Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 60


اَلَمۡ تَرَ اِلَی الَّذِیۡنَ یَزۡعُمُوۡنَ اَنَّہُمۡ اٰمَنُوۡا بِمَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یَّتَحَاکَمُوۡۤا اِلَی الطَّاغُوۡتِ وَ قَدۡ اُمِرُوۡۤا اَنۡ یَّکۡفُرُوۡا بِہٖ ؕ وَ یُرِیۡدُ الشَّیۡطٰنُ اَنۡ یُّضِلَّہُمۡ ضَلٰلًۢا بَعِیۡدًا
Alam tara ilaal-ladziina yaz’umuuna annahum aamanuu bimaa unzila ilaika wamaa unzila min qablika yuriiduuna an yatahaakamuu ilath-thaaghuuti waqad umiruu an yakfuruu bihi wayuriidusy-syaithaanu an yudhillahum dhalaalan ba’iidan;

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu?
Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu.
Dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.
―QS. 4:60
Topik ▪ Penciptaan ▪ Sifat iblis dan pembantunya ▪ Al Qur’an sebagai kalam Allah
4:60, 4 60, 4-60, An Nisaa’ 60, AnNisaa 60, AnNisa 60, An-Nisa’ 60
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 60. Oleh Kementrian Agama RI

Banyak riwayat yang menerangkan tentang sebab turunnya ayat ini, akan tetapi kalau diperhatikan dengan seksama, maka maksudnya adalah hampir sama, salah satu dari riwayat itu ialah sebagai berikut.

Menurut riwayat Ibnu Jarir dari Asy Sya’bi: bahwa ada persengketaan antara seorang laki-laki Yahudi dengan seorang laki-laki munafik.
Maka oleh karena Yahudi itu mengetahui bahwa Nabi Muhammad sangat adil dalam memberikan hukum dan tidak dapat disogok, ia berkata “Apakah saya akan menuntutmu pada hakim ahli agamamu (kepada Nabi)?
Maka terjadilah perselisihan antara mereka.
Kemudian mereka sepakat untuk mendatangi seorang tukang tenung di Juhaimah untuk menjadi hakim dalam persengketaan ini, maka turunlah ayat-ayat ini.

Pada ayat ini, Allah memerintahkan kepada Rasul Nya, Muhammad ﷺ supaya memperhatikan bagaimana anehnya sikap dan tingkah laku orang-orang yang telah mengaku dirinya beriman kepada Alquran yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ, dan kepada kitab-kitab suci lainnya yang diturunkan kepada nabi dan Rasul sebelumnya.
Orang-orang yang mengaku beriman ini, telah berbuat sesuatu yang berlawanan dengan pengakuan keimanan yang mereka ucapkan.
Andaikata mereka benar-benar beriman kepada Muhammad sebagaimana diucapkan dengan mulut mereka, tentu mereka mau bertahkim kepadanya untuk menyelesaikan persengketaan yang terjadi di antara mereka, dan tidak akan mau bertahkim kepada tagut yaitu orang yang banyak bergelimang dalam kejahatan dan kesesatan Yang dimaksud dengan Tagut di sini ialah Ka’ab bin Al Asyraf, seorang Yahudi yang selalu memusuhi Nabi Muhammad ﷺ dan kaum muslimin.
Dan ada yang mengatakan yang dimaksud Tagut di sini ialah Abu Barzah Al Asiami seorang tukang tenung di masa Nabi.
Termasuk juga di sini berhala-berhala dan setiap orang yang membuat dan menetapkan hukum secara tidak benar.
Demikianlah mereka telah disesatkan oleh setan dengan penyesatan yang sangat jauh.

An Nisaa' (4) ayat 60 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 60 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 60 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tidakkah kamu heran, wahai Nabi, melihat orang-orang yang mengaku beriman kepada kitab yang diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang diturunkan sebelummu?
Dalam pertengkaran, mereka mendasarkan hukum-hukum dengan selain hukum Allah yang mengandung kesesatan dan kerusakan.
Padahal, mereka diperintah Allah untuk tidak berpegang kepada hukum selain hukum Allah itu.
Setan hendak menyesatkan mereka dari jalan yang benar dan lurus sehingga mereka menjadi sangat tersesat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang mengakui diri mereka telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan apa yang diturunkan sebelum kamu, mereka hendak bertahkim kepada tagut) artinya orang yang banyak berbuat kedurhakaan, yaitu Kaab bin Asyraf (padahal mereka sudah dititahkan untuk mengingkarinya) dan tak akan memuliakan serta tidak mengangkatnya sebagai pemimpin.
(Dan setan bermaksud menyesatkan mereka dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya) yakni dari kebenaran.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Apakah kamu wahai Rasul tidak mengetahui perkara orang-orang munafik yang mengaku beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu, yaitu al-Qur an, dan kepada apa yang diturunkan kepada utusan-utusan sebelummu, namun mereka hendak berhakim kepada kebathilan yang tidak disyariatkan oleh Allah dalam memutuskan perselisihan di antara mereka, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkari kebatilan?Setan hendak menjauhkan mereka dari jalan kebenaran sejauh-jauhnya.
Ayat ini merupakan dalil bahwa iman yang benar menuntut ketundukan kepada syariat Allah dan menjadikannya sebagai hakim dalam segala perkara.
Barangsiapa mengaku beriman namun dia memilih hukum thaghut diatas hukum Allah, maka pengakuannya dusta belaka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
ingkar terhadap orang yang mengakui dirinya beriman kepada apa yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya, juga kepada para nabi terdahulu, padahal di samping itu ia berkeinginan dalam memutuskan semua perselisihan merujuk kepada selain Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.
Seperti yang disebutkan di dalam asbabun nuzul ayat ini.

Ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki dari kalangan Ansar dan seorang lelaki dari kalangan Yahudi, yang keduanya terlibat dalam suatu persengketaan.
Lalu si lelaki Yahudi mengatakan, “Antara aku dan kamu Muhammad sebagai pemutusnya.” Sedangkan si Lelaki Ansar mengatakan, “Antara aku dan kamu Ka’b ibnul Asyraf sebagai hakimnya.”

Menurut pendapat yang lain, ayat ini diturunkan berkenaan dengan sejumlah orang munafik dari kalangan orang-orang yang hanya lahiriahnya saja Islam, lalu mereka bermaksud mencari keputusan perkara kepada para hakim Jahiliah.
Dan menurut pendapat yang lainnya, ayat ini diturunkan bukan karena penyebab tersebut.

Pada kesimpulannya makna ayat lebih umum daripada semuanya itu, yang garis besarnya mengatakan celaan terhadap orang yang menyimpang dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, lalu ia menyerahkan keputusan perkaranya kepada selain Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, yaitu kepada kebatilan.
Hal inilah yang dimaksud dengan istilah tagut dalam ayat ini.
Seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya: Mereka hendak berhakim kepada tagut.
(An Nisaa:60), hingga akhir ayat.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 60

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan ath-Thabarani dengan sanad yang sahih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Abu Barzah al-Aslami, seorang pendeta Yahudi, biasa mengadili kaumnya dan menyelesaikan perselisihan di antara mereka.
Pada suatu waktu datanglah kaum Muslimin minta bantuan penyelesaian (sengketa) kepadanya.
Maka turunlah ayat tersebut di atas sebagai teguran, agar tidak meminta bantuan penyelesaian kepada taghut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari ‘Ikrimah atau Sa’id, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahw al-Jallas bin ash-Shamit, Mu’tim bin Qusyair, Rafi’ bin Zaid, dan Bisyr yang mengaku beragama Islam, diajak oleh orang Islam untuk meminta bantuan Rasulullah ﷺ dalam menyelsaikan malasalah di antara mereka.
Namun mereka menolak, bahkan mereka mengajak kaum Muslimin untuk meminta bantuan pendeta-pendeta mereka (hakim-hakim jahiliyah).
Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 60) sebagai larangan untuk minta diadili oleh hakim-hakim taghut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari asy-Syu’bi bahwa orang Yahudi berselisih dengan orang munafik.
Yahudi itu mengusulkan untuk meminta bantuan Nabi dalam menyelesaikan perselisihan itu, karena ia tahu bahwa Nabi tidak akan makan risywah (sogokan).
Akan tetapi si munafik tidak menyepakati hal itu.
Akhirnya merekapun memutuskan untuk meminta bantuan seorang pendeta di Juhainah.
Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 60) sebagai cercaan terhadap perbuatan munafik.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa' (4) Ayat 60

THAAGHUT
لطَّٰغُوت

Lafaz ini boleh digunakan bagi mufrad dan jamak, mudzakkar dan mu’annats. Asal lafaz ini sudah dijelaskan sebelum ini dan di dalam Al Qur’an ia mengandung dua makna yaitu Al hissi, yaitu thughyaanal ma’ yang berarti banjir; dan Al maknawi yaitu tughyaanal thughaah yang berarti orang kafir.

Ia mengandung makna setiap sembahan selain Allah, syaitan, ahli sihir atau seseorang yang menjadi kepala dalam kesesatan.

Lafaz ini disebut delapan kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 256, 257;
-An Nisaa (4), ayat 51, 60, 76;
-Al Maa’idah (5), ayat 60;
-An Nahl (16), ayat 36;
-Az Zumar (39), ayat 17.

Al Jauhari berkata,
“Ia adalah seorang kahin dan syaitan.” Al Isfahani berkata,
thaaghuut ialah ungkapan bagi setiap yang disembah selain Allah.”

Mr. Lane membuat kajian dalam Layal Al ‘Arab atau Kehidupan Malam Orang Arab (Arabian Nights), nama ini digunakan untuk mengungkapkan kejahatan, terutamanya berhala dan pujaan yang terlampau disanjung.”

Dalam Ensiklopedia Islam dijelaskan thaaghuut ialah syaitan, atau apa saja yang disembah selain Allah. Perkataan ini diletakkan bersama perkataan al jibt yang berarti objek yang disembah selain Allah, atau syaitan yang menghasut manusia supaya melakukan kejahatan.

Seorang sarjana Muslim zaman moden, Abu Al A’laa Al Mawdudi, menerusi Tafsir Al Qur’an menyatakan thaaghuut merupakan makhluk yang melampaui batas dan menganggap dirinya sebagai tuan atau tuhan; makhluk begini bukan saja menentang kekuasaan Allah, tetapi juga menggunakan kekuasaan dirinya ke atas orang lain tanpa menghiraukan kekuasaan Allah.

Dalam ajaran Syi’ah, thaaghuut merujuk kepada mereka yang menentang imam yang sah, seperti Husain ‘Ali Muntaziri, dan mereka ini biasanya ditujukan kepada pihak berkuasa Sunni.

Cendekiawan Syi’ah moden, Muhammad Husain Tabataba’i misalnya, dalam tafsir Al Qur’an hasil tulisan beliau yang diberi judul Mizan Al Haqq, bersama definisi biasa bagi berhala, syaitan dan jin, beliau mentakritkan thaaghuut sebagai pemimpin yang menyesatkan manusia dan dipatuhi walaupun Allah murka pada mereka.

Di Iran, perkataan ini banyak digunakan sewaktu dan setelah Revolusi Islam Iran pada tahun 1979 yang dipimpin oleh Ayatullah Ruhullah Khomeini menentang Shah Iran. Dalam fahaman Syi’ah siapa yang merampas hak imam digelar taghut.

Kesimpulannya, lafaz thaaghuut di dalam Al Qur’an berarti berhala, syaitan dan segala sesuatu yang membawa dan mengajak kepada kejahatan serta kekufuran.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:336-337

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 60 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 60



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.4
Rating Pembaca: 4.2 (14 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku