Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 58 [QS. 4:58]

اِنَّ اللّٰہَ یَاۡمُرُکُمۡ اَنۡ تُؤَدُّوا الۡاَمٰنٰتِ اِلٰۤی اَہۡلِہَا ۙ وَ اِذَا حَکَمۡتُمۡ بَیۡنَ النَّاسِ اَنۡ تَحۡکُمُوۡا بِالۡعَدۡلِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ نِعِمَّا یَعِظُکُمۡ بِہٖ ؕ اِنَّ اللّٰہَ کَانَ سَمِیۡعًۢا بَصِیۡرًا
Innallaha ya’murukum an tu’adduul amaanaati ila ahlihaa wa-idzaa hakamtum bainannaasi an tahkumuu bil ‘adli innallaha ni’immaa ya’izhukum bihi innallaha kaana samii’an bashiiran;
Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.
Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu.
Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.
―QS. An Nisaa’ [4]: 58

Indeed, Allah commands you to render trusts to whom they are due and when you judge between people to judge with justice.
Excellent is that which Allah instructs you.
Indeed, Allah is ever Hearing and Seeing.
― Chapter 4. Surah An Nisaa‘ [verse 58]

إِنَّ sesungguhnya

Indeed,
ٱللَّهَ Allah

Allah
يَأْمُرُكُمْ Dia menyuruh

orders you
أَن untuk

to
تُؤَدُّوا۟ menyampaikan

render
ٱلْأَمَٰنَٰتِ amanat

the trusts
إِلَىٰٓ kepada

to
أَهْلِهَا yang berhak menerimanya

their owners,
وَإِذَا dan apabila

and when
حَكَمْتُم kamu menetapkan hukum

you judge
بَيْنَ diantara

between
ٱلنَّاسِ manusia

the people
أَن supaya

to
تَحْكُمُوا۟ kamu menetapkan hukum

judge
بِٱلْعَدْلِ dengan adil

with justice.
إِنَّ sesungguhnya

Indeed,
ٱللَّهَ Allah

Allah
نِعِمَّا sebaik-baiknya

excellently
يَعِظُكُم Dia memberi pelajaran kepadamu

advises you
بِهِۦٓ dengannya

with it.
إِنَّ sesunguhnya

Indeed,
ٱللَّهَ Allah

Allah
كَانَ adlah Dia

is
سَمِيعًۢا Maha Mendengar

All-Hearing,
بَصِيرًا Maha Melihat

All-Seeing.

Tafsir

Alquran

Surah An Nisaa’
4:58

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 58. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini memerintahkan agar menyampaikan
"amanat"
kepada yang berhak.
Pengertian
"amanat"
dalam ayat ini, ialah sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Kata
"amanat"
dengan pengertian ini sangat luas, meliputi
"amanat"
Allah kepada hamba-Nya, amanat seseorang kepada sesamanya dan terhadap dirinya sendiri.


Amanat Allah terhadap hamba-Nya yang harus dilaksanakan antara lain:
melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Semua nikmat Allah berupa apa saja hendaklah kita manfaatkan untuk taqarrub (mendekatkan diri) kepada-Nya.


Amanat seseorang terhadap sesamanya yang harus dilaksanakan antara lain:
mengembalikan titipan kepada yang punya dengan tidak kurang suatu apa pun, tidak menipunya, memelihara rahasia dan lain sebagainya dan termasuk juga di dalamnya ialah:


a.

Sifat adil penguasa terhadap rakyat dalam bidang apa pun dengan tidak membeda-bedakan antara satu dengan yang lain di dalam pelaksanaan hukum, sekalipun terhadap keluarga dan anak sendiri, sebagaimana ditegaskan Allah dalam ayat ini.

وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِ

Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil.
..

(an-Nisa’ [4]: 58)


Dalam hal ini cukuplah Nabi Muhammad ﷺ menjadi contoh.
Di dalam satu pernyataannya beliau bersabda:

وَاِيْمُ اللّٰهِ لَوْ اَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَرَقَتْ لَقَطَعَ مُحَمَّدٌ يَدَهَا

Andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya saya potong tangannya"
(Riwayat asy-Syaikhan dari ‘Aisyah)
***


b.

Sifat adil ulama (yaitu orang yang berilmu pengetahuan) terhadap orang awam, seperti menanamkan ke dalam hati mereka akidah yang benar, membimbingnya kepada amal yang bermanfaat baginya di dunia dan di akhirat, memberikan pendidikan yang baik, menganjurkan usaha yang halal, memberikan nasihat-nasihat yang menambah kuat imannya, menyelamatkan dari perbuatan dosa dan maksiat, membangkitkan semangat untuk berbuat baik dan melakukan kebajikan, mengeluarkan fatwa yang berguna dan bermanfaat di dalam melaksanakan syariat dan ketentuan Allah.


c.
Sifat adil seorang suami terhadap istrinya, begitu pun sebaliknya, seperti melaksanakan kewajiban masing-masing terhadap yang lain, tidak membeberkan rahasia pihak yang lain, terutama rahasia khusus antara keduanya yang tidak baik diketahui orang lain.


Amanat seseorang terhadap dirinya sendiri;
seperti berbuat sesuatu yang menguntungkan dan bermanfaat bagi dirinya dalam soal dunia dan agamanya.
Janganlah ia membuat hal-hal yang membahayakannya di dunia dan akhirat, dan lain sebagainya.


Ajaran yang sangat baik ini yaitu melaksanakan amanah dan hukum dengan seadil-adilnya, jangan sekali-kali diabaikan, tetapi hendaklah diindahkan, diperhatikan dan diterapkan dalam hidup dan kehidupan kita, untuk dapat mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.


_______
***Ini adalah lafazh Bukhari, secara lengkapnya sebagai berikut:


Telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah radliallahu ‘anha;
bahwa orang-orang Qurasy diresahkan seorang wanita bani Makhzum yang mencuri.
Kemudian mereka berkata;
‘Tidak ada yang bisa bicara dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwasallam dan tidak ada yang berani (mengutarakan masalah ini) kepadanya selain Usamah bin Zaid, kekasih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Akhirnya Usamah berbicara kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi Rasulullah bertanya;
"Apakah kamu hendak memberikan syafa’at (pembelaan) dalam salah satu perkara had (hukuman) Allah?"
Kemudian beliau berdiri dan berkhutbah:
"Wahai manusia, bahwasanya orang-orang sebelum kalian tersesat karena sesungguhnya mereka jika yang mencuri adalah orang terhormat, mereka membiarkannya, namun jika yang mencuri adalah orang lemah, mereka menegakkan hukuman terhadapnya.
Demi Allah, kalaulah Fathimah binti Muhammad Shallallahu’alaihiwasallam mencuri, niscaya Muhammad yang memotong tangannya."

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 58. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian, wahai orang-orang yang beriman, untuk menyampaikan segala amanat Allah atau amanat orang lain kepada yang berhak secara adil.
Jangan berlaku curang dalam menentukan suatu keputusan hukum.


Ini adalah pesan Tuhanmu, maka jagalah dengan baik, karena merupakan pesan terbaik yang diberikan-Nya kepada kalian.
Allah selalu Maha Mendengar apa yang diucapkan dan Maha Melihat apa yang dilakukan.


Dia mengetahui orang yang melaksanakan amanat dan yang tidak melaksanakannya, dan orang yang menentukan hukum secara adil atau zalim.
Masing-masing akan mendapatkan ganjarannya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar menunaikan amanat dengan berbagai macam bentuknya, di mana kalian diamanati atasnya kepada pemiliknya, maka jangan melalaikannya.
Allah juga memerintahkan kalian agar menetapkan keputusan diantara manusia dengan adil dan obyektif bila kalian menetapkannya di antara mereka.


Ini adalah sebaik-baik nasihat dan petunjuk yang Allah berikan kepada kalian, Sesungguhnya Allah Maha Mendengar kata-kata kalian, mengetahui amalamal kalian seluruhnya dan melihatnya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat) artinya kewajiban-kewajiban yang dipercayakan dari seseorang


(kepada yang berhak menerimanya) ayat ini turun ketika Ali r.a. hendak mengambil kunci Kakbah dari Usman bin Thalhah Al-Hajabi penjaganya secara paksa yakni ketika Nabi ﷺ datang ke Mekah pada tahun pembebasan.
Usman ketika itu tidak mau memberikannya lalu katanya,
"Seandainya saya tahu bahwa ia Rasulullah tentulah saya tidak akan menghalanginya."
Maka Rasulullah ﷺ pun menyuruh mengembalikan kunci itu padanya seraya bersabda,
"Terimalah ini untuk selama-lamanya tiada putus-putusnya!"
Usman merasa heran atas hal itu lalu dibacakannya ayat tersebut sehingga Usman pun masuk Islamlah.
Ketika akan meninggal kunci itu diserahkan kepada saudaranya Syaibah lalu tinggal pada anaknya.
Ayat ini walaupun datang dengan sebab khusus tetapi umumnya berlaku disebabkan persamaan di antaranya


(dan apabila kamu mengadili di antara manusia) maka Allah menitahkanmu


(agar menetapkan hukum dengan adil.
Sesungguhnya Allah amat baik sekali) pada ni`immaa diidgamkan mim kepada ma, yakni nakirah maushufah artinya ni`ma syaian atau sesuatu yang amat baik


(nasihat yang diberikan-Nya kepadamu) yakni menyampaikan amanat dan menjatuhkan putusan secara adil.


(Sesungguhnya Allah Maha Mendengar) akan semua perkataan


(lagi Maha Melihat) segala perbuatan.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala, memberitahukan bahwa Dia memerintahkan agar amanatamanat itu disampaikan kepada yang berhak menerimanya.


Di dalam hadis Al-Hasan, dari Samurah, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Sampaikanlah amanat itu kepada orang yang mempercayaimu, dan janganlah kamu berkhianat terhadap orang yang berkhianat kepadamu.

Hadis riwayat Imam Ahmad dan semua pemilik kitab sunan.
Makna hadis ini umum mencakup semua jenis amanat yang diharuskan bagi manusia menyampaikannya.

Amanat tersebut antara lain yang menyangkut salat, zakat, puasa, kifarat, semua jenis nazar, dan lain sebagainya yang semisal yang dipercayakan kepada seseorang dan tiada seorang hamba pun yang melihatnya.
Juga termasuk pula hadis sahih, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya semua Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail Al-Ahmasi, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Abdullah ibnus Saib, dari Zazan, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan,
"Sesungguhnya syahadat itu menghapus semua dosa kecuali amanat."
Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa di hari kiamat kelak seseorang diajukan (ke hadapan peradilan Allah).
Jika lelaki itu gugur di jalan Allah, dikatakan kepadanya,
"Tunaikanlah amanatmu."
Maka lelaki itu menjawab,
"Bagaimana aku akan menunaikannya, sedangkan dunia telah tiada?"
Maka amanat menyerupakan dirinya dalam bentuk sesuatu yang terpadat di dalam dasar neraka Jahannam.
Maka lelaki itu turun ke dasar neraka, lalu memikulnya di atas pundaknya.
Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa setiap kali ia mengangkat amanat itu, maka amanat itu terjatuh dari pundaknya, lalu ia pun ikut terjatuh ke dasar neraka, begitulah selama-lamanya.
Zazan mengatakan bahwa lalu ia datang menemui Al-Barra ibnu Azib dan menceritakan hal tersebut kepada Al-Barra.
Maka Al-Barra mengatakan,
"Benarlah apa yang dikatakan oleh saudaraku."
Lalu ia membacakan firman-Nya:
Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.

Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Ibnu Abu Laila, dari seorang lelaki, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, bahwa amanat ini bermakna umum dan wajib ditunaikan terhadap semua orang, baik yang bertakwa maupun yang durhaka.

Muhammad ibnul Hanafiyah mengatakan bahwa amanat ini umum pengertiannya menyangkut bagi orang yang berbakti dan orang yang durhaka.

Abul Aliyah mengatakan bahwa amanat itu ialah semua hal yang mereka diperintahkan untuk melakukannya dan semua hal yang dilarang mereka mengerjakannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Hafs ibnu Gayyas, dari Al-A’masy, dari Abud-amanat ialah memelihara farji bagi seorang wanita."

Ar-Rabi’ ibnu Anas mengatakan bahwa wanita termasuk amanat yang menyangkut antara kamu dan orang lain.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
Termasuk ke dalam pengertian amanat ini ialah nasihat sultan kepada kaum wanita, yakni pada hari raya.

Kebanyakan Mufassirin menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Usman ibnu Talhah ibnu Abu Talhah.
Nama Abu Talhah ialah Abdullah ibnu Abdul Uzza ibnu Usman ibnu Abdud Dar ibnu Qusai ibnu Kitab Al-Qurasyi Al-Abdari, pengurus Ka’bah.
Dia adalah saudara sepupu Syaibah ibnu Usman ibnu Abu Talhah yang berpindah kepadanya tugas pengurusan Ka’bah hingga turun-temurun ke anak cucunya sampai sekarang.

Usman yang ini masuk Islam dalam masa perjanjian gencatan senjata antara Perjanjian Hudaibiyah dan terbukanya kota Mekah.
Saat itu ia masuk Islam bersama Khalid ibnul Walid dan Amr ibnul Usman ibnu Talhah ibnu Abu Talhah, ia memegang panji pasukan kaum musyrik dalam Perang Uhud, dan terbunuh dalam peperangan itu dalam keadaan kafir.

Sesungguhnya kami sebutkan nasab ini tiada lain karena kebanyakan Mufassirin kebingungan dengan nama ini dan nama itu (yakni antara Usman ibnu Abu Talhah pengurus Ka’bah dan Usman ibnu Talhah ibnu Abu Talhah yang mati kafir dalam Perang Uhud).

Penyebab turunnya ayat ini berkaitan dengan Usman tersebut ialah ketika Rasulullah ﷺ mengambil kunci pintu Ka’bah dari tangannya pada hari kemenangan atas kota Mekah, kemudian Rasulullah ﷺ mengembalikan kunci itu kepadanya (setelah ayat ini diturunkan).

Muhammad ibnu Ishaq mengatakan sehubungan dengan perang kemenangan atas kota Mekah, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Ja’far ibnuz Zubair, dari Ubaidillah ibnu Abdullah ibnu Abu Saur, dari Safiyyah binti Syaibah, bahwa ketika Rasulullah ﷺ turun di Mekah, semua orang tenang.
Maka beliau ﷺ keluar hingga sampai di Baitullah, lalu melakukan tawaf di sekelilingnya sebanyak tujuh kali dengan berkendaraan, dan beliau mengusap rukun Hajar Aswad dengan tongkat yang berada di tangannya.

Seusai tawaf, beliau memanggil Usman ibnu Talhah, lalu mengambil kunci pintu Ka’bah darinya.
Kemudian pintu Ka’bah dibukakan untuk Nabi ﷺ, lalu Nabi ﷺ masuk ke dalamnya.
Ketika berada di dalam beliau melihat patung burung merpati yang terbuat dari kayu, maka beliau mematahkan patung itu dengan tangannya, lalu membuangnya.
Setelah itu beliau berhenti di pintu Ka’bah, sedangkan semua orang dalam keadaan tenang dan diam dengan penuh hormat kepada Nabi ﷺ, semuanya berada di masjid.

Ibnu Ishaq mengatakan bahwa salah seorang Ahlul Ilmi telah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah ﷺ bersabda ketika berdiri di depan pintu Ka’bah:

Tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, Dia telah menunaikan janji-Nya kepada hamba-Nya, dan telah menolong hamba-Nya dan telah mengalahkan pasukan yang bersekutu sendirian.
Ingatlah, semua dendam atau darah atau harta yang didakwakan berada di bawah kedua telapak kakiku ini, kecuali jabatan Sadanatul Ka’bah (pengurus Ka’bah) dan Siqayalut Haj (pemberi minum jamaah Ibnu Ishaq melanjutkan kisah hadis sehubungan dengan khotbah Nabi ﷺ pada hari itu, hingga ia mengatakan bahwa setelah itu Rasulullah ﷺ duduk di masjid.
Maka menghadaplah kepadanya Ali ibnu Abu Talib seraya membawa kunci pintu Ka’bah.
Lalu Ali berkata,
"Wahai Rasulullah, serahkan sajalah tugas ini kepada kami bersama jabatan siqayah, semoga Allah melimpahkan salawat kepadamu."

Maka Rasulullah ﷺ bersabda,
"Di manakah Usman ibnu Talhah?"
Lalu Usman dipanggil.
Setelah ia menghadap, Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya:

Inilah kuncimu, hai Usman, hari ini adalah hari penyampaian amanat dan kebajikan.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, dari Hajjaj, dari Ibnu Juraij sehubungan dengan ayat ini, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Usman ibnu Talhah.
Rasulullah ﷺ mengambil kunci pintu Ka’bah darinya, lalu beliau masuk ke dalam Ka’bah, hal ini terjadi pada hari kemenangan atas kota Mekah.
Setelah itu beliau ﷺ keluar dari dalam Ka’bah seraya membacakan ayat ini, yaitu firman-Nya:
Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 58), hingga akhir ayat.
Lalu Rasulullah ﷺ memangggil Usman dan menyerahkan kepadanya kunci tersebut.

Ibnu Juraij mengatakan bahwa ketika Rasulullah ﷺ keluar dari dalam Ka’bah seraya membaca firman-Nya:
Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 58)
Maka Umar ibnul Khattab berkata,
"Semoga Allah menjadikan ayah dan ibuku sebagai tebusan beliau.
Aku tidak pernah mendengar beliau membaca ayat ini sebelumnya."

Telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepada kami Az-Zunji-ibnu Khalid, dari Az-Zuhri yang mengatakan bahwa Nabi ﷺ menyerahkan kunci pintu Ka’bah kepada Usman seraya berkata,
"Bantulah dia oleh kalian (dalam menjalankan tugasnya sebagai hijabatul bait)."


Ibnu Murdawaih meriwayatkan melalui jalur Al-Kalbi, dari Abu Saleh, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:
Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 58)
Ketika Rasulullah ﷺ membuka kota Mekah, beliau memanggil Usman ibnu Talhah.
Setelah Usman menghadap, beliau bersabda,
"Berikanlah kunci itu kepadaku."
Lalu Usman ibnu Talhah mengambil kunci itu untuk diserahkan kepada Nabi ﷺ Ketika ia mengulurkan tangannya kepada Nabi ﷺ, maka Al-Abbas datang menghampirinya dan berkata,
"Wahai Rasulullah, semoga ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, berikanlah jabatan sadanah ini bersama jabatan siqayah kepadaku."
Maka Usman menarik kembali tangannya, dan Rasulullah ﷺ bersabda,
"Hai Usman, serahkanlah kunci itu kepadaku."
Maka Usman mengulurkan tangannya untuk menyerahkan kunci.
Tetapi Al-Abbas mengucapkan kata-katanya yang tadi, dan Usman kembali menarik tangannya.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
"Hai Usman, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian, serahkanlah kunci itu."
Maka Usman berkata,
"Terimalah dengan amanat dari Allah."
Rasulullah ﷺ berdiri dan membuka pintu Ka’bah, dan di dalamnya beliau menjumpai patung Nabi IbrahimRasulullah ﷺ bersabda:

Apakah yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ini, semoga Allah melaknat mereka, dan apakah kaitannya antara Nabi Ibrahim dengan piala ini?

Kemudian Nabi ﷺ meminta sebuah panci besar yang berisikan air, lalu beliau mengambil air itu dan memasukkan piala itu ke dalamnya berikut patung tersebut.
Lalu beliau mengeluarkan maqam Ibrahim dari dalam Ka’bah, kemudian menempelkannya pada dinding Ka’bah.
Pada mulanya maqam Ibrahim ditaruh di dalam Ka’bah.
Setelah itu beliau bersabda:

Hai manusia, inilah kiblat!

Selanjutnya Rasulullah ﷺ keluar, lalu melakukan tawaf di Ka’bah sekali atau dua kali keliling.
Menurut apa yang disebutkan oleh pemilik kitab Bardul Miftah, setelah itu turunlah Malaikat Jibril.
Kemudian Rasulullah ﷺ membacakan firman-Nya:
Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 58), hingga akhir ayat.

Demikian menurut riwayat yang terkenal, yang menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa tersebut.
Pada garis besarnya tidak memandang apakah ayat ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa tersebut atau tidak, makna ayat adalah umum.
Karena itulah Ibnu Abbas dan Muhammad ibnul Hanafiyah mengatakan bahwa amanat ini menyangkut orang yang berbakti dan orang yang durhaka.
Dengan kata lain, bersifat umum merupakan perintah terhadap semua orang.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan (menyuruh kalian) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kalian menetapkan dengan adil.

Hal ini merupakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala, yang menganjurkan menetapkan hukum di antara manusia dengan adil.
Karena itulah maka Muhammad ibnu Ka’b, Zaid ibnu Aslam, dan Syahr ibnu Hausyab mengatakan bahwa ayat ini diturunkan hanya berkenaan dengan para umara, yakni para penguasa yang memutuskan perkara di antara manusia.
Di dalam sebuah hadis disebutkan:

Sesungguhnya Allah selalu bersama hakim selagi ia tidak aniaya, apabila ia berbuat aniaya dalam keputusannya, maka Allah menyerahkan dia kepada dirinya sendiri (yakni menjauh darinya).

Di dalam sebuah atsar disebutkan:

Berbuat adil selama sehari lebih baik daripada melakukan ibadah empat puluh tahun.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian.

Allah memerintahkan kepada kalian untuk menyampaikan amanatamanat tersebut dan memutuskan hukum dengan adil di antara manusia serta lain-lainnya yang termasuk perintah-perintah-Nya dan syariatsyariat-Nya yang sempurna lagi agung dan mencakup semuanya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Maha mendengar semua ucapan kalian lagi Maha Melihat semua perbuatan kalian.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar‘ah, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdullah ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Abdulah ibnu Luhai’ah, dari Yazid ibnu Abu Habib, dari Abul Khair, dari Uqbah ibnu Amir yang menceritakan bahwa ia pernah melihat Rasulullah ﷺ sedang membaca ayat ini, yaitu firman-Nya:
Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(QS. An-Nisa’ [4]: 58)
Lalu beliau ﷺ bersabda:
Maha Melihat segala sesuatu.

Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Yahya Al-Qazwaini, telah menceritakan kepada kami Al-Muqri (yakni Abu Abdur Rahman Abdullah ibnu Yazid), telah menceritakan kepada kami Harmalah (yakni Ibnu Imran), bahwa At-Tajibi Al-Masri pernah menceritakan bahwa dia mendengar hadis ini dari Yunus yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Hurairah membaca firman-Nya:
Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 58)
sampai dengan firman-Nya:
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian.
Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
(QS. An-Nisa’ [4]: 58)
Abu Hurairah meletakkan jari jempolnya pada telinganya, sedangkan jari yang berikutnya ia letakkan pada matanya, lalu ia berkata bahwa demikianlah yang pernah ia lihat dari Rasulullah ﷺ ketika membaca ayat ini, lalu beliau ﷺ meletakkan kedua jarinya pada kedua anggota tersebut (telinga dan mata).
Abu Zakaria mengatakan bahwa Al-Muqri memperagakannya kepada kami.
Kemudian Abu Zakaria meletakkan jari jempolnya yang kanan pada mata kanannya dan jari berikutnya pada telinga kanannya.
Lalu ia mengatakan,
"Al-Muqri memperagakan seperti ini kepada kami."

Daud, Ibnu Hibban di dalam kitab sahihnya, Imam Hakim di dalam kitab mustadraknya.
dan Ibnu Murdawaih di dalam kitab tafsimya telah meriwayatkan melalui hadis Abu Abdur Rahman Al-Muqri berikut sanadnya dengan lafaz yang semisal.

Abu Yunus yang disebutkan di dalam sanad hadis ini adalah maula Abu Hurairah r.a., nama aslinya adalah Sulaim ibnu Jubair.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 58

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa setelah Fathu Makkah (pembebasan Mekah), Rasulullah ﷺ memanggil ‘Utsman bin Thalhah untuk meminta kunci ka’bah.

Setelah ‘Utsman datang menghadap Nabi untuk menyerahkan kunci itu, berdirilah al’Abbas serayat berkata: “Ya Rasulallah, demi Allah, serahkanlah kunci itu kepadaku.
Saya akan rangkap jabatan tersebut dengan jabatan siqaayah (urusan pengairan).” ‘Utsman menarik kembali tangannya.
Maka bersabdalah Rasulullah ﷺ: “Berikanlah kunci itu kepadaku wahai ‘Utsman.” ‘Utsman berkata: “Inilah dia, amanat dari Allah.” Maka berdirilah Rasulullah ﷺ membuka Ka’bah dan kemudian keluar untuk tawaf di Baitullah.
Lalu turunlah Jibril membawa perinta supaya kunci itu diserahkan kembali kepada ‘Utsman.
Rasulullah melaksanakan perintah itu sambil membaca ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 58)

Diriwayatkan oleh Syu’bah di dalam tafsir-nya, dari Hajjaj yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 58) berkenaan dengan ‘Utsman bin Thalhah.
Ketika itu Rasulullah ﷺ membuka kunci Ka’bah darinya pada waktu Fathu Makkah.
Dengan kunci itu Rasulullah masuk Ka’bah.
Tatkala keluar dari Ka’bah, beliau membaca ayat ini (an-Nisaa’: 58).
Kemudian beliau memanggil ‘Utsman untuk menyerahkan kembali kunci itu.
Menurut ‘Umar bin al-Kaththab, kenyataannya ayat ini (an-Nisaa’: 58) turun di dalam Ka’bah.
Karena pada waktu itu Rasulullah keluar dari Ka’bah sambil membaca ayat tersebut.
Dan ia (‘Umar) bersumpah bahwa sebelumnya ia belum pernah mendengar ayat tersebut.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa’ (4) Ayat 58

AMAANAH
أَمَٰنَتَه

Menurut Al Kafawi, amanah ialah setiap perkara yang dianggap dapat dipercayai ke atasnya seperti harta dan rahsia-rahsia.

Lafaz ini berasal dari kata amina dan amanatan yang bermakna jujur, dapat dipercayai dan sebagainya.
Amaanah juga bermakna titipan dan menunaikan apa yang dipercayai,sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang (diserahkan bagi disimpan dan lain-lain), segala yang perintah Allah kepada hambanya, lawan khianat.

Lafaz amaanah dalam bentuk mufrad disebut dua kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 283,
Al Ahzab (33), ayat 72.
Sedangkan dalam bentuk jamak disebut tiga kali yaitu dalam surah:
An Nisaa (4), ayat 58;
Al Anfal (8), ayat 27;
-Al Mu’minuun (23), ayat 8,
-Al Ma’aarij (70), ayat 32.

Dalam Tafsir Al Khazin, Ibn Abbas berkata,
"Makna amaanah dalam surah Al Ahzab ialah ketaatan dan kewajiban-kewajiban yang difardukan ke atas hambanya."

Ibn Mas’ud berkata,
"Amaanah ialah mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadan, amanah yang diberikan.
Faraj adalah amanah.
Telinga, mata, tangan dan kaki adalah amanah.
Diriwayatkan dalam hadis, "Tidak ada iman bagi orang yang tidak ada dalam dirinya amanah."

Oleh karena itu, An Nasafi berkata,
"Orang kafir dan munafik tidak ada dalam dirinya sifat amanah karena mereka berbuat khianat dan tidak patuh sebagaimana kepatuhan para nabi dan orang yang beriman."

Sedangkan dalam tafsir Tanwir Al Miqbas, dijelaskan makna amaanah ialah ketaatan dan ubudiyah.

Muhammad Rasyid Rida berpendapat berkenaan amaanah dalam surah Al Baqarah, ”Ayat ini turun berkenaan dengan hukum hukum harta dan perkara yang diamanahkan kepada seseorang adalah bersifat umum mencakup titipan (wadi’ah) dan lain lain.
Maknanya, setiap yang diamanahkan kepadanya perlu ditunaikan serta bertakwa kepada Allah dan jangan mengkhianati sesuatu apa pun dari amanah itu’"

Al-Fayruz Abadi berkata "Terdapat dua aspek atau makna amaanah di dalam Al Qur’an:

Pertama, bermakna kewajiban-kewajiban.

Kedua, bermakna al ‘iffah yaitu menjauhi diri dari perkara yang tidak baik, hina, syubhah dan al-siyanah (penjagaan)."

Kesimpulannya, amaanah di dalam Al Qur’an mencakupi dua perkara.

Pertama, amanah dalam harta.

Kedua, amanah dalam mentaati segala yang diperintah dan menjauhkan segala yang dilarang oleh Allah atau segala apa yang diamanahkan Allah kepada manusia.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 46-47

Unsur Pokok Surah An Nisaa’ (النّساء)

Surat An-Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al-Baqarah.

Dinamakan An Nisaa‘ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath-Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa‘ dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Al Kubraa" (surat An Nisaa‘ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Ash Shughraa" (surat An Nisaa‘ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

▪ Kewajiban para washi dan para wali.
Hukum poligami.
▪ Mas kawin.
▪ Memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya.
▪ Pokok-pokok hukum warisan.
▪ Perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya.
▪ Wanita-wanita yang haram dikawini.
Hukum mengawini budak wanita.
▪ Larangan memakan harta secara bathil.
Hukum syiqaq dan nusyuz.
▪ Kesucian lahir batin dalam shalat.
Hukum suaka.
Hukum membunuh seorang Islam.
Shalat khauf‘.
▪ Larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk.
▪ Masalah pusaka kalalah.

Kisah:

▪ Kisah-kisah tentang nabi Musa `alaihis salam dan pengikutnya.

Lain-lain:

▪ Asal manusia adalah satu.
▪ Keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita.
Normanorma bergaul dengan isteri.
ahli kitab terhadap kitabkitab yang diturunkan kepadanya.
▪ Dasar-dasar pemerintahan.
▪ Cara mengadili perkara.
▪ Keharusan siap-siaga terhadap musuh.
▪ Sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi peperangan.
▪ Berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf.
Norma dan adab dalam peperangan.
▪ Cara menghadapi orang-orang munafik.
▪ Derajat orang yang berjihad.

Audio

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan Indonesia

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 176

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nisaa' ayat 58 - Gambar 1 Surah An Nisaa' ayat 58 - Gambar 2
Statistik QS. 4:58
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa’.

Surah An-Nisa’ (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, “Wanita”) terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa’
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali ‘Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma’idah
Sending
User Review
4.8 (12 votes)
Tags:

4:58, 4 58, 4-58, Surah An Nisaa' 58, Tafsir surat AnNisaa 58, Quran AnNisa 58, An-Nisa’ 58, Surah An Nisa ayat 58

▪ qs 4:58
Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Ayat Lainnya

QS. Fushshilat (Yang dijelaskan) – surah 41 ayat 42 [QS. 41:42]

42. Al-Qur’an itu adalah kitab yang tidak akan didatangi oleh kebatilan baik dari depan maupun dari belakang, baik pada masa lalu dan yang akan datang, kitab yang diturunkan dari Tuhan Yang Mahabijak … 41:42, 41 42, 41-42, Surah Fushshilat 42, Tafsir surat Fushshilat 42, Quran Fushilat 42, Fusilat 42, Fussilat 42, Surah Fusilat ayat 42

QS. Al A’raaf (Tempat yang tertinggi) – surah 7 ayat 17 [QS. 7:17]

“Kemudian,” kata Iblis melanjutkan, “Untuk mewujudkan tujuanku ini, aku akan menempuh berbagai cara. Pasti aku akan mendatangi mereka dari segala penjuru: dari depan, dari belakang, dari kanan, dan da … 7:17, 7 17, 7-17, Surah Al A’raaf 17, Tafsir surat AlAraaf 17, Quran Al Araf 17, Al-A’raf 17, Surah Al Araf ayat 17

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Salah satu Asmaul Husna adalah Al Akhir, yang berarti ...

Benar! Kurang tepat!

Keberadaan Asmaul Husna, dijelaskan dalam Alquran surah ...

Benar! Kurang tepat!

Sifat adil Allah berlaku untuk ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Salah satu Asmaul Husna, Allah memiliki sifat Al 'Adl, yang berarti bahwa Allah ...

Benar! Kurang tepat!

Allah memiliki sifat Yang Maha Mengumpulkan, yang artinya ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #2
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #2 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #2 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #26

Sebab-sebab turunnya ayat Alquran disebut … asbabul wurud asbabun nuzul alumul hadist ulumul qur’an Isra Mi’raj Benar! Kurang tepat! Jumlah

Pendidikan Agama Islam #13

Apa makanan kegemaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam? Roti dan kacang Daging Unta Kurma muda yang masih basah Cuka

Pendidikan Agama Islam #1

Tuhan memiliki sifat Al Matiin, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah zat Yang … Maha Mematikan Yang Maha

Instagram