QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 41 [QS. 4:41]

فَکَیۡفَ اِذَا جِئۡنَا مِنۡ کُلِّ اُمَّۃٍۭ بِشَہِیۡدٍ وَّ جِئۡنَا بِکَ عَلٰی ہٰۤؤُلَآءِ شَہِیۡدًا
Fakaifa idzaa ji-anaa min kulli ummatin bisyahiidin waji-anaa bika ‘ala ha’ulaa-i syahiidan;

Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).
―QS. 4:41
Topik ▪ Hisab ▪ Sifat hari penghitungan ▪ Sifat orang munafik
4:41, 4 41, 4-41, An Nisaa’ 41, AnNisaa 41, AnNisa 41, An-Nisa’ 41

Tafsir surah An Nisaa' (4) ayat 41

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 41. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menggambarkan bagaimana keadaan manusia di akhirat nanti Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan merugikan hamba-Nya yang mengerjakan kebaikan walaupun sedikit, tapi akan diberinya pahala yang berlipat ganda atas kebaikannya itu.

Allah menggambarkan pula, bagaimana keadaan manusia nanti kalau mereka berhadapan dengan saksi-saksi mereka.
Saksi mereka adalah Nabi-nabi mereka.
Tiap-tiap umat akan berhadapan dengan saksi mereka, seperti umat Yahudi, umat Nasrani dan Umat Islam, masing-masing umat itu akan dihadapkan ke hadapan saksinya, yaitu Nabi mereka masing-masing.
Pada waktu itulah dapat diketahui siapa yang sebenarnya pengikut Nabi dan siapa yang hanya pengakuannya saja yang mengikuti Nabi, tapi amal perbuatannya mendurhakai Nabi.

Maka siapa yang telah disaksikan oleh Nabinya bahwa dia betul-betul telah mengikuti ajaran Rasul, maka orang itu termasuk orang yang beruntung.
Bila Nabinya berlepas diri dari mereka, karena amal perbuatannya dan kepercayaannya tidak sesuai dengan yang diajarkan Rasul, maka mereka termasuk orang merugi.
Nabi Muhammad ﷺ, akan menjadi saksi bagi umat Islam nanti dan bagi semua manusia.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu”
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 143)

Nabi Muhammad sampai mencucurkan air mata, ketika mendengarkan ayat ini dibacakan seorang sahabat kepadanya, memikirkan bagaimana hebatnya suasana pada hari akhirat, beliau akan melihat dengan jelas pengikut-pengikut beliau yang setia dan benar dan yang pura-pura dan palsu, sebagaimana diterangkan dalam hadis Nabi ﷺ:

Dari Ibnu Mas’ud dia berkata: “Rasulullah ﷺ telah berkata kepada saya : “Tolong, bacakan kepada saya Alquran itu.
Lalu saya menjawab: “Ya Rasulullah, akukah yang akan membacakan kepada engkau, padahal dia diturunkan kepada engkau?”
Rasulullah berkata : “Betul, tapi saya ingin mendengarkannya dibaca oleh orang lain” Maka aku bacalah surat An Nisa’ Ketika aku sampai membaca, ayat 41 ini maka beliau bersabda : “Sekarang cukuplah sebegitu saja”.
dan air matanya bercucuran keluar”
(H.R. Bukhari dan Muslim)

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Bagaimanakah keadaan mereka yang kafir dan menentang apa yang diperintahkan Allah kepadanya, ketika Kami mendatangkan semua nabi sebagai saksi atas kaumnya pada hari kiamat, dan Kami mendatangkan kamu, wahai Muhammad, sebagai saksi atas kaummu yang di antaranya terdapat orang-orang yang menentang itu?

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Maka bagaimanakah) keadaan orang-orang kafir nanti (jika Kami datangkan dari setiap umat seorang saksi) yakni nabi mereka masing-masing yang menyaksikan amal perbuatan mereka (dan Kami datangkan kamu) hai Muhammad (sebagai saksi atas mereka itu) yakni umatmu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Bagaimana keadaan manusia di Hari Kiamat manakala Allah mengumpulkan semua umat dengan Rasul-Nya agar dia bersaksi atasnya dengan apa yang diperbuat, dan Allah menghadirkanmu wahai Rasul agar kamu menjadi saksi atas mereka dan atas umatnya, bahwa kamu telah menyampaikan risalah Tuhanmu kepada mereka?

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, menceritakan kengerian yang terjadi pada hari kiamat dan perkara serta keadaannya yang sangat keras, maka bagaimanakah perkara dan keadaan hari kiamat nanti ketika didatangkan seorang saksi dari tiap-tiap umat, yang dimaksud ialah para nabi.
Seperti pengertian yang terkandung di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Dan terang benderanglah bumi (padang mahsyar) dengan cahaya (keadilan) Tuhannya, dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan masing-masing) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi.
(Q.S. Az-Zumar [39]: 69), hingga akhir ayat.

(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri.
(Q.S. Al-Hijr [15]: 89), hingga akhir ayat.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yusuf, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Ubaidah, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadanya: “Bacakanlah (Al Qur’an) untukku!” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, apakah aku membacakan Al-Qur’an untukmu.
padahal Al-Qur’an diturunkan kepadamu?”
Rasulullah ﷺ menjawab, “Ya, sesungguhnya aku- suka bila mendengarnya dari orang lain.” Lalu aku membaca surat An-Nisa.
Ketika bacaanku sampai kepada firman-Nya:

Maka bagaimanakah apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).
Maka Nabi ﷺ bersabda: Cukuplah sekarang! Ternyata kedua mata beliau berlinangan air mata.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abdullah Az-Zuhri, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-Mas’udi, dari Ja’far ibnu Amr ibnu Harb, dari ayahnya, dari Abdullah (yaitu Ibnu Mas’ud) sehubungan dengan ayat ini.
ia menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Aku orang yang menyaksikan lagi mengetahui selagi aku berada di antara mereka, tetapi apabila Engkau mewafatkan diriku, maka hanya Engkaulah yang mengawasi mereka.

Adapun mengenai apa yang diceritakan oleh Abu Abdullah Al-Qurtubi di dalam kitab Tazkirah, ia mengatakan dalam bab “Hal yang Menyebutkan Kesaksian Nabi ﷺ atas Umatnya”,
telah menceritakan kepada kami Ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami seorang lelaki dari kalangan Ansar, dari Al-Minhal ibnu Amr, bahwa ia pernah mendengar Sa’id ibnul Musayyab mengatakan, “Tiada suatu hari pun yang terlewatkan melainkan ditampilkan kepada Nabi ﷺ perihal umatnya di pagi dan sore harinya.
Maka Nabi ﷺ mengenal nama dan amal perbuatan mereka.
Karena itulah Nabi ﷺ mempersaksikan atas perbuatan mereka.
Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Maka bagaimanakah apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).

Maka sesungguhnya hal ini adalah asar (bukan hadis), di dalam sanadnya terdapat inqita’.
Di dalam sanadnya terdapat seseorang yang tidak dikenal lagi tidak disebutkan namanya.
Hal ini merupakan periwayatan Sa’id ibnul Musayyab sendiri, dan dia tidak me-rafa’-kannya (sampai kepada Rasulullah ﷺ)

Ternyata Al-Qurtubi menerima kenyataan ini.
Lalu sesudah mengetengahkan asar ini ia mengatakan dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan bahwa semua amal perbuatan dilaporkan kepada Allah pada tiap hari Senin dan Kamis, kepada para nabi, para ayah, dan para ibu pada hari Jumat.
Al-Qurtubi mengatakan, tidak ada pertentangan mengingat barangkali hal ini khusus bagi Nabi kita saja, sehingga ditampilkan kepadanya semua amal perbuatan setiap hari, juga pada hari Jumat yang bersama-sama para nabi lainnya.


Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah An Nisaa' (4) ayat 41
Telah menceritakan kepada kami Shadaqah Telah mengabarkan kepada kami Yahya dari Sufyan dari Sulaiman dari Ibrahim dari Abidah dari Abdullah berkata,
Yahya -sebagian Hadits- dari ‘Amru bin Murrah dia berkata,
Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepadaku: “Bacakanlah Al Qur’an kepadaku!” Aku berkata,
“Bagaimana aku membacakan kepadamu, padahal Al Qur’an diturunkan kepadamu?” Beliau menjawab:
“Sesungguhnya aku suka mendengarkannya dari orang lain.”

Lalu aku membacakan kepada beliau surat An Nisa hingga tatkala sampai ayat, Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu) (An Nisa, 41), beliau berkata,
“Cukup.” Dan ternyata beliau mencucurkan air mata (menangis).

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4216

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nisaa' (4) ayat 41 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nisaa' (4) ayat 41 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nisaa' (4) ayat 41 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nisaa' - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 176 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 4:41
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa'.

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah 4
Nama Surah An Nisaa'
Arab النّساء
Arti Wanita
Nama lain Al-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 92
Juz Juz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 176
Jumlah kata 3764
Jumlah huruf 16327
Surah sebelumnya Surah Ali 'Imran
Surah selanjutnya Surah Al-Ma'idah
4.9
Ratingmu: 4.7 (9 orang)
Sending

URL singkat: risalahmuslim.id/4-41







Pembahasan ▪ penjelasan arti saksi seseorang ▪ terjemaah qs annisa 41

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim