Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 88


فَمَا لَکُمۡ فِی الۡمُنٰفِقِیۡنَ فِئَتَیۡنِ وَ اللّٰہُ اَرۡکَسَہُمۡ بِمَا کَسَبُوۡا ؕ اَتُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ تَہۡدُوۡا مَنۡ اَضَلَّ اللّٰہُ ؕ وَ مَنۡ یُّضۡلِلِ اللّٰہُ فَلَنۡ تَجِدَ لَہٗ سَبِیۡلًا
Famaa lakum fiil munaafiqiina fi-ataini wallahu arkasahum bimaa kasabuu aturiiduuna an tahduu man adhallallahu waman yudhlilillahu falan tajida lahu sabiilaa;

Maka mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri?
Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah?
Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.
―QS. 4:88
Topik ▪ Iman ▪ Hidayah (petunjuk) dari Allah ▪ Ayat yang berhubungan dengan Qatadah bin Nu’man
4:88, 4 88, 4-88, An Nisaa’ 88, AnNisaa 88, AnNisa 88, An-Nisa’ 88
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 88. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menyingkapkan suatu kenyataan yang terjadi pada masa Rasulullah ﷺ, bahwa ada segolongan kaum munafik yang selalu bermuka dua terhadap Rasulullah dan kaum muslimin dalam menghadapi peperangan Mereka itu pura-pura membantu dan menyokong Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin, padahal yang sebenarnya mereka itu enggan memberikan bantuan, bahkan mereka dengan sembunyi-sembunyi membantu musuh kaum muslimin.
Dalam menghadapi orang-orang munafik ini, ternyata kaum muslimin terpecah menjadi dan golongan.
Golongan pertama berpendapat bahwa orang orang munafik itu harus ditindak dan dibasmi, sedang golongan kedua ingin membela mereka, karena mereka dianggap sebagai penolong kaum muslimin.

Maka Allah subhanahu wa ta’ala mengoreksi kaum muslimin, mengapa mereka terpecah belah dan tidak bersatu padu menghadapi kaum munafik itu.
Allah subhanahu wa ta’ala menyebut orang-orang munafik itu sebagai “orang-orang yang telah dibalikkan-Nya kepada kekafiran” disebabkan tindak-tanduk mereka sendiri, dan sebagai “orang-orang yang telah disesatkan-Nya” dengan arti: mereka telah menjadi sesat karena keingkaran dan mereka tidak mengindahkan lagi petunjuk-petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala

Dengan nada bertanya Allah subhanahu wa ta’ala melarang kaum muslimin untuk mencoba memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan-Nya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya: “Apakah kamu berusaha untuk memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah” Pada akhir ayat ini Allah subhanahu wa ta’ala menegaskan bahwa tidak ada jalan bagi kaum muslimin dan bagi siapapun juga, untuk memberikan petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah lantaran keingkaran dan kefasikan mereka.
Dari ayat ini dapat diambil pengertian bahwa kaum muslimin tidak boleh ragu-ragu dalam menghadapi orang-orang munafik itu.
Perintah Allah subhanahu wa ta’ala untuk berperang dan membela agama-Nya harus dilaksanakan dan semua penghalang haruslah disingkirkan.
Kaum muslimin harus bersatu padu dalam sikap dan perbuatannya untuk menghadapi orang-orang munafik serta musuh-musuh Islam yang lain.

An Nisaa' (4) ayat 88 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 88 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 88 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang yang beriman, tidak sepantasnya kalian berselisih tentang orang-orang munafik yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran:
apakah mereka beriman atau kafir, apakah mereka layak diperangi atau tidak, atau apakah mereka memiliki kesiapan untuk mendapat petunjuk atau tidak.
Sungguh akal mereka telah membalikkan apa yang telah mereka perbuat dan menjadikan kejahatan menguasai diri mereka.
Maka janganlah kamu mengharapkan petunjuk orang yang telah ditakdirkan oleh Allah, dalam ilmu-Nya yang azali, tidak mendapatkan petunjuk.
Karena barangsiapa ditakdirkan sesat oleh Allah, dalam ilmu-Nya yang azali, maka sedikit pun ia tidak akan mendapat petunjuk.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Mengapa kamu menjadi dua golongan menghadapi golongan munafik padahal Allah telah membalikkan mereka menjadi kafir) (disebabkan usaha mereka) berupa perbuatan maksiat dan kekafiran.
(Apakah kamu hendak menunjuki orang yang disesatkan oleh Allah) artinya kamu anggap mereka itu termasuk orang-orang yang beroleh petunjuk?
Pertanyaan pada kedua tempat berarti sanggahan.
(Siapa yang disesatkan oleh Allah maka kamu sekali-kali takkan mendapatkan jalan) untuk menunjukinya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Mengapa kalian wahai orang-orang Mukmin berbeda pendapat menjadi dua kubu tentang orang-orang munafik; kubu pertama berpendapat untuk memerangi mereka sedangkan kubu yang kedua tidak demikian?
Padahal Allah telah menjerumuskan mereka kedalam kekufuran dan kesesatan disebabkan buruknya perbuatan mereka.
Apakah kalian ingin memberi hidayah kepada orang yang telah Allah palingkan dari agama-Nya?
Barangsiapa yang dibiarkan oleh Allah sehingga dia tidak mengikuti agama-Nya dan meninggalkan perintah-Nya, maka tidak ada jalan baginya kepada hidayah.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bahz, telah menceritakan kepada kami Syu’bah yang mengatakan bahwa Addi ibnu Sabit pernah mengatakan, telah menceritakan kepadanya Abdullah ibnu Yazid dari Zaid ibnu Sabit, bahwa Rasulullah ﷺ berangkat menuju medan Perang Uhud, lalu di tengah jalan sebagian orang yang tadinya berangkat bersama beliau kembali lagi ke Madinah.
Sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ dalam menanggapi mereka yang kembali itu ada dua pendapat: Suatu golongan berpendapat bahwa mereka harus dibunuh, sedangkan golongan yang lain mengatakan tidak boleh dibunuh, dengan alasan bahwa mereka masih orang-orang mukmin.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan firman-Nya: Maka mengapa kalian menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya Madinah itu adalah Tayyibah, dan sesungguhnya Madinah dapat membersihkan kotoran, sebagaimana pandai besi dapat membersihkan kotoran (karat) besi.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Syu’bah.

Muhammad ibnu Ishaq ibnu Yasar menyebutkan dalam peristiwa Perang Uhud, bahwa Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul kembali (ke Madinah) bersama sepertiga pasukan, yakni kembali dengan tiga ratus personel, sedangkan Nabi ﷺ ditinggalkan bersama tujuh ratus personel.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan suatu kaum yang tinggal di Mekah.
Mereka telah masuk Islam, tetapi mereka membantu kaum musyrik.
Lalu kelompok ini keluar dari Mekah dalam rangka suatu keperluan yang menyangkut kepentingan mereka (berniaga).
Mereka mengatakan, “Jika kita bersua dengan sahabat-sahabat Muhammad, kita pasti tidak akan diapa-apakan oleh mereka.” Lain halnya dengan kaum mukmin yang bersama Rasul ﷺ ketika disampaikan kepada mereka berita keluarnya kelompok tersebut dari Mekah, maka segolongan dari kaum mukmin mengatakan, “Ayo kita kejar pengecut-pengecut itu dan kita bunuh mereka, karena sesungguhnya mereka telah membantu musuh untuk melawan kita.” Sedangkan golongan yang lainnya mengatakan, “Mahasuci Allah —atau kalimat semacam itu—, apakah kalian akan membunuh suatu kaum yang pembicaraannya sama dengan apa yang kalian bicarakan (yakni seagama) hanya karena mereka tidak ikut hijrah dan tidak mau meninggalkan rumah mereka, lalu kita dapat menghalalkan darah dan harta benda mereka?”
Demikianlah tanggapan mereka terbagi menjadi dua golongan, sedangkan Rasul ﷺ saat itu berada di antara mereka, dan beliau ﷺ tidak melarang salah satu golongan dari keduanya melakukan sesuatu.
Lalu turunlah ayat berikut, yaitu firman-Nya:

Maka mengapa kalian menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abu Hatim.

Hal yang mirip dengan hadis ini diriwayatkan melalui Abu Salamah ibnu Abdur Rahman, Ikrimah, Mujahid, dan Ad-Dahhak serta lain-lainnya.

Zaid ibnu Aslam meriwayatkan dari salah seorang anak Sa’d ibnu Mu’az, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan pergunjingan kabilah Aus dan kabilah Khazraj sehubungan dengan sikap Abdullah ibnu Ubay, ketika Rasulullah ﷺ berada di atas mimbar memaafkan sikapnya dalam kasus berita bohong.
Akan tetapi, hadis ini garib.
Menurut pendapat yang lainnya lagi, asbabun nuzul ayat ini bukan demikian.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

padahal Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri?

Yakni Allah mengembalikan mereka dan menjatuhkan mereka ke dalam kekeliruan.

Ibnu Abbas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya, “Arkasahum.” Makna yang dimaksud ialah Allah telah menjatuhkan mereka.
Sedangkan menurut Qatadah, maksudnya ialah Allah telah membinasakan mereka.
Dan menurut As-Saddi ialah Allah telah me-nyesatkan mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

disebabkan usaha mereka sendiri.

Yaitu disebabkan kedurhakaan mereka dan menentang Rasul serta mengikuti kebatilan.

Apakah kalian bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah disesatkan Allah?
Barang siapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kalian tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.

Maksudnya, tiada jalan baginya untuk mendapat hidayah dan ia tidak dapat melepaskan dirinya dari kesesatan menuju kepada jalan hidayah.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah An Nisaa' (4) ayat 88
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Adi bin Tsabit aku mendengar Abdullah bin Yazid bercerita dari Zaid bin Tsabit ra., dia berkata,
“Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam berangkat ke medan Uhud, di tengah perjalanan beberapa orang yang ikut bersama beliau kembali pulang, dan sebab itu sahabat Nabi ﷺ terpecah menjadi dua kelompok, kelompok yang mengatakan, “Kami akan memerangi mereka”, dan kelompok yang mengatakan, “Kami tidak akan memerangi mereka.” Maka turunlah ayat: Maka Mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah Telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri? (Qs. An Nisaa: 88), beliau bersabda:
“Sesungguhnya hal itu terdapat suatu kebaikan, yang dapat menghapuskan dosa sebagaimana api menghilangkan karat pada perak.”

Shahih Bukhari, Kitab Peperangan – Nomor Hadits: 3744

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 88

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) dan lain-lain, yang bersumber dari Zaid bin Tsabit bahwa ketika Rasulullah ﷺ berangkat perang Uhud, sebagian dari pasukannya pulang kembali ke Madinah.
Di kalangan para shahabat timbul dua pendapat, sebagian mengatakan agar orang yang mengundurkan diri itu dibunuh dan sebagian lagi melarangnya.
Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 88) sebagai teguran agar tidak berselisih dalam menghadapi kaum munafik yang jelas kekafirannya.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Sa’d bin Mu’adz bahwa ketika Rasulullah ﷺ berkhotbah, yang di antara sabdanya: “Siapakah pembelaku terhadap orang-orang yang berbuat jahat dan berkomplot merencanakan kejahatan terhadapku?” Berkatalah Sa’d bin Mu’adz: “Jikalau ia dari golonganku (Aus), kami yang akan membasminya, dan jika ia dari kalangan Khazraj, tuan perintahkan kepada kami, dan kami akan melaksanakannya.” Berdirilah Sa’ad bin ‘Ubadah (Bani Khazraj): “Apa urusanmu menyebut-nyebut taat kepada Rasulullah ﷺ, hai Ibnu Muadz.
Padahal engkau tahu bahwa itu bukan urusanmu saja.” Berdirilah Usaid bin Khudlair dan berkata: “Apakah engkau ini seorang munafi dan mencintai orang-orang munafik, hai Ibnu ‘Ubadah?” Berdirilah Muhammad bin Muslimah dan berkata: “Diamlah kalian, di hadapan kita ada Rasulullah ﷺ yang berhak memberi perintah dan kita melaksanakannya.” Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 88) sebagai peringatan untuk tidak berselisih dalam menghadapi kaum munafik.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 88 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 88



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.8
Rating Pembaca: 4.6 (14 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku