Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages
Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 77 [QS. 4:77]

اَلَمۡ تَرَ اِلَی الَّذِیۡنَ قِیۡلَ لَہُمۡ کُفُّوۡۤا اَیۡدِیَکُمۡ وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ ۚ فَلَمَّا کُتِبَ عَلَیۡہِمُ الۡقِتَالُ اِذَا فَرِیۡقٌ مِّنۡہُمۡ یَخۡشَوۡنَ النَّاسَ کَخَشۡیَۃِ اللّٰہِ اَوۡ اَشَدَّ خَشۡیَۃً ۚ وَ قَالُوۡا رَبَّنَا لِمَ کَتَبۡتَ عَلَیۡنَا الۡقِتَالَ ۚ لَوۡ لَاۤ اَخَّرۡتَنَاۤ اِلٰۤی اَجَلٍ قَرِیۡبٍ ؕ قُلۡ مَتَاعُ الدُّنۡیَا قَلِیۡلٌ ۚ وَ الۡاٰخِرَۃُ خَیۡرٌ لِّمَنِ اتَّقٰی ۟ وَ لَا تُظۡلَمُوۡنَ فَتِیۡلًا
Alam tara ilaal-ladziina qiila lahum kuffuu aidiyakum waaqiimuush-shalaata waaatuuzzakaata falammaa kutiba ‘alaihimul qitaalu idzaa fariiqun minhum yakhsyaunannaasa kakhasyyatillahi au asyadda khasyyatan waqaaluuu rabbanaa lima katabta ‘alainaal qitaala laulaa akh-khartanaa ila ajalin qariibin qul mataa’uddunyaa qaliilun wal-aakhiratu khairun limaniittaqa walaa tuzhlamuuna fatiilaa;
Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, “Tahanlah tanganmu (dari berperang), laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat!”
Ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba sebagian mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih takut (dari itu).
Mereka berkata,
“Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami?
Mengapa tidak Engkau tunda (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?”
Katakanlah,
“Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa (mendapat pahala turut berperang) dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.”
―QS. 4:77
Topik ▪ Takwa ▪ Keutamaan takwa ▪ Ampunan Allah yang luas
English Translation - Sahih International
Have you not seen those who were told,
“Restrain your hands (from fighting) and establish prayer and give zakah”?
But then when fighting was ordained for them, at once a party of them feared men as they fear Allah or with (even) greater fear.
They said,
“Our Lord, why have You decreed upon us fighting?
If only You had postponed (it for) us for a short time.”
Say, The enjoyment of this world is little, and the Hereafter is better for he who fears Allah.
And injustice will not be done to you, (even) as much as a thread (inside a date seed).”
―QS. 4:77

Alquran Arti Perkata (Indonesia & English)
أَلَمْ tidaklah

Have not
تَرَ kamu perhatikan

you seen
إِلَى kepada

[towards]
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

those who
قِيلَ dikatakan

(when) it was said
لَهُمْ kepada mereka

to them,
كُفُّوٓا۟ tahanlah

“Restrain
أَيْدِيَكُمْ tanganmu

your hands
وَأَقِيمُوا۟ dan dirikanlah

and establish
ٱلصَّلَوٰةَ sholat

the prayer
وَءَاتُوا۟ dan tunaikan

and give
ٱلزَّكَوٰةَ zakat

the zakah?”
فَلَمَّا maka setelah

Then when
كُتِبَ diwajibkan

was ordained
عَلَيْهِمُ atas mereka

on them
ٱلْقِتَالُ berperang

the fighting,
إِذَا tiba-tiba

then
فَرِيقٌ segolongan

a group
مِّنْهُمْ dari mereka

of them
يَخْشَوْنَ mereka takut

[they] fear
ٱلنَّاسَ manusia

the people
كَخَشْيَةِ seperti takut

as (they) fear
ٱللَّهِ Allah

Allah
أَوْ atau

or
أَشَدَّ lebih

more intense
خَشْيَةً takut

fear,
وَقَالُوا۟ dan mereka berkata

and they said,
رَبَّنَا ya Tuhan kami

“Our Lord
لِمَ mengapa

why
كَتَبْتَ Engkau wajibkan

have You ordained

 

Tafsir surah An Nisaa' (4) ayat 77

Tafsir

Alquran

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Muhammad, tidakkah kamu melihat dan heran terhadap orang-orang yang menginginkan perang sebelum datang perintah perang?
Kepada mereka dikatakan,
“Belum tiba saatnya berperang, tahanlah dirimu, jagalah selalu salat dan zakat kalian.”
Akan tetapi, tatkala datang perintah berperang, sebagian mereka takut kepada manusia seperti halnya kepada Allah, bahkan lebih.
Dengan penuh heran, mereka berkata,
“Mengapa Engkau mewajibkan berperang kepada kami?”
Mereka mengira bahwa kewajiban perang itu akan mempercapat kematian mereka.
Oleh karena itu mereka mengatakan,
“Mengapa tidak Engkau tangguhkan beberapa waktu lagi, hingga kami dapat menikmati apa yang ada di dunia ini?”
Katakan kepada mereka,
“Majulah ke medan pertempuran, meskipun perang itu akan menyebabkan kematian.
Kenikmatan dunia, meskipun tampak besar, sangat kecil dibanding kenikmatan akhirat.
Akhirat jauh lebih baik dan lebih besar artinya bagi orang-orang yang bertakwa kepada Allah.
Kalian akan diberi balasan sesuai dengan amal perbuatan kalian di dunia tanpa berkurang sedikit pun.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka,
“Tahanlah tanganmu) dari memerangi orang-orang kafir tatkala hal itu mereka tuntut di Mekah disebabkan penganiayaan orang-orang kafir terhadap mereka.
Dan mereka ini ialah segolongan sahabat

(dan dirikanlah salat serta bayarkanlah zakat.”
Maka setelah diwajibkan atas mereka berperang tiba-tiba sebagian dari mereka takut kepada manusia) maksudnya kepada orang-orang kafir disebabkan tindakan dan keberanian mereka dalam peperangan itu

(seperti menakuti) siksa

(Allah bahkan lebih takut lagi) daripada itu.
Asyadda dibaca manshub karena menjadi hal juga sebagai jawaban terhadap apa yang ditunjukkan oleh idzaa dan yang sesudahnya artinya tiba-tiba mereka didatangi oleh ketakutan.

(kata mereka) karena cemas menghadapi maut

(“Wahai Tuhan kami! Kenapa Engkau wajibkan atas kami berperang?
Kenapa tidak Engkau tangguhkan agak beberapa waktu lagi?”
Katakanlah) kepada mereka

(“Kesenangan dunia) maksudnya apa-apa yang disenangi dan dinikmati di dunia ini

(hanya sebentar) dan akan kembali lenyap

(sedangkan akhirat) maksudnya surga

(lebih baik bagi orang yang takwa) yakni yang menjaga diri dari siksa Allah dengan menjauhi larangan-Nya

(dan kamu tidak akan dianiaya) dibaca dengan ta dan ya artinya tidak akan dikurangi amalmu

(sedikit pun.”) artinya walau sebesar kulit padi sekali pun, maka berjihad atau berusahalah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Apakah kamu tidak mengetahui wahai Rasul keadaan orang-orang yang kepada mereka dikatakan sebelum diwajibkannya berperang:
Tahanlah tangan kalian dengan tidak memerangi musuh kalian dari orang-orang musyrikin, dan kalian harus menegakkan shalat dan menunaikan zakat yang Allah wajibkan atas kalian.
Manakala berperang diwajibkan atas mereka, tiba-tiba sekelompk orang dari mereka berubah keadaannya,mereka takut dan gentar menghadapi manusia seperti mereka takut keapada Allah bahkan lebih, mereka menyampaikan besarnya rasa takut yang menimpa mereka sambil berkata:
“Ya Tuhan Kami, mengapa Engkau mewajibkan kami untuk berperang?
Mengapa Engkau tidak menundanya beberapa saat.”
Mereka mengucapkannya karena mereka lebih menyukai kehidupan dunia.
Katakanlah kepada mereka wahai Rasul,
“Kenikmatan dunia itu sedikit sedangkan akhirat dan apa yang ada padanya adalah lebih agung dan lebih kekal bagi siapa yang bertakwa, yang melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya dan menjauhi apa yang dilarang darinya.”
Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun sedikit pun, sekalipun hanya setipis kulit di antara biji kurma dengan dagingnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Dahulu di masa permulaan Islam ketika orang-orang mukmin masih berada di Mekah, mereka diperintahkan untuk mengerjakan salat dan menunaikan zakat, sekalipun masih belum ada ketentuan nisab-nya.
Mereka diperintahkan untuk membantu orang-orang yang miskin dari kalangan mereka sendiri, diperintahkan pula bersikap pemaaf, mengampuni perbuatan orang-orang musyrik, dan bersabar sampai datang perintah dari Allah.

Mereka sangat merindukan adanya perintah dari Allah yang memerintahkan agar mereka berperang melawan musuh-musuh mereka, untuk membalas sakit hati terhadap orang-orang musyrik yang selalu mengganggu mereka.
Saat itu perintah berperang masih belum sesuai karena banyak sebab, antara lain ialah kaum muslim masih minoritas bila dibandingkan dengan musuh mereka.
Penyebab Lainnya ialah karena keberadaan kaum mukmin saat itu ada di negeri mereka sendiri, yaitu di Tanah Suci Mekah yang merupakan bagian dari bumi yang paling suci.
Perintah untuk berperang di dalam negeri mereka bukan atas dasar memulai, menurut suatu pendapat.
Karena itulah maka jihad baru diperintahkan hanya di Madinah, yaitu di saat kaum mukmin telah mempunyai negeri sendiri, pertahanan, dan para penolongnya.

Akan tetapi, setelah mereka diperintahkan berperang seperti yang mereka dambakan sebelumnya, ternyata sebagian dari mereka ada yang mengeluh dan menjadi takut menghadapi manusia dengan takut yang sangat.
Hal ini disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, melalui firman-Nya:

Mereka berkata,
“Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami?
Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai ke beberapa waktu lagi?”

Yakni mengapa tidak Engkau tangguhkan kewajiban berperang itu sampai beberapa waktu yang lain, karena sesungguhnya perang itu berakibat teralirkannya darah, anak-anak menjadi yatim, dan istri-istri menjadi janda?
Makna ayat ini sama dengan ayat Lainnya, yaitu firman-Nya:

Dan orang-orang yang beriman berkata,
“Mengapa tiada diturunkan suatu surat?”
Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang.
(QS. Muhammad [47]: 20), hingga beberapa ayat berikutnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul Aziz, dari Abu Zar’ah dan Ali ibnu Rumhah, keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnul Hasan, dari Al-Husain ibnu Waqid, dari Amr ibnu Dinar, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa Abdur Rahman ibnu Auf dan beberapa orang temannya datang menemui Nabi ﷺ di Mekah.
Lalu mereka berkata,
“Wahai Nabi Allah, dahulu kami berada dalam kejayaan ketika masih musyrik.
Tetapi setelah beriman, kami menjadi kalah.”
Nabi ﷺ bersabda:
Sesungguhnya aku diperintahkan untuk memberi maaf (terhadap tindakan-tindakan kaum musyrik).
Karena itu, janganlah kalian memerangi kaum itu.
Setelah Allah memindahkan Nabi ﷺ ke Madinah, maka Allah memerintahkannya untuk memerangi orang-orang musyrik.
Ternyata mereka yang berkata demikian tidak mau berperang.
Maka Allah menurunkan firman-Nya:

Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka,
“Tahanlah tangan kalian (dari berperang).”
, hingga akhir ayat.

Imam Nasai dan Imam Hakim serta Ibnu Murdawaih meriwayatkannya melalui hadis Ali ibnul Hasan ibnu Syaqiq dengan lafaz yang sama.

Asbat meriwayatkan dari As-Saddi, bahwa tiada yang diwajibkan atas kaum mukmin saat itu kecuali hanya salat dan zakat.
Lalu mereka meminta kepada Allah agar diwajibkan berperang atas diri mereka.
Ketika diwajibkan atas mereka berperang, maka keadaannya berbeda, seperti yang disebutkan firman-Nya:

…tiba-tiba sebagian dari mereka takut kepada manusia (musuh) seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih (sangat) dari itu takutnya.
Mereka berkata,
“Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami?
Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai ke beberapa waktu lagi?”

Yang dimaksud dengan ajalin qarib ialah mati.
Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman:

Katakanlah,
“Kesenangan dunia ini hanya sebentar, dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa.”

Mujahid mengatakan, sesungguhnya ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Yahudi, diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Dan firman-Nya:

Katakanlah,
“Kesenangan dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa.”

Artinya, akhirat bagi orang yang bertakwa adalah lebih baik daripada kehidupan dunianya.

dan kalian tidak akan dianiaya sedikit pun

Tiada sedikit pun dari amal perbuatan kalian yang dianiaya, melainkan semuanya pasti ditunaikan dengan balasan yang sempurna.

Makna ayat ini mengandung pengertian hiburan bagi kaum mukmin dalam menghadapi kehidupan dunia, sekaligus menanamkan rasa suka kepada pahala akhirat serta menggugah mereka untuk berjihad.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ibrahim Ad-Dauraqi, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Zaid, dari Hisyam yang menceritakan bahwa Al-Hasan Al-Basri membacakan firman-Nya:

Katakanlah,
“Kesenangan dunia ini hanya sebentar.”

Lalu ia berkata,
“Semoga Allah merahmati seorang hamba yang menilai duniawi dengan penilaian tersebut.
Dunia ini semuanya dari awal sampai akhir, tiada lain sama halnya dengan seorang lelaki yang tertidur sejenak, lalu ia melihat dalam mimpinya sesuatu yang disukainya.
Tetapi tidak lama kemudian ia terbangun dari tidurnya.”

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 77

Diriwayatkan oleh an-Nasa-i dan al-Hakim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ‘Abdurrahaman bin ‘Auf dan kawan-kawannya menghadap Nabi ﷺ dan berkata: “Ya Nabiyallah.
Dahulu ketika kiami di Mekah, di saat kami musyrik, kami merasa mulia dan pemberani, tetapi kini setelah kami beriman, kami jadi hina.” Nabi menjawab:
“Dahulu aku diperintahkan untuk toleran dan dilarang memerangi mereka (kaum musyrikin).
Setelah hijrah ke Madinah, kaum Muslimin diperintahkan berperang, akan tetapi mereka (‘Abdurrahman dan kawan-kawannya) enggan.” Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 77) sebagai pemberi semangat untuk turut jihad.

Sumber : Asbabun NuzulK.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa’ (4) Ayat 77
ZAKAAH لزَّكَوٰة

Lafaz ini dalam bentuk mashdar, diambil dari kata kerja zakaa yang artinya memperbaiki, menyucikan dan memuji.

Dalam Ensiklopedi Islam, zakaah ialah penyucian, tumbuh dengan subur, bermanfaat dan menjadi suci.”

Al Kafawi berkata,
setiap sesuatu yang bertambah adalah zakaah. Sesuatu yang dikeluarkan dari harta untuk orang miskin berdasarkan kewajiban dari syara’ adalah zakaah karena ia menambahkan harta yang dikeluarkannya, mengembangkannya dan menjauhkannya dari segala cacat dan kerusakan.”

Disebut 32 kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 43, 83, 110, 177, 277;
An Nisaa (4), ayat 77, 162;
Al Maa’idah (5), ayat 12, 55;
Al A’raaf (7), ayat 156;
At Taubah (9), ayat 5, 11, 18, 71;
Al Kahfi (18), ayat 81;
Maryam (19), ayat 13, 31, 55;
-Al Anbiyaa (21), ayat 73;
-Al Haj (22), ayat 41, 78;
Al Mu’minuun (23), ayat 4;
An Nuur (24), ayat 37, 56;
An Naml (27), ayat: 3;
Ar Rum (30), ayat 39;
Luqman (31), ayat 4;
Al Ahzab (33), ayat 33;
Fushshilat (41), ayat 7;
-Al Mujadalah (58), ayat 13;
Al Muzzammil (73), ayat 20;
Al Bayyinah (98), ayat 5.

Al Qurtubi berkata,
az zakaah dipetik dari zaka asy syai’ apabila ia bertambah dan berkembang.

Dikatakan zakaa az zar’ wal mal artinya apabila tanaman dan harta bertambah banyak.

Rajul zakiyy bermakna kebaikan lelaki itu bertambah.
Pengeluaran dari harta ialah zakaah. karena ia berkembang dari sudut keberkahan atau ganjaran pahala yang diberikan bagi mengeluarkan.

Sebahagian ulama mengatakan az zakaah diambil dari Ath thathir yaitu penyucian dan pembersihan seperti perkataan zakaa fulaan yang berarti menyucikan dirinya dari kekotoran dan kebodohan.
Dari makna ini, seolah-olah yang keluar dari harta menyucikan dan membersihkannya dengan memberi kepada yang berhak dan Allah menjadikannya untuk orang miskin.
Tidakkah engkau mendengar Nabi Muhammad menamakan bagi yang tidak mengeluarkan zakat dengan kotoran manusia.Allah berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا

Asy Sya’rawi berkata,
“Kewajiban menunaikan zakat pada hamba mukmin mesti bergerak dalam kehidupannya untuk bekerja dan beramal sesuatu yang bermanfaat padanya dan orang yang tidak mampu bergerak dalam kehidupannya.

Ketika Allah meminta manusia berusaha di muka bumi, tidak meminta berusaha sebatas yang termampu saja, malah meminta bergerak dan berusaha lebih dari sekadar keperluan, sehingga usaha ini meluas dan mencakup kehidupan orang yang tidak mampu berusaha dan bergerak.
Oleh karena itu, masyarakat meluas bagi semuanya, menghilangkan hasad dan dengki serta hasilnya dapat membersihkan jiwa.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 260-261

Unsur Pokok Surah An Nisaa’ (النّساء)
Surat An-Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al-Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath-Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

▪ Kewajiban para washi dan para wali.
Hukum poligami.
▪ Mas kawin.
▪ Memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya.
▪ Pokok-pokok hukum warisan.
▪ Perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya.
▪ Wanita-wanita yang haram dikawini.
Hukum mengawini budak wanita.
▪ Larangan memakan harta secara bathil.
Hukum syiqaq dan nusyuz.
▪ Kesucian lahir batin dalam shalat.
Hukum suaka.
Hukum membunuh seorang Islam.
Shalat khauf’.
▪ Larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk.
▪ Masalah pusaka kalalah.

Kisah:

▪ Kisah-kisah tentang nabi Musa `alaihis salam dan pengikutnya.

Lain-lain:

▪ Asal manusia adalah satu.
▪ Keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita.
Normanorma bergaul dengan isteri.
▪ <a aria-describedby="tt" href="https://risalahmuslim.id/kamus/haq" class="glossaryLink cmtt_Istilah Umum" data-cmtooltip="

haq
Sebelum menjalani hukuman mati, seorang sufi, Hussein bin Manshur al Hallaj, berjalan sambil dikawal aparat.<BR CLASS=""> Ketika melihat kerumunan orang, dia berkata lantang,“Haq, haq, haq, ana al-haq (kebenaran, kebenaran, kebenaran, akulah kebenaran).”Dia pun harus menjalani hukuman mati atas pernyataannya yang kontroversial itu.<BR CLASS="">Lantas, apa sebetulnya makna al-haq? Ensiklopedia Alquran: Kajian Kosakata Menulis menjelaskan bahwa kata yang terdiri atas huruf haa dan qaf itu maknanya berkisar padaㅤ(…)</BR></BR>

” >Hak seseorang sesuai dengan kewajibannya.
▪ Perlakuan ahli kitab terhadap kitabkitab yang diturunkan kepadanya.
▪ Dasar-dasar pemerintahan.
▪ Cara mengadili perkara.
▪ Keharusan siap-siaga terhadap musuh.
▪ Sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi peperangan.
▪ Berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf.
Norma dan adab dalam peperangan.
▪ Cara menghadapi orang-orang munafik.
▪ Derajat orang yang berjihad.

Qari Internasional

QS. An-Nisaa’ (4) : 77 ⊸ Syekh Mishari Alafasy

QS. An-Nisaa’ (4) : 77 ⊸ Syekh Sa’ad Al-Ghamidi

QS. An-Nisaa’ (4) : 77 ⊸ Syekh Muhammad Ayyub

Murottal Alquran & Terjemahan Indonesia
QS. An-Nisaa’ (4) : 1-176 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan

Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan

Gambar Ayat

Surah An Nisaa' ayat 77 - Gambar 1 Surah An Nisaa' ayat 77 - Gambar 2

Statistik QS. 4:77
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa’.

Surah An-Nisa’ (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, “Wanita”) terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah 4
Nama Surah An Nisaa’
Arab النّساء
Arti Wanita
Nama lain Al-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 92
Juz Juz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 176
Jumlah kata 3764
Jumlah huruf 16327
Surah sebelumnya Surah Ali ‘Imran
Surah selanjutnya Surah Al-Ma’idah
Sending
User Review
4.3 (27 votes)

Tags:

Quran 4:77, 4 77, 4-77, An Nisaa’ 77, tafsir surat AnNisaa 77, AnNisa 77, An-Nisa’ 77

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Hadits Shahih

Podcast

Haditds & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Pendidikan Agama Islam #22

Matahari berputar mengelilingi sumbunya, termasuk contoh takdir … mabrur muannas muallaf mubram muallaq Benar!

Ayat Pilihan

Hadits Pilihan

Kamus Istilah Islam