Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 78


اَیۡنَ مَا تَکُوۡنُوۡا یُدۡرِکۡکُّمُ الۡمَوۡتُ وَ لَوۡ کُنۡتُمۡ فِیۡ بُرُوۡجٍ مُّشَیَّدَۃٍ ؕ وَ اِنۡ تُصِبۡہُمۡ حَسَنَۃٌ یَّقُوۡلُوۡا ہٰذِہٖ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ۚ وَ اِنۡ تُصِبۡہُمۡ سَیِّئَۃٌ یَّقُوۡلُوۡا ہٰذِہٖ مِنۡ عِنۡدِکَ ؕ قُلۡ کُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ فَمَالِ ہٰۤؤُلَآءِ الۡقَوۡمِ لَا یَکَادُوۡنَ یَفۡقَہُوۡنَ حَدِیۡثًا
Ainamaa takuunuu yudrikukumul mautu walau kuntum fii buruujin musyai-yadatin wa-in tushibhum hasanatun yaquuluu hadzihi min ‘indillahi wa-in tushibhum sai-yi-atun yaquuluu hadzihi min ‘indika qul kullun min ‘indillahi famaali ha’ulaa-il qaumi laa yakaaduuna yafqahuuna hadiitsan;

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan:
“Ini adalah dari sisi Allah”,
dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan:
“Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”.
Katakanlah:
“Semuanya (datang) dari sisi Allah”.
Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun?
―QS. 4:78
Topik ▪ Takdir ▪ Kebenaran dan hakikat takdir ▪ Keistimewaan Islam
4:78, 4 78, 4-78, An Nisaa’ 78, AnNisaa 78, AnNisa 78, An-Nisa’ 78
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 78. Oleh Kementrian Agama RI

Maut (mati) itu adalah suatu hal yang pasti datangnya tidak seorangpun yang dapat lepas dari padanya di manapun dia berada meskipun berlindung di dalam benteng yang kokoh kuat, karena itu tidaklah wajar manusia takut mati meskipun ia berada di dalam kancah peperangan dan jika sampai ajalnya tentulah ia pasti mati meskipun ia hidup mewah di dalam istana atau bertahan di dalam benteng yang kokoh.

Ayat ini merupakan celaan Allah terhadap segolongan kaum muslimin yang tidak mempunyai semangat juang untuk membela kebenaran di mana mereka tak mau berperang karena takut akan mati.
Sikap pengecut mereka dan sifat kemunafikan mereka itu tidak lain.
disebabkan kelemahan iman dan piciknya pikiran mereka.

Selanjutnya Allah menggambarkan kepicikan akal mereka yakni mereka tidak mau berperang karena takut akan mati.
Sikap pengecut mereka anggap sebagai karunia dari Allah sedang malapetaka yang menimpa mereka adalah karena datangnya Muhammad ke Madinah, sehingga musim kemarau yang menimpa kota Madinah mereka anggap sebagai musibah yang ditimbulkan oleh kedatangan Nabi Muhammad itu dan kesialannya.
Adapun orang yang beriman ia tetap berpendirian bahwa baik dan buruk adalah datangnya dari Allah.

Pendirian seperti inilah yang Allah perintahkan kepada Muhammad supaya disampaikan kepada mereka.
Dan sekiranya mereka tidak dapat memahaminya, mereka akan tetap sepanjang masa di dalam kegelapan dan jika mereka dapat memahaminya tentulah mereka tidak akan mengatakan bahwa hal yang buruk itu dikarenakan celanya seseorang tetapi baik dan buruk itu akan mereka ketahui erat hubungannya dengan sebab musabab yang telah menjadi Sunah Allah.

An Nisaa' (4) ayat 78 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 78 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 78 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kematian yang kalian takuti itu pasti akan datang di mana saja, walaupun kalian berada di benteng yang sangat kokoh sekalipun.
Orang-orang yang takut karena imannya lemah, jika mendapat kemenangan dan harta rampasan perang, akan berkata, “Harta rampasan itu dari sisi Allah.” Tetapi, jika mendapat kekalahan, orang-orang itu akan berkata kepadamu, Muhammad, “Kekalahan itu datang dari dirimu.” Padahal, nasib buruk itu bukan dari dirimu.
Katakan kepada mereka, “Semua yang menimpa kalian, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan, merupakan takdir Allah.
Semuanya berasal dari Allah sebagai ujian dan cobaan.” Mengapa orang-orang yang lemah itu tidak mengetahui perkataan benar yang dikatakan kepada mereka?

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Di mana pun kamu berada, pastilah akan dicapai oleh maut sekalipun kamu di benteng yang tinggi lagi kokoh) karena itu janganlah takut berperang lantaran cemas akan mati.
(Dan jika mereka ditimpa) yakni orang-orang Yahudi (oleh kebaikan) misalnya kesuburan dan keluasan (mereka berkata, “Ini dari Allah.” Dan jika mereka ditimpa oleh keburukan) misalnya kekeringan dan bencana seperti yang mereka alami sewaktu kedatangan Nabi ﷺ ke Madinah (mereka berkata, “Ini dari sisimu,”) hai Muhammad artinya ini karena kesialanmu! (Katakanlah) kepada mereka (Semuanya) baik kebaikan atau keburukan (dari sisi Allah) berasal daripada-Nya.
(Maka mengapa orang-orang itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan) yang disampaikan kepada Nabi mereka.
Mengapa pertanyaan disertai keheranan, melihat kebodohan mereka yang amat sangat.
Dan ungkapan “hampir-hampir tidak memahami” lebih berat lagi dari “tidak memahaminya sama sekali.”

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Di mana pun kalian berada, kematian pasti menjumpai kalian, di tempat manapun kalian berada saat ajal kalian sudah tiba, sekalipun kalian berada di dalam benteng yang kokoh dan jauh dari medan perang.
Bila mereka mendapatkan kenikmatan dunia yang membahagiakan mereka, maka mereka menisbatkan keberhasilannya kepada Allah.
Namun bila mereka ditimpa sesuatu yang tidak disukai maka mereka menisbatkannya kepada Rasul Muhammad sebagai sebuah kebodohan dan sikap pesimis.
Padahal mereka tidak mengetahui bahwa semua itu dari Allah semata dengan qadha dan qadar-Nya, lalu mengapa mereka tidak memahami setiap perkataan yang diucapkan kepada mereka?

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala

Di mana saja kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, kendatipun kalian di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.

Maksudnya, kalian pasti akan mati, dan tiada seorang pun dari kalian yang selamat dari maut.
Perihalnya sama dengan yang disebutkan di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Semua yang ada di bumi itu akan binasa.
(Ar Rahmaan:26)

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.
(Ali Imran:185)

Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelum kamu.(Al Anbiyaa:34)

Makna yang dimaksud ialah setiap orang pasti akan mati, tiada sesuatu pun yang dapat menyelamatkan dia dari kematian, baik dia ikut dalam berjihad ataupun tidak ikut berjihad.
Karena sesungguhnya umur manusia itu ada batasnya dan mempunyai ajal yang telah ditentukan serta kedudukan yang telah ditetapkan baginya.
Seperti yang dikatakan oleh Khalid ibnul Walid ketika menjelang kematiannya di atas tempat tidurnya:

Sesungguhnya aku telah mengikuti perang anu dan perang anu, dan tiada suatu anggota tubuhku melainkan padanya terdapat luka karena tusukan atau lemparan panah.
Tetapi sekarang aku mati di atas tempat tidurku, semoga mata orang-orang yang pengecut tidak dapat tidur.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala

kendatipun kalian di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.

Yakni benteng yang kuat, kokoh, lagi tinggi.

Menurut pendapat lain, yang dimaksud dengan buruj ialah bintang-bintang yang ada di langit.
Pendapat ini dikatakan oleh As-Saddi, tetapi lemah.
Pendapat yang sahih ialah yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengannya adalah benteng yang kuat.
Dengan kata lain, tiada gunanya sikap waspada dan berlindung di tempat yang kokoh dari ancaman maut.
Seperti yang dikatakan oleh seorang penyair (Jahiliah), yaitu Zuhair ibnu Abu Salma:

Barang siapa yang takut terhadap penyebab kematian, niscaya dia akan didapatkannya sekalipun dia naik ke langit yang tinggi dengan memakai tangga.

Kemudian menurut pendapat yang lain, al-musyayyadah sama artinya dengan al-masyidah.
Sebagaimana yang disebutkan di dalam firman-Nya:

dan istana yang tinggi.
(Al Hajj:45)

Menurut pendapat yang lainnya lagi, di antara keduanya terdapat perbedaan, yaitu: Kalau dibaca al-musyayyadah dengan memakai tasydid artinya yang ditinggikan, sedangkan kalau dibaca takhfif (tanpa tasydid) artinya yang dibangun dengan memakai batu kapur.

Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim sehubungan dengan bab ini mengetengahkan sebuah kisah panjang dari Mujahid: bahwa zaman dahulu terdapat seorang wanita yang sedang melahirkan, lalu si wanita itu memerintahkan kepada pelayannya untuk mencari api.
Ketika si pelayan keluar, tiba-tiba ia bersua dengan seorang lelaki yang sedang berdiri di depan pintu (entah dari mana datangnya).
Lalu lelaki itu bertanya, “Apakah wanita itu telah melahirkan bayinya?”
Si pelayan menjawab, “Ya, seorang bayi perempuan.” Selanjutnya lelaki itu berkata, “Ingatlah, sesungguhnya bayi perempuan itu kalau sudah dewasa nanti akan berbuat zina dengan seratus orang laki-laki, kemudian ia dikawini oleh pelayan si wanita itu, dan kelak matinya disebabkan oleh laba-laba.” Mujahid melanjutkan kisahnya, bahwa pelayan itu kemudian kembali ke dalam rumah dan dengan serta-merta ia merobek perut si bayi dengan pisau hingga menganga lebar, lalu ia pergi melarikan diri karena ia merasa yakin bahwa bayi itu telah mati.
Melihat hal itu ibu si bayi segera mengobati luka tersebut dengan menjahitnya.
Lama-kelamaan luka si bayi sembuh dan ia tumbuh hingga remaja.
Setelah dewasa, ia menjadi wanita yang tercantik di kotanya.
Sedangkan si pelayan yang kabur tadi pergi menjelajahi semua daerah, dan akhirnya ia menjadi penyelam, lalu berhasil memperoleh harta yang berlimpah (dari dalam laut).
Dengan bekal harta itu ia menjadi orang yang paling kaya, lalu ia kembali ke negerinya semula dan bermaksud untuk kawin.
Untuk itu ia berkata kepada seorang nenek, “Aku ingin kawin dengan wanita yang paling cantik di kota ini.” Si nenek berkata, “Di kota ini tidak ada wanita yang lebih cantik dari si Fulanah.” Ia berkata, “Kalau demikian pergilah kamu untuk melamarnya buatku.” Si nenek akhirnya berangkat ke rumah wanita yang dimaksud, dan ternyata si wanita itu menyetujui lamarannya.
Ketika akan menggaulinya, ia sangat terpesona dengan kecantikan istrinya itu.
Maka si istri itu bertanya kepadanya mengenai asal-usulnya.
Lalu ia menceritakan kepada istrinya semua yang pernah ia alami hingga menyangkut masalah bayi perempuan tadi.
Maka si istri menjawab, “Akulah bayi perempuan itu,” lalu si istri memperlihatkan bekas robekan yang ada pada perutnya, hingga ia percaya dengan bukti tersebut.
Ia berkata, “Jika dulu engkau benar-benar bayi tersebut, sesungguhnya ada seorang lelaki (barangkali malaikat) yang memberitahukan kepadaku tentang dua perkara yang merupakan suatu keharusan akan menimpamu.
Salah satunya ialah bahwa engkau telah berbuat zina dengan seratus orang laki-laki.” Si istri menjawab, “Memang aku telah berbuat itu, tetapi aku lupa dengan berapa banyak lelaki aku melakukannya.” Si suami menjawab, “Jumlah mereka adalah seratus orang laki-laki.” Si suami melanjutkan kisahnya, “Hal yang kedua ialah engkau akan mati karena seekor laba-laba.” Karena si suami sangat mencintai istrinya, maka ia membangunkan untuk si istri sebuah gedung yang kokoh lagi tinggi untuk melindunginya dari penyebab tersebut.
Tetapi pada suatu hari ketika mereka sedang asyik masyuk, tiba-tiba ada seekor laba-laba di atap rumah.
Lalu ia memperlihatkan laba-laba itu kepada istrinya.
Maka si istri berkata, “Inikah yang engkau takutkan akan menyerang diriku?
Demi Allah, bahkan akulah yang akan membunuhnya.” Para pembantu menurunkan laba-laba itu dari atap ke bawah, kemudian si istri dengan sengaja mendekatinya dan menginjaknya dengan jempol kakinya hingga laba-laba itu mati seketika itu juga.
Akan tetapi, takdir Allah berjalan sesuai dengan kehendak-Nya.
Ternyata ada sebagian dari racun laba-laba itu yang masuk ke dalam kuku jari kakinya dan terus menembus ke dagingnya, hingga kaki si wanita itu menjadi hitam dan membusuk, hal tersebutlah yang mengantarkannya kepada kematian.

Dalam pembahasan ini kami ketengahkan sebuah kisah tentang Raja Al-Hadar yang bemama Satirun, ketika ia diserang oleh Raja Sabur yang mengepung bentengnya.
Akhirnya Sabur dapat membunuh semua orang yang ada di dalam benteng sesudah mengepungnya selama dua tahun.
Sehubungan dengan kisah ini orang-orang Arab merekamnya ke dalam syair-syair mereka, yang antara lain mengatakan:

Raja Al-Hadar, ketika membangun negerinya dan Sungai Tigris dialirkannya menuju negerinya, begitu pula Sungai Khabur, ia membangun istananya dengan memakai batu marmar dan lantainya memakai keramik yang indah lagi anggun.
Di atas puncak istananya yang tinggi itu banyak burung merpati bersarang.
Tangan-tangan kematian tidak ditakuti oleh benteng yang kokoh lagi tinggi itu.
Akan tetapi, si raja binasa dalam membela benteng-nya yang kini menjadi reruntuhan yang ditinggalkan.

Ketika Ali masuk menemui Usman, ia mengatakan, “Ya Allah, persatukanlah umat Muhammad.” Kemudian Ali mengucapkan syair berikut:

Aku melihat bahwa maut tidak menyisakan seorang yang perkesa pun, dan tidak pernah memberikan perlindungan kepada pemberontak di negeri ini dan kawasan ini.
Penduduk benteng tinggal dengan aman, sedangkan pintu benteng dalam keadaan tertutup kemegahan dan tingginya menyamai bukit-bukit.

Ibnu Hisyam mengatakan bahwa Kisra Sabur —yang dijuluki Zul Aktaf— yang membunuh Satirun, Raja Al-Hadar.
Tetapi di lain kesempatan Ibnu Hisyam mengatakan pula bahwa sesungguhnya orang yang membunuh Raja Al-Hadar adalah Sabur ibnu Ardsyir ibnu Babik, generasi pertama Raja Bani Sasan, dia pulalah yang mengalahkan raja-raja Tawaif dan mengembalikan kekuasaan kepada kekaisarannya.
Adapun Sabur yang dijuluki Zul Aktaf, dia baru muncul jauh sesudah itu.
Demikianlah menurut riwayat yang diketengahkan oleh As-Suhaili.
Ibnu Hisyam menceritakan bahwa Sabur mengepung benteng Satirun selama dua tahun.
Peperangan itu terjadi karena Satirunlah yang memulainya, Satirun menyerang negeri Sabur di saat Raja Sabur sedang bepergian ke Irak.
Pada suatu hari putri Raja Satirun bernama Nadirah naik ke atas benteng, lalu ia melihat-lihat, dan pandangan matanya tertuju ke arah Raja Sabur yang memakai pakaian kebesaran yang terbuat dari kain sutra, di atas kepalanya terdapat mahkota terbuat dari emas murni yang bertatahkan intan dan berbagai macam batu permata yang amat langka.
Hati si putri terpikat, lalu ia menyusup menemuinya dan mengatakan kepadanya, “Jika aku bukakan pintu benteng ini, maukah kamu memperistri diriku?”
Maka Raja Sabur menjawab, “Ya.” Pada sore harinya Raja Satirun minum khamr hingga mabuk, dan sudah menjadi kebiasaannya bila hendak tidur ia mabuk terlebih dahulu.
Maka putrinya mengambil kunci pintu gerbang benteng dari bawah bantal ayahnya.
Setelah itu kunci tersebut ia kirimkan kepada Raja Sabur melalui seorang bekas budaknya, maka Raja Sabur dapat membuka benteng tersebut.
Menurut riwayat yang lain, si putri menunjukkan kepada mereka sebuah rajah yang berada di dalam benteng itu.
Benteng tersebut tidak akan dapat dibuka sebelum diambil seckor burung merpati abu-abu, lalu kedua kakinya dibasahi dengan kotoran darali haid seorang gadis yang bermata biru, kemudian baru dilepaskan terbang.
Apabila burung merpati itu hinggap di atas tembok benteng, maka tembok benteng itu akan runtuh dan terbukalah pintu gerbangnya.
Raja Sabur melakukan hal tersebut.
Setelah pintu gerbang benteng terbuka, maka Sabur membunuh Raja Satirun dan berlaku sewenang-wenang kepada penduduk benteng, lalu merusaknya hingga menjadi puing-puing.
Kemudian ia berangkat bersama putri tersebut yang telah ia kawini.
Tersebutlah bahwa di suatu malam hari ketika si putri telah berada di atas peraduannya, tiba-tiba ia gelisah, tidak dapat tidur.
Hal ini membuat resah si raja, lalu ia mengambil sebuah lilin dan memeriksa tempat tidur istrinya, ternyata ia menjumpai selembar daun pohon as (yang pada zaman itu sebagai kertas).
Raja Sabur berkata kepadanya, “Rupanya inilah yang menyebabkan kamu tidak dapat tidur.
Apakah yang telah dilakukan oleh ayahmu di masa lalu?”
Ia menjawab, “Dahulu ayahku menghamparkan kain sutra kasar buat permadaniku dan memakaikan kepadaku kain sutra yang indah-indah, serta memberiku makan sumsum dan memberiku minuman khamr.”

At-Tabari menceritakan bahwa dahulu ayah si putri memberinya makan sumsum dan zubdah serta madu yang bermutu tinggi, dan memberinya minum khamr.

At-Tabari menceritakan pula, bahwa Raja Sabur dapat melihat sumsum betisnya (karena kecantikannya dan keindahan tubuhnya, pent.).

Raja Sabur akhirnya berkata, “Ternyata jasa ayahmu itu dibalas olehmu dengan air tuba, dan engkau pun pasti akan lebih cepat melakukan hal yang sama terhadap diriku.” Raja Sabur akhirnya memerintahkan agar permaisurinya itu ditangkap, lalu gelungan rambutnya diikatkan ke buntut kuda, kemudian kudanya dihardik untuk lari sekencang-kencangnya, hingga matilah ia diseret kuda.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

dan jika mereka memperoleh kebaikan.

Yaitu kemakmuran dan rezeki yang berlimpah berupa buah-buahan, hasil pertanian, banyak anak, dan lain-lainnya berupa rezeki.
Demikianlah menurut pendapat Ibnu Abbas, Abul Aliyah, dan As-Saddi.

mereka mengatakan, “Ini adalah dari sisi Allah,” dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana.

Berupa paceklik, kekeringan, dan rezeki yang kering, atau tertimpa kematian anak atau tidak mempunyai penghasilan atau lain-lainnya yang merupakan bencana.
Demikianlah menurut pendapat Abul Aliyah dan As-Saddi.

mereka mengatakan, “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad).”

Yakni dari sisi kamu, disebabkan kami mengikuti kamu dan memasuki agamamu.
Seperti makna yang terkandung di dalam firman-Nya yang menceritakan perihal kaum Fir’aun, yaitu:

Kemudian apabila datang kepada mereka kemakmuran, mereka berkata, “Ini adalah karena (usaha) kami.” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan orang-orang yang mengikutinya.
(Al A’raf:131)

Juga semakna dengan apa yang terkandung di dalam firman-Nya:

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi.
(Al Hajj:11), hingga akhir ayat.

Demikian pula yang dikatakan oleh orang-orang munafik, yaitu mereka yang masuk Islam lahiriahnya, sedangkan hati mereka benci terhadap Islam.
Karena itulah bila mereka tertimpa bencana, maka mereka kaitkan hal itu dengan penyebab karena mengikuti Nabi ﷺ

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: dan jika mereka memperoleh kebaikan.
(An Nisaa:78) Yang dimaksud dengan al-hasanah ialah kemakmuran dan kesuburan yang membuat ternak mereka berkembang biak dengan pesatnya —begitu pula ternak kuda mereka— dan keadaan mereka menjadi membaik serta istri-istri mereka melahirkan anak-anaknya.
mereka mengaiakan, “Ini adalah dari sisi Allah,” dan kalau mereka tertimpa sesuatu bencana.
(An Nisaa:78) Yang dimaksud dengan sayyiah ialah kekeringan (paceklik) dan bencana yang menimpa harta mereka, maka mereka melemparkan kesialan itu kepada Nabi Muhammad ﷺ., lalu mereka mengatakan, “Ini gara-gara kamu.” Dengan kata lain, mereka bermaksud bahwa karena kami meninggalkan agama kami dan mengikuti Muhammad, akhirnya kami tertimpa bencana ini.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
menurunkan firman-Nya: Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” (An Nisaa:78) Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala.: Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” (An-Nisa:78) Maksudnya, semuanya itu adalah atas ketetapan dan takdir Allah, Dia melakukan keputusan-Nya terhadap semua orang, baik terhadap orang yang bertakwa maupun terhadap orang yang durhaka, dan baik terhadap orang mukmin maupun terhadap orang kafir, tanpa pandang bulu.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” (An Nisaa:78) Yaitu kebaikan dan keburukan itu semuanya dari Allah.
Hal yang sama dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, mengingkari mereka yang mengatakan demikian yang timbul dari keraguan dan kebimbangan mereka, minimnya pemahaman dan ilmu mereka yang diliputi dengan kebodohan dan aniaya, yaitu:

Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun.

Sehubungan dengan firman-Nya: Katakanlah, “Semuanya (datang) dari sisi Allah.” (An Nisaa:78) terdapat sebuah hadis garib yang diriwayatkan oleh Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar.

Telah menceritakan kepada kami As-Sakan ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Hammad, dari Muqatil ibnu Hayyan, dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya yang telah menceritakan, “Ketika kami sedang duduk di sisi Rasulullah ﷺ, datanglah Abu Bakar bersama dua kabilah, suara mereka kedengaran amat gaduh.
Lalu Abu Bakar duduk di dekat Nabi ﷺ dan Umar pun duduk di dekat Abu Bakar.
Maka Rasulullah ﷺ bertanya, ‘Mengapa suara kamu berdua kedengaran gaduh?’ Seorang lelaki memberikan jawaban, ‘Wahai Rasulullah, Abu Bakar mengatakan bahwa semua kebaikan dari Allah dan semua keburukan dari diri kita sendiri.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Lalu apakah yang kamu katakan, hai Umar?’ Umar menjawab, ‘Aku katakan bahwa semua kebaikan dan keburukan dari Allah.’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya orang yang mula-mula membicarakan masalah ini adalah Jibril dan Mikail.
Mikail mengatakan hal yang sama seperti apa yang dikatakan olehmu, hai Abu Bakar.
Sedangkan Jibril mengatakan hal yang sama seperti apa yang dikatakan olehmu, hai Umar.’ Nabi ﷺ melanjutkan kisahnya, ‘Penduduk langit pun berselisih pendapat mengenainya.
Jika penduduk langit berselisih, maka penduduk bumi pun berselisih pula.
Lalu keduanya mengajukan permasalahannya kepada Malaikat Israfil.
Maka Israfil memutuskan di antara mereka dengan keputusan bahwa semua kebaikan dan semua keburukan berasal dari Allah.’ Kemudian Rasulullah ﷺ berpaling ke arah Abu Bakar dan Umar, lalu bersabda, ‘Ingatlah keputusanku ini olehmu berdua.
Seandainya Allah berkehendak untuk tidak didurhakai, niscaya Dia tidak akan menciptakan iblis’.”

Syaikhul Islam Taqiyud Din Abul Abbas Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa hadis ini maudu’ lagi buatan, menurut kesepakatan ahli ma’rifah (para ulama).

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa' (4) Ayat 78

BURUUJ
بُرُوج

Lafaz ini dalam bentuk jamak, mufradnya adalah al burj yang berarti bangunan yang tinggi berbentuk bundar atau petak baik itu berdiri sendiri maupun bagian dari bangunan yang besar, benteng dan salah satu dari bola langit yang dua belas. Dalam ilmu falak al buruuj berarti kumpulan bintang.

Disebut empat kali di dalam Al Qur’an yaitu :
– An Nisaa (4) ayat 78,
– Al Hijr (15) ayat 16,
– Al Furqaan (25) ayat 61,
– Al Buruuj (85) ayat 1.

Dari keempat ayat yang menyinggung lafaz al buruuj ia mengandung dua makna berdasarkan sandaran dan kaitan ayat, yaitu :

1. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surah An Nisaa’ ayat 78

أَيْنَمَا تَكُونُوا۟ يُدْرِككُّمُ ٱلْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِى بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍۗ

Artinya :
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh,….”

Terdapat perbedaan pendapat mengenai makna al buruuj pada ayat diatas.

Ada yang berpendapat bahwa ia bermaksud benteng yang terdapat di dalam tanah,ada yang bependapat bahwa ia adalah istana, ada yang berpendapat bahwa ia adalah istana yang terbuat dari besi. Sedangkan musayyadah adalah dicat dengan kapur atau yang tinggi.

Kesimpulannya, semua makna saling berdekatan, maksud ayat buruujim musayyadah adalah bangunan yang tinggi yang dicat dengan kapur atau benteng dan istana yang terbuat dari besi.

2. Ia bermakna gugusan bintang sebagaimana maksud ketiga ayat diatas.
Contohnya firman Allah dalam surah Al Buruuj :

وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلْبُرُوجِ

Menurut pendapat yang masyhur dalam bidang ini, ia adalah paksi-paksi planet yaitu 12 bintang bagi 12 planet. Paksi-paksi ini dilewati oleh matahari dalam masa setahun dan bulan dalam masa dua puluh delapan hari.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:99-100

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 78 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 78



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.4
Rating Pembaca: 4.4 (28 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku