Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 90


اِلَّا الَّذِیۡنَ یَصِلُوۡنَ اِلٰی قَوۡمٍۭ بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَہُمۡ مِّیۡثَاقٌ اَوۡ جَآءُوۡکُمۡ حَصِرَتۡ صُدُوۡرُہُمۡ اَنۡ یُّقَاتِلُوۡکُمۡ اَوۡ یُقَاتِلُوۡا قَوۡمَہُمۡ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ لَسَلَّطَہُمۡ عَلَیۡکُمۡ فَلَقٰتَلُوۡکُمۡ ۚ فَاِنِ اعۡتَزَلُوۡکُمۡ فَلَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ وَ اَلۡقَوۡا اِلَیۡکُمُ السَّلَمَ ۙ فَمَا جَعَلَ اللّٰہُ لَکُمۡ عَلَیۡہِمۡ سَبِیۡلًا
Ilaal-ladziina yashiluuna ila qaumin bainakum wabainahum miitsaaqun au jaa-uukum hashirat shuduuruhum an yuqaatiluukum au yuqaatiluu qaumahum walau syaa-allahu lasallathahum ‘alaikum falaqaataluukum fa-inii’tazaluukum falam yuqaatiluukum waalqau ilaikumussalama famaa ja’alallahu lakum ‘alaihim sabiilaa;

kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya.
Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu.
tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.
―QS. 4:90
Topik ▪ Iman ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala ▪ Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga
4:90, 4 90, 4-90, An Nisaa’ 90, AnNisaa 90, AnNisa 90, An-Nisa’ 90
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 90. Oleh Kementrian Agama RI

Diperintahkan kepada kaum Muslimin agar tindakan “menawan dan membunuh” itu tidak dilakukan kepada orang-orang seperti berikut:

Pertama:
Orang-orang kafir yang meninggalkan kelompok mereka semula yang memusuhi Islam dan kaum muslimin, kemudian mereka pergi minta perlindungan kepada kelompok orang-orang kafir lain yang telah mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin.
Dalam hal ini kaum muslimin tidak diperbolehkan menawan atau membunuh mereka sebab mereka telah dipersamakan hukumnya dengan orang-orang kafir tempat mereka berlindung yang telah mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin.
Kaum muslimin harus menghormati perjanjian damai yang telah dibuat, walau dengan orang kafir sekalipun selama mereka tidak melanggarnya.

Kedua:
Orang-orang kafir yang datang kepada kaum muslimin untuk mengadakan perdamaian.
Mereka ini tidak mau memerangi kaum muslimin karena keinginan mereka untuk berdamai.
Dalam pada itu mereka juga tidak bersedia membantu kaum muslimin untuk memerangi orang-orang kafir lainnya, karena kemungkinan orang-orang kafir ini masih kaum kerabat mereka, atau sebahagian keluarga mereka masih tinggal bersama orang tersebut.
Orang-orang yang semacam ini juga tidak boleh ditawan dan dibunuh oleh kaum muslimin.
Dari ketentuan-ketentuan ini dapat dilihat betapa adilnya hukum-hukum Alquran.
Kaum muslimin harus menghormati perjanjian atau persetujuan yang telah dibuatnya dengan orang-orang kafir selama mereka tetap menghormati dan menepati isi perjanjian.
itu.
Boleh jadi terasa berat bagi sebagian kaum muslimin untuk menahan diri terhadap kedua golongan tersebut di atas, misalnya karena melihat kenyataan bahwa mereka itu masih berada.
dalam masyarakat orang-orang kafir, atau karena mereka tidak bersedia membantu kaum muslimin dalam memerangi kaum kafir lainnya yang memusuhi mereka.
Oleh sebab itu Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan kaum muslimin kepada rahmat Nya bahwa la telah melenyapkan bahaya yang mungkin timbul dari orang-orang tersebut terhadap kaum muslimin.
Andaikata Allah menghendaki, niscaya la memberikan kekuatan kepada orang-orang kafir tersebut untuk memerangi kaum muslimin, misalnya dengan menunjukkan kepada mereka kelemahan-kelemahan kaum muslimin, yang memungkinkan orang-orang kafir itu memerangi dan mengalahkan kaum muslimin.
Akan tetapi Allah subhanahu wa ta’ala telah melimpahkan rahmat Nya, sehingga bahaya-bahaya tersebut tidak terjadi.
Sebagai imbalannya, kaum muslimin harus menahan diri terhadap mereka.

Pada akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan kembali larangan Nya kepada kaum muslimin.
untuk menawan dan membunuh orang-orang kafir dari kedua golongan tersebut di atas, apabila mereka benar-benar tidak memusuhi Islam dan kaum muslimin dan selalu memelihara perdamaian.
Apabila kaum muslimin memerangi mereka, mungkin hal itu akan menggerakkan mereka untuk menyusun kekuatan guna menghadapi kaum muslimin.
Ayat ini merupakan dasar “hukum suaka” dalam Islam.

An Nisaa' (4) ayat 90 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 90 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 90 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Karena merusak persatuan masyarakat Muslim, semua orang munafik itu berhak diperangi, kecuali mereka yang mempunyai hubungan dengan suatu bangsa yang telah mengadakan perjanjian dengan umat Islam untuk tidak saling membunuh antara masing-masing anggota dua kelompok itu.
Juga mereka yang bimbang:
apakah ikut bergabung bersama orang-orang munafik yang merupakan musuh umat Islam, sementara tidak ada perjanjian untuk itu, atau bergabung perang bersama kelompok umat Islam?
Larangan memerangi kelompok pertama didasarkan pada adanya ikatan perjanjian, sedang kelompok kedua dilakukan karena mereka sedang berada di dalam kesulitan.
Seandainya Allah berkehendak, niscaya Dia akan menjadikan mereka memerangi kalian.
Dan jika mereka menghendaki perdamaian, maka tidak ada jalan bagimu untuk memerangi mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Kecuali orang-orang yang menghubungi) maksudnya minta perlindungan (kepada suatu kaum yang antara kamu dengan mereka ada perjanjian damai) termasuk dengan sekutu-sekutu mereka sebagaimana pernah terjadi antara Nabi ﷺ dengan Hilal bin Uwaimir Al-Aslami (atau) orang-orang yang (datang kepadamu) sedangkan (hati mereka merasa keberatan) untuk (memerangimu) bersama kaum mereka (atau memerangi kaum mereka) bersama kamu, artinya tak mau berperang dengan kamu maupun dengan kaum mereka, maka janganlah kamu tawan atau bunuh mereka.
Ini berikut yang sesudahnya dinasakhkan oleh ayat perang.
(Sekiranya Allah menghendaki) agar mereka menguasaimu (tentulah Dia akan menjadikan mereka berkuasa atasmu) yaitu dengan menguatkan hati mereka (sehingga pastilah mereka memerangimu) tetapi Allah tiada menghendaki demikian, maka ditiupkan-Nya ke dalam hati mereka rasa takut dan ciut.
(Tetapi jika mereka membiarkanmu dan tidak memerangi kamu hanya menyatakan perdamaian kepadamu) artinya mereka tunduk (maka Allah tidaklah memberi jalan kepadamu) untuk menawan dan membunuh mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Orang-orang yang masih ada hubungan perjanjian dengan kalian, jangan memerangi mereka.
Demikian pula orang-orang yang datang kepadamu dengan dada yang sempit dan tidak suka memerangi kalian.
Sebagaimana mereka tidak menyukai memerangi kaum mereka sendiri, mereka tidak bersama kalian dan tidak pula bersama kaum mereka, maka jangan memerangi mereka.
Seandainya Allah berkehendak niscaya Allah akan menguasakan mereka atas kalian, dan selanjutnya mereka akan memerangi kalian bersama orang-orang musyrikin yang menjadi musuh bagi kalian.
Akan tetapi Allah memalingkan mereka dari kalian dengan kuasa dan karunia-Nya.
Bila mereka membiarkan kalian, tidak memerangi kalian dan tunduk berserah diri kepada kalian, maka kalian tidak mempunyai alasan untuk memerangi mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Dalam firman selanjutnya Allah mengecualikan dari mereka orang-orang yang disebutkan dalam ayat ini, yaitu:

kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada suatu kaum yang antara kalian dan kaum itu telah ada perjanjian (damai).

Yaitu kecuali orang-orang yang berlindung dan berpihak kepada kaum yang antara kalian dan mereka telah ada perjanjian gencatan senjata atau perjanjian damai, maka jadikanlah hukum mereka sama dengan hukum kaum yang berdamai dengan kalian itu.
Demikianlah menurut pendapat As-Saddi, Ibnu Zaid, dan Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Ali ibnu Zaid ibnu Jadan, dari Al-Hasan, bahwa Suraqah ibnu Malik Al-Mudlaji telah menceritakan kepada kami bahwa sesudah Nabi ﷺ mengalami kemenangan dalam Perang Badar dan Uhud, semua orang yang berada di sekitarnya masuk Islam.
Suraqah mendengar berita bahwa Nabi ﷺ akan mengirimkan Khalid ibnul Walid bersama sejumlah pasukan untuk menyerang kaumku, Banil Mudlaj.
Maka aku datang menghadap Nabi ﷺ dan berkata, “Aku memohon kepadamu ampunan.” Mereka (para sahabat) berkata, “Diamlah kamu!” Nabi ﷺ bersabda, “Biarkanlah dia.
Apakah yang dikehendakinya?”
Suraqah berkata, “Telah sampai suatu berita kepadaku bahwa engkau akan mengirimkan pasukan kepada kaumku, sedangkan aku bermaksud hendaknya engkau bersikap simpati terhadap mereka.
Karena jika kaummu (Quraisy) masuk Islam, mereka pun pasti masuk Islam, jika kaummu tidak mau masuk Islam, maka hati kaummu tidak membenci mereka.” Lalu Rasulullah ﷺ memegang tangan Khalid ibnul Walid dan bersabda, “Pergilah kamu bersamanya dan lakukanlah apa yang dikehendakinya.” Maka Khalid berdamai dengan mereka dengan syarat mereka tidak boleh membantu musuh Rasulullah ﷺ untuk melawan Rasulullah ﷺ, dan jika kabilah Quraisy masuk Islam, mereka bersedia masuk Islam bersama-sama kabilah Quraisy.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:

…Mereka ingin supaya kalian menjadi kafir sebagaimana mereka telah kafir, lalu kalian menjadi sama (dengan mereka).
Maka janganlah kalian jadikan di antara mereka penolong-penolong (kalian).

Ibnu Murdawaih meriwayatkannya melalui jalur Hammad ibnu Salamah, yang di dalamnya disebutkan bahwa setelah itu Allah menurunkan firman-Nya:

Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kalian dan kaum itu telah ada perjanjian (damai).
Tersebutlah bahwa setiap orang yang bergabung dengan mereka, ia dihukumi sama dengan mereka dan berada dalam perjanjian tersebut.
Hal ini lebih sesuai dengan konteks pembicaraan ayat.

Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan dalam kisah Perjanjian Hudaibiyah, bahwa orang yang ingin selamat boleh masuk ke dalam perjanjian orang-orang Quraisy dan perdamaiannya jika ia suka.
Seseorang jika suka boleh memasuki perjanjian damai Nabi Muhammad ﷺ dan para sahabatnya.

Tetapi telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia mengatakan sehubungan dengan masalah ini.
Ayat ini telah dimansukh oleh firman-Nya:

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrik itu di mana saja kalian jumpai mereka.
(At Taubah:5), hingga akhir ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

atau orang-orang yang datang kepada kalian, sedangkan hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kalian dan memerangi kaumnya..
hingga akhir ayat.

Mereka adalah kaum lain yang dikecualikan dari perintah memerangi mereka.
Mereka adalah orang-orang yang datang ke barisan pasukan kaum muslim, lalu bergabung dengan kaum muslim, tetapi hati mereka merasa berkeberatan dan tidak suka memerangi kalian, hati mereka berkeberatan pula bila disuruh memerangi kaumnya bersama kalian.
Sikap mereka tidak menguntungkan kalian dan tidak pula membahayakan kalian.

Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kalian, lalu pastilah mereka memerangi kalian.

Yakni di antara belas kasihan Allah kepada kalian ialah Dia mencegah mereka untuk tidak memerangi kalian.

Tetapi jika mereka membiarkan kalian dan tidak memerangi kalian serta mengemukakan perdamaian kepada kalian.

Yaitu mengadakan perjanjian damai dengan kalian.

maka Allah tidak memberi jalan bagi kalian (untuk menawan dan membunuh) mereka.

Tiada alasan bagi kalian untuk memerangi mereka selagi mereka bersikap demikian.

Mereka seperti segolongan orang yang berangkat menuju medan Perang Badar dari kalangan Bani Hasyim yang ikut bersama pasukan kaum musyrik.
Mereka ikut dalam peperangan tersebut, padahal hati mereka benci terhadap peperangan itu, seperti Al-Abbas (paman Nabi ﷺ) dan lain-lainnya.
Karena itulah pada hari itu Nabi ﷺ melarang Al-Abbas dibunuh, melainkan memerintahkan agar ia ditawan saja.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 90

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari al-Hasan bahwa Suraqah bin Malik al-Mud-laji bercerita, ketika Nabi ﷺ mendapat kemenangan dalam perang Badr dan Uhud, dan orang-orang di sekitar Madinah masuk Islam, ia mendengar berita bahwa Nabi akan mengirim pasukan Khalid bin al-Walid kepada kaumnyua (Bani Mud-laj).
Ia menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata: “Saya mohon perlindungan tuan dengan sungguh-sungguh, agar tuan mengadakan perdamaian denga kaumku, karena telah sampai berita kepadaku bahwa tuan akan mengirim pasukan kepada kaumku.
Sekiranya kaum Quraisy tunduk, maka kaumku pun akan tunduk dan masuk Islam.
Akan tetapi jika kau Quraisy belum tunduk, pasti mereka akan menyerang dan mengalahkan kaumku.” Kemudian Rasulullah ﷺ memegang tangan Khalid bin al-Walid seraya bersabda: “Berangkatlah dengan orang ini dan kerjakan apa yang dikehendakinya.” Kemudian Khalid membuat perdamaian dengan mereka supaya tidak berkomplot memerangi Rasulullah dan akan tunduk apabila kaum Quraisy telah tunduk.
Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 90) berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melarang kaum Muslimin memerangi orang-orang yang telah membuat perdamaian.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 90) berkenaan dengan Hilal bin ‘Uwaimir al-Aslami, Suraqah bin Malik al-Mud-laji, dan Bani Judzaimah bin ‘Amir bin ‘Abdi Manaf yang telah mengadakan perdamaian dengan Nabi ﷺ.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Mujahid bahwa turunnya ayat ini (al-Nisaa’: 90) berkenaan dengan Hilal bin ‘Uwaimir al-Aslami, yang telah mengadakan perjanjian dengan kaum Muslimin.
Tetapi kaumnya ingin berperang.
‘Uwaimir tidak menghendaki perang dengan kaum Muslimin, ataupun memerangi kaumnya.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 90 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 90



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.4
Rating Pembaca: 4.8 (16 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku