Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 58


اِنَّ اللّٰہَ یَاۡمُرُکُمۡ اَنۡ تُؤَدُّوا الۡاَمٰنٰتِ اِلٰۤی اَہۡلِہَا ۙ وَ اِذَا حَکَمۡتُمۡ بَیۡنَ النَّاسِ اَنۡ تَحۡکُمُوۡا بِالۡعَدۡلِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ نِعِمَّا یَعِظُکُمۡ بِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ کَانَ سَمِیۡعًۢا بَصِیۡرًا
Innallaha ya’murukum an tu’adduul amaanaati ila ahlihaa wa-idzaa hakamtum bainannaasi an tahkumuu bil ‘adli innallaha ni’immaa ya’izhukum bihi innallaha kaana samii’an bashiiran;

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
―QS. 4:58
Topik ▪ Para rasul diutus untuk memberi petunjuk
4:58, 4 58, 4-58, An Nisaa’ 58, AnNisaa 58, AnNisa 58, An-Nisa’ 58
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 58. Oleh Kementrian Agama RI

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa setelah Rasulullah ﷺ memasukkan kota Mekah pada hari ditaklukkannya, Usman bin Talhah pengurus Kakbah pada waktu itu menguasai pintu Kakbah lalu naik ke atas bubungannya.
ia tidak mau memberikan kunci Kakbah kepada Rasulullah ﷺ

Kemudian Ali bin Abi Talib merebut kunci Kakbah itu dari Usman bin Talhah secara paksa dan membuka Kakbah, lalu masuklah Rasulullah ke dalam dan salat dua rakaat.
Setelah beliau keluar dari Kakbah tampillah pamannya ‘Abbas ke hadapannya dan meminta supaya kunci itu diserahkan dan diberi jabatan pemeliharaan Kakbah dan jabatan penyediaan air untuk jemaah haji, maka turunlah ayat ini, lalu Rasulullah ﷺ memerintahkan Ali bin Abi Talib mengembalikan kunci Kakbah kepada Usman bin Talhah dan minta maaf.

Ayat memerintahkan agar menyampaikan “amanat” kepada yang berhak.
Pengertian “amanat” pada ayat ini, ialah sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Kata “amanat” dengan pengertian ini sangat luas, meliputi “amanat” Allah kepada hamba Nya, amanat seseorang kepada sesamanya dan terhadap dirinya sendiri.
Amanat Allah terhadap hamba Nya yang harus dilaksanakan ialah antara lain: melaksanakan apa yang diperintahkan Nya dan menjauhi larangan Nya.
Semua nikmat Allah berupa apa saja hendaklah kita manfaatkan untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada Nya.

Amanat seseorang terhadap sesamanya yang harus dilaksanakan antara lain: mengembalikan titipan kepada yang punya dengan tidak kurang suatu apapun, tidak menipunya, memelihara rahasia dan lain sebagainya dan termasuk juga di dalamnya ialah:

a.
Sifat adil penguasa terhadap rakyat dalam bidang apapun dengan tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain di dalam pelaksanaan hukum, sekalipun terhadap keluarga dan anak sendiri, sebagaimana ditegaskan Allah dalam ayat ini.

dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia, supaya kamu menetapkan dengan adil.
(Q.S.
An Nisa’: 58)

Dalam hal ini cukuplah Nabi Muhammad ﷺ menjadi contoh Di dalam satu pernyataannya beliau bersabda:

“Andaikata putriku Fatimah mencuri, niscaya saya potong tangannya”
(H.R.
Bukhari dan Muslim)

b.
Sifat adil ulama (yaitu orang yang berilmu pengetahuan) terhadap orang awam, seperti menanamkan ke dalam hati mereka akidah yang benar.
membimbingnya kepada amal-amal yang bermanfaat baginya di dunia dan di akhirat, memberikan pendidikan yang baik, menganjurkan usaha yang halal, memberikan nasihat-nasihat yang menambah kuat imannya, menyelamatkan dari perbuatan dosa dan maksiat, membangkitkan semangat untuk berbuat baik dan melakukan kebajikan.
mengeluarkan fatwa yang berguna dan bermanfaat di dalam melaksanakan syariat dan ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala

c.
Sifat adil seorang suami terhadap istrinya, begitupun sebaliknya, seperti melaksanakan kewajiban masing-masing terhadap yang lain, tidak membeberkan rahasia pihak yang lain, terutama rahasia khusus antara keduanya yang tidak baik diketahui orang lain.

Amanat seseorang terhadap dirinya sendiri, seperti berbuat sesuatu yang menguntungkan dan bermanfaat bagi dirinya dalam soal dunia dan agamanya.
Janganlah ia membuat hal-hal yang membahayakannya di dunia dan akhirat, dan lain sebagainya.
Ajaran Allah yang sangat baik ini yaitu melaksanakan amanat dan hukum dengan seadil-adilnya, jangan sekali-kali diabaikan, tetapi hendaklah diindahkan.
diperhatikan dan diterapkan dalam hidup dan kehidupan kita, untuk dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

An Nisaa' (4) ayat 58 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 58 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 58 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian, wahai orang-orang yang beriman, untuk menyampaikan segala amanat Allah atau amanat orang lain kepada yang berhak secara adil.
Jangan berlaku curang dalam menentukan suatu keputusan hukum.
Ini adalah pesan Tuhanmu, maka jagalah dengan baik, karena merupakan pesan terbaik yang diberikan-Nya kepada kalian.
Allah selalu Maha Mendengar apa yang diucapkan dan Maha Melihat apa yang dilakukan.
Dia mengetahui orang yang melaksanakan amanat dan yang tidak melaksanakannya, dan orang yang menentukan hukum secara adil atau zalim.
Masing-masing akan mendapatkan ganjarannya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat) artinya kewajiban-kewajiban yang dipercayakan dari seseorang (kepada yang berhak menerimanya) ayat ini turun ketika Ali r.a.
hendak mengambil kunci Kakbah dari Usman bin Thalhah Al-Hajabi penjaganya secara paksa yakni ketika Nabi ﷺ datang ke Mekah pada tahun pembebasan.
Usman ketika itu tidak mau memberikannya lalu katanya, “Seandainya saya tahu bahwa ia Rasulullah tentulah saya tidak akan menghalanginya.” Maka Rasulullah ﷺ pun menyuruh mengembalikan kunci itu padanya seraya bersabda, “Terimalah ini untuk selama-lamanya tiada putus-putusnya!” Usman merasa heran atas hal itu lalu dibacakannya ayat tersebut sehingga Usman pun masuk Islamlah.
Ketika akan meninggal kunci itu diserahkan kepada saudaranya Syaibah lalu tinggal pada anaknya.
Ayat ini walaupun datang dengan sebab khusus tetapi umumnya berlaku disebabkan persamaan di antaranya (dan apabila kamu mengadili di antara manusia) maka Allah menitahkanmu (agar menetapkan hukum dengan adil.
Sesungguhnya Allah amat baik sekali) pada ni`immaa diidgamkan mim kepada ma, yakni nakirah maushufah artinya ni`ma syaian atau sesuatu yang amat baik (nasihat yang diberikan-Nya kepadamu) yakni menyampaikan amanat dan menjatuhkan putusan secara adil.
(Sesungguhnya Allah Maha Mendengar) akan semua perkataan (lagi Maha Melihat) segala perbuatan.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar menunaikan amanat dengan berbagai macam bentuknya, di mana kalian diamanati atasnya kepada pemiliknya, maka jangan melalaikannya.
Allah juga memerintahkan kalian agar menetapkan keputusan diantara manusia dengan adil dan obyektif bila kalian menetapkannya di antara mereka.
Ini adalah sebaik-baik nasihat dan petunjuk yang Allah berikan kepada kalian, Sesungguhnya Allah Maha Mendengar kata-kata kalian, mengetahui amal-amal kalian seluruhnya dan melihatnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
memberitahukan bahwa Dia memerintahkan agar amanat-amanat itu disampaikan kepada yang berhak menerimanya.

Di dalam hadis Al-Hasan, dari Samurah, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Sampaikanlah amanat itu kepada orang yang mempercayaimu, dan janganlah kamu berkhianat terhadap orang yang berkhianat kepadamu.

Hadis riwayat Imam Ahmad dan semua pemilik kitab sunan.
Makna hadis ini umum mencakup semua jenis amanat yang diharuskan bagi manusia menyampaikannya.

Amanat tersebut antara lain yang menyangkut hak-hak Allah subhanahu wa ta’ala.
atas hamba-hamba-Nya, seperti salat, zakat, puasa, kifarat, semua jenis nazar, dan lain sebagainya yang semisal yang dipercayakan kepada seseorang dan tiada seorang hamba pun yang melihatnya.
Juga termasuk pula hak-hak yang menyangkut hamba-hamba Allah sebagian dari mereka atas sebagian yang lain, seperti semua titipan dan lain-lainnya yang merupakan subjek titipan tanpa ada bukti yang menunjukkan ke arah itu.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
memerintahkan agar hal tersebut ditunaikan kepada yang berhak menerimanya.
Barang siapa yang tidak melakukan hal tersebut di dunia, maka ia akan dituntut nanti di hari kiamat dan dihukum karenanya.
Sebagaimana yang disebutkan di dalam sebuah hadis sahih, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya semua hak itu benar-benar akan disampaikan kepada pemiliknya.
hingga kambing yang tidak bertanduk diperintahkan membalas terhadap kambing yang bertanduk (yang dahulu di dunia pernah menyeruduknya).

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail Al-Ahmasi, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Abdullah ibnus Saib, dari Zazan, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan, “Sesungguhnya syahadat itu menghapus semua dosa kecuali amanat.” Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa di hari kiamat kelak seseorang diajukan (ke hadapan peradilan Allah).
Jika lelaki itu gugur di jalan Allah, dikatakan kepadanya, “Tunaikanlah amanatmu.” Maka lelaki itu menjawab, “Bagaimana aku akan menunaikannya, sedangkan dunia telah tiada?”
Maka amanat menyerupakan dirinya dalam bentuk sesuatu yang terpadat di dalam dasar neraka Jahannam.
Maka lelaki itu turun ke dasar neraka, lalu memikulnya di atas pundaknya.
Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa setiap kali ia mengangkat amanat itu, maka amanat itu terjatuh dari pundaknya, lalu ia pun ikut terjatuh ke dasar neraka, begitulah selama-lamanya.
Zazan mengatakan bahwa lalu ia datang menemui Al-Barra ibnu Azib dan menceritakan hal tersebut kepada Al-Barra.
Maka Al-Barra mengatakan, “Benarlah apa yang dikatakan oleh saudaraku.” Lalu ia membacakan firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.

Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Ibnu Abu Laila, dari seorang lelaki, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa amanat ini bermakna umum dan wajib ditunaikan terhadap semua orang, baik yang bertakwa maupun yang durhaka.

Muhammad ibnul Hanafiyah mengatakan bahwa amanat ini umum pengertiannya menyangkut bagi orang yang berbakti dan orang yang durhaka.

Abul Aliyah mengatakan bahwa amanat itu ialah semua hal yang mereka diperintahkan untuk melakukannya dan semua hal yang dilarang mereka mengerjakannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Gayyas, dari Al-A’masy, dari Abud-Duha, dari Masruq yang mengatakan bahwa Ubay ibnu Ka’b pernah mengatakan, “Termasuk ke dalam pengertian amanat ialah memelihara farji bagi seorang wanita.”

Ar-Rabi’ ibnu Anas mengatakan bahwa wanita termasuk amanat yang menyangkut antara kamu dan orang lain.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
Termasuk ke dalam pengertian amanat ini ialah nasihat sultan kepada kaum wanita, yakni pada hari raya.

Kebanyakan Mufassirin menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Usman ibnu Talhah ibnu Abu Talhah.
Nama Abu Talhah ialah Abdullah ibnu Abdul Uzza ibnu Usman ibnu Abdud Dar ibnu Qusai ibnu Kitab Al-Qurasyi Al-Abdari, pengurus Ka’bah.
Dia adalah saudara sepupu Syaibah ibnu Usman ibnu Abu Talhah yang berpindah kepadanya tugas pengurusan Ka’bah hingga turun-temurun ke anak cucunya sampai sekarang.

Usman yang ini masuk Islam dalam masa perjanjian gencatan senjata antara Perjanjian Hudaibiyah dan terbukanya kota Mekah.
Saat itu ia masuk Islam bersama Khalid ibnul Walid dan Amr ibnul As.
Pamannya bernama Usman ibnu Talhah ibnu Abu Talhah, ia memegang panji pasukan kaum musyrik dalam Perang Uhud, dan terbunuh dalam peperangan itu dalam keadaan kafir.

Sesungguhnya kami sebutkan nasab ini tiada lain karena kebanyakan Mufassirin kebingungan dengan nama ini dan nama itu (yakni antara Usman ibnu Abu Talhah pengurus Ka’bah dan Usman ibnu Talhah ibnu Abu Talhah yang mati kafir dalam Perang Uhud).

Penyebab turunnya ayat ini berkaitan dengan Usman tersebut ialah ketika Rasulullah ﷺ mengambil kunci pintu Ka’bah dari tangannya pada hari kemenangan atas kota Mekah, kemudian Rasulullah ﷺ mengembalikan kunci itu kepadanya (setelah ayat ini diturunkan).

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan sehubungan dengan perang kemenangan atas kota Mekah, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ja’far ibnuz Zubair, dari Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Abu Saur, dari Safiyyah binti Syaibah, bahwa ketika Rasulullah ﷺ turun di Mekah, semua orang tenang.
Maka beliau ﷺ keluar hingga sampai di Baitullah, lalu melakukan tawaf di sekelilingnya sebanyak tujuh kali dengan berkendaraan, dan beliau mengusap rukun Hajar Aswad dengan tongkat yang berada di tangannya.

Seusai tawaf, beliau memanggil Usman ibnu Talhah, lalu mengambil kunci pintu Ka’bah darinya.
Kemudian pintu Ka’bah dibukakan untuk Nabi ﷺ, lalu Nabi ﷺ masuk ke dalamnya.
Ketika berada di dalam beliau melihat patung burung merpati yang terbuat dari kayu, maka beliau mematahkan patung itu dengan tangannya, lalu membuangnya.
Setelah itu beliau berhenti di pintu Ka’bah, sedangkan semua orang dalam keadaan tenang dan diam dengan penuh hormat kepada Nabi ﷺ, semuanya berada di masjid.

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa salah seorang Ahlul Ilmi telah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ bersabda ketika berdiri di depan pintu Ka’bah:

Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Dia telah menunaikan janji-Nya kepada hamba-Nya, dan telah menolong hamba-Nya dan telah mengalahkan pasukan yang bersekutu sendirian.
Ingatlah, semua dendam atau darah atau harta yang didakwakan berada di bawah kedua telapak kakiku ini, kecuali jabatan Sadanatul Ka’bah (pengurus Ka’bah) dan Siqayalut Haj (pemberi minum jamaah haji).

Ibnu Ishaq melanjutkan kisah hadis sehubungan dengan khotbah Nabi ﷺ pada hari itu, hingga ia mengatakan bahwa setelah itu Rasulullah ﷺ duduk di masjid.
Maka menghadaplah kepadanya Ali ibnu Abu Talib seraya membawa kunci pintu Ka’bah.
Lalu Ali berkata, “Wahai Rasulullah, serahkan sajalah tugas ini kepada kami bersama jabatan siqayah, semoga Allah melimpahkan salawat kepadamu.”

Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Di manakah Usman ibnu Talhah?”
Lalu Usman dipanggil.
Setelah ia menghadap, Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

Inilah kuncimu, hai Usman, hari ini adalah hari penyampaian amanat dan kebajikan.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, dari Hajjaj, dari Ibnu Juraij sehubungan dengan ayat ini, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Usman ibnu Talhah.
Rasulullah ﷺ mengambil kunci pintu Ka’bah darinya, lalu beliau masuk ke dalam Ka’bah, hal ini terjadi pada hari kemenangan atas kota Mekah.
Setelah itu beliau ﷺ keluar dari dalam Ka’bah seraya membacakan ayat ini, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
(An Nisaa:58), hingga akhir ayat.
Lalu Rasulullah ﷺ memangggil Usman dan menyerahkan kepadanya kunci tersebut.

Ibnu Juraij mengatakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ keluar dari dalam Ka’bah seraya membaca firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
(An Nisaa:58) Maka Umar ibnul Khattab berkata, “Semoga Allah menjadikan ayah dan ibuku sebagai tebusan beliau.
Aku tidak pernah mendengar beliau membaca ayat ini sebelumnya.”

Telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepada kami Az-Zunji-ibnu Khalid, dari Az-Zuhri yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ menyerahkan kunci pintu Ka’bah kepada Usman seraya berkata, “Bantulah dia oleh kalian (dalam menjalankan tugasnya sebagai hijabatul bait).”

Ibnu Murdawaih meriwayatkan melalui jalur Al-Kalbi, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
(An Nisaa:58) Ketika Rasulullah ﷺ membuka kota Mekah, beliau memanggil Usman ibnu Talhah.
Setelah Usman menghadap, beliau bersabda, “Berikanlah kunci itu kepadaku.” Lalu Usman ibnu Talhah mengambil kunci itu untuk diserahkan kepada Nabi ﷺ Ketika ia mengulurkan tangannya kepada Nabi ﷺ, maka Al-Abbas datang menghampirinya dan berkata, “Wahai Rasulullah, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, berikanlah jabatan sadanah ini bersama jabatan siqayah kepadaku.” Maka Usman menarik kembali tangannya, dan Rasulullah ﷺ bersabda, “Hai Usman, serahkanlah kunci itu kepadaku.” Maka Usman mengulurkan tangannya untuk menyerahkan kunci.
Tetapi Al-Abbas mengucapkan kata-katanya yang tadi, dan Usman kembali menarik tangannya.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Hai Usman, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian, serahkanlah kunci itu.” Maka Usman berkata, “Terimalah dengan amanat dari Allah.” Rasulullah ﷺ berdiri dan membuka pintu Ka’bah, dan di dalamnya beliau menjumpai patung Nabi Ibrahim ‘alaihis salam sedang memegang piala yang biasa dipakai untuk mengundi.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:

Apakah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ini, semoga Allah melaknat mereka, dan apakah kaitannya antara Nabi Ibrahim dengan piala ini?

Kemudian Nabi ﷺ meminta sebuah panci besar yang berisikan air, lalu beliau mengambil air itu dan memasukkan piala itu ke dalamnya berikut patung tersebut.
Lalu beliau mengeluarkan maqam Ibrahim dari dalam Ka’bah, kemudian menempelkannya pada dinding Ka’bah.
Pada mulanya maqam Ibrahim ditaruh di dalam Ka’bah.
Setelah itu beliau bersabda:

Hai manusia, inilah kiblat!

Selanjutnya Rasulullah ﷺ keluar, lalu melakukan tawaf di Ka’bah sekali atau dua kali keliling.
Menurut apa yang disebutkan oleh pemilik kitab Bardul Miftah, setelah itu turunlah Malaikat Jibril.
Kemudian Rasulullah ﷺ membacakan firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
(An Nisaa:58), hingga akhir ayat.

Demikian menurut riwayat yang terkenal, yang menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa tersebut.
Pada garis besarnya tidak memandang apakah ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa tersebut atau tidak, makna ayat adalah umum.
Karena itulah Ibnu Abbas dan Muhammad ibnul Hanafiyah mengatakan bahwa amanat ini menyangkut orang yang berbakti dan orang yang durhaka.
Dengan kata lain, bersifat umum merupakan perintah terhadap semua orang.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkan dengan adil.

Hal ini merupakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala.
yang menganjurkan menetapkan hukum di antara manusia dengan adil.
Karena itulah maka Muhammad ibnu Ka’b, Zaid ibnu Aslam, dan Syahr ibnu Hausyab mengatakan bahwa ayat ini diturunkan hanya berkenaan dengan para umara, yakni para penguasa yang memutuskan perkara di antara manusia.
Di dalam sebuah hadis disebutkan:

Sesungguhnya Allah selalu bersama hakim selagi ia tidak aniaya, apabila ia berbuat aniaya dalam keputusannya, maka Allah menyerahkan dia kepada dirinya sendiri (yakni menjauh darinya).

Di dalam sebuah atsar disebutkan:

Berbuat adil selama sehari lebih baik daripada melakukan ibadah empat puluh tahun.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian.

Allah memerintahkan kepada kalian untuk menyampaikan amanat-amanat tersebut dan memutuskan hukum dengan adil di antara manusia serta lain-lainnya yang termasuk perintah-perintah-Nya dan syariat-syariat-Nya yang sempurna lagi agung dan mencakup semuanya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Maha mendengar semua ucapan kalian lagi Maha Melihat semua perbuatan kalian.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdullah ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Abdulah ibnu Luhai’ah, dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Abul Khair, dari Uqbah ibnu Amir yang menceritakan bahwa ia pernah melihat Rasulullah ﷺ sedang membaca ayat ini, yaitu firman-Nya: Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(An Nisaa:58) Lalu beliau ﷺ bersabda: Maha Melihat segala sesuatu.

Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Yahya Al-Qazwaini, telah menceritakan kepada kami Al-Muqri (yakni Abu Abdur Rahman Abdullah ibnu Yazid), telah menceritakan kepada kami Harmalah (yakni Ibnu Imran), bahwa At-Tajibi Al-Masri pernah menceritakan bahwa dia mendengar hadis ini dari Yunus yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah membaca firman-Nya: Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
(An Nisaa:58) sampai dengan firman-Nya: Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(An Nisaa:58) Abu Hurairah meletakkan jari jempolnya pada telinganya, sedangkan jari yang berikutnya ia letakkan pada matanya, lalu ia berkata bahwa demikianlah yang pernah ia lihat dari Rasulullah ﷺ ketika membaca ayat ini, lalu beliau ﷺ meletakkan kedua jarinya pada kedua anggota tersebut (telinga dan mata).
Abu Zakaria mengatakan bahwa Al-Muqri memperagakannya kepada kami.
Kemudian Abu Zakaria meletakkan jari jempolnya yang kanan pada mata kanannya dan jari berikutnya pada telinga kanannya.
Lalu ia mengatakan, “Al-Muqri memperagakan seperti ini kepada kami.”

Imam Abu Daud, Imam Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya, Imam Hakim di dalam kitab mustadraknya.
dan Ibnu Murdawaih di dalam kitab tafsimya telah meriwayatkan melalui hadis Abu Abdur Rahman Al-Muqri berikut sanadnya dengan lafaz yang semisal.

Abu Yunus yang disebutkan di dalam sanad hadis ini adalah maula Abu Hurairah r.a., nama aslinya adalah Sulaim ibnu Jubair.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 58

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa setelah Fathu Makkah (pembebasan Mekah), Rasulullah ﷺ memanggil ‘Utsman bin Thalhah untuk meminta kunci ka’bah.
Setelah ‘Utsman datang menghadap Nabi untuk menyerahkan kunci itu, berdirilah al’Abbas serayat berkata: “Ya Rasulallah, demi Allah, serahkanlah kunci itu kepadaku.
Saya akan rangkap jabatan tersebut dengan jabatan siqaayah (urusan pengairan).” ‘Utsman menarik kembali tangannya.
Maka bersabdalah Rasulullah ﷺ: “Berikanlah kunci itu kepadaku wahai ‘Utsman.” ‘Utsman berkata: “Inilah dia, amanat dari Allah.” Maka berdirilah Rasulullah ﷺ membuka Ka’bah dan kemudian keluar untuk tawaf di Baitullah.
Lalu turunlah Jibril membawa perinta supaya kunci itu diserahkan kembali kepada ‘Utsman.
Rasulullah melaksanakan perintah itu sambil membaca ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 58)

Diriwayatkan oleh Syu’bah di dalam tafsir-nya, dari Hajjaj yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 58) berkenaan dengan ‘Utsman bin Thalhah.
Ketika itu Rasulullah ﷺ membuka kunci Ka’bah darinya pada waktu Fathu Makkah.
Dengan kunci itu Rasulullah masuk Ka’bah.
Tatkala keluar dari Ka’bah, beliau membaca ayat ini (an-Nisaa’: 58).
Kemudian beliau memanggil ‘Utsman untuk menyerahkan kembali kunci itu.
Menurut ‘Umar bin al-Kaththab, kenyataannya ayat ini (an-Nisaa’: 58) turun di dalam Ka’bah.
Karena pada waktu itu Rasulullah keluar dari Ka’bah sambil membaca ayat tersebut.
Dan ia (‘Umar) bersumpah bahwa sebelumnya ia belum pernah mendengar ayat tersebut.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa' (4) Ayat 58

AMAANAH
أَمَٰنَتَه

Menurut Al Kafawi, amanah ialah setiap perkara yang dianggap dapat dipercayai ke atasnya seperti harta dan rahsia-rahsia.

Lafaz ini berasal dari kata amina dan amanatan yang bermakna jujur, dapat dipercayai dan sebagainya. Amaanah juga bermakna titipan dan menunaikan apa yang dipercayai,sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang (diserahkan bagi disimpan dan lain-lain), segala yang perintah Allah kepada hambanya, lawan khianat.

Lafaz amaanah dalam bentuk mufrad disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 283,
-Al Ahzab (33), ayat 72.

Sedangkan dalam bentuk jamak disebut tiga kali yaitu dalam surah:
-An Nisaa (4), ayat 58;
-Al Anfal (8), ayat 27;
-Al Mu’minuun (23), ayat 8,
-Al Ma’aarij (70), ayat 32.

Dalam Tafsir Al Khazin, Ibn Abbas berkata,
“Makna amaanah dalam surah Al Ahzab ialah ketaatan dan kewajiban-kewajiban yang difardukan ke atas hambanya.”

Ibn Mas’ud berkata,
Amaanah ialah mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadan, haji, jujur dalam percakapan, melangsai hutang, jujur dalam timbangan dan ukuran dan lebih daripada itu setiap yang dititipkan, ada yang mengatakan setiap yang diperintah dan dilarang.”

Abdullah bin Amni bin Al As berkata,
“Pertama sekali yang diciptakan dari manusia adalah kemaluan (al-faraj) dan ini adalah amanah yang diberikan. Faraj adalah amanah. Telinga, mata, tangan dan kaki adalah amanah. Diriwayatkan dalam hadis, “Tidak ada iman bagi orang yang tidak ada dalam dirinya amanah.”

Oleh karena itu, An Nasafi berkata,
“Orang kafir dan munafik tidak ada dalam dirinya sifat amanah karena mereka berbuat khianat dan tidak patuh sebagaimana kepatuhan para nabi dan orang yang beriman.”

Sedangkan dalam tafsir Tanwir Al Miqbas, dijelaskan makna amaanah ialah ketaatan dan ubudiyah.

Muhammad Rasyid Rida berpendapat berkenaan amaanah dalam surah Al Baqarah, ”Ayat ini turun berkenaan dengan hukum­ hukum harta dan perkara yang diamanahkan kepada seseorang adalah bersifat umum mencakup titipan (wadi’ah) dan lain­ lain. Maknanya, setiap yang diamanahkan kepadanya perlu ditunaikan serta bertakwa kepada Allah dan jangan mengkhianati sesuatu apa pun dari amanah itu'”

Al-Fayruz Abadi berkata “Terdapat dua aspek atau makna amaanah di dalam Al Qur’an:

Pertama, bermakna kewajiban-kewajiban.

Kedua, bermakna al ‘iffah yaitu menjauhi diri dari perkara yang tidak baik, hina, syubhah dan al-siyanah (penjagaan).”

Kesimpulannya, amaanah di dalam Al Qur’an mencakupi dua perkara.

Pertama, amanah dalam harta.

Kedua, amanah dalam mentaati segala yang diperintah dan menjauhkan segala yang dilarang oleh Allah atau segala apa yang diamanahkan Allah kepada manusia.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:46-47

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 58 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 58



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.8
Rating Pembaca: 4.8 (12 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku