Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 65


فَلَا وَ رَبِّکَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ حَتّٰی یُحَکِّمُوۡکَ فِیۡمَا شَجَرَ بَیۡنَہُمۡ ثُمَّ لَا یَجِدُوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ حَرَجًا مِّمَّا قَضَیۡتَ وَ یُسَلِّمُوۡا تَسۡلِیۡمًا
Falaa warabbika laa yu’minuuna hatta yuhakkimuuka fiimaa syajara bainahum tsumma laa yajiduu fii anfusihim harajan mimmaa qadhaita wayusallimuu tasliiman;

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.
―QS. 4:65
Topik ▪ Keutamaan Al Qur’an ▪ Berpegang teguh pada Kitab dan Sunnah ▪ Allah menggerakkan hati manusia
4:65, 4 65, 4-65, An Nisaa’ 65, AnNisaa 65, AnNisa 65, An-Nisa’ 65
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 65. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menjelaskan dengan sumpah bahwa walaupun ada orang yang mengaku beriman, tetapi pada hakikatnya tidaklah mereka beriman selama mereka tidak mau bertahkim kepada Rasul.
Rasulullah ﷺ pernah mengambil keputusan dalam perselisihan yang terjadi di antara mereka, seperti yang terjadi pada orang-orang munafik.
Atau mereka bertahkim kepada Rasul tetapi kalau putusannya tidak sesuai dengan keinginan mereka lalu merasa keberatan dan tidak senang atas putusan itu, seperti putusan Nabi untuk az-Zubair bin Awwam ketika seorang laki-laki dari kaum Ansar yang tersebut di atas datang dan bertahkim kepada Rasulullah.
Jadi orang yang benar-benar beriman haruslah mau bertahkim kepada Rasulullah dan menerima putusannya dengan sepenuh hati tanpa merasa curiga dan keberatan.
Memang putusan seorang hakim baik ia seorang rasul maupun bukan, haruslah berdasarkan kenyataan dan bukti-bukti yang cukup.

An Nisaa' (4) ayat 65 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 65 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 65 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Demi Tuhanmu, mereka tidak dianggap beriman dan tunduk kepada kebenaran, sebelum mereka menjadikan kamu sebagai hakim yang memutuskan persengketaan yang timbul di antara mereka, lalu tidak merasa berat hati dengan keputusan yang kamu ambil, dan tunduk kepadamu setunduk orang-orang Mukmin yang benar.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka demi Tuhanmu) la menjadi tambahan (mereka tidaklah beriman sebelum menjadikanmu sebagai hakim tentang urusan yang menjadi pertikaian) atau sengketa (di antara mereka kemudian mereka tidak merasakan dalam hati mereka suatu keberatan) atau keragu-raguan (tentang apa yang kamu putuskan dan mereka menerima) atau tunduk kepada putusanmu itu (dengan sepenuhnya) tanpa bimbang atau ragu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah bersumpah dengan diri-Nya yang mulia bahwa mereka itu belum beriman dalam arti yang sebenarnya, sehingga mereka menjadikanmu sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan saat kamu masih hidup, dan setelah kamu mati mereka tetap bersedia berhakim kepada sunnahmu.
Kemudian mereka tidak menyanggah sedikitpun keputusan yang kamu berikan kepada mereka, mereka tunduk kepadanya secara sempurna.
Berhakim kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah صلی الله عليه وسلم mencakup al-Qur an dan sunnah dalam segala urusan kehidupan, termasuk tuntutan iman disertai dengan sikap menerima dan rela.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan.

Allah subhanahu wa ta’ala.
bersumpah dengan menyebut diri-Nya Yang Mahamulia lagi Mahasuci, bahwa tidaklah beriman seseorang sebelum ia menjadikan Rasul ﷺ sebagai hakimnya dalam semua urusannya.
Semua yang diputuskan oleh Rasul ﷺ adalah perkara yang hak dan wajib diikuti lahir dan batin.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.

Dengan kata lain, apabila mereka meminta keputusan hukum darimu, maka mereka menaatinya dengan tulus ikhlas sepenuh hati mereka, dan dalam hati mereka tidak terdapat suatu keberatan pun terhadap apa yang telah engkau putuskan, mereka tunduk kepadanya secara lahir batin serta menerimanya dengan sepenuhnya, tanpa ada rasa yang mengganjal, tanpa ada tolakan, dan tanpa ada sedikit pun rasa menentangnya.
Seperti yang dinyatakan di dalam sebuah hadis yang mengatakan:

Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, tidak sekali-kali seseorang di antara kalian beriman sebelum keinginannya mengikuti keputusan yang telah ditetapkan olehku.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali Ibnu Abdullah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Urwah yang telah menceritakan bahwa Az-Zubair pernah bersengketa dengan seorang lelaki dalam masalah pengairan di lahan Harrah (Madinah).
Maka Nabi ﷺ bersabda: Hai Zubair, airilah lahanmu, kemudian salurkan airnya kepada lahan tetanggamu! Kemudian lelaki yang dari kalangan Ansar itu berkata, “Wahai Rasulullah, engkau putuskan demikian karena dia adalah saudara sepupumu.” Maka roman wajah Rasulullah ﷺ memerah (marah), kemudian bersabda lagi: Airilah lahanmu, hai Zubair, lalu tahanlah airnya hingga berbalik ke arah tembok, kemudian alirkanlah ke lahan tetanggamu.
Dalam keputusan ini Nabi ﷺ menjaga hak Az-Zubair dengan keputusan yang gamblang karena orang Ansar tersebut menahan air itu.
Nabi ﷺ memberikan saran demikian ketika keduanya melaporkan hal tersebut kepadanya, dan ternyata keputusannya itu mengandung keadilan yang merata.
Az-Zubair mengatakan, “Aku merasa yakin ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa tersebut.” Yang dimaksud olehnya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala.
yang mengatakan: Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan.
(An Nisaa:65), hingga akhir ayat.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah An Nisaa' (4) ayat 65
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Urwah berkata,
bahwa seorang laki-laki Anshar berselisih dengan Az Zubair mengenai mata air Al Harrah. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kemudian bersabda:
Alirilah kebunmu wahai Zubair, setelah itu berikanlah kepada tetanggamu. Tetapi laki-laki Anshar itu marah seraya berkata,
Wahai Rasulullah, apakah karena ia anak dari pamanmu! Maka Wajah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memerah, kemudian beliau bersabda:
Wahai Zubair, airilah kebunmu, setelah itu tahanlah hingga airnya kembali ke dalam tanah kemudian berikanlah kepada tetanggamu! Nabi ﷺ berharap agar Zubair bisa memahami mengenai haknya dengan keputusan yang tegas. Padahal sebelumnya beliau memberikan kemudahan untuk Zubair dan orang Anshar, tapi ketika orang Anshar marah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam akhirnya beliau memberikan semua bagian kepada Zubair. Zubair berkata,
Demi Allah, aku mengira bahwa ayat ini tidak turun kecuali berkaitan dengan masalah itu: Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An Nisa: 65).

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4219

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 65

Diriwayatkan oleh imam yang enam, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Zubair bahwa Zubair pernah berselisih dengan seorang Anshar tentang pengairan kebun.
Bersabdalah Rasulullah ﷺ: “Hai Zubair, airilah kebunmu dahulu, kemudian salurkan air ke kebun tetanggamu.” Berkatalah orang Anshar itu: “Ya Rasulallah.
Karena ia anak bibimu?” Maka merah padamlah muka Rasulullah ﷺ karena marah dan bersabda: “Siramlah kebunmu, hai Zubair, hingga terendam pematangnya, kemudian berikan air itu kepada tetanggamu.” Zubair pun memanfaatkan air itu sepuas-puasnya sesuai dengan ketentuan yang diberikan Rasulullah kepada keduanya.
Berkatalah Zubair: “Saya anggap ayat ini (an-Nisaa’: 65) diturunkan berkenaan dengan peristiwa tersebut.”

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam kitab al-Kabir dan al-Humaidi di dalam musnad-nya, yang bersumber dari Ummu Salamah, bahwa Zubair mengadu kepada Rasulullah ﷺ tengang pertengkarannya dengan seseorang.
Rasulullah memutuskan bahwa Zubair yang menang.
Maka berkatalah orang itu: “Ia memutuskan demikian karena Zubair kerabatnya, yaitu anak bibi Rasulullah.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 65) sebagai penegasan bahwa seseorang yang beriman hendaknya tunduk kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin al-Musayyab bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 65) berkenaan dengan az-Zubair bin al-‘Awwam yang bertengkar dengan Hathib bin Abi Balta’ah tentang air untuk mengairi kebun.
Rasulullah ﷺ memutuskan agar kebun yang ada di hulu diairi lebih dahulu, kemudian yang hilirnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari Abul Aswad.
Hadits ini mursal dan gharib, dan sanadnya terdapat seorang rawi bernama Ibnu Luhai’ah.
Hadits ini dikuatkan oleh riwayat Rahim di dalam Tafsirnya, dari ‘Utbah bin Dlamrah yang bersumber dari bapaknya.
Bahwa dua orang telah mengadukan kepada Rasulullah ﷺ untuk meminta diputuskan perkaranya.
Setelah Rasulullah ﷺ menetapkan keputusannya, seorang diantaranya merasa tidak puas dan akan naik banding kepada ‘Umar bin al-Khaththab.
Berangkatlah kedua orang itu kepada ‘Umar, dan berkata kepadanya: “Rasulullah ﷺ telah memenangkan saya terhadap orang ini, akan tetapi ia naik banding kepada tuan.” Maka ‘Umar berkata: “Apakah memang demikian?
Tunggulah kalian berdua sampai aku datang untuk memutuskan hukuman di antara kalian.” Tiada berapa lama kemudian ‘Umar datang membawa pedang terhunus seraya memukul orang yang ingin naik banding kepadanya, lalu membunuhny.
Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 65) sebagai penegasan bahwa orang yang beriman hendaknya menaati putusan Allah dan Rasul-Nya.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa' (4) Ayat 65

HARAJ
حَرَج

Raghib Al Isfahani menyatakan makna asal dari lafaz haraj ialah tempat berkumpul dan rapatnya sesuatu seperti tanah yang banyak dengan pepohonan sehingga antara satu pohon dengan pohon lainnya rapat hampir tidak bercelah, terasa sempit dan sukar dilewati. Oleh karena itu, lafaz ini juga diberi arti sempit dan sukar. Juga diberi arti dosa dan haram karena perbuatan dosa mengakibatkan hati menjadi sempit.

Imam Mujahid dan Qatadah menyatakan, haraj juga diartikan ragu karena orang yang ragu hatinya juga terasa sempit.

Di dalam Al Qur’an, lafaz ini diulang se­banyak 15 kali yaitu dalam surah:
-An Nisaa (4), ayat 65;
-Al Maa’idah (5), ayat 6;
-Al An’aam (6), ayat 125;
-Al A’raaf (7), ayat 2;
-At Taubah (9), ayat 91;
-Al­ Hajj (22), ayat 78;
-An Nuur (24), ayat 61 (tiga kali);
-Al Ahzab (33), ayat 37, 38, 50;
-Al-Fath (48), ayat 17 (tiga kali).

Ketiga arti lafaz haraj yaitu sempit, dosa dan ragu digunakan di dalam Al Qur’an.

Lafaz haraj yang mempunyai arti sempit atau sukar berada dalam empat ayat yaitu dalam surah:
-Al An’aam (6), ayat 125;
-Al­ Hajj (22), ayat 78;
-Al Maa’idah (5), ayat 6;
-Al Ahzab (33), ayat 37.

Dalam surah Al An’aam (6), ayat 125 digambarkan dada orang kafir teramat sempit. Allah menerangkan barang siapa yang Dia kehendaki untuk memberi hidayah dan petunjuk kepadanya, pasti Allah lapangkan dadanya menerima Islam; dan barang siapa yang Allah kehendaki di­ sesatkannya, pasti Dia menjadikan dadanya sesak sempit, seolah-olah dia sedang naik ke langit dengan susah payah.

Sedangkan dalam tiga ayat lagi, Allah me­nafikan kesukaran dan kesempitan dalam ajaran dan aturan yang Dia tetapkan bagi manusia. Dengan kata lain, ajaran-ajaran agama Islam contohnya wudu’ dan per­nikahan penuh dengan kemudahan dan ke­longgaran.

Dalam surah Al Hajj (22), ayat 78, Allah menerangkan Dia tidak membuat ke­sempitan atau kesukaran apapun dalam ajar­an agama Islam.

Dalam surah Al Maa’idah (5), ayat 6, Allah menegaskan maksud perintah bersuci dengan air (wuduk) atau tanah debu (tayammum) bukanlah menyukarkan umat Islam dalam urusan agama, tetapi Allah hendak menyucikan mereka dari dosa-dosa.

Dalam surah Al Ahzab (33), ayat 37, Allah menegaskan alasan dibolehkan menikahi wanita bekas isteri anak angkat sendiri ada­ ah kemudahan, bukannya menyempitkan atau menyukarkan. Agama Islam adalah agama yang penuh dengan rahmat dan mudah. Dalam beberapa ayat, Allah memerintahkan nabi dan umat Islam selalu yakin dan tidak ragu dengan ajaran agama Islam. Dalam konteks ini, lafaz haraj digunakan.

Lafaz haraj yang mempunyai arti ragu berada dalam dua tempat yaitu dalam surah:

-Al­ A’raaf (7), ayat 2 di mana Allah memerintah­ kan Nabi Muhammad supaya jangan ragu­-ragu. Apa yang diterimanya adalah wahyu dari Allah dan jangan merasa berat hati menyampaikannya kepada manusia.

-An Nisaa (4), ayat 65. Allah menegaskan seseorang belum dianggap beriman dengan sebenar­-benarnya sehingga dia memenuhi tiga syarat yaitu:

(1) Menjadikan rasul sebagai hakim bagi perkara-perkara yang diperselisihkan dengan cara menjadikan Al Qur’an dan sunnah sebagai rujukan dan sandaran,

(2) Hati orang beriman tidak merasa sempit dan ragu (haraj) sewaktu menerima keputusan rasul sehingga sikap menerima keputusan rasul itu bukan hanya sekedar sikap pura-pura,

(3) Dia benar-benar menerima keputusan Rasulullah dengan penuh pasrah, hati terbuka dan lapang dada sehingga jiwanya benar-benar tenang ketika menerima keputusan itu, baik dari segi zahir ataupun batin.

Abdur Rahman bin Nasir As Sa’di menegas­kan, syarat pertama adalah tolok ukur tingkat keislaman seseorang. Syarat kedua adalah tanda iman seseorang. Sementara syarat ke­ tiga adalah tanda peringkat ihsan seseorang. Barang siapa yang mempunyai tiga tingkatan ini secara sempurna, sempurnalah agamanya.

Sedangkan lafaz haraj yang berarti dosa dan haram berada dalam empat ayat yaitu dalam surah:
-At Taubah (9), ayat 91;
-Anl­ Nuur (24), ayat 61 (tiga kali);
-Al Ahzab (33), ayat 38, 50;
-Al Fath (48), ayat 17 (tiga kali).

Dalam kesemua ayat ini, lafaz haraj dinafikan sehingga artinya adalah “tidak berdosa” Ungkapan ini digunakan untuk menghilangkan kesempitan atau kesusahan hati yang dirasakan orang beriman termasuk nabi, karena dalam menjalankan perintah Allah, mereka merasa kuatir tidak dapat me­menuhi perintah Allah dengan sempurna dan takut melakukan dosa.

Dalam surah At Taubah (9), ayat 91, surah Al Fath (48), ayat 17 dan surah An Nuur (24), ayat 61 (tiga kali) disebutkan beberapa kelompok orang yang dianggap uzur sehingga apabila tidak ikut berperang (jihad), mereka tidak berdosa, tidak perlu bersedih dan ber­kecil hati. Mereka adalah orang yang lemah badannya, orang yang sakit, orang yang tidak mempunyai harta untuk biaya perang, orang yang buta dan orang yang pincang.

Sedangkan dalam surah Al Ahzab (33), ayat 38 diterangkan, setelah Rasulullah meni­kah dengan Zainab binti Jahsyi, ramai orang yang mencela dan merendahkan beliau. Hal ini karena Zainab binti Jahsyi adalah bekas isteri Zaid bin Haritsah yaitu anak angkat Rasulullah. Namun, Allah menegaskan, me­nikahi bekas isteri anak angkat adalah boleh sehingga Rasulullah tidak berdosa dan tidak perlu berkecil hati melakukan ketetapan Allah ini.

Dalam surah Al Ahzab (33), ayat 50, Allah menerangkan dengan jelas wanita­-wanita yang boleh dinikahi dan syarat-syarat yang mesti dipenuhi untuk menikahi mereka. Selain itu, diterangkan juga hukum per­nikahan khusus bagi Nabi Muhammad yaitu beliau boleh menikahi wanita beriman yang menghibahkan dirinya untuk dinikahi (wanita muuhibah dengan tanpa mahar), apabila memang beliau berkenan. Aturan ini adalah khusus bagi nabi, bukan bagi umat Islam yang lain. Allah menerangkan perkara ini secara terperinci supaya nabi tidak merasa berdosa dan merasa berat ketika melakukan perkara itu, karena memang dibolehkan Allah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:183-185

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 65 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 65



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.9
Rating Pembaca: 4.7 (29 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku