QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 85 [QS. 4:85]

مَنۡ یَّشۡفَعۡ شَفَاعَۃً حَسَنَۃً یَّکُنۡ لَّہٗ نَصِیۡبٌ مِّنۡہَا ۚ وَ مَنۡ یَّشۡفَعۡ شَفَاعَۃً سَیِّئَۃً یَّکُنۡ لَّہٗ کِفۡلٌ مِّنۡہَا ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ مُّقِیۡتًا
Man yasyfa’ syafaa’atan hasanatan yakun lahu nashiibun minhaa waman yasyfa’ syafaa’atan sai-yi-atan yakun lahu kiflun minhaa wakaanallahu ‘ala kulli syai-in muqiitan;

Barangsiapa yang memberikan syafa’at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya.
Dan barangsiapa memberi syafa’at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya.
Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
―QS. 4:85
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Menanggung dosa orang lain ▪ Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat
4:85, 4 85, 4-85, An Nisaa’ 85, AnNisaa 85, AnNisa 85, An-Nisa’ 85

Tafsir surah An Nisaa' (4) ayat 85

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 85. Oleh Kementrian Agama RI

Syafaat dalam ayat ini ialah, bantuan seseorang kepada orang lain dalam sesuatu hal.
Syafaat berbentuk dua macam: pertama yang berbentuk kebajikan yaitu yang dipandang baik oleh agama, dan kedua berbentuk kejahatan yaitu yang dipandang buruk oleh agama.

Orang-orang yang melakukan syafaat berbentuk kebajikan umpamanya menolong atau menganjurkan kepada orang-orang lain melakukan perbuatan perbuatan baik, seperti mendirikan madrasah, mesjid dan melakukan perang sabil, dia akan mendapat ganjaran dari perbuatan orang tersebut seolah-olah ia sendiri telah berbuat seperti itu pula.
Demikian juga orang yang melakukan syafaat berbentuk kejahatan umpamanya membantu orang-orang melakukan pekerjaan jahat seperti berjudi, berzina dan lari dari perang sabil.
ia akan mendapat bagian ganjaran dari perbuatan tersebut seolah-olah ia berserikat dalam pekerjaan itu.

Sesuatu perbuatan tidak lepas dari bentuk sebab dan akibat Maka orang yang menjadi sebab terwujudnya kebaikan atau menjadi sebab terwujudnya kejahatan tidak akan luput menerima ganjaran dari Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala Maha sanggup menentukan segala sesuatu.
Karena itu orang yang berbuat baik tidak menjadi kurang pahalanya karena Allah memberi ganjaran pula kepada penganjurnya, karena Allah Maha Adil, Allah memberi balasan berupa hukuman terhadap orang yang menjadi sebab sesatnya orang lain.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang munafik itu selalu mempertahankan kerusakan, sedangkan orang-orang Mukmin akan tetap membela kebenaran.
Barangsiapa menolong dan menjunjung kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahalanya.
Dan barangsiapa memihak kepada orang-orang yang berbuat kejahatan, maka ia akan mendapatkan dosa dan siksa.
Sesungguhnya Allah Mahakuasa lagi Maha Mengetahui segala sesuatu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Siapa memberikan syafaat) kepada sesama manusia (yakni syafaat yang baik) yang sesuai dengan syarat (niscaya akan memperoleh bagian) pahala (daripadanya) artinya disebabkannya.

(Dan siapa memberikan syafaat yang jelek) yakni yang bertentangan dengan syariat (maka ia akan memikul beban) dosanya (daripadanya) disebabkan perbuatannya itu.

(Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu) sehingga setiap orang akan mendapat balasan yang setimpal daripada-Nya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Barangsiapa yang berusaha mewujudkan kebaikan bagi orang laian, maka usahanya tersebut mendapatkan bagian dari pahala.
Sebaliknya barangsiapa yang berusaha menyampaikan keburukan kepada orang lain, maka dia mendapatkan bagian dari dosanya.
Allah Maha Menyaksikan dan Menjaga segala sesuatu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Barang siapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) darinya.

Maksudnya, barang siapa yang berupaya dalam suatu urusan, lalu ia menghasilkan hal yang baik darinya, maka dia memperoleh bagian darinya.

Dan barang siapa yang memberi syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) darinya.

Yakni dia memperoleh dosa dari urusan tersebut yang diupayakannya dan telah diniatkannya sejak semula.
Seperti yang disebutkan di dalam hadis sahih dari Nabi ﷺ, bahwa beliau ﷺ pernah bersabda:

Berikanlah syafaat, niscaya kamu beroleh pahala, dan Allah memutuskan melalui lisan Nabi-Nya apa yang dikehendaki-Nya.

Mujahid ibnu Jabr mengatakan bahwa ayat ini diturunkan sehubungan dengan syafaat orang-orang yang diberikan oleh sebagian dari mereka untuk sebagian yang lain.

Al-Hasan Al-Basri mengatakan sehubungan dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Barang siapa yang memberikan syafaat.
Dalam ayat ini tidak disebutkan barang siapa yang beroleh syafaat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

Menurut Ibnu Abbas, Ata, Atiyyah, Qatadah, dan Matar Al-Warraq, yang dimaksud dengan {مُقِيتًا} ialah Yang Maha Memelihara.

Menurut Mujahid, lafaz {مُقِيتًا} artinya Maha Menyaksikan.
Menurut riwayat yang lain darinya, makna yang dimaksud ialah Maha Menghitung.

Sa’id ibnu Jubair, As-Saddi, dan Ibnu Zaid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah Yang Mahakuasa.

Menurut Abdullah ibnu Kasir, makna yang dimaksud ialah Yang Maha Mengawasi.

Menurut Ad-Dahhak, al-muqit artinya Yang Maha Memberi Rezeki.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahim ibnu Mutarrif, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Yunus, dari Ismail, dari seorang lelaki, dari Abdullah ibnu Rawwahah, bahwa ia pernah ditanya oleh seorang lelaki tentang makna firman-Nya:

Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
Maka ia menjawab bahwa Allah membalas setiap orang sesuai dengan amal perbuatannya.


Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nisaa' (4) ayat 85 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nisaa' (4) ayat 85 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nisaa' (4) ayat 85 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nisaa' - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 176 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 4:85
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa'.

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah 4
Nama Surah An Nisaa'
Arab النّساء
Arti Wanita
Nama lain Al-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 92
Juz Juz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 176
Jumlah kata 3764
Jumlah huruf 16327
Surah sebelumnya Surah Ali 'Imran
Surah selanjutnya Surah Al-Ma'idah
4.5
Ratingmu: 4.3 (11 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/4-85









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim