Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 94


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِذَا ضَرَبۡتُمۡ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ فَتَبَیَّنُوۡا وَ لَا تَقُوۡلُوۡا لِمَنۡ اَلۡقٰۤی اِلَیۡکُمُ السَّلٰمَ لَسۡتَ مُؤۡمِنًا ۚ تَبۡتَغُوۡنَ عَرَضَ الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا ۫ فَعِنۡدَ اللّٰہِ مَغَانِمُ کَثِیۡرَۃٌ ؕ کَذٰلِکَ کُنۡتُمۡ مِّنۡ قَبۡلُ فَمَنَّ اللّٰہُ عَلَیۡکُمۡ فَتَبَیَّنُوۡا ؕ اِنَّ اللّٰہَ کَانَ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ خَبِیۡرًا
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu idzaa dharabtum fii sabiilillahi fatabai-yanuu walaa taquuluu liman alqa ilaikumussalaama lasta mu’minan tabtaghuuna ‘aradhal hayaatiddunyaa fa’indallahi maghaanimu katsiiratun kadzalika kuntum min qablu famannallahu ‘alaikum fatabai-yanuu innallaha kaana bimaa ta’maluuna khabiiran;

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu:
“Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak.
Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
―QS. 4:94
Topik ▪ Zuhud ▪ Kerendahan dunia ▪ Permusuhan antara syetan dan manusia
4:94, 4 94, 4-94, An Nisaa’ 94, AnNisaa 94, AnNisa 94, An-Nisa’ 94
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 94. Oleh Kementrian Agama RI

Apabila mereka pergi ke daerah kaum kafir untuk berperang, maka hendaklah mereka bersikap hati-hati dan teliti terhadap orang-orang yang mereka temui, dan jangan tergesa-gesa menuduhnya sebagai “orang yang tidak beriman”,
lalu membunuhnya.
Lebih-lebih apabila orang yang ditemui itu telah mengucapkan “Assalamualaikum”,
yaitu ucapan secara Islam, maka orang tersebut tidak boleh dituduh “kafir” sebagai alasan untuk membunuhnya karena ucapan salamnya itu menunjukkan bahwa ia telah tunduk kepada agama Islam menurut lahirnya.

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada orang-orang mukmin agar mengadakan penelitian lebih dahulu sebelum membunuh seseorang yang dianggapnya musuh, agar jangan sampai membunuh seseorang yang telah menganut agama Islam.
Apalagi jika pembunuhan itu dilakukan hanya karena keinginan untuk memiliki harta bendanya.
Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan bahwa orang-orang mukmin tidak boleh berbuat demikian, sebab ia telah menyediakan rahmat yang banyak bagi orang-orang yang beriman kepada Nya dan mematuhi segala ketentuan-ketentuan-Nya

Sesudah itu Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan pula kepada orang mukmin bahwa merekapun dulunya, pada waktu mereka mula-mula memeluk agama Islam, menyembunyikan imannya.
tetapi mereka mengucapkan salam ! “Assalamualaikum” bila berjumpa dengan orang-orang mukmin yang telah ! lebih dahulu memeluk agama Islam.
Dan hal itu mereka lakukan untuk memberitahukan bahwa mereka telah memeluk agama Islam.
Dan dengan demikian, mereka mengharapkan keamanan diri, keluarga dan harta benda dari kaum muslimin yang telah masuk Islam lebih dahulu.

Apabila mereka dulunya telah berbuat demikian, dan Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan keamanan yang mereka inginkan itu, maka sewajarnya pulalah mereka menghormati orang-orang yang berbuat semacam itu terhadap mereka, dan tidak tergesa-gesa menuduh seseorang sebagai musuh Islam, lalu membunuhnya, dan merampas harta bendanya.

Pada akhir ayat ini, Allah subhanahu wa ta’ala memperingatkan bahwa Dia senantiasa mengetahui segala perbuatan hamba-Nya dan Dia akan memberinya balasan -yang setimpal, balk atau buruk.

An Nisaa' (4) ayat 94 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 94 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 94 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sikap berhati-hati dan waspada dalam perang agar tidak terjadi pembunuhan terhadap orang Muslim, adalah suatu keharusan.
Apabila kalian pergi berperang di jalan Allah, maka telitilah terlebih dahulu siapa orang yang akan diperangi.
Apakah mereka telah memeluk Islam, atau masih dalam keadaan musyrik.
Janganlah kalian mengatakan, “Kamu bukan orang Muslim,” kepada orang yang berucap salam atau isyarat damai, hanya karena kalian menginginkan harta rampasan.
Terimalah ucapan salam perdamaian mereka.
Sesungguhnya Allah telah menganugerahkan harta yang banyak kepada kalian.
Dan kalian, wahai orang-orang Mukmin, dulu juga berada dalam kekufuran, kemudian Allah menunjuki kalian.
Maka telitilah orang-orang yang kalian temui.
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu dan Dia akan mengadakan perhitungan dengan kalian sesuai dengan ilmu-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bepergian) maksudnya mengadakan perjalanan untuk berjihad (di jalan Allah maka selidikilah) menurut satu qiraat dengan tiga macam baris pada dua tempat (dan janganlah kamu katakan kepada orang yang mengucapkan salam kepadamu) ada yang memakai alif dan ada pula yang tidak sedangkan artinya ialah penghormatan atau ketundukan dengan membaca dua kalimat syahadat sebagai ciri-ciri bagi penganut agama Islam (kamu bukan seorang mukmin) kamu mengatakan itu hanyalah untuk menjaga diri dan hartamu, lalu kamu membunuhnya (dengan maksud, menuntut) artinya hendak mencari (harta benda kehidupan dunia) yakni barang rampasan (padahal di sisi Allah harta yang banyak) sehingga kamu tidak perlu membunuh untuk mendapatkan harta itu.
(Begitu pulalah keadaan kamu dahulu) darah dan harta bendamu dipelihara berkat ucapan syahadat dari kamu (lalu Allah melimpahkan karunia-Nya kepadamu) hingga terkenal keimanan dan keteguhan pendirianmu (karena itu selidikilah) lebih dulu jangan sampai kamu membunuh orang yang telah beriman dan perlakukanlah terhadap orang yang baru masuk Islam sebagaimana kamu pernah diperlakukan.
(Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan) sehingga kamu akan mendapat balasan daripada-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan mengamalkan syariat-Nya, bila kalian keluar dalam rangka berjihad di jalan Allah, maka hendaknya kalian memastikan apa yang kalian lakukan dan apa yang kalian tinggalkan.
Jangan mengingkari iman dari orang-orang yang memperlihatkan sebagian dari tanda-tanda Islam dan mereka tidak memerangi kalian.
Karena ada kemungkinan bahwa mereka adalah orang-orang mukmin yang menyembunyikan iman mereka, hanya demi mendapatkan kenikmatan dunia.
Allah mempunyai karunia dan pemberian yang telah mencukupi kalian.
Demikian pula dengan kalian diawal Islam, kalian harus menyembunyikan iman kalian dari kaum kalian sendiri yaitu orang-orang musyrikin, lalu Allah melimpahkan nikmat-Nya kepada kalian dan memuliakan kalian dengan iman dan kekuatan.
Maka hendaknya kalian mengetahui dan mengenal urusan kalian.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala amal perbuatan kalian, mengenal perkara-perkara kalian yang samar dan Dia akan membalas kalian atasnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abu Bukair dan Khalaf ibnul Walid serta Husain ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Sammak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa seorang lelaki dari kalangan Bani Sulaim bersua dengan sejumlah sahabat Nabi ﷺ yang sedang menggembalakan ternak kambing Nabi ﷺ Lalu lelaki itu mengucapkan salam kepada mereka.
Maka mereka berkata (kepada sesamanya), “Orang ini tidak sekali-kali mengucapkan salam kepada kita melainkan hanya untuk menyelamatkan dirinya dari kita, lalu mereka menyerang dan membunuhnya.
Setelah itu mereka merampas ternak kambing milik lelaki (harbi) itu kepada Nabi ﷺ, lalu turunlah ayat ini,” yaitu firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman., hingga akhir ayat.

Imam Hakim meriwayatkannya melalui jalur Ubaidillah ibnu Musa, dari Israil dengan lafaz yang sama, kemudian ia mengatakan bahwa sanad hadis ini sahih, tetapi keduanya (Bukhari dan Muslim) tidak mengetengahkannya.

Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadis Ubaidillah ibnu Musa dan Abdur Rahim ibnu Sulaiman, keduanya dari Israil dengan lafaz yang sama.
Ibnu Jarir mengatakan dalam salah satu kitabnya selain kitab tafsirnya, bahwa ia telah meriwayatkannya dari jalur Abdur Rahman saja.
Hadis ini menurut kami sahih sanadnya, tetapi adakalanya menurut pendapat orang lain dinilai lemah karena ada beberapa cela yang antara lain ialah tidak diketahui ada seorang mukharrij yang mengetengahkannya dari Sammak, kecuali melalui jalur ini.
Kelemahan lainnya ialah bahwa Ikrimah dalam periwayatan hadisnya menurut pendapat mereka masih perlu dipertimbangkan.
Kelemahan lainnya ialah orang yang diturunkan ayat ini berkenaan dengannya, menurut mereka masih diperselisihkan.
Sebagian dari mereka mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Muhallim ibnu Jusamah, sebagian yang lainnya mengatakan Usamah ibnu Zaid, dan pendapat yang lainnya lagi mengatakan selain itu.

Menurut kami, pendapat ini aneh dan tidak dapat diterima ditinjau dari berbagai segi.
Pertama ialah terbukti bahwa hadis ini diriwayatkan melalui Sammak, dan telah menceritakan darinya banyak orang dari kalangan para imam yang terkenal.
Kedua, bahwa Ikrimah menurut penilaian kitab sahih dapat dijadikan hujah hadisnya.
Ketiga, hadis ini diriwayatkan pula melalui jalur selain jalur ini dari Ibnu Abbas,

Seperti yang dikatakan oleh Imam Bukhari, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr ibnu Dinar, dari Ata, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan ayat ini, yaitu firman-Nya: janganlah kalian mengatakan kepada orang yang mengucapkan ‘salam’ kepada kalian, “Kamu bukan seorang mukmin.” Ibnu Abbas mengatakan bahwa dahulu pernah ada seorang lelaki sedang sibuk mengurus ganimah miliknya, lalu ia dikejar oleh orang-orang muslim, dan ia mengucapkan, “As salamu ‘alaikum” kepada mereka, tetapi mereka membunuhnya dan merampas ganimahnya.
Maka turunlah firman-Nya: janganlah kalian mengatakan kepada orang yang mengucapkan ‘salam’ kepada kalian, “Kamu bukan seorang mukmin.”

Ibnu Abbas mengatakan bahwa harta benda duniawi adalah ganimah itu, dan Ibnu Abbas membacakan firman-Nya, “As-salama.”

Sa’id ibnu Mansur mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mansur, dari Amr ibnu Dinar, dari Ata ibnu Yasar, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa pasukan kaum muslim mengejar seorang lelaki yang sedang mengurus ganimahnya, lalu lelaki itu mengucapkan salam kepada mereka.
Tetapi mereka membunuhnya dan merampas ganimahnya.
Maka turunlah ayat ini, yaitu firman-Nya: dan janganlah kalian mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepada kalian, “Kamu bukan seorang mukmin.”

Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui jalur Sufyan ibnu Uyaynah dengan lafaz yang sama.
Di dalam salah satu turjumah (autobiografi) ada yang tidak disebutkan, yaitu saudara lelakinya yang bernama Fazzar hijrah kepada Rasulullah ﷺ atas perintah ayahnya untuk memberitahukan kepada beliau perihal keislamannya dan keislaman kaumnya.
Tetapi di tengah jalan dalam kegelapan malam ia bersua dengan suatu pasukan Sariyyah Rasulullah ﷺ Padahal ia telah mengucapkan kepada mereka bahwa dirinya adalah orang muslim, tetapi mereka tidak menerimanya, bahkan membunuhnya.
Ayah si terbunuh datang kepada Rasulullah ﷺ untuk melaporkan hal itu, maka Rasulullah ﷺ memberinya seribu dinar dan diat lainnya, lalu menyuruhnya pergi.
Maka turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian pergi (berperang) dijalan Allah.
, hingga akhir ayat.

Adapun mengenai kisah Muhallim ibnu Jusamah, Imam Ahmad mengatakan sehubungan dengannya, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Muhammad ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abdullah ibnu Qasit, dari Al-Qa’qa’ ibnu Abdullah ibnu Abu Hadrad r.a.
yang menceritakan, “Rasulullah ﷺ mengirimkan kami kepada kabilah Adam dalam bentuk suatu pasukan.
Aku ikut dalam pasukan itu yang di dalamnya terdapat Abu Qatadah (yaitu Al-Haris ibnu Rib’i) dan Muhallim ibnu Jusamah ibnu Qais.
Ketika kami sampai di lembah tempat kabilah Adam tinggal, maka bersualah dengan kami Amir ibnul Adbat Al-Asyja’i yang mengendarai untanya seraya membawa sejumlah barang dan air susu.
Ketika hendak berpapasan dengan kami, ia mengucapkan salam kepada kami, maka kami berhenti karenanya, tetapi Muhallim ibnu Jusamah menyerangnya dan langsung membunuhnya karena ada suatu masalah antara mereka berdua.
Lalu Muhallim merampas unta kendaraannya dan semua barang miliknya.
Setelah kami kembali kepada Rasulullah ﷺ dan kami ceritakan kepadanya peristiwa tersebut, maka turunlah firman-Nya:

‘Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian pergi (berperang) di jalan Allah’ —hingga sampai pada firman-Nya— “Maha Mengetahui.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid (menyendiri).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Waki’, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Abu Ishaq, dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ mengirimkan Muhallim ibnu Jusamah bersama suatu pasukan.
Lalu di tengah jalan mereka bersua dengan Amir ibnul Adbat, maka Amir mengucapkan salam penghormatan Islam kepada mereka.
Dahulu di masa Jahiliah pernah terjadi permusuhan di antara mereka.
Maka Muhallim membidiknya dengan anak panah hingga Amir mati.
Berita itu sampai kepada Rasulullah ﷺ Maka Uyaynah dan Al-Aqra’ membicarakan hal tersebut.
Untuk itu ia Al-Aqra’ berkata, “Wahai Rasulullah, kirimkanlah pasukan hari ini dan adakanlah serangan pada keesokan harinya.” Uyaynah berkata, “Tidak, demi Allah, sebelum wanita-wanitanya (istri-istrinya) merasakan kehilangan dia sebagaimana yang dirasakan oleh wanita-wanitaku.” Lalu datanglah Muhallim dengan memakai baju burdah dua lapis.
Ia langsung duduk di hadapan Rasulullah ﷺ dengan maksud meminta maaf kepadanya.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Semoga Allah tidak mengampunimu! Maka Muhallim pergi dalam keadaan menangis dan air matanya membasahi baju burdahnya.
Belum lagi sampai satu minggu, Muhallim meninggal dunia, lalu mereka menguburnya, tetapi bumi menolaknya.
Maka mereka (kaumnya) datang kepada Nabi ﷺ dan menceritakan peristiwa tersebut kepadanya.
Maka beliau ﷺ bersabda: Sesungguhnya bumi ini menerima pula orang yang lebih jahat dari teman kalian itu, tetapi Allah bermaksud memberikan pelajaran kepada kalian.
Kemudian mereka melemparkan jenazahnya ke celah bukit, lalu menimbunnya dengan batu-batuan.
Dan turunlah firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian pergi (berperang) dijalan Allah, maka telitilah.
(An Nisaa:94), hingga akhir ayat.

Imam Bukhari mengatakan bahwa Habib ibnu Abu Amrah pernah meriwayatkan dari Sa’id, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada Al-Miqdad: Apabila seorang lelaki mukmin menyembunyikan imannya karena ia hidup bersama orang-orang kafir, lalu ia menampakkan imannya, tetapi kamu membunuhnya, maka demikian pula halnya kamu ketika di Mekah, kamu menyembunyikan imanmu sebelum itu.

Demikianlah menurut apa yang diketengahkan oleh Imam Bukhari secara mu’allaq lagi singkat.

Akan tetapi, hadis ini diriwayatkan secara panjang lebar lagi mausul.
Untuk itu Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Ali Al-Bagdadi, telah menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Ali ibnu Miqdam, telah menceritakan kepada kami Habib ibnu Abu Amrah, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ mengirimkan suatu sariyyah (pasukan) yang dipimpin oleh Al-Miqdad ibnu Aswad.
Ketika mereka sampai di tempat kaum yang dituju, ternyata mereka tidak menjumpai seorang pun karena semuanya melarikan diri.
Hanya ada seorang lelaki yang tetap tinggal di tempatnya, dia mempunyai banyak harta benda.
Lalu lelaki itu mengucapkan, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.” Akan tetapi, Al-Miqdad tetap menyerangnya dan membunuhnya.
Maka seorang lelaki dari kalangan anak buahnya berkata, “Apakah kamu berani membunuh seseorang yang telah mengucapkan, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah”?
Demi Allah, aku benar-benar akan melaporkannya kepada Nabi ﷺ” Setelah mereka kembali kepada Rasulullah ﷺ, maka mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seorang lelaki yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, lalu lelaki itu dibunuh oleh Al-Miqdad.” Maka beliau ﷺ bersabda, “Panggillah Al-Miqdad menghadapku.” Lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: Hai Miqdad, apakah kamu telah membunuh seorang lelaki yang mengucapkan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah?
Maka bagaimanakah kamu dengan kalimah ‘Tidak ada Tuhan selain Allah’ besok (di hari kiamat)?
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kalian mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepada kalian, “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak.
Begitu pula keadaan kalian dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kalian, maka telitilah.
(An Nisaa:94) Lalu Rasulullah ﷺ bersabda kepada Al-Miqdad: Dia adalah seorang mukmin yang menyembunyikan imannya dari orang-orang kafir, lalu ia menampakkan imannya, tetapi kamu membunuhnya.
Padahal begitu jugalah keadaanmu dahulu di Mekah sebelum itu, kamu menyembunyikan imanmu.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…karena di sisi Allah ada harta yang banyak.

Yakni yang lebih baik dari harta dunia yang kamu inginkan dan yang mendorong kamu untuk membunuh semisal orang yang mengucapkan salam kepadamu itu.
Padahal dia telah menampakkan keimanannya kepada kalian, tetapi kalian tidak mengindahkannya dan menuduhnya hanya sebagai basa-basi untuk menyelamatkan dirinya.
Kamu lakukan hal tersebut dengan tujuan untuk memperoleh harta duniawi.
Ketahuilah bahwa pahala yang ada di sisi Allah jauh lebih baik daripada apa yang kalian inginkan dari harta orang tersebut.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Begitu jugalah keadaan kalian dahulu, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kalian.

Padahal sebelum itu kalian sama dengan orang tersebut yang menyembunyikan imannya dan merahasiakannya dari mata kaumnya, seperti yang telah disebut dalam hadis marfu’ di atas.
Juga semakna dengan apa yang disebut oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
dalam ayat lainnya, yaitu firman-Nya:

Dan ingatlah, ketika kalian masih berjumlah sedikit lagi tertindas di muka bumi (Mekah).
(Al Anfaal:26)

Demikianlah menurut pendapat Sa’id ibnu Jubair, menurut apa yang diriwayatkan oleh As-Sauri, dari Habib ibnu Abu Amrah, dari Sa’id ibnu Jubair tentang firman-Nya: Begitu jugalah keadaan kalian dahulu.
(An Nisaa:94) Yakni kalian menyembunyikan iman kalian dari pengetahuan orang-orang musyrik Mekah.

Abdur Razzaq meriwayatkannya dari Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Kasir, dari Sa’id ibnu Jubair sehubungan dengan makna firman-Nya: Begitu jugalah keadaan kalian dahulu.
(An Nisaa:94) Yaitu kalian menyembunyikan iman kalian sebagaimana penggembala ini menyembunyikan imannya.
Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Qais, dari Salim, dari Sa’id ibnu Jubair sehubungan dengan firman-Nya: Begitu pula keadaan kalian dahulu.
(An Nisaa:94) Yakni kalian belum beriman, lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kalian.
(An Nisaa:94) Maksudnya, mengampuni kalian (karena kalian masuk Islam).
Lalu Usamah bersumpah bahwa ia tidak akan membunuh seseorang yang mengucapkan, “Tidak ada Tuhan selain Allah,” sesudah lelaki tersebut dan sesudah peringatan Rasulullah ﷺ terhadap dirinya sehubungan dengan peristiwa itu.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…maka telitilah.

Makna ayat ini mengukuhkan kalimat sebelumnya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.

Menurut Sa’id ibnu Jubair, dalam firman ini terkandung ancaman dan peringatan.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah An Nisaa' (4) ayat 94
Telah menceritakan kepadaku Ali bin Abdullah Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amru dari Atha dari Ibnu Abbas ra. mengenai firman Allah: Dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: ‘Kamu bukan seorang mu’min. (An Nisa: 94) Ibnu Abbas berkata,
Beberapa orang muslim menemui seseorang yang tengah berada dikambing-kambing miliknya lalu ia mengucapkan: Assalaamu Alaikum. Namun mereka menangkapnya lalu membunuhnya kemudian mengambil kambing-kambing tersebut, hingga ayat, dengan harapan kalian mendapatkan kekayaan dunia, yaitu kambing-kambing itu. Ibnu Abbas membacanya, ‘As Salaama.’

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4225

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 94

Diriwayatkan oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, al-Hakim, dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang laki-laki dari Bani Sulaim yang sedang menggiring dombanya bertemu dengan segolongan shahabat Nabi ﷺ.
Ia mengucapkan salam kepada mereka.
Mereka berkata: “Dia memberi salam untuk menyelamatkan diri dari kita.” Merekapun mengepung dan membunuhnya, serta membawa dombanya kepada Rasulullah ﷺ.
Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 94) sebagai teguran agar berhati-hati dalam melaksanakan suatu hukum.

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dari riwayat lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ mengirim sepasukan tentara di antaranya terdapat al-Miqdad.
Ketika sampai di tempat yang dituju, penghuninya telah lari semua, kecuali seorang yang kaya raya.
Seketika itu juga ia mengucapkan: asyhadu allaa ilaaha illallaah (aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah)”.
Akan tetapi orang itu tetap dibunuh juga oleh al-Miqdad.
Bersabdalah Rasulullah ﷺ kepada al-Miqdad: “Bagaimana pertanggungjawabanmu kelak di akhirat dengan ucapannya, laa ilaaha illallaah (tidak ada tuhan kecuali Allah)?” Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 94) sebagai teguran atas kecerobohan suatu tindakan.

Diriwayatkan oleh Ahmad, ath-Thabarani, dan lain-lain, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Abi Hadrad al-Aslami.
Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Juraij yang bersumber dari Ibnu ‘Umar.
Bahwa Rasulullah ﷺ mengutus suatu pasukan tentara yang diantaranya terdapat Abu Qatadah dan Muhlim bin Jutsamah.
Mereka bertemu dengan ‘Amir bin al-Adlbath al-Asyja’i yang langsung memberi salam kepada mereka.
Akan tetapi (yang memberi salam itu) langsung diterjang dan dibunuh oleh Muhlim.
Kejadian ini disampaikan kepada Nabi ﷺ, dan turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 94) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh ats-Tsa’labi dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari as-Suddi dan ‘Abd, yang bersumber dari Qatadah.
Bahwa nama orang yang dibunuh itu adalah Mirdas bin Nahiq, orang Fadak, dan pembunuhnya adalah Usamah bin Zaid, sedang nama pemimpin pasukan adalah Ghalib bin Fudlalah al-Laitsi.
Dalam riwayat tersebut dikemukakan bahwa ketika kaum Mirdas melarikan diri, tinggallah Mirdas seorang diri sedang menggiring kambing-kambingnya ke gunung.
Ketika orang-orang menyusulnya ia mengucapkan “laa ilaaha illallaahu muhammadur rasuulullaah.
As-salaamu ‘alaikum (tidak ada tuhan kecuali Allah, Muhammad adalah utusan Allah.
Semoga keselamatan diberikan kepada kalian).” Tetapi ia dibunuh juga oleh Usamah bin Zaid.
Dan ketika mereka pulang, turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 94) sebagai teguran atas tindakannya yang ceroboh.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Luhai’ah, dari Abuz Zubair, yang bersumber dari Jabir.
Hadits ini sebagai syahid (penguat) yang bertingkat hasan.
Bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 94) berkenaan dengan peristiwa Mirdas.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dari Juz’in bin al-Hadrajan bahwa Miqdad diutus kepada Nabi ﷺ dari Yaman.
Ia bertemu dengan suatu pasukan Nabi ﷺ, dan ia berkata: “Saya seorang mukmin.” Namun mereka tidak mengakui keimanannya, dan membunuhnya.
Peristiwa tersebut sampai pada Juz’in bin al-Hadrajan (Saudara Miqdad) yang langsung menghadap Rasulullah ﷺ.
Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 94).
Lalu Rasulullah ﷺ memberikan diat kepada Juz’in bin al-Hadrajan.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 94 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 94



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.8
Rating Pembaca: 5 (1 vote)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku