QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 99 [QS. 4:99]

فَاُولٰٓئِکَ عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّعۡفُوَ عَنۡہُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَفُوًّا غَفُوۡرًا
Fa-uula-ika ‘asallahu an ya’fuwa ‘anhum wakaanallahu ‘afuu-wan ghafuuran;

mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya.
Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
―QS. 4:99
Topik ▪ Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan
4:99, 4 99, 4-99, An Nisaa’ 99, AnNisaa 99, AnNisa 99, An-Nisa’ 99

Tafsir surah An Nisaa' (4) ayat 99

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 99. Oleh Kementrian Agama RI

Allah akan memaafkan mereka karena mereka benar-benar tidak mampu menunaikan hijrah.
Tetapi bilamana kemampuan dan kesempatan itu sudah ada segeralah berhijrah.
Karena hijrah dari bumi Mekah yang musyrik itu suatu kaharusan.
Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf terhadap segala macam dosa hambanya yang dilakukan karena keadaan terpaksa dan alasan-alasan yang benar.
Allah tidak akan menjatuhkan hukuman kepada mereka.
Allah Maha Pengampun terhadap kesalahan mereka dan tidak akan menampakkan kesalahan itu kelak.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Mereka, mudah-mudahan, akan memperoleh ampunan.
Allah memang sungguh Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka mereka ini, moga-moga Allah memaafkan mereka dan Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang lemah tersebut diharapkan Allah berkenan untuk memaafkan mereka, karena Dia mengetahui hakikat urusan mereka.
Allah banyak memaafkan, mengampuni kesalahan-kesalahan mereka dan menutupinya atas mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Yahya, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ sedang melakukan salat Isya dan sesudah membaca: Semoga Allah memperkenankan orang yang memuji-Nya.
Tiba-tiba beliau mengucapkan doa berikut sebelum sujud, yaitu: Ya Allah, selamatkanlah Ayyasy ibnu Abu Rabi’ah.
Ya Allah, selamatkanlah Salamah ibnu Hisyam.
Ya Allah, selamatkanlah Al-Walid ibnul Walid.
Ya Allah, selamatkanlah orang-orang yang tertindas dari kalangan kaum mukmin (di Mekah).
Ya Allah, keraskanlah pembalasan-Mu terhadap Mudar.
Ya Allah, jadikanlah kepada mereka (timpakanlah kepada mereka) musim paceklik sebagaimana musim paceklik Nabi Yusuf.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Ma’mar Al-Muqri, telah menceritakan kepadaku Abdul Waris, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Zaid, dari Sa’id ibnul Musayyab, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ mengangkat tangannya sesudah salam dari salatnya seraya menghadap ke arah kiblat, lalu berdoa: Ya Allah, selamatkanlah Al-Walid ibnul Walid, Ayyasy ibnu Abu Rabi’ah, Salamah ibnu Hisyam, dan orang-orang yang tertindas dari kaum muslim yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan hijrah dari tangan orang-orang kafir.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Musanna, telah menceritakan kepada kami Hajaj, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Ali ibnu Zaid, dari Abdullah atau Ibrahim ibnu Abdullah Al-Qurasyi, dari Abu Hurairah, bahwa dahulu Rasulullah ﷺ acapkali membaca doa berikut sesudah salat Lohor, yaitu: Ya Allah, selamatkanlah Al-Walid, Salamah ibnu Hisyam, Ayyasy ibnu Abu Rabi’ah, dan orang-orang muslim yang tertindas dari tangan kekuasaan orang-orang musyrik.
Mereka yang tertindas itu tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan untuk hijrah.

Hadis ini mempunyai syahid (bukti) yang memperkuatnya di dalam kitab sahih yang diriwayatkan melalui jalur lain, seperti yang disebutkan di atas.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami ibnu Uyaynah, dari Ubaidillah ibnu Abu Yazid yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ibnu Abbas mengatakan, “Aku dan ibuku termasuk orang-orang yang tertindas dari kalangan kaum wanita dan anak-anak.”

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abun Nu’man, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Zaid.
dari Ayyub ibnu Abu Mulaikah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: kecuali mereka yang tertindas.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 98) Ibnu Abbas mengatakan, “Aku dan ibuku termasuk orang-orang yang dimaafkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.”


Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nisaa' (4) ayat 99 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nisaa' (4) ayat 99 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nisaa' (4) ayat 99 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nisaa' - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 176 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 4:99
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa'.

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah 4
Nama Surah An Nisaa'
Arab النّساء
Arti Wanita
Nama lain Al-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 92
Juz Juz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 176
Jumlah kata 3764
Jumlah huruf 16327
Surah sebelumnya Surah Ali 'Imran
Surah selanjutnya Surah Al-Ma'idah
4.7
Ratingmu: 4.9 (11 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/4-99









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Masukan & saran kirim ke email:
[email protected]

Made with in Yogyakarta