Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 4 [QS. 4:4]

وَ اٰتُوا النِّسَآءَ صَدُقٰتِہِنَّ نِحۡلَۃً ؕ فَاِنۡ طِبۡنَ لَکُمۡ عَنۡ شَیۡءٍ مِّنۡہُ نَفۡسًا فَکُلُوۡہُ ہَنِیۡٓــًٔا مَّرِیۡٓــًٔا
Waaatuunnisaa-a shaduqaatihinna nihlatan fa-in thibna lakum ‘an syai-in minhu nafsan fakuluuhu hanii-an marii-an;
Dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan (yang kamu nikahi) sebagai pemberian yang penuh kerelaan.
Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari (maskawin) itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati.
―QS. An Nisaa’ [4]: 4

And give the women (upon marriage) their (bridal) gifts graciously.
But if they give up willingly to you anything of it, then take it in satisfaction and ease.
― Chapter 4. Surah An Nisaa‘ [verse 4]

وَءَاتُوا۟ dan berikanlah

And give
ٱلنِّسَآءَ perempuan-perempuan

the women
صَدُقَٰتِهِنَّ maskawin mereka

their dower
نِحْلَةً ikhlas/wajib

graciously.
فَإِن maka jika

But if
طِبْنَ mereka baik hati/menyerahkan

they remit
لَكُمْ bagi kalian

to you
عَن dari

of
شَىْءٍ sesuatu (sebagian)

anything
مِّنْهُ daripadanya (maskawin)

of it
نَفْسًا sendirian/senang hati

(on their) own,
فَكُلُوهُ maka makanlah ia

then eat it
هَنِيٓـًٔا dengan puas

(in) satisfaction
مَّرِيٓـًٔا cukup

(and) ease.

Tafsir

Alquran

Surah An Nisaa’
4:4

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 4. Oleh Kementrian Agama RI


Para suami agar memberikan mahar berupa sesuatu yang telah mereka janjikan kepada istri mereka pada waktu akad nikah yang terkenal dengan (mahar musamma) atau sejumlah mahar yang biasa diterima oleh keluarga istri yang terkenal dengan (mahar misil) karena tidak ada ketentuan mengenai jumlah itu sebelumnya.


Pemberian mahar ini adalah merupakan tanda kasih sayang dan menjadi bukti adanya ikatan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk membangun rumah tangga.

Namun apabila istri rela dan ikhlas, maka dalam hal ini tidak mengapa jika suami turut memanfaatkan mahar tersebut.
Ayat ini menunjukkan bahwa maskawin adalah disyariatkan oleh agama.

Pada masa jahiliah menikah tanpa maskawin.

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 4. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Berikanlah maskawin kepada wanita yang kalian nikahi dengan penuh kerelaan.
Tidak ada hak bagi kalian terhadap maskawin itu.


Tetapi jika mereka dengan senang hati menyerahkan sebagian hak maskawin itu, ambillah dan manfaatkanlah pemberian itu dengan baik dan terpuji.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Berikanlah wahai para suami mahar kepada para istri sebagai pemberian wajib lagi pasti yang harus dari kerelaan jiwa kalian.
Bila para istri itu merelakan sebagian dari mahar lalu dia memberikannya lagi kepada kalian, maka ambillah dan silahkan Anda menggunakannya karena ia adalah halal lagi baik.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Berikanlah kepada wanita-wanita itu maskawin mereka) jamak dari shadaqah


(sebagai pemberian) karena ketulusan dan kesucian hati


(Kemudian jika mereka menyerahkan kepadamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati) nafsan merupakan tamyiz yang asalnya menjadi fa’il, artinya hati mereka senang untuk menyerahkan sebagian dari maskawin itu kepadamu lalu mereka berikan


(maka makanlah dengan enak) atau sedap


(lagi baik) akibatnya sehingga tidak membawa bencana di akhirat kelak.
Ayat ini diturunkan terhadap orang yang tidak menyukainya.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kalian nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan istilah nihlah dalam ayat ini adalah mahar.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan dari Az-Zuhri.
dari Urwah, dari Siti Aisyah, bahwa nihlah adalah maskawin yang wajib.

Muqatil, Qatadah, dan Ibnu Juraij mengatakan bahwa nihlah artinya faridah (maskawin yang wajib), sedangkan Ibnu Juraij menambahkan bahwa maskawin tersebut adalah maskawin yang disebutkan.

Ibnu Zaid mengatakan, istilah nihlah dalam perkataan orang Arab artinya maskawin yang wajib.
Disebutkan,
"Janganlah kamu menikahinya kecuali dengan sesuatu (maskawin) yang wajib baginya.
Tidak layak bagi seseorang sesudah Nabi ﷺ menikahi seorang wanita kecuali dengan maskawin yang wajib.
Tidak layak penyebutan maskawin didustakan tanpa alasan yang dibenarkan."

Pada garis besarnya perkataan mereka menyatakan bahwa seorang lelaki diwajibkan membayar maskawin kepada calon istrinya sebagai suatu keharusan.
Hendaknya hal tersebut dilakukannya dengan senang hati.
Sebagaimana seseorang memberikan hadiahnya secara suka rela, maka seseorang diharuskan memberikan maskawin kepada istrinya secara senang hati pula.
Jika pihak istri dengan suka hati sesudah penyebutan maskawinnya mengembalikan sebagian dari maskawin itu kepadanya, maka pihak suami boleh memakannya dengan senang hati dan halal.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Mahdi, dari Sufyan, dari As-Saddi, dari Ya’qub ibnul Mugirah ibnu Syu’bah, dari Ali yang mengatakan,
"Apabila seseorang di antara kalian sakit, hendaklah ia meminta uang sebanyak tiga dirham kepada istrinya atau yang senilai dengan itu, lalu uang itu hendaklah ia belikan madu.
Sesudah itu hendaklah ia mengambil air hujan, lalu dicampurkan sebagai minuman yang sedap lagi baik akibatnya, sebagai obat yang diberkati."

Hasyim meriwayatkan dari Sayyar, dari Abu Saleh, bahwa seorang lelaki apabila menikahkan anak perempuannya, maka dialah yang menerima maskawinnya, bukan anak perempuannya.
Lalu Allah subhanahu wa ta’ala melarang mereka melakukan hal tersebut dan turunlah firman-Nya:

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kalian nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.

Hal ini diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail Al-Humaidi, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Umair Al-Khas’ami.
dari Abdul Malik ibnu Mugirah At-Taifi, dari Abdur Rahman ibnu Malik As-Salmani menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ Membacakan firman-Nya:

Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kalian nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.
Mereka bertanya,
"Wahai Rasulullah, berapakah tanda pertalian di antara mereka?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Jumlah yang disetujui oleh keluarga mereka."

Ibnu Murdawaih meriwayatkan melalui jalur Hajaj ibnu Artah, dari Abdul Malik ibnul Mugirah, dari Abdur Rahman ibnus Salman, dari Umar ibnul Khattab yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ berkhotbah kepada kami.
Beliau ﷺ bersabda,
"Nikahkanlah oleh kalian wanita-wanita kalian yang sendirian,"
sebanyak tiga kali.
Lalu ada seorang lelaki mendekat kepadanya dan bertanya,
"Wahai Rasulullah, berapakah tanda pengikat di antara mereka?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Sejumlah yang disetujui oleh keluarga mereka."

Ibnus Salman orangnya daif.
kemudian dalam sanad hadis ini terdapat inqita’.

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 4

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abu Shalih bahwa biasanya kaum bapak menerima dan menggunakan maskawin tanpa seizin putrinya.
Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 4) sebagai larangan terhadap perbuatan itu.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa’ (4) Ayat 4

MARII’A
مَّرِيٓـًٔا

Makna kata kerja mara’a-yamra’u ialah sedap, lezat, baik dan bermanfaat.
Kata sifatnya adalah (marii’.
Apabila dikatakan tha’aamun marii’, artinya makanan yang mudah ketika melalui tenggorokan mempunyai kesan yang baik bagi yang memakannya dan tidak menyusahkan.

Lafaz marii’ disebutkan sekali saja di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah An Nisaa (4), ayat 4. Dalam ayat ini diterangkan, setelah suami memberikan mahar kepada isteri, kemudian isteri memberikan sebahagian mahar itu kepada suaminya dengan penuh rela dan ikhlas, suami boleh memakan atau memanfaatkan harta yang diberikan isterinya itu sebagai makanan atau pemberian yang hanii’an dan marii’an.

Para pakar berbeda pendapat dalam menafsirkan kedua perkataan mi.
Sebahagian pakar menafsirkan lafaz hanii’an dengan "yang terasa sedap apabila dimakan, diminum, dimanfaatkan." Sedangkan marii’an maknanya "yang mempunyai kesan yang baik bagi pemakainya, tidak bahaya dan tidak sakit." Ada pula yang memberi makna hanii’an dengan ”yang tidak ada dosa (memanfaatkannya), sedangkan marii’an maknanya "tidak menyebabkan penyakit.

Imam Ali bin Abi Talib berkata,
”Apabila salah seorang antara kalian ingin sembuh (dari penyakit), hendaklah menulis satu ayat dari Al Qur’an di atas kertas kemudian memadamkannya dengan air hujan, kemudian ambillah dirham (uang) yang diberikan oleh isteri dengan penuh rela dan ikhlas, kemudian uang itu hendaklah digunakan untuk membeli madu, kemudian minumlah.
Itu semua adalah obat.

Ini karena, dengan berkumpulnya keempat perkara ini, berkumpullah hanii’an, marii’an, mubaarakan’ dan syifaa’, sesuai dengan keterangan di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al Israa (17), ayat 82; An Nahl (16), ayat 69 dan An Nisaa (4), ayat 4.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 558-559

Unsur Pokok Surah An Nisaa’ (النّساء)

Surat An-Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al-Baqarah.

Dinamakan An Nisaa‘ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath-Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa‘ dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Al Kubraa" (surat An Nisaa‘ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Ash Shughraa" (surat An Nisaa‘ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

▪ Kewajiban para washi dan para wali.
Hukum poligami.
▪ Mas kawin.
▪ Memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya.
▪ Pokok-pokok hukum warisan.
▪ Perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya.
▪ Wanita-wanita yang haram dikawini.
Hukum mengawini budak wanita.
▪ Larangan memakan harta secara bathil.
Hukum syiqaq dan nusyuz.
▪ Kesucian lahir batin dalam shalat.
Hukum suaka.
Hukum membunuh seorang Islam.
Shalat khauf‘.
▪ Larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk.
▪ Masalah pusaka kalalah.

Kisah:

▪ Kisah-kisah tentang nabi Musa `alaihis salam dan pengikutnya.

Lain-lain:

▪ Asal manusia adalah satu.
▪ Keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita.
Normanorma bergaul dengan isteri.
▪ Hak seseorang sesuai dengan kewajibannya.
▪ Perlakuan ahli kitab terhadap kitabkitab yang diturunkan kepadanya.
▪ Dasar-dasar pemerintahan.
▪ Cara mengadili perkara.
▪ Keharusan siap-siaga terhadap musuh.
▪ Sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi peperangan.
▪ Berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf.
Norma dan adab dalam peperangan.
▪ Cara menghadapi orang-orang munafik.
▪ Derajat orang yang berjihad.

Audio

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan Indonesia

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 176

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nisaa' ayat 4 - Gambar 1 Surah An Nisaa' ayat 4 - Gambar 2
Statistik QS. 4:4
  • Rating RisalahMuslim
4.8

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa’.

Surah An-Nisa’ (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, “Wanita”) terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa’
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali ‘Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma’idah
Sending
User Review
4.2 (14 votes)
Tags:

4:4, 4 4, 4-4, Surah An Nisaa' 4, Tafsir surat AnNisaa 4, Quran AnNisa 4, An-Nisa’ 4, Surah An Nisa ayat 4

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 261 [QS. 2:261]

Setelah menjelaskan kekuasaan-Nya menghidupkan makhluk yang telah mati, Allah beralih menjelaskan permisalan terkait balasan yang berlipat ganda bagi orang yang berinfak di jalan Allah. Perumpamaan ke … 2:261, 2 261, 2-261, Surah Al Baqarah 261, Tafsir surat AlBaqarah 261, Quran Al-Baqarah 261, Surah Al Baqarah ayat 261

QS. Al Baqarah (Sapi Betina) – surah 2 ayat 269 [QS. 2:269]

Dia memberikan hikmah, yaitu kemampuan untuk memahami rahasia-rahasia syariat agama dan sifat bijak berupa kebenaran dalam setiap perkataan dan perbuatan kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa … 2:269, 2 269, 2-269, Surah Al Baqarah 269, Tafsir surat AlBaqarah 269, Quran Al-Baqarah 269, Surah Al Baqarah ayat 269

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Surah Al-Insyirah diawali dengan lafal ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

a lam nasyraḥ laka ṣadrak

'Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?'
--QS. Al-Insyirah [94] : 1

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ

Ayat diatas terdapat dalam Alquran surah Al-Insyirah ayat ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ

wa waḍa'nā 'angka wizrak

'dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,'
--QS. Al-Insyirah [94] : 2

أَلَمْ dalam surah Al-Insyirah berarti ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

a lam nasyraḥ laka ṣadrak

'Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?'
--QS. Al-Insyirah [94] : 1

+

Array

Surah Al-Insyirah terdiri dari ... ayat.

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Insyirah adalah surah ke-94 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Ad-Duha.

Surah Al-Insyirah turun sesudah surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Insyirah adalah surah ke-94 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Ad-Duha.

Pendidikan Agama Islam #25
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #25 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #25 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #23

Meja, kursi, manusia, hewan dan tumbuhan adalah merupakan salah satu cara mengenal Allah Subhanahu Wa Ta`ala melalui … alam semesta

Pendidikan Agama Islam #6

Alquran dimulai dengan surah Al Fatihah (pembukaan) dan berakhir dengan surah … Al ‘Alaq Al Ikhlas An-nas Al Falaq Ali

Pendidikan Agama Islam #30

Yang diajarkan oleh Rasulullah adalah jika kita melihat kemungkaran untuk mencegahnya pertama kali dengan … Kekerasan Doa Ilmu Pengetahuan Tangan

Instagram