Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages
Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 51 [QS. 4:51]

اَلَمۡ تَرَ اِلَی الَّذِیۡنَ اُوۡتُوۡا نَصِیۡبًا مِّنَ الۡکِتٰبِ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡجِبۡتِ وَ الطَّاغُوۡتِ وَ یَقُوۡلُوۡنَ لِلَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ہٰۤؤُلَآءِ اَہۡدٰی مِنَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا سَبِیۡلًا
Alam tara ilaal-ladziina uutuu nashiiban minal kitaabi yu’minuuna bil jibti wath-thaaghuuti wayaquuluuna lil-ladziina kafaruu ha’ulaa-i ahda minal-ladziina aamanuu sabiilaa;
Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Kitab (Taurat)?
Mereka percaya kepada Jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman.
―QS. 4:51
Topik ▪ Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin
English Translation - Sahih International
Have you not seen those who were given a portion of the Scripture, who believe in superstition and false objects of worship and say about the disbelievers,
“These are better guided than the believers as to the way”?
―QS. 4:51

Alquran Arti Perkata (Indonesia & English)
أَلَمْ apakah tidak

Do not
تَرَ kamu perhatikan

you see
إِلَى kepada

[towards]
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

those who
أُوتُوا۟ (mereka) diberi

were given
نَصِيبًا bagian

a portion
مِّنَ dari

of
ٱلْكِتَٰبِ Al Kitab

the Book?
يُؤْمِنُونَ mereka beriman

They believe
بِٱلْجِبْتِ dengan/kepada Jibti

in the superstition
وَٱلطَّٰغُوتِ dan Tagut

and the false deities,
وَيَقُولُونَ dan mereka mengatakan

and they say
لِلَّذِينَ kepada orang-orang yang

for those who
كَفَرُوا۟ kafir/ingkar

disbelieve[d]
هَٰٓؤُلَآءِ mereka itu

“These
أَهْدَىٰ lebih mendapat petunjuk

(are) better guided
مِنَ dari

than
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

those who
ءَامَنُوا۟ beriman

believe[d]
سَبِيلًا jalan

(as to the) way.

 

Tafsir surah An Nisaa' (4) ayat 51

Tafsir

Alquran

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Tidakkah kamu heran dengan perlakuan orang-orang yang diberi bagian dari ilmu kitab suci.
Mereka dengan rela menyembah berhala dan setan, dan mengatakan kepada orang-orang yang menyembah berhala,
“Sesungguhnya mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman.”

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Alkitab, mereka percaya kepada jibt dan tagut) nama dua berhala Quraisy

(dan mengatakan kepada orang-orang kafir) yaitu Abu Sofyan dan sahabat-sahabatnya ketika mereka menanyakan kepada orang-orang Yahudi itu siapakah yang lebih benar jalannya, apakah mereka sebagai penguasa Kakbah, pelayan makan-minum jemaah haji dan pembantunya orang yang berada dalam kesukaran ataukah Muhammad, yakni orang yang telah menyalahi agama nenek moyangnya, memutuskan tali silaturahmi dan meninggalkan tanah suci?

(bahwa mereka itu) maksudnya kamu hai orang-orang Quraisy

(lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman) artinya lebih lurus jalan yang kamu tempuh daripada mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Apakah kamu tidak mengetahui wahai Rasul keadaan orang-orang Yahudi tersebut yang telah diberi bagian dari ilmu, mereka membenarkan segala apa yang disembah selain Allah berupa berhala dan setan dari kalangan <a aria-describedby="tt" href="https://risalahmuslim.id/kamus/jin" class="glossaryLink cmtt_Tokoh" data-cmtooltip="

Jin
Jin (bahasa arab: جن Janna) secara harfiah berarti sesuatu yang berkonotasi"tersembunyi"atau"tidak terlihat".<BR CLASS="">Bangsa Jin dahulu dikatakan dapat menduduki beberapa tempat dilangit dan mendengarkan berita-berita dari Allah, setelah diutusnya seorang nabi yang bernama Muhammad maka mereka tidak lagi bisa mendengarkannya karena ada barisan yang menjaga rahasia itu.<BR CLASS="">“ …dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya).<BR CLASS="">Tetapiㅤ(…)</BR></BR></BR>

” >jin dan manusia dengan pembenaran yang membuat mereka berkenan untuk berhakim kepada selain syariat Allah.
Mereka berkata kepada orang-orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya Muhammad,
“Orang-orang kafir itu lebih lurus dan lebih adil jalan agamanya daripada orang-orang yang beriman.”

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab?
Mereka percaya kepada yang disembah selain Allah dan tagut.

Makna al-jibti menurut riwayat Muhammad ibnu Ishaq, dari Hissan ibnu Qaid, dari Umar ibnul Khattab, yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan al-jibt ialah sihir, sedangkan tagut ialah setan.
Hal yang sama diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Abul Aliyah, Mujahid, Ata, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Asy-Sya’bi, Al-Hasan, Ad-Dahhak, dan As-Saddi.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Abul Aliyah, Mujahid, Ata, Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair, Asy-Sya’bi, Al-Hasan, dan Atiyyah, bahwa yang dimaksud dengan al-jibt ialah setan.
Menurut riwayat dari Ibnu Abbas ditambahkan di Al-Habasyiyyah.

Dari Ibnu Abbas, disebutkan bahwa al-jibt artinya syirik, juga berarti berhalaberhala.

Menurut riwayat dari Asy-Sya’bi, al-jibt artinya juru ramal (tukang tenung).

Dari Ibnu Abbas Iagi disebutkan bahwa yang dimaksud dengan al-jibt ialah Huyay ibnu Akhtab.

Dari Mujahid, yang dimaksud dengan al-jibt ialah Ka’b ibnul Asyraf.

Allamah Abu Nasr ibnu Ismail ibnu Hammad Al-Jauhari di dalam kitab sahihnya mengatakan bahwa lafaz al-jibt ditujukan kepada pengertian berhala, tukang ramal, penyihir, dan lain sebagainya yang semisal.

Di dalam sebuah hadis disebutkan:

Tiyarah, iyafah, dan tarq termasuk jibt.

Selanjutnya Abu Nasr mengatakan bahwa kata al-jibt ini bukan asli dari bahasa Arab, mengingat di dalamnya terhimpun antara huruf jim dan huruf ta dalam satu kata, bukan karena sebab sebagai huruf yang dipertemukan.

Hadis yang disebutkan oleh Abu Nasr ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad di dalam kitab musnadnya.

Untuk itu Imam Ahmad mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Auf ibnu Hayyan ibnul Ala, telah menceritakan kepada kami Qatn ibnu Qubaisah, dari ayahnya (yaitu Qubaisah ibnu Mukhariq), bahwa ia pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:
Sesungguhnya ‘iyafah, larq, dan tiyarah termasuk al-jibt.

Auf mengatakan bahwa iyafah ialah semacam ramalan yang dilakukan dengan mengusir burung.
At-Tarq yaitu semacam ramalan dengan cara membuat garis-garis di tanah.
Menurut Al-Hasan, al-jibt artinya rintihan (bisikan) setan.

Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud di dalam kitab sunannya, Imam Nasai, dan Ibnu Abu Hatim di dalam kitab tafsirnya melalui hadis Auf Al-A’rabi.

Dalam surat Al-Baqarah telah disebutkan makna lafaz tagut.
Jadi, dalam pembahasan ini tidak perlu diulangi lagi.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnud-Daif, telah menceritakan kepada kami Hajaj, dari Ibnu Juraij, telah menceritakan kepadaku Abuz-Zubair, bahwa ia pernah mendengar Jabir ibnu Abdullah ketika ditanya mengenai arti tawagit.
Maka Jabir ibnu Abdullah menjawab,
“Mereka adalah para peramal yang setan-setan turun membantu mereka.”

Mujahid mengatakan bahwa tagut ialah setan dalam bentuk manusia, mereka mengangkatnya sebagai pemimpin mereka dan mengadukan segala perkara mereka kepada dia, dialah yang memutuskannya.

Imam Malik mengatakan bahwa tagut ialah semua yang disembah selain Allah subhanahu wa ta’ala.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah) bahwa mereka itu lebih benar jalannya daripada orang-orang yang beriman.

Mereka lebih mengutamakan orang-orang kafir daripada kaum muslim, karena kebodohan mereka sendiri, minimnya agama mereka, dan kekafiran mereka kepada Kitab Allah yang ada di tangan mereka.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah ibnu Yazid Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Amr, dari Ikrimah yang menceritakan bahwa Huyay ibnu Akhtab dan Ka’b ibnul Asyraf datang kepada penduduk Mekah, lalu mereka bertanya kepada keduanya,
“Kalian adalah Ahli Kitab dan Ahlul Ilmi (orang yang berilmu).
Maka ceritakanlah kepada kami perihal kami dan perihal Muhammad!”
Mereka balik bertanya,
“Bagaimanakah dengan kalian dan bagaimanakah pula dengan Muhammad?”
Mereka menjawab,
“Kami selalu bersilaturahmi, menyembelih unta, memberi minum air di samping air susu, membantu orang yang kesulitan dan memberi minum orang-orang yang haji.
Sedangkan Muhammad adalah orang yang miskin lagi hina, memutuskan silaturahmi dengan kami, diikuti oleh jamaah haji pencuri dari Bani Giffar.
Manakah yang lebih baik, kami atau dia?”
Keduanya menjawab,
“Kalian jauh lebih baik dan lebih benar jalannya (daripada dia).”
Maka Allah subhanahu wa ta’ala, menurunkan firman-Nya:
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab?
(QS. An-Nisa’ [4]: 51), hingga akhir ayat.

Hadis ini diriwayatkan melalui berbagai jalur dari Ibnu Abbas dan sejumlah ulama Salaf.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Addi, dari Daud, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa ketika Ka’b ibnul Asyraf tiba di Mekah, maka orang-orang Quraisy berkata,
“Bagaimanakah menurutmu si miskin yang diasingkan oleh kaumnya ini?
Dia menduga bahwa dirinya lebih baik daripada kami, padahal kami adalah ahli jamaah haji dan ahli yang mengurus Ka’bah serta ahli siqayah.”
Ka’b ibnul Asyraf menjawab,
“Kalian lebih baik.”
Maka turunlah firman-Nya:
Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.
(QS. Al-Kausar [108]: 3)
Turun pula firman-Nya yang mengatakan:
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab?
(QS. An-Nisa’ [4]: 51)
sampai dengan firman-Nya:
niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 52)

Ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa orang-orang yang membantu pasukan golongan bersekutu ialah dari kabilah Quraisy, Gatafan, Bani Quraisah, Huyay ibnu Akhtab, Salam ibnu Abul Haqiq, Abu Rafi”,
Ar-Rabi’ ibnu Abul Haniq, Abu Amir, Wahuh ibnu Amir, dan Haudah ibnu Qais.
Wahuh dan Abu Amir serta Haudah berasal dari Bani Wail, sedangkan sisanya dari kalangan Bani Nadir.
Ketika mereka tiba di kalangan orang-orang Quraisy, maka orang-orang Quraisy berkata,
“Mereka adalah para rahib Yahudi dan ahli ilmu tentang kitabkitab terdahulu.
Maka tanyakanlah kepada mereka, apakah agama kalian yang lebih baik, ataukah agama Muhammad?”
Lalu mereka bertanya kepada orang-orang Yahudi tersebut, dan para rahib Yahudi itu menjawab,
“Agama kalian lebih baik daripada agama Muhammad, dan jalan kalian lebih benar daripada dia dan orang-orang yang mengikutinya.”
Maka Allah subhanahu wa ta’ala, menurunkan firman-Nya:
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab?
(QS. An-Nisa’ [4]: 51)
sampai dengan firman-Nya:
dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.
(QS. An-Nisa’ [4]: 54)

Hal ini merupakan laknat Allah bagi mereka, sekaligus sebagai pemberitahuan bahwa mereka tidak akan memperoleh penolong di dunia, tidak pula di akhirat.
Mereka berangkat menuju Mekah yang sebenarnya untuk meminta pertolongan dari kaum musyrik Mekah, dan sesungguhnya mereka mengatakan demikian untuk mendapatkan simpati dari kaum musyrik agar mereka mau membantunya.
Ternyata kaum musyrik mau membantu mereka dan datang bersama mereka dalam Perang Ahzab, hingga memaksa Nabi ﷺ dan para sahabatnya untuk menggali parit di sekitar Madinah sebagai pertahanannya.
Akhirnya Allah menolak kejahatan mereka, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu.
yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun.
Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan.
Dan adalah Allah Mahakuat lagi Maha-perkasa.
(QS. Al-Ahzab [33]: 25)

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 51

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Ka’b bin al-Asyraf (orang Yahudi) datang ke Mekah, berkatalah orang Quraisy: “Tidakkah kamu lihat orang yang berpura-pura sabar dan terputus dari kaumnya, yang menganggap dirinya lebih baik daripada kami?
Padahal kami ini penerima orang-orang yang naik haji, menjaga/ pelayan ka’bah, dan pemberi minum (orang-orang yang naik haji).” Berkatalah Ka’b bin al-Asyraf: “Kamu lebih baik daripada dia (Muhammad).” Maka turunlah ayat , inna syaani-aka huwal abtar (sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus) (al-Kautsar: 3) dan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 51-52) berkenaan dengan mereka, sebagai penjelasan tentang kedudukan mereka yang dilaknat Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa penggerak persekutuan kaum Quraisy, Ghatafan, dan Bani Quraizhah dalam perang Ahzab adalah Hayy bin Akhthab, Salman bin Abil Haqiq, Abu Rafi’, ar-Rabi’ bin Abil Haqiq, Abu Imarah, dan Haudah bin Qais, semuanya dari kaum Yahudi Banin Nadlir.
Ketika ketemu dengan kaum Quraisy, mereka berkata: “Inilah pendeta-pendeta Yahudi dan ahli ilmu tentang kitabkitab terdahulu.
Cobalah kalian bertanya kepada mereka, apakah agama Quraisy yang paling baik ataukah agama Muhammad?” kemudian kaum Quraisy pun menanyakan kepada mereka (para pendeta Yahudi).
Mereka menjawab:
“Agama kalian lebih baik daripada agama Muhammad, dan kalian lebih mendapat petunjuk daripada Muhammad dan pengikutnya.” Maka turunlah ayat di atas (an-Nisaa’: 51-54) sebagai peringatan, makian, dan kutukan Allah kepada mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Hadits seperti ini (yang lebih panjang) diriwayatkan pula oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari ‘Umar (maula ‘Afrah).
Bahwa ahli kitab pernah berkata: “Muhammad menganggap dirinya, dengan rendah diri, telah diberi (kenabian, al-Qur’an, dan kemenangan) sebagaimana yang telah diberikan (kepada nabi-nabi terdahulu).
Dia mempunyai sembilan orang istri dan tidak ada yang dipentingkannya kecuali kawin.
Raja mana yang lebih utama daripada seperti ini?” maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 54) sebagai cercaan atas keirihatian mereka.

Sumber : Asbabun NuzulK.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa’ (4) Ayat 51
JIBT جِبْت

Arti lafaz jibt ialah semua perkara yang di sembah selain Allah.
Ada yang mengatakan kata itu adalah sebutan untuk berhala, dukun, penyihir dan yang semisalnya.

Kata jibt hanya disebut sekali saja di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah al Nisaa (4), ayat 51.
Ahli tafsir berbeda pendapat tentang makna kata jibt namun, semua arti itu menunjukkan kepada perbuatan atau benda yang buruk.
Diantara arti-arti itu adalah sihir, syaitan, musyrik, patung berhala dan dukun.
Ada juga yang menganggapnya sebagai panggilan kepada dua tokoh Yahudi yang ingkar kepada nabi yaitu Hayy bin Akhtab dan Ka’ab bin al-Asyraf.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Qubaisah bin Mukhariq disebutkan Nabi Muhammad bersabda, “Meramal dengan cara melemparkan batu dan meramal akan datangnya hal buruk [dengan berpatokan pada datangnya burung tertentu] termasuk al jibt).

Hadits ini menerangkan akidah Yahudi adalah akidah yang tidak murni.
Meskipun mereka percaya wujudnya Tuhan dan mempunyai kitab suci, namun mereka juga percaya kepada jibt.
Kepercayaan mereka kepada jibt mengalahkan kepercayaan mereka kepada dakwah yang dibawa Nabi Muhammad.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 155

Unsur Pokok Surah An Nisaa’ (النّساء)
Surat An-Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al-Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath-Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

▪ Kewajiban para washi dan para wali.
Hukum poligami.
▪ Mas kawin.
▪ Memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya.
▪ Pokok-pokok hukum warisan.
▪ Perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya.
▪ Wanita-wanita yang haram dikawini.
Hukum mengawini budak wanita.
▪ Larangan memakan harta secara bathil.
Hukum syiqaq dan nusyuz.
▪ Kesucian lahir batin dalam shalat.
Hukum suaka.
Hukum membunuh seorang Islam.
Shalat khauf’.
▪ Larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk.
▪ Masalah pusaka kalalah.

Kisah:

▪ Kisah-kisah tentang nabi Musa `alaihis salam dan pengikutnya.

Lain-lain:

▪ Asal manusia adalah satu.
▪ Keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita.
Normanorma bergaul dengan isteri.
▪ <a aria-describedby="tt" href="https://risalahmuslim.id/kamus/haq" class="glossaryLink cmtt_Istilah Umum" data-cmtooltip="

haq
Sebelum menjalani hukuman mati, seorang sufi, Hussein bin Manshur al Hallaj, berjalan sambil dikawal aparat.<BR CLASS=""> Ketika melihat kerumunan orang, dia berkata lantang,“Haq, haq, haq, ana al-haq (kebenaran, kebenaran, kebenaran, akulah kebenaran).”Dia pun harus menjalani hukuman mati atas pernyataannya yang kontroversial itu.<BR CLASS="">Lantas, apa sebetulnya makna al-haq? Ensiklopedia Alquran: Kajian Kosakata Menulis menjelaskan bahwa kata yang terdiri atas huruf haa dan qaf itu maknanya berkisar padaㅤ(…)</BR></BR>

” >Hak seseorang sesuai dengan kewajibannya.
▪ Perlakuan ahli kitab terhadap kitabkitab yang diturunkan kepadanya.
▪ Dasar-dasar pemerintahan.
▪ Cara mengadili perkara.
▪ Keharusan siap-siaga terhadap musuh.
▪ Sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi peperangan.
▪ Berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf.
Norma dan adab dalam peperangan.
▪ Cara menghadapi orang-orang munafik.
▪ Derajat orang yang berjihad.

Qari Internasional

QS. An-Nisaa’ (4) : 51 ⊸ Syekh Mishari Alafasy

QS. An-Nisaa’ (4) : 51 ⊸ Syekh Sa’ad Al-Ghamidi

QS. An-Nisaa’ (4) : 51 ⊸ Syekh Muhammad Ayyub

Murottal Alquran & Terjemahan Indonesia
QS. An-Nisaa’ (4) : 1-176 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan

Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan

Gambar Ayat

Surah An Nisaa' ayat 51 - Gambar 1 Surah An Nisaa' ayat 51 - Gambar 2

Statistik QS. 4:51
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa’.

Surah An-Nisa’ (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, “Wanita”) terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah 4
Nama Surah An Nisaa’
Arab النّساء
Arti Wanita
Nama lain Al-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 92
Juz Juz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 176
Jumlah kata 3764
Jumlah huruf 16327
Surah sebelumnya Surah Ali ‘Imran
Surah selanjutnya Surah Al-Ma’idah
Sending
User Review
4.9 (29 votes)

Tags:

Quran 4:51, 4 51, 4-51, An Nisaa’ 51, tafsir surat AnNisaa 51, AnNisa 51, An-Nisa’ 51

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Hadits Shahih

Podcast

Haditds & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Pendidikan Agama Islam #25

أَلَمْ dalam surah Al-Insyirah berarti … berbukalah bukankah binasalah biarlah baiklah Benar! Kurang tepat!

Ayat Pilihan

Hadits Pilihan

Kamus Istilah Islam