Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 6 [QS. 4:6]

وَ ابۡتَلُوا الۡیَتٰمٰی حَتّٰۤی اِذَا بَلَغُوا النِّکَاحَ ۚ فَاِنۡ اٰنَسۡتُمۡ مِّنۡہُمۡ رُشۡدًا فَادۡفَعُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ اَمۡوَالَہُمۡ ۚ وَ لَا تَاۡکُلُوۡہَاۤ اِسۡرَافًا وَّ بِدَارًا اَنۡ یَّکۡبَرُوۡا ؕ وَ مَنۡ کَانَ غَنِیًّا فَلۡیَسۡتَعۡفِفۡ ۚ وَ مَنۡ کَانَ فَقِیۡرًا فَلۡیَاۡکُلۡ بِالۡمَعۡرُوۡفِ ؕ فَاِذَا دَفَعۡتُمۡ اِلَیۡہِمۡ اَمۡوَالَہُمۡ فَاَشۡہِدُوۡا عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ حَسِیۡبًا
Waabtaluul yataama hatta idzaa balaghuunnikaaha fa-in aanastum minhum rusydan faadfa’uu ilaihim amwaalahum walaa ta’kuluuhaa israafan wabidaaran an yakbaruu waman kaana ghanii-yan falyasta’fif waman kaana faqiiran falya’kul bil ma’ruufi fa-idzaa dafa’tum ilaihim amwaalahum faasyhiduu ‘alaihim wakafa billahi hasiiban;
Dan ujilah anak-anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk menikah.
Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka hartanya.
Dan janganlah kamu memakannya (harta anak yatim) melebihi batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (menyerahkannya) sebelum mereka dewasa.
Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah dia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa miskin, maka bolehlah dia makan harta itu menurut cara yang patut.
Kemudian, apabila kamu menyerahkan harta itu kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi.
Dan cukuplah Allah sebagai pengawas.
―QS. An Nisaa’ [4]: 6

Daftar isi

And test the orphans (in their abilities) until they reach marriageable age.
Then if you perceive in them sound judgement, release their property to them.
And do not consume it excessively and quickly, (anticipating) that they will grow up.
And whoever, (when acting as guardian), is self-sufficient should refrain (from taking a fee);
and whoever is poor – let him take according to what is acceptable.
Then when you release their property to them, bring witnesses upon them.
And sufficient is Allah as Accountant.
― Chapter 4. Surah An Nisaa’ [verse 6]

وَٱبْتَلُوا۟ dan periksa/ujilah

And test
ٱلْيَتَٰمَىٰ anak-anak yatim

the orphans
حَتَّىٰٓ sehingga

until
إِذَا jika

[when]
بَلَغُوا۟ mereka sampai/cukup umur

they reach[ed]
ٱلنِّكَاحَ nikah/kawin

(the age of) marriage,
فَإِنْ maka jika

then if
ءَانَسْتُم kamu anggap/melihat

you perceive
مِّنْهُمْ dari/diantara mereka

in them
رُشْدًا cerdas

sound judgement
فَٱدْفَعُوٓا۟ maka serahkanlah

then deliver
إِلَيْهِمْ kepada mereka

to them
أَمْوَٰلَهُمْ harta-harta mereka

their wealth.
وَلَا dan jangan

And (do) not
تَأْكُلُوهَآ kamu memakannya

eat it
إِسْرَافًا lebih dari batas

extravagantly
وَبِدَارًا dan tergesa-gesa

and hastily
أَن bahwa

(fearing) that
يَكْبَرُوا۟ mereka besar

they will grow up.
وَمَن dan barang siapa

And whoever
كَانَ adalah ia

is
غَنِيًّا kaya/mampu

rich
فَلْيَسْتَعْفِفْ maka hendaklah ia menahan diri

then he should refrain,
وَمَن dan barang siapa

and whoever
كَانَ adalah ia

is
فَقِيرًا fakir/miskin

poor
فَلْيَأْكُلْ maka boleh ia memakan

then let him eat (of it)
بِٱلْمَعْرُوفِ dengan baik/sepatutnya

in a fair manner.
فَإِذَا maka apabila

Then when
دَفَعْتُمْ kamu menyerahkan

you deliver

Tafsir

Alquran

Surah An Nisaa’
4:6

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 6. Oleh Kementrian Agama RI


Sebelum harta diserahkan kepada anak yatim, apabila mereka telah balig dan mampu dalam menggunakan harta maka terlebih dahulu kepada mereka diberikan ujian.
Apakah benar-benar ia telah dapat memelihara dan menggunakan hartanya dengan baik, sebagaimana dipahami oleh Mazhab Syafii.

Mazhab Hanafi mewajibkan wali menyerahkan harta pada umur dewasa dengan syarat cerdas, mampu dan pada umur 25 tahun walaupun dalam keadaan tidak cerdas.


Janganlah para wali ikut mengambil atau memakan harta anak yatim secara berlebiban.

Apabila wali termasuk orang yang mampu hendaklah ia menahan diri agar tidak ikut memakan harta anak yatim tersebut.
Tetapi apabila wali memang orang yang dalam keadaan kekurangan, maka boleh ia ikut memakannya secara baik dan tidak melampaui batas.


Apabila masa penyerahan di atas telah tiba, hendaklah penyerahan itu dilakukan di hadapan dua orang saksi untuk menghindarkan adanya perselisihan di kemudian hari.
Allah selalu menyaksikan dan mengawasi apa yang dikerjakan oleh manusia.

Tidak ada hal yang tersembunyi bagi-Nya baik di bumi maupun di langit.

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 6. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Ujilah kemampuan berpikir anak-anak yatim tersebut, selidikilah keadaannya dan kemampuannya menggunakan harta sebelum menginjak dewasa.
Jika mereka telah memenuhi kelayakan untuk menikah, dan menurut pendapat kalian mereka telah pandai memelihara harta, maka serahkanlah harta-harta mereka.


Janganlah kalian memakan harta anak-anak yatim dengan melampaui batas dan juga janganlah tergesa-gesa memanfaatkannya selagi mereka belum dewasa.
Barangsiapa, di antara pemelihara harta itu, yang mampu, maka hendaknya ia menahan diri untuk tidak memakannya.


Barangsiapa yang fakir, maka ia cukup memakan harta itu menurut yang sepatutnya.
Dan, bila kalian telah benar-benar menyerahkan harta itu kepada mereka, hendaknya kalian menyediakan saksi.


Cukuplah Allah sebagai pembalas dan pengawas atas persaksian itu.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Ujilah anak-anak yatim yang berada dalam tanggung jawabmu untuk mengetahui kemampuan mereka dalam mengurusi harta mereka dengan baik, sampai mereka mencapai usia baligh, dan kalian mengetahui keshalihan mereka dalam agama dan kemampuan mereka dalam menjaga harta mereka.
Maka serahkanlah harta itu kepada mereka, jangan melakukan pelanggaran terhadapnya dengan membelanjakannya bukan pada tempat yang semestinya dengan boros dan cepat-cepat memakannya sebelum anak-anak yatim itu mengambilnya dari kalian.


Barangsiapa memiliki harta diantara kalian maka hendaknya dia menahan diri dengan harta kekayaannya dengan tidak mengambil harta anak yatim sedikitpun.
Namun barangsiapa yang miskin maka silahkan mengambil secukup kebutuhannya saat diperlukan.


Bila kalian tahu bahwa kalian mampu menjaga harta mereka setelah mereka baligh dan kalian menyerahkannya kepada mereka, maka persaksikanlah atas mereka demi menjamin tersampaikannya hak kepada mereka secara utuh, agar mereka tidak mengingkarinya.
Cukuplah bagi kalian bahwa Allah adalah saksi atas kalian dan akan menghisab perbuatan-perbuatan kalian.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan hendaklah kamu uji anak-anak yatim itu) sebelum mereka balig yakni mengenai keagamaan dan tingkah laku mereka


(hingga setelah mereka sampai umur untuk kawin) artinya telah mampu untuk itu dengan melihat keadaan dan usia, menurut Imam Syafii 15 tahun penuh


(maka jika menurut pendapatmu) atau penglihatanmu


(mereka telah cerdas) artinya pandai menjaga agama dan harta mereka


(maka serahkanlah kepada mereka itu harta-harta mereka dan janganlah kamu memakannya) hai para wali


(secara berlebih-lebihan) tanpa hak, ini menjadi hal


(dan dengan tergesa-gesa) untuk membelanjakannya karena khawatir


(mereka dewasa) hingga harta itu harus diserahkan kepada yang berhak.


(Dan barang siapa) di antara para wali


(yang mampu, maka hendaklah ia menahan diri) dari mengambil dan memakan harta anak yatim itu


(sedangkan siapa yang miskin, maka bolehlah ia memakan) harta itu


(secara sepatutnya) artinya sekadar upah jerih payahnya.


(Kemudian apabila kamu menyerahkan kepada mereka) maksudnya kepada anak-anak yatim


(harta mereka, maka hendaklah kamu persaksikan terhadap mereka) yakni bahwa mereka telah menerimanya dan tanggung jawabmu telah selesai.
Maksudnya ialah siapa tahu kalau-kalau terjadi persengketaan nanti, maka kamu dapat mempergunakan para saksi itu.
Maka perintah ini tujuannya ialah untuk memberi petunjuk


(Dan cukuplah Allah) ba merupakan tambahan


(sebagai pengawas) yang mengawasi perbuatan-perbuatan hamba-Nya dan memberi mereka ganjaran.
Ayat berikut ini diturunkan untuk menolak kebiasaan orang-orang jahiliah yang tidak mau memberi harta warisan kepada golongan wanita dan anak-anak.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Ibnu Abbas, Mujahid, Al-Hasan, As-Saddi.
dan Muqatil mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah perintah untuk melakukan ujian terhadap anak-anak yatim (oleh para walinya).


…sampai mereka cukup umur untuk kawin.

Menurut Mujahid, yang dimaksud dengan nikah dalam ayat ini ialah mencapai usia balig.

Jumhur ulama mengatakan bahwa alamat usia balig pada anak remaja adakalanya dengan mengeluarkan air mani, yaitu dia bermimpi dalam tidurnya melihat sesuatu atau mengalami sesuatu yang membuatnya mengeluarkan air mani.
Air mani ialah air yang memancar yang merupakan cikal bakal terjadinya anak.

Di dalam kitab Sunan Abu Daud disebutkan dari Ali yang mengatakan bahwa ia selalu ingat akan sabda Rasulullah ﷺ yang mengatakan:


Tidak ada yatim sesudah balig dan tidak ada puasa siang sampai malam hari.

Di dalam hadis yang lain dari Siti Aisyah dan sahabat lainnya dari Nabi ﷺ disebutkan:

Qalam diangkat dari tiga macam orang, yaitu dari anak kecil hingga usia balig atau genap berusia lima belas tahun, dari orang yang tidur sampai terbangun, dan dari orang gila sampai sadar.

Mereka mengambil kesimpulan akan hal tersebut dari hadis yang telah disebutkan di dalam kitab Sahihain melalui Ibnu Umar r.a. yang mengatakan:


Diriku ditampilkan kepada Nabi ﷺ dalam Perang Uhud, sedangkan saat itu usiaku baru empat belas tahun, maka beliau tidak membolehkan diriku (ikut perang).
Dan diriku ditampilkan kepadanya dalam Perang Khandaq.
Sedangkan saat itu berusia lima belas tahun maka aku diperbolehkan ikut perang.
Umar ibnu Abdul Aziz —ketika sampai kepadanya hadis ini— mengatakan bahwa sesungguhnya hadis inilah yang membedakan antara anak kecil dan orang yang sudah dewasa.

Para ulama berbeda pendapat mengenai tumbuhnya rambut yang keras di sekitar kemaluan, apakah hal ini merupakan alamat balig atau tidak?
Ada tiga pendapat mengenainya.
Menurut pendapat yang ketiga, dalam hal ini dibedakan antara anak-anak kaum muslim dengan anak-anak kafir zimmi.
Pada anak-anak kaum muslim hal tersebut tidak menunjukkan usia balig, mengingat adanya kemungkinan faktor pengobatan.
Lain halnya pada anak-anak kafir zimmi maka tumbuhnya rambut keras pada kemaluan merupakan pertanda usia balig bagi mereka, karena barang siapa yang telah tumbuh rambut kemaluannya, maka dibebankan kepadanya membayar jizyah, untuk itulah mereka tidak mau mengobatinya.

Menurut pendapat yang sahih, tumbuhnya rambut yang keras di sekitar kemaluan merupakan pertanda usia balig, mengingat hal ini merupakan sesuatu yang alami, semua orang tidak ada bedanya dalam hal tersebut, dan mengenai faktor pengobatan jauh dari kemungkinan.

Kemudian sunnah menunjukkan ke arah itu melalui sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad melalui Atiyyah Al-Qurazi yang menceritakan:

Mereka (orang-orang Bani Quraizah) ditampilkan di hadapan Nabi ﷺ seusai Perang Quraizah.
Maka Nabi ﷺ memerintahkan kepada seseorang untuk memeriksa siapa di antara mereka yang telah tumbuh rambut kemaluannya.
Maka orang yang telah tumbuh rambut kemaluannya dikenai hukuman mati, dan orang yang masih belum tumbuh rambut kemaluannya dibebaskan.
Maka aku (Atiyyah Al-Qurazi) termasuk salah seorang yang masih belum tumbuh rambut kemaluannya.
Akhirnya aku dibebaskan."

Ahlu sunan mengetengahkan hadis yang semisal, yakni ahlus sunan yang empat orang (yang dikenai dengan sebutan Arba’ah).
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan sahih.

Sesungguhnya keputusan tersebut tetap berlaku, sebagai buktinya ialah di saat Sa’d ibnu Mu’az menjatuhkan keputusan hukumnya di antara mereka (para tawanan), ia memutuskan menghukum mati orang-orang (dari kalangan musuh) yang ikut berperang dan menahan anak-anak mereka.

Abu Ubaid di dalam kitab Al-Garib mengatakan.
telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah.
dari Ismail ibnu Umayyah ibnu Yahya ibnu Hibban dari Umar, bahwa pernah ada seorang anak remaja menuduh berzina -seorang wanita muda dalam syairnya.
Maka Khalifah Umar berkata
"Periksalah dirinya."
Ternyata diketahui bahwa anak tersebut masih belum tumbuh rambut kemaluannya.
Akhirnya hukuman had (menuduh berzina) tidak dikenakan terhadap dirinya.

Abu Ubaid mengatakan.
ibtaharaha artinya menuduh (si wanita) berbuat zina, al-ibtihar ialah bila seseorang mengatakan."Aku telah mengerjainya,"
padahal ia dusta dalam pengakuannya itu.
Jika pengakuan tersebut benar, maka istilahnya disebut ibtiyar.
Seperti pengertian yang ada dalam perkataan Al-Kumait melalui salah satu bait syairnya:

Amatlah buruk bagi orang semisalku bila menuduh seorang wanita berbuat zina, bait dengan tuduhan dusta ataupun tuduhan yang sebenarnya.

Firman Allah:

Kemudian jika menurut pendapat kalian mereka telah cerdas (pandai memelihara harta) maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya.

Sa’id ibnu Jubair mengatakan yang dimaksud rusydan ialah kelayakan dalam agamanya dan dapat memelihara hartanya.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Ibnu Abbas, Al-Hasan Al-Basri, dan bukan hanya seorang dari kalangan para Imam berdasarkan riwayat yang bersumber dari mereka.

Ulama fiqih mengatakan hal yang sama yaitu:
Apabila seorang anak yatim telah mencapai usia yang membuat dirinya berlaku layak dalam agama dan hartanya, maka ia dibebaskan dari hijr (larangan menggunakan harta bendanya).
Untuk itu, maka semua harta yang berada di tangan walinya diserahkan kepadanya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala

Dan janganlah kalian makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kalian) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa.
(QS. An-Nisa’ [4]: 6)

Allah subhanahu wa ta’ala melarang memakan harta anak yatim tanpa adanya keperluan yang mendesak.

Yang dimaksud dengan istilah israfan wa bidaran ialah tergesa-gesa membelanjakannya sebelum anak-anak yatim itu dewasa.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala

Barang siapa (di antara para pemelihara itu) mampu maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu).

Yang dimaksud dengan falyasta’fif ialah memelihara diri dari harta anak yatim dan janganlah memakannya barang sedikit pun.

Asy-Sya’bi mengatakan bahwa harta anak yatim baginya (orang yang mampu) sama halnya dengan bangkai dan darah (yakni haram dimakan).

Dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut (QS. An-Nisa’ [4]: 6)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Sulaiman, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari ayahnya, dari Siti Aisyah sehubungan dengan firman-Nya:
Barang siapa (di antara para pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu).
(QS. An-Nisa’ [4]: 6)
Bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan harta anak yatim.

Telah menceritakan kepada kami Al-Asyaj serta Harun ibnu Ishaq.
Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdah ibnu Sulaiman, dari Hisyam, dari ayahnya, dari Siti Aisyah sehubungan dengan firman-Nya:

…dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut.
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan wali anak yatim yang memeliharanya dan berbuat kemaslahatan untuknya, bilamana keperluan mendesak memakan sebagian dari harta anak yatim yang ada dalam pemeliharaanya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku.
telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sa’id Al-Asbahani.
telah menceritakan kepada kami ali ibnu Mishar, dari Hisyam.
dari ayahnya.
dari Siti Aisyah yang menceritakan bahwa ayat berikut diturunkan berkenaan dengan wali anak yatim, yaitu firman-Nya:

Barang siapa (di antara para pemelihara itu) mampu.
Maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim), dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut.

Yang dimaksud dengan cara yang patut ialah sesuai dengan jerih payahnya terhadap anak yatim yang ada dalam pemeliharaannya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ishaq Ibnu Abdullah ibnu Numair, dari Hisyam dengan lafaz yang sama.

Ulama fiqih mengatakan, wali yang miskin diperbolehkan memakan sebagian dari harta anak yatim yang ada dalam pemeliharaannya dalam jumlah yang paling minim di antara kedua alternatif.
yaitu upah misil-nya (standarnya) atau menurut keperluannya.

Ulama fiqih berselisih pendapat mengenai masalah bila wali anak yatim menjadi orang kaya setelah miskinnya, apakah ia diharuskan mengembalikan harta anak yatim yang telah dimakannya, atau tidak?
Ada dua pendapat mengenainya.

Pendapat pertama, mengatakan
"’tidak"
karena ia hanya memakan sekadar imbalan jerih payahnya dan lagi dia dalam keadaan miskin.
Pendapat inilah yang sahih di kalangan murid-murid Imam Syafii, karena makna ayat jelas membolehkan memakan sebagian harta anak yatim tanpa menggantinya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Husain, dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah ﷺ Dia mengatakan,
"Aku tidak berharta, sedangkan aku mempunyai anak yatim."’ Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

Makanlah dari sebagian harta anak yatimmu dengan tidak berlebih-lebihan, tidak menghambur-hamburkannya, dan tidak menghimpunkannya sebagai harta(mu).
Dan juga tanpa mengekang hartamu —atau— tanpa mengganti hartanya dengan hartamu.

Kata ‘atau’ merupakan ragu dari pihak Husain.

Ibnu Abu Hatim mengatakan.
telah menceritakan kepada kami Abu Said Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar, telah menceritakan kepada kami Husain Al-Mukattab, dari Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya yang telah menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ, lalu lelaki itu berkata,
"Sesungguhnya aku mempunyai seorang anak yatim yang mempunyai harta, sedangkan aku sendiri tidak berharta, bolehkah aku ikut makan dari sebagian hartanya?"
Rasulullah ﷺ menjawab:

Makanlah dengan cara yang makruf tanpa berlebih-lebihan!

Imam Abu Daud, Imam Nasai, dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Husain Al-Mu’allim.

Ibnu Hibban meriwayatkan di dalam kitab sahihnya dan Ibnu Murdawaih di dalam kitab tafsirnya melalui hadis Ya’la ibnu Mahdi, dari Ja’far ibnu Sulaiman, dari Abu Amir Al-Khazzaz, dari Amr ibnu Dinar, dari Jabir, bahwa ada seorang lelaki bertanya,
"Wahai Rasulullah, berapakah yang boleh aku ambil dari anak yatimku?"
Nabi ﷺ menjawab:

Sejumlah apa yang biasa kamu ambil dari anakmu, tanpa mengekang hartamu terhadap hartanya dan tanpa menghimpunkan dari hartanya sebagai harta(mu).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Yahya.
telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami As-Sauri, dari Yahya ibnu Sa’id, dari Al-Qasim ibnu Muhammad yang menceritakan bahwa ada seorang Badui datang kepada Ibnu Abbas lalu orang Badui itu berkata."sesungguhnya di dalam pemeliharaanku terdapat banyak anak yatim, dan mereka mempunyai ternak unta, aku pun mempunyai ternak unta pula, tetapi aku berikan sebagian dari ternak untaku kepada orang-orang miskin.
Maka sebatas apakah yang dihalalkan bagiku terhadap air susunya?"
Ibnu Abbas menjawab,
"Jika engkau bekerja mencari ternak untanya yang hilang, mengobati yang sakit, menggiringnya ke tempat air minumnya.
Menggembalakannya maka minumlah (air susunya) tanpa membahayakan terhadap anaknya.
dan tidak ada larangan bagimu dalam memerah air susunya".’

Imam Malik meriwayatkannya di dalam kitab Al-Muwatha dari Yahya ibnu Sa’id dengan lafaz yang sama.

Pendapat inilah —yakni tidak wajib mengganti— yang dikatakan oleh Ata ibnu Abu Rabah, Ikrimah, Ibrahim An-Nakha’i, Atiyyah Al-Aufi, dan Al-Hasan Al-Basri.

Pendapat yang kedua, mengatakan
"wajib mengganti"
karena harta anak yatim adalah harta yang ada dalam larangan, kecuali bila diperlukan, maka baru diperbolehkan, tetapi diharuskan menggantinya.
Perihalnya sama dengan makan harta orang lain bagi orang yang dalam keadaan terpaksa di saat ia memerlukannya.

Ibnu Abud Dunia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Khaisamah, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan dan Israil, dari Abu Ishaq, dari Harisah ibnu Mudarrib yang mengatakan bahwa Khalifah Umar r.a. pernah berkata,
"Sesungguhnya aku menempatkan diriku terhadap harta ini dalam kedudukan sebagai wali anak yatim.
Jika aku mampu, maka aku menahan diri:
dan jika aku perlu, maka aku berutang, dan apabila aku dalam keadaan mudah, maka aku melunasinya."

Jalur lain diriwayatkan oleh Sa’id ibnu Mansur, telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas, dari Abu Ishaq, dari Al-Bana yang mengatakan bahwa Khalifah Umar r.a. pernah berkata kepadanya:
Sesungguhnya aku menempatkan diriku terhadap harta Allah ini dalam kedudukan sebagai wali anak yatim.
Jika aku memerlukannya, maka aku mengambil sebagian darinya, dan jika aku dalam keadaan mudah, maka aku kembalikan, dan jika aku dalam keadaan mampu, maka aku menahan diri (tidak menggunakannya).

Sanad asar ini sahih.
Imam Baihaqi meriwayatkan hal yang semisal dari sahabat ibnu Abbas.


Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim melalui jalur Ali ibnu Abu Talhah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut.
(QS. An-Nisa’ [4]: 6)
Yang dimaksud dengan cara yang makruf ialah dengan utang.


Imam Baihaqi mengatakan, telah diriwayatkan dari Ubaidah, Abul Aliyah, Abu Wail, dan Sa’id ibnu Jubair dalam salah satu riwayatnya, Mujahid, Ad-Dahak, dan As-Saddi hal yang semisal.

Telah diriwayatkan melalui jalur As-Saddi, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:
maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut.
(An-Nisa-6)
Menurut Ibnu Abbas, hendaknya orang yang bersangkutan memakan dengan memakai tiga buah jari.

Imam Baihaqi mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan.
telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdi, dari Sufyan, dari Al-Hakam, dari Miqsam, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah makan harta itu menurut yang patut.
Makna yang dimaksud ialah hendaknya orang yang bersangkutan hanya makan sebagian dari harta anak yatim dalam batasan cukup untuk makan dirinya hingga ia tidak memerlukan harta anak yatim lagi.

Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Mujahid dan Maimun ibnu Mihran dalam salah satu riwayatnya, serta Imam Hakim.

Amir Asy-Sya’bi mengatakan bahwa seseorang tidak boleh memakan harta anak yatim kecuali bila ia dalam keadaan terpaksa.
sebagaimana seseorang terpaksa memakan bangkai.
Jika ia memakan sebagian darinya, maka ia harus menggantinya.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Wahb mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Nafi’ ibnu Abu Na’im Al-Qari’ yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Yahya ibnu Sa’id Al-Ansari dan Rabi’ah tentang makna firman Allah subhanahu wa ta’ala yang mengatakan:
dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut.
(QS. An-Nisa’ [4]: 6)
hingga akhir ayat.
Hal tersebut berkenaan dengan anak yatim, yakni:
Jika si wali adalah orang yang miskin, maka anak yatim itu diberi nafkah sesuai dengan kemiskinannya, dan tidak ada hak bagi wali terhadap harta anak yatim barang sedikit pun.

Akan tetapi, pendapat tersebut menyimpang dari konteks ayat, mengingat dalam firman-Nya disebutkan:

Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu).
Yakni hendaklah para pemelihara itu menahan dirinya.
jangan memakan harta anak yatimnya.
dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut.
Bagi para wali yang miskin.
diperbolehkan memakan harta anak yatimnya dengan cara yang baik.
Seperti pengertian yang disebutkan di dalam ayat lainnya.
yaitu firman-Nya:

Dan janganlah kalian dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga ia dewasa.
(Al An’am:152 dan Al-Isra’:
34)

Dengan kata lain, janganlah kalian mendekati harta anak yatim kecuali dengan maksud untuk berbuat yang bermanfaat terhadapnya, jika kalian memerlukannya, kalian boleh memakan sebagian darinya menurut cara yang patut.


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Kemudian apabila kalian menyerahkan harta kepada mereka.

Sesudah mereka mencapai usia balig dan dewasa, menurut pendapat kalian mereka telah cerdas dan pandai memelihara harta, maka saat itulah kalian harus menyerahkan kepada mereka harta mereka yang ada di tangan kalian.
Apabila kalian menyerahkan harta kepada mereka:

…maka hendaklah kalian adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka

Hal ini merupakan perintah dari Allah subhanahu wa ta’ala.
ditujukan kepada para wali anak-anak yatim.
Perintah ini menyatakan bahwa hendaknya mereka mengadakan saksi-saksi sehubungan dengan anak-anak yatim mereka, bila anak-anak yatim mereka telah mencapai usia dewasa dan harta mereka diserahkan kepadanya.
Dimaksudkan agar tidak terjadi sebagian dari mereka adanya pengingkaran dan bantahan terhadap apa yang telah diserahterimakannya.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:


Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).

Yakni cukuplah Allah sebagai Penghitung, Saksi, dan Pengawas terhadap para wali sehubungan penilaian mereka terhadap anak yatimnya dan di saat mereka menyerahkan harta kepada anak-anak yatim.
Dengan kata lain, apakah harta itu dalam keadaan lengkap lagi utuh, ataukah kurang perhitungannya serta perkaranya dipalsukan, semuanya Allah mengetahui dan mengawasi akan hal tersebut.
Karena itulah maka disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Hai Abu Zar, sesungguhnya aku melihatmu orang yang lemah, den sesungguhnya aku menyukai bagimu sebagaimana aku menyukai buat diriku sendiri.
Jangan sekali-kali kamu memerintah atas dua orang, dan jangan sekali-kali kamu menjadi wali harta anak yatim.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah An Nisaa’ (4) ayat 6

Telah menceritakan kepadaku Ishaq Telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Numair Telah menceritakan kepada kami Hisyam dari bapaknya dari Aisyah radliallahu anha mengenai firman Allah Ta’ala: Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. (An Nisaa`: 6) Aisyah berkata:
Diturunkan berkenaan dengan wali anak yatim, ia boleh menggunakan dari uangnya bila membutuhkan dikarenakan ia mengurusnya dengan cara yang patut.

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4209

Unsur Pokok Surah An Nisaa’ (النّساء)

Surat An-Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al-Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath-Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
"Surat An Nisaa’ Al Kubraa" (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa’ Ash Shughraa" (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

▪ Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

▪ Kewajiban para washi dan para wali.
▪ Hukum poligami.
▪ Mas kawin.
▪ Memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya.
▪ Pokok-pokok hukum warisan.
▪ Perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya.
▪ Wanita-wanita yang haram dikawini.
▪ Hukum mengawini budak wanita.
▪ Larangan memakan harta secara bathil.
▪ Hukum syiqaq dan nusyuz.
▪ Kesucian lahir batin dalam shalat.
▪ Hukum suaka.
▪ Hukum membunuh seorang Islam.
▪ Shalat khauf’.
▪ Larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk.
▪ Masalah pusaka kalalah.

Kisah:

▪ Kisah-kisah tentang nabi Musa `alaihis salam dan pengikutnya.

Lain-lain:

▪ Asal manusia adalah satu.
▪ Keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita.
▪ Norma-norma bergaul dengan isteri.
▪ Hak seseorang sesuai dengan kewajibannya.
▪ Perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang diturunkan kepadanya.
▪ Dasar-dasar pemerintahan.
▪ Cara mengadili perkara.
▪ Keharusan siap-siaga terhadap musuh.
▪ Sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi peperangan.
▪ Berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf.
▪ Norma dan adab dalam peperangan.
▪ Cara menghadapi orang-orang munafik.
▪ Derajat orang yang berjihad.

Audio

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan Indonesia



QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 176

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nisaa' ayat 6 - Gambar 1 Surah An Nisaa' ayat 6 - Gambar 2
Statistik QS. 4:6
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa’.

Surah An-Nisa’ (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, “Wanita”) terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah 4
Nama Surah An Nisaa’
Arab النّساء
Arti Wanita
Nama lain Al-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 92
Juz Juz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 176
Jumlah kata 3764
Jumlah huruf 16327
Surah sebelumnya Surah Ali ‘Imran
Surah selanjutnya Surah Al-Ma’idah
Sending
User Review
4.4 (16 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

4:6, 4 6, 4-6, Surah An Nisaa' 6, Tafsir surat AnNisaa 6, Quran AnNisa 6, An-Nisa’ 6, Surah An Nisa ayat 6

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah An Nisaa’

۞ QS. 4:1 Ar Rabb (Tuhan) • Al Raqib (Maha Pengawas) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 4:6 Al Hasib (Maha Penghitung amal) • Perbuatan dan niat

۞ QS. 4:10 • Dosa-dosa besar • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:11 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:12 Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:13 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 4:14 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:16 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Dosa-dosa besar • Pelebur dosa besar •

۞ QS. 4:17 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:18 • Pintu taubat terbuka hingga ruh sampai di kerongkongan • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:19 • Kebaikan pada pilihan Allah

۞ QS. 4:22 • Penghapus pahala kebaikan • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah

۞ QS. 4:23 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 4:24 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:25 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 4:26 Sifat Iradah (berkeinginan) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 4:27 Sifat Iradah (berkeinginan)

۞ QS. 4:28 • Kasih sayang Allah yang luas • Sifat Iradah (berkeinginan) • Keistimewaan Islam • Toleransi Islam

۞ QS. 4:29 Al Rahim (Maha Penyayang) • Dosa-dosa besar

۞ QS. 4:30 • Kekuasaan Allah • Dosa-dosa besar • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:31 Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Memasuki surga • Pelebur dosa kecil • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat •

۞ QS. 4:32 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:33 Al Syahid (Maha Menyaksikan)

۞ QS. 4:34 Al ‘Aliyy (Maha Tinggi) • Al Kabir (Maha Besar)

۞ QS. 4:35 Al Khabir (Maha Waspada) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Taufiq dari Allah

۞ QS. 4:36 Tauhid UluhiyyahSyirik adalah dosa terbesar • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 4:37 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:38 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat • Mengingkari hari kebangkitan • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia

۞ QS. 4:39 • Pahala iman • Tauhid UluhiyyahAl ‘Alim (Maha megetahui) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat

۞ QS. 4:40 Al Karim (Maha Mulia) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 4:41 • Setiap umat mengikuti nabi-nabi mereka • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 4:42 • Kebenaran hari penghimpunan • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:43 • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam

۞ QS. 4:45 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Keluasan ilmu Allah • Al Wali (Maha Pelindung)

۞ QS. 4:47 • Allah menepati janji • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:48 • Mendustai Allah • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Syirik adalah dosa terbesar • Siksa orang kafir • Pelebur dosa kecil

۞ QS. 4:49 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 4:50 • Mendustai Allah

۞ QS. 4:51 Hukum sihir

۞ QS. 4:52 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:53 • Segala sesuatu milik Allah

۞ QS. 4:54 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan)

۞ QS. 4:55 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:56 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka

۞ QS. 4:57 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat ahli surga • Sifat wanita penghuni surga • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 4:58 Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar)

۞ QS. 4:59 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Sikap orang mukmin terhadap fitnah

۞ QS. 4:60 • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:61 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:62 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 4:63 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 4:64 • Ampunan Allah yang luas • At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat •

۞ QS. 4:65 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat orang munafik

۞ QS. 4:66 • Toleransi Islam • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:67 • Pahala iman • Keutamaan iman • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:68 • Pahala iman • Keutamaan iman • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 4:69 • Derajat para nabi, shiddiqin dan syuhada’ • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Keutamaan iman • Cinta Allah pada hamba yang shaleh

۞ QS. 4:70 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:71 • Melihat sebab akibat

۞ QS. 4:72 • Sifat orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:73 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:74 • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:75 Ar Rabb (Tuhan) • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong)

۞ QS. 4:76 • Sifat iblis dan pembantunya • Wali Allah dan wali syetan

۞ QS. 4:77 Ar Rabb (Tuhan) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Kebaikan yang ada di alam akhirat

۞ QS. 4:78 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Ketakutan pada kematian • Kebenaran dan hakikat takdir • Segala sesuatu ada takdirnya • Ketentuan Allah tak dapat dihindari

۞ QS. 4:79 Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Kebaikan pada pilihan Allah

۞ QS. 4:80 • Kewajiban patuh kepada Rasul • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 4:81 Al Wakil (Maha Penolong) • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:83 • Kasih sayang Allah yang luas • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Sifat orang munafik

۞ QS. 4:84 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Kekuasaan Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:85 Al Muqit (Maha Penentu waktu) • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Menanggung dosa orang lain • Balasan dari perbuatannya •

۞ QS. 4:86 Al Hasib (Maha Penghitung amal)

۞ QS. 4:87 Tauhid Uluhiyyah • Allah menepati janji • Nama-nama hari kiamat • Kebenaran hari penghimpunan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:88 • Allah menggerakkan hati manusia • Azab orang kafirHidayah (petunjuk) dari Allah • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 4:89 • Bersikap keras terhadap orang kafir • Sifat orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik • Kapan boleh membunuh orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:90 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaSifat Masyi’ah (berkehendak) • Kapan boleh membunuh orang munafik

۞ QS. 4:91 • Sifat orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik • Kapan boleh membunuh orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:92 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Pelebur dosa besar

۞ QS. 4:93 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Dosa-dosa besar • Menyiksa pelaku maksiat • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah

۞ QS. 4:94 Al Khabir (Maha Waspada) • Islamnya orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat • Dua kalimat syahadat, bukti lahiriah keimanan seseorang • Beriman berarti menjaga harta dan darah •

۞ QS. 4:95 • Nama-nama surga • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:96 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Perbedaan derajat di surga

۞ QS. 4:97 • Tugas-tugas malaikat • Sikap orang mukmin terhadap fitnah • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 4:98 • Toleransi Islam

۞ QS. 4:99 • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam

۞ QS. 4:100 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Perbuatan dan niat •

۞ QS. 4:101 • Keistimewaan Islam • Toleransi Islam • Permusuhan orang kafir terhadap orang Islam

۞ QS. 4:102 • Toleransi Islam • Azab orang kafir • Melihat sebab akibat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:104 • Memohon hanya kepada Allah • Keluasan ilmu Allah • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) •

۞ QS. 4:105 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 4:106 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 4:107 • Sifat orang munafik

۞ QS. 4:108 • Keluasan ilmu Allah • Al Muhith (Maha Mengetahui) • Sifat orang munafik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:109 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Siksa orang munafik

۞ QS. 4:110 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 4:111 • Keluasan ilmu Allah • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menanggung dosa orang lain • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:112 • Menanggung dosa orang lain • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:113 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:114 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Perbuatan dan niat • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Balasan dan pahala dari Allah • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 4:115 • Siksaan Allah sangat pedih • Perintah untuk selalu bersatu • Akibat terpisah dari umat Islam • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 4:116 • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Syirik adalah dosa terbesar • Siksa orang kafir

۞ QS. 4:117 • Sifat iblis dan pembantunya • Syirik adalah dosa terbesar • Dosa terbesar

۞ QS. 4:119 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan • Wali Allah dan wali syetan • Siksa orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:120 • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia

۞ QS. 4:121 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Siksa orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:122 • Pahala iman • Allah menepati janji • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 4:123 • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 4:124 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Memasuki surga • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 4:125 Islam agama para nabi

۞ QS. 4:126 • Segala sesuatu milik Allah • Keluasan ilmu Allah • Al Muhith (Maha Mengetahui)

۞ QS. 4:127 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 4:128 Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 4:129 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 4:130 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 4:131 • Segala sesuatu milik Allah • Allah tidak membutuhkan makhlukNya • Al Hamid (Maha Terpuji) • Al Ghaniy (Maha Kaya) •

۞ QS. 4:132 • Segala sesuatu milik Allah • Al Wakil (Maha Penolong)

۞ QS. 4:133 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:134 • Sifat Sama’ (mendengar) • Sifat Bashar (melihat) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 4:135 Al Khabir (Maha Waspada) • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:136 • Kewajiban beriman kepada malaikat • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat

۞ QS. 4:137 • Azab orang kafir • Sifat orang munafik • Siksa orang munafikHidayah (petunjuk) dari Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:138 • Siksaan Allah sangat pedih • Siksa orang munafik

۞ QS. 4:139 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:140 Al Jami’ (Yang mengumpulkan manusia di akhirat) • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 4:141 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:142 • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik

۞ QS. 4:143 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 4:144 • Kewajiban saling setia antar sesama muslim • Bebas dari kekafiran dan orang-orang kafir

۞ QS. 4:145 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Siksa orang munafik

۞ QS. 4:146 • Pahala iman • Berpegang teguh dengan (ajaran) Allah • Keutamaan iman • Perbuatan dan niat • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:147 • Allah tidak membutuhkan makhlukNya • Al Syakur (Maha Penerima syukur) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:148 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) •

۞ QS. 4:149 Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 4:150 • Kewajiban beriman pada para rasul • Tiada pengutamaan antara para nabi

۞ QS. 4:151 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Penghinaan orang kafir terhadap Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah

۞ QS. 4:152 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 4:153 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 4:155 • Azab orang kafir • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:158 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 4:159 • Turunnya nabi Isa sebelum kiamat

۞ QS. 4:160 • Menyiksa pelaku maksiat • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:161 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:162 • Pahala iman • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat • Keutamaan iman • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:164 • Sifat Kalam (berfirman)

۞ QS. 4:165 Dalil Allah atas hambaNya • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 4:166 Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 4:167 • Azab orang kafir

۞ QS. 4:168 • Azab orang kafirHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 4:169 • Siksaan Allah sangat pedih • Kekuasaan Allah • Nama-nama neraka • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 4:170 • Pahala iman • Segala sesuatu milik Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:171 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Mendustai Allah • Segala sesuatu milik Allah • Al Wahid (Maha Esa)

۞ QS. 4:172 • Kebenaran hari penghimpunan • Azab orang kafir

۞ QS. 4:173 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Pahala iman • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat

۞ QS. 4:174 Ar Rabb (Tuhan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 4:175 • Pahala iman • Berpegang teguh dengan (ajaran) Allah • Memasuki surga • Keutamaan iman • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 4:176 Al ‘Alim (Maha megetahui)

Ayat Pilihan

Dirikanlah salat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam & (dirikanlah pula salat) subuh.
Sesungguhnya salat subuh itu disaksikan (oleh malaikat).
QS. Al-Isra’ [17]: 78

Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.
Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan),
tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).
dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
QS. Al-Insyirah [94]: 6-8

Kami perlakukan kalian sebagai orang yang diuji dengan berbagai kenikmatan & bencana, agar nampak jelas siapa di antara kalian yang bersyukur atas kebaikan & bersabar atas cobaan, dan siapa yang tak bersyukur serta kecewa saat tertimpa musibah
QS. Al-Anbiya [21]: 35

Allah berfirman:
“Turunlah kamu (iblis) dari surga itu,
karena kamu sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya,
maka keluarlah,
sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina”.
QS. Al-A’raf [7]: 13

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda bahwa berjihad (berjuang) yang paling utama adalah melawan ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
u0623u064eu0641u0652u0636u064eu0644u064f u0627u0644u0652u062cu0650u0647u064eu0627u062fu0650 u0623u064eu0646u0652 u064au064fu062cu064eu0627u0647u064eu062fu064e u0627u0644u0631u0651u064eu062cu064fu0644u064f u0646u064eu0641u0652u0633u064eu0647u064e u0648u064e u0647u064eu0648u064eu0627u0647u064f

(Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya),
Hadits ini derajatnya shahih. Diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu. Juga diriwayatkan oleh Abu Nu'aim dan Ad-Dailami. Hadits ini juga dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami'ush-Shaghu00eer, no 1099, dan beliau menjelaskannya secara rinci dalam Silsilah Ash-Shu00e2hihah, no. 1496.

Dalam Islam, pengendalian diri atau kontrol terhadap diri, disebut juga dengan ...

Benar! Kurang tepat!

Pengertian Mujahadah An-Nafs adalah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Dalam Islam, teladan yang baik disebut juga dengan istilah ...

Benar! Kurang tepat!

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam masih remaja, baginda telah bekerja mengambil upah sebagai pengembala binatang ternak. Apakah binatang tersebut?

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #14
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #14 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #14 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #25

Surah Al-Insyirah terdiri dari … ayat.Surah Al-Insyirah diawali dengan lafal … أَلَمْ dalam surah Al-Insyirah berarti …وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ Ayat diatas terdapat dalam Alquran surah Al-Insyirah ayat …Surah Al-Insyirah turun sesudah surah …

Pendidikan Agama Islam #12

Masyarakat Mekkah pada awal nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah waktu itu sedang dilanda berbagai krisis, dan yang paling menonjol adalah krisis … Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir pada bulan … Nama isteri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam selepas Khadijah ialah … Nama anak lelaki Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … … Nama Ibu susuan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu … …

Pendidikan Agama Islam #11

Masyarakat Arab sebelum Islam memiliki kebiasaan buruk, juga memiliki kebiasaan baik. Di bawah ini yang tidak termasuk kebiasaan baik masyarakat Arab sebelum Islam adalah … Berikut ini yang bukan merupakan substansi dakwah Rasulullah di Mekkah adalah … Dalam QS. Al-Muddassir ayat 1-7 adalah menjadi dasar bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan dakwah di Mekkah secara … Dari proses dakwah secara diam-diam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah, maka terdapat beberapa sahabat yang masuk Islam pertama kali. Mereka dikenal dengan sebutan … Cara yang pertama kali ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah secara terang- terangan adalah …

Kamus

abdas

Apa itu abdas? ab.das , ber.ab.das v membersihkan diri ketika hendak salat dengan berwudu atau bertayamum; setelah abdas , ia lalu salat di masjid itu … •

fitrah

Apa itu fitrah? fit.rah sifat asal; kesucian; bakat; pembawaan sedekah wajib berupa bahan makanan pokok (beras, gandum, dan sebagainya) yang harus diberikan pada akhir bulan Ramadan (malam sebelum s...

jamak

Apa itu jamak? ja.mak lazim; tidak aneh; lumrah; wajar; sudah jamak bahwa setiap perjuangan meminta pengorbanan bentuk kata yang menyatakan lebih dari satu atau banyak; “siswa-siswa” atau...