Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 42 [QS. 4:42]

یَوۡمَئِذٍ یَّوَدُّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ عَصَوُا الرَّسُوۡلَ لَوۡ تُسَوّٰی بِہِمُ الۡاَرۡضُ ؕ وَ لَا یَکۡتُمُوۡنَ اللّٰہَ حَدِیۡثًا
Yauma-idzin yawaddul-ladziina kafaruu wa’ashawuurrasuula lau tusau-wa bihimul ardhu walaa yaktumuunallaha hadiitsan;
Pada hari itu, orang yang kafir dan orang yang mendurhakai Rasul (Muhammad), berharap sekiranya mereka diratakan dengan tanah (dikubur atau hancur luluh menjadi tanah), padahal mereka tidak dapat menyembunyikan sesuatu kejadian apa pun dari Allah.
―QS. An Nisaa’ [4]: 42

That Day, those who disbelieved and disobeyed the Messenger will wish they could be covered by the earth.
And they will not conceal from Allah a (single) statement.
― Chapter 4. Surah An Nisaa‘ [verse 42]

يَوْمَئِذٍ pada hari itu

(On) that Day
يَوَدُّ ingin

will wish
ٱلَّذِينَ orang-orang yang

those who
كَفَرُوا۟ kafir/ingkar

disbelieved
وَعَصَوُا۟ dan orang-orang yang mendurhakai

and disobeyed
ٱلرَّسُولَ rasul

the Messenger
لَوْ sekiranya/supaya

if
تُسَوَّىٰ disama-ratakan

was leveled
بِهِمُ dengan mereka

with them
ٱلْأَرْضُ bumi

the earth
وَلَا dan tidak

and not
يَكْتُمُونَ mereka menyembunyikan

they will (be able to) hide
ٱللَّهَ Allah

(from) Allah
حَدِيثًا sesuatu kejadian

(any) statement.

Tafsir

Alquran

Surah An Nisaa’
4:42

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 42. Oleh Kementrian Agama RI


Ayat ini menggambarkan bagaimana penyesalan orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai Rasulullah pada hari kiamat, setelah melihat hebatnya azab yang akan mereka derita.
Semua perbuatan mereka yang salah, lebih-lebih perbuatan mereka mengingkari Allah dan tidak patuh menuruti ajaran Rasul, pada hari itu akan mendapat balasan yang setimpal.

Apalagi pada hari itu sengaja Rasul didatangkan untuk menjadi saksi atas perbuatan mereka.
Alangkah malunya mereka dan menyesal atas perbuatan mereka semasa hidup di dunia.

Sampai-sampai mereka menginginkan, lebih baik mereka disamakan saja dengan tanah.
Bahkan mereka ada yang menginginkan agar jadi tanah saja, jangan jadi manusia yang akan mendapat siksaan yang hebat dari Allah.

Allah ﷻ berfirman:

يَّوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُوْلُ الْكٰفِرُ يٰلَيْتَنِيْ كُنْتُ تُرَابًا

pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya;
dan orang kafir berkata,
"Alangkah baiknya seandainya dahulu aku jadi tanah."
(an-Naba‘ [78]: 40)


Begitulah hebatnya penyesalan mereka pada hari itu, sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tidak berguna.

Pada saat itu orang-orang kafir tidak dapat menyembunyikan sedikit pun apa yang telah mereka kerjakan.
Kedurhakaan mereka kepada Allah dan Rasul, kesombongan dan ketakaburan mereka, dan tentang kebakhilan dan syafaat, selain dari Allah, semuanya berlepas diri, tidak mampu menolong dan melepaskan mereka dari siksa yang hebat itu.
Allah ﷻ berfirman:

وَيَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيْعًا ثُمَّ نَقُوْلُ لِلَّذِيْنَ اَشْرَكُوْٓا اَيْنَ شُرَكَاۤؤُكُمُ الَّذِيْنَ كُنْتُمْ تَزْعُمُوْنَ ﴿۲۲﴾ ثُمَّ لَمْ تَكُنْ فِتْنَتُهُمْ اِلَّآ اَنْ قَالُوْا وَاللّٰهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِيْنَ ﴿۲۳﴾ اُنْظُرْ كَيْفَ كَذَبُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَضَلَّ عَنْهُمْ مَّا كَانُوْا يَفْتَرُوْنَ ﴿۲۴﴾

(22) Dan (ingatlah), pada hari ketika Kami mengumpulkan mereka semua kemudian Kami berfirman kepada orang-orang yang menyekutukan Allah,
"Di manakah sembahan-sembahanmu yang dahulu kamu sangka (sekutu-sekutu Kami)?"(23) Kemudian tidaklah ada jawaban bohong mereka, kecuali mengatakan,
"Demi Allah, ya Tuhan kami, tidaklah kami mempersekutukan Allah."
(24) Lihatlah, bagaimana mereka berbohong terhadap diri mereka sendiri.
Dan sesembahan yang mereka ada-adakan dahulu akan hilang dari mereka.
(al-An’am [6]: 22, 23 dan 24).

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 42. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Di hari itu orang-orang yang ingkar dan durhaka berharap ditelan bumi seperti orang-orang mati di dalam kubur.
Mereka tidak akan bisa menyembunyikan hal ihwal mereka kepada Allah, karena Dia akan menampakkan segala keadaan dan perbuatan mereka.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Di hari itu orang-orang yang kafir kepada Allah, menyelisihi rasul dan tidak menaatinya berharap Allah menjadikan mereka sama dengan bumi, sehingga mereka menjadi tanah agar mereka tidak dibangkitkan dan mereka tidak kuasa menyembunyikan apa pun dalam hati mereka dari Allah, karena Allah mengunci mulut mereka, lalu anggota tubuh mereka bersaksi terhadap apa yang mereka perbuat.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Di hari itu) yakni hari kedatangannya


(orang-orang kafir dan yang mendurhakai Rasul menginginkan agar) seandainya


(mereka disamaratakan dengan tanah) tusawwaa dalam bentuk pasif dan ada pula yang membacanya dalam bentuk aktif dengan menghilangkan salah satu dari ta-nya pada asal lalu mengidgamkannya pada sin artinya dari tustawa sedangkan maksudnya ialah mereka ingin agar menjadi tanah karena mereka tercekam rasa takut yang hebat sebagaimana tersebut pada ayat lain,
"Dan orang kafir berkata, ‘Wahai kiranya nasib, kenapa daku tidak menjadi tanah saja!’


(dan mereka tidak dapat menyembunyikan kepada Allah suatu peristiwa pun) mengenai apa yang mereka kerjakan."
Tetapi pada kali yang lain mereka masih mencoba-coba juga untuk menyembunyikan sebagaimana tersebut dalam Alquran,
"Dan mereka berkata, ‘Demi Allah Tuhan kami, tidaklah kami mempersekutukan-Mu.’"

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Seandainya saja bumi terbelah dan menelan mereka, nisaya mereka terhindar dari kengerian dan huru-hara di Mauqif (padang mahsyar), dan terhindar dari kehinaan, kemaluan, dan cemoohan.
Makna ayat ini sama seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya. (QS. An-Naba‘ [78]: 40)
, hingga akhir ayat.

Adapun firman Allah subhanahu wa ta’ala:


dan mereka tidak dapat meyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun.


Hal ini menceritakan keadaan mereka, bahwa mereka mengakui semua yang telah mereka kerjakan, dan tidak dapat menyembunyikan dari Allah sesuatu pun dari amal perbuatan mereka.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hakim, telah menceritakan kepada kami Amr, dari Mutarrif, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Sa’id ibnu Jubair yang menceritakan bahwa seorang lelaki datang kepada Ibnu Abbas, lalu lelaki itu menanyakan kepadanya tentang firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menceritakan keadaan orang-orang musyrik di hari kiamat, bahwa mereka mengatakan:
Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.
(QS. Al-An’am [6]: 23)
Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:
dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun.
(QS. An-Nisa’ [4]: 42), Maka Ibnu Abbas mengatakan,
"Adapun mengenai firman-Nya:
‘Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah’ (QS. Al-An’am [6]: 23).
Sesungguhnya mereka (orang-orang musyrik) ketika melihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa tidak dapat masuk surga kecuali hanya orang-orang Islam, maka mereka berkata (kepada sesamanya), ‘Marilah kita mengingkari perbuatan kita!’ Lalu mereka mengatakan seperti yang disitir oleh firman-Nya:
‘Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah’ (QS. Al-An’am [6]: 23).
Maka Allah mengunci mati mulut mereka dan berbicaralah kedua kaki dan tangan mereka.
Seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
‘dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun’ (QS. An-Nisa’ [4]: 42)."

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari seorang lelaki, dari Al-Minhal ibnu Amr, dari Sa’id ibnu Jubair yang menceritakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Ibnu Abbas, lalu bertanya banyak hal yang bertentangan di dalam Alquran menurut pendapatku.
Ibnu Abbas berkata,
"Coba sebutkan yang mana, apakah engkau meragukan Alquran?"
Lelaki itu berkata,
"Tidak, tetapi aku bingung memahaminya."
Ibnu Abbas bertanya,
"Apakah yang membingungkanmu di dalam Alquran itu?"
Lelaki itu berkata bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman dalam suatu ayat, yaitu firman-Nya:
Kemudian tiadalah fitnah mereka kecuali mengatakan,
"Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah."
(QS. Al-An’am [6]: 23)
Dalam ayat yang lainnya Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:
dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun.
(QS. An-Nisa’ [4]: 42)
Ternyata dari pengertian tersebut mereka dapat menyembunyikan sesuatu dari Allah?
Maka Ibnu Abbas menjawab bahwa mengenai firman-Nya:
Kemudian tiadalah fitnah mereka kecuali mengatakan,
"Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah."
(QS. Al-An’am [6]: 23)
Sesungguhnya tatkala mereka menyaksikan di hari kiamat bahwa Allah tidak memberikan ampunan kecuali kepada pemeluk agama Islam, dan Allah mengampuni semua dosa betapapun besarnya kecuali dosa mempersekutukan Allah.
Mereka bermaksud mengingkari hal tersebut.
Untuk itu mereka mengatakan:
Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.
(QS. Al-An’am [6]: 23)
Mereka mengharapkan dengan hal ini agar Allah memberikan ampunan bagi mereka, tetapi Allah mengunci mulut mereka dan berbicaralah kedua tangan dan kedua kaki mereka tentang hal-hal yang mereka lakukan sebenarnya.
Maka di saat itulah disebutkan di dalam firman-Nya:

Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun.


Juwabir meriwayatkan dari Ad-Dahhak, bahwa Nafi’ ibnul Azraq pernah datang kepada Ibnu Abbas, lalu menanyakan kepadanya mengenai makna firman-Nya:
Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul ingin supaya mereka disamaratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun.
(QS. An-Nisa’ [4]: 42)
Juga firman-Nya:
Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.
(QS. Al-An’am [6]: 23)
Maka Ibnu Abbas berkata kepadanya,
"Aku merasa yakin bahwa kamu berangkat dari kalangan teman-temanmu dengan maksud akan menemuiku untuk menanyakan ayat-ayat mutasyabih dari Alquran.
Untuk itu apabila kamu kembali kepada mereka, beri tahukanlah kepada mereka bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menghimpun semua manusia di hari kiamat di suatu padang (mahsyar).
Lalu orang-orang yang mempersekutukan Allah mengatakan bahwa sesungguhnya Allah tidak akan menerima sesuatu pun dari seseorang kecuali dari orang yang mengesakan-Nya.
Lalu mereka berkata, ‘Marilah kita ingkari perbuatan kita.’ Ketika ditanyai, mereka mengatakan seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
‘Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah’ (QS. Al-An’am [6]: 23)."
Ibnu Abbas melanjutkan kisahnya, bahwa sebelum mereka mengatakan hal tersebut Allah mengunci mulut mereka dan berbicaralah semua anggota tubuh mereka, dan bersaksilah semua anggota tubuh mereka terhadap diri mereka dengan menyatakan bahwa sebenarnya mereka adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah.
Maka pada saat itu mereka berharap seandainya diri mereka ditelan oleh bumi.
dan mereka tidak dapat menyembunyikan (dari Allah) sesuatu kejadian pun.
(QS. An-Nisa’ [4]: 42)

Riwayat Ibnu Jarir.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa’ (4) Ayat 42

HADIITS
حَدِيث

Lafaz hadiits mempunyai beberapa arti antaranya adalah:
(1) Sesuatu yang asalnya tidak ada kemudian ada;
(2) Sesuatu yang baru;
(3) Lafaz baik itu sedikit ataupun banyak.

Bentuk jamak dari lafaz ini yang biasa digunakan adalah ahaadiits. Selain itu, ia juga mempunyai bentuk jamak hidtsaan dan hudtsaan, namun keduanya jarang digunakan.

Raghib Al Isfahani menyatakan, lafaz hadiits berarti semua jenis lafaz yang sampai kepada manusia, baik diterima melalui telinga atau wahyu, baik diterima sewaktu terjaga dari tidur maupun sewaktu tertidur.

Di dalam Al Qur’an, lafaz al hadiits yang berbentuk tunggal diulang sebanyak 23 kali yaitu dalam surah:
An Nisaa (4), ayat 42, 78, 87, 140;
-Al An’aam (6), ayat 68;
-Al A’raaf (7), ayat 185;
Yusuf (12), ayat 111;
Al Kahfi (18), ayat 6;
-Tha Ha (20), ayat 9;
Luqman (31), ayat 6;
Al Ahzab (33), ayat 53;
Az Zumar (39), ayat 23;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 6;
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 24;
Ath Thuur (52), ayat 34;
An Najm (53), ayat 59;
-Al Waaqi’ah (56), ayat 81;
At Tahrim (66), ayat 3;
Al Qalam (68), ayat 44;
Al Mursalat (77), ayat 50;
-An Naazi’aat (79), ayat 15;
Al Buruuj (85), ayat 17;
-Al Ghaasyiah (88), ayat 1.
Sedangkan dalam bentuk jamak ahaadiits, lafaz ini diulang sebanyak lima kali yaitu dalam surah:
Yusuf (12), ayat 6, 21 dan 101;
-Al Mu’minuun (23), ayat 44;
Saba‘ (34), ayat 19.

Di dalam Al Qur’an, lafaz ini baik itu dalam bentuk tunggal maupun jamak di gunakan untuk menunjukkan lima makna yaitu:

1. Kalam Allah atau Al Qur’an
Lafaz hadiits yang mempunyai maksud Kalam Allah terdapat dalam ayal-ayat berikut:
Yusuf (12), ayat 111;
-Al A’raaf (7), ayat 185;
Al Kahfi (18), ayat 6;
Az Zumar (39), ayat 23;
-Al Jaatsiyah (45), ayat 6;
Ath Thuur (52), ayat 34;
-Al Waaqi’ah (56), ayat 81;
Al Qalam (68), ayat 44;
Al Mursalat (77), ayat 50;
An Nisaa‘ (4), ayat 78, 87.

Secara umum, ayat-ayat itu membicarakan tentang sifat-sifat Kalam Allah dan sikap yang sepatutnya dilakukan oleh manusia pada Kalam Allah.
Diantara sifat-sifat Kalam Allah yang disebut dalam ayat-ayat itu adalah Kalam Allah yaitu lafaz yang paling benar (ashdaqul hadiits), kisah-kisah yang ada di dalamnya menjadi pelajaran bagi orang yang mempunyai akal.
la bukanlah cerita yang direka, menjelaskan segala sesuatu, menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Al Qur’an juga adalah lafaz yang paling baik dan indah (ahsanul hadiits).
Di dalamnya terdapat lafazlafaz yang hampir serupa tetapi berbeda maksudnya (mutasyabih), keindahan dan kemuliaan Al Qur’an menyebabkannya penuh dengan pujian (matsani), orang yang takut kepada Tuhannya gementar kulit nya apabila mendengar Al Qur’an, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang ketika mengingat Allah.
Dengan sifat-sifatnya yang demikian, Al Qur’an tidak mungkin ditandingi.
Oleh karena itu, Kalam Allah hendaklah difahami, diimani dan tidak boleh didustakan atau dianggap remeh.

2. Perkataan atau pembicaraan manusia.
Lafaz hadiits yang mempunyai maksud perkataan atau pembicaraan manusia terdapat dalam ayat-ayat berikut:
An Nisaa (4), ayat 140;
-Al An’aam (6), ayat 68;
-Luqrnan (31), ayat 6;
Al Ahzab (33), ayat 53;
At Tahrim (66), ayat 3.
Pada ayat-ayat ini, lafaz hadiits merujuk pada perkataan-perkataan di dunia yang diucapkan oleh orang kafir, munafik, para sahabat dan juga perkataan Nabi Muhammad.

Dalam surah An Nisaa (4), ayat 42, lafaz hadiits merujuk pada pengakuan orang kafir di akhirat ketika mereka di dunia sebagai orang kafir dan melakukan maksiat.

3. Berita atau kabar tentang kejadian yang akan datang.
Lafaz hadiits yang mempunyai maksud pengabaran tentang masa depan dalam surah:
An Najm (53), ayat 59;
-Al Ghaasyiah (88), ayat 1.
Dalam kedua ayat ini, lafaz hadiits menunjukkan arti hari kiamat dan hari pembalasan.

4. Kisah yang penuh pelajaran.
Lafaz hadiits dan ahaadiits berakna kisah atau kisah-kisah yang di dalamnya ada pelajaran bagi manusia dalam ayat-ayat berikut:
-Tha Ha (20), ayat 9;
-Adz Dzaariyaat (51), ayat 24;
-An Naazi’aat (79), ayat 15;
Al Buruuj (85), ayat 17.
Kisah yang disebut dalam ayat-ayat ini adalah kisah malaikat yang bertamu kepada Nabi Ibrahim, kisah Nabi Musa, kisah Fir’aun dan kaum Tsamud.
Semua ayat ini menggunakan lafaz hadiits dalam bentuk tunggal.

Sedangkan dalam surah Al Mu’minuun (23), ayat 44 dan surah Saba‘ (34), ayat 19, lafaz yang digunakan dalam bentuk jamak (ahaadiits).

Dalam surah Al Mu’minun (23), ayat 44, kisah yang dimaksudkan adalah kisah-kisah kaum terdahulu secara umum yang mendustakan agama dan akhirnya mendapat siksaan Allah.

Sedangkan kisah yang di maksudkan dalam surah Saba‘ (34), ayat 19 adalah kisah kaum Saba‘.

5. Mimpi.
Lafaz ahaadiits yang berarti mimpi hanya ada dalam surah Yusuf (12), ayat 6, 21 dan 101. Lafaz ahaadiits digunakan untuk arti mimpi karena hakikat mimpi adalah jiwa yang berbicara dalam tidur.
Kesemuanya dalam bentuk jamak dan dikaitkan dengan anugerah Allah yang diberikan kepada Nabi Yusuf yaitu kemampuan menafsirkan mimpi-mimpi.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 178-179

Unsur Pokok Surah An Nisaa’ (النّساء)

Surat An-Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al-Baqarah.

Dinamakan An Nisaa‘ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath-Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa‘ dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Al Kubraa" (surat An Nisaa‘ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Ash Shughraa" (surat An Nisaa‘ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

▪ Kewajiban para washi dan para wali.
Hukum poligami.
▪ Mas kawin.
▪ Memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya.
▪ Pokok-pokok hukum warisan.
▪ Perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya.
▪ Wanita-wanita yang haram dikawini.
Hukum mengawini budak wanita.
▪ Larangan memakan harta secara bathil.
Hukum syiqaq dan nusyuz.
▪ Kesucian lahir batin dalam shalat.
Hukum suaka.
Hukum membunuh seorang Islam.
Shalat khauf‘.
▪ Larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk.
▪ Masalah pusaka kalalah.

Kisah:

▪ Kisah-kisah tentang nabi Musa `alaihis salam dan pengikutnya.

Lain-lain:

▪ Asal manusia adalah satu.
▪ Keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita.
Normanorma bergaul dengan isteri.
▪ Hak seseorang sesuai dengan kewajibannya.
▪ Perlakuan ahli kitab terhadap kitabkitab yang diturunkan kepadanya.
▪ Dasar-dasar pemerintahan.
▪ Cara mengadili perkara.
▪ Keharusan siap-siaga terhadap musuh.
▪ Sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi peperangan.
▪ Berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf.
Norma dan adab dalam peperangan.
▪ Cara menghadapi orang-orang munafik.
▪ Derajat orang yang berjihad.

Audio

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan Indonesia

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 176

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nisaa' ayat 42 - Gambar 1 Surah An Nisaa' ayat 42 - Gambar 2
Statistik QS. 4:42
  • Rating RisalahMuslim
4.4

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa’.

Surah An-Nisa’ (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, “Wanita”) terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa’
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali ‘Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma’idah
Sending
User Review
4.8 (10 votes)
Tags:

4:42, 4 42, 4-42, Surah An Nisaa' 42, Tafsir surat AnNisaa 42, Quran AnNisa 42, An-Nisa’ 42, Surah An Nisa ayat 42

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Yunus (Nabi Yunus) – surah 10 ayat 100 [QS. 10:100]

Keimanan tidak bisa dipaksakan, tetapi harus atas dasar kerelaan, dan tidak seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah, dan Allah menimpakan azab, yakni berupa kekufuran yang berakibat pada ke … 10:100, 10 100, 10-100, Surah Yunus 100, Tafsir surat Yunus 100, Quran Yunus 100, Surah Yunus ayat 100

QS. Al Mu’minuun (Orang-orang mukmin) – surah 23 ayat 73 [QS. 23:73]

73-75. Dan sesungguhnya engkau pasti telah menyeru mereka kepada jalan yang lurus. Orang-orang kafir itu menolak seruan Nabi karena mereka tidak meyakini adanya hari Pembalasan. Dan sesungguhnya orang … 23:73, 23 73, 23-73, Surah Al Mu’minuun 73, Tafsir surat AlMuminuun 73, Quran Al Mukminun 73, Al-Mu’minun 73, Surah Al Muminun ayat 73

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, Allah berfirman bahwa Alquran adalah pedoman untuk orang ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
ذٰلِکَ الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ

Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang muttaqin (bertakwa),
--QS. 2:2

Alquran dimulai dengan surah Al Fatihah (pembukaan) dan berakhir dengan surah ...

Benar! Kurang tepat!

Alquran bertindak sebagai Hudan, yang artinya adalah ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Sifat dasar hukum Alquran adalah keseimbangan dalam hal aspek material dan psikologis, yang disebut sebagai ...

Benar! Kurang tepat!

Alquran adalah panduan dan pedoman manusia bagi mereka yang beriman. Ini dikonfirmasikan oleh Allah dalam surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
ہٰذَا بَصَآئِرُ لِلنَّاسِ وَ ہُدًی وَّ رَحۡمَۃٌ لِّقَوۡمٍ یُّوۡقِنُوۡنَ

(Alquran) ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.
--QS. 45:20

Pendidikan Agama Islam #6
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #6 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #6 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #17

Dalam Alquran, surah Ad-Dhuha turun setelah surah … Asy-Syams Al Balad Al-Lail Al-Fajr Annisa Benar! Kurang tepat! اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا

Pendidikan Agama Islam #25

Surah Al-Insyirah terdiri dari … ayat. 8 9 6 7 5 Benar! Kurang tepat! Penjelasan:Surah Al-Insyirah adalah surah ke-94 dalam

Pendidikan Agama Islam #9

Orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan infefensi hukum-hukum syariat dari sumber-sumber yang terpercaya disebut dengan … mujahid mujtahid ijtihad ulama

Instagram