Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 46


مِنَ الَّذِیۡنَ ہَادُوۡا یُحَرِّفُوۡنَ الۡکَلِمَ عَنۡ مَّوَاضِعِہٖ وَ یَقُوۡلُوۡنَ سَمِعۡنَا وَ عَصَیۡنَا وَ اسۡمَعۡ غَیۡرَ مُسۡمَعٍ وَّ رَاعِنَا لَـیًّۢا بِاَلۡسِنَتِہِمۡ وَ طَعۡنًا فِی الدِّیۡنِ ؕ وَ لَوۡ اَنَّہُمۡ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا وَ اسۡمَعۡ وَ انۡظُرۡنَا لَکَانَ خَیۡرًا لَّہُمۡ وَ اَقۡوَمَ ۙ وَ لٰکِنۡ لَّعَنَہُمُ اللّٰہُ بِکُفۡرِہِمۡ فَلَا یُؤۡمِنُوۡنَ اِلَّا قَلِیۡلًا
Minal-ladziina haaduu yuharrifuunal kalima ‘an mawaadhi’ihi wayaquuluuna sami’naa wa’ashainaa waasma’ ghaira musma’in waraa’inaa lai-yan bialsinatihim watha’ nan fiiddiini walau annahum qaaluuu sami’naa waatha’naa waasma’ waanzhurnaa lakaana khairan lahum waaqwama walakin la’anahumullahu bikufrihim falaa yu’minuuna ilaa qaliilaa;

Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.
Mereka berkata:
“Kami mendengar”,
tetapi kami tidak mau menurutinya.
Dan (mereka mengatakan pula):
“Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa.
Dan (mereka mengatakan):
“Raa’ina”,
dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama.
Sekiranya mereka mengatakan:
“Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”,
tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka.
Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.
―QS. 4:46
Topik ▪ Pahala Iman
4:46, 4 46, 4-46, An Nisaa’ 46, AnNisaa 46, AnNisa 46, An-Nisa’ 46
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa' (4) : 46. Oleh Kementrian Agama RI

Di antara Ahli kitab yang tersebut di atas ada pula yang mengubah kalimat-kalimat yang ada pada kitab mereka dan memindahkannya dari tempat semula ke tempat yang lain, sehingga kitab itu menjadi kacau dan tidak dapat lagi dijadikan pedoman.
Mereka menafsirkan bahwa kedatangan Nabi Isa dan Nabi Muhammad ﷺ adalah tidak benar dan mereka masih menunggu kedatangan Isa dan Muhammad yang diutus dari kalangan mereka.
Orang-orang Yahudi itu berkata kepada Nabi Muhammad ﷺ:

(kami mendengar ucapanmu akan tetapi kami tidak akan taat kepada perintahmu).
Mereka juga berkata kepada Nabi Muhammad ﷺ:

(dengarlah Muhammad ﷺ semoga engkau tidak dapat mendengar/tuli.
Demikian juga mereka berkata kepada Nabi Muhammad ﷺ:

(kiranya engkau memperhatikan kami).
Di kala para sahabat menghadapkan kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudipun memakai kata ini terhadap Rasulullah.
Padahal yang mereka maksud dengan

itu ialah "kebodohan yang sangat sebagai celaan kepada Rasulullah ﷺ Semua pemakaian kata-kata yang tidak benar itu dimaksudkan untuk memutar balikkan panggilan dan untuk mencela agama.
Termasuk pula pemutaran lidah mereka terhadap Nabi Muhammad ﷺ ialah bila mereka bertemu dengan Nabi, mereka mengucapkan kata-kata

("mudah-mudahan kamu mati") maka ucapan itu oleh Nabi dijawab:

(mudah-mudahan kamulah yang mati.)
Jika sekiranya orang-orang Yahudi itu tidak mengucapkan kata-kata yang sejelek itu tetapi mengganti ucapannya kepada Muhammad dengan kata-kata:

("kami mendengarkan ucapanmu dan menaati segala perintahmu, dengarkanlah ucapan kami dan perhatikanlah kami",)maka pastilah perkataan-perkataan itu akan membawa akibat yang sangat baik bagi mereka.
Akan tetapi karena kekafiran mereka, mereka mendapat laknat Allah dan mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis yang tidak dapat membawa mereka kepada kebahagiaan yang hakiki.

An Nisaa' (4) ayat 46 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 46 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 46 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Di antara orang-orang Yahudi ada sekelompok orang yang cenderung mengubah-ubah perkataan dari makna sebenarnya.
Mereka berkata kepada Nabi mengenai diri mereka, "Kami mendengar ucapan dan kami melanggar perintah." Mereka juga berkata, "Dengarlah ucapan kami," dengan mengarahkan pembicaraan kepadamu.
Mereka mengatakan pula, "Isma' ghayra musma'" (dengarlah, semoga kamu tidak mendengar apa-apa).
Ungkapan ini dibuat begitu rupa sehingga seolah-olah mereka mengharapkan kebaikan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Padahal, sebenarnya, keburukanlah yang mereka harapkan menimpa Nabi.
Mereka pun mengucapkan "Ra'ina" (sudilah kiranya kamu memperhatikan kami) dengan cara memutar-mutar lidah.
Mereka, dengan cara seperti itu, menginginkan orang lain menganggap maksudnya "undzurna" ("sudilah kiranya kamu memperhatikan kami") karena dengan memutar-mutar lidah ketika menyebut "ra'ina",
seolah- olah mereka memang meminta agar diperhatikan.
Padahal, sebenarnya, mereka tengah mencela agama dengan mencela Nabi ﷺ, pembawa risalah, sebagai orang yang bodoh ("ru'unah":
bentuk nomina abstrak [mashdar] dari verba [fi'l] ra'ana yang berarti 'kebodohan').
Jika saja mereka mau bersikap jujur dengan mengatakan "Sami'na wa atha'na" (kami dengar dan kami taati) sebagai pengganti tambahan "Sami'na wa 'ashayna" (kami dengar dan kami langgar), dan mengatakan "Isma'" tanpa tambahan "ghayr musma'",
serta mengganti ucapan "Ra'ina" dengan "unzhurna",
tentulah itu lebih baik dan lebih bijaksana bagi mereka.
Akan tetapi begitulah kenyataannya, Allah menjauhkan mereka dari rahmat-Nya disebabkan oleh kemungkaran yang mereka lakukan.
Dan kamu tidak mendapatkan mereka itu sebagai orang-orang yang memenuhi ajakanmu untuk beriman, kecuali sedikit saja.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Di antara orang-orang Yahudi) ada suatu kaum (mereka mengubah perkataan-perkataan) yakni yang diturunkan Allah dalam Taurat berupa tanda-tanda dan sifat-sifat Nabi Muhammad ﷺ (dari tempat-tempatnya) semula (dan kata mereka) kepada Nabi ﷺ bila beliau menitahkan mereka mengerjakan sesuatu:
("Kami dengar) ucapanmu (dan kami langgar.") perintahmu (dan dengarlah padahal tidak ada yang akan didengar) menjadi hal yang berarti doa, artinya semoga saya tidak mendengarnya.
(Dan) kata mereka pula kepadanya ("Ra`ina.") padahal mereka telah dilarang mengucapkannya karena dalam bahasa mereka kata-kata itu berarti makian (dengan memutar-mutar lidah mereka dan mencela) menjelekkan (agama) Islam.
(Sekiranya mereka mengatakan, "Kami dengar dan kami turut) sebagai ganti dari 'kami langgar' (dan dengarlah) saja (dan perhatikanlah kami") yaitu unzhurnaa sebagai ganti dari raa`inaa (tentulah itu lebih baik bagi mereka) daripada apa yang mereka ucapkan tadi (dan lebih tepat) lebih adil daripadanya.
(Akan tetapi Allah mengutuk mereka) artinya menjauhkan mereka dari rahmat-Nya (disebabkan kekafiran mereka sehingga mereka tidaklah beriman selain hanya segelintir saja) misalnya Abdullah bin Salam dan para sahabatnya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Di antara orang-orang Yahudi ada sekelompok orang yang selalu merubah kalam Allah dan menggantinya dari tempatnya yang benar dengan dasar berbuat dusta atas nama Allah.
Mereka berkata kepada Rasulullah :
Kami mendengar perkataanmu namun kami mendurhakai perintahmu, dengarkanlah kami dan semoga kamu tidak didengarkan.
Mereka juga berkata :
Berikanlah pendengaranmu.
Yakni pahamilah kami dan buatlah kami paham.
Mereka membelokkan lidah mereka dengannya, maksud mereka adalah mendoakan ru unah (kebodohan) atas Nabi menurut bahasa mereka dan mencela agama Islam.
Sekiranya mereka mengucapkan :
Kami dengarkan dan kami taati, dan bukan kami durhakai.
Dengarkanlah, dan bukan semoga kamu tidak didengarkan, niscaya hal itu lebih baik bagi mereka di sisi Allah dan lebih lurus dari sisi perkataan.
Akan tetapi Allah mengusir mereka dari rahmat-Nya disebabkan oleh kekufuran mereka dan pengingkaran mereka terhadap kenabian Muhammad.
Mereka tidak membenarkan kebenaran kecuali hanya sedikit dan itu tidak bermanfaat bagi mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Yaitu orang-orang Yahudi.

Min dalam ayat ini menunjukkan makna keterangan jenis.
Seperti pengertian min yang terdapat di dalam firman lainnya, yaitu:

maka jauhilah perkara yang najis yaitu berhala-berhala tersebut.
(Al Hajj:30)

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.

Maksudnya, mereka menakwilkannya bukan dengan takwil yang sebenarnya, dan menafsirkannya bukan dengan tafsir yang dimaksud oleh Allah subhanahu wa ta'ala., dengan sengaja mereka melakukannya sebagai kedustaan dari mereka sendiri.

Mereka mengatakan, "Kami mendengar."

Yakni kami mendengar apa yang engkau katakan, hai Muhammad, dan kami tidak akan menaatimu.
Demikianlah menurut apa yang ditafsirkan oleh Mujahid dan Ibnu Zaid mengenai makna yang dimaksud dari kalimah ini.
Hal ini jelas menggambarkan kekufuran dan keingkaran mereka yang sangat keterlaluan.
Sebenarnya mereka berpaling dari Kitabullah sesudah mereka memahaminya, padahal mereka mengetahui bahaya yang menimpa diri mereka akibat perbuatannya, yaitu berupa dosa dan siksaan yang akan menimpa diri mereka.
Ucapan mereka yang disebutkan oleh firman-Nya:

Dan ucapan mereka, "Dengarlah," semoga kamu tidak mendengar apa-apa.
(An Nisaa:46)

Artinya, dengarkanlah apa yang kami katakan, mudah-mudahan kamu tidak mendengarnya.
Demikianlah makna ayat menurut apa yang diriwayatkan oleh Ad-Dahhak dari Ibnu Abbas.
Mujahid dan Al-Hasan mengatakan bahwa makna ayat ialah: "Dengarlah, mudah-mudahan kamu tidak mau menerimanya."

Ibnu Jarir mengatakan bahwa yang benar adalah makna yang pertama karena hal ini menunjukkan cemoohan dan ejekan mereka.
Semoga laknat Allah selalu menimpa mereka.

Dan (mereka mengatakan pula), "Ra'ina," dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama.

Ucapan mereka yang mengatakan, "Ra'ina" memberikan kesan bahwa seakan-akan mereka mengatakan, "Perhatikanlah kami dengan pendengaranmu." Padahal sebenarnya mereka bermaksud mencaci Nabi ﷺ melalui perkataan ini yang berakar dari kata ru'unah (cacian).
Pembahasan mengenai tafsir ini telah kami kemukakan dalam tafsir firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian katakan (kepada Muhammad), "Ra'ina." Tetapi katakanlah, "Unzurna." (Al Baqarah:104)

Karena itulah- Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman menyebutkan perihal orang-orang Yahudi yang selalu mengeluarkan ucapan-ucapan yang bertentangan dengan sikap lahiriahnya, yaitu:

dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama.

Karena mereka mencaci Nabi ﷺ Kemudian Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman:

Sekiranya mereka mengatakan, "Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami," tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka.
Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.
(An Nisaa:46)

Hati mereka dijauhkan dari kebaikan dan terusir dari kebaikan, sehingga iman tidak masuk dalam kalbu mereka barang sedikit pun yang dapat memberikan manfaat buat mereka.
Mengenai firman-Nya:

Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.

telah disebutkan dalam pembahasan yang jauh sebelum ini.
Makna yang dimaksud ialah bahwa mereka tidaklah beriman dengan keimanan yang bermanfaat buat diri mereka.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa' (4) Ayat 46

AQWAAM
أَقْوَم

Lafaz ini berbentuk tafdil (menunjukkan lebih daripada yang lain). Berasal dari kata qawama, artinya a'dalu, lebih adil dan lebih baik. Dalam contoh "fulaanun aqwamu kalaaman min fulaanin" maksudnya, Perkataan si A lebih adil dan lurus atau baik daripada perkataan si B." la juga bermakna yang tegak dan keazaman.

Lafaz ini disebut empat kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah:
-Al Baqarah (2), ayat 282;
-An Nisaa (4), ayat 46;
-Al Israa (17), ayat 9;
-Al Muzzammil (73), ayat 6.

Dalam Tafsir Al Jalalain, penafsiran aqwaam dalam surah Al Baqarah, ayat 282 ialah a'wan (lebih dapat) membantu mendirikan kesaksian, karena ia mengingatkannya atau mengingatkan seluruh saksi apa yang disaksikannya." Begitu juga penafsiran Az Zamakhsyari yaitu lebih membantu dan menguatkan keterangan saksi.

Dalam surah An Nisaa, ayat 46 dan Al Muzzammil ayat 6, At Tabari berkata,
"Ia bermakna lebih adil dan lebih benar dalam perkataan."

Sedangkan dalam surah Al Israa, ayat 9, Al Qurtubi menafsirkannya dengan jalan yang lebih kuat, adil atau lurus dan lebih benar.

Az Zujjaj berkata,
"Bagi keadaan-keadaan yang lebih kuat atau baik yaitu mengesakan Allah dan beriman dengan rasul-rasulnya sebagaimana pendapat yang dikemukakan Al Kalbi dan Al Farra."

Kesimpulannya, lafaz aqwaam mengandung dua makna.

Pertama, lebih membantu dan menguatkan sebagaimana yang terdapat dalam surah Al Baqarah.

Kedua, lebih benar dan lurus sebagaimana pada surah-surah yang lain.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:59-60

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa', yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa' karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa' dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Al Kubraa" (surat An Nisaa' yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Ash Shughraa" (surat An Nisaa' yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf'
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 46 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 46



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah 4
Nama Surah An Nisaa'
Arab النّساء
Arti Wanita
Nama lain Al-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 92
Juz Juz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 176
Jumlah kata 3764
Jumlah huruf 16327
Surah sebelumnya Surah Ali 'Imran
Surah selanjutnya Surah Al-Ma'idah
4.8
Rating Pembaca: 4.4 (14 votes)
Sending








Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku