Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nuur

An Nuur (Cahaya) surah 24 ayat 22


وَ لَا یَاۡتَلِ اُولُوا الۡفَضۡلِ مِنۡکُمۡ وَ السَّعَۃِ اَنۡ یُّؤۡتُوۡۤا اُولِی الۡقُرۡبٰی وَ الۡمَسٰکِیۡنَ وَ الۡمُہٰجِرِیۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ۪ۖ وَ لۡیَعۡفُوۡا وَ لۡیَصۡفَحُوۡا ؕ اَلَا تُحِبُّوۡنَ اَنۡ یَّغۡفِرَ اللّٰہُ لَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ
Walaa ya’tali uuluul fadhli minkum wassa’ati an yu’tuu uuliil qurba wal masaakiina wal muhaajiriina fii sabiilillahi walya’fuu walyashfahuu alaa tuhibbuuna an yaghfirallahu lakum wallahu ghafuurun rahiimun;

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.
Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?
Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,
―QS. 24:22
Topik ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
24:22, 24 22, 24-22, An Nuur 22, AnNuur 22, An Nur 22, An-Nur 22
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nuur (24) : 22. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala menerangkan bahwa orang-orang yang percaya kepada Allah, janganlah mereka itu bersumpah untuk tidak mau memberikan bantuan kepada karib kerabatnya yang memerlukan bantuan seperti misalnya Mistah anak dari saudara perempuan Ibu Abu Bakar ra.
Padahal ia seorang fakir miskin, berhijrah dari Mekah ke Madinah yang turut bersama Rasulullah ﷺ, memperkuat pasukan kaum Muslimin di Perang Badar.

Diriwayatkan bahwa ayat ini diturunkan dun ditujukan kepada Abu Bakar r.a.
ketika ia bersumpah untuk tidak memberi bantuan apapun sepanjang masa kepada Mistah bin Usasah anak saudara perempuan ibunya karena Mistah itu adalah salah seorang pelaku utama secara aktif di dalam peristiwa yang dikenal dengan "Hadisul ifki".

Oleh karena itu, sesudah turun wahyu yang menunjukkan atas kebersihan Siti 'Aisyah dari hal yang dituduhkan kepadanya, dan setelah Allah subhanahu wa ta'ala mengampuni orang-orang yang semestinya diampuni serta diberi hukuman had kepada orang-orang yang semestinya menerima yang demikian itu, maka Abu Bakar r.a, kembali ramah dan berbuat baik serta memberi bantuan kepada kerabatnya yaitu Mistah.
Mistah adalah sepupunya, anak dari saudara penempuan ibunya.
Orang-orang mukmin hendaklah memaafkan dan berlapang dada kepada segenap oknum yang terlibat atau dilibatkan di dalam peristiwa hadisul ifki.
Apakah mereka tidak ingin diampuni oleh Allah subhanahu wa ta'ala sebagaimana mereka mengampuni dan memaafkan orang-orang yang berbuat salah kepada-Nya, begitu pula Allah subhanahu wa ta'ala akan mengampuni dan memaafkan mereka itu dari dosa dan maksiat yang diperbuatnya.
Allah subhanahu wa ta'ala Maha Pengampun, mengampuni dosa orang-orang yang taat dan menuruti perintah-Nya, Maha Penyayang kepada hamba-Nya dan tidak akan mengazab dosa yang telah diperbuat mereka, asal mereka itu bertobat, taubatan nasuha dari dosa mereka itu.

An Nuur (24) ayat 22 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nuur (24) ayat 22 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nuur (24) ayat 22 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang yang saleh dan memiliki kekayaan di antara kalian hendaknya tidak bersumpah untuk tidak memberikan derma kepada kerabat, orang miskin, orang yang berada di jalan Allah dan orang yang berhak menerima infak lainnya, hanya karena alasan-alasan yang bersifat pribadi seperti dengan sengaja menyakiti mereka.
Sebaliknya, mereka hendaknya memaafkan dan tidak membalas perbuatan mereka.
Apabila kalian ingin agar Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kalian, maka bersikaplah kepada orang yang berbuat tidak baik kepada kalian seperti sikap Allah kepada kalian.
Berbudi luhurlah dengan budi luhur Allah, karena Dia Maha Pengampun lagi Maha Pengasih[1].

[1] Ayat ini diturunkan ketika Abu Bakr al-Shiddiq bersumpah untuk tidak memberikan bantuan kepada kerabatnya yang bernama Masthah ibn Utsatsah, karena ia terlibat dalam kasus tuduhan bohong (hadits al-ifk) terhadap 'A'isyah r.
a.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan janganlah bersumpah orang-orang yang mempunyai kelebihan) yaitu orang-orang kaya (dan kelapangan di antara kalian, bahwa mereka) tidak (akan memberi bantuan kepada kaum kerabatnya, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah) ayat ini diturunkan berkenaan dengan sahabat Abu Bakar r.
a, ia bersumpah tidak akan memberikan nafkah lagi kepada Misthah saudara sepupunya yang miskin lagi seorang Muhajir, padahal Misthah adalah sahabat yang ikut dalam perang Badar.
Misthah terlibat dalam peristiwa berita bohong ini, maka sahabat Abu Bakar menghentikan nafkah yang biasa ia berikan kepadanya.
Para sahabat lainnya telah bersumpah pula, bahwa mereka juga tidak akan memberikan nafkah lagi kepada seorang yang terlibat membicarakan masalah berita bohong tersebut (dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada) terhadap mereka yang terlibat, dengan mengembalikan keadaan seperti semula.
(Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian?
Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) terhadap orang-orang yang beriman.
Sahabat Abu Bakar r.a.
berkata sesudah turunnya ayat ini, "Tentu saja, aku menginginkan supaya Allah mengampuni aku",
lalu ia memberikan lagi bantuannya kepada Misthah sebagaimana biasanya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan di dalam agama dan kelapangan rizki di antara kalian bersumpah bahwa mereka tidak akan menyambung silaturrahim dengan kerabatnya yang fakir, dan terhadap orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Yakni orang-orang yang tidak memiliki sesuatu untuk menutupi dan memenuhi kebutuhan mereka dan terhadap orang-orang yang hijrah di jalan Allah dengan tidak memberikan bantuan kepada mereka karena dosa yang telah mereka lakukan.
Hendaknya mereka memaafkan keburukan mereka dan tidak menghukum mereka.
Apakah kalian tidak menginginkan jika Allah mengampuni kalian??
Maka hendaknya mereka memaafkannya.
Allah adalah Dzat yang Maha Pengampun kepada para hamba-Nya lagi Maha Pengasih kepada mereka.
Dalam ayat ini terdapat anjuran untuk memaafkan dan berlapang dada meskipun dibalas dengan keburukan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala yang menyebutkan:

Dan janganlah bersumpah.
(An Nuur:22)

Berasal dari kata ilyah yang artinya sama dengan al-hilf maksudnya 'janganlah bersumpah'.

orang-orang yang mempunyai kelebihan di antara kalian.
(An Nuur:22)

Yang dimaksud dengan kelebihan ialah kelebihan harta, rajin bersedekah, dan berbuat kebajikan.

dan kelapangan.
(An Nuur:22)

Yaitu kesejahteraan.

untuk tidak akan memberikan bantuan kepada kaum kerabat(nya), orang-orang miskin, dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah.
(An Nuur:22)

Yakni janganlah kalian bersumpah bahwa kalian tidak akan bersilaturahmi lagi dengan kaum kerabat kalian, orang-orang miskin, dan kaum Muhaj irin.
Yaitu tidak akan lagi memberikan bantuan kepada mereka.
Ayat ini mengandung anjuran yang sangat untuk berbelaskasihan dan lemah lembut terhadap kaum kerabat dalam rangka bersilaturahmi kepada mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.
(An Nuur:22)

terhadap keburukan dan sikap menyakitkan mereka di masa lalu.
Hal ini termasuk sifat Penyantun Allah subhanahu wa ta'ala, Kemuliaan, dan Kelembutan-Nya kepada makhluk-Nya, padahal mereka berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri.

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan sahabat Abu Bakar As-Siddiq r.a.
ketika ia bersumpah bahwa dia tidak akan memberikan bantuannya lagi kepada Mistah ibnu Asasah untuk selamanya.
Hal ini terjadi setelah Mistah mengatakan hal-hal yang buruk terhadap putrinya (yaitu Siti Aisyah r.a.) seperti yang telah disebutkan di atas.

Setelah Allah menurunkan wahyu yang membersihkan diri Siti Aisyah Ummul Mu’minin sehingga hati Siti Aisyah senang dan tenteram, dan Allah menerima tobat orang-orang yang membicarakan berita bohong itu dari kalangan kaum mukmin, lalu ditegakkan hukum had kepada sebagian dari mereka yang berhak menerimanya.
Maka Khitab Allah beralih kepada sahabat Abu Bakar As-Siddiq yang memerintahkan kepadanya agar berbelas kasih kepada kerabatnya, yaitu Mistah ibnu Asasah.
Mistah ibnu Asasah adalah anak bibi sahabat Abu Bakar, yang berarti sepupu dia.
Mistah adalah orang yang miskin, tidak berharta kecuali apa yang ia terima dari uluran bantuan sahabat Abu Bakar r.a.
Mistah termasuk salah seorang dari kaum Muhajirin yang berjihad di jalan Allah.
Tetapi ia terpeleset dan melakukan suatu kesalahan, kemudian Allah menerima tobatnya, dan telah menjalani hukuman had yang harus diterimanya akibat kesalahannya itu.

Sahabat Abu Bakar adalah seorang yang bijak lagi dermawan.
Ia suka berderma dan memberikan bantuannya, baik kepada kerabatnya sendiri maupun orang lain.
Ketika ayat ini diturunkan hingga firman-Nya:

Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian?
(An Nuur:22), hingga akhir ayat.

Karena sesungguhnya setiap amal perbuatan itu mendapat balasan sesuai dengan jenis amal perbuatannya, sebagaimana engkau mengampuni dosa orang yang berdosa kepadamu, maka Allah mengampuni pula dosa-dosamu.
Dan sebagaimana kamu memaaf, maka Allah pun memaafmu pula.
Maka pada saat itu juga Abu Bakar berkata, "Benar, demi Allah, sesungguhnya kami suka bila Engkau memberikan ampunan kepada kami, wahai Tuhan kami."

Kemudian Abu Bakar kembali memberikan nafkah bantuannya kepada Mistah seperti biasanya.
Untuk itu Abu Bakar berkata, "Demi Allah, aku tidak akan mencabutnya selama-lamanya." Perkataannya kali ini untuk mengimbangi apa yang telah dikatakannya sebelum itu, yakni ucapannya," Demi Allah, aku tidak akan memberinya bantuan lagi barang sedikit pun, selamanya." Karena itulah maka sahabat Abu Bakar sesuai dengan nama julukannya, yaitu As-Siddiq, semoga Allah melimpahkan rida kepadanya, juga kepada putrinya.

Informasi Surah An Nuur (النور)
Surat An Nuur terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah.

Dinamai "An Nuur" yang berarti "Cahaya",
diambil dari kata An Nuur yang terdapat pada ayat 35.
Dalam ayat ini, Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan tentang Nuur Ilahi, ya'ni Al Qur'an yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam se­mesta.

Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk-petunjuk Allah yang berhubungan de­ngan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Keimanan:

Kesaksian lidah dan anggota-anggota tubuh atas segala perbuatan manusia pada hari kiamat
hanya Allah yang menguasai langit dan bumi
kewajiban rasul hanya­lah menyampaikan agama Allah
iman rnerupakan dasar daripada diterimanya amal ibadah.

Hukum:

Hukum-hukum sekitar masalah zina, li'an dan adab-adab pergaulan diluar dan di dalam rumah tangga.

Kisah:

Cerita tentang berita bohong terhadap Ummul Mu'minin 'Aisyah r.a. (Qishshatul lfki).

Lain-lain:

Semua jenis hewan diciptakan Allah dari air
janji Allah kepada kaum muslimin yang beramal saleh.


Gambar Kutipan Surah An Nuur Ayat 22 *beta

Surah An Nuur Ayat 22



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nuur

Surah An-Nur (Arab: النّور‎) adalah surah ke-24 dari al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 64 ayat, dan termasuk golongan surah Madaniyah.
Dinamai An-Nur yang berarti Cahaya yang diambil dari kata An-Nur yang terdapat pada ayat ke 35.
Dalam ayat ini, Allah s.w.t.
menjelaskan tentang Nur Ilahi, yakni Al-Quran yang mengandung petunjuk-petunjuk.
Petunjuk-petunjuk Allah itu, merupakan cahaya yang terang benderang menerangi alam semesta.
Surat ini sebagian besar isinya memuat petunjuk- petunjuk Allah yang berhubungan dengan soal kemasyarakatan dan rumah tangga.

Nomor Surah 24
Nama Surah An Nuur
Arab النور
Arti Cahaya
Nama lain -
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 102
Juz Juz 18
Jumlah ruku' 9 ruku'
Jumlah ayat 64
Jumlah kata 1381
Jumlah huruf 5755
Surah sebelumnya Surah Al-Mu’minun
Surah selanjutnya Surah Al-Furqan
4.8
Rating Pembaca: 4.6 (20 votes)
Sending







✔ penjelasan surah an nur aya 22

Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku