Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 59


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ اَطِیۡعُوا الرَّسُوۡلَ وَ اُولِی الۡاَمۡرِ مِنۡکُمۡ ۚ فَاِنۡ تَنَازَعۡتُمۡ فِیۡ شَیۡءٍ فَرُدُّوۡہُ اِلَی اللّٰہِ وَ الرَّسُوۡلِ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ ذٰلِکَ خَیۡرٌ وَّ اَحۡسَنُ تَاۡوِیۡلًا
Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu athii’uullaha waathii’uurrasuula wauuliil amri minkum fa-in tanaaza’tum fii syai-in farudduuhu ilallahi warrasuuli in kuntum tu’minuuna billahi wal yaumi-aakhiri dzalika khairun waahsanu ta’wiilaa;

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.
Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
―QS. 4:59
Topik ▪ Keutamaan Al Qur’an ▪ Keutamaan kalam Allah ▪ Sifat orang munafik
4:59, 4 59, 4-59, An Nisaa’ 59, AnNisaa 59, AnNisa 59, An-Nisa’ 59
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa' (4) : 59. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini memerintahkan supaya kaum muslimin taat dan patuh kepada Nya, kepada rasul Nya dan kepada orang yang memegang kekuasaan di antara mereka untuk dapat terciptanya kemaslahatan umum.
Untuk kesempurnaan pelaksanaan amanat dan hukum sebaik-baiknya dan seadil-adilnya, hendaklah kaum muslimin:

a.
Taat dan patuh kepada perintah Allah dengan mengamalkan isi Kitab suci Alquran, melaksanakan hukum-hukum yang telah ditetapkan Nya, sekalipun dirasa berat, tidak sesuai dengan keinginan dan kehendak pribadi.
karena apa yang diperintahkan Allah itu mengandung maslahat dan apa yang di larang Nya mengandung mudarat.

b.
Melaksanakan ajaran-ajaran yang dibawa Rasulullah ﷺ pembawa amanat dari Allah subhanahu wa ta'ala untuk dilaksanakan oleh segenap hamba Nya.
Beliau ditugaskan untuk menjelaskan kepada manusia isi Alquran.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Dan Kami turunkan kepadamu Alquran agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka
(Q.S.
An Nahl: 44)

c.
Patuh kepada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan ulil `amri yaitu orang-orang yang memegang kekuasaan di antara mereka.
Orang-orang yang memegang kekuasaan itu meliputi: pemerintah, penguasa, alim ulama dan pemimpin-pemimpin.
Apabila mereka telah sepakat dalam suatu hal, maka kaum muslimin berkewajiban melaksanakannya dengan syarat bahwa keputusan mereka tidak bertentangan dengan isi Kitab Alquran.
Kalau tidak demikian halnya, maka kita tidak wajib melaksanakannya, bahkan wajib menentangnya, karena tidak dibenarkan seseorang itu taat dan patuh kepada sesuatu yang merupakan dosa dan maksiat pada Allah subhanahu wa ta'ala
Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

"Tidak (dibenarkan) taat kepada makhluk di dalam hal-hal yang merupakan maksiat kepada Khalik (Allah subhanahu wa ta'ala)

d.
Kalau ada sesuatu yang diperselisihkan dan tidak tercapai kata sepakat atasnya, maka wajib dikembalikan kepada Quran dan hadis.
Kalau tidak terdapat di dalamnya haruslah disesuaikan dengan (dikiaskan kepada) hal-hal yang ada persamaan dan persesuaiannya di dalam Alquran dan Sunah Rasulullah ﷺ Tentunya yang dapat melakukan qias seperti yang dimaksud di atas ialah orang-orang yang berilmu pengetahuan, mengetahui dan memahami isi Alquran dan Sunah Rasul.

Demikianlah hendaknya dilakukan oleh orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat.

An Nisaa' (4) ayat 59 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 59 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 59 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai orang-orang yang beriman kepada ajaran yang dibawa Muhammad, taatilah Allah, rasul-rasul- Nya dan penguasa umat Islam yang mengurus urusan kalian dengan menegakkan kebenaran, keadilan dan melaksanakan syariat.
Jika terjadi perselisihan di antara kalian, kembalikanlah kepada Al Quran dan sunnah Rasul-Nya agar kalian mengetahui hukumnya.
Karena, Allah telah menurunkan Al Quran kepada kalian yang telah dijelaskan oleh Rasul-Nya.
Di dalamnya terdapat hukum tentang apa yang kalian perselisihkan.
Ini adalah konsekwensi keimanan kalian kepada Allah dan hari kiamat.
Al-Qur'an itu merupakan kebaikan bagi kalian, karena, dengan Al Quran itu, kalian dapat berlaku adil dalam memutuskan perkara-perkara yang kalian perselisihkan.
Selain itu, akibat yang akan kalian terima setelah memutuskan perkara dengan Al Quran, adalah yang terbaik, karena mencegah perselisihan yang menjurus kepada pertengkaran dan kesesatan.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang beriman! Taatlah kamu kepada Allah dan kepada rasul-Nya serta pemegang-pemegang urusan) artinya para penguasa (di antaramu) yakni jika mereka menyuruhmu agar menaati Allah dan Rasul-Nya.
(Dan jika kamu berbeda pendapat) atau bertikai paham (tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah) maksudnya kepada kitab-Nya (dan kepada Rasul) sunah-sunahnya, artinya selidikilah hal itu pada keduanya (yakni jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.
Demikian itu) artinya mengembalikan pada keduanya (lebih baik) bagi kamu daripada bertikai paham dan mengandalkan pendapat manusia (dan merupakan rujukan yang sebaik-baiknya).
Ayat berikut ini turun tatkala terjadi sengketa di antara seorang Yahudi dengan seorang munafik.
Orang munafik ini meminta kepada Kaab bin Asyraf agar menjadi hakim di antara mereka sedangkan Yahudi meminta kepada Nabi ﷺ lalu kedua orang yang bersengketa itu pun datang kepada Nabi ﷺ yang memberikan kemenangan kepada orang Yahudi.
Orang munafik itu tidak rela menerimanya lalu mereka mendatangi Umar dan si Yahudi pun menceritakan persoalannya.
Kata Umar kepada si munafik, "Benarkah demikian?"
"Benar," jawabnya.
Maka orang itu pun dibunuh oleh Umar.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya dan mengamalkan syariat-Nya, jawablah p[erintah-perintah Allah dan jangan menyelisihinya.
Jawablah seruan Rasul kepada kebenaran yang dibawanya.
Taatilah ulil amri diantara kalian selama bukan dalam bermaksiat kepada Allah.
Bila kalian berselisih pendapat di antara kalian tentang suatu perkara, maka pulangkanlah hukumnya kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah, bila kalian beriman dalam arti yang sebenarnya kepada Allah dan hari akhir.
Pengembalian hukum kepada al-Qur an dan sunnah adalah lebih baik bagi kalian daripada perselisihan dan berpendapat berdasarkan akal serta lebih bagus akibat dan dampaknya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sadaqah ibnul Fadl, telah menceritakan kepada kami Hajaj ibnu Muhammad Al-A'war, dari Ibnu Juraij, dari Ya'la ibnu Muslim, dari Sa'id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kalian.
(An Nisaa:59) Ibnu Abbas mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abdullah ibnu Huzafah ibnu Qais ibnu Addi ketika ia diutus oleh Rasulullah ﷺ untuk memimpin suatu pasukan khusus.

Hal yang sama diketengahkan oleh jamaah lainnya, kecuali Imam Ibnu Majah, melalui hadis Hajaj ibnu Muhammad Al-A'war.
Imam Turmuzi mengatakan hadis ini hasan garib, kami tidak mengenalnya kecuali melalui hadis Ibnu Juraij.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Sa'd ibnu Ubaidah, dari Abu Abdur Rahman As-Sulami, dari Ali yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ mengirimkan suatu pasukan khusus, dan mengangkat menjadi panglimanya seorang lelaki dari kalangan Ansar.
Manakala mereka berangkat, maka si lelaki Ansar tersebut menjumpai sesuatu pada diri mereka.
Maka ia berkata kepada mereka, "Bukankah Rasulullah ﷺ telah memerintahkan kepada kalian untuk taat kepadaku?"
Mereka menjawab, "Memang benar." Lelaki Ansar itu berkata, "Kumpulkanlah kayu bakar buatku." Setelah itu si lelaki Ansar tersebut meminta api, lalu kayu itu dibakar.
Selanjutnya lelaki Ansar berkata, "Aku bermaksud agar kalian benar-benar memasuki api itu." Lalu ada seorang pemuda dari kalangan mereka berkata, "Sesungguhnya jalan keluar bagi kalian dari api ini hanyalah kepada Rasulullah.
Karena itu, kalian jangan tergesa-gesa sebelum menemui Rasulullah.
Jika Rasulullah ﷺ memerintahkan kepada kalian agar memasuki api itu, maka masukilah." Kemudian mereka kembali menghadap Rasulullah ﷺ dan menceritakan hal itu kepadanya.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka: Seandainya kalian masuk ke dalam api itu, niscaya kalian tidak akan keluar untuk selama-lamanya.
Sebenarnya ketaatan itu hanya dalam kebaikan.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya di dalam kitab Sahihain melalui hadis Al-A'masy dengan lafaz yang sama.

Imam Abu Daud mengatakan, telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Ubaidillah, telah menceritakan kepada kami Nafi', dari Abdullah ibnu Umar, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Tunduk dan patuh diperbolehkan bagi seorang muslim dalam semua hal yang disukainya dan yang dibencinya, selagi ia tidak diperintahkan untuk maksiat.
Apabila diperintahkan untuk maksiat, maka tidak boleh tunduk dan tidak boleh patuh.

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkannya melalui hadis Yahya Al-Qattan.

Dari Ubadah ibnus Samit, "Kami bersumpah setia kepada Rasulullah ﷺ untuk tunduk patuh dalam semua keadaan, baik dalam keadaan semangat ataupun dalam keadaan malas, dalam keadaan sulit ataupun dalam keadaan mudah, dengan mengesampingkan kepentingan pribadi, dan kami tidak akan merebut urusan dari yang berhak menerimanya." Rasulullah ﷺ bersabda:

Terkecuali jika kalian melihat kekufuran secara terang-terangan di kalangan kalian, dan ada bukti dari Allah mengenainya.

Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Di dalam hadis yang lain, dari Anas, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Tunduk dan patuhlah kalian, sekalipun yang memimpin kalian adalah seorang budak Habsyah yang kepalanya seperti zabibah (anggur kering).

Hadis riwayat Imam Bukhari.

Dari Abu Hurairah r.a.
disebutkan:

Kekasihku (Nabi ﷺ) telah mewasiatkan kepadaku agar aku tunduk dan patuh (kepada pemimpin), sekalipun dia (si pemimpin) adalah budak Habsyah yang cacat anggota tubuhnya (tuna daksa).

Hadis riwayat Imam Muslim.

Dari Ummul Husain.
disebutkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ mengatakan dalam khotbah haji wada'-nya:

Seandainya seorang budak memimpin kalian dengan memakai pedoman Kitabullah, maka tunduk dan patuhlah kalian kepadanya.

Hadis riwayat Imam Muslim.
Menurut lafaz lain yang juga dari Imam Muslim disebutkan:

budak Habsyah yang tuna daksa (cacat anggota tubuhnya).

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ali ibnu Muslim At-Tusi, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Muhammad ibnu Urwah, dari Hisyam ibnu Urwah, dari Abu Saleh As-Simman, dari Abu Hurairah, bahwa Nabi ﷺ telah bersabda: Kelak sesudahku kalian akan diperintah oleh para pemimpin, maka ada pemimpin yang bertakwa yang memimpin kalian dengan ketakwaannya, dan ada pemimpin durhaka yang memimpin kalian dengan kedurhakaannya.
Maka tunduk dan patuhlah kalian kepada mereka dalam semua perkara yang sesuai dengan kebenaran, dan bantulah mereka.
Jika mereka berbuat baik, maka kebaikannya bagi kalian dan mereka.
Dan jika mereka berbuat buruk, maka baik bagi kalian dan buruk bagi mereka.

Dari Abu Hurairah r.a.
Disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Dahulu umat Bani Israil diperintah oleh nabi-nabi.
Manakala seorang nabi meninggal dunia, maka digantikan oleh nabi yang lain.
Dan sesungguhnya tidak ada nabi sesudahku, dan kelak akan ada para khalifah yang banyak.
Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah yang engkau perintahkan kepada kami?"
Rasulullah ﷺ menjawab: Tunaikanlah baiat orang yang paling pertama, lalu yang sesudahnya, dan berikanlah kepada mereka haknya, karena sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban dari mereka atas kepemimpinannya.

Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Dari Ibnu Abbas r.a.
Disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Barang siapa yang melihat dari pemimpinnya sesuatu hal yang tidak disukainya, hendaklah ia bersabar.
Karena sesungguhnya tidak sekali-kali seseorang memisahkan diri dari jamaah sejauh sejengkal, lalu ia mati, melainkan ia mati dalam keadaan mati Jahiliah.

Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Dari Ibnu Umar r.a.
Disebutkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Barang siapa yang mencabut janji setianya, maka kelak ia akan menghadap kepada Allah tanpa ada yang membelanya.
Dan barang siapa yang meninggal dunia, sedangkan pada pundaknya tidak ada suatu baiat pun, maka ia mati dalam keadaan mati Jahiliah.
Hadis riwayat Imam Muslim.

Imam Muslim meriwayatkan pula dari Abdur Rahman ibnu Abdu Rabil Ka'bah yang menceritakan hadis berikut:

ia masuk ke dalam masjid, dan tiba-tiba ia menjumpai Abdullah ibnu Amr ibnul As sedang duduk di bawah naungan Ka'bah dan di sekelilingnya terdapat banyak orang yang berkumpul mendengarkannya.
Lalu aku (Abdur Rahman) datang kepada mereka dan bergabung duduk dengan mereka.
Maka Abdullah ibnu Amr ibnul As menceritakan hadis berikut: Kami (para sahabat) pernah bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu perjalanan, lalu kami turun istirahat di suatu tempat.
Maka di antara kami ada orang-orang yang mempersiapkan kemahnya, ada pula yang berlatih menggunakan senjatanya, dan di antara kami ada orang-orang yang sibuk mengurus unta-unta kendaraannya.
Tiba-tiba juru seru Rasulullah ﷺ menyerukan, "Salat berjamaah!" Maka kami berkumpul kepada Rasulullah ﷺ dan beliau ﷺ bersabda: Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun sebelumku melainkan diwajibkan baginya memberi petunjuk kepada umatnya tentang kebaikan yang ia ketahui, dan memperingatkan kepada mereka tentang keburukan yang ia ketahui.
Dan sesungguhnya ketenteraman umat ini dijadikan pada permulaannya (generasi pertamanya), dan kelak malapetaka akan menimpa akhir dari umat ini, juga akan terjadi banyak perkara yang kalian ingkari.
Fitnah-fitnah datang menimpa mereka secara beriringan.
Suatu fitnah (cobaan) datang, lalu seorang mukmin berkata, "Inilah kebinasaanku," kemudian fitnah itu lenyap, tetapi disusul lagi oleh fitnah yang lain.
Maka orang mukmin berkata, "Fitnah ini datang lagi menyusul fitnah lainnya." Maka barang siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, hendaklah ketika maut datang menjemputnya ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari kemudian.
Dan hendaklah ia memberikan kepada orang lain hal-hal yang ia suka bila diberikan kepada dirinya.
Barang siapa yang berbaiat (berjanji setia) kepada seorang imam, lalu si imam memberikan kepadanya apa yang dijanjikannya dan apa yang didambakan hatinya, maka hendaklah ia taat kepadanya sebatas kemampuannya.
Dan jika datang orang lain yang hendak menyainginya (merebutnya), maka penggallah leher orang lain itu.
Abdur Rahman ibnu Abdu Rabbil Ka'bah melanjutkan kisahnya, "Lalu aku mendekat kepadanya (Abdullah ibnu Amr ibnul As) dan kukatakan kepadanya, 'Aku meminta kepadamu, demi Allah, apakah engkau telah mendengar hadis ini langsung dari Rasulullah ﷺ?' Maka Ibnu Amr mengisyaratkan dengan kedua tangannya ditujukan ke arah kedua telinga dan hatinya seraya berkata, 'Aku telah mendengarnya dengan kedua telingaku ini, lalu dihafal baik-baik oleh hatiku'." Abdur Rahman ibnu Abdu Rabbil Ka'bah berkata kepadanya, "Ini anak pamanmu (yaitu Mu'awiyah).
Dia memerintahkan kepada kita memakan harta di antara kita dengan cara yang batil, dan sebagian dari kita membunuh sebagian yang lain, padahal Allah subhanahu wa ta'ala.
telah berfirman: 'Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian memakan harta sesama kalian dengan jalan yang balil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kalian.
Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada kalian' (An Nisaa:29)." Abdur Rahman ibnu Abdu Rabbil Ka'bah melanjutkan kisahnya, bahwa Ibnu Amr diam sesaat, tidak menjawab, kemudian berkata, "Taatilah dia bila memerintahkan taat kepada Allah, dan durhakailah dia bila memerintahkan durhaka kepada Allah."

Hadis-hadis yang menerangkan masalah ini cukup banyak jumlahnya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Husain, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Fadl, telah menceritakan kepada kami Asbat, dari As-Saddi sehubungan dengan firman-Nya: taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kalian.
(An Nisaa:59) Bahwa Rasulullah ﷺ pernah mengirimkan suatu pasukan khusus di bawah pimpinan Khalid ibnul Walid, di dalam pasukan itu terdapat Ammar ibnu Yasir.
Mereka berjalan menuju tempat kaum yang dituju oleh mereka, dan ketika berada di dekat tempat tersebut, mereka turun beristirahat karena hari telah malam.
Kemudian mereka diketahui oleh mata-mata kaum yang dituju mereka, lalu mata-mata itu memberitahukan kepada kaumnya akan kedatangan mereka.
Maka kaumnya pergi melarikan diri meninggalkan tempat mereka kecuali seorang lelaki yang memerintahkan kepada keluarganya agar semua barang mereka dikemasi.
Kemudian ia sendiri pergi dengan berjalan kaki di kegelapan malam hari menuju ke tempat pasukan Khalid ibnul Walid.
Setelah ia sampai di tempat pasukan kaum muslim, maka ia menanyakan tentang Ammar ibnu Yasar, lalu ia datang kepadanya dan mengatakan, "Hai Abul Yaqzan, sesungguhnya sekarang aku masuk Islam dan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.
Sesungguhnya kaumku setelah mendengar kedatangan kalian, mereka semuanya melarikan diri, tetapi aku tetap tinggal di tempat.
Maka apakah Islamku ini dapat bermanfaat bagiku besok pagi nanti?
Jika tidak, maka aku pun akan ikut lari." Ammar menjawab, "Tidak, bahkan Islammu dapat bermanfaat untuk dirimu.
Sekarang pulanglah, dan tetaplah di tempat tinggalmu!" Lalu lelaki itu pulang dan menetap di tempatnya.
Pada keesokan harinya Khalid ibnul Walid datang menyerang, dan ternyata ia tidak menemukan seorang pun dari musuhnya selain lelaki tadi, lalu Khalid menawannya dan mengambil semua hartanya.
Ketika sampai berita itu kepada Ammar, maka Ammar datang kepada Khalid dan mengatakan kepadanya, "Lepaskanlah lelaki ini, karena sesungguhnya dia telah masuk Islam, dan sesungguhnya dia telah berada di bawah perlindunganku." Khalid berkata, "Atas dasar apakah kamu memberi perlindungan?"
Keduanya bertengkar, dan akhirnya keduanya melaporkan peristiwa itu kepada Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah ﷺ memperbolehkan tindakan Ammar, tetapi melarangnya mengulangi perbuatannya lagi, yakni memberikan perlindungan tanpa seizin pemimpin pasukan.
Keduanya masih terus berbalas caci-maki di hadapan Rasulullah ﷺ Maka Khalid berkata, "Wahai Rasulullah, apakah engkau biarkan saja budak yang hina ini mencaciku?"
Rasulullah ﷺ menjawab: Hai Khalid, janganlah engkau mencaci Ammar, karena sesungguhnya barang siapa yang mencaci Ammar, Allah membalas mencacinya, dan barang siapa yang membenci Ammar, Allah membalas membencinya, dan barang siapa yang melaknat Ammar, maka Allah membalas melaknatnya.
Ammar masih dalam keadaan emosi.
Maka ia bangkit dan pergi, lalu diikuti oleh Khalid.
Kemudian Khalid menarik bajunya dan meminta maaf kepadanya.
Akhirnya Ammar memaafkannya.
Maka Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya: Taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kalian.
(An Nisaa:59)

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ulil amri yang terdapat di dalam firman-Nya: dan ulil amri di antara kalian.(An Nisaa:59) Bahwa yang dimaksud adalah ahli fiqih dan ahli agama.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Mujahid, Ata, Al-Hasan Al-Basri dan Abul Aliyah, bahwa makna firman-Nya: dan ulil amri di antara kalian.
(An Nisaa:59) adalah para ulama.

Tetapi menurut makna lahiriah ayat —hanya Allah yang lebih mengetahui— makna lafaz ini umum mencakup semua ulil amri dari kalangan pemerintah, juga para ulama.

Allah subhanahu wa ta'ala.
telah berfirman:

Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka, tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram?
(Al Maidah:63)

maka tanyakanlah oleh kalian kepada orang-orang yang berilmu, jika kalian tidak mengetahui.
(Al Anbiyaa:7)

Di dalam sebuah hadis sahih yang telah disepakati kesahihannya dari Abu Hurairah r.a.
disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Barang siapa yang taat kepadaku, berarti ia taat kepada Allah, barang siapa yang durhaka kepadaku, berarti ia durhaka kepada Allah.
Dan barang siapa yang taat kepada amirku, berarti ia taat kepadaku, dan barang siapa yang durhaka terhadap amirku, berarti ia durhaka kepadaku.

Nas-nas tersebut di atas merupakan dalil-dalil yang memerintahkan agar taat kepada ulama dan pemerintah.
Karena itulah dalam surat ini disebutkan: Taatilah Allah.
(An Nisaa:59) Yakni ikutilah ajaran Kitab (Al-Qur'an)-Nya.
dan taatilah Rasul-(Nya).
(An Nisaa:59) Maksudnya, amalkanlah sunnah-sunnahnya.
Dan ulil amri di antara kalian.
(An Nisaa:59) Yaitu dalam semua perintahnya kepada kalian menyangkut masalah taat kepada Allah, bukan durhaka kepada Allah, karena sesungguhnya tidak ada ketaatan kepada makhluk bila menganjurkan untuk berbuat durhaka terhadap Tuhan Yang Maha Pencipta.
Seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis sahih yang mengatakan:

Sesungguhnya ketaatan itu hanyalah dalam masalah kebajikan.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Hammam, telah menceritakan kepada kami Qatadah, dari Ibnu Hurayyis, dari Imran ibnu Husain, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Tidak ada ketaatan dalam maksiat terhadap Allah.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya).

Menurut Mujahid dan bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf, yang mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah mengembalikan hal tersebut kepada Kitabullah (Al-Qur'an) dan Sunnah Rasulullah ﷺ

Hal ini merupakan perintah Allah subhanahu wa ta'ala.
yang menyebutkan bahwa segala sesuatu yang diperselisihkan di antara manusia menyangkut masalah pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, hendaknya perselisihan mengenainya itu dikembalikan kepada penilaian Kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
Seperti yang disebut oleh ayat lain, yaitu firman-Nya:

Tentang sesuatu apa pun kalian berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah.
(Asy Syuura:10)

Maka apa yang diputuskan oleh Kitabullah dan Sunnah Rasulullah yang dipersaksikan kesahihannya, maka hal itu adalah perkara yang hak.
Tiadalah sesudah perkara yang hak, melainkan hanya kebatilan belaka.

Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.
(An Nisaa:59) Kembalikanlah semua perselisihan dan kebodohan itu kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, lalu carilah keputusan masalah yang kalian perselisihkan itu kepada keduanya.

jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.(An Nisaa:59)

Hal ini menunjukkan bahwa barang siapa yang tidak menyerahkan keputusan hukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya di saat berselisih pendapat, dan tidak mau merujuk kepada keduanya, maka dia bukan orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Yang demikian itu lebih Utama (bagi kalian).

Yakni menyerahkan keputusan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, serta merujuk kepada keduanya dalam menyelesaikan perselisihan pendapat merupakan hal yang lebih utama.

dan lebih baik akibatnya.

Yaitu lebih baik akibat dan penyelesaiannya, menurut pendapat As-Saddi dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.
Sedangkan menurut Mujahid, makna yang dimaksud ialah lebih baik penyelesaiannya, apa yang dikatakan Mujahid ini lebih dekat kepada kebenaran.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah An Nisaa' (4) ayat 59
Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Harun bin Abdullahkeduanya berkata,
telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhahammad dia berkata,
Ibnu Juraij berkata (Ayat): Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah Allah dan ta'atilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu … (Qs. An Nisaa': 59), turun berkenaan dengan Abdullah bin Hudzafah bin Qais bin Adiy As Sahmiy, ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam mengutusnya dalam sebuah ekspedisi militer. Ya'la bin Muslimmemberitahukan hadits ini kepadaku, dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas.

Shahih Muslim, Kitab Kepemimpinan - Nomor Hadits: 3416

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa' (4) Ayat 59

Diriwayatkan oleh al-Bukhari –dengan ringkas- dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 59) berkenaan dengan ‘Abdullah bin Hudzaifah bin Qais ketika diutus oleh Nabi ﷺ memimpin suatu pasukan.

Keterangan: menurut Imam ad-Dawud, riwayat tersebut menyalahgunakan nama Ibnu ‘Abbas, karena cerita mengenai ‘Abdullah bin Hudzaifah itu adalah sebagai berikut: di saat ‘Abdullah marah-marah kepada pasukannya, ia menyalakan api unggun, lalu memerintahkan pasukannya untuk terjun ke dalamnya.
Pada waktu itu sebagian menolak dan sebagian lagi hampir menerjunkan diri ke dalam api.” Sekiranya ayat ini turun sebelum peristiwa ‘Abdullah, mengapa ayat ini dikhususkan untuk menaati ‘Abdullah bin Hudzifah saja, sedang pada waktu lainnya tidak.
Dan sekiranya ayat ini turun sesudahnya, maka berdasarkan hadits yang telah mereka ketahui, yang wajib ditaati itu ialah di dalam hal yang makruf (kebaikan).
Jadi tidak pantas dikatakan kepada mereka, mengapa mereka tidak taat.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berpendapat bahwa maksud kisah ‘Abdullah bin Hudzaifah ini munasabah disangkut pautkan dengan alasan turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 59), karena dalam kisah tersebut disebutkan adanya batasan antara taat kepada perintah (pimpinan) dan menolak perintah untuk terjun ke dalam api.
Pada saat itu mereka memerlukan petunjuk berkenaan dengan apa yang harus mereka lakukan.
Ayat ini (an-Nisaa’: 59) turun memberikan petunjuk kepada mereka; apakah berbantahan hendaknya kembali kepada Allah dan Rasul-Nya.

Menurut Ibnu Jarir, ayat ini (an-Nisaa’: 59) turun berkenaan dengan ‘Ammaar bin Yasir yang melindungi seorang tawanan tanpa perintah panglimanya (Khalid bin Walid), sehingga merekapun berselisih.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa', yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa' karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa' dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Al Kubraa" (surat An Nisaa' yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Ash Shughraa" (surat An Nisaa' yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf'
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 59 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 59



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.9
Rating Pembaca: 1 (1 vote)
Sending







✔ surah an-nisa/4:59, Q s an nisa 4:59, annisa ayat 59, qs an nisa 4 59, q s an-nisa/4:59 terjemahan, Q S an nisa (4):59 disusun secara acak siswa dapat menguritkan susunan ayat tersebut secara utuh, penggalan ayat dari Q S an-Nisā’/4: 59, makna surat annisa 4:59, kata yang artinya baik yang tertulis di dalam al quran surah an nisa 4:59 adalah, contoh ayat surat an-nisa ayat 59, arti dari surat an nisa ayat(4) 59, an nisa ayat 59, an nisa 59 foto, alquran surah annisa 4 : 59 memyampaikan tentang, urutan yg benar Q S An nisa ayat 59