Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 77


اَلَمۡ تَرَ اِلَی الَّذِیۡنَ قِیۡلَ لَہُمۡ کُفُّوۡۤا اَیۡدِیَکُمۡ وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ ۚ فَلَمَّا کُتِبَ عَلَیۡہِمُ الۡقِتَالُ اِذَا فَرِیۡقٌ مِّنۡہُمۡ یَخۡشَوۡنَ النَّاسَ کَخَشۡیَۃِ اللّٰہِ اَوۡ اَشَدَّ خَشۡیَۃً ۚ وَ قَالُوۡا رَبَّنَا لِمَ کَتَبۡتَ عَلَیۡنَا الۡقِتَالَ ۚ لَوۡ لَاۤ اَخَّرۡتَنَاۤ اِلٰۤی اَجَلٍ قَرِیۡبٍ ؕ قُلۡ مَتَاعُ الدُّنۡیَا قَلِیۡلٌ ۚ وَ الۡاٰخِرَۃُ خَیۡرٌ لِّمَنِ اتَّقٰی ۟ وَ لَا تُظۡلَمُوۡنَ فَتِیۡلًا
Alam tara ilaal-ladziina qiila lahum kuffuu aidiyakum waaqiimuush-shalaata waaatuuzzakaata falammaa kutiba ‘alaihimul qitaalu idzaa fariiqun minhum yakhsyaunannaasa kakhasyyatillahi au asyadda khasyyatan waqaaluuu rabbanaa lima katabta ‘alainaal qitaala laulaa akh-khartanaa ila ajalin qariibin qul mataa’uddunyaa qaliilun wal-aakhiratu khairun limaniittaqa walaa tuzhlamuuna fatiilaa;

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka:
“Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya.
Mereka berkata:
“Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami?
Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?”
Katakanlah:
“Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.
―QS. 4:77
Topik ▪ Takwa ▪ Keutamaan takwa ▪ Ampunan Allah yang luas
4:77, 4 77, 4-77, An Nisaa’ 77, AnNisaa 77, AnNisa 77, An-Nisa’ 77
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa' (4) : 77. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menggambarkan tentang keadaan orang-orang pada masa Jahiliah.
Mereka suka berperang meskipun karena sebab yang sekecil-kecilnya.
Setelah mereka masuk Islam, mereka diperintahkan supaya menghentikan perang dan mereka diperintahkan salat dan membayar zakat.
Sebagian dari mereka mengharap-harap adanya perintah perang karena kepentingan duniawi sebagaimana kebiasaan mereka pada masa Jahiliah.
Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada sebagian kaum Muslimin yang enggan berperang supaya mereka bersikap tenang dan menahan diri untuk mengadakan peperangan terhadap orang kafir dan mereka hanya diperintahkan melakukan salat dan membayar zakat Akan tetapi pada waktu mereka diperintahkan berperang ternyata sebagian dari mereka tidak bersemangat untuk berperang karena takut kepada musuh, padahal semestinya mereka hanya takut kepada Allah.
Malahan mereka berkata: "Mengapa kami diwajibkan berperang pada waktu ini, biarkanlah kami mati sebagaimana biasa".
Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepada Rasul Nya supaya mengatakan kepada sebahagian kaum Muslimin bahwa sikap mereka itu adalah sikap seorang pengecut.
karena takut mati dan cinta kepada harta dunia, sedangkan kelezatan dunia itu hanya sedikit sekali dibandingkan dengan kelezatan akhirat yang abadi dan tidak terbatas, yang hanya akan didapat oleh orang-orang yang bertakwa kepada Allah yaitu orang yang bersih dari syirik dan akhlak yang rendah.

Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Allah tidak akan menganiaya dan merugikan manusia.
Masing-masing akan mendapat balasan sesuai dengan amal perbuatannya, walaupun sebesar zarah.

An Nisaa' (4) ayat 77 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 77 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 77 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Muhammad, tidakkah kamu melihat dan heran terhadap orang-orang yang menginginkan perang sebelum datang perintah perang?
Kepada mereka dikatakan, "Belum tiba saatnya berperang, tahanlah dirimu, jagalah selalu salat dan zakat kalian." Akan tetapi, tatkala datang perintah berperang, sebagian mereka takut kepada manusia seperti halnya kepada Allah, bahkan lebih.
Dengan penuh heran, mereka berkata, "Mengapa Engkau mewajibkan berperang kepada kami?"
Mereka mengira bahwa kewajiban perang itu akan mempercapat kematian mereka.
Oleh karena itu mereka mengatakan, "Mengapa tidak Engkau tangguhkan beberapa waktu lagi, hingga kami dapat menikmati apa yang ada di dunia ini?"
Katakan kepada mereka, "Majulah ke medan pertempuran, meskipun perang itu akan menyebabkan kematian.
Kenikmatan dunia, meskipun tampak besar, sangat kecil dibanding kenikmatan akhirat.
Akhirat jauh lebih baik dan lebih besar artinya bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah.
Kalian akan diberi balasan sesuai dengan amal perbuatan kalian di dunia tanpa berkurang sedikit pun.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, "Tahanlah tanganmu) dari memerangi orang-orang kafir tatkala hal itu mereka tuntut di Mekah disebabkan penganiayaan orang-orang kafir terhadap mereka.
Dan mereka ini ialah segolongan sahabat (dan dirikanlah salat serta bayarkanlah zakat." Maka setelah diwajibkan atas mereka berperang tiba-tiba sebagian dari mereka takut kepada manusia) maksudnya kepada orang-orang kafir disebabkan tindakan dan keberanian mereka dalam peperangan itu (seperti menakuti) siksa (Allah bahkan lebih takut lagi) daripada itu.
Asyadda dibaca manshub karena menjadi hal juga sebagai jawaban terhadap apa yang ditunjukkan oleh idzaa dan yang sesudahnya artinya tiba-tiba mereka didatangi oleh ketakutan.
(kata mereka) karena cemas menghadapi maut ("Wahai Tuhan kami! Kenapa Engkau wajibkan atas kami berperang?
Kenapa tidak Engkau tangguhkan agak beberapa waktu lagi?"
Katakanlah) kepada mereka ("Kesenangan dunia) maksudnya apa-apa yang disenangi dan dinikmati di dunia ini (hanya sebentar) dan akan kembali lenyap (sedangkan akhirat) maksudnya surga (lebih baik bagi orang yang takwa) yakni yang menjaga diri dari siksa Allah dengan menjauhi larangan-Nya (dan kamu tidak akan dianiaya) dibaca dengan ta dan ya artinya tidak akan dikurangi amalmu (sedikit pun.") artinya walau sebesar kulit padi sekali pun, maka berjihad atau berusahalah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Apakah kamu tidak mengetahui wahai Rasul keadaan orang-orang yang kepada mereka dikatakan sebelum diwajibkannya berperang :
Tahanlah tangan kalian dengan tidak memerangi musuh kalian dari orang-orang musyrikin, dan kalian harus menegakkan shalat dan menunaikan zakat yang Allah wajibkan atas kalian.
Manakala berperang diwajibkan atas mereka, tiba-tiba sekelompk orang dari mereka berubah keadaannya,mereka takut dan gentar menghadapi manusia seperti mereka takut keapada Allah bahkan lebih, mereka menyampaikan besarnya rasa takut yang menimpa mereka sambil berkata :
Ya Tuhan Kami, mengapa Engkau mewajibkan kami untuk berperang?
Mengapa Engkau tidak menundanya beberapa saat.
Mereka mengucapkannya karena mereka lebih menyukai kehidupan dunia.
Katakanlah kepada mereka wahai Rasul :
Kenikmatan dunia itu sedikit sedangkan akhirat dan apa yang ada padanya adalah lebih agung dan lebih kekal bagi siapa yang bertakwa, yang melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya dan menjauhi apa yang dilarang darinya.
Tuhanmu tidak menzhalimi seorang pun sedikit pun, sekalipun hanya setipis kulit di antara biji kurma dengan dagingnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Dahulu di masa permulaan Islam ketika orang-orang mukmin masih berada di Mekah, mereka diperintahkan untuk mengerjakan salat dan menunaikan zakat, sekalipun masih belum ada ketentuan nisab-nya.
Mereka diperintahkan untuk membantu orang-orang yang miskin dari kalangan mereka sendiri, diperintahkan pula bersikap pemaaf, mengampuni perbuatan orang-orang musyrik, dan bersabar sampai datang perintah dari Allah.

Mereka sangat merindukan adanya perintah dari Allah yang memerintahkan agar mereka berperang melawan musuh-musuh mereka, untuk membalas sakit hati terhadap orang-orang musyrik yang selalu mengganggu mereka.
Saat itu perintah berperang masih belum sesuai karena banyak sebab, antara lain ialah kaum muslim masih minoritas bila dibandingkan dengan musuh mereka.
Penyebab Lainnya ialah karena keberadaan kaum mukmin saat itu ada di negeri mereka sendiri, yaitu di Tanah Suci Mekah yang merupakan bagian dari bumi yang paling suci.
Perintah untuk berperang di dalam negeri mereka bukan atas dasar memulai, menurut suatu pendapat.
Karena itulah maka jihad baru diperintahkan hanya di Madinah, yaitu di saat kaum mukmin telah mempunyai negeri sendiri, pertahanan, dan para penolongnya.

Akan tetapi, setelah mereka diperintahkan berperang seperti yang mereka dambakan sebelumnya, ternyata sebagian dari mereka ada yang mengeluh dan menjadi takut menghadapi manusia dengan takut yang sangat.
Hal ini disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta'ala.
melalui firman-Nya:

Mereka berkata, "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami?
Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai ke beberapa waktu lagi?"

Yakni mengapa tidak Engkau tangguhkan kewajiban berperang itu sampai beberapa waktu yang lain, karena sesungguhnya perang itu berakibat teralirkannya darah, anak-anak menjadi yatim, dan istri-istri menjadi janda?
Makna ayat ini sama dengan ayat Lainnya, yaitu firman-Nya:

Dan orang-orang yang beriman berkata, "Mengapa tiada diturunkan suatu surat?"
Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang.
(Muhammad:20), hingga beberapa ayat berikutnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul Aziz, dari Abu Zar'ah dan Ali ibnu Rumhah, keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Hasan, dari Al-Husain ibnu Waqid, dari Amr ibnu Dinar, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Abdur Rahman ibnu Auf dan beberapa orang temannya datang menemui Nabi ﷺ di Mekah.
Lalu mereka berkata, "Wahai Nabi Allah, dahulu kami berada dalam kejayaan ketika masih musyrik.
Tetapi setelah beriman, kami menjadi kalah." Nabi ﷺ bersabda: Sesungguhnya aku diperintahkan untuk memberi maaf (terhadap tindakan-tindakan kaum musyrik).
Karena itu, janganlah kalian memerangi kaum itu.
Setelah Allah memindahkan Nabi ﷺ ke Madinah, maka Allah memerintahkannya untuk memerangi orang-orang musyrik.
Ternyata mereka yang berkata demikian tidak mau berperang.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, "Tahanlah tangan kalian (dari berperang).", hingga akhir ayat.

Imam Nasai dan Imam Hakim serta Ibnu Murdawaih meriwayatkannya melalui hadis Ali ibnul Hasan ibnu Syaqiq dengan lafaz yang sama.

Asbat meriwayatkan dari As-Saddi, bahwa tiada yang diwajibkan atas kaum mukmin saat itu kecuali hanya salat dan zakat.
Lalu mereka meminta kepada Allah agar diwajibkan berperang atas diri mereka.
Ketika diwajibkan atas mereka berperang, maka keadaannya berbeda, seperti yang disebutkan firman-Nya:

...tiba-tiba sebagian dari mereka takut kepada manusia (musuh) seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih (sangat) dari itu takutnya.
Mereka berkata, "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami?
Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai ke beberapa waktu lagi?"

Yang dimaksud dengan ajalin qarib ialah mati.
Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman:

Katakanlah, "Kesenangan dunia ini hanya sebentar, dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa."
Mujahid mengatakan, sesungguhnya ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Yahudi, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Dan firman-Nya:

Katakanlah, "Kesenangan dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa."

Artinya, akhirat bagi orang yang bertakwa adalah lebih baik daripada kehidupan dunianya.

dan kalian tidak akan dianiaya sedikit pun

Tiada sedikit pun dari amal perbuatan kalian yang dianiaya, melainkan semuanya pasti ditunaikan dengan balasan yang sempurna.

Makna ayat ini mengandung pengertian hiburan bagi kaum mukmin dalam menghadapi kehidupan dunia, sekaligus menanamkan rasa suka kepada pahala akhirat serta menggugah mereka untuk berjihad.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ya'qub ibnu Ibrahim Ad-Dauraqi, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Zaid, dari Hisyam yang menceritakan bahwa Al-Hasan Al-Basri membacakan firman-Nya:

Katakanlah, "Kesenangan dunia ini hanya sebentar."

Lalu ia berkata, "Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menilai duniawi dengan penilaian tersebut.
Dunia ini semuanya dari awal sampai akhir, tiada lain sama halnya dengan seorang lelaki yang tertidur sejenak, lalu ia melihat dalam mimpinya sesuatu yang disukainya.
Tetapi tidak lama kemudian ia terbangun dari tidurnya."

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa' (4) Ayat 77

Diriwayatkan oleh an-Nasa-i dan al-Hakim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ‘Abdurrahaman bin ‘Auf dan kawan-kawannya menghadap Nabi ﷺ dan berkata: “Ya Nabiyallah.
Dahulu ketika kiami di Mekah, di saat kami musyrik, kami merasa mulia dan pemberani, tetapi kini setelah kami beriman, kami jadi hina.” Nabi menjawab:
“Dahulu aku diperintahkan untuk toleran dan dilarang memerangi mereka (kaum musyrikin).
Setelah hijrah ke Madinah, kaum Muslimin diperintahkan berperang, akan tetapi mereka (‘Abdurrahman dan kawan-kawannya) enggan.” Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 77) sebagai pemberi semangat untuk turut jihad.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa' (4) Ayat 77

ZAKAAH
لزَّكَوٰة

Lafaz ini dalam bentuk mashdar, diambil dari kata kerja zakaa yang artinya memperbaiki, menyucikan dan memuji.

Dalam Ensiklopedi Islam, zakaah ialah penyucian, tumbuh dengan subur, bermanfaat dan menjadi suci."

Al Kafawi berkata,
setiap sesuatu yang bertambah adalah zakaah. Sesuatu yang dikeluarkan dari harta untuk orang miskin berdasarkan kewajiban dari syara' adalah zakaah karena ia menambahkan harta yang dikeluarkannya, mengembangkannya dan menjauhkannya dari segala cacat dan kerusakan."

Disebut 32 kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 43, 83, 110, 177, 277;
-An Nisaa (4), ayat 77, 162;
-Al Maa'idah (5), ayat 12, 55;
-Al A'raaf (7), ayat 156;
-At Taubah (9), ayat 5, 11, 18, 71;
-Al Kahfi (18), ayat 81;
-Maryam (19), ayat 13, 31, 55;
-Al Anbiyaa (21), ayat 73;
-Al Haj (22), ayat 41, 78;
-Al Mu'minuun (23), ayat 4;
-An Nuur (24), ayat 37, 56;
-An Naml (27), ayat: 3;
-Ar Rum (30), ayat 39;
-Luqman (31), ayat 4;
-Al Ahzab (33), ayat 33;
-Fushshilat (41), ayat 7;
-Al Mujadalah (58), ayat 13;
-Al Muzzammil (73), ayat 20;
-Al Bayyinah (98), ayat 5.

Al Qurtubi berkata,
az zakaah dipetik dari zaka asy syai' apabila ia bertambah dan berkembang.

Dikatakan zakaa az zar' wal mal artinya apabila tanaman dan harta bertambah banyak.

Rajul zakiyy bermakna kebaikan lelaki itu bertambah. Pengeluaran dari harta ialah zakaah. karena ia berkembang dari sudut ke­berkahan atau ganjaran pahala yang diberikan bagi mengeluarkan.

Sebahagian ulama mengatakan az zakaah diambil dari Ath thathir yaitu penyucian dan pembersihan seperti perkataan zakaa fulaan yang berarti menyucikan dirinya dari kekotoran dan kebodohan. Dari makna ini, seolah-olah yang keluar dari harta menyucikan dan membersihkannya dengan memberi kepada yang berhak dan Allah menjadikannya untuk orang miskin. Tidakkah engkau mendengar Nabi Muhammad me­namakan bagi yang tidak mengeluarkan zakat dengan kotoran manusia.Allah berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا

Asy Sya'rawi berkata,
"Kewajiban menunaikan zakat pada hamba mukmin mesti bergerak dalam kehidupannya untuk bekerja dan beramal sesuatu yang bermanfaat padanya dan orang yang tidak mampu bergerak dalam kehidupannya.

Ketika Allah meminta manusia berusaha di muka bumi, tidak me­minta berusaha sebatas yang termampu saja, malah meminta bergerak dan berusaha lebih dari sekadar keperluan, sehingga usaha ini meluas dan mencakup kehidupan orang yang tidak mampu berusaha dan bergerak. Oleh karena itu, masyarakat meluas bagi semuanya, menghilangkan hasad dan dengki serta hasil­nya dapat membersihkan jiwa."

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:260-261

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa', yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa' karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa' dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Al Kubraa" (surat An Nisaa' yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Ash Shughraa" (surat An Nisaa' yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf'
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 77 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 77



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.9
Rating Pembaca: 4.3 (27 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun ’ (QS 4:77