlapis cahaya api.
Hal itu seperti hidayah yang menerangi di dalam hati seorang Mukmin.
Allah memberikan hidayah dan taufik untuk mengikuti al-Qur’an kepada siapa pun yang Dia kehendaki.
Dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia agar mereka memahami perumpamaan tersebut dan hikmah-hikmahnya.
Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui segala sesuatu, tiada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.
(An Nuur:35) Yakni Pemberi petunjuk kepada penduduk langit dan bumi.

Ibnu Juraij mengatakan bahwa Mujahid dan Ibnu Abbas telah meriwayatkan sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.
(An Nuur:35) Yaitu Yang mengatur urusan yang ada pada keduanya, bintang-bintangnya, mataharinya, dan bulannya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Umar ibnu Khalid Ar-Ruqi, telah menceritakan kepada kami Wahb ibnu Rasyid, dari Furqud, dari Anas ibnu Malik yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah berfirman, "Cahaya-Ku adalah petunjuk." Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

Abu Ja'far Ar-Razi telah meriwayatkan dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka'b sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.
Perumpamaan cahaya Allah.
(An Nuur:35) Bahwa yang dimaksud adalah orang mukmin yang Allah telah menjadikan iman dan Al-Qur'an tertanam di dadanya.
Maka Allah membuat perumpamaannya melalui firman-Nya: Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.
(An Nuur:35) Allah memulainya dengan menyebut cahaya-Nya sendiri, kemudian menyebut cahaya orang mukmin.
Untuk itu Allah berfirman, "Perumpamaan cahaya orang yang beriman kepada-Nya." Perawi mengatakan bahwa Ubay ibnu Ka'b membaca ayat ini dengan bacaan berikut, "Perumpamaan cahaya orang yang beriman kepada-Nya," dia adalah orang mukmin tertanam di dadanya iman dan Al-Qur'an.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Sa'id ibnu Jubair dan Qais ibnu Sa'd, dari Ibnu Abbas, bahwa dia membacanya dengan bacaan ini, yaitu: "Perumpamaan cahaya orang yang beriman kepada Allah."

Sebagian ulama ada yang membacanya, "Allah Pemberi cahaya langit dan bumi."

Diriwayatkan dari Ad-Dahhak sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.
(An Nuur:35), Juga dari As-Saddi sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.
(An Nuur:35) Yakni dengan cahaya-Nya, maka teranglah langit dan bumi.

Di dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad ibnu Ishaq di dalam kitab As-Sirah disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ ketika disakiti oleh penduduk Taif mengucapkan dalam doanya:

Aku berlindung kepada cahaya Zat-Mu yang menyinari semua kegelapan, dan membuat baik urusan dunia dan akhirat, janganlah Engkau timpakan kepadaku murka-Mu, hanya kepada Engkaulah kami mengadrt hingga Engkau rida.
Dan tiada daya upaya serta tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan dari Ibnu Abbas r.a., bahwa Rasulullah ﷺ apabila bangun mengerjakan salatul lail-nya, beliau mengucapkan doa berikut:

Ya Allah, Engkaulah segala puji, Engkau adalah Cahaya langit dan bumi serta semua makhluk yang ada pada keduanya.
Dan hanya bagi Engkaulah segala puji, Engkau adalah Yang Maha Mengatur langit dan bumi serta semua makhluk yang ada padanya.

Diriwayatkan dari sahabat Ibnu Mas'ud, bahwa ia pernah mengatakan, "Sesungguhnya di sisi Tuhan kalian tidak ada malam dan tidak pula siang, cahaya 'Arasy adalah berasal dari cahaya Zat-Nya."

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Perumpamaan cahaya Allah.
(An Nuur:35)

Mengenai rujukan damir ini ada dua pendapat.
Pendapat pertama mengatakan bahwa damir Nurihi kembali kepada Allah subhanahu wa ta'ala sebagai tamsil yang menggambarkan hidayah Allah di dalam kalbu orang mukmin adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus.
Demikianlah menurut pendapat Ibnu Abbas.

Pendapat kedua, damir itu kembali kepada orang mukmin karena tersimpulkan dari konteks ayat.
Bentuk lengkapnya ialah, "Perumpamaan cahaya orang mukmin yang ada di dalam kalbunya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus." Maka kalbu orang mukmin yang telah tertanam di dalamnya keimanan dan Al-Qur'an yang diterimanya sesuai dengan fitrah dalam dirinya, seperti yang diungkapkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti nyata (Al-Qur'an) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah.
(Huud:17)

diserupakan dalam hal kejernihannya dengan lentera yang terbuat dari kaca yang tembus pandang lagi berkilauan.
Sedangkan hidayah yang diterimanya dari Al-Qur'an dan syariat agama diserupakan dengan minyaknya yang baik, jernih, bercahaya, dan sesuai, tiada kekeruhan padanya, tiada pula penyimpangan.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

seperti sebuah lubang yang tak tembus.
(An Nuur:35)

Ibnu Abbas, Mujahid, Muhammad ibnu Ka'b, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan misykat ialah tempat lentera, ini menurut pendapat yang terkenal.
Karena itu, disebutkan sesudahnya:

yang di dalamnya ada pelita besar.
(An Nuur:35)

Yakni pelita yang menyala.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.
Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar.
(An Nuur:35) Ketika orang-orang Yahudi berkata kepada Nabi Muhammad ﷺ, "Bagaimanakah cahaya Allah dapat menembus dari balik langit?"
Maka Allah membuat perumpamaan bagi cahaya-Nya itu melalui firman-Nya: Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.
Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus.
(An Nuur:35) Yang dimaksud dengan misykat ialah lubang yang ada di tembok rumah (tetapi tidak tembus, digunakan untuk tempat lentera).
Ibnu Abbas mengatakan bahwa ini merupakan perumpamaan yang dibuat oleh Allah untuk menggambarkan ketaatan kepada-Nya.
Allah menamakan ketaatan kepada-Nya sebagai cahaya, kemudian memisalkannya pula dengan jenis-jenis yang lain.

Ibnu Abu Nujaih telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa misykat adalah lubang (menurut bahasa Habsyah).
Sebagian dari mereka menambahkan bahwa misykat adalah lubang yang tak tembus.

Diriwayatkan dari Mujahid, bahwa misykat ialah besi gantungan lampu besar.

Tetapi pendapat yang pertamalah yang paling utama, yaitu yang mengatakan bahwa misykat adalah tempat lampu.
Karena itulah disebutkan sesudahnya: yang di dalamnya ada pelita besar.
(An Nuur:35) Yakni cahaya yang ada dalam lampu itu.

Ubay ibnu Ka'b mengatakan bahwa yang dimaksud dengan misbah ialah cahaya, ini merupakan perumpamaan bagi Al-Qur'an dan iman yang ada di dalam dada orang mukmin.

As-Saddi mengatakan, yang dimaksud dengan misbah ialah lentera.

Pelita itu di dalam kaca.
(An Nuur:35)

Yakni cahaya itu terpancarkan dari balik kaca yang jernih.

Ubay ibnu Ka'b dan lainnya yang bukan hanya seorang mengatakan bahwa ini merupakan perumpamaan bagi kalbu orang mukmin.

(dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya).
(An Nuur:35)

Sebagian ulama membacanya durrin tanpa memakai hamzah, berasal dari ad-durr, yakni seakan-akan kaca itu adalah bintang permata yang bercahaya.
Sedangkan ulama lainnya membacanya dir'an atau dur'un, berasal dari dur'un yang artinya terdorong.
Demikian itu karena bintang bila terlemparkan, maka cahayanya sangat terang melebihi saat diamnya.
Dan orang-orang Arab menamakan bintang yang tidak dikenal dengan sebutan darari.

Ubay ibnu Ka'b mengatakan, makna yang dimaksud ialah bintang yang bercahaya terang.

Sedangkan menurut Qatadah, makna yang dimaksud ialah bintang yang terang jelas lagi besar.

yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya.
(An Nuur:35)

Yakni bahan bakarnya dari minyak zaitun, yang merupakan pohon yang banyak berkahnya.

(yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat(nya).
(An Nuur:35)

Lafaz zaitunah berkedudukan sebagai badal atau 'ataf bayan.
Yakni pohon zaitun tersebut tumbuh bukan di belahan timurnya yang akibatnya sinar mentari pagi tidak dapat sampai kepadanya, tidak pula tumbuh di belahan baratnya yang akibatnya ada bagian darinya yang tidak terkena sinar mentari di saat matahari condong ke arah barat.
Akan tetapi, ia tumbuh di daerah pertengahan yang selalu terkena sinar mentari sejak pagi hari sampai petang hari, sehingga minyak yang dihasilkannya jernih, baik dan berkilauan.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ammar yang mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Abdullah ibnu Sa'd, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abu Qais, dari Sammak ibnu Harb, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat(nya).
(An Nuur:35) Yaitu pohon zaitun yang ada di padang sahara dalam keadaan tidak tertutupi oleh naungan pohon lainnya, tidak tertutupi oleh gunung, tidak pula berada di dalam gua.
Pendek kata, pohon itu tidak tertutupi oleh sesuatu pun.
Maka pohon sejenis ini menghasilkan minyak yang paling baik.

Yahya ibnu Sa'id Al-Qattan telah meriwayatkan dari Imran ibnu Jarir, dari Ikrimah sehubungan dengan makna firman-Nya: yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat(nya).
(An Nuur:35) Yakni pohon zaitun yang tumbuh di padang sahara.
Pohon seperti ini menghasilkan minyak yang jernih.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami AbuNa'im, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Farukh, dari Habib ibnuz Zubair, dari Ikrimah, bahwa ia pernah ditanya oleh seseorang tentang makna firman-Nya: (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat(nya).
(An Nuur:35) Ikrimah menjawab bahwa pohon tersebut adalah pohon zaitun yang ada di padang sahara, apabila mentari terbit, sinarnya langsung menerpanya, dan apabila tenggelam, terkena pula sinarnya sebelum tenggelam.
Maka pohon zaitun ini menghasilkan minyak yang paling jernih.

Mujahid telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat(nya).
(An Nuur:35) Maksudnya, tidak terletak di sebelah timur yang akibatnya tidak terkena sinar mentari di saat tenggelamnya, tidak pula terletak di sebelah barat yang akibatnya tidak terkena sinar mentari di saat terbitnya.
Tetapi pohon ini terletak di antara arah timur dan arah barat, karenanya ia selalu terkena sinar mentari, baik di pagi hari maupun di petang hari saat matahari akan tenggelam.

Sa'id ibnu Jubair mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat (nya), yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi.
(An Nuur:35) Yakni minyak yang terbaik.
Sa'id ibnu Jubair mengatakan bahwa apabila mentari terbit, maka sinarnya langsung mengenai pohon itu dari arah timur, dan apabila mentari akan tenggelam, maka sinarnya mengenainya pula.
Sinar mentari selalu mengenainya, baik di pagi hari maupun di petang hari.
Yang demikian itu berarti pohon ini terletak bukan di sebelah timur, bukan pula di sebelah barat.

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat(nya).
(An Nuur:35) Yaitu bukan terletak di sebelah timur sekali, bukan pula terletak di sebelah barat sekali, tetapi ia terletak di puncak bukit atau di tengah padang sahara yang selalu terkena sinar mentari sepanjang harinya.

Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud oleh firman-Nya: (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat(nya).
(An Nuur:35) Bahwa pohon itu berada di tengah-tengah pepohonan lainnya sehingga ia tidak tampak dari sebelah timur, tidak pula dari sebelah barat.

Abu Ja'far Ar-Razi telah meriwayatkan dari Ar-Rabi' ibnu Anas, dari Abul Aliyah, dari Ubay ibnu Ka'b sehubungan dengan makna firman-Nya: (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak disebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat (nya).
(An Nuur:35) Pohon tersebut hijau lagi lembut karena tidak terkena sinar mentari sama sekali, baik di saat mentari terbit maupun di saat tenggelam.
Demikian pula keadaan orang mukmin yang sesungguhnya, ia terlindungi dari fitnah apa pun, dan adakalanya ia diuji oleh fitnah, tetapi Allah meneguhkan hatinya sehingga tidak tergoda.
Dia adalah seorang mukmin yang memiliki empat perangai, yaitu, Apabila bicara, benar.
Apabila memutuskan hukum, adil.
Apabila dicoba, sabar.
Dan apabila diberi, bersyukur.
Perihal dia di antara umat manusia lainnya sama dengan seorang lelaki hidup yang berjalan di antara orang-orang yang mati.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Musaddad yang mengata­kan bahwa telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Abu Bisyr, dari Sa'id Ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman-Nya: (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat(nya).
(An Nuur:35) Bahwa pohon ini tidak terkena sinar mentari, baik dari arah timur maupun dari arah barat, karena ia terletak di tengah-tengah pepohonan lainnya.

Atiyyah Al-Aufi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat(nya).
(An Nuur:35) Yakni pohon zaitun yang berada di suatu tempat, yang bayangan buahnya terlihat pada dedaunannya.
Jenis pohon ini tidak terkena sinar mentari di saat terbit dan tenggelamnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman Ad-Dusytuki, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Abu Qais, dari Ata, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas r.a.
sehubungan dengan makna firman-Nya: yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat(nya).
(An Nuur:35) Yakni bukan di sebelah timur yang dekat dengan sebelah barat, bukan pula di sebelah barat yang dekat dengan sebelah timur, tetapi ia terletak di antara keduanya.

Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak (pula) di sebelah barat(nya).
(An Nuur:35) Maksudnya, pohon yang tumbuh di daerah pedalaman.

Zaid ibnu Aslam telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak pula di sebelah barat(nya).
(An Nuur:35) Yakni tumbuh di negeri Syam.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan bahwa seandainya pohon ini ada di bumi, tentulah ia terletak di sebelah timur atau di sebelah baratnya, tetapi hal ini merupakan perumpamaan yang di buat oleh Allah untuk menggambarkan tentang cahaya-Nya.

Ad-Dahhak telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya.
(An Nuur:35) Yakni laki-laki yang saleh.
(yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur sesuatu dan tidak pula di sebelah barat(nya).
(An Nuur:35) Yaitu bukan orang Yahudi, bukan pula orang Nasrani.

Pendapat yang paling utama di antara semua pendapat yang ada adalah pendapat yang pertama.
Yakni pendapat yang mengatakan bahwa pohon zaitun tersebut tumbuh di tempat yang luas dan kelihatan menonjol, selalu terkena sinar mentari sejak pagi sampai petang.
Yang demikian itu akan menghasilkan minyak yang paling jernih dan paling lembut, seperti yang dikatakan oleh banyak orang dari kalangan orang-orang terdahulu.
Karena itu, disebutkan oleh firman-Nya:

yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.
(An Nuur:35)

Menurut Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, makna yang dimaksud ialah minyak itu seakan-akan menyala karena jernih dan cemerlangnya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis).
(An Nuur:35)

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah menggambarkan tentang iman seorang hamba dan amalnya.

Mujahid mengatakan —demikian juga As-Saddi— bahwa makna yang dimaksud ialah cahaya api dan cahaya minyak zaitun.

Ubay ibnu Ka'b telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis).
(An Nuur:35) Orang mukmin bergelimang di dalam lima nur (cahaya), ucapannya adalah cahaya, amal perbuatannya adalah cahaya, tempat masuknya adalah cahaya, tempat keluarnya adalah cahaya, dan tempat kembalinya ialah ke dalam surga kelak di hari kiamat dengan diterangi oleh cahaya.

Syamr ibnu Atiyyah telah mengatakan bahwa Ibnu Abbas datang kepada Ka'bul Ahbar, lalu berkata, "Ceritakanlah kepadaku tentang makna firman-Nya: 'Yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.' (An Nuur:35)" Ka'bul Ahbar mengatakan bahwa hampir-hampir Muhammad ﷺ jelas di mata orang-orang, sekalipun dia tidak mengucapkan bahwa dirinya seorang nabi, sebagaimana minyak itu hampir-hampir menerangi (sekalipun tidak disentuh api).

As-Saddi telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis).
(An Nuur:35) Yakni cahaya api dan cahaya minyak, saat bertemu kedua-duanya menerangi, masing-masing tidak dapat menerangi tanpa yang lainnya.
Demikian pula cahaya Al-Qur'an dan cahaya iman, manakala keduanya bertemu, maka masing-masing dari keduanya tidak akan ada kecuali dengan keberadaan yang lainnya.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki.
(An Nuur:35)

Yakni Allah membimbing ke jalan petunjuk siapa yang Dia pilih, seperti yang disebutkan di dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad Al-Fazzari, telah menceritakan kepada kami Al-Auza'i, telah menceritakan kepadaku Rabi'ah ibnu Yazid, dari Abdullah Ad-Dailami, dari Abdullah ibnu Amr, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta'ala menciptakan makhluk-Nya dalam ke­gelapan, kemudian melemparkan kepada mereka sebagian dari cahaya-Nya pada hari itu.
Maka barang siapa yang terkena sebagian dari cahaya-Nya, tentulah ia mendapat petunjuk, dan barang siapa yang luput dari cahaya-Nya, sesatlah dia.
Untuk itulah saya ucapkan, "Keringlah pena (dalam mencatat) ilmu Allah subhanahu wa ta'ala"

Menurut jalur lain yang bersumber dari Abdullah ibnu Amr, Al-Bazzar telah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ayyub, dari Suwaid, dari Yahya ibnu Abu Amr Asy-Syaibani, dari ayahnya, dari Abdullah ibnu Amr, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan, lalu melemparkan kepada mereka suatu cahaya dari cahaya-Nya.
Maka barang siapa yang terkena cahaya itu, ia mendapat petunjuk, dan barang siapa yang luput darinya, maka sesatlah ia.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan Allah memperbuat perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(An Nuur:35)

Setelah menuturkan hal tersebut sebagai perumpamaan bagi cahaya petunjuk-Nya di dalam kalbu orang mukmin, maka Allah subhanahu wa ta'ala menutup ayat ini dengan firman-Nya: dan Allah memperbuat perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(An Nuur:35) Yakni Dia Maha Mengetahui tentang siapa yang berhak mendapat petunjuk dan siapa yang berhak mendapat kesesatan.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Lais, dari Amr ibnu Murrah, dari Abul Buhturi, dari Abu Sa'id Al-Khudri yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Kalbu itu ada empat macam, yaitu kalbu yang bersih, di dalamnya terdapat sesuatu seperti pelita yang berkilauan, kalbu yang terkunci, dalam keadaan tertutup rapat oleh pelapisnya, kalbu yang terbalik, dan kalbu yang terlapisi.
Adapun kalbu yang bersih ia adalah kalbu orang mukmin yang di dalamnya terdapat lentera yang meneranginya.
Adapun kalbu yang terkunci, maka ia adalah kalbu orang kafir.
Adapun kalbu yang terbalik, ia adalah kalbu orang munafik, ia mengetahui (kebenaran), kemudian mengingkari­nya.
Adapun kalbu yang terlapisi, maka ia adalah kalbu yang mengandung iman dan kemunafikan.
Perumpamaan iman di dalam kalbu sama dengan sayuran yang disirami dengan air bersih, dan perumpamaan nifak (sifat munafik) di dalam kalbu sama dengan luka yang disuplai oleh darah dan nanah, maka mana pun di antara keduanya mengalahkan yang lain, berarti dialah yang menang.

Sanad hadis berpredikat jayyid, tetapi mereka (ashabus sunan) tidak mengetengahkannya.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nuur (24) Ayat 35

ZUJAAJAH
لزُّجَاجَة

Ism mufrad, jamaknya zujaaj dan mengandung maksud bahagian dari az zujaaj. Ia adalah bentuk yang tipis lagi jernih, keras dan mudah pecah, dibuat dari kaca atau ia bermakna botol, pelita atau lampu.

Disebut dua kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah An Nuur (24), ayat 35.
Allah berfirman:

ٱلْمِصْبَاحُ فِى زُجَاجَةٍۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ

Az Zamakhsyari berkata,
maksud az zujaaj adalah pelita dari kaca yang tipis.

Al Qurtubi menyatakan, ia disebut az zujaaj karena memiliki bentuk yang tipis dan jernih. Tafsirannya, cahaya terpancar dari pelita yang jernih.

Az zujaaj berkata,
cahaya di dalam pelita atau kaca dan cahaya api lebih terang darinya pada setiap sesuatu, namun cahayanya di dalam pelita bertambah apabila berada di dalam kaca atau pelita. Ini karena, pelita dalam bentuk yang tipis lagi jernih, memancarkan cahaya dengan sempurna.

Ubay bin Ka'ab berkata,
ia seperti hati seorang mukmin.

Kesimpulannya, az zujaaj bermakna pelita.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:270-271

Informasi Surah An Nuur (النور)
Surat An Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Dinamai "An Nuur" yang berarti "Cahaya",
diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat 35.
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan tentang Nuur Ilahi, ya'ni Al Qur'an yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam se­mesta.

Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk-petunjuk Allah yang berhubungan de­ngan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Keimanan:

Kesaksian lidah dan anggota-anggota tubuh atas segala perbuatan manusia pada hari kiamat
hanya Allah yang menguasai langit dan bumi
kewajiban rasul hanya­lah menyampaikan agama Allah
iman rnerupakan dasar daripada diterimanya amal ibadah.

Hukum:

Hukum-hukum sekitar masalah zina, li'an dan adab-adab pergaulan diluar dan di dalam rumah tangga.

Kisah:

Cerita tentang berita bohong terhadap Ummul Mu'minin 'Aisyah r.a. (Qishshatul lfki).

Lain-lain:

Semua jenis hewan diciptakan Allah dari air
janji Allah kepada kaum muslimin yang beramal saleh.

QS 24 An-Nur (35-38) - Indonesian - Chacha Frederica
QS 24 An-Nur (35-38) - Arabic - Chacha Frederica


Gambar Kutipan Surah An Nuur Ayat 35 *beta

Surah An Nuur Ayat 35



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nuur

Surah An-Nur (Arab: النّور‎) adalah surah ke-24 dari al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Dinamai An-Nur yang berarti Cahaya yang diambil dari kata An-Nur yang terdapat pada ayat ke 35.
Dalam ayat ini, Allah s.w.t.
menjelaskan tentang Nur Ilahi, yakni Al-Quran yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta.
Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk- petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Nomor Surah 24
Nama Surah An Nuur
Arab النور
Arti Cahaya
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 102
Juz Juz 18
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 64
Jumlah kata 1381
Jumlah huruf 5755
Surah sebelumnya Surah Al-Mu’minun
Surah selanjutnya Surah Al-Furqan
4.9
Rating Pembaca: 4.3 (29 votes)
Sending







✔ an nur 35, arti surah an nur ayat 35-36, Arti Surat 24 ayat 35, Makna surat annur ayat 24-35, tafsir surah an nur ayat 35 tentang listrik

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku