Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages
Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 49 [QS. 4:49]

اَلَمۡ تَرَ اِلَی الَّذِیۡنَ یُزَکُّوۡنَ اَنۡفُسَہُمۡ ؕ بَلِ اللّٰہُ یُزَکِّیۡ مَنۡ یَّشَآءُ وَ لَا یُظۡلَمُوۡنَ فَتِیۡلًا
Alam tara ilaal-ladziina yuzakkuuna anfusahum balillahu yuzakkii man yasyaa-u walaa yuzhlamuuna fatiilaa;
Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya suci (orang Yahudi dan Nasrani)?
Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dizalimi sedikit pun.
―QS. 4:49
Topik ▪ Hisab ▪ Keadilan Allah dalam menghakimi ▪ Besarnya karunia Allah pada manusia
English Translation - Sahih International
Have you not seen those who claim themselves to be pure?
Rather, Allah purifies whom He wills, and injustice is not done to them, (even) as much as a thread (inside a date seed).
―QS. 4:49

Alquran Arti Perkata (Indonesia & English)
أَلَمْ tidaklah

Do not
تَرَ kamu perhatikan

you see
إِلَى kepada

[towards]
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

those who
يُزَكُّونَ (mereka) membersihkan

claim purity
أَنفُسَهُم diri mereka

(for) themselves?
بَلِ akan tetapi

Nay,
ٱللَّهُ Allah

(it is) Allah,
يُزَكِّى Dia membersihkan

He purifies
مَن siapa

whom
يَشَآءُ Dia kehendaki

He wills
وَلَا dan tidak

and not
يُظْلَمُونَ mereka dianiaya

they will be wronged
فَتِيلًا sedikitpun

(even as much as) a hair on a date-seed.

 

Tafsir surah An Nisaa' (4) ayat 49

Tafsir

Alquran

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Janganlah kalian merasa heran melihat orang-orang kafir yang selalu mengada-ada dalam perbuatan mereka.
Kami jelaskan buruknya perbuatan mereka, tetapi mereka malah menganggapnya baik.
Mereka memuji diri sendiri dengan mengaku sebagai orang-orang suci.
Hanya Allahlah yang mengetahui yang keji dan yang suci.
Dia membersihkan jiwa siapa saja yang dikehendaki-Nya serta tidak menzalimi <a aria-describedby="tt" href="https://risalahmuslim.id/kamus/haq" class="glossaryLink cmtt_Istilah Umum" data-cmtooltip="

haq
Sebelum menjalani hukuman mati, seorang sufi, Hussein bin Manshur al Hallaj, berjalan sambil dikawal aparat.<BR CLASS=""> Ketika melihat kerumunan orang, dia berkata lantang,“Haq, haq, haq, ana al-haq (kebenaran, kebenaran, kebenaran, akulah kebenaran).”Dia pun harus menjalani hukuman mati atas pernyataannya yang kontroversial itu.<BR CLASS="">Lantas, apa sebetulnya makna al-haq? Ensiklopedia Alquran: Kajian Kosakata Menulis menjelaskan bahwa kata yang terdiri atas huruf haa dan qaf itu maknanya berkisar padaㅤ(…)</BR></BR>

” >hak siapa pun, yang sangat sedikit sekalipun.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang membersih-bersihkan diri mereka itu) yakni orang-orang Yahudi yang mengatakan bahwa mereka itu anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.
Jadi persoalannya kebaikan itu bukanlah dengan membersih-bersihkan diri

(tetapi Allah membersihkan) artinya menyucikan

(siapa yang dikehendaki-Nya) dengan keimanan

(sedangkan mereka tidak dianiaya) atau dikurangi amalan mereka

(sedikit pun) walau sebesar kulit buah kurma sekalipun.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Apakah kamu wahai Rasul tidak mengetahui perkara orang-orang yang menyanjung diri mereka dan amal perbuatan mereka, dan menyatakannya suci dan jauh dari keburukan?
Padahal hanya Allah yang berhak menyanjung hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki karena hanya Dia yang mengetahui hakikat amal perbuatan mereka.
Dan Allah tidak mengurangi sedikitpun balasan bagi amal perbuatan mereka sekalipun hanya setipis kulit di antara daging kurma dengan bijinya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Al-Hasan dan Qatadah mengatakan bahwa firman-Nya berikut ini:
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya bersih.
(QS. An-Nisa’ [4]: 49)
diturunkan berkenaan dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani ketika mereka mengatakan,
“Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.”
Juga sehubungan dengan ucapan mereka yang disebutkan oleh firman-Nya:
Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani.
(QS. Al-Baqarah [2]: 111)

Mujahid mengatakan bahwa dahulu mereka menempatkan anak-anak di hadapan mereka dalam berdoa dan sembahyang sebagai imam mereka, mereka menduga bahwa anak-anak itu tidak mempunyai dosa.
Hal yang sama dikatakan oleh Ikrimah dan Abu Malik.
Ibnu Jarir m-riwayatkan hal tersebut.

Al-Aufi mengatakan dari Ibnu Abbas yang mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya bersih.
(QS. An-Nisa’ [4]: 49)
Bahwa demikian itu karena orang-orang Yahudi mengatakan,
“Sesungguhnya anak-anak kita telah meninggal dunia dan mereka mempunyai hubungan kerabat dengan kita.
Mereka pasti memberi syafaat kepada kita dan membersihkan kita (dari dosa-dosa).”
Maka Allah subhanahu wa ta’ala, menurunkan ayat ini kepada Nabi Muhammad ﷺ yaitu firman-Nya:
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya bersih.
(QS. An-Nisa’ [4]: 49), hingga akhir ayat.

Demikianlah menurut riwayat yang diketengahkan oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Musaffa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Himyar, dari Ibnu Luhai’ah, dari Bisyr ibnu Abu Amrah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa dahulu orang-orang Yahudi menempatkan anak-anak mereka sebagai imam dalam sembahyangnya, juga menyerahkan korban mereka kepada anak-anak tersebut.
Mereka berbuat demikian dengan alasan bahwa anak-anak mereka masih belum berdosa dan tidak mempunyai kesalahan.
Mereka berdusta, dan Allah menjawab mereka,
“Sesungguhnya Aku tidak akan membersihkan orang yang berdosa karena orang lain yang tidak berdosa.”
Allah subhanahu wa ta’ala, menurunkan firman-Nya:
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya bersih.
(QS. An-Nisa’ [4]: 49)

Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah diriwayatkan hal yang semisal dari Mujahid, Abu Malik, As-Saddi, Ikrimah, dan Ad-Dahhak.
Ad-Dahhak mengatakan bahwa orang-orang Yahudi selalu mengatakan,
“Kami tidak mempunyai dosa sebagaimana anak-anak kami tidak mempunyai dosa.”
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala, menurunkan firman-Nya:
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya bersih.
(QS. An-Nisa’ [4]: 49)
ayat ini diturunkan berkenaan dengan mereka itu.

Menurut pendapat yang lain, ayat ini diturunkan berkenaan dengan celaan terhadap perbuatan memuji dan menyanjung.

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan dari Al-Miqdad ibnul Aswad yang menceritakan hadis berikut:

Rasulullah ﷺ telah memerintahkan kepada kita agar menaburkan pasir ke wajah orang-orang yang tukang memuji.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui jalur Khalid Al-Hazza, dari Abdur Rahman ibnu Abu Bakrah, dari ayahnya:

bahwa Rasulullah ﷺ mendengar seorang lelaki memuji lelaki lainnya.
Maka beliau ﷺ bersabda:
Celakalah kamu, kamu telah memotong leher temanmu.
Kemudian Nabi ﷺ bersabda:
Jika seseorang dari kalian diharuskan memuji temannya, hendaklah ia mengatakan,
“Aku menduganya demikian,”
karena ia tidak dapat membersihkan seseorang terhadap Allah.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Mu’tamir, dari ayahnya, dari Na’im ibnu Abu Hindun yang mengatakan bahwa Umar ibnul Khattab pernah berkata,
“Barang siapa yang mengatakan, ‘Aku orang mukmin,”
maka dia adalah orang kafir.
Barang siapa yang mengatakan bahwa dirinya adalah orang alim, maka dia adalah orang yang jahil (bodoh).
Barang siapa yang mengatakan bahwa dirinya masuk surga, maka dia masuk neraka.”

Ibnu Murdawaih meriwayatkannya melalui jalur Musa ibnu Ubaidah, dari Talhah ibnu Ubaidillah ibnu Kuraiz, dari Umar, bahwa Umar pernah mengatakan,
“Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan akan menimpa kalian ialah rasa ujub (besar diri) seseorang terhadap pendapatnya sendiri.
Maka barang siapa yang mengatakan bahwa dirinya orang mukmin, maka dia adalah orang kafir.
Barang siapa yang mengatakan bahwa dirinya adalah orang alim, maka dia adalah orang yang bodoh.
Barang siapa yang mengatakan bahwa dirinya masuk surga, maka dia masuk neraka.”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, telah menceritakan kepada kami Hajaj, telah menceritakan kepada kami Syu’bah dari Sa’d ibnu Ibrahim, dari Ma’bad Al-Juhani yang menceritakan bahwa Mu’awiyah jarang menceritakan hadis dari Nabi ﷺ Ma’bad Al-Juhani mengatakan bahwa Mu’awiyah hampir jarang tidak mengucapkan kalimat-kalimat berikut pada hari Jumat, yaitu sebuah hadis dari Nabi ﷺ Ia mengatakan bahwa Nabi ﷺ telah bersabda:
Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, niscaya dia memberinya pengertian dalam masalah agama.
Dan sesungguhnya harta ini manis lagi hijau, maka barang siapa yang mengambilnya dengan cara yang <a aria-describedby="tt" href="https://risalahmuslim.id/kamus/haq" class="glossaryLink cmtt_Istilah Umum" data-cmtooltip="

haq
Sebelum menjalani hukuman mati, seorang sufi, Hussein bin Manshur al Hallaj, berjalan sambil dikawal aparat.<BR CLASS=""> Ketika melihat kerumunan orang, dia berkata lantang,“Haq, haq, haq, ana al-haq (kebenaran, kebenaran, kebenaran, akulah kebenaran).”Dia pun harus menjalani hukuman mati atas pernyataannya yang kontroversial itu.<BR CLASS="">Lantas, apa sebetulnya makna al-haq? Ensiklopedia Alquran: Kajian Kosakata Menulis menjelaskan bahwa kata yang terdiri atas huruf haa dan qaf itu maknanya berkisar padaㅤ(…)</BR></BR>

” >hak, niscaya diberkati padanya, dan waspadalah kalian terhadap puji memuji, karena sesungguhnya pujian itu adalah penyembelihan.

Ibnu Majah meriwayatkan sebagian darinya dari Abu Bakar ibnu Abu Syaibah, dari Gundar, dari Syu’bah dengan lafaz yang sama yang bunyinya seperti berikut:

Hati-hatilah kalian terhadap puji-memuji, karena sesungguhnya pujian itu adalah penyembelihan.

Ma’bad adalah Ibnu Abdullah ibnu Uwaim Al-Basri Al-Qadri.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Ibrahim Al-Mas’udi, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Al-A’masy, dari Qais ibnu Muslim, dari Tariq ibnu Syihab yang menceritakan bahwa Abdullah ibnu Mas’ud pernah mengatakan,
“Sesungguhnya seorang lelaki berangkat dengan agamanya, kemudian ia kembali, sedangkan padanya tidak ada sesuatu pun dari agamanya itu.
Dia menjumpai seseorang yang tidak mempunyai kekuasaan untuk menimpakan mudarat terhadap dirinya, tidak pula memberikan manfaat kepadanya, lalu ia berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya kamu, demi Allah, demikian dan demikian (yakni memujinya).’ Dia berbuat demikian dengan harapan kembali memperoleh imbalan.
Tetapi ternyata dia tidak memperoleh suatu keperluan pun darinya, bahkan ia kembali dalam keadaan Allah murka terhadap dirinya.”

Kemudian sahabat Abdullah ibnu Mas’ud membacakan firman-Nya:
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya bersih.
(QS. An-Nisa’ [4]: 49), hingga akhir ayat.

Pembahasan ini akan diterangkan secara rinci dalam tafsir firman-Nya:

Maka janganlah kalian mengatakan diri kalian suci.
Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.
(QS. An-Najm [53]: 32)

Karena itulah dalam surat ini Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman:

Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya.

Yakni segala sesuatu mengenai hal ini dikembalikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Dialah yang lebih mengetahui hakikat semua perkara dan rahasia-rahasianya.

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala, berfirman:

dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.

Dia tidak akan membiarkan bagi seseorang sesuatu pahala pun.
Betapapun kecilnya pahala itu, Dia pasti menunaikan pahala itu kepadanya.

Menurut Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, Ata, Al-Hasan, dan Qatadah serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf, yang dimaksud dengan fatil ialah sesuatu yang sebesar biji sawi.

Menurut suatu riwayat yang juga dari Ibnu Abbas, makna yang dimaksud ialah sebesar sesuatu yang kamu pintal dengan jari jemarimu.
Kedua pendapat ini saling berdekatan pengertiannya.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 49

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah, Mujahid, Abu Malik, dan lain-lain bahwa orang-orang Yahudi mementingkan menyuruh anak-anaknya shalat dan mementingkan anak-anaknya berkurban.
Mereka menganggap bahwa dengan perbuatannya itu bebaslah kesalahan dan dosanya.
Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 49) sebagai teguran kepada orang yang menganggap dirinya bersih dari dosa dengan jalan seperti itu.

Sumber : Asbabun NuzulK.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa’ (4) Ayat 49
ANFUS أَنفُس

Lafaz ini dalam bentuk jamak, mufradnya adalah an nafs yang mengandung beberapa makna.
Diantaranya darah.
Oleh itu, al haidh dinamakan an nufasa karena darahnya keluar, an nifas adalah kelahiran atau persalinan, dan apabila sudah melahirkan dinamakan nufasa.
la juga bermakna roh, mata, dan di sisi.
la juga bermakna jasad.

Dikatakan huwa aztm an nafs berarti dia mempunyai jasad yang besar.
Apabila disandarkan kepada al amr atau nafs al amr bermaksud hakikat perkara itu atau perintah yang sama.
Apabila disandarkan kepada sesuatu atau nafs asy syai’ bermaksud sesuatu itu sendiri.

Lafaz anfus disebut sebanyak 153 kali dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 9, 44, 54, 54, 57, 84, 85, 87, 90, 102, 109, 110, 155, 187, 223, 228, 234, 234, 240, 235, 235, 265, 284;
Ali Imran (3), ayat 61, 61, 69, 117, 135, 154, 154, 164,165, 168, 178, 186;
An Nisaa (4), ayat 29, 49, 63, 64, 65, 66, 95, 95, 97, 107, 113, 128, 135;
Al Maa’idah (5), ayat 52, 70, 80, 105;
Al An’aam (6), ayat 12, 20, 24, 26, 93, 123, 130, 130;
Al A’raaf (7), ayat 9, 23, 37, 53, 160, 172, 177, 192, 197;
Al Anfaal (8), ayat 53, 72;
At Taubah (9), ayat 17, 20, 35, 36, 41, 42, 44, 55, 70, 81, 85, 88, 111, 118, 120, 128;
Yunus (10), ayat 23, 44;
Hud (11), ayat 21, 31, 101;
Yusuf (12), ayat 18, 83;
Ar Ra’d (13), ayat 11, 16;
Ibrahim (14), ayat 22, 45;
An Nahl (16), ayat 7, 28, 33, 72, 89, 118;
Al Israa (17), ayat 7;
Al Kahfi (18), ayat 51;
-Al Anbiyaa (21), ayat 43, 64, 102;
-Al Mu’minun (23), ayat 103;
An Nuur (24), ayat 6, 12, 61, 61;
Al Furqaan (25), ayat 3, 21;
An Naml (27), ayat: 14;
Al Ankabut (29), ayat 40;
Ar Rum (3), ayat 8, 9, 21, 28, 44;
As Sajadah (32), ayat 27;
Al Ahzab (33), ayat 6;
Saba’ (34), ayat 19;
Az Zumar (39), ayat 15, 42, 53;
Al Mu’min (40), ayat 10;
Fushshilat (41), ayat 31, 53;
Asy Syuura (42), ayat 11, 45;
Az-Zukhruf (43), ayat 71;
Al Hujurat (49), ayat 11, 15;
-Adz Dhariyat (51), ayat 21;
An Najm (53), ayat 23, 32;
Al Hadid (57), ayat 14, 22;
-Al Mujadalah (58), ayat 8;
Al Hasyr (59), ayat 9, 19;
Ash Shaff (61), ayat 11;
-At Taghaabun (64), ayat 16;
At Tahrim (66), ayat 6;
Al Muzzammil (73), ayat 20.

Lafaz anfus di dalam Al Qur’an bermakna jiwa atau diri.

Dalam surah Al Baqarah, ayat 155, At Tibrisi berkata,
”Allah menguji dengan segala cobaan, antaranya diuji dengan naqs al-anfus yaitu dengan kematian diri.”

Dalam surah Ali Imran, ayat 165 As Sabuni menafsirkan, “Katakanlah kepada mereka wahai Muhammad, sesungguhnya sebab datangnya musibah ialah dari diri mereka dan keingkaran mereka pada suruhan rasul serta tamak pada harta rampasan.”

Dalam surah An Nisaa, ayat 128, anfus dikaitkan dengan as syuhh (bakhil).

Dalam Tafsir Al Jalalain memiliki makna sangat bakhil yaitu diri seorang isteri hampir tidak dapat bertolak-ansur dengan suaminya dan diri seorang suami hampir tidak dapat bertolak-ansur dengan isterinya apabila dia mencintai wanita lain.

Sedangkan dalam surah An Nahl, ayat 7, al anfus dikaitkan dengan asy syiqq (bi syiqqil anfus).

Asy Syawkani berkata,
“Kamu tidak sampai kepada suatu negeri melainkan dengan kehilangan separuh diri karena susah payah atau penat.”

Makna anfus yang memiliki pengertian diri atau jiwa juga diisyaratkan dalam surah surah yang lain berdasarkan sandarannya.
Diantaranya :

dalam surah Az Zumar ayat 42, al anfus dikaitkan dengan tawaffa (mematikan),

dalam surah Az Zukhruf ayat 71, al anfus dikaitkan dengan tasytahi (mau),

dalam surah An Najm ayat 23, al anfus dikaitkan dengan tahwi, yaitu tahwi al anfus yang bermakna dihiasi dan dibisikkan oleh syaitan kepada diri mereka apa yang mereka sembah selain Allah memberi syafaat kepada mereka di sisi Allah.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 53-54

Unsur Pokok Surah An Nisaa’ (النّساء)
Surat An-Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al-Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath-Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

▪ Kewajiban para washi dan para wali.
Hukum poligami.
▪ Mas kawin.
▪ Memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya.
▪ Pokok-pokok hukum warisan.
▪ Perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya.
▪ Wanita-wanita yang haram dikawini.
Hukum mengawini budak wanita.
▪ Larangan memakan harta secara bathil.
Hukum syiqaq dan nusyuz.
▪ Kesucian lahir batin dalam shalat.
Hukum suaka.
Hukum membunuh seorang Islam.
Shalat khauf’.
▪ Larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk.
▪ Masalah pusaka kalalah.

Kisah:

▪ Kisah-kisah tentang nabi Musa `alaihis salam dan pengikutnya.

Lain-lain:

▪ Asal manusia adalah satu.
▪ Keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita.
Normanorma bergaul dengan isteri.
▪ <a aria-describedby="tt" href="https://risalahmuslim.id/kamus/haq" class="glossaryLink cmtt_Istilah Umum" data-cmtooltip="

haq
Sebelum menjalani hukuman mati, seorang sufi, Hussein bin Manshur al Hallaj, berjalan sambil dikawal aparat.<BR CLASS=""> Ketika melihat kerumunan orang, dia berkata lantang,“Haq, haq, haq, ana al-haq (kebenaran, kebenaran, kebenaran, akulah kebenaran).”Dia pun harus menjalani hukuman mati atas pernyataannya yang kontroversial itu.<BR CLASS="">Lantas, apa sebetulnya makna al-haq? Ensiklopedia Alquran: Kajian Kosakata Menulis menjelaskan bahwa kata yang terdiri atas huruf haa dan qaf itu maknanya berkisar padaㅤ(…)</BR></BR>

” >Hak seseorang sesuai dengan kewajibannya.
▪ Perlakuan ahli kitab terhadap kitabkitab yang diturunkan kepadanya.
▪ Dasar-dasar pemerintahan.
▪ Cara mengadili perkara.
▪ Keharusan siap-siaga terhadap musuh.
▪ Sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi peperangan.
▪ Berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf.
Norma dan adab dalam peperangan.
▪ Cara menghadapi orang-orang munafik.
▪ Derajat orang yang berjihad.

Qari Internasional

QS. An-Nisaa’ (4) : 49 ⊸ Syekh Mishari Alafasy

QS. An-Nisaa’ (4) : 49 ⊸ Syekh Sa’ad Al-Ghamidi

QS. An-Nisaa’ (4) : 49 ⊸ Syekh Muhammad Ayyub

Murottal Alquran & Terjemahan Indonesia
QS. An-Nisaa’ (4) : 1-176 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan

Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan

Gambar Ayat

Surah An Nisaa' ayat 49 - Gambar 1 Surah An Nisaa' ayat 49 - Gambar 2

Statistik QS. 4:49
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa’.

Surah An-Nisa’ (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, “Wanita”) terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah 4
Nama Surah An Nisaa’
Arab النّساء
Arti Wanita
Nama lain Al-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 92
Juz Juz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 176
Jumlah kata 3764
Jumlah huruf 16327
Surah sebelumnya Surah Ali ‘Imran
Surah selanjutnya Surah Al-Ma’idah
Sending
User Review
4.7 (27 votes)

Tags:

Quran 4:49, 4 49, 4-49, An Nisaa’ 49, tafsir surat AnNisaa 49, AnNisa 49, An-Nisa’ 49

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Hadits Shahih

Podcast

Haditds & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Ayat Pilihan

Hadits Pilihan

Kamus Istilah Islam