Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 48


اِنَّ اللّٰہَ لَا یَغۡفِرُ اَنۡ یُّشۡرَکَ بِہٖ وَ یَغۡفِرُ مَا دُوۡنَ ذٰلِکَ لِمَنۡ یَّشَآءُ ۚ وَ مَنۡ یُّشۡرِکۡ بِاللّٰہِ فَقَدِ افۡتَرٰۤی اِثۡمًا عَظِیۡمًا
Innallaha laa yaghfiru an yusyraka bihi wayaghfiru maa duuna dzalika liman yasyaa-u waman yusyrik billahi faqadiiftara itsman ‘azhiiman;

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.
―QS. 4:48
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat ▪ Berpegang teguh pada Kitab dan Sunnah
4:48, 4 48, 4-48, An Nisaa’ 48, AnNisaa 48, AnNisa 48, An-Nisa’ 48
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 48. Oleh Kementrian Agama RI

Pada ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia sekali-kali tidak akan mengampuni perbuatan syirik yang dilakukan oleh hamba-Nya, kecuali apabila mereka bertobat sebelum mati.
Syirik adalah dosa yang paling besar, karena orang musyrik beriktikad dan mempercayai bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mempunyai sekutu dan tandingan yang disamakan derajatnya dengan Dia.
Dalam Alquran disebutkan berulang-ulang dosa syirik ini.
Adapun dosa-dosa selain syirik, jika dikehendaki Allah, Dia akan mengampuninya.
Tentulah hal itu disesuaikan dengan hikmah kebijaksanaan-Nya dan menurut tata cara Sunah Nya yang berlaku.
Misalnya yang berdosa itu benar-benar telah tobat dari dosanya dan mengiringi tobat itu dengan amal-amal saleh.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa yang selain dan (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki Nya.
Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka (sungguh) ia telah berbuat dosa yang besar

(Q.S.
An Nisa’: 48)

Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolongpun
(Q.S.
Al-Ma’idah: 72)

An Nisaa' (4) ayat 48 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 48 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 48 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Sesungguhnya Allah tidak memberi ampunan dosa syirik dan memberi ampunan segala dosa selain syirik bagi hamba-hamba yang dikehendaki-Nya.
Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa besar yang tidak ada ampunannya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni bila Dia dipersekutukan) artinya tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan-Nya (dan Dia akan mengampuni selain dari demikian) di antara dosa-dosa (bagi siapa yang dikehendaki-Nya) beroleh ampunan, sehingga dimasukkan-Nya ke dalam surga tanpa disentuh oleh siksa.
Sebaliknya akan disiksa-Nya lebih dulu orang-orang mukmin yang dikehendaki-Nya karena dosa-dosa mereka, dan setelah itu barulah dimasukkan-Nya ke dalam surga.
(Siapa mempersekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa yang besar).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dan tidak memaafkan siapa yang mempersekutukanNya dengan sesuatu dan makhluk-Nya atau dia kafir dengan bentuk kekufuran apa pun dari jenis kufur akbar.
Sebaliknya Dia memaafkan dosa-dosa dibawah syirik bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya.
Barangsiapa yang melakukan syirik kepada Allah, maka dia telah melakukan dosa yang besar.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
memberitakan bahwa:

Dia tidak akan mengampuni dosa mempersekutukan Dia

yakni Dia tidak akan memberikan ampunan kepada seorang hamba yang menghadap kepada-Nya dalam keadaan mempersekutukan Dia.

dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu.

Yang dimaksud dengan ma dalam ayat ini ialah segala macam dosa.

bagi siapa yang dikehendaki-Nya.

dari kalangan hamba-hamba-Nya.

Sehubungan dengan makna ayat ini banyak hadis yang berhubungan dengannya dalam keterangan-keterangannya.
Maka berikut ini kami ketengahkan sebagian darinya yang mudah didapat, yaitu:

Hadis pertama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Sadaqah ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Abu Imran Al-Jauni, dari Yazid ibnu Abu Musa, dari Siti Aisyah r.a.
yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Kitab-kitab catatan amal perbuatan di sisi Allah ada tiga macam, yaitu: Kitab catatan yang tidak diindahkan oleh Allah adanya barang sedikit pun, kitab catatan yang tidak dibiarkan oleh Allah barang sedikit pun darinya, dan kitab catatan yang tidak diampuni oleh Allah.
Adapun kitab catatan yang tidak diampuni oleh Allah ialah perbuatan mempersekutukan Allah.
Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Diamengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu.
(An Nisaa:48), hingga akhir ayat.
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga.
(Al Maidah:72) Adapun mengenai kitab Catatan yang tidak diindahkan oleh Allah barang sedikit pun, berkaitan dengan perbuatan aniaya seorang hamba kepada dirinya sendiri menyangkut dosa antara dia dengan Allah, seperti tidak berpuasa sehari atau meninggalkan suatu salat, maka sesungguhnya Allah mengampuni hal tersebut dan memaafkannya jika Dia menghendaki.
Adapun mengenai kitab catatan yang tidak dibiarkan oleh Allah barang sedikit pun darinya, maka menyangkut perbuatan aniaya sebagian para hamba terhadap sebagian yang lain, hukumannya ialah qisas sebagai suatu kepastian.

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid (menyendiri).

Hadis kedua.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Malik, telah menceritakan kepada kami Zaidah ibnu Abuz Zanad An-Namiri, dari Anas ibnu Malik, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Perbuatan aniaya (dosa) itu ada tiga macam, yaitu perbuatan aniaya yang tidak diampuni oleh Allah, perbuatan aniaya yang diampuni oleh Allah, dan perbuatan aniaya yang tidak dibiarkan begitu saja oleh Allah barang sedikit pun darinya.
Adapun perbuatan aniaya yang tidak diampuni oleh Allah ialah perbuatan syirik (mempersekutukan Allah).
Allah telah berfirman, “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (Luqman:13).
Adapun perbuatan aniaya yang diampuni oleh Allah ialah perbuatan aniaya para hamba terhadap dirinya masing-masing menyangkut dosa antara mereka dengan Tuhan mereka.
Dan adapun mengenai perbuatan aniaya yang tidak dibiarkan oleh Allah ialah perbuatan aniaya sebagian para hamba atas sebagian yang lain, hingga Allah memperkenankan sebagian dari mereka untuk menuntut balas kepada sebagian yang lain (yang berbuat aniaya).

Hadis ketiga.

Imam Ahmad mengatakan.
telah menceritakan kepada kami Safwan ibnu Isa, telah menceritakan kepada kami Saur ibnu Yazid, dari Abu Aun, dari Abu Idris yang menceritakan bahwa ia telah mendengar Mu’awiyah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Semua dosa mudah-mudahan diampuni oleh Allah kecuali dosa seseorang yang mati dalam keadaan kafir atau seseorang membunuh seorang mukmin dengan sengaja.

Imam Nasai meriwayatkannya melalui Muhammad ibnu Musanna, dari Safwan ibnu Isa dengan lafaz yang sama.

Hadis keempat.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnul Qasim, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid, telah menceritakan kepada kami Syahr, telah menceritakan kepada kami Ibnu Tamim, bahwa Abu Zar pernah menceritakan kepadanya dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Sesungguhnya Allah berfirman, “Hai hamba-Ku, selagi kamu menyembah-Ku dan berharap kepada-Ku, maka sesungguhnya Aku mengampuni kamu atas semua dosa yang telah kamu lakukan.
Hai hamba-Ku, sesungguhnya jika kamu menghadap kepada-Ku dengan dosa-dosa yang sepenuh bumi, kemudian kamu bersua dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan diri-Ku dengan sesuatu pun.
niscaya Aku membalasmu dengan ampunan sepenuh bumi.”

Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid bila ditinjau dari segi sanad ini.

Hadis kelima.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada Kami Husain Ibnu Buraidah, Yahya ibnu Ya’mur pernah menceritakan kepadanya bahwa Abul Aswad Ad-Dai’li pernah menceritakan kepadanya bahwa Abu Zar pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Tidak sekali-kali seorang hamba mengucapkan kalimah “Tidak ada Tuhan selain Allah”,
kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan seperti itu, niscaya ia masuk surga.
Aku (Abu Zar) bertanya, “Sekalipun dia telah berbuat zina dan mencuri?”
Nabi ﷺ menjawab, “Sekalipun dia berbuat zina dan sekalipun dia mencuri.” Abu Zar bertanya lagi, “Sekalipun dia telah berzina dan mencuri?”
Nabi ﷺ menjawab, “Sekalipun dia berbuat zina dan sekalipun mencuri,” sebanyak tiga kali, dan pada yang keempat kalinya beliau ﷺ bersabda, “Sekalipun hidung Abu Zar keropos.” Abul Aswad Ad-Daili melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu Abu Zar keluar seraya menyingsingkan kainnya (karena ketakutan) sambil bergumam, “Sekalipun hidung Abu Zar keropos.” Dan tersebutlah bahwa setelah itu jika Abu Zar menceritakan hadis ini selalu mengatakan di akhirnya, “Sekalipun hidung Abu Zar keropos.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim mengetengahkan hadis ini melalui Husain dengan lafaz yang sama.

Jalur lain mengenai hadis Abu Zar.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Zaid ibnu Wahb, dari Abu Zar yang menceritakan bahwa ketika ia sedang berjalan bersama Nabi ﷺ di tanah lapang Madinah pada suatu petang hari, seraya memandang ke arah Bukit Uhud, maka Nabi ﷺ bersabda, “Hai Abu Zar!” Aku (Abu Zar) menjawab, “Labaika, ya Rasulullah.” Nabi ﷺ bersabda, “Aku tidak suka sekiranya Bukit Uhud itu menjadi emas milikku, lalu berlalu masa tiga hari, sedangkan pada diriku masih tersisa dari dinar darinya —melainkan satu dinar yang kusimpan, yakni untuk membayar utangnya— kecuali aku menyedekahkannya kepada hamba-hamba Allah seperti ini.” Rasulullah ﷺ mengatakan demikian seraya meraupkan kedua tangannya dari arah kanan, dari arah kiri, dan dari arah depannya (memperagakan pengambilan untuk sedekahnya).
Abu Zar melanjutkan kisahnya, “Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami, dan Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Hai Abu Zar, sesungguhnya orang-orang yang memiliki harta yang banyak kelak adalah orang-orang yang paling sedikit memiliki pahala di hari kiamat, kecuali orang-orang yang bersedekah seperti ini dan seperti ini.’ Rasulullah ﷺ mengatakan demikian seraya memperagakannya dengan meraupkan kedua tangan dari arah kanan, arah kiri, dan bagian depannya.” Abu Zar melanjutkan kisahnya, “Lalu kami melanjutkan perjalanan kami, dan Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Hai Abu Zar, tetaplah kamu di tempatmu sekarang hingga aku datang kepadamu’.” Abu Zar melanjutkan kisahnya, “Nabi ﷺ pergi hingga tidak kelihatan olehku.
Lalu aku mendengar suara gemuruh, dan aku berkata (kepada diriku sendiri), ‘Barangkali Rasulullah ﷺ mengalami suatu gangguan.’ Ketika aku hendak mengikutinya, aku teringat kepada pesan beliau yang mengatakan, ‘Jangan kamu tinggalkan tempatmu ini hingga aku datang kepadamu.’ Maka terpaksa aku diam menunggu hingga beliau ﷺ datang.
Lalu aku ceritakan kepadanya suara gemuruh yang tadi aku dengar.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Dia adalah Jibril, datang menemuiku, lalu berkata, ‘Barang siapa dari kalangan umatmu yang meninggal dunia dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, niscaya dia masuk surga.’ Aku (Abu Zar) bertanya, ‘Sekalipun dia telah berbuat zina dan sekalipun ia telah mencuri?’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sekalipun dia berzina dan sekalipun dia mencuri’.”

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkannya di dalam kitab sahih masing-masing melalui hadis Al-A’masy dengan lafaz yang sama.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkannya pula dari Qutaibah, dari Jarir, dari Abdul Hamid, dari Abdul Aziz ibnu Raff, dari Zaid ibnu Wahb, dari Abu Zar yang menceritakan:

bahwa di suatu malam ia pernah keluar.
Tiba-tiba ia bersua dengan Rasulullah ﷺ yang sedang berjalan sendirian tanpa ditemani oleh seorang pun.
Abu Zar mengatakan bahwa ia menduga Rasulullah ﷺ sedang dalam keadaan tidak suka berjalan dengan seorang teman pun.
Maka aku (Abu Zar) berjalan dari kejauhan di bawah terang sinar rembulan.
Tetapi Nabi ﷺ menoleh ke belakang dan melihatku.
Maka beliau bertanya, “Siapakah kamu?”
Aku menjawab, “Abu Zar, semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Hai Abu Zar, kemarilah!” Lalu aku berjalan bersama beliau selama sesaat, dan beliau bersabda: Sesungguhnya orang-orang yang memperbanyak hartanya adalah orang-orang yang mempunyai sedikit pahala kelak di hari kiamat, kecuali orang yang diberi kebaikan (harta) oleh Allah, lalu ia menyebarkannya (menyedekahkannya) ke arah kanan, ke arah kiri, ke arah depan, dan ke arah belakangnya, serta harta itu ia gunakan untuk kebaikan.
Aku berjalan lagi bersamanya selama sesaat, lalu ia bersabda kepadaku, “Duduklah di sini.” Beliau ﷺ menyuruhku duduk di suatu legokan yang dikelilingi oleh bebatuan.
Kemudian beliau bersabda, “Duduklah di sini hingga aku kembali kepadamu!” Rasulullah ﷺ pergi ke arah harrah (padang pasir) hingga aku tidak melihatnya lagi.
Beliau cukup lama pergi meninggalkan aku.
Beberapa lama kemudian aku mendengar suara langkah-langkah beliau datang seraya mengatakan, “Sekalipun dia telah berzina dan sekalipun dia telah mencuri.” Ketika beliau datang, aku tidak sabar lagi untuk mengajukan pertanyaan.
Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah, semoga Allah menjadikan diriku ini sebagai tebusanmu, siapakah orang yang berbicara denganmu di dekat harrah tadi?
Karena sesungguhnya aku mendengar suara seseorang yang melakukan tanya jawab denganmu.” Rasulullah ﷺ bersabda: Dia adalah Jibril yang menampakkan dirinya kepadaku di sebelah padang itu, lalu dia berkata, “Sampaikanlah berita gembira ini kepada umatmu, bahwa barang siapa yang mati dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, niscaya ia masuk surga.” Aku bertanya, “Wahai Jibril, sekalipun dia telah mencuri dan telah berbuat zina?”
Jibril menjawab, “Ya.” Aku bertanya, “Sekalipun dia telah mencuri dan berbuat zina?”
Jibril menjawab, “Ya.” Aku bertanya lagi, “Dan sekalipun ia telah mencuri dan berbuat zina?”
Jibril menjawab, “Ya, sekalipun ia telah minum khamr.”

Hadis keenam.

Abdu ibnu Humaid menceritakan di dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Musa, dari Ibnu Abu Laila, dari Abuz Zubair, dari Jabir yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan dua perkara yang memastikan itu?”
Rasulullah ﷺ bersabda: Barang siapa yang mati dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, pastilah ia masuk surga.
Dan barang siapa yang mati dalam keadaan mempersekutukan Allah dengan sesuatu, pastilah ia masuk neraka.

Abdu ibnu Humaid mengetengahkan hadis ini secara munfarid, bila ditinjau dari sanad ini, lalu ia mengetengahkan hadis ini hingga selesai.

Jalur lain.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Amr ibnu Khallad Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Mansur ibnu Ismail Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Musa Ibnu Ubaidah At-Turmuzi, telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Ubaidah, dari Jabir ibnu Abdullah yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Tidak sekali-kali seseorang meninggal dunia dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, melainkan magfirah (ampunan) dapat mengenainya, jika Allah menghendaki, mengazabnya, dan jika Dia menghendaki, niscaya mengampuninya.
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.

Al-Hafiz Abu Ya’la meriwayatkannya di dalam kitab musnad melalui hadis Musa ibnu Ubaidah, dari saudaranya (yaitu Abdullah ibnu Ubaidah), dari Jabir.
bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:

Magfirah (ampunan Allah) terus-menerus mengenai seorang hamba selagi dia tidak melakukan hijab (dosa yang menghalangi ampunan).
Seseorang ada yang bertanya, “Apakah yang dimaksud dengan hijab itu, wahai Nabi Allah?”
Nabi ﷺ menjawab, “Mempersekutukan Allah.” Selanjutnya Nabi ﷺ bersabda: Tidak sekali-kali seseorang menghadap kepada Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun, melainkan ia akan memperoleh ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala.
Jika Dia menghendaki untuk mengazabnya (Dia akan mengazabnya), dan jika Dia menghendaki untuk mengampuninya (Dia akan mengampuninya).
Kemudian Nabi ﷺ membacakan firman-Nya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
( An-Nisa: 48)

Hadis ketujuh.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Zakaria, dari Atiyyah, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang meninggal dunia dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu pun, niscaya masuk surga.

Ditinjau dari segi sanad ini Imam Ahmad meriwayatkannya secara munfarid (menyendiri).

Hadis kedelapan.

Imam Ahmad mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Ibnu Luhai’ah, telah menceritakan kepada kami Abu Qabil, dari Abdullah ibnu Nasyir, dari Bani Sari’ yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Rahm —seorang ulama Syam— mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Ayub Al-Ansari menceritakan hadis berikut: Di suatu hari Rasulullah ﷺ keluar menjumpai mereka (para sahabat).
Lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya Tuhan kalian Yang Mahaagung lagi Mahatinggi telah menyuruhku memilih antara tujuh puluh ribu orang masuk surga dengan cuma-cuma tanpa hisab dan simpanan yang ada di sisi-Nya bagi umatku.” Salah seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Tuhanmu menyimpan hal tersebut?”
Rasulullah ﷺ (tidak menjawab), lalu masuk (ke dalam rumah), kemudian ke luar lagi seraya bertakbir dan bersabda, “Sesungguhnya Tuhanku memberikan tambahan kepadaku pada setiap seribu orang (dari mereka yang tujuh puluh ribu itu) ditemani oleh tujuh puluh ribu orang lagi, dan (menyuruhku memilih antara itu dengan) simpanan di sisi-Nya.” Abu Rahm (perawi) bertanya, “Wahai Abu Ayyub, apakah yang dimaksud dengan simpanan buat Rasulullah itu menurut dugaanmu?
Agar tidak menjadi bahan pertanyaan orang-orang yang nantinya mereka mengatakan, ‘Apakah urusanmu dengan simpanan Rasulullah ﷺ?’.” Akhirnya Abu Ayyub mengatakan, “Biarkanlah lelaki ini, jangan kalian hiraukan.
Aku akan menceritakan kepada kalian tentang simpanan Rasulullah ﷺ itu menurut dugaanku —bahkan dia mengatakan demikian seakan-akan merasa yakin—.
Sesungguhnya simpanan Rasulullah ﷺ itu adalah sabda beliau yang mengatakan: ‘Barang siapa yang telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, dengan lisannya yang dibenarkan oleh kalbunya, niscaya ia masuk surga’.”

Hadis kesembilan.

Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa ayahku telah menceritakan kepada kami, telah menceritakan kepada kami Muammal ibnul Fadl Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Yunus.
Juga telah menceritakan kepada kami Hasyim ibnul Qasim Al-Harrani melalui suratnya yang ditujukan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Isa ibnu Yunus sendiri, dari Wasil ibnus Saib Ar-Raqqasyi, dari Abu Surah (keponakan Abu Ayyub Al-Ansari), dari Abu Ayyub yang menceritakan bahwa seorang lelaki datang menghadap Nabi ﷺ, lalu bertanya, “Sesungguhnya aku mempunyai seorang keponakan yang tidak pernah berhenti dari melakukan perbuatan yang diharamkan.” Nabi ﷺ bertanya, “Apakah agama yang dipeluknya?”
Ia menjawab, “Dia salat dan mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Agamanya kamu minta saja.
Apabila ia tidak mau memberikan, maka belilah darinya.” Lelaki itu berangkat dan meminta hal tersebut kepada keponakannya, tetapi si keponakan tetap menolaknya (tidak mau memberi, tidak mau pula menjualnya).
Maka lelaki itu datang menghadap Nabi ﷺ dan menceritakan hal tersebut seraya berkata, “Aku menjumpainya sangat teguh dengan agamanya.” Abu Ayyub melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu turunlah firman-Nya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
(An Nisaa:48)

Hadis kesepuluh.

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Amr ibnud Dahhak, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Hammam Al-Hanai, telah menceritakan kepada kami Sabit, dari Anas yang menceritakan bahwa seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, aku tidak pernah membiarkan suatu keperluan pun dan tidak pula seorang pun yang perlu ditolong melainkan aku memberinya.” Rasulullah ﷺ bertanya, “Bukankah kamu telah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan Allah?”
Hal ini dikatakannya sebanyak tiga kali.
Lelaki itu menjawab, “Ya.” Nabi ﷺ bersabda, “Maka sesungguhnya kesaksianmu itulah yang membuat semuanya diterima.”

Hadis kesebelas.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Amir, telah menceritakan kepada kami Ikrimah ibnu Ammar, dari Damdam ibnu Jausy Al-Yamami yang mengatakan bahwa Abu Hurairah pernah berkata kepadanya, “Hai Yamami, jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap seseorang, ‘Semoga Allah tidak mengampunimu, atau semoga Allah tidak memasukkanmu ke dalam surga’.” Aku (Yamami) berkata, “Hai Abu Hurairah, sesungguhnya kalimat tersebut biasa dikatakan oleh seseorang terhadap saudaranya dan temannya jika ia dalam keadaan marah.” Abu Hurairah berkata, “Jangan kamu katakan hal itu, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,” yaitu: Dahulu di kalangan umat Bani Israil terdapat dua orang lelaki, salah seorangnya rajin beribadah, sedangkan yang lainnya zalim terhadap dirinya sendiri (tukang maksiat), keduanya sudah seperti saudara.
Orang yang rajin ibadah selalu melihat saudaranya berbuat dosa dan mengatakan kepadanya, “Hai kamu, hentikanlah perbuatanmu.” Tetapi saudaranya itu menjawab, “Biarkanlah aku dan Tuhanku, apakah kamu ditugaskan untuk terus mengawasiku?”
Hingga pada suatu hari yang rajin beribadah melihat saudaranya tukang maksiat itu melakukan suatu perbuatan dosa yang menurut penilaiannya sangat besar.
Maka ia berkata kepadanya, “Hai kamu, hentikanlah perbuatanmu.” Dan orang yang ditegurnya menjawab, “Biarkanlah aku, ini urusan Tuhanku, apakah engkau diutus sebagai pengawasku?”
Maka yang rajin beribadah berkata, “Demi Allah, semoga Allah tidak memberikan ampunan kepadamu, atau semoga Allah tidak memasukkanmu ke surga untuk selama-lamanya.” Abu Hurairah melanjutkan kisahnya: bahwa setelah itu Allah mengutus seorang malaikat untuk mencabut nyawa kedua orang tersebut, dan keduanya berkumpul di hadapan Allah.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman kepada orang yang berdosa, “Pergilah, dan masuklah ke dalam surga karena rahmat-Ku.” Sedangkan kepada yang lainnya Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, “Apakah kamu merasa alim, apakah kamu mampu meraih apa yang ada di tangan kekuasaan-Ku?
Bawalah dia ke dalam neraka!” Nabi ﷺ bersabda, “Demi Tuhan yang jiwa Abul Qasim berada di dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya orang tersebut (yang masuk neraka) benar-benar mengucapkan suatu kalimat yang menghancurkan dunia dan akhiratnya.”

Imam Abu Daud meriwayatkannya melalui hadis Ikrimah ibnu Ammar, bahwa Damdam ibnu Jausy menceritakan kepadanya dengan lafaz yang sama.

Hadis kedua belas.

Imam Tabrani mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abusy Syekh, dari Muhammad ibnul Hasan ibnu Ajlan Al-Asfahani, telah menceritakan kepada kami Salamah ibnu Syabib, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Hakam ibnu Abban, dari ayahnya, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dari Rasulullah ﷺ yang telah bersabda: Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman, “Barang siapa yang mengetahui bahwa Aku mempunyai kekuasaan untuk mengampuni segala dosa, niscaya Aku memberikan ampunan baginya tanpa peduli selagi dia tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu.

Hadis ketiga belas.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar dan Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hudbah (yaitu Ibnu Khalid), telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Abu Hazm, dari Sabit, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Barang siapa yang dijanjikan suatu pahala oleh Allah atas suatu amal perbuatan, maka Dia pasti menunaikan pahala itu baginya.
Dan barang siapa yang diancam oleh Allah mendapat suatu siksaan karena suatu amal perbuatan, maka Dia sehubungan dengan hal ini bersikap memilih (antara memaafkan dan menghukum).

Hadis ini diriwayatkan secara munfarid.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bahr ibnu Nasr Al-Khaulani, telah menceritakan kepada kami Khalid (yakni Ibnu Abdur Rahman Al-Khurrasani), telah menceritakan kepada kami Al-Haisam ibnu Hammad, dari Salam ibnu Abu Muti’, dari Bakr ibnu Abdullah Al-Muzani, dari Ibnu Umar yang menceritakan bahwa kami sahabat Nabi ﷺ tidak meragukan lagi terhadap pembunuh jiwa, pemakan harta anak yatim, menuduh berzina wanita yang memelihara kehormatannya, dan saksi palsu (bahwa mereka pasti masuk neraka), hingga turun ayat ini, yaitu firman-Nya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
(An Nisaa:48) Maka sejak saat itu semua sahabat Nabi ﷺ menahan diri dari kesaksian.

Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadis Al-Haisam ibnu Hammad dengan lafaz yang sama.

Ibnu Abu Hatim mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abdul Malik ibnu Abdur Rahman Al-Muqri, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Asim, telah menceritakan kepada kami Saleh (yakni Al-Murri), telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr, dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang mengatakan, “Dahulu kami tidak meragukan lagi terhadap orang yang dipastikan oleh Allah masuk neraka di dalam Al-Qur’an, hingga turun kepada kami ayat ini, yaitu firman-Nya: ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (An Nisaa:48).
Setelah kami mendengar ayat ini, maka kami menahan diri dari kesaksian dan mengembalikan segala urusan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.”

Al-Bazzar mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdur Rahman, telah menceritakan kepada kami Syaiban ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Harb ibnu Syuraib, dari Ayyub, dari Nafi’, dari Ibnu Umar yang mengatakan, “Dahulu kami tidak mau memohon ampun buat orang-orang yang berdosa besar, hingga kami mendengar Nabi kami membacakan firman-Nya: ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya’ (An Nisaa:48).

Dan Nabi ﷺ telah bersabda:

‘Aku tangguhkan syafaatku buat orang-orang yang berdosa besar dari umatku kelak di hari kiamat’.”

Abu Ja’far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi’, telah menceritakan kepadaku Muhabbar, dari Abdullah ibnu Umar yang menceritakan bahwa ketika ayat ini diturunkan,yaitu firman-Nya: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.
(Az Zumar:53), hingga akhir ayat.
Maka ada seorang lelaki berdiri dan bertanya, “Bagaimanakah dengan dosa mempersekutukan Allah, wahai Nabi Allah?”
Rasulullah ﷺ tidak suka dengan pertanyaan tersebut, lalu beliau ﷺ membacakan firman-Nya: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.
(An Nisaa:48)

Demikianlah menurut riwayat Ibnu Jarir.
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih melalui berbagai jalur dari Ibnu Ulnar.

Ayat yang ada dalam surat Az-Zumar tadi mengandung suatu syarat, yaitu tobat.
Maka barang siapa yang bertobat dari dosa apapun, sekalipun ia melakukannya berulang-ulang, niscaya Allah menerima tobatnya.
Karena itulah disebutkan di dalam firman-Nya:

Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.
Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (Az Zumar:53)

Yakni dengan syarat tobat.
Seandainya diartikan tidak demikian, niscaya termasuk pula ke dalam pengertian ayat ini dosa mempersekutukan Allah.
Pengertian ini jelas tidak benar, mengingat Allah subhanahu wa ta’ala.
telah memastikan tiada ampunan bagi dosa syirik dalam ayat ini (An Nisaa:48), dan Dia telah memastikan pula bahwa Dia mengampuni semua dosa selain dari dosa mempersekutukan Allah, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
Dengan kata lain, sekalipun pelakunya belum bertobat, hal ini memberikan pengertian bahwa ayat surat An-Nisa ini lebih besar harapannya daripada ayat surat Az-Zumar tadi, bila ditinjau dari segi ini.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.
(An Nisaa:48)

Ayat ini sama maknanya dengan ayat lain, yaitu firman-Nya:

sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.
(Luqman:13)

Di dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadis melalui Ibnu Mas’ud yang menceritakan hadis berikut:

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?” Nabi ﷺ menjawab, “Bila kamu menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Dialah Yang menciptakanmu.” hingga akhir hadis.

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim ibnu Zaid, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Amr, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnul Munzir, telah menceritakan kepada kami Ma’an, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Basyir, dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Imran ibnu Husain, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Aku akan menceritakan kepada kalian tentang dosa besar yang paling berat, yaitu mempersekutukan Allah.
Kemudian beliau ﷺ membacakan firman-Nya: Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.
(An Nisaa:48) , dan menyakiti kedua orang tua.
Lalu beliau membacakan firman-Nya: Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembali kalian.
(Luqman:14)

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 48

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan ath-Thabarani, yang bersumber dari Abu Ishaq all-Anshari bahwa seorang laki-laki menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata: “Keponakan saya tidak mau meninggalkan perbuatan haram.” Nabi bersabda: “Apa agamanya?” Ia menjawab:
“Ia suka shalat dan bertauhid kepada Allah.” Bersabdalah Nab: “Suruhlah dia meninggalkan agamanya, atau ‘belilah’ agamanya!” Orang tersebut melaksanakan perintah Rasul, tetapi keponakannya menolak tawarannya.
Ia kembali kepada Nabi ﷺ seraya berkata: “Saya dapati dia sangat sayang pada agamanya.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 48) sebagai penjelasan bahwa Allah akan mengampuni segala dosa orang yang dikehendaki-Nya (kecuali syirik).

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 48 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 48



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.4
Rating Pembaca: 4.6 (16 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku