Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

Tampilkan Lainnya ...

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

QS. An Nuur (Cahaya) – surah 24 ayat 33 [QS. 24:33]

وَ لۡیَسۡتَعۡفِفِ الَّذِیۡنَ لَا یَجِدُوۡنَ نِکَاحًا حَتّٰی یُغۡنِیَہُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ ؕ وَ الَّذِیۡنَ یَبۡتَغُوۡنَ الۡکِتٰبَ مِمَّا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُکُمۡ فَکَاتِبُوۡہُمۡ اِنۡ عَلِمۡتُمۡ فِیۡہِمۡ خَیۡرًا ٭ۖ وَّ اٰتُوۡہُمۡ مِّنۡ مَّالِ اللّٰہِ الَّذِیۡۤ اٰتٰىکُمۡ ؕ وَ لَا تُکۡرِہُوۡا فَتَیٰتِکُمۡ عَلَی الۡبِغَآءِ اِنۡ اَرَدۡنَ تَحَصُّنًا لِّتَبۡتَغُوۡا عَرَضَ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ؕ وَ مَنۡ یُّکۡرِہۡہُّنَّ فَاِنَّ اللّٰہَ مِنۡۢ بَعۡدِ اِکۡرَاہِہِنَّ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
Walyasta’fifil-ladziina laa yajiduuna nikaahan hatta yughniyahumullahu min fadhlihi waal-ladziina yabtaghuunal kitaaba mimmaa malakat aimaanukum fakaatibuuhum in ‘alimtum fiihim khairan waaatuuhum min maalillahil-ladzii aataakum walaa tukrihuu fatayaatikum ‘alal bighaa-i in aradna tahash-shunan litabtaghuu ‘aradhal hayaatiddunyaa waman yukrihhunna fa-innallaha min ba’di ikraahihinna ghafuurun rahiimun;
Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sampai Allah memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.
Dan jika hamba sahaya yang kamu miliki menginginkan perjanjian (kebebasan), hendaklah kamu buat perjanjian kepada mereka, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu.
Dan janganlah kamu paksa hamba sahaya perempuanmu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri menginginkan kesucian, karena kamu hendak mencari keuntungan kehidupan duniawi.
Barangsiapa memaksa mereka, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (kepada mereka) setelah mereka dipaksa.
―QS. 24:33
Topik ▪ Takwa ▪ Perbuatan dan niat ▪ Al Qur’an turun dengan bahasa suku Quraisy
English Translation - Sahih International
But let them who find not (the means for) marriage abstain (from sexual relations) until Allah enriches them from His bounty.
And those who seek a contract (for eventual emancipation) from among whom your right hands possess – then make a contract with them if you know there is within them goodness and give them from the wealth of Allah which He has given you.
And do not compel your slave girls to prostitution, if they desire chastity, to seek (thereby) the temporary interests of worldly life.
And if someone should compel them, then indeed, Allah is (to them), after their compulsion, Forgiving and Merciful.
―QS. 24:33

Alquran Arti Perkata (Indonesia & English)
وَلْيَسْتَعْفِفِ dan hendaklah menjaga kehormatan

And let be chaste
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

those who
لَا (mereka) tidak

(do) not
يَجِدُونَ dapat/mampu

find
نِكَاحًا nikah/kawin

(means for) marriage
حَتَّىٰ sehingga

until
يُغْنِيَهُمُ memberi kekayaan/kemampuan kepada mereka

Allah enriches them *[meaning includes next or prev. word]
ٱللَّهُ Allah

Allah enriches them *[meaning includes next or prev. word]
مِن dari

from
فَضْلِهِۦ karunia-Nya

His Bounty.
وَٱلَّذِينَ dan orang-orang yang

And those who
يَبْتَغُونَ (mereka) menginginkan

seek
ٱلْكِتَٰبَ catatan/perjanjian

the writing
مِمَّا dari apa

from (those) whom
مَلَكَتْ kamu miliki

possess
أَيْمَٰنُكُمْ budak-budak kamu

your right hands,
فَكَاتِبُوهُمْ maka adakan perjanjian dengan mereka

then give them (the) writing
إِنْ jika

if
عَلِمْتُمْ kamu ketahui

you know
فِيهِمْ pada mereka

in them
خَيْرًا kebaikan

any good
وَءَاتُوهُم dan berikanlah mereka

and give them
مِّن dari

from
مَّالِ harta

the wealth of Allah *[meaning includes next or prev. word]
ٱللَّهِ Allah

the wealth of Allah *[meaning includes next or prev. word]
ٱلَّذِىٓ yang

which
ءَاتَىٰكُمْ diberikan/dikaruniakan padamu

He has given you.
وَلَا dan jangan

And (do) not
تُكْرِهُوا۟ kamu memaksa

compel
فَتَيَٰتِكُمْ budak-budak perempuan

your slave girls

 

Tafsir surah An Nuur (24) ayat 33

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang yang tidak memiliki kesanggupan untuk menanggung beban perkawinan hendaklah menempuh cara lain utnuk menjaga kesucian diri mereka, seperti puasa, olah raga dan olah pikir[1].
Cara itu hendaknya ditempuh sampai mereka diberi karunia oleh Allah sehingga mampu kawin.
Budak-budak yang meminta kalian untuk melakukan kesepakatan membayar uang pengganti sebagai imbalan hidup merdeka, hendaklah kalian penuhi permintaan mereka jika kalian tahu bahwa mereka benar-benar akan menepatinya dan dapat melaksanakannya.
Hendaknya kalian bantu mereka dalam menepati transaksi tersebut seperti, misalnya, dengan memberi korting dari kesepakatan semula atau dengan memberikan mereka sebagian harta yang diberikan Allah kepada kalian berupa zakat atau sedekah.
Haram hukumnya bagi kalian untuk menjadikan para budak wanita sebagai alat untuk mendapatkan kekayaan duniawi dengan mengomersialkan pelacuran dan memaksa mereka melacur.
Bagaimana kalian memaksa mereka untuk itu, padahal mereka menginginkan kesucian?
Barangsiapa yang memaksa mereka melakukan itu, maka sesungguhnya Allah akan mengampuni orang yang memaksa mereka melalui pertobatan.
Sebab Allah Mahaluas ampunan dan rahmat-Nya.

[1] Ayat ini ditafsirkan oleh sebuah sabda Rasulullah ﷺ.
yang artinya berbunyi:
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian telah sanggup menanggung beban perkawinan, maka hendaknya ia segera kawin.
Sebab, perkawinan lebih dapat menjaga pandangan mata dan kemaluan.
Kalau ada yang belum sanggup, maka hendaknya ia berpuasa.
Sebab puasa itu merupakan perisai.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesuciannya) maksudnya mereka yang tidak mempunyai mahar dan nafkah untuk kawin, hendaklah mereka memelihara kesuciannya dari perbuatan zina

(sehingga Allah memampukan mereka) memberikan kemudahan kepada mereka

(dengan karunia-Nya) hingga mereka mampu kawin.

(Dan orang-orang yang menginginkan perjanjian) lafal Al Kitaaba bermakna Al Mukaatabah, yaitu perjanjian untuk memerdekakan diri

(di antara budak-budak yang kalian miliki) baik hamba sahaya laki-laki maupun perempuan

(maka hendaklah kalian buat perjanjian dengan mereka jika kalian mengetahui ada kebaikan pada mereka) artinya dapat dipercaya dan memiliki kemampuan untuk berusaha yang hasilnya kelak dapat membayar perjanjian kemerdekaan dirinya.
Shighat atau teks perjanjian ini, misalnya seorang pemilik budak berkata kepada budaknya,
“Aku memukatabahkan kamu dengan imbalan dua ribu dirham, selama jangka waktu dua bulan.
Jika kamu mampu membayarnya, berarti kamu menjadi orang yang merdeka.”
Kemudian budak yang bersangkutan menjawab,
“Saya menyanggupi dan mau menerimanya”

(dan berikanlah kepada mereka) perintah di sini ditujukan kepada para pemilik budak

(sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepada kalian) berupa apa-apa yang dapat membantu mereka untuk menunaikan apa yang mereka harus bayarkan kepada kalian.
Di dalam lafal Al-Iitaa terkandung pengertian meringankan sebagian dari apa yang harus mereka bayarkan kepada kalian, yaitu dengan menganggapnya lunas.

(Dan janganlah kalian paksakan budak-budak wanita kalian) yaitu sahaya wanita milik kalian

(untuk melakukan pelacuran) berbuat zina

(sedangkan mereka sendiri menginginkan kesucian) memelihara kehormatannya dari perbuatan zina.
Adanya keinginan untuk memelihara kehormatan inilah yang menyebabkan dilarang memaksa, sedangkan syarath di sini tidak berfungsi sebagaimana mestinya lagi

(karena kalian hendak mencari) melalui paksaan itu

(keuntungan duniawi) ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah bin Ubay, karena dia memaksakan hamba-hamba sahaya perempuannya untuk berpraktek sebagai pelacur demi mencari keuntungan bagi dirinya.

(Dan barang siapa memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah kepada mereka yang telah dipaksa itu adalah Maha Pengampun)

(lagi Maha Penyayang).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan orang-orang yang tidak mampu menikah karena miskin atau karena sebab yang lain, maka hendaknya ia tetap menjaga kesucian dirinya dari perkara-perkara yang diharamkan oleh Allah sampai Allah memberikan kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya dan memberikan kemudahan untuk menikah.
Para budak baik wanita maupun lelaki yang ingin mengadakan perjanjian mukatabah dengan pemiliknya yakni mau membayar dengan sebagian harta yang mereka dapatkan kepada pemiliknya.
Maka para pemilik budak tersebut hendaknya bersedia untuk membuat perjanjian mukatabah dengan budak yang dimilikinya jika ia melihat ada kebaikan di dalamnya.
Yakni kebaikan secara akal dan ia mampu untuk bekerja serta kebaikan dalam agama.
Dan hendaknya para pemilik budak tersebut memberikan sebagian hartanya kepada budaknya, atau mengurangi bayaran yang harus dibayar oleh budak yang mukatab.
Kalian (para pemilik budak) tidak diperkenankan memaksa mereka untuk berbuat zina dengan kalian agar para budak wanita tersebut mendapatkan harta.
Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi pada kalian, padahal mereka sebenarnya sangat ingin menjaga kehormatan mereka sedangkan kalian enggan memberikannya?
Di dalam ayat ini terdapat penjelasan tentang buruknya perbuatan mereka tersebut.
Barangsiapa yang memaksa para budak wanita untuk berbuat zina, maka sesungguhnya Allah pasti akan mengampuni dan menyayangi para budak tersebut, dan dosanya akan ditanggung oleh orang yang memaksanya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah ﷺ:

Dan budak-budak yang kalian miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kalian buat perjanjian dengan mereka, jika kalian mengetahui ada kebaikan pada mereka.
(QS. An-Nuur [24]: 33)

Ini adalah perintah dari Allah ditujukan kepada para tuan, bila budak-budak mereka menginginkan transaksi kitabah.
Yaitu hendaknya mereka memenuhi permintaan budak-budak mereka dengan mengikat perjanjian, bahwa budak yang bersangkutan dipersilakan berusaha dan dari hasil usahanya itu si budak harus melunasi sejumlah harta yang telah dituangkan dalam perjanjian mereka berdua, sebagai imbalan dari kemerdekaan dirinya secara penuh.

Kebanyakan ulama berpendapat bahwa perintah dalam ayat ini merupakan perintah arahan dan anjuran, bukan perintah harus atau wajib, bahkan si tuan diperbolehkan memilih apa yang disukainya.
Dengan kata lain, bila budaknya ada yang menginginkan transaksi kitabah darinya, maka si tuan berhak memilih setuju atau tidaknya.
Jika ia setuju, tentu menandatangani transaksi kitabah budaknya, dan jika tidak setuju, tentu ia akan menolaknya.

As-Sauri telah meriwayatkan dari Asy-Sya’bi, bahwa jika si tuan menghendakinya,ia boleh menandatangani transaksi kitabah yang diajukan budaknya, dan jika tidak menghendakinya, ia boleh menolaknya.
Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Wahb dari Isma’il ibnu Ayyasy, dari seorang lelaki, dari Ata ibnu Abu Rabah.
Disebutkan bahwa seorang tuan jika suka, boleh menandatangani transaksi kitabah itu, dan jika tidak suka, boleh menolaknya.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Muqatil ibnu Hayyan dan Al-Hasan Al-Basri.

Ulama yang lain berpendapat bahwa seorang tuan jika budaknya mengajukan transaksi kitabah, diwajibkan baginya memenuhi apa yang diminta oleh budaknya.
Pendapat mereka berdasarkan kepada makna lahiriah dari perintah yang terkandung dalam ayat ini.

Imam Bukhari mengatakan bahwa Rauh telah meriwayatkan dari Ibnu Juraij, bahwa ia pernah bertanya kepada Ata,
“Apakah wajib atas diriku memenuhi permintaan budakku yang mengajukan transaksi kitabah dengan sejumlah harta?”
Ata menjawab,
“Menurut hemat saya tiada lain bagimu kecuali wajib memenuhi permintaannya.”

Amr ibnu Dinar mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ata,
“Apakah engkau lebih mementingkan orang lain daripada dia (budak yang meminta kitabah)?”
Ata menjawab,
“Tidak.”
Kemudian ia menceritakan kepadaku, Musa ibnu Anas pernah menceritakan kepadanya bahwa Sirin pernah mengajukan transaksi kitabah kepada Anas, sedangkan Sirin mempunyai harta yang banyak, tetapi Anas menolak.
Maka Sirin segera menghadap kepada Khalifah Umar untuk melaporkan kasusnya.
Khalifah Umar berkata (kepada Anas),
“Penuhilah transaksi kitabah-nya!”
Anas menolak.
Maka Khalifah Umar memukulnya dengan cambuk, lalu membacakan kepadanya firman Allah subhanahu wa ta’ala:
hendaklah kalian buat perjanjian dengan mereka, jika kalian mengetahui ada kebaikan pada mereka.
(QS. An-Nuur [24]: 33)
Akhirnya Anas mau membuat perjanjian kitabah dengan Sirin.

Hal yang sama telah disebutkan oleh Imam Bukhari secara ta’liq.

Abdur Razzaq meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ata,
“Apakah wajib bagiku melakukan transaksi kitabah dengannya (si budak) bila aku telah memberitahukan kepadanya sejumlah harta (yang harus dibayarnya untuk kemerdekaannya)?”
Maka Ata menjawab,
“Menurut hemat saya tiada lain kecuali wajib belaka.”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bakr, telah menceritakan kepada kami Sa’id, dari Qatadah, dari Anas ibnu Malik, bahwa Sirin bermaksud membuat perjanjian kitabah kepadanya, tetapi Anas menolak.
Maka Khalifah Umar berkata kepada Anas,
“Kamu harus menerima perjanjian kitabah-nya.”
Sanad asar ini sahih.

Sa’id ibnu Mansur telah meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnu Juwaibir, dari Ad-Dahhak yang mengatakan bahwa perintah ini merupakan ‘azimah (keharusan).
Hal inilah yang dianut oleh Imam syafii dalam qaul qadim-nya.
Sedangkan dalam qaul Jadid ia mengatakan bahwa perintah ini tidak wajib karena berdasarkan sabda Rasulullah ﷺ yang mengatakan:

Tidak halal harta seorang muslim kecuali dengan hati yang senang.

Ibnu Wahb mengatakan, Malik pernah mengatakan bahwa duduk perkara yang sebenarnya menurut pendapat kami pemilik budak tidak diwajibkan memenuhi permintaannya, jika si budak meminta pembuatan perjanjian kitabah.
Dan aku belum pernah mendengar seseorang pun dari kalangan para imam yang menekankan terhadap seseorang untuk melakukan transaksi kitabah terhadap budaknya.

Imam Malik mengatakan bahwa sesungguhnya hal itu semata-mata sebagai anjuran dari Allah subhanahu wa ta’ala dan perizinan dari-Nya bagi manusia, akan tetapi tidak wajib.
Hal yang sama telah dikatakan oleh As-Sauri, Abu Hanifah, dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam serta lain-lainnya.
Akan tetapi, Ibnu Jarir memilih pendapat yang mengatakan wajib karena berdasarkan makna lahiriah ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

jika kalian mengetahui ada kebaikan pada mereka.
(QS. An-Nuur [24]: 33)

Menurut sebagian ulama, yang dimaksud dengan kebaikan dalam ayat ini ialah dapat dipercaya.
Menurut sebagian ulama lainnya adalah kejujuran.
Sebagian ulama yang lain mengatakan harta, dan sebagian lagi mengatakan keahlian dan profesi.

Abu Daud telah meriwayatkan di dalam himpunan hadis mursal-nya melalui Yahya ibnul Abu Kasir, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda sehubungan dengan makna firman-Nya:
hendaklah kalian buat perjanjian dengan mereka, jika kalian mengetahui ada kebaikan pada mereka.
(QS. An-Nuur [24]: 33)
Rasulullah ﷺ bersabda:

Jika kalian mengetahui bahwa mereka mempunyai profesi (keahlian), dan janganlah kalian melepaskan mereka menjadi beban bagi orang lain.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepada kalian.
(QS. An-Nuur [24]: 33)

Ulama tafsir berbeda pendapat sehubungan dengan makna ayat ini.
Sebagian dari mereka mengatakan bahwa makna ayat ialah bebaskanlah dari mereka sebagian utang kitabah mereka.
Sebagian lainnya mengatakan seperempatnya, ada yang mengatakan sepertiganya, ada yang mengatakan separonya, ada pula yang mengatakan sebagiannya tanpa batas.

Ulama lainnya mengatakan bahkan makna yang dimaksud dari firman Allah subhanahu wa ta’ala:
dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan kepada kalian.
(QS. An-Nuur [24]: 33)
Yaitu bagian yang telah ditetapkan oleh Allah bagi mereka dari harta zakat.

Pendapat yang terakhir ini merupakan pendapat yang dikemukakan oleh Al-Hasan dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam, serta ayahnya dan Muqatil ibnu Hayyan, lalu dipilih oleh Ibnu Jarir.

Ibrahim An-Nakha’i telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan kepada kalian.
(QS. An-Nuur [24]: 33)
Anjuran ini ditujukan kepada semua orang dan tuan budak yang bersangkutan serta orang lainnya.
Hal yang sama telah dikatakan oleh Buraidah ibnul Hasib Al-Aslami dan Qatadah.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa Allah memerintahkan kepada kaum mukmin agar menolong budak-budak (untuk memerdekakan dirinya).

Dalam keterangan yang lalu telah disebutkan sebuah hadis dari Nabi ﷺ yang mengatakan bahwa ada tiga macam orang yang pasti mendapat pertolongan dari Allah, antara lain ialah budak mukatab yang bertekad melunasi utangnya.
Pendapat pertama merupakan pendapat yang terkenal.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Isma’il, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Ibnu Syabib, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dari Umar, bahwa ia menulis perjanjian kitabah terhadap seorang budak yang memintanya, budak tersebut dikenal dengan sebutan Abu Umayyah.
Ketika ia datang dengan membawa cicilannya yang telah jatuh tempo, Umar berkata,
“Hai Abu Umayyah,”
pergilah dan jadikanlah itu modalmu untuk membayar transaksi kitabah-mu”
Abu Umayyah menjawab,
“Wahai Amirul Mu’minin, sudikah kiranya engkau meringankan beban cicilanku hingga akhir cicilan?”
Khalifah Umar menjawab,
“Aku merasa khawatir bila tidak dapat meraih hal itu (yang dianjurkan oleh ayat).”
Lalu Umar membaca firman-Nya:
hendaklah kalian buat perjanjian dengan mereka, jika kalian mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan kepada kalian.
(QS. An-Nuur [24]: 33)

Ikrimah mengatakan bahwa hal tersebut merupakan permulaan cicilan yang ditunaikan dalam Islam.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Humaid, telah menceritakan kepada kami Harun ibnul Mugirah, dari Anbasah, dari Salim Al-Aftas, dari Sa’id Ibnu Jubair yang mengatakan bahwa dahulu Khalifah Umar bila hendak membuat perjanjian kitabah terhadap seorang budak, maka ia tidak membebaskan sesuatu pun dari budak itu dalam cicilan pertamanya karena khawatir bila si budak yang bersangkutan tidak mampu yang pada akhirnya sedekah yang diberikannya itu akan kembali lagi kepada dirinya.
Tetapi bila telah jatuh tempo cicilan terakhirnya, maka ia membebaskan dari budak itu sejumlah apa yang disukainya.

Ali ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakan kepada kalian.
(QS. An-Nuur [24]: 33)
Ibnu Abbas mengatakan,
“Bebaskanlah mereka dari sebagian tanggungan­nya.”

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ata, Al-Qasim ibnu Abu Buzzah, Abdul Karim ibnu Malik Al-Jazari, dan As-Saddi.
Muhammad ibnu Sirin mengatakan sehubungan dengan makna ayat, bahwa ia suka bila seseorang membebaskan budak mukatab-nya dari sebagian tanggungannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnu Syazan Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Hisyam ibnu Yusuf, dari Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Ata ibnus Sa-ib, bahwa Abdullah ibnu Jundub pernah menceritakan kepadanya dari Ali r.a., dari Nabi ﷺ yang telah bersabda,
“Seperempat dari perjanjian kitabah.”

Tetapi hadis ini garib, predikat marfu ‘-nya tidak dapat diterima, yang lebih mendekati kebenaran predikatnya adalah mauqufnya sampai kepada Ali r.a., seperti apa yang telah diriwayatkan oleh Abu Abdur Rahman As-Sulami rahimahulah bersumber dari dia.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan janganlah kalian paksa budak-budak wanita kalian melakukan perzinaan.
(QS. An-Nuur [24]: 33), hingga akhir ayat.

Dahulu di masa Jahiliah bila seseorang dari mereka mempunyai budak perempuan, ia melepaskannya untuk berbuat zina dan menetapkan atas dirinya pajak yang ia pungut di setiap waktu.
Setelah Islam datang, maka Allah melarang orang-orang mukmin melakukan hal tersebut.

Latar belakang turunnya ayat yang mulia ini menurut apa yang telah disebutkan oleh sejumlah ulama tafsir—baik dari kalangan ulama Salaf maupun Khalaf— berkenaan dengan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul.
Dia mempunyai banyak budak perempuan yang sering ia paksa untuk melakukan pelacuran karena mengejar pajak dari mereka, menginginkan anak dari mereka, dan beroleh kepemimpinan dari perbuatannya itu menurut dugaannya.

Beberapa asar yang membicarakan hal ini:

Al-Hafiz Abu Bakar Ahmad ibnu Amr ibnu Abdul Khaliq Al-Bazzar rahimahullah telah mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Daud Al-Wasit, telah menceritakan kepada kami Abu Amr Al-Lakhami (yakni Muhammad ibnul Hajjaj), telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq, dari Az-Zuhri yang menceritakan bahwa dahulu Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul mempunyai seorang budak perempuan yang dikenal dengan nama Mu’azah, dia memaksanya untuk melacur.
Setelah Islam datang, maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya:
dan janganlah kalian paksa budak-budak wanita kalian melakukan perzinaan.
(QS. An-Nuur [24]: 33), hingga akhir ayat.

Al-A’masy telah meriwayatkan dari Abu Sufyan, dari Jabir sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan budak perempuan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul yang dikenal dengan nama Masikah.
Abdullah ibnu Ubay memaksanya untuk melacur, sedangkan Masikah cukup cantik rupanya, tetapi Masikah menolak.
Maka Allah menurunkan ayat ini, yaitu firman-Nya:
Dan janganlah kalian paksa budak-budak wanita kalian melakukan perzinaan.
(QS. An-Nuur [24]: 33)
sampai dengan firman-Nya:
Dan barang siapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu).
(QS. An-Nuur [24]: 33)

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar telah mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, telah menceritakan kepadaku Abu Sufyan dari Jabir yang telah mengatakan bahwa dahulu seorang budak wanita milik Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul yang dikenal dengan nama Masikah sering dipaksa oleh tuannya melacur.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
Dan janganlah kalian paksa budak-budak wanita kalian melakukan perzinahan.
(QS. An-Nuur [24]: 33).
sampai dengan firman-Nya:
Dan barang siapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu).
(QS. An-Nuur [24]: 33)

Al-A’masy menjelaskan bahwa dia telah mendengarnya dari Abu Sufyan ibnu Talhah ibnu Nafi’.
Hal ini menunjukkan kebatilan pendapat orang yang mengatakan bahwa Al-A’masy tidak mendengar asar ini dari Abu Sufyan.
Sesungguhnya pendapat ini merupakan suatu kekeliruan, menurut apa yang diriwayatkan oleh Al-Bazzar.

Abu Daud At-Tayalisi telah meriwayatkan dari Sulaiman ibnu Mu’az, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa seorang budak perempuan milik Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul melacur di masa Jahiliah hingga ia melahirkan banyak anak dari perbuatan lacurnya.
Pada suatu hari Abdullah ibnu Ubay menegurnya,
“Mengapa kamu tidak melacur lagi?
Si budak wanita menjawab,
“Demi Allah, aku tidak akan melacur lagi.”
Maka Abdullah ibnu Ubay memukulinya.
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Dan janganlah kalian paksa budak-budak wanita kalian melakukan perzinaan.
(QS. An-Nuur [24]: 33)

Al-Bazzar telah meriwayatkan pula, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Daud Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Abu Amr Al-Lakhami (yakni Muhammad ibnul Hajjaj), telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq, dari Az-Zuhri, dari Anas r.a. yang mengatakan bahwa dahulu seorang budak wanita milik Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul yang dikenal dengan nama Mu’azah sering dipaksa oleh tuannya melacur.
Setelah Islam datang, turunlah ayat berikut, yaitu firman-Nya:
Dan janganlah kalian paksa budak-budak wanita kalian melakukan perzinaan, sedangkan mereka sendiri menginginkan kesucian.
(QS. An-Nuur [24]: 33)
sampai dengan firman-Nya:
Dan barang siapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu).
(QS. An-Nuur [24]: 33)

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, bahwa seorang lelaki dari kalangan Quraisy menjadi tawanan perang sejak Perang Badar.
Dia menjadi tawanan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, sedangkan Abdullah ibnu Ubay mempunyai seorang budak wanita yang dikenal dengan nama Mu’azah.
Tawanan Quraisy itu menginginkan budak wanitanya, sedangkan budak wanita itu adalah seorang yang telah masuk Islam.
Maka budak wanita itu menolak karena ia sudah masuk Islam.
Sementara itu Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul memaksa budaknya untuk melakukan pelacuran dengan lelaki Quraisy tersebut, bahkan memukulinya agar ia mau.
Tujuan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul ialah agar budak wanitanya itu dapat mengandung dari lelaki Quraisy itu, yang pada akhirnya ia akan menuntut tebusan anaknya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya:
Dan janganlah kalian paksa budak-budak wanita kalian melakukan pelacuran, sedangkan mereka sendiri menginginkan kesucian.
(QS. An-Nuur [24]: 33)

As-Saddi mengatakan bahwa ayat yang mulia ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul, pemimpin kaum munafik.
Dia memiliki seorang budak wanita bernama Mu’azah.
Apabila dia kedatangan tamu, maka ia mengirimkan budak wanitanya kepada tamu itu agar si tamu berbuat zina dengannya.
Tujuannya ialah agar ia beroleh imbalan dari tamunya, juga kehormatan.
Maka budak wanita itu lari menemui Abu Bakar r.a. dan mengadukan perlakuan tuannya.
Kemudian Abu Bakar menceritakan hal tersebut kepada Nabi ﷺ Maka Nabi ﷺ memerintahkan kepada Abu Bakar agar membelinya dari tangan tuannya.
Abdullah ibnu Ubay merasa terkejut, lalu berkata,
“Siapakah yang akan membelaku dari perlakuan Muhamad?
Dia dapat mengalahkan kami dalam urusan budak kami.”
Maka Allah menurunkan firman-Nya ini berkenaan dengan mereka.

Muqatil ibnu Hayyan mengatakan, telah sampai kepadaku —hanya Allah Yang Maha Mengetahui— bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan dua orang laki-laki yang memaksa dua orang budak wanita miliknya (untuk melacur), nama salah seorang budak wanita itu ialah Masikah yang menjadi milik orang Ansar, sedangkan yang lainnya adalah ibunya bernama Umaimah, dan Mu’azah serta Arwa mengalami nasib yang sama.
Lalu Masikah dan ibunya datang menghadap kepada Nabi ﷺ dan menceritakan tentang peristiwa yang dialaminya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan firman-Nya sehubungan dengan peristiwa itu:
Dan janganlah kalian paksa budak-budak wanita kalian melakukan pelacuran.
(QS. An-Nuur [24]: 33).
Yakni perzinaan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

{إِنْ أَرَدْنَ تَحَصُّنًا}

sedangkan mereka sendiri menginginkan kesucian.
(QS. An-Nuur [24]: 33)

Makna firman ini menggambarkan tentang pengecualian dari mayoritas, maka tidak mengandung arti yang berhubungan dengan sebelumnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

karena kalian hendak mencari keuntungan duniawi.
(QS. An-Nuur [24]: 33)

Yaitu dari pajak mereka, hasil mahar mereka, dan anak-anak yang dilahirkan dari mereka.
Rasulullah ﷺ telah melarang hasil usaha dari berbekam, maskawin pelacur, dan upah tukang tenung.
Menurut riwayat lain disebutkan:

Maskawin pelacur adalah kotor, hasil usaha berbekam adalah kotor, dan hasil penjualan anjing adalah kotor.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan barang siapa yang memaksa mereka, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu).
(QS. An-Nuur [24]: 33)

Hal ini sebagaimana telah dikemukakan dalam hadis melalui Jabir.

Ibnu Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa apabila kalian melakukan demikian, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, sedangkan dosa mereka ditimpakan atas orang­ orang yang memaksa mereka.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Mujahid, Ata Al-Khurasani, Al-A’masy, dan Qatadah.

Abu Ubaid mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ishaq Al-Azraq, dari Auf, dari Al-Hasan sehubungan dengan makna ayat berikut:
maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu).
(QS. An-Nuur [24]: 33)
Artinya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada mereka.

Diriwayatkan dari Az-Zuhri yang mengatakan bahwa Allah Maha Pengampun kepada mereka sesudah mereka dipaksa berbuat itu.

Diriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam yang mengatakan bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada wanita-wanita yang dipaksa berbuat demikian.

Semua pendapat di atas diriwayatkan oleh Ibnul Munzir dalam kitab tafsirnya berikut sanad-sanadnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdullah, telah menceritakan kepadaku Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepadaku Ata, dari Sa’id ibnu Jubair yang mengatakan sehubungan dengan qiraat Abdullah ibnu Mas’ud:
maka sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa (itu).
(QS. An-Nuur [24]: 33)
Sedangkan dosa mereka ditimpakan atas orang-orang yang memaksa mereka.

Di dalam hadis marfu’ dan Rasulullah ﷺ disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Dimaafkan dari umatku kekeliruan, lupa dan apa yang di­paksakan kepada mereka.

Ayat-ayat dalam Surah An Nuur (64 ayat)
Qari Internasional

QS. An-Nuur (24) : 33 ⊸ Syekh Mishari Alafasy

QS. An-Nuur (24) : 33 ⊸ Syekh Sa’ad Al-Ghamidi

QS. An-Nuur (24) : 33 ⊸ Syekh Muhammad Ayyub

Murottal Alquran & Terjemahan Indonesia
QS. An-Nuur (24) : 1-64 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 64 + Terjemahan

Ayat 1 sampai 64 + Terjemahan