Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 47


یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اٰمِنُوۡا بِمَا نَزَّلۡنَا مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّطۡمِسَ وُجُوۡہًا فَنَرُدَّہَا عَلٰۤی اَدۡبَارِہَاۤ اَوۡ نَلۡعَنَہُمۡ کَمَا لَعَنَّاۤ اَصۡحٰبَ السَّبۡتِ ؕ وَ کَانَ اَمۡرُ اللّٰہِ مَفۡعُوۡلًا
Yaa ai-yuhaal-ladziina uutuul kitaaba aaminuu bimaa nazzalnaa mushaddiqan limaa ma’akum min qabli an nathmisa wujuuhan fanaruddahaa ‘ala adbaarihaa au nal’anahum kamaa la’annaa ashhaabassabti wakaana amrullahi maf’uulaa;

Hai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Quran) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami mengubah muka(mu), lalu Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuki mereka sebagaimana Kami telah mengutuki orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu.
Dan ketetapan Allah pasti berlaku.
―QS. 4:47
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat ▪ Pahala Iman
4:47, 4 47, 4-47, An Nisaa’ 47, AnNisaa 47, AnNisa 47, An-Nisa’ 47
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa' (4) : 47. Oleh Kementrian Agama RI

Orang-orang Yahudi yang pernah menerima kitab Taurat dan orang Nasrani yang pernah menerima kitab Injil, dalam ayat ini diperintahkan agar mereka percaya kepada Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
yang membenarkan isi kedua kitab mereka.
Di antara pokok-pokok isi Alquran adalah mengenai ke-Esa-an Allah menjauhi pekerjaan syirik dan memperkuat iman dengan memperbanyak amal saleh dan meninggalkan perbuatan-perbuatan keji lahir dan batin.
Tiga soal pokok itu adalah tiang agama yang diperintahkan Allah untuk dilakukan oleh hamba-Nya.
Perintah mempercayai Alquran itu harus dilakukan oleh mereka agar Allah tidak menghapuskan mereka, membalikkan mereka ke belakang dan mengutuk mereka sebagaimana nenek moyang mereka pernah dikutuk karena menangkap ikan pada hari yang terlarang yaitu hari Sabtu.
Ketentuan-ketentuan Allah baik berupa penciptaan sesuatu maupun berupa pelaksanaan hukum atau ancaman, semua itu pasti akan terlaksana sebagaimana dikehendaki Nya

Sebagian ahli tafsir memahami pengertian hukuman Allah berupa penghapusan mereka dan membalikkan mereka ke belakang tersebut, yaitu arah muka mereka dipalingkan Allah menghadap jalan lurus dan membalikkannya ke jalan kesesatan.
Setelah turun ayat ini, banyak di antara ahli kitab yang masuk Islam karena takut kepada ancaman siksa itu.
Di antara mereka itu ialah: Ka'ab Al Ahbar Allah subhanahu wa ta'ala yang bersifat Maha Kuasa tidak akan menghadapi kesukaran sedikitpun dalam melaksanakan kudrat-iradat Nya, termasuk juga pelaksanaan ancaman-Nya dalam ayat ini.

An Nisaa' (4) ayat 47 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 47 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 47 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hai orang-orang yang diberi kitab suci, berimanlah kalian kepada Al Quran yang telah Kami turunkan kepada Muhammad, yang membenarkan apa yang ada pada kalian, sebelum Kami turunkan siksa untuk kalian yang membuat bentuk muka kalian terbalik menyerupai bagian belakang kepala, tanpa hidung, mata, dan alis, atau sebelum Kami kutuk kalian sebagaimana kutukan Kami atas mereka yang telah melanggar perintah untuk tidak menangkap ikan pada hari Sabtu.
Ketetapan Allah pasti berlaku.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai orang-orang yang diberi Alkitab! Berimanlah kamu kepada apa-apa yang telah Kami turunkan) berupa Alquran (yang membenarkan apa yang berada padamu) yakni Taurat (sebelum Kami mengubah mukamu) dengan membuang mata, hidung dan alis yang terdapat padanya (lalu Kami putarkan ke belakang) sehingga menjadi rata dengan tengkuknya (atau Kami kutuk mereka) dengan menjadikan mereka sebagai kera (sebagaimana Kami telah mengutuk) menyerapah (pendurhaka-pendurhaka di hari Sabtu) di antara mereka (dan urusan Allah) maksudnya ketetapan-Nya (pasti berlaku).
Tatkala ayat ini turun, maka masuk Islamlah Abdullah bin Salam.
Maka ada yang mengatakan bahwa ini merupakan ancaman dengan suatu syarat karena setelah sebagian mereka masuk Islam, maka hukuman itu dibatalkan.
Dan ada pula yang mengatakan bahwa baik perubahan wajah dan penjelmaan menjadi kera itu akan dilakukan sebelum terjadinya kiamat.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai Ahli Kitab, berimanlah dan amalkanlah al-Qur an yang telah Kami turunkan, yang membenarkan kitab-kitab yang turun kepada kalian sebelum Kami menyiksa kalian karena keburukan perbuatan kalian, sehingga Kami akan menghapus wajah-wajah kalian dan memutarnya ke belakang, atau Kami melaknat para pembuat kerusakan tersebut dengan merubah wujud mereka menjadi kera dan babi sebagaimana kami telah melakukannya terhadap orang-orang Yahudi yang melanggar di hari Sabtu, di mana mereka telah dilarang untuk menjala ikan di hari itu namun mereka tidak mengindahkannya.
Maka Allah murka kepada mereka dan mengusir mereka dari rahmat-Nya.
Ketetapan Allah pasti akan terjadi dalam keadaaan apa pun.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
memerintahkan kepada Ahli Kitab agar mereka beriman kepada kitab yang diturunkan kepada Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad ﷺ, berupa Al-Qur'an.
Di dalam Al-Qur'an terkandung berita yang membenarkan berita-berita yang ada pada kitab mereka menyangkut berita-berita gembira, dan mengandung ancaman bagi mereka jika mereka tidak mau beriman kepadanya.

Ancaman ini disebutkan melalui firman-Nya:

sebelum Kami mengubah muka (kalian), lalu Kami putarkan ke belakang.

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa makna yang dimaksud oleh firman-Nya: sebelum Kami mengubah muka (kalian).
(An Nisaa:47), At-tams artinya membalikkan, yakni memutarkannya ke arah belakang dan pandangan mereka pun menjadi ada di belakang mereka.
Tetapi dapat pula diinterpretasikan bahwa makna firman-Nya: sebelum Kami mengubah muka (kalian).
(An Nisaa:47) ialah Kami tidak akan membiarkan bagi wajah mereka adanya pendengaran, penglihatan, dan penciuman.
Tetapi sekalipun demikian, Kami tetap memutarkannya ke arah belakang.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna ayat ini, yaitu firman-Nya: sebelum Kami mengubah muka (kalian).
(An Nisaa:47) Yang dimaksud dengan mengubahnya ialah membutakan matanya.
lalu Kami putarkan ke belakang.
(An Nisaa:47)

Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman, "Kami jadikan muka mereka berada di tengkuknya, hingga mereka berjalan mundur, dan kami jadikan pada seseorang dari mereka dua buah mata pada tengkuknya.

Hal yang sama dikatakan oleh Qatadah dan Atiyyah Al-Aufi.
Hal ini merupakan siksaan yang paling berat dan pembalasan yang paling pedih.
Apa yang diungkapkan oleh Allah dalam firman-Nya ini merupakan perumpamaan tentang keadaan mereka yang berpaling dari perkara yang hak dan kembali kepada perkara yang batil.
Mereka menolak hujah yang terang dan menempuh jalan kesesatan dengan langkah yang cepat seraya berjalan mundur ke arah belakang mereka.

Ungkapan ini menurut sebagian ulama sama maknanya dengan pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Kami telah memasang belenggu di leher mereka, lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, maka karena itu mereka tertengadah.
Dan kami adakan di hadapan mereka dinding.
(Yaa Siin:8-9), hingga akhir ayat.

Dengan kata lain, hal ini merupakan perumpamaan buruk yang dibuatkan oleh Allah tentang mereka dalam hal kesesatan dan penolakan mereka terhadap petunjuk.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: sebelum Kami mengubah muka (kalian).
(An Nisaa:47) Yakni sebelum Kami palingkan mereka dari jalan kebenaran.
Lalu Kami putarkan ke belakang.
(An Nisaa:47) Maksudnya, mengembalikan mereka ke jalan kesesatan.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan hal yang semisal dari Ibnu Abbas dan Al-Hasan.

As-Saddi mengatakan sehubungan dengan firman-Nya: Lalu Kami putarkan ke belakang.
(An Nisaa:47) Yaitu kami cegah mereka dari jalan kebenaran dan Kami kembalikan mereka kepada kekufuran, Kami kutuk mereka sebagai kera-kera (orang-orang yang bersifat seperti kera).

Menurut Abu Zaid, Allah mengembalikan mereka ke negeri Syam dari tanah Hijaz.
Menurut suatu riwayat, Ka'b Al-Ahbar masuk Islam ketika mendengar ayat ini.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Jabir ibnu Nuh, dari Isa ibnul Mugirah yang menceritakan, "Kami pernah membincangkan perihal Ka'b masuk Islam di dekat Maqam Ibrahim." Isa ibnul Mugirah mengatakan bahwa Ka'b masuk Islam pada masa pemerintahan Khalifah Umar.
Pada mulanya ia berangkat menuju ke Baitul Maqdis, lalu ia lewat di Madinah, maka Khalifah Umar keluar menemuinya dan berkata kepadanya, "Hai Ka'b, masuk Islamlah kamu." Maka Ka'b menjawab, "Bukankah kalian yang mengatakan dalam kitab kalian hal berikut (yakni firman-Nya): 'Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.' (Al Jumuah:5) dan sekarang aku membawa kitab Taurat itu.
Maka Umar membiarkannya." Kemudian Ka'b meneruskan perjalanannya.
Ketika sampai di Himsa, ia mendengar seorang lelaki dari kalangan ulamanya sedang dalam keadaan sedih seraya membacakan firman-Nya: Hai orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, berimanlah kalian kepada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur'an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kalian sebelum Kami mengubah muka (kalian), lalu Kami putarkan ke belakang.
(An Nisaa:47) hingga akhir ayat.
Setelah itu Ka'b berkata, "Ya Tuhanku, sekarang aku masuk Islam." Ia bersikap demikian karena takut akan terancam oleh ayat ini, lalu ia kembali dan pulang ke rumah keluarganya di Yaman, kemudian ia datang membawa mereka semua dalam keadaan masuk Islam.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dengan lafaz yang lain melalui jalur yang lain.

Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Nufail, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Waqid, dari Yunus ibnu Hulais, dari Abu Idris (yaitu Aizullah Al-Khaulani) yang menceritakan bahwa Abu Muslim Al-Jalili dan rombongannya, antara lain terdapat Ka'b, dan Ka'b selalu mencelanya karena ia bersikap terlambat, tidak mau tunduk kepada Rasulullah ﷺ Pada suatu hari Abu Muslim mengirimkan Ka'b untuk melihat apakah Rasulullah ﷺ itu benar seperti yang disebutkan olehnya (Ka'b).
Ka'b mengatakan bahwa lalu ia segera memacu kendaraannya menuju Madinah.
Setelah sampai di Madinah, tiba-tiba ia menjumpai seorang qari' sedang membacakan firman-Nya: Hai orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, berimanlah kalian kepada apa yang telah Kami turunkan (Al-Qur'an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kalian sebelum Kami mengubah muka (kalian), lalu Kami putarkan ke belakang.
(An Nisaa:47) Maka ia segera mengambil air dan langsung mandi.
Ka'b menceritakan, "Sesungguhnya aku benar-benar menutupi mukaku karena takut akan dikutuk, kemudian aku masuk Islam."

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

atau Kami kutuki mereka sebagaimana Kami telah mengutuki orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu.

Yakni orang-orang yang melanggar larangan menangkap ikan pada hari Sabtu dengan memakai tipu muslihat.
Mereka dikutuk oleh Allah menjadi kera-kera dan babi-babi.
Dalam surat Al-A'raf kisah mengenai mereka akan disebutkan dengan pembahasan yang terinci.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Dan ketetapan Allah pasti berlaku.

Apabila Allah memerintahkan sesuatu, maka Dia tidak dapat ditentang dan tidak dapat dicegah.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa' (4) Ayat 47

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada pendeta-pendeta kaum Yahudi, di antaranya ‘Abdullah bin Shuriya dan Ka’b bin Usaid: “Hai kaum Yahudi.
Berbaktilah kepada Allah, dan masuk Islamlah kalian.
Demi Allah, sesungguhnya kalian pasti apa yang aku bawa ini adalah benar.” Mereka berkata: “Kami tidak tahu hal itu, hai Muhammad.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 47) sebagai seruan untuk beriman kepada kitab yang diturunkan oleh Allah, yang membenarkan apa yang tercantum dalam kitab mereka.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa' (4) Ayat 47

SABT
لسَّبْت

Lafaz ini adalah kata nama yang berasal dari kata kerja sabata yang bermakna tidur, istirahat dan tinggal. Sedangkan as sabt berarti salah satu nama hari dari satu minggu, zaman, istirahat, tidur, banyak tidur, pemuda yang berani dan sebagainya.

Ar Raghib berkata,
''Asal makna as sabt ialah al qat (memotong), dikatakan hari itu dinamakan Sabtu karena Allah mula menciptakan langit dan bumi pada hari Abad selama enam hari dan memotong penciptaannya atau berehat pada hari Sabtu.

Lafaz ini disebut lima kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 65;
-An Nisaa (4), ayat 47, 154;
-Al A'raaf (7), ayat 163;
-An Nahl (16), ayat 124.

Lafaz as sabt dalam ayat ini dikaitkan dengan hari dan sekali dihubungkan dengan lafaz ashaab yaitu dalam surah An Nisaa (4), ayat 47.

Al Hasan berkata,
"As Sabt adalah hari Sabtu dan berkenaan dengan hukum pada hari Sabtu, di mana kesemua ayat bercerita tentang mereka yang melanggar perintah Allah dengan memburu dan menangkap ikan pada hari Sabtu."

Ibn Katsir berkata,
"Wahai orang Yahudi! Kamu mengetahui satu kaum yang mendurhaka perintah Allah dan melanggar janji-janji mereka supaya mengagungkan hari Sabtu, di mana mereka membuat helah dengan menangkap ikan pada hari Sabtu dengan meletakkan jerat, jala dan pancing sebelum hari Sabtu itu. Pada hari Sabtu itu, mereka menarik jerat, jala dan pancing serta mengumpulkannya, lalu setelah Sabtu malam berlalu, mereka pun mengambilnya'"

Terdapat tiga pendapat mengenai makna Ashaabas sabt pada ayat yaitu:

- Diriwayatkan dari Ibn Abbas, 'Abd Allah bin Katsir, Mujahid dan As Suddi, Ashaabas Sabt adalah kaum Ailah, di antara Madyan dan At Tur, atau di antara Mesir dan Madinah yang berada di tepi laut.

- Qatadah berpendapat, ia adalah sebuah kampung di tepi laut Madyan.

- Ibn Zaid berpendapat, ia adalah kampung yang dinamakan Maqna yaitu antara Madyan dan Aynuna.'

- At Tabari berkata,
"Kesemuanya bisa jadi benar, bisa jadi ia adalah Ailah, Madyan atau Maqna karena semuanya kampung yang berada di tepi laut. Tidak ada kabar dari Rasulullah mengenai kampung ini. Yang penting, ia adalah sebuah kota ataupun kampung yang berada di tepi laut'"

Kesimpulannya, lafaz as sabt secara umumnya mempunyai dua makna yaitu memotong dan istirahat. Yang dimaksudkan dalam Al Qur'an ialah hari Sabtu dan kampung atau kota yang mengingkari larangan Allah supaya tidak menangkap dan menjala ikan pada hari Sabtu.

Sedangkan lafaz sabtihim adalah bahagian dari lafaz di atas, dan him adalah dhamir dan merujuk kepada kaum itu. Ia disebut sekali saja dalam Al Qur'an yaitu dalam surah Al A'raaf (7), ayat 163 dan dikaitkan dengan lafaz al yaum atau hari.

Ar Raghib berkata,
"maknanya hari di mana mereka beristirahat dan tidak bekerja."

Dalam tafsir Safwah At Tafasir, ikan-ikan banyak muncul dan mengambang pada hari Sabtu, di mana mereka diharamkan untuk menangkap ikan pada hari itu.

Dalam Al Asas fi At Tafsir dijelaskan makna ayat ini, "Ikan-ikan muncul di atas air dan hal itu menjadi cobaan dari Allah untuk mereka. Sedangkan yang dimaksudkan dengan "yaum sabtihim" adalah hari Sabtu yang diperintahkan Allah untuk mengagungkannya dengan meninggalkan penangkapan ikan dan bekerja serta diperintahkan untuk beribadah. Ikan-ikan yang banyak muncul di atas air pada hari yang diharamkan bagi mereka untuk menangkap dan bekerja, sedangkan pada hari biasa, ikan-ikan itu tidak kelihatan.

Kesimpulannya, sabtihim bermakna hari Sabtu yang mereka diharamkan untuk bekerja dan menangkap ikan.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:290-291

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa', yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa' karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa' dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Al Kubraa" (surat An Nisaa' yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Ash Shughraa" (surat An Nisaa' yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf'
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 47 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 47



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.9
Rating Pembaca: 5 (1 vote)
Sending







✔ tafsir jalalain surah Annisa ayat 47