Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 90 [QS. 4:90]

اِلَّا الَّذِیۡنَ یَصِلُوۡنَ اِلٰی قَوۡمٍۭ بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَہُمۡ مِّیۡثَاقٌ اَوۡ جَآءُوۡکُمۡ حَصِرَتۡ صُدُوۡرُہُمۡ اَنۡ یُّقَاتِلُوۡکُمۡ اَوۡ یُقَاتِلُوۡا قَوۡمَہُمۡ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ لَسَلَّطَہُمۡ عَلَیۡکُمۡ فَلَقٰتَلُوۡکُمۡ ۚ فَاِنِ اعۡتَزَلُوۡکُمۡ فَلَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ وَ اَلۡقَوۡا اِلَیۡکُمُ السَّلَمَ ۙ فَمَا جَعَلَ اللّٰہُ لَکُمۡ عَلَیۡہِمۡ سَبِیۡلًا
Ilaal-ladziina yashiluuna ila qaumin bainakum wabainahum miitsaaqun au jaa-uukum hashirat shuduuruhum an yuqaatiluukum au yuqaatiluu qaumahum walau syaa-allahu lasallathahum ‘alaikum falaqaataluukum fa-inii’tazaluukum falam yuqaatiluukum waalqau ilaikumussalama famaa ja’alallahu lakum ‘alaihim sabiilaa;
kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada suatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang yang datang kepadamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu atau memerangi kaumnya.
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya diberikan-Nya kekuasaan kepada mereka (dalam) menghadapi kamu, maka pastilah mereka memerangimu.
Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangimu serta menawarkan perdamaian kepadamu (menyerah), maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.
―QS. An Nisaa’ [4]: 90

Except for those who take refuge with a people between yourselves and whom is a treaty or those who come to you, their hearts strained at (the prospect of) fighting you or fighting their own people.
And if Allah had willed, He could have given them power over you, and they would have fought you.
So if they remove themselves from you and do not fight you and offer you peace, then Allah has not made for you a cause (for fighting) against them.
― Chapter 4. Surah An Nisaa‘ [verse 90]

إِلَّا kecuali

Except
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

those who
يَصِلُونَ (mereka) mengadakan hubungan

join
إِلَىٰ kepada

[to]
قَوْمٍۭ kaum

a group
بَيْنَكُمْ antara kamu

between you
وَبَيْنَهُم dan antara mereka

and between them
مِّيثَٰقٌ perjanjian

(is) a treaty
أَوْ atau

or
جَآءُوكُمْ mereka datang kepadamu

those who come to you
حَصِرَتْ terkepung/merasa berat

restraining
صُدُورُهُمْ dada/hati mereka

their hearts
أَن akan

that
يُقَٰتِلُوكُمْ mereka membunuh kamu

they fight you
أَوْ atau

or
يُقَٰتِلُوا۟ mereka memerangi

they fight
قَوْمَهُمْ kaum mereka

their people.
وَلَوْ dan kalau

And if
شَآءَ menghendaki

(had) willed
ٱللَّهُ Allah

Allah,
لَسَلَّطَهُمْ tentu memberi kekuasaan kepada mereka

surely He (would have) given them power
عَلَيْكُمْ atas kalian

over you,
فَلَقَٰتَلُوكُمْ maka pasti mereka memerangi kamu

and surely they (would have) fought you.
فَإِنِ maka/tetapi jika

So if
ٱعْتَزَلُوكُمْ mereka membiarkan kamu

they withdraw from you
فَلَمْ maka tidak

and (do) not
يُقَٰتِلُوكُمْ mereka memerangi kamu

fight against you
وَأَلْقَوْا۟ dan mereka mengemukakan

and offer
إِلَيْكُمُ kepadamu

to you
ٱلسَّلَمَ perdamaian

[the] peace

Tafsir

Alquran

Surah An Nisaa’
4:90

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 90. Oleh Kementrian Agama RI


Diperintahkan kepada kaum Muslimin agar tindakan
"menawan dan membunuh"
itu tidak dilakukan kepada orang-orang seperti berikut:


Pertama:
Orang-orang kafir yang meninggalkan kelompok mereka semula yang memusuhi Islam dan kaum Muslimin, kemudian mereka pergi minta perlindungan kepada kelompok orang-orang kafir lain yang telah mengadakan perjanjian damai dengan kaum Muslimin.
Dalam hal ini kaum Muslimin tidak diperbolehkan menawan atau membunuh mereka sebab mereka telah disamakan hukumnya dengan orang-orang kafir tempat mereka berlindung yang telah mengadakan perjanjian damai dengan Muslimin.

Kaum Muslimin harus menghormati perjanjian damai yang telah dibuat, sekalipun dengan orang kafir selama mereka tidak melanggarnya.


Kedua:
Orang-orang kafir yang datang kepada kaum Muslimin untuk mengadakan perdamaian.

Mereka tidak mau memerangi kaum Muslimin;
karena keinginan mereka untuk berdamai.
Mereka juga tidak bersedia membantu kaum Muslimin untuk memerangi orang-orang kafir lainnya, karena kemungkinan orang-orang kafir ini masih kaum kerabat mereka, atau sebagian keluarga mereka masih tinggal bersama orang-orang kafir tersebut.

Orang yang semacam ini juga tidak boleh ditawan dan dibunuh oleh kaum Muslimin.


Dari ketentuan ini dapat dilihat betapa adilnya hukum Alquran.

Kaum Muslimin harus menghormati perjanjian atau persetujuan yang telah dibuat dengan orang-orang kafir selama mereka tetap menghormati dan menepati isi perjanjian itu.


Boleh jadi terasa berat bagi sebagian Muslimin untuk menahan diri tidak memerangi kedua golongan tersebut, misalnya karena melihat kenyataan bahwa mereka masih berada dalam masyarakat kafir, atau karena mereka tidak bersedia membantu Muslimin dalam memerangi kaum kafir lainnya yang memusuhi mereka.

Oleh sebab itu ayat ini mengingatkan kaum Muslimin kepada rahmat-Nya bahwa ia telah melenyapkan bahaya yang mungkin timbul dari orang-orang tersebut terhadap Muslimin.
Andaikata Allah menghendaki, niscaya Dia memberikan kekuatan kepada orang kafir tersebut untuk memerangi kaum Muslimin, misalnya dengan menunjukkan kepada mereka kelemahan kaum Muslimin, yang memungkinkan orang kafir itu memerangi dan mengalahkan Muslimin.

Tetapi Allah Maha Pengasih telah melimpahkan rahmat-Nya, sehingga berbagai bahaya tersebut tidak terjadi.
Sebagai imbalannya, kaum Muslimin harus menahan diri terhadap mereka.


Pada akhir ayat ini ditegaskan kembali larangan-Nya kepada kaum Muslimin untuk menawan dan membunuh orang-orang kafir dari kedua golongan tersebut di atas, apabila mereka benar-benar tidak memusuhi Islam dan kaum Muslimin dan selalu memelihara perdamaian.
Apabila Muslimin memerangi mereka, mungkin hal itu akan menggerakkan mereka untuk menyusun kekuatan guna menghadapi Muslimin.
Ayat ini merupakan dasar
"hukum suaka politik"
dalam Islam.

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 90. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Karena merusak persatuan masyarakat Muslim, semua orang munafik itu berhak diperangi, kecuali mereka yang mempunyai hubungan dengan suatu bangsa yang telah mengadakan perjanjian dengan umat Islam untuk tidak saling membunuh antara masing-masing anggota dua kelompok itu.
Juga mereka yang bimbang:
apakah ikut bergabung bersama orang-orang munafik yang merupakan musuh umat Islam, sementara tidak ada perjanjian untuk itu, atau bergabung perang bersama kelompok umat Islam?
Larangan memerangi kelompok pertama didasarkan pada adanya ikatan perjanjian, sedang kelompok kedua dilakukan karena mereka sedang berada di dalam kesulitan.


Seandainya Allah berkehendak, niscaya Dia akan menjadikan mereka memerangi kalian.
Dan jika mereka menghendaki perdamaian, maka tidak ada jalan bagimu untuk memerangi mereka.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Orang-orang yang masih ada hubungan perjanjian dengan kalian, jangan memerangi mereka.
Demikian pula orang-orang yang datang kepadamu dengan dada yang sempit dan tidak suka memerangi kalian.


Sebagaimana mereka tidak menyukai memerangi kaum mereka sendiri, mereka tidak bersama kalian dan tidak pula bersama kaum mereka, maka jangan memerangi mereka.
Seandainya Allah berkehendak niscaya Allah akan menguasakan mereka atas kalian, dan selanjutnya mereka akan memerangi kalian bersama orang-orang musyrikin yang menjadi musuh bagi kalian.


Akan tetapi Allah memalingkan mereka dari kalian dengan kuasa dan karunia-Nya.
Bila mereka membiarkan kalian, tidak memerangi kalian dan tunduk berserah diri kepada kalian, maka kalian tidak mempunyai alasan untuk memerangi mereka.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Kecuali orang-orang yang menghubungi) maksudnya minta perlindungan


(kepada suatu kaum yang antara kamu dengan mereka ada perjanjian damai) termasuk dengan sekutu-sekutu mereka sebagaimana pernah terjadi antara Nabi ﷺ dengan Hilal bin Uwaimir Al-Aslami


(atau) orang-orang yang


(datang kepadamu) sedangkan


(hati mereka merasa keberatan) untuk


(memerangimu) bersama kaum mereka


(atau memerangi kaum mereka) bersama kamu, artinya tak mau berperang dengan kamu maupun dengan kaum mereka, maka janganlah kamu tawan atau bunuh mereka.
Ini berikut yang sesudahnya dinasakhkan oleh ayat perang.


(Sekiranya Allah menghendaki) agar mereka menguasaimu


(tentulah Dia akan menjadikan mereka berkuasa atasmu) yaitu dengan menguatkan hati mereka


(sehingga pastilah mereka memerangimu) tetapi Allah tiada menghendaki demikian, maka ditiupkan-Nya ke dalam hati mereka rasa takut dan ciut.


(Tetapi jika mereka membiarkanmu dan tidak memerangi kamu hanya menyatakan perdamaian kepadamu) artinya mereka tunduk


(maka Allah tidaklah memberi jalan kepadamu) untuk menawan dan membunuh mereka.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Dalam firman selanjutnya Allah mengecualikan dari mereka orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu:

kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada suatu kaum yang antara kalian dan kaum itu telah ada perjanjian (damai).

Yaitu kecuali orang-orang yang berlindung dan berpihak kepada kaum yang antara kalian dan mereka telah ada perjanjian gencatan senjata atau perjanjian damai, maka jadikanlah hukum mereka sama dengan hukum kaum yang berdamai dengan kalian itu.
Demikianlah menurut pendapat As-Saddi, Ibnu Zaid, dan Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid ibnu Jadan, dari Al-Hasan, bahwa Suraqah ibnu Malik Al-Mudlaji telah menceritakan kepada kami bahwa sesudah Nabi ﷺ mengalami kemenangan dalam Perang Badar dan Uhud, semua orang yang berada di sekitarnya masuk Islam.
Suraqah mendengar berita bahwa Nabi ﷺ akan mengirimkan Khalid ibnul Walid bersama sejumlah pasukan untuk menyerang kaumku, Banil Mudlaj.
Maka aku datang menghadap Nabi ﷺ dan berkata,
"Aku memohon kepadamu ampunan."
Mereka (para sahabat) berkata,
"Diamlah kamu!"
Nabi ﷺ bersabda,
"Biarkanlah dia.
Apakah yang dikehendakinya?"
Suraqah berkata,
"Telah sampai suatu berita kepadaku bahwa engkau akan mengirimkan pasukan kepada kaumku, sedangkan aku bermaksud hendaknya engkau bersikap simpati terhadap mereka.
Karena jika kaummu (Quraisy) masuk Islam, mereka pun pasti masuk Islam, jika kaummu tidak mau masuk Islam, maka hati kaummu tidak membenci mereka."
Lalu Rasulullah ﷺ memegang tangan Khalid ibnul Walid dan bersabda,
"Pergilah kamu bersamanya dan lakukanlah apa yang dikehendakinya."
Maka Khalid berdamai dengan mereka dengan syarat mereka tidak boleh membantu musuh Rasulullah ﷺ untuk melawan Rasulullah ﷺ, dan jika kabilah Quraisy masuk Islam, mereka bersedia masuk Islam bersama-sama kabilah Quraisy.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:

…Mereka ingin supaya kalian menjadi kafir sebagaimana mereka telah kafir, lalu kalian menjadi sama (dengan mereka).
Maka janganlah kalian jadikan di antara mereka penolong-penolong (kalian).


Ibnu Murdawaih meriwayatkannya melalui jalur Hammad ibnu Salamah, yang di dalamnya disebutkan bahwa setelah itu Allah menurunkan firman-Nya:

Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kalian dan kaum itu telah ada perjanjian (damai).
Tersebutlah bahwa setiap orang yang bergabung dengan mereka, ia dihukumi sama dengan mereka dan berada dalam perjanjian tersebut.
Hal ini lebih sesuai dengan konteks pembicaraan ayat.


Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan dalam kisah Perjanjian Hudaibiyah, bahwa orang yang ingin selamat boleh masuk ke dalam perjanjian orang-orang Quraisy dan perdamaiannya jika ia suka.
Seseorang jika suka boleh memasuki perjanjian damai Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya.

Tetapi telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia mengatakan sehubungan dengan masalah ini.
Ayat ini telah dimansukh oleh firman-Nya:

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kalian jumpai mereka.
(QS. At-Taubah [9]: 5), hingga akhir ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

atau orang-orang yang datang kepada kalian, sedangkan hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kalian dan memerangi kaumnya..
hingga akhir ayat.

Mereka adalah kaum lain yang dikecualikan dari perintah memerangi mereka.
Mereka adalah orang-orang yang datang ke barisan pasukan kaum muslim, lalu bergabung dengan kaum muslim, tetapi hati mereka merasa berkeberatan dan tidak suka memerangi kalian, hati mereka berkeberatan pula bila disuruh memerangi kaumnya bersama kalian.
Sikap mereka tidak menguntungkan kalian dan tidak pula membahayakan kalian.

Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kalian, lalu pastilah mereka memerangi kalian.

Yakni di antara belas kasihan Allah kepada kalian ialah Dia mencegah mereka untuk tidak memerangi kalian.

Tetapi jika mereka membiarkan kalian dan tidak memerangi kalian serta mengemukakan perdamaian kepada kalian.

Yaitu mengadakan perjanjian damai dengan kalian.

maka Allah tidak memberi jalan bagi kalian (untuk menawan dan membunuh) mereka.

Tiada alasan bagi kalian untuk memerangi mereka selagi mereka bersikap demikian.


Mereka seperti segolongan orang yang berangkat menuju medan Perang Badar dari kalangan musyrik.
Mereka ikut dalam peperangan tersebut, padahal hati mereka benci terhadap peperangan itu, seperti Al-Abbas (paman Nabi ﷺ) dan lain-lainnya.
Karena itulah pada hari itu Nabi ﷺ melarang Al-Abbas dibunuh, melainkan memerintahkan agar ia ditawan saja.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 90

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari al-Hasan bahwa Suraqah bin Malik al-Nabi ﷺ mendapat kemenangan dalam perang Badr dan Uhud, dan orang-orang di sekitar Madinah masuk Islam, ia mendengar berita bahwa Nabi akan mengirim pasukan Khalid bin al-Walid kepada kaumnyua (Rasulullah ﷺ dan berkata: “Saya mohon perlindungan tuan dengan sungguh-sungguh, agar tuan mengadakan perdamaian denga kaumku, karena telah sampai berita kepadaku bahwa tuan akan mengirim pasukan kepada kaumku.
Sekiranya kaum Quraisy tunduk, maka kaumku pun akan tunduk dan masuk Islam.
Akan tetapi jika kau Quraisy belum tunduk, pasti mereka akan menyerang dan mengalahkan kaumku.”

Kemudian Rasulullah ﷺ memegang tangan Khalid bin al-Walid seraya bersabda: “Berangkatlah dengan orang ini dan kerjakan apa yang dikehendakinya.” Kemudian Khalid membuat perdamaian dengan mereka supaya tidak berkomplot memerangi Rasulullah dan akan tunduk apabila kaum Quraisy telah tunduk.
Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 90) berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melarang kaum Muslimin memerangi orang-orang yang telah membuat perdamaian.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 90) berkenaan dengan Hilal bin ‘Uwaimir al-Aslami, Suraqah bin Malik al-Nabi ﷺ.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Mujahid bahwa turunnya ayat ini (al-Nisaa’: 90) berkenaan dengan Hilal bin ‘Uwaimir al-Aslami, yang telah mengadakan perjanjian dengan kaum Muslimin.
Tetapi kaumnya ingin berperang.
‘Uwaimir tidak menghendaki perang dengan kaum Muslimin, ataupun memerangi kaumnya.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah An Nisaa’ (النّساء)

Surat An-Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al-Baqarah.

Dinamakan An Nisaa‘ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath-Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa‘ dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Al Kubraa" (surat An Nisaa‘ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Ash Shughraa" (surat An Nisaa‘ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

▪ Kewajiban para washi dan para wali.
Hukum poligami.
▪ Mas kawin.
▪ Memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya.
▪ Pokok-pokok hukum warisan.
▪ Perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya.
▪ Wanita-wanita yang haram dikawini.
Hukum mengawini budak wanita.
▪ Larangan memakan harta secara bathil.
Hukum syiqaq dan nusyuz.
▪ Kesucian lahir batin dalam shalat.
Hukum suaka.
Hukum membunuh seorang Islam.
Shalat khauf‘.
▪ Larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk.
▪ Masalah pusaka kalalah.

Kisah:

▪ Kisah-kisah tentang nabi Musa `alaihis salam dan pengikutnya.

Lain-lain:

▪ Asal manusia adalah satu.
▪ Keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita.
Normanorma bergaul dengan isteri.
▪ Hak seseorang sesuai dengan kewajibannya.
▪ Perlakuan ahli kitab terhadap kitabkitab yang diturunkan kepadanya.
▪ Dasar-dasar pemerintahan.
▪ Cara mengadili perkara.
▪ Keharusan siap-siaga terhadap musuh.
▪ Sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi peperangan.
▪ Berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf.
Norma dan adab dalam peperangan.
▪ Cara menghadapi orang-orang munafik.
▪ Derajat orang yang berjihad.

Audio

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan Indonesia

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 176

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nisaa' ayat 90 - Gambar 1 Surah An Nisaa' ayat 90 - Gambar 2
Statistik QS. 4:90
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa’.

Surah An-Nisa’ (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, “Wanita”) terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa’
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali ‘Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma’idah
Sending
User Review
4.8 (16 votes)
Tags:

4:90, 4 90, 4-90, Surah An Nisaa' 90, Tafsir surat AnNisaa 90, Quran AnNisa 90, An-Nisa’ 90, Surah An Nisa ayat 90

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Ayat Lainnya

QS. Al Waaqi’ah (Hari Kiamat) – surah 56 ayat 25 [QS. 56:25]

25-26. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia, seperti gurauan atau perkataan yang tidak bermanfaat, dan tidak pula mereka mendengar perkataan yang menimbulkan dosa. Tetapi, di dala … 56:25, 56 25, 56-25, Surah Al Waaqi’ah 25, Tafsir surat AlWaaqiah 25, Quran Al Waqiah 25, AlWaqiah 25, Al-Waqi’ah 25, Surah Al Waqiah ayat 25

QS. Al Hadid (Besi) – surah 57 ayat 27 [QS. 57:27]

27. Sesudah Nabi Nuh dan Ibrahim, kemudian Kami susulkan rasul-rasul Kami untuk mengikuti jejak mereka, yaitu dengan mengajak umatnya beriman dan mentaati perintah-Nya, dan Kami susulkan pula Isa putr … 57:27, 57 27, 57-27, Surah Al Hadid 27, Tafsir surat AlHadid 27, Quran Al-Hadid 27, Surah Al Hadid ayat 27

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Berikut ulama yang berasal dari Indonesia adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Ilmu yang bermanfaat adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Menyampaikan ajaran Alquran dan sunnah Nabi Muhammad kepada orang lain yang belum mengetahui disebut dengan ...

Benar! Kurang tepat!

+

Sesuatu yang dipercaya dan diyakini kebenaranya oleh hati nurani manusia dinamakan ...

Benar! Kurang tepat!

Umat Islam yang mengajarkan ilmunya dengan ikhlas akan memperoleh pahala amal jariyah. Amal jariyah artinya ...

Benar! Kurang tepat!

Kuis Agama Islam #31
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Kuis Agama Islam #31 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Kuis Agama Islam #31 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #26

Jumlah surah-surah dalam Alquran adalah … 155 100 150 114 154 Benar! Kurang tepat! Surah yang terpanjang dalam Alquran adalah

Pendidikan Agama Islam #18

Turunnya surah Ad-Dhuha menunjukkan…..kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. penghormatan Allah SWT musibah dari Allah SWT ujian Allah SWT

Pendidikan Agama Islam #2

Sifat adil Allah berlaku untuk … jin orang miskin yang pandai bersyukur semua ciptaan Allah orang kafir yang senang menolong

Instagram