Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 95 [QS. 4:95]

لَا یَسۡتَوِی الۡقٰعِدُوۡنَ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ غَیۡرُ اُولِی الضَّرَرِ وَ الۡمُجٰہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ؕ فَضَّلَ اللّٰہُ الۡمُجٰہِدِیۡنَ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ عَلَی الۡقٰعِدِیۡنَ دَرَجَۃً ؕ وَ کُلًّا وَّعَدَ اللّٰہُ الۡحُسۡنٰی ؕ وَ فَضَّلَ اللّٰہُ الۡمُجٰہِدِیۡنَ عَلَی الۡقٰعِدِیۡنَ اَجۡرًا عَظِیۡمًا
Laa yastawiil qaa’iduuna minal mu’miniina ghairu uuliidh-dharari wal mujaahiduuna fii sabiilillahi biamwaalihim wa-anfusihim fadh-dhalallahul mujaahidiina biamwaalihim wa-anfusihim ‘alal qaa’idiina darajatan wakulaa wa’adallahul husna wafadh-dhalallahul mujaahidiina ‘alal qaa’idiina ajran ‘azhiiman;
Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya.
Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan).
Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar,
―QS. An Nisaa’ [4]: 95

Daftar isi

Not equal are those believers remaining (at home) – other than the disabled – and the mujahideen, (who strive and fight) in the cause of Allah with their wealth and their lives.
Allah has preferred the mujahideen through their wealth and their lives over those who remain (behind), by degrees.
And to both Allah has promised the best (reward).
But Allah has preferred the mujahideen over those who remain (behind) with a great reward –
― Chapter 4. Surah An Nisaa‘ [verse 95]

لَّا tidaklah

Not
يَسْتَوِى sama

(are) equal
ٱلْقَٰعِدُونَ orang-orang yang duduk

the ones who sit
مِنَ dari/diantara

among
ٱلْمُؤْمِنِينَ orang-orang mukmin

the believers,
غَيْرُ tidak/bukan

other than
أُو۟لِى mempunyai

the ones (who are)
ٱلضَّرَرِ uzur

[the] disabled,
وَٱلْمُجَٰهِدُونَ dan orang-orang yang berjihad

and the ones who strive
فِى pada

in
سَبِيلِ jalan

(the) way
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah
بِأَمْوَٰلِهِمْ dengan harta benda mereka

with their wealth
وَأَنفُسِهِمْ dan jiwa mereka

and their lives.
فَضَّلَ melebihkan

Preferred
ٱللَّهُ Allah

(has) Allah
ٱلْمُجَٰهِدِينَ orang-orang yang berjihad

the ones who strive
بِأَمْوَٰلِهِمْ dengan harta benda mereka

with their wealth
وَأَنفُسِهِمْ dan jiwa mereka

and their lives
عَلَى atas

to
ٱلْقَٰعِدِينَ orang-orang yang duduk

the ones who sit
دَرَجَةً satu derajat

(in) rank.
وَكُلًّا dan makanlah

And (to) all
وَعَدَ menjanjikan

promised
ٱللَّهُ Allah

(has) Allah
ٱلْحُسْنَىٰ kebaikan

the best.
وَفَضَّلَ dan melebihkan

preferred
ٱللَّهُ Allah

(has) Allah
ٱلْمُجَٰهِدِينَ orang-orang yang berjihad

the ones who strive
عَلَى atas

over

Tafsir

Alquran

Surah An Nisaa’
4:95

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 95. Oleh Kementrian Agama RI


Orang mukmin yang berjuang untuk membela agama Allah dengan penuh keimanan dan keikhlasan tidaklah sama derajatnya dengan orang yang enggan berbuat demikian.
Ayat ini menekankan bahwa perbedaan derajat antara kedua golongan itu adalah sedemikian besarnya, sehingga orang-orang yang berjihad mempunyai derajat yang amat tinggi.

Apabila orang yang tidak berjihad menyadari kerugian mereka dalam hal ini, maka mereka akan tergugah hatinya dan berusaha untuk mencapai derajat yang tinggi, dengan turut serta berjihad bersama-sama kaum mukminin lainnya.
Untuk itulah ayat ini mengemukakan perbedaan antara kedua golongan tersebut.


Dengan demikian maksud yang terkandung dalam ayat ini sama dengan maksud yang dikandung dalam firman Allah pada ayat lain yang menerangkan perbedaan derajat antara orang-orang mukmin yang berilmu pengetahuan dan orang-orang yang tidak berilmu.


قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ

Katakanlah,
"Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
(az-Zumar [39]: 9)


Orang yang berilmu pengetahuan jauh lebih tinggi derajatnya daripada orang yang tidak berilmu.

Apabila orang yang tidak berilmu mengetahui kekurangan derajatnya, semoga hati mereka tergerak untuk mencari ilmu pengetahuan dengan giat, sehingga dapat meningkatkan derajat mereka.


Ayat ini turun pada waktu Perang Badar.

Di antara kaum Muslimin ada orang-orang yang tetap tinggal di rumah, dan tidak bersedia berangkat ke medan perang.
Lalu turunlah ayat ini untuk mengingatkan mereka bahwa dengan sikap yang semacam itu, mereka berada pada derajat yang rendah, dibanding dengan derajat orang-orang yang berjihad dengan penuh iman dan kesadaran.


Sementara ada di antara kaum Muslimin yang sangat ingin untuk ikut berjihad, tetapi niat dan keinginan mereka tidak dapat mereka laksanakan karena mereka uzur, misalnya:
karena buta, pincang, sakit dan sebagainya, atau mereka tidak mempunyai sesuatu untuk disumbangkan.


Orang-orang semacam itu, tidak bisa disamakan dengan orang yang enggan berjihad, melainkan disamakan dengan orang-orang yang berjihad dengan harta benda dan jiwa raga mereka.

Ayat ini juga menjelaskan bahwa mereka yang benar-benar berjihad dengan harta benda dan jiwa raganya memperoleh martabat yang lebih tinggi satu derajat dari mereka yang tidak berjihad karena uzur.
Namun golongan itu akan mendapatkan pahala dari Allah, karena iman dan niat mereka yang ikhlas.



Allah akan memberikan pahala yang jauh lebih besar kepada mereka yang berjihad, dari mereka yang tidak berjihad tanpa uzur.
Berjuang atau berjihad
"dengan harta benda"
ialah:
menggunakan harta benda milik sendiri untuk keperluan jihad, atau untuk keperluan orang lain yang turut berjihad, misalnya:
bahan-bahan perbekalan berupa makanan, kendaraan, senjata dan sebagainya.
Berjuang dengan
"jiwa raga"
berarti:
ia rela mengorbankan miliknya yang paling berharga baginya, yaitu tenaga bahkan jiwanya, sekalipun ia menerima perbekalan dari orang lain, karena ia tidak mempunyainya.

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 95. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Berjuang, yang disertai sikap hati-hati, mempunyai keutamaan yang sangat besar.
Maka, tidaklah sama antara orang yang duduk berpangku tangan di rumah dan tidak ikut berperang, dengan orang yang berjuang dengan harta dan jiwa.


Allah memberikan kepada orang-orang yang berjihad derajat yang lebih tinggi di atas orang-orang yang tidak ikut perang, kecuali bila ada uzur yang menghalangi mereka untuk berperang.
Sebab, uzur itu membebaskan mereka dari celaan.


Meskipun orang-orang yang berjihad mempunyai keutamaan dan derajat khusus, namun Allah tetap menjanjikan kepada masing-masing kelompok itu kedudukan dan balasan yang baik.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Tidak sama antara orang-orang yang tidak berangkat berjihad di jalan Allah, kecuali orang-orang yang memiliki halangan di antara mereka, dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah dengan harta dan jiwa mereka.
Allah mengunggulkan para mujahidin atas orang-orang yang tidak berjihad dan meninggikan derajat mereka yang tinggi di surge.


Allah menjanjikan surge kepada masing-masing dari keduanya, yaitu orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka dan orang-orang yang tidak berjihad karena halangan, karena apa yang mereka berikan dan korbankan di jalan Allah.
Namun Allah tetap mengunggulkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang tidak berjihad dengan pahala yang besar.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Tidaklah sama di antara orang-orang mukmin yang duduk) maksudnya tidak ikut berjihad


(tanpa mempunyai uzur) seperti tua, buta dan lain-lain, marfu` karena sifat dan manshub sebagai mustatsna


(dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah berikut harta dan jiwa mereka.
Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa mereka atas orang-orang yang duduk) karena uzur


(satu tingkat) atau satu kelebihan karena walaupun mereka sama dalam niat, tetapi ada tambahan pada orang-orang yang berjihad, yaitu pelaksanaan


(dan kepada masing-masing) mereka dari kedua golongan itu


(Allah menjanjikan pahala yang baik) yaitu surga.


(Dan Allah memberi kelebihan terhadap orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk) tanpa uzur


(berupa pahala yang besar) dan sebagai badalnya ialah:

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Umar, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra yang mengatakan bahwa ketika diturunkan ayat berikut:
Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk.
(QS. An-Nisa’ [4]: 95)
Maka Rasulullah ﷺ memanggil Zaid untuk menulisnya, lalu datanglah Ibnu Ummi Maktum yang mengadukan tentang uzurnya.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala, menurunkan firman-Nya:
yang tidak mempunyai uzur.
(QS. An-Nisa’ [4]: 95)

Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yusuf, dari Israil, dari Abu Ishaq, dari Al-Barra yang mengatakan bahwa ketika diturunkan firman-Nya:
Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang).
(QS. An-Nisa’ [4]: 95)
Lalu Nabi ﷺ bersabda,
"Panggilkanlah si Fulan!"
Maka datanglah orang yang dimaksud dengan membawa tinta, lembaran (lauh), dan pena, lalu Rasulullah ﷺ memerintahkannya untuk menulis ayat berikut:
Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad dijalan Allah.
Saat itu di belakang Nabi ﷺ terdapat Ibnu Ummi Maktum.
Maka Ibnu Ummi Maktum berkata,
"Wahai Rasulullah, aku adalah orang yang tuna netra."
Lalu turunlah ayat berikut sebagai gantinya, yaitu firman-Nya:

Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah.
Imam Bukhari mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Abdullah, telah menceritakan kepadaku Ibrahim ibnu Sad.
dari Saleh ibnu Kaisan, dari Ibnu Syihab,
"Telah menceritakan kepadaku Sahl ibnu Sa’d As-Sa’idi, bahwa ia melihat Marwan ibnul Hakam di dalam masjid.
Lalu ia datang kepadanya dan duduk di sebelahnya.
Kemudian ia menceritakan kepada kami bahwa Zaid ibnu Sabit pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ pernah memerintahkan kepadaku untuk mencatat firman-Nya:
‘Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah."
Lalu datanglah kepada beliau ﷺ Ibnu Ummi Maktum, yang saat itu beliau sedang mengimlakannya kepadaku.
Maka dengan serta merta Ibnu Ummi Maktum berkata, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah, seandainya aku mampu berjihad di jalan Allah, niscaya aku akan berjihad.’ Ibnu Ummi Maktum adalah orang yang tuna netra.
Maka turunlah kepada Rasulullah ﷺ wahyu lainnya, yang saat itu paha beliau ﷺ berada di atas pahaku, maka terasa amat berat bagiku hingga aku merasa khawatir bila pahaku menjadi patah karenanya (beratnya wahyu yang sedang turun kepada Nabi ﷺ).
Setelah beliau ﷺ selesai dari menerima wahyu, maka beliau ﷺ membacakan ayat yang diturunkan, yaitu firman-Nya:
‘yang tidak mempunyai uzur (halangan)’ (QS. An-Nisa’ [4]: 95)."

Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari, tanpa Imam Muslim.

Telah diriwayatkan melalui jalur lain oleh Imam Ahmad, dari Zaid, untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Daud, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, dari Abuz Zanad, dari Kharijah ibnu Zaid yang mengatakan bahwa sahabat Zaid ibnu Sabit pernah menceritakan hadis berikut,
"Ketika aku sedang duduk di sebelah Nabi ﷺ, tiba-tiba turunlah wahyu kepadanya dan sakinah (ketenangan) menguasai dirinya."
Zaid ibnu Sabit melanjutkan kisahnya,
"Ketika Nabi ﷺ dikuasai oleh ketenangan, beliau mengangkat pahanya dan meletakkannya di atas pahaku."
Zaid ibnu Sabit menceritakan,
"Demi Allah, aku belum pernah merasakan sesuatu yang lebih berat daripada paha Rasulullah ﷺ Setelah wahyu selesai darinya, beliau bersabda, ‘Hai Zaid, tulislah!’ Maka aku mengambil lembaran dan beliau memerintahkan kepadaku untuk mencatat firman berikut, yaitu:

Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah.
sampai dengan firman-Nya:
pahala yang besar.


Lalu aku menulis ayat tersebut pada selembar tulang paha.
Ketika Ibnu Ummi Maktum mendengarnya, maka ia bangkit, sedangkan dia adalah seorang yang tuna netra, ia bangkit karena mendengar keutamaan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah dengan orang yang tidak mampu berjihad dan orang yang tuna netra serta yang mengalami hal-hal yang serupa?’."
Zaid melanjutkan kisahnya,
"Demi Allah, sebelum ucapan Ibnu Ummi Maktum selesai atau begitu Ibnu Ummi Maktum selesai dari ucapannya, maka Nabi ﷺ dikuasai oleh sakinah lagi, dan pahanya berada di atas pahaku.
Maka aku merasakan pahanya berat sekali karena wahyu, seperti yang telah kurasakan semula.
Kemudian wahyu selesai darinya, lalu beliau bersabda, ‘Bacalah!’ Maka aku membacakan kepadanya firman berikut:
‘Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah.’ Maka Nabi ﷺ bersabda membacakan pengecualiannya, yaitu firman-Nya:
‘yang tidak mempunyai uzur’."
Zaid ibnu Sabit mengatakan,
"Lalu aku menyusulkannya (menyisipkannya).
Demi Allah, seakan-akan aku melihat sisipannya itu berada pada bagian yang retak dari lembaran tulang paha itu."

Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Sa’id ibnu Mansur, dari Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad, dari ayahnya, dari Kharijah ibnu Zaid ibnu Sabit, dari ayahnya dengan lafaz yang semisal.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, telah menceritakan kepada kami Az-Zuhri, dari Qubaisah ibnu Zua-ib, dari Zaid ibnu Sabit yang menceritakan bahwa dia adalah juru tulis wahyu Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah ﷺ pada suatu hari memerintahkan kepadanya untuk mencatat firman berikut, yaitu:
Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) dan orang-orang yang berjihad dijalan Allah.
Lalu datanglah Ibnu Ummi Maktum, dan berkata,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad di jalan Allah, tetapi aku mempunyai cacat seumur hidup seperti yang engkau lihat sendiri, indra penglihatanku telah tiada."
Zaid ibnu Sabit melanjutkan kisahnya,
"Maka terasa berat lagi paha Rasulullah ﷺ di atas pahaku, hingga aku merasa khawatir bila tulang pahaku patah karenanya.
Setelah wahyu selesai darinya, maka beliau memerintahkan kepadaku untuk mencatat ayat berikut, yaitu firman-Nya:

‘Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah’

Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Abdul Karim (yaitu Ibnu Malik Al-Jariri), bahwa Miqsam maula Abdullah ibnul Haris pernah menceritakan kepadanya bahwa Ibnu Abbas telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:
Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang).
(QS. An-Nisa’ [4]: 95)
Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Perang Badar dan orang-orang yang berangkat menuju medan peperangan Badar.
Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari tanpa Imam Muslim.

Imam Turmuzi telah meriwayatkannya melalui jalur Hajjaj dari Ibnu Juraij, dari Abdullah Karim, dari Miqsam, dari ibnu Abbas yang telah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:
Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah.
(QS. An-Nisa’ [4]: 95)
Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Perang Badar dan orang-orang yang berangkat menuju medan peperangan Badar.

Ketika diturunkan ayat mengenai Perang Badar, maka Abdullah ibnu Jahsy dan Ibnu Ummi Maktum berkata,
"Sesungguhnya kami adalah dua orang yang tuna netra, wahai Rasulullah.
Apakah ada keringanan bagi kami?"
Maka turunlah firman-Nya:
Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur.
Allah melebihkan orang-orang yang berjihad di jalan-Nya atas orang-orang yang duduk —tidak ikut berperang— satu derajat.
Mereka yang duduk tidak ikut perang itu adalah selain yang mempunyai uzur (halangan).
Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat.
Yakni orang-orang yang duduk tidak ikut berperang dari kalangan orang-orang mukmin selain mereka yang mempunyai uzur (halangan).

Demikianlah menurut lafaz yang ada pada Imam Turmuzi, kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib bila ditinjau dari segi jalur sanadnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Tidaklah sama antara orang mukmin yang duduk (tidak ikut berperang).

bermakna mutlak.


Dan ketika diturunkan wahyu yang singkat, yaitu firman Nya:


..yang tidak mempunyai uzur.

Maka hal ini mengandung keringanan dan jalan keluar bagi orang-orang yang mempunyai uzur yang membolehkannya untuk tidak ikut berjihad, seperti tuna netra, pincang, dan sakit, hingga kedudukan mereka tetap sama dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya.
Setelah itu Allah memberitakan perihal keutamaan yang dimiliki oleh orang-orang yang berjihad, bahwa keutamaan mereka berada di atas orang-orang yang duduk —tidak ikut berperang— satu derajat.
Menurut Ibnu Abbas, selain dari mereka yang mempunyai uzur.

Memang demikianlah seharusnya, seperti yang dinyatakan di dalam kitab Sahih Bukhari melalui jalur Zuhair ibnu Mu’awiyah, dari Humaid ibnu Anas, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:


Sesungguhnya di Madinah terdapat orang-orang yang tidak sekali-kali kalian berjalan, dan tidak pula menempuh suatu lembah, melainkan mereka selalu bersama kalian padanya.
Ketika mereka bertanya,
"Apakah mereka tetap tinggal di Madinah, wahai Rasulullah?"
Nabi ﷺ menjawab:
Ya, mereka terhalang oleh uzur (hingga tidak ikut bersama kamu).

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ahmad melalui Muhammad ibnu Addi, dari Humaid, dari Anas, dengan lafaz yang sama.
Imam Bukhari men-ta’liq-nya secara majzum.

Imam Abu Daud meriwayatkannya dari Hammad ibnu Salamah, dari Humaid dari Musa ibnu Anas ibnu Malik, dari ayahnya, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:
Sesungguhnya kalian meninggalkan di Madinah orang-orang yang tidak sekali-kali kalian menempuh suatu perjalanan dan tidak sekali-kali kalian membelanjakan sesuatu, tidak sekali-kali kalian menempuh suatu lembah melainkan mereka selalu bersama kalian di dalamnya.
Mereka (para sahabat) bertanya,
"Bagaimanakah mereka dapat bersama kami padanya, wahai Rasulullah?"
Nabi ﷺ menjawab:
Ya, mereka tertahan oleh uzur.

Demikianlah menurut lafaz yang ada pada Imam Abu Daud.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik.

Yang dimaksud dengan pahala yang baik ialah surga dan pahala yang berlimpah.
Di dalam ayat ini terkandung makna yang menunjukkan bahwa jihad itu bukanlah fardu ain, melainkan fardu kifayah.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala, memberitakan anugerah yang diberikan kepada mereka berupa tingkatan-tingkatan pahala di dalam gedung-gedung surga yang tinggi, semua dosa dan kesalahan diampuni, rahmat serta berkah Allah meliputi diri mereka, semua itu sebagai kebaikan dan kemurahan dari Allah subhanahu wa ta’ala, buat mereka.
Hal ini diungkapkan melalui ayat berikutnya.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 95

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari al-Barra’.
Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dan yang lainnya, dari Zaid bin Tsabit; ath-Thabarani dari Zaid bin Arqam; dan Ibnu Hibban dari al-Falatan bin ‘Ashim.
At-Tirmidzi-pun meriwayatkan hadits seperti ini, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, dengan tambahwan bahwa yang mengucapkan “saya buta”, adalah ‘Abdullah bin Jahsy dan Ibnu Ummi Maktum.
Dipaparkan di dalam kitab Turjumaanul Qur’aan.
Dan hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari berbagai sumber, dengan periwayatan mursal.
Bahwa ketika turun ayat, laa yastawil qaa-iduuna minal mu’miniin… (tidaklah sama antara Mukmin yang duduk [yang tidak ikut berperang]…) (an-Nisaa’: 95), bersabdalah Nabi ﷺ: “Panggillah si anu.” Maka datanglah ia membawa tinta dengan alat tulisnya.

Bersabdalah Rasulullah ﷺ: “Panggillah si anu.” Maka datanglah ia membawa tinta dengan alat tulisnya.
Bersabdalah Rasulullah ﷺ: “Tulislah.
Laa yasytawil qaa’iduuna minal mu’minin….
(tidak sama antara Mukmin yang duduh [yang tidak ikut berperang]…).” Di belakang Rasulullah ﷺ ada Ibnu Ummi Maktum.
Ia berkata: “Ya Rasulallah, saya buta.” Maka turunlah kelanjutannya:….
ghairu ulidl dlarar…(… yang tidak mempunyai uzur…) sampai akhir ayat (an-Nisaa’: 95) sebagai pengecualian bagi orang yang berhalangan (darurat).

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah An Nisaa’ (4) ayat 95

Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Abdullah dia berkata,
Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Sa’ad dari Shalih bin Kaisan dari Ibnu Syihab dia berkata,
Telah menceritakan kepadaku Sahl bin Sa’ad As Sa’idi bahwasanya dia melihat Marwan bin Hakam sedang berada dimasjid maka aku menemuinya dan duduk di sampingnya. Ia mengabarkan kepada kami, dari Zaid bin Tsabit bahwa Rasulullah ﷺ bahwa mendiktekan kepadanya ayat LAA YASTAWIL QAA’IDUUNA MINAL MUKMINIINA WAL MUJAAHIDUUNA FII SABIILILLAAH’ ‘Tidaklah sama antara orang mukmin yang tidak ikut berperang dan mereka yang berjihad fii sabilillah.’ (An Nisa: 95) Kemudian datang kepadanya Ibnu Ummi Maktum dan beliau mendiktekannya kepadaku. Lalu ia berkata,
wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seandainya saya mampu untuk berjihad, niscaya saya akan berjihad. Dan ia adalah orang yang buta, kemudian Allah menurunkan kepada Rasul-Nya dan pahanya berada di atas pahaku hingga terasa berat bagiku hampir aku merasa takut pahaku patah, kemudian terhilangkan kesusahannya, dan Allah azza wajalla menurunkan ayat GHAIRU ULIDHDLARAR’ ‘Kecuali orang-orang yang mempunyai halangan’.

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4226

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa’ (4) Ayat 95

DARAJAH
دَرَجَة

Ism mufrad dari lafaz daraja jamaknya darajah. Artinya martabat sebahagiannya di atas sebahagian yang lain, kelas, kedudukan, pangkat, tingkatan, golongan, derajat dan unit ukuran (sudut atau suhu).
Lafaz darajah disebut empat kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 228;
An Nisaa (4), ayat 95;
At Taubah (9), ayat 20;
Al Hadid (57), ayat 10.

Al Faiyruz berkata,
"Secara umumnya, lafaz darajah atau ad darajat mengandung delapan bentuk:

(1) Kedudukan lelaki terhadap perempuan.
(2) Kedudukan orang yang berjihad terhadap orang yang tinggal di rumah.
(3) Martabat sahabat yang terlebih dahulu masuk Islam dan selalu bersama dengan Nabi.
(4) Kelebihan tingkatan dan kedudukan sebahagian manusia atas sebahagian yang lain disebabkan kelebihan ketaatan dan kekurangannya.
(5) Derajat khusus seorang hamba.
(6) Kedudukan ulama.
(7) Martabat orang yang taat dan tambahan tingkatannya di dalam syurga.

(8) Mengangkat martabat dan kedudukan orang yang taat yang membedakan mereka dari yang lainnya.

Dalam surah Al Baqarah, ia membicarakankan derajat dan tingkatan kedudukan lelaki atas perempuan, Asy Syaukani berkata,
"Perbedaan tingkatan ini karena kedudukan yang tidak dimiliki perempuan yaitu bertanggungjawab memberikan nafkah kepadanya termasuk dari orang yang lebih berjihad dan akal serta kekuatan, mendapat lebih harta waris, wajib bagi perempuan (isteri) melakukan segala perintahnya dan berdiri di atas keridhaannya.
Sekiranya tidak ada kelebihan lelaki terhadap perempuan maka tidak tsabit penciptaan Adam.

Muhammad Rasyid Rida berkata,
"Maksud derajat di sini adalah derajat kepemimpinan dan yang mengurusi segala kemaslahatan yang ditafsirkan dalam surah An Nisaa ayat 34. Kehidupan rumah tangga adalah kehidupan masyarakat dan sebuah masyarakat haruslah ada pemimpin.
Setiap individu masyarakat memiliki perbedaan pendapat dan kemaslahatan.
la tidak dapat disempurnakan dan diselesaikan kecuali ada seorang pemimpin yang dirujuk pendapatnya dalam menyelesaikan perbedaan itu sehingga setiap individu tidak melakukan perkara yang bertentangan dengan individu lain.
Apabila ia terjadi, timbullah perpecahan.
Seorang pemimpin itu lebih layak untuk lelaki karena ia lebih mengetahui kemaslahatan dan lebih mampu untuk melaksanakan tugas dengan kekuatan dan hartanya.
Oleh karena itu, ia dituntut syara’ untuk melindungi perempuan dan memberikan nafkah serta lebih dahulu taat kepada kebaikan.

Dalam surah An Nisaa berkenaan dengan kelebihan satu kedudukan orang yang berjuang daripada orang yang duduk berdiam diri.

Dalam As Sahihain dari Abu Sa’id Al-Khudri Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya di dalam syurga ada 100 tingkatan atau derajat yang disediakan Allah bagi orang yang berjuang di jalan Allah diantara setiap dua derajat jauhnya seperti antara langit dan bumi."

Al A’masy meriwayatkan dari Amru bin Murrah dari Abi Ubaidah dari Abdullah bin Mas’ud, katanya, Rasulullah bersabda, "Barang siapa yang melempar satu anak panah (di jalan Allah), maka baginya pahala satu derajat" Seorang lelaki berkata,
"Wahai Rasulullah, apa itu satu derajat?" Beliau menjawab, "Tentunya ia adalah bukan di pangkuan ibumu.
Di antara dua derajat jauhnya 100 tahun perjalanan."

Dalam surah At Taubah, ia berkaitan dengan martabat orang beriman, berhijrah serta berjihad fi sabilillah di sisi Allah.

Dalam tafsir Safwah At Tafsir, makna darajah adalah ajran (ganjaran dan balasan) maknanya bagi orang yang bersifat demikian baginya ganjaran yang besar dari Allah.

Sedangkan dalam Tafsir Al Jalalain ia bermakna ratbah yaitu kedudukan dan martabat.

Dalam surah Al Hadid membicarakan tentang kedudukan serta tingkatan yang berbeda antara satau derajat dengan satu derajat bagi orang yang berperang dan membelanjakan harta sebelum Fathul Makkah dari orang yang berperang dan membelanjakan harta setelahnya.

At Tabari berkata,
"Mereka yang menafkahkan harta di jalan Allah sebelum Fathul Makkah dan memerangi orang musyrik mendapat derajat dan kedudukan yang tinggi di dalam syurga daripada orang yang menafkahkan setelah itu"

Kesimpulannya, lafaz darajah bermakna kedudukan, derajat, tingkatan dan martabat.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal:222-223

Unsur Pokok Surah An Nisaa’ (النّساء)

Surat An-Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al-Baqarah.

Dinamakan An Nisaa‘ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath-Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa‘ dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Al Kubraa" (surat An Nisaa‘ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Ash Shughraa" (surat An Nisaa‘ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

▪ Kewajiban para washi dan para wali.
Hukum poligami.
▪ Mas kawin.
▪ Memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya.
▪ Pokok-pokok hukum warisan.
▪ Perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya.
▪ Wanita-wanita yang haram dikawini.
Hukum mengawini budak wanita.
▪ Larangan memakan harta secara bathil.
Hukum syiqaq dan nusyuz.
▪ Kesucian lahir batin dalam shalat.
Hukum suaka.
Hukum membunuh seorang Islam.
Shalat khauf‘.
▪ Larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk.
▪ Masalah pusaka kalalah.

Kisah:

▪ Kisah-kisah tentang nabi Musa `alaihis salam dan pengikutnya.

Lain-lain:

▪ Asal manusia adalah satu.
▪ Keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita.
Normanorma bergaul dengan isteri.
▪ Hak seseorang sesuai dengan kewajibannya.
▪ Perlakuan ahli kitab terhadap kitabkitab yang diturunkan kepadanya.
▪ Dasar-dasar pemerintahan.
▪ Cara mengadili perkara.
▪ Keharusan siap-siaga terhadap musuh.
▪ Sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi peperangan.
▪ Berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf.
Norma dan munafik.
▪ Derajat orang yang berjihad.

Audio

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan Indonesia

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 176

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nisaa' ayat 95 - Gambar 1 Surah An Nisaa' ayat 95 - Gambar 2
Statistik QS. 4:95
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa’.

Surah An-Nisa’ (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, “Wanita”) terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah 4
Nama Surah An Nisaa’
Arab النّساء
Arti Wanita
Nama lain Al-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 92
Juz Juz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 176
Jumlah kata 3764
Jumlah huruf 16327
Surah sebelumnya Surah Ali ‘Imran
Surah selanjutnya Surah Al-Ma’idah
Sending
User Review
4.5 (21 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

4:95, 4 95, 4-95, Surah An Nisaa' 95, Tafsir surat AnNisaa 95, Quran AnNisa 95, An-Nisa’ 95, Surah An Nisa ayat 95

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah An Nisaa’

۞ QS. 4:1 Ar Rabb (Tuhan) • Al Raqib (Maha Pengawas) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 4:6 Al Hasib (Maha Penghitung amal) • Perbuatan dan niat

۞ QS. 4:10 • Dosa-dosa besar • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:11 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:12 Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:13 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 4:14 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:16 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Dosa-dosa besar • Pelebur dosa besar •

۞ QS. 4:17 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:18 • Pintu taubat terbuka hingga ruh sampai di kerongkongan • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:19 • Kebaikan pada pilihan Allah

۞ QS. 4:22 • Penghapus pahala kebaikan • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah

۞ QS. 4:23 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 4:24 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:25 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 4:26 Sifat Iradah (berkeinginan) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 4:27 Sifat Iradah (berkeinginan)

۞ QS. 4:28 • Kasih sayang Allah yang luas • Sifat Iradah (berkeinginan) • Keistimewaan Islam • Toleransi Islam

۞ QS. 4:29 Al Rahim (Maha Penyayang) • Dosa-dosa besar

۞ QS. 4:30 • Kekuasaan Allah • Dosa-dosa besar • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:31 Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Memasuki surga • Pelebur dosa kecil • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat •

۞ QS. 4:32 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:33 Al Syahid (Maha Menyaksikan)

۞ QS. 4:34 Al ‘Aliyy (Maha Tinggi) • Al Kabir (Maha Besar)

۞ QS. 4:35 Al Khabir (Maha Waspada) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Taufiq dari Allah

۞ QS. 4:36 Tauhid UluhiyyahSyirik adalah dosa terbesar • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 4:37 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:38 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat • Mengingkari hari kebangkitan • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia

۞ QS. 4:39 • Pahala iman • Tauhid UluhiyyahAl ‘Alim (Maha megetahui) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat

۞ QS. 4:40 Al Karim (Maha Mulia) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 4:41 • Setiap umat mengikuti nabi-nabi mereka • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 4:42 • Kebenaran hari penghimpunan • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:43 • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam

۞ QS. 4:45 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Keluasan ilmu Allah • Al Wali (Maha Pelindung)

۞ QS. 4:47 • Allah menepati janji • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:48 • Mendustai Allah • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Syirik adalah dosa terbesar • Siksa orang kafir • Pelebur dosa kecil

۞ QS. 4:49 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 4:50 • Mendustai Allah

۞ QS. 4:51 Hukum sihir

۞ QS. 4:52 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:53 • Segala sesuatu milik Allah

۞ QS. 4:54 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan)

۞ QS. 4:55 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:56 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka

۞ QS. 4:57 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat ahli surga • Sifat wanita penghuni surga • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 4:58 Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar)

۞ QS. 4:59 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Sikap orang mukmin terhadap fitnah

۞ QS. 4:60 • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:61 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:62 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 4:63 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 4:64 • Ampunan Allah yang luas • At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat •

۞ QS. 4:65 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat orang munafik

۞ QS. 4:66 • Toleransi Islam • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:67 • Pahala iman • Keutamaan iman • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:68 • Pahala iman • Keutamaan iman • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 4:69 • Derajat para nabi, shiddiqin dan syuhada’ • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Keutamaan iman • Cinta Allah pada hamba yang shaleh

۞ QS. 4:70 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:71 • Melihat sebab akibat

۞ QS. 4:72 • Sifat orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:73 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:74 • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:75 Ar Rabb (Tuhan) • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong)

۞ QS. 4:76 • Sifat iblis dan pembantunya • Wali Allah dan wali syetan

۞ QS. 4:77 Ar Rabb (Tuhan) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Kebaikan yang ada di alam akhirat

۞ QS. 4:78 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Ketakutan pada kematian • Kebenaran dan hakikat takdir • Segala sesuatu ada takdirnya • Ketentuan Allah tak dapat dihindari

۞ QS. 4:79 Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Kebaikan pada pilihan Allah

۞ QS. 4:80 • Kewajiban patuh kepada Rasul • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 4:81 Al Wakil (Maha Penolong) • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:83 • Kasih sayang Allah yang luas • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Sifat orang munafik

۞ QS. 4:84 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Kekuasaan Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:85 Al Muqit (Maha Penentu waktu) • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Menanggung dosa orang lain • Balasan dari perbuatannya •

۞ QS. 4:86 Al Hasib (Maha Penghitung amal)

۞ QS. 4:87 Tauhid Uluhiyyah • Allah menepati janji • Nama-nama hari kiamat • Kebenaran hari penghimpunan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:88 • Allah menggerakkan hati manusia • Azab orang kafirHidayah (petunjuk) dari Allah • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 4:89 • Bersikap keras terhadap orang kafir • Sifat orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik • Kapan boleh membunuh orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:90 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaSifat Masyi’ah (berkehendak) • Kapan boleh membunuh orang munafik

۞ QS. 4:91 • Sifat orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik • Kapan boleh membunuh orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:92 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Pelebur dosa besar

۞ QS. 4:93 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Dosa-dosa besar • Menyiksa pelaku maksiat • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah

۞ QS. 4:94 Al Khabir (Maha Waspada) • Islamnya orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat • Dua kalimat syahadat, bukti lahiriah keimanan seseorang • Beriman berarti menjaga harta dan darah •

۞ QS. 4:95 • Nama-nama surga • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:96 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Perbedaan derajat di surga

۞ QS. 4:97 • Tugas-tugas malaikat • Sikap orang mukmin terhadap fitnah • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 4:98 • Toleransi Islam

۞ QS. 4:99 • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam

۞ QS. 4:100 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Perbuatan dan niat •

۞ QS. 4:101 • Keistimewaan Islam • Toleransi Islam • Permusuhan orang kafir terhadap orang Islam

۞ QS. 4:102 • Toleransi Islam • Azab orang kafir • Melihat sebab akibat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:104 • Memohon hanya kepada Allah • Keluasan ilmu Allah • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) •

۞ QS. 4:105 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 4:106 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 4:107 • Sifat orang munafik

۞ QS. 4:108 • Keluasan ilmu Allah • Al Muhith (Maha Mengetahui) • Sifat orang munafik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:109 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Siksa orang munafik

۞ QS. 4:110 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 4:111 • Keluasan ilmu Allah • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menanggung dosa orang lain • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:112 • Menanggung dosa orang lain • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:113 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:114 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Perbuatan dan niat • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Balasan dan pahala dari Allah • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 4:115 • Siksaan Allah sangat pedih • Perintah untuk selalu bersatu • Akibat terpisah dari umat Islam • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 4:116 • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Syirik adalah dosa terbesar • Siksa orang kafir

۞ QS. 4:117 • Sifat iblis dan pembantunya • Syirik adalah dosa terbesar • Dosa terbesar

۞ QS. 4:119 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan • Wali Allah dan wali syetan • Siksa orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:120 • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia

۞ QS. 4:121 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Siksa orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:122 • Pahala iman • Allah menepati janji • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 4:123 • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 4:124 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Memasuki surga • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 4:125 Islam agama para nabi

۞ QS. 4:126 • Segala sesuatu milik Allah • Keluasan ilmu Allah • Al Muhith (Maha Mengetahui)

۞ QS. 4:127 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 4:128 Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 4:129 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 4:130 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 4:131 • Segala sesuatu milik Allah • Allah tidak membutuhkan makhlukNya • Al Hamid (Maha Terpuji) • Al Ghaniy (Maha Kaya) •

۞ QS. 4:132 • Segala sesuatu milik Allah • Al Wakil (Maha Penolong)

۞ QS. 4:133 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:134 • Sifat Sama’ (mendengar) • Sifat Bashar (melihat) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 4:135 Al Khabir (Maha Waspada) • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:136 • Kewajiban beriman kepada malaikat • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat

۞ QS. 4:137 • Azab orang kafir • Sifat orang munafik • Siksa orang munafikHidayah (petunjuk) dari Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:138 • Siksaan Allah sangat pedih • Siksa orang munafik

۞ QS. 4:139 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:140 Al Jami’ (Yang mengumpulkan manusia di akhirat) • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 4:141 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:142 • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik

۞ QS. 4:143 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 4:144 • Kewajiban saling setia antar sesama muslim • Bebas dari kekafiran dan orang-orang kafir

۞ QS. 4:145 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Siksa orang munafik

۞ QS. 4:146 • Pahala iman • Berpegang teguh dengan (ajaran) Allah • Keutamaan iman • Perbuatan dan niat • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:147 • Allah tidak membutuhkan makhlukNya • Al Syakur (Maha Penerima syukur) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:148 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) •

۞ QS. 4:149 Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 4:150 • Kewajiban beriman pada para rasul • Tiada pengutamaan antara para nabi

۞ QS. 4:151 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Penghinaan orang kafir terhadap Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah

۞ QS. 4:152 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 4:153 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 4:155 • Azab orang kafir • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:158 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 4:159 • Turunnya nabi Isa sebelum kiamat

۞ QS. 4:160 • Menyiksa pelaku maksiat • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:161 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:162 • Pahala iman • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat • Keutamaan iman • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:164 • Sifat Kalam (berfirman)

۞ QS. 4:165 Dalil Allah atas hambaNya • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 4:166 Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 4:167 • Azab orang kafir

۞ QS. 4:168 • Azab orang kafirHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 4:169 • Siksaan Allah sangat pedih • Kekuasaan Allah • Nama-nama neraka • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 4:170 • Pahala iman • Segala sesuatu milik Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:171 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Mendustai Allah • Segala sesuatu milik Allah • Al Wahid (Maha Esa)

۞ QS. 4:172 • Kebenaran hari penghimpunan • Azab orang kafir

۞ QS. 4:173 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Pahala iman • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat

۞ QS. 4:174 Ar Rabb (Tuhan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 4:175 • Pahala iman • Berpegang teguh dengan (ajaran) Allah • Memasuki surga • Keutamaan iman • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 4:176 Al ‘Alim (Maha megetahui)

Ayat Pilihan

Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik,
meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu,
maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal,
agar kamu mendapat keberuntungan”.
QS. Al-Ma’idah [5]: 100

Para malaikat menenangkan Nabi Lûth & berkata,
“Jangan sekali-kali kamu takut kepada kekejian kaummu, dan jangan bersedih karena kami. Kami telah datang untuk menghancurkan penduduk negeri ini. Kami akan menyelamatkanmu & keluargamu”
QS. Al-‘Ankabut [29]: 33

Nuh berdoa:
“Ya Tuhanku,
tolonglah aku,
karena mereka mendustakan aku”.
QS. Al-Mu’minun [23]: 26

Masa (kejayaan & kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia,
agar mereka mendapat pelajaran. Semua itu dilakukan agar menjadi cobaan bagi orang Mukmin,
di samping agar Allah memberikan kelebihan kepada orang yang tegar imannya.
QS. Ali ‘Imran [3]: 140

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

There is no question

Soal Lainnya

Kuis Agama Islam #31

Umat Islam yang mengajarkan ilmunya dengan ikhlas akan memperoleh pahala amal jariyah. Amal jariyah artinya …Ilmu yang bermanfaat adalah …Menyampaikan ajaran Alquran dan sunnah Nabi Muhammad kepada orang lain yang belum mengetahui disebut dengan …Berikut ulama yang berasal dari Indonesia adalah …Sesuatu yang dipercaya dan diyakini kebenaranya oleh hati nurani manusia dinamakan …

Pendidikan Agama Islam #29

Sebagai perumpamaan orang yang mengajak berbuat baik, tetapi dirinya sendiri tidak melakukan adalah … Berikut kedudukan orang yang menuntut ilmu, kecuali … وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ, potongan ayat di atas terdapat pada Alquran surah … Ilmuan muslim yang dalam bidang kedokteran yang berasal dari Persia yaitu … Siapakah nabi yang lebih memilih ilmu daripada harta?

Pendidikan Agama Islam #14

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih remaja, baginda telah bekerja mengambil upah sebagai pengembala binatang ternak. Apakah binatang tersebut? … Dalam Islam, teladan yang baik disebut juga dengan istilah … Dalam Islam, pengendalian diri atau kontrol terhadap diri, disebut juga dengan … Pengertian Mujahadah An-Nafs adalah … Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa berjihad (berjuang) yang paling utama adalah melawan …

Kamus

amirulmukminin

Apa itu amirulmukminin? ami.rul.muk.mi.nin sebutan atau gelar bagi pemimpin umat Islam (khalifah) ۞ Variasi nama: Amirul Mukminin, Amirul Mu’minin … • Amirul Mukminin, Amirul Mu’minin

muslim

Apa itu muslim? mus.lim penganut agama Islam; selaku seorang muslim , kita wajib berzakat dan menunaikan ibadah haji jika mampu … •

Abubakar bin Abdurrahman

Siapa itu Abubakar bin Abdurrahman? Abubakar bin Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam bin al-Mughirah al-Makhzumi (bahasa Arab: أبو بكر بن عبد الرحمن بن الحارث بن هشام ...