Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 42


یَوۡمَئِذٍ یَّوَدُّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ عَصَوُا الرَّسُوۡلَ لَوۡ تُسَوّٰی بِہِمُ الۡاَرۡضُ ؕ وَ لَا یَکۡتُمُوۡنَ اللّٰہَ حَدِیۡثًا
Yauma-idzin yawaddul-ladziina kafaruu wa’ashawuurrasuula lau tusau-wa bihimul ardhu walaa yaktumuunallaha hadiitsan;

Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadianpun.
―QS. 4:42
Topik ▪ Hisab ▪ Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan ▪ Keluasan ilmu Allah
4:42, 4 42, 4-42, An Nisaa’ 42, AnNisaa 42, AnNisa 42, An-Nisa’ 42
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa' (4) : 42. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menggambarkan bagaimana penyesalan orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai Rasulullah pada hari kiamat, setelah melihat hebatnya azab yang akan mereka derita.
Semua perbuatan mereka yang salah, lebih-lebih perbuatan mereka mengingkari Allah dan tidak patuh menuruti ajaran Rasul, pada hari itu akan mendapat balasan yang setimpal.
Apalagi pada hari itu sengaja Rasul didatangkan untuk menjadi saksi atas perbuatan mereka.
Alangkah malunya mereka dan menyesal atas perbuatan mereka semasa hidup di dunia.
Sampai-sampai mereka menginginkan, lebih baik mereka disama-ratakan saja dengan tanah.
Malahan mereka ada yang menginginkan agar jadi tanah saja jangan jadi manusia yang akan mendapat siksaan yang hebat dari Allah.

Allah berfirman:

...dan orang kafir berkata: "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah"
(Q.S.
An Naba': 40)

Begitulah hebatnya penyesalan mereka pada hari itu, sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna.
Pada saat itu orang-orang kafir tidak dapat menyembunyikan sedikitpun apa yang telah mereka kerjakan, kedurhakaan mereka kepada Allah dan Rasul, kesombongan dan ketakaburan mereka, dan tentang kebakhilan dan riya' mereka.
Pendeknya tidak dapat mereka sembunvikan semua kejelekan dan kesalahan mereka.
Pada hari itu tidak satu pertolonganpun yang dapat menolong mereka..
Apa-apa yang biasa mereka jadikan tempat minta tolong dan minta syafaat, selain dari Allah, semuanya berlepas diri, tidak mampu menolong dan melepaskan mereka dari siksa yang hebat itu.

Dan firman Allah subhanahu wa ta'ala:

Dan (ingatlah) hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya, kemudian Kami berkata kepada orang-orang musyrik: "Di manakah sembahan-sembahanmu yang dahulu kamu katakan (sekutu-sekutu Kami) ?
Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan:" Demi Allah Tuhan kami, tiadalah kami persekutukan Allah".
Lihatlah, bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri dan hilanglah dari mereka sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan.

An Nisaa' (4) ayat 42 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 42 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 42 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Di hari itu orang-orang yang ingkar dan durhaka berharap ditelan bumi seperti orang-orang mati di dalam kubur.
Mereka tidak akan bisa menyembunyikan hal ihwal mereka kepada Allah, karena Dia akan menampakkan segala keadaan dan perbuatan mereka.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Di hari itu) yakni hari kedatangannya (orang-orang kafir dan yang mendurhakai Rasul menginginkan agar) seandainya (mereka disamaratakan dengan tanah) tusawwaa dalam bentuk pasif dan ada pula yang membacanya dalam bentuk aktif dengan menghilangkan salah satu dari ta-nya pada asal lalu mengidgamkannya pada sin artinya dari tustawa sedangkan maksudnya ialah mereka ingin agar menjadi tanah karena mereka tercekam rasa takut yang hebat sebagaimana tersebut pada ayat lain, "Dan orang kafir berkata, 'Wahai kiranya nasib, kenapa daku tidak menjadi tanah saja!' (dan mereka tidak dapat menyembunyikan kepada Allah suatu peristiwa pun) mengenai apa yang mereka kerjakan." Tetapi pada kali yang lain mereka masih mencoba-coba juga untuk menyembunyikan sebagaimana tersebut dalam Alquran, "Dan mereka berkata, 'Demi Allah Tuhan kami, tidaklah kami mempersekutukan-Mu.'"

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Di hari itu orang-orang yang kafir kepada Allah, menyelisihi Rasul dan tidak menaatinya berharap Allah menjadikan mereka sama dengan bumi, sehingga mereka menjadi tanah agar mereka tidak dibangkitkan dan mereka tidak kuasa menyembunyikan apa pun dalam hati mereka dari Allah, karena Allah mengunci mulut mereka, lalu anggota tubuh mereka bersaksi terhadap apa yang mereka perbuat.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Seandainya saja bumi terbelah dan menelan mereka, nisaya mereka terhindar dari kengerian dan huru-hara di Mauqif (padang mahsyar), dan terhindar dari kehinaan, kemaluan, dan cemoohan.
Makna ayat ini sama seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya. (An-Naba': 40) , hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah subhanahu wa ta'ala:

dan mereka tidak dapat meyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun.

Hal ini menceritakan keadaan mereka, bahwa mereka mengakui semua yang telah mereka kerjakan, dan tidak dapat menyembunyikan dari Allah sesuatu pun dari amal perbuatan mereka.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hakim, telah menceritakan kepada kami Amr, dari Mutarrif, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Sa'id ibnu Jubair yang menceritakan bahwa seorang lelaki datang kepada Ibnu Abbas, lalu lelaki itu menanyakan kepadanya tentang firman Allah subhanahu wa ta'ala yang menceritakan keadaan orang-orang musyrik di hari kiamat, bahwa mereka mengatakan: Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.
(Al An'am:23) Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman: dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun.
(An Nisaa:42), Maka Ibnu Abbas mengatakan, "Adapun mengenai firman-Nya: 'Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah' (Al An'am:23).
Sesungguhnya mereka (orang-orang musyrik) ketika melihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa tidak dapat masuk surga kecuali hanya orang-orang Islam, maka mereka berkata (kepada sesamanya), 'Marilah kita mengingkari perbuatan kita!' Lalu mereka mengatakan seperti yang disitir oleh firman-Nya: 'Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah' (Al An'am:23).
Maka Allah mengunci mati mulut mereka dan berbicaralah kedua kaki dan tangan mereka.
Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: 'dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun' (An Nisaa:42)."

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari seorang lelaki, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Sa'id ibnu Jubair yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Ibnu Abbas, lalu bertanya banyak hal yang bertentangan di dalam Al-Qur'an menurut pendapatku.
Ibnu Abbas berkata, "Coba sebutkan yang mana, apakah engkau meragukan Al-Qur'an?"
Lelaki itu berkata, "Tidak, tetapi aku bingung memahaminya." Ibnu Abbas bertanya, "Apakah yang membingungkanmu di dalam Al-Qur'an itu?"
Lelaki itu berkata bahwa Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman dalam suatu ayat, yaitu firman-Nya: Kemudian tiadalah fitnah mereka kecuali mengatakan, "Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah." (Al An'am:23) Dalam ayat yang lainnya Allah subhanahu wa ta'ala telah berfirman: dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun.
(An Nisaa:42) Ternyata dari pengertian tersebut mereka dapat menyembunyikan sesuatu dari Allah?
Maka Ibnu Abbas menjawab bahwa mengenai firman-Nya: Kemudian tiadalah fitnah mereka kecuali mengatakan, "Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah." (Al An'am:23) Sesungguhnya tatkala mereka menyaksikan di hari kiamat bahwa Allah tidak memberikan ampunan kecuali kepada pemeluk agama Islam, dan Allah mengampuni semua dosa betapapun besarnya kecuali dosa mempersekutukan Allah.
Mereka bermaksud mengingkari hal tersebut.
Untuk itu mereka mengatakan: Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.
(Al An'am:23) Mereka mengharapkan dengan hal ini agar Allah memberikan ampunan bagi mereka, tetapi Allah mengunci mulut mereka dan berbicaralah kedua tangan dan kedua kaki mereka tentang hal-hal yang mereka lakukan sebenarnya.
Maka di saat itulah disebutkan di dalam firman-Nya:

Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun.

Juwabir meriwayatkan dari Ad-Dahhak, bahwa Nafi' ibnul Azraq pernah datang kepada Ibnu Abbas, lalu menanyakan kepadanya mengenai makna firman-Nya: Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun.
(An Nisaa:42) Juga firman-Nya: Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.
(Al An'am:23) Maka Ibnu Abbas berkata kepadanya, "Aku merasa yakin bahwa kamu berangkat dari kalangan teman-temanmu dengan maksud akan menemuiku untuk menanyakan ayat-ayat mutasyabih dari Al-Qur'an.
Untuk itu apabila kamu kembali kepada mereka, beri tahukanlah kepada mereka bahwa Allah subhanahu wa ta'ala menghimpun semua manusia di hari kiamat di suatu padang (mahsyar).
Lalu orang-orang yang mempersekutukan Allah mengatakan bahwa sesungguhnya Allah tidak akan menerima sesuatu pun dari seseorang kecuali dari orang yang mengesakan-Nya.
Lalu mereka berkata, 'Marilah kita ingkari perbuatan kita.' Ketika ditanyai, mereka mengatakan seperti yang disebutkan oleh firman-Nya: 'Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah' (Al An'am:23)." Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa sebelum mereka mengatakan hal tersebut Allah mengunci mulut mereka dan berbicaralah semua anggota tubuh mereka, dan bersaksilah semua anggota tubuh mereka terhadap diri mereka dengan menyatakan bahwa sebenarnya mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah.
Maka pada saat itu mereka berharap seandainya diri mereka ditelan oleh bumi.
dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun.
(An Nisaa:42)

Riwayat Ibnu Jarir.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa' (4) Ayat 42

HADIITS
حَدِيث

Lafaz hadiits mempunyai beberapa arti antaranya adalah:
(1) Sesuatu yang asalnya tidak ada kemudian ada;
(2) Sesuatu yang baru;
(3) Lafaz baik itu sedikit ataupun banyak.

Bentuk jamak dari lafaz ini yang biasa digunakan adalah ahaadiits. Selain itu, ia juga mempunyai bentuk jamak hidtsaan dan hudtsaan, namun keduanya jarang digunakan.

Raghib Al Isfahani menyatakan, lafaz hadiits berarti semua jenis lafaz yang sampai kepada manusia, baik diterima melalui telinga atau wahyu, baik diterima sewaktu terjaga dari tidur maupun sewaktu ter­tidur.

Di dalam Al Qur'an, lafaz al hadiits yang berbentuk tunggal diulang sebanyak 23 kali yaitu dalam surah:
-An Nisaa (4), ayat 42, 78, 87, 140;
-Al An'aam (6), ayat 68;
-Al A'raaf (7), ayat 185;
-Yusuf (12), ayat 111;
-Al Kahfi (18), ayat 6;
-Tha Ha (20), ayat 9;
-Luqman (31), ayat 6;
-Al Ahzab (33), ayat 53;
-Az Zumar (39), ayat 23;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 6;
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 24;
-Ath Thuur (52), ayat 34;
-An Najm (53), ayat 59;
-Al­ Waaqi'ah (56), ayat 81;
-At Tahrim (66), ayat 3;
-Al Qalam (68), ayat 44;
-Al Mursalat (77), ayat 50;
-An Naazi'aat (79), ayat 15;
-Al Buruuj (85), ayat 17;
-Al Ghaasyiah (88), ayat 1.

Sedangkan dalam bentuk jamak ahaadiits, lafaz ini diulang sebanyak lima kali yaitu dalam surah:
-Yusuf (12), ayat 6, 21 dan 101;
-Al Mu'minuun (23), ayat 44;
-Saba' (34), ayat 19.

Di dalam Al Qur'an, lafaz ini baik itu dalam bentuk tunggal maupun jamak di gunakan untuk menunjukkan lima makna yaitu:

1. Kalam Allah atau Al Qur'an
Lafaz hadiits yang mempunyai maksud Kalam Allah terdapat dalam ayal-ayat berikut:
-Yusuf (12), ayat 111;
-Al­ A'raaf (7), ayat 185;
-Al Kahfi (18), ayat 6;
-Az Zumar (39), ayat 23;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 6;
-Ath Thuur (52), ayat 34;
-Al Waaqi'ah (56), ayat 81;
-Al Qalam (68), ayat 44;
-Al Mursalat (77), ayat 50;
-An Nisaa' (4), ayat 78, 87.

Secara umum, ayat-ayat itu mem­bicarakan tentang sifat-sifat Kalam Allah dan sikap yang sepatutnya dilakukan oleh manusia pada Kalam Allah. Diantara sifat-sifat Kalam Allah yang disebut dalam ayat-ayat itu adalah Kalam Allah yaitu lafaz yang paling benar (ashdaqul hadiits), kisah-kisah yang ada di dalamnya menjadi pelajaran bagi orang yang mempunyai akal. la bukanlah cerita yang direka, menjelaskan segala sesuatu, menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Al Qur'an juga adalah lafaz yang paling baik dan indah (ahsanul hadiits). Di dalamnya terdapat lafaz-lafaz yang hampir serupa tetapi berbeda maksudnya (mutasyabih), keindah­an dan kemuliaan Al Qur'an menyebabkan­nya penuh dengan pujian (matsani), orang yang takut kepada Tuhannya gementar kulit­ nya apabila mendengar Al Qur'an, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang ketika mengingat Allah. Dengan sifat-sifatnya yang demikian, Al Qur'an tidak mungkin ditandingi. Oleh karena itu, Kalam Allah hendaklah difahami, diimani dan tidak boleh didustakan atau di­anggap remeh.

2. Perkataan atau pembicaraan manusia.
Lafaz hadiits yang mempunyai maksud perkataan atau pembicaraan manusia ter­dapat dalam ayat-ayat berikut:
-An Nisaa (4), ayat 140;
-Al An'aam (6), ayat 68;
-Luqrnan (31), ayat 6;
-Al Ahzab (33), ayat 53;
-At Tahrim (66), ayat 3.

Pada ayat-ayat ini, lafaz hadiits merujuk pada perkataan-perkataan di dunia yang diucap­kan oleh orang kafir, munafik, para sahabat dan juga perkataan Nabi Muhammad.

Dalam surah An Nisaa (4), ayat 42, lafaz hadiits merujuk pada pengakuan orang kafir di akhirat ketika mereka di dunia sebagai orang kafir dan melakukan maksiat.

3. Berita atau kabar tentang ke­jadian yang akan datang.
Lafaz hadiits yang mempunyai maksud pengabaran tentang masa depan dalam surah:
-An Najm (53), ayat 59;
-Al Ghaasyiah (88), ayat 1.

Dalam kedua ayat ini, lafaz hadiits menunjukkan arti hari kiamat dan hari pembalasan.

4. Kisah yang penuh pelajaran.
Lafaz hadiits dan ahaadiits berakna kisah atau kisah-kisah yang di dalam­nya ada pelajaran bagi manusia dalam ayat-ayat berikut:
-Tha Ha (20), ayat 9;
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 24;
-An Naazi'aat (79), ayat 15;
-Al Buruuj (85), ayat 17.

Kisah yang disebut dalam ayat-ayat ini ada­lah kisah malaikat yang bertamu kepada Nabi Ibrahim, kisah Nabi Musa, kisah Fir'aun dan kaum Tsamud. Semua ayat ini menggunakan lafaz hadiits dalam bentuk tunggal.

Sedangkan dalam surah Al Mu'minuun (23), ayat 44 dan surah Saba' (34), ayat 19, lafaz yang digunakan dalam bentuk jamak (ahaadiits).

Dalam surah Al Mu'minun (23), ayat 44, kisah yang dimaksudkan adalah kisah-kisah kaum terdahulu secara umum yang mendustakan agama dan akhirnya men­dapat siksaan Allah.

Sedangkan kisah yang di­ maksudkan dalam surah Saba' (34), ayat 19 adalah kisah kaum Saba'.

5. Mimpi.
Lafaz ahaadiits yang berarti mimpi hanya ada dalam surah Yusuf (12), ayat 6, 21 dan 101. Lafaz ahaadiits digunakan untuk arti mimpi karena hakikat mimpi adalah jiwa yang berbicara dalam tidur. Kesemuanya dalam bentuk jamak dan dikaitkan dengan anugerah Allah yang diberikan kepada Nabi Yusuf yaitu kemampuan menafsirkan mimpi-mimpi.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:178-179

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa', yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa' karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa' dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Al Kubraa" (surat An Nisaa' yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Ash Shughraa" (surat An Nisaa' yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf'
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 42 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 42



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.4
Rating Pembaca: 4.8 (10 votes)
Sending