Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 97


اِنَّ الَّذِیۡنَ تَوَفّٰہُمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ ظَالِمِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ قَالُوۡا فِیۡمَ کُنۡتُمۡ ؕ قَالُوۡا کُنَّا مُسۡتَضۡعَفِیۡنَ فِی الۡاَرۡضِ ؕ قَالُوۡۤا اَلَمۡ تَکُنۡ اَرۡضُ اللّٰہِ وَاسِعَۃً فَتُہَاجِرُوۡا فِیۡہَا ؕ فَاُولٰٓئِکَ مَاۡوٰىہُمۡ جَہَنَّمُ ؕ وَ سَآءَتۡ مَصِیۡرًا
Innal-ladziina tawaffaahumul malaa-ikatu zhaalimii anfusihim qaaluuu fiima kuntum qaaluuu kunnaa mustadh’afiina fiil ardhi qaaluuu alam takun ardhullahi waasi’atan fatuhaajiruu fiihaa fa-uula-ika ma’waahum jahannamu wasaa-at mashiiran;

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya:
“Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”.
Mereka menjawab:
“Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”.
Para malaikat berkata:
“Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”.
Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,
―QS. 4:97
Topik ▪ Neraka ▪ Nama-nama neraka ▪ Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka
4:97, 4 97, 4-97, An Nisaa’ 97, AnNisaa 97, AnNisa 97, An-Nisa’ 97
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 97. Oleh Kementrian Agama RI

Ada segolongan Muslimin yang tetap tinggal di Mekah.
Mereka menyembunyikan keislaman mereka dari penduduk Mekah dan mereka tidak ikut berhijrah ke Medinah, padahal mereka mempunyai kesanggupan untuk melakukan hijrah.
Mereka merasa senang tinggal di Mekah, walaupun mereka tidak mempunyai kebebasan mengerjakan ajaran agama dan membinanya.
Allah menyatakan mereka sebagai orang yang menganiaya diri sendiri.
Sewaktu Perang Badar terjadi, mereka dipaksa ikut berperang oleh orang musyrikin menghadapi Rasulullah ﷺ Dalam peperangan ini sebagian mereka mati terbunuh.
Sesudah mereka mati malaikat mencela mereka, karena mereka tidak berbuat suatu apa pun dalam urusan agama mereka (Islam), seperti tidak dapat mengerjakan ajaran-ajaran agama.
Mereka menjawab dengan mengajukan alasan bahwa mereka tidak melaksanakan ajaran agama, disebabkan tekanan dari orang-orang musyrik Mekah, sehingga banyak kewajiban agama yang mereka tinggalkan.
Para malaikat menolak alasan mereka.
Kalau benar-benar mereka ingin mengerjakan ajaran agama, tentu mereka meninggalkan Mekah dan hijrah ke Medinah.
Bukankah bumi Allah ini luas.
Kenapa mereka senang tetap tinggal di Mekah, tidak mau hijrah?
Padahal mereka mempunyai kemampuan dan kesempatan untuk hijrah itu?
Mereka tidak pindah ke tempat yang baru di mana mereka akan memperoleh kebebasan dalam mengerjakan ajaran agama dan memperoleh ketenteraman dan kemerdekaan.
Oleh karena itu mereka mengalami nasib yang buruk.
Mereka dilemparkan ke dalam neraka Jahanam yakni tempat yang paling buruk.
Secara umum setiap Muslim wajib hijrah dari negeri orang kafir bilamana di negeri tersebut tidak ada jaminan kebebasan melakukan kewajiban agama dan memelihara agama.
Tetapi bilamana ada jaminan kebebasan beragama di negeri itu serta kebebasan membina pendidikan agama bagi dirinya dan keluarganya, maka ia tidak diwajibkan hijrah.

An Nisaa' (4) ayat 97 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 97 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 97 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Seorang Muslim berkewajiban untuk hijrah ke wilayah Islam demi menghindari hidup dalam kehinaan.
Kepada mereka yang tidak berhijrah, malaikat akan bertanya, “Dalam keadaan bagaimana kalian ini, hingga rela hidup tercela dan hina?”
Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang tertindas di muka bumi dan orang-orang lain telah menghinakan kami.” Malaikat bertanya lagi, “Bukankah bumi Allah sangat luas sehingga kalian dapat berhijrah ke berbagai tempat dan tidak lagi hidup dalam keadaan hina dan tercela?”
Orang-orang yang rela hidup dalam keadaan hina, sedangkan mereka mampu untuk berhijrah, tempat kembalinya adalah neraka Jahanam.
Dan Jahanam adalah seburuk-buruk tempat kembali.
Orang Muslim harus hidup mulia dan tidak terhina.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri) maksudnya orang-orang yang tinggal bersama orang kafir di Mekah dan tidak hendak hijrah (malaikat bertanya) kepada mereka sambil mencela (“Kenapa kamu ini?”
artinya bagaimana sebenarnya pendirianmu terhadap agamamu ini?
(Ujar mereka) mengajukan alasan (“Kami ini orang-orang yang ditindas) artinya lemah sehingga tidak mampu menegakkan agama (di muka bumi”) artinya di negeri Mekah (Kata mereka) pula sambil mencela (“Bukankah bumi Allah luas hingga kamu dapat berhijrah padanya?”) yakni dari bumi kaum kafir ke negeri lain sebagaimana dilakukan orang lain?
Firman Allah subhanahu wa ta’ala (“Mereka itu, tempat mereka ialah neraka Jahanam dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan oleh para malaikat sedangkan mereka menzhalimi diri mereka, dengan tetap tinggal di negeri kafir dan menolak berhijrah, para malaikat berkata mencela mereka :
Dimana posisi kalian terhadap perintah agama kalian?
Mereka menjawab :
Kami adalah orang-orang lemah di negeri kami, kami tidak mampu menolak kezhaliman dan pemaksaan atas kami.
Maka malaikat mencela mereka :
Bukankah bumi Allah itu luas?
Lalu mengapa kalian tidak mau meninggalkan negeri kalian ke negeri lainnya dimana kalian bisa aman dengan agama kalian?
Tempat kembali mereka adalah neraka, tempat kembali yang sangat buruk.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Yazid Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Haiwah dan lainnya, keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahman Abul Aswad yang menceritakan, “Telah diputuskan untuk mengirimkan suatu pasukan terhadap penduduk Madinah, lalu aku mendaftarkan diri pada pasukan itu.
Aku bersua dengan Ikrimah maula Ibnu Abbas, lalu aku ceritakan hal tersebut kepadanya.
Dia melarangku melakukan hal tersebut dengan larangan yang keras.
Lalu ia berkata, ‘Telah menceritakan kepadaku Ibnu Abbas, bahwa dahulu ada sejumlah kaum muslim bersama-sama kaum musyrik memperkuat pasukan mereka di masa Rasulullah ﷺ Maka ada anak panah yang meluncur dan mengenai seseorang dari kaum muslim yang bergabung dengan pasukan kaum musyrik itu, lalu ia mati terbunuh, atau terpukul lehernya oleh pedang hingga mati.’ Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan firman-Nya:

‘Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri’

Al-Lais meriwayatkannya melalui Abul Aswad.

Ibnu Abu Hatim mengatakan.
telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Mansur Ar-Ramadi.
telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad (yakni Az-Zubairi).
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Syarik Al-Makki.
telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Dinar dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa dahulu ada suatu kaum dari kalangan penduduk Mekah.
mereka menyembunyikan keislamannva.
Tetapi kaum musyrik memaksa mereka berangkat berperang dalam Perang Badar bersama-sama mereka, lalu ada sebagian dari mereka yang gugur.
Maka orang-orang muslim berkata.
“Mereka yang gugur di antaranya terdapat sahabat-sahabat kita, yaitu kaum muslim, mereka dipaksa mengikuti perang.” Akhirnya mereka memintakan ampun buat mereka yang gugur.
Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri., hingga akhir ayat.
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, “Lalu dikirimkan surat kepada orang-orang muslim yang tersisa berisikan ayat ini, dan dikatakan kepada mereka bahwa tiada uzur yang dapat diterima dari mereka.” Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, “Kemudian kaum muslim yang tersisa (di Mekah) itu keluar, tetapi mereka dikejar oleh kaum musyrik, lalu kaum musyrik memberi mereka perlindungan.
Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: ‘Di antara manusia ada yang mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah’ (Al Baqarah:8), hingga akhir ayat.”

Ikrimah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan sejumlah pemuda dari kalangan kabilah Quraisy yang mengakui dirinya telah masuk Islam di Mekah, antara lain ialah Ali ibnu Umayyah ibnu Khalaf, Abu Qais ibnul Walid ibnul Mugirah, Abu Mansur ibnul Hajjaj, dan Al-Haris ibnu Zam’ah.

Ad-Dahhak mengatakan, ayat ini diturunkan berkenaan dengan sejumlah orang dari kaum munafik yang tidak ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ di Mekah, tetapi mereka keluar bersama-sama pasukan kaum musyrik dan memihak kepada mereka dalam Perang Badar, lalu di antara mereka ada yang mati dalam peperangan tersebut.
Maka turunlah ayat yang mulia ini, yang maknanya umum mencakup semua orang yang bermukim di tengah-tengah kaum musyrik, padahal mereka mampu melakukan hijrah, namun mereka tidak dapat menegakkan agamanya, maka dia adalah orang yang aniaya kepada dirinya sendiri dan dinilai sebagai orang yang berbuat dosa besar menurut kesepakatan umat dan menurut nas ayat ini, karena Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri.
Yakni karena ia tidak mau berhijrah ke Madinah.
(kepada mereka) malaikat berkata, “Dalam keadaan bagaimanakah kalian ini?”
Dengan kata lain, mengapa kalian tinggal di Mekah dan tidak mau hijrah ke Madinah?
Mereka menjawab, “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah) ini.” Maksudnya, kami tidak mampu keluar meninggalkan negeri ini, tidak mampu pula bepergian keluar meninggalkannya.
Para malaikat berkata, “Bukankah bumi Allah itu luas?”,
hingga akhir ayat.

Imam Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Daud ibnu Sufyan, telah menceritakan kepadaku Yahya ibnu Hissan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Musa (yaitu Abu Daud), telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Sa’d ibnu Samurah ibnu Yazid, telah menceritakan kepadaku Habib ibnu Sulaiman, dari ayahnya, dari Sulaiman ibnu Samurah, dari Samurah ibnu Jundub.
Amma Ba’du, Rasulullah ﷺ telah bersabda: Barang siapa yang bergabung dengan orang musyrik dan tinggal bersamanya, maka sesungguhnya ia sama dengannya.

As-Saddi mengatakan, “Tatkala Al-Abbas, Uqail, dan Naufal ditawan, maka Rasulullah ﷺ berkata kepada Al-Abbas: ‘Tebuslah dirimu dan anak saudaramu!’ Al-Abbas berkata, ‘Wahai Rasulullah, bukankah kami salat menghadap ke kiblatmu dan mengucapkan syahadatmu?’ Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Hai Abbas, sesungguhnya kalian melawan, maka kalian dilawan.’ Kemudian Rasulullah ﷺ membacakan kepadanya ayat ini, yaitu firman-Nya: ‘Bukankah bumi Allah itu luas?’, hingga akhir ayat.”

Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah An Nisaa' (4) ayat 97
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid Al Muqri Telah menceritakan kepada kami Haiwah dan yang lainnya, keduanya berkata,
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdur Rahman Abu Al Aswad berkata,
dia berkata,
Penduduk Kufah dipaksa untuk mengirim pasukannya memerangi penduduk Syam dan aku disuruh untuk memimpin mereka. Lalu aku bertemu dengan Ikrimah -mantan budak dari- Ibnu Abbas maka aku mengabarkan hal itu kepadanya, namun ia sangat melarangku untuk melalukan hal itu. Ia berkata,
Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abbas bahwa sejumlah kaum muslimin pernah bersama orang-orang Musyrikin hingga menambah jumlah mereka. Lalu anak panah datang dan dilepaskan hingga mengenai salah seorang dari mereka (orang-orang muslim yang berada di tengah-tengah kaum musyrikin) dan membunuhnya atau ditebas hingga terbunuh. Kemudian turunlah ayat: Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri. (An Nisa: 97). diriwayatkan oleh Al Laits dari Abul Aswad.

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4230

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 97

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa di antara pasukan musyrikin terdapat kaum Muslimin Mekah (yang masih lemah imannya), yang turut berperang menentang Rasulullah ﷺ.
Diantara mereka ada yang terbunuh dengan panah atau pedang pasukan Rasulullah.
Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 97) sebagai penjelasan hukum bagi kaum Muslimin yang lemah imannya, yang menganiaya dirinya (mampu membela Islam tetapi tidak melakukannya).

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih, bahwa nama orang-orang yang menambah jumlah pasukan musyrikin itu antara lain: Qais bin al-Walid bin al-Mughirah, Abu Qais bin al-Faqih bin al-Mughirah, al-Walid bin Rabi’ah, ‘Amr bin Umayyah bin Sufyan, dan ‘Ali bin Umayyah bin Khalaf.
Selanjutnnya dikemukakan bahwa peristiwanya terjadi pada Perang Badr, di saatg mereka melihat jumlah kaum Muslimin sangat sedikit.
Timbul rasa ragu-ragu pada mereka dan berkata: “Mereka tertipu oleh agamanya.” Orang-orang tersebut akhirnya mati terbunuh dalam Perang Badr itu.

Keterangan: menurut Ibnu Abi Hatim, di antara orang-orang yang disebut dalam hadits di atas, termasuk juga al-Harits bin Zam’ah bin al-Aswad dan al-‘Ash bin Munabbih bin al-Hajj.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ada segolongan orang Mekah masuk Islam.
Namun ketika Rasulullah hijrah, mereka enggan ikut dan takut hijrah.
Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 97-98) sebagai ancaman hukuman bagi orang-orang yang enggan memisahkan diri dari kaum yang memusuhi agama, kecuali kalau mereka itu tidak berdaya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari berbagai sumber, bahwa ada segolongan orang Mekah yang telah masuk Islam, tetapi menyembunyikan keislamannya.
Pada waktu perang Badr, mereka dipaksa menyertai kaum Quraisy untuk berperang melawan Rasulullah sehingga banyak yang mati terbunuh.
Berkatalah kaum kaum Muslimin Madinah: “Mereka itu adalah orang-orang Islam yang dipaksa untuk berperang (melawan Rasulullah).
Hendaklah kalian memintakan ampun bagi mereka.” Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 97).
Kemudian mereka menulis surat kepada kaum Muslimin yang masih ada di Mekah dengan ayat tadi, dan (dikatakan kepada mereka bahwa) tidak ada lagi alasan untuk tidak hijrah.
Kemudian mereka hijrah ke Madinah, tetapi masih dikejar dan dianiaya oleh kaum musyrikin.
Akhirnya mereka terpaksa kembali ke Mekah.
Maka turunlah surah al-‘Ankabut ayat 10 berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai teguran terhadap keluhan mereka, yang menganggap siksaan yang dialaminya sebagai azab dari Allah.

Ayat inipun (al-Ankabut: 10) dikirim lagi kepada kaum Muslimin Mekah.
Mereka merasa sedih.
Maka turunlah surah an-Nahl ayat 110, sebagai janji Allah untuk melindungi orang yang hijrah dan bersabar.
Ayat ini (an-Nahl: 110) dikirim pula pada kaum Muslimin Mekah.
Maka merekapun berhijrah ke Madinah dan tidak luput dari kejaran kaum musyrikin, di antaranya ada yang selamat, tapi ada juga yang gugur.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa' (4) Ayat 97

ARDH
أَرْض

Ardh adalah lafaz mufrad dan mu’annats, maknya adalah aradhun, urudh, dan aradhi, maknanya ialah bola bumi yang bergerak yang manusia berada di atasnya yaitu salah satu planet yang ada dan urutannya ketiga pada porosnya yang mengelilingi matahari dan planet yang didiami manusia. Ia juga lawan lautan yaitu tanah atau daratan. Apabila dikatakan ibn al-ardh artinya anak yang tidak diketahui bapak dan ibunya. Apabila disandarkan kepada sesuatu atau sandal artinya di bawahnya.

Lafaz ardh disebut sebanyak 130 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah
-Al­ Baqarah (2), ayat 11, 22, 27, 29, 30, 33, 36, 60, 61, 71, 107, 116, 117, 164, 164, 164, 168, 205, 251, 255, 255, 267, 273, 284;
-Ali Imran (3), ayat 5, 29, 83, 91, 109, 129, 133, 137, 156, 180, 189, 190, 191;
-An Nisaa (4), ayat 42, 97, 97, 100, 101, 126, 131, 131, 132, 170, 171;
-Al­ Maa’idah (5), ayat 17, 18, 21, 26, 31, 32, 32, 33, 33, 36, 40, 64, 97, 106, 120;
-Al An’aam (6), ayat 1, 3, 6, 11, 12, 14, 35, 38, 59, 71, 75, 101, 116, 165, 73, 79;
-Al A’raaf (7), ayat 10, 24, 54, 56, 73, 74, 74, 85, 96, 100, 110, 127, 128, 129, 137, 146, 158, 164, 176, 185, 187;
-Al Anfaal (8), ayat 26, 63, 67, 73;
-At Taubah (9), ayat 2, 25, 36, 38, 74, 116, 188;
-Yunus (10), ayat 3, 6, 14, 18, 23, 24,24,31, 54, 55, 61, 66, 78, 83, 99, 101;
-Hud (11), ayat6, 7, 20, 44, 61, 64, 85, 107, 108,116, 123;
-Yusuf(l2), ayat 9, 21, 55, 56, 73, 80, 101, 105, 109;
-Ar Ra’d (13), ayat 3, 4, 15, 16, 17, 18, 25, 31, 33, 41;
-Ibrahim (14), ayat 2, 8, 10, 13, 14, 19, 26, 32, 38, 48, 48;
-Al Hijr (15), ayat 19, 39, 85;
-An Nahl (16), ayat 3, 13, 15, 36, 45, 49, 52, 65, 73, 77;
-Al Israa (17), ayat 4, 37, 37, 44, 55, 76, 90, 95, 99, 102, 103, 104;
-Al Kahfi (18), ayat 7, 14, 26, 45, 47, 51, 84, 94;
-Maryam (19), ayat 40, 65, 90, 93;
-Tha Ha (20), ayat 4, 6, 53, 57, 63;
-Al Anbiyaa (21), ayat 4, 16, 19, 21, 30, 31, 44, 56, 71, 81, 105;
-Al Hajj (22), ayat 5, 18, 41, 46, 63, 64, 65, 65, 70;
-Al Mu’minuun (23), ayat 18, 71, 79, 84, 112;
-An Nuur (24), ayat 35, 41, 42, 55, 57, 64;
-Al Furqaan (25), ayat 2, 6, 59, 63;
-Asy Syu’araa (26), ayat 7, 24, 35, 152, 183;
-An Naml (27), ayat 25, 48, 60, 61, 62, 64, 65, 69, 75, 82, 87;
-Al Qashash (28), ayat 4, 5, 6, 19, 39, 57, 77, 81, 83;
-Al ‘Ankaabut (29), ayat 20, 22, 36, 39, 40, 44, 52, 56, 61, 63;
-Ar Rum (30), ayat 3, 8, 9, 18, 19, 22, 24, 25, 25, 26, 27, 42, 50;
-Luqman (31), ayat 10, 16, 18, 20, 25, 26, 27, 34;
-As Sajadah (32), ayat 4, 5, 10, 27;
-Al­ Ahzab (33), ayat 27, 27, 72;
-Saba (34), ayat 1, 2, 3, 9, 9, 14, 22, 24;
-Faathir (35), ayat 1, 3, 9, 38, 39, 40, 43, 44, 44;
-Yaa Siin (36), ayat 33, 36, 81;
-Ash Shaffaat (37), ayat 5;
-Shad (38), ayat 10, 26, 27, 28, 66;
-Az Zumar (39), ayat 5, 10, 21, 38, 44, 46, 47, 63, 67, 69, 74;
-Al Mu’min (40), ayat 21, 21, 26, 29, 57, 64, 68, 75, 82, 82;
-Fussilat (41), ayat 9, 11, 15, 39;
-Asy Syura (42), ayat 4, 5, 11, 12, 27, 29, 31, 42, 49, 53;
-Az Zukhruuf (43), ayat 9, 10, 60, 82, 84, 85;
-Ad Dukhaan (44), ayat 7, 29, 38;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 3, 5, 13, 22, 27, 36, 37;
-Al Ahqaaf (46), ayat 3, 4, 20, 32, 33;
-Muhammad (47), ayat 4, 7, 14;
-Al Hujurat (49), ayat 16, 18;
-Qaf (50), ayat 4, 38, 44, 50;
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 20, 23, 48;
-Ath Thuur (52), ayat 36;
-An Najm (53), ayat 31, 32;
-Al Qamar (54), ayat 12;
-Ar Rahman (55), ayat 10, 29, 33;
-Al Waqi’ah (56), ayat 4;
-Al Hadid (57), ayat 1, 2, 4, 5, 10, 21, 22, 17;
-Al Mujadalah (58), ayat 7;
-Al Hasyr (59), ayat 1, 24;
-Ash Shaff (61), ayat 1;
-Al Jumu’ah (62), ayat 1, 10;
-Al Munaafiquun (63), ayat 7;
-At Taghaabun (64), ayat 1, 3, 4;
-Ath­ Thalaaq (65), ayat 12;
-Al Mulk (67), ayat 15, 16, 24;
-Al Haaqqah (69), ayat 14;
-Al Ma’arij (70), ayat 14;
-Nuh (71), ayat 9, 17, 26;
-Al Jinn (72), ayat 10, 12;
-Al Muzzammil (73), ayat 14, 20;
-Al Mursalat (77), ayat 25;
-An Naba’ (78), ayat 6, 37;
-An Naazi’at (79), ayat 30;
-‘Abasa (80), ayat 26;
-Al Insyiqaaq (84), ayat 3;
-Al Buruuj (85), ayat 9;
-Ath Thaariq (86) ayat 12;
-Al Ghaasyiyah (88), ayat 20;
-Al Fajr (89), ayat 21;
-Asy Syams (91), ayat 6;
-Al Zalzalah (99), ayat 1, 2.

Dalam Al Qur’an, lafaz ardh mempunyai enam makna.

Pertama, bermakna bumi Palestina, Damsyik dan sebahagian Jordan, karena ia dikaitkan dengan al-muqaddasah (al-ardh al-muqaddasah). Makna ini diberikan oleh Ibn Qutaibah. Az Zamakhsyari berkata,
“Al-ardh al-muqaddasah ialah ardh bait al­ muqaddasah (bumi rumah yang suci), di mana ia adalah tempat para nabi dan orang Islam.”

Diriwayatkan oleh Mujahid dari Ibn ‘Abbas, “Ia adalah Tursina dan sekelilingnya.”

Qatadah berpendapat ia adalah Syam.

Sedangkan riwayat Ibn Zaid, As Suddi dan Ikrimah dari Ibn Abbas menyatakan ia adalah Ariha.

At Tabari berkata,
“Ia adalah ardh al­ muqaddasah sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Musa adalah bumi seperti bumi lain, tidak diketahui hakikat kebenarannya kecuali dengan khabar. Tidak ada khabar mengenainya yang benar-benar dapat di­ pastikan. Namun, ia tidak keluar dari bumi antara Sungai Al Furat (Euphart) dan Mesir sebagaimana yang disepakati oleh para ahli tafsir, sejarawan dan ulama.”

Kedua, ia bermakna bumi yang manusia diami sekarang sebagaimana mayoritas maksud dari ayat-ayat di atas.

Ketiga, ia bermaksud selain bumi yang tidak pada sifatnya yang dikenal atau bumi di hari akhirat sebagaimana yang terdapat dalam surah Ibrahim, ayat 48.

Dalam Sahih Bukhari dan Muslim terdapat hadits dari Ibn Hazim yang diriwayatkan dari Sahl bin Sa’ad, katanya Rasulullah berkata,
“Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat di atas bumi yang amat putih bagaikan roti yang bulat dan pipih lagi putih, tidak terdapat di dalamnya penolong bagi seseorang.”
Dalam riwayat lain dijelaskan manusia berjalan di atas jambatan atau Ash Shiraath.

Keempat, bermakna tempat, sebagai­ mana pada surah Yusuf, ayat 9. Al Qurtubi menafsirkannya dengan tempat yang jauh dari ayahnya.” Begitu juga dengan penafsiran At Tabari, yang dimaksudkan dengan bumi di sini ialah suatu tempat dari bumi.

Kelima, bermakna bumi Mesir, yaitu yang terdapat dalam surah Al A’raaf, ayat 110; Tha Ha, ayat 57; 63, Asy Syu’araa, ayat 35; Ibrahim, ayat 13. Ini sebagaimana penafsiran yang dikemukakan oleh Asy Syawkani’ dan As­ Sabuni.’

Keenam, bermakna bumi Makkah yaitu yang terdapat dalam surah Al Qashash, ayat 57. Ayat ini mengabarkan kepada manusia tentang alasan kafir Quraisy yang tidak mengikuti petunjuk. Mereka berkata kepada Rasulullah, “Sekiranya kami menyertaimu menurut petunjuk yang engkau bawa itu, kami takut disakiti dan diperangi oleh mereka (kafir Quraisy) yang lain serta diusir dari negeri kami.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:63-65

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 97 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 97



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.5
Rating Pembaca: 4.7 (9 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku