Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 80


مَنۡ یُّطِعِ الرَّسُوۡلَ فَقَدۡ اَطَاعَ اللّٰہَ ۚ وَ مَنۡ تَوَلّٰی فَمَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ عَلَیۡہِمۡ حَفِیۡظًا
Man yuthi’irrasuula faqad athaa’allaha waman tawalla famaa arsalnaaka ‘alaihim hafiizhan;

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah.
Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.
―QS. 4:80
Topik ▪ Memohon hanya kepada Allah
4:80, 4 80, 4-80, An Nisaa’ 80, AnNisaa 80, AnNisa 80, An-Nisa’ 80
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa' (4) : 80. Oleh Kementrian Agama RI

Perintah dan larangan Rasul yang tidak menyangkut urusan keagamaan umpamanya yang berhubungan dengan keduniaan seperti soal-soal pertanian dan pertahanan, maka Rasul sendiri bersedia menerima pendapat dari sahabatnya yang lebih mengetahui masalahnya.

Menurut sejarah dalam menjaga kesopanan terhadap Rasul para sahabat bertanya lebih dahulu apakah hal itu datangnya dari Allah atau pendapat Rasul sendiri.
Jika ditegaskan oleh Rasul bahwa ini adalah dari Allah maka mereka menaati tanpa ragu-ragu dan jika dikatakan bahwa ini pendapat Muhammad maka para sahabat mengemukakan pula pendapat mereka.
Peristiwa ini pernah terjadi ketika sahabat menghadapi perintah Rasul dalam memilih suatu tempat untuk kepentingan strategi pertahanan ketika peperangan Badar.
Jadi pada hakikatnya perintah atau larangan Rasul dalam hal-hal di luar agama tidaklah ! berfungsi wajib atau haram, tetapi fungsinya sekadar anjuran.

Ketika menerangkan sebab turunnya ayat ini Muqatil meriwayatkan bahwa ketika Nabi pernah bersabda:

"Barangsiapa mencintai aku sesungguhnya ia mencintai Allah.
Dan barangsiapa yang menaati aku sesungguhnya ia menaati Allah.
Orang munafik berkata: "Tidakkah kamu mendengar kata laki-laki ini (Muhammad)?.
Sesungguhnya ia telah mendekati syirik.
Sesungguhnyo ia melarang kita menyembah selain Allah dan ia menghendaki kita menjadikannya tuhan sebagaimana orang-orang Nasrani menjadikan Isa tuhan.
Maka Allah menurunkan ayat ini.
(H.R.
Muqatil)

Ayat ini menerangkan bahwa menaati Rasul tidak dapat disamakan dengan syirik, karena Rasul hanya sekadar penyampai perintah Allah.
Dengan demikian menaati Rasul adalah menaati Allah.
bukan mempersekutukannya dengan Allah.

Di dalam tafsir Al Maragi dijelaskan bahwa syirik itu terdiri dari dua macam:
Pertama: yang terkenal dengan syirik uluhiah, yaitu mempercayai adanya sesuatu yang selain Allah yang mempunyai kekuatan gaib dan dapat memberi manfaat dan memberi mudarat Kedua: syirik rububiah, mempercayai bahwa ada sesuatu selain Allah yang mempunyai hak menetapkan hukum haram dan halal, sebagaimana orang Nasrani memandang hak tersebut ada -pada pendeta-pendeta mereka.
Orang mukmin sejati berpendirian: tunduk hanya kepada Allah sebagai Pencipta dan tiada sesuatupun makhluk Tuhan yang mempunyai kekuatan gaib yang dapat memberi manfaat dan mudarat dan tidak ada di antara makhluk Tuhan yang berhak menetapkan hukum haram dan halal karena semua makhluk Tuhan tunduk kepada kehendak Nya.

Selanjutnya dalam ayat ini Allah menghendaki agar supaya Rasul-Nya (Muhammad) tidak mengambil tindakan kekerasan atau tindakan paksaan terhadap orang yang tidak menaatinya, karena ia diutus hanya untuk sekadar menyampaikan berita gembira dan ancaman.
Keimanan manusia pada kerasulannya tidak digantungkan kepada paksaan tetapi kepada kesadaran setelah menggunakan pikiran.

An Nisaa' (4) ayat 80 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 80 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 80 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Barangsiapa mematuhi rasul berarti telah mematuhi Allah.
Sebab, Rasulullah tidak memerintahkan dan melarang sesuatu, kecuali sesuai dengan perintah dan larangan Allah.
Oleh karena itu, orang yang menaati Rasulullah ﷺ.
dengan menjalankan perintah dan meninggalkan larangannya, berarti juga menaati Allah.
Sedangkan orang yang tidak mematuhimu, Muhammad, ketahuilah bahwa Kami mengutusmu sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, bukan untuk menguasai dan memelihara amal perbuatan mereka, yang merupakan tanggung jawab Kami, bukan tanggung jawabmu.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Siapa menaati Rasul, maka sesungguhnya ia telah menaati Allah, dan siapa yang berpaling) artinya tak mau menaatinya, maka bukan menjadi urusanmu (maka Kami tidaklah mengutusmu sebagai pemelihara) atau penjaga amal-amal perbuatan mereka, tetapi hanyalah sebagai pemberi peringatan sedangkan urusan mereka terserah kepada Kami dan Kami beri ganjaran dan balasannya.
Ini sebelum datangnya perintah berperang.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Barangsiapa yang menjawab Rasulullah dan mengamalkan petunjuknya, maka dia telah menjawab Allah dan mengamalkan perintah-Nya.
Barangsiapa yang berpaling dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka kami tidak mengutusmu wahai Rasul sebagai pengawas atas orang-orang yang berpaling tersebut di mana kamu yang menjaga amal perbuatan dan menghisab mereka atasnya, karena hisab mereka atas Kami.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
memberitahukan perihal hamba dan Rasul-Nya (yaitu Nabi Muhammad ﷺ), bahwa barang siapa yang menaatinya, berarti ia taat kepada Allah.
Barang siapa yang durhaka kepadanya, berarti ia durhaka kepada Allah.
Hal tersebut tidak lain karena apa yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) bukan menurut kemauan hawa nafsunya.
Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diturunkan kepadanya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Abu Saleh, dari Abu Hurairah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Barang siapa yang taat kepadaku, berarti ia taat kepada Allah, dan barang siapa yang durhaka kepadaku, berarti ia durhaka kepada Allah.
Barang siapa yang menaati amir(ku), berarti ia taat kepadaku, dan barang siapa yang durhaka kepada amir(ku), berarti ia durhaka kepadaku.

Hadis ini disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui riwayat Al-A'masy dengan lafaz yang sama.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

Tugasmu bukan untuk itu, melainkan hanyalah menyampaikan.
Untuk itu barang siapa yang mengikutimu, maka berbahagia dan selamatlah ia, sedangkan bagimu ada pahala yang semisal dengan pahala yang diperolehnya.
Barang siapa yang berpaling darimu, maka rugi dan kecewalah dia, sedangkan kamu tidak dikenai beban sedikit pun dari urusannya.
Makna ayat ini sama dengan apa yang disebut oleh sebuah hadis yang mengatakan:

Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, berarti ia telah mendapat petunjuk, dan barang siapa yang durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia tidak membahayakan selain hanya terhadap dirinya sendiri.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Dan mereka mengatakan, "(Kewajiban kami hanyalah) taat."

Allah subhanahu wa ta'ala.
menceritakan perihal kaum munafik, bahwa mereka menampakkan setuju dan taat hanya pada lahiriahnya saja.

Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu.

Yakni pergi dan tidak kelihatan olehmu.

sebagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi.

Yaitu dengan diam-diam di malam harinya mereka mengatur siasat di antara sesama mereka yang bertentangan dengan apa yang mereka lahirkan di hadapanmu.

Maka Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman:

Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu

Allah mengetahui dan mencatatnya ke dalam buku catatan amal perbuatan mereka.
Hal ini dilakukan oleh para malaikat pencatat amal perbuatan yang ditugaskan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
untuk menanganinya terhadap semua hamba-Nya.

Di dalam firman ini terkandung ancaman yang tersimpulkan dari pemberitahuan Allah yang menyatakan bahwa Dia mengetahui semua yang tersimpan di dalam hati mereka, semua hal yang mereka rahasiakan di antara sesamanya, dan semua makar yang mereka sepakati di malam hari (yaitu makar untuk menentang Rasulullah ﷺ dan mendurhakainya), sekalipun pada lahiriahnya mereka bersikap menampakkan ketaatan dan sikap setuju.
Kelak di hari kemudian Allah akan membalas perbuatan mereka itu terhadap diri mereka.
Perihal mereka sama dengan yang disebutkan di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Dan mereka berkata, "Kami telah beriman Kepada Allah dan rasul, dan kami menaati (keduanya)." (An Nuur:47), hingga akhir ayat.

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa', yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa' karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa' dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Al Kubraa" (surat An Nisaa' yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Ash Shughraa" (surat An Nisaa' yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf'
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 80 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 80



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.6
Rating Pembaca: 4.6 (20 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ qs annisa ayat 80, surat annisa ayat 80, Surah annisa ayat 80 sampai selesai, surah an nisa ayat 80 dan terjemahan, surah an nisa ayat 80, an nisa ayat 80, contoh sikap dari surat an nisa ayat 80, ayat an nisa ayat 80, arti surah an nisa ayat 4:80, an-nisa ayat 4:80, tafsiran An-nisa ayat 80 berdasarkan para ahli