Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 37 [QS. 4:37]

ۣالَّذِیۡنَ یَبۡخَلُوۡنَ وَ یَاۡمُرُوۡنَ النَّاسَ بِالۡبُخۡلِ وَ یَکۡتُمُوۡنَ مَاۤ اٰتٰہُمُ اللّٰہُ مِنۡ فَضۡلِہٖ ؕ وَ اَعۡتَدۡنَا لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابًا مُّہِیۡنًا
Al-ladziina yabkhaluuna waya’muruunannaasa bil bukhli wayaktumuuna maa aataahumullahu min fadhlihi waa’tadnaa lilkaafiriina ‘adzaaban muhiinan;
(yaitu) orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya.
Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan.
―QS. An Nisaa’ [4]: 37

Who are stingy and enjoin upon (other) people stinginess and conceal what Allah has given them of His bounty – and We have prepared for the disbelievers a humiliating punishment –
― Chapter 4. Surah An Nisaa‘ [verse 37]

ٱلَّذِينَ orang-orang yang

Those who
يَبْخَلُونَ (mereka) kikir

are stingy
وَيَأْمُرُونَ dan (mereka) menyuruh

and order
ٱلنَّاسَ manusia/orang lain

the people
بِٱلْبُخْلِ dengan berbuat kikir

[of] stinginess
وَيَكْتُمُونَ dan mereka menyembunyikan

and hide
مَآ apa (karunia)

what
ءَاتَىٰهُمُ memberikan kepada mereka

(has) given them
ٱللَّهُ Allah

Allah
مِن dari

of
فَضْلِهِۦ karuniaNya

His Bounty –
وَأَعْتَدْنَا dan Kami sediakan

and We (have) prepared
لِلْكَٰفِرِينَ untuk orang-orang kafir

for the disbelievers
عَذَابًا siksa

a punishment
مُّهِينًا menghinakan

humiliating.

Tafsir

Alquran

Surah An Nisaa’
4:37

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 37. Oleh Kementrian Agama RI


Siapakah orang yang sombong dan takabur itu dan bagaimana perbuatannya?
Mereka adalah orang-orang yang bakhil, tidak mau berbuat kebaikan sebagaimana yang telah diperintahkan Allah.
Mereka tidak mau memberikan pertolongan dengan harta, tenaga dan pikiran untuk kemaslahatan sesama manusia.

Di samping bakhil mereka mempengaruhi orang lain untuk berlaku bakhil, agar orang lain tidak mengeluarkan hartanya untuk menolong orang yang perlu ditolong.
Di dalam hati mereka tersimpan sifat loba dan tamak kepada harta benda.

Biar orang lain hidup melarat dan sengsara, asal mereka dapat hidup senang dan bermegah-megah.
Mereka menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya.

Mereka berpura-pura seperti orang yang selalu dalam kesempitan dan kekurangan.
Mereka yang seperti itu termasuk manusia yang tidak bersyukur kepada Allah, mereka adalah orang yang kafir atas nikmat Allah.

Bagi orang kafir, Allah menyediakan siksa yang menghinakan, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 37. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Mereka adalah orang-orang yang, di samping sombong dan membanggakan diri, kikir dengan hartanya, menjauhi sesama manusia, dan mengajak orang lain untuk berbuat kikir seperti mereka.
Mereka menganggap kecil karunia yang telah diberikan Allah kepadanya, suatu anggapan yang tidak ada manfaatnya sama sekali bagi mereka dan juga bagi orang lain.


Bagi orang-orang yang mengingkari nikmat seperti mereka, Kami sediakan siksa yang menyakitkan dan merendahkan.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


(Yaitu) orang-orang yang menolak untuk berinfak dan memberi dari apa yang Allah rizkikan kepada mereka dan memerintahkan orang lain untuk berbuat bakhil, mengingkari nikmat-nikmat Allah atas mereka, menyembunyikan karunia dan pemberian Allah.
Kami telah menyiapkan siksa yang menghinakan bagi orang-orang yang ingkar.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Orang-orang yang) menjadi mubtada


(kikir) mengeluarkan apa yang wajib mereka keluarkan


(dan menyuruh manusia supaya kikir pula) dengannya


(serta menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepada mereka) berupa ilmu maupun harta, dan mereka ini ialah orang-orang Yahudi sedangkan yang menjadi khabar mubtadanya ialah:
bagi mereka ancaman dahsyat


(dan Kami sediakan bagi orang-orang yang kafir) terhadap hal itu dan hal-hal lainnya


(siksa yang menghinakan).

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mencela orang-orang yang kikir dengan harta benda mereka, tidak mau menginfakkannya untuk keperluan hal-hal yang diperintahkan oleh Allah, seperti berbakti kepada kedua orang tua, berbuat kebajikan kepada kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh dan teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahaya yang mereka miliki.
Mereka tidak mau membayar hak Allah yang ada pada harta mereka, bahkan mereka menganjurkan orang lain untuk bersikap kikir.
Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Penyakit manakah yang lebih parah dari penyakit kikir?

Dalam kesempatan yang lain Rasulullah ﷺ bersabda pula:

Hati-hatilah kalian terhadap sifat kikir, karena sesungguhnya sifat kikir itu telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.
Sifat kikir memerintahkan kepada mereka untuk memutuskan hubungan silaturahmi, lalu mereka memutuskannya.
Dan sifat kikir memerintahkan kepada mereka untuk berbuat maksiat, lalu mereka mengerjakannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka.

Orang yang kikir adalah orang yang ingkar kepada nikmat Allah, nikmat Allah tidak tampak pada dirinya, tidak kelihatan pada makanan, pakaian, tidak pula pada pemberian dan sumbangan.
Seperti yang disebutkan di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya.
(QS. Al-‘Adiyat [100]: 6-7)

Yakni menyaksikan keadaan dan sepak terjangnya sendiri yang ingkar itu.

dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.
(QS. Al-‘Adiyat [100]: 8)

Sedangkan dalam surat An-Nisa ini disebutkan:


dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka.
(QS. An-Nisa’ [4]: 37)

Karena itulah dalam firman selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala mengancam mereka:


Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.
(QS. An-Nisa’ [4]: 37)

Al-Kufru artinya menutupi dan menyembunyikan, orang yang kikir menutupi nikmat Allah yang diberikan kepadanya, lalu ia sembunyikan dan ia ingkari, maka dia kafir terhadap nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya.
Di dalam sebuah hadis disebutkan:

Sesungguhnya Allah apabila memberikan suatu nikmat kepada seorang hamba, Dia suka bila si hamba menampakkan pengaruh dari nikmat itu pada dirinya.

Dalam doa Nabawi disebutkan:

Dan jadikanlah kami orang-orang yang mensyukuri nikmat-Mu, memuji-Mu karenanya, menerimanya, dan sempurnakanlah nikmat-Mu kepada kami.

Sebagian ulama Salaf menginterpretasikan makna ayat ini ditujukan kepada kekikiran orang-orang Yahudi, karena mereka telah mengetahui perihal sifat Nabi Muhammad ﷺ melalui kitabkitab yang ada di tangan mereka, tetapi mereka menyembunyikannya.
Untuk itulah disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, dari Muhammad ibnu Abu Muhammad, dari Ikrimah atau Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas.
Pendapat ini dikatakan oleh Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang.

Tidak diragukan memang ayat ini mengandung pengertian tersebut.
Tetapi makna lahiriah ayat menunjukkan sifat kikir dalam masalah harta benda, sekalipun kikir dalam masalah ilmu termasuk pula ke dalam maknanya dengan pengertian yang prioritas.

Konteks ayat ini berkaitan dengan memberi nafkah kepada kaum kerabat dan orang-orang lemah (miskin).

Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 37

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa para ulama bani Israel itu bakhil dengan ilmu yang mereka miliki.
Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 37) sebagai peringatan terhadap perbuatan seperti itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Ishaq, dari Muhammad bin Abi Muhammad, dari ‘Ikrimah atau Sa’id, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Kurdum bin Zaid, sekutu Ka’b bin al-Asyraf, Usamah bin Habib, Nafi’ bin Abi Nafi’, Bahri bin ‘Amr, Hayy bin Akhthab, dan Rifa’ah bin Zaid bin at-Tabut mendatangi orang-orang Anshar dan menasehatinya dengan berkata: “Janganlah kamu membelanjakan hartamu, kami takut kalau-kalau kamu jadi fakir dengan hilangnya harta itu; dan janganlah kamu terburu-buru menginfakkan, karena kamu tidak tahu apa yang akan terjadi.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 37) sebagai laranggan menjadi orang kikir dan larangan menganjurkan orang lain menjadi orang kikir.

Sumber : Asbabun Nuzul – K.H.Q Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Unsur Pokok Surah An Nisaa’ (النّساء)

Surat An-Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al-Baqarah.

Dinamakan An Nisaa‘ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath-Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa‘ dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Al Kubraa" (surat An Nisaa‘ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Ash Shughraa" (surat An Nisaa‘ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

▪ Kewajiban para washi dan para wali.
Hukum poligami.
▪ Mas kawin.
▪ Memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya.
▪ Pokok-pokok hukum warisan.
▪ Perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya.
▪ Wanita-wanita yang haram dikawini.
Hukum mengawini budak wanita.
▪ Larangan memakan harta secara bathil.
Hukum syiqaq dan nusyuz.
▪ Kesucian lahir batin dalam shalat.
Hukum suaka.
Hukum membunuh seorang Islam.
Shalat khauf‘.
▪ Larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk.
▪ Masalah pusaka kalalah.

Kisah:

▪ Kisah-kisah tentang nabi Musa `alaihis salam dan pengikutnya.

Lain-lain:

▪ Asal manusia adalah satu.
▪ Keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita.
Normanorma bergaul dengan isteri.
▪ Hak seseorang sesuai dengan kewajibannya.
▪ Perlakuan ahli kitab terhadap kitabkitab yang diturunkan kepadanya.
▪ Dasar-dasar pemerintahan.
▪ Cara mengadili perkara.
▪ Keharusan siap-siaga terhadap musuh.
▪ Sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi peperangan.
▪ Berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf.
Norma dan adab dalam peperangan.
▪ Cara menghadapi orang-orang munafik.
▪ Derajat orang yang berjihad.

Audio

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan Indonesia

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 176

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nisaa' ayat 37 - Gambar 1 Surah An Nisaa' ayat 37 - Gambar 2
Statistik QS. 4:37
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa’.

Surah An-Nisa’ (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, “Wanita”) terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa’
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali ‘Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma’idah
Sending
User Review
4.3 (29 votes)
Tags:

4:37, 4 37, 4-37, Surah An Nisaa' 37, Tafsir surat AnNisaa 37, Quran AnNisa 37, An-Nisa’ 37, Surah An Nisa ayat 37

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Ayat Lainnya

QS. Asy Shyuura (Musyawarah) – surah 42 ayat 52 [QS. 42:52]

52. Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu, wahai Nabi Muhammad, ruh, yaitu Al-Qur’an yang di turunkan dengan perantaraan Jibril dengan perintah Kami. Sebelumnya, yaitu sebelum Al-Qur’an itu di turunk … 42:52, 42 52, 42-52, Surah Asy Shyuura 52, Tafsir surat AsyShyuura 52, Quran Asy Syura 52, Asy-Syura 52, Surah Asy Syura ayat 52

QS. Al Furqaan (Pembeda) – surah 25 ayat 8 [QS. 25:8]

8. Atau kalau hal itu pun tidak terpenuhi, mengapa tidak diturunkan kepadanya khazanah dari langit berupa harta kekayaan sehingga dia tidak perlu bersusah payah mencari rezeki, atau mengapa tidak ada … 25:8, 25 8, 25-8, Surah Al Furqaan 8, Tafsir surat AlFurqaan 8, Quran Al Furqan 8, AlFurqan 8, Al-Furqan 8, Surah Al Furqan ayat 8

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Berdasarkan bahasa, ijma artinya adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Pengertian ijtihad menurut istilah adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Era ketidaktahuan juga disebut zaman ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Arti hadits maudhu' adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Orang yang memiliki kemampuan untuk melakukan infefensi hukum-hukum syariat dari sumber-sumber yang terpercaya disebut dengan ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Mujtahid (bahasa Arab: المجتهد) atau fakih (الفقيه) adalah seseorang yang dalam ilmu fikih sudah mencapai derajat ijtihad dan memiliki kemampuan istinbath (inferensi) hukum-hukum syariat dari sumber-sumber muktabar dan diandalkan.

Pendidikan Agama Islam #9
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #9 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #9 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #3

Berikut ini yang bukan termasuk orang-orang pertama yang menyambut ajakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah … Khalid bin Walid

Pendidikan Agama Islam #22

Salah satu contoh takdir muallaq (bisa diubah) adalah … kepandaian kelahiran dan kematian keturunan kematian kelahiran Benar! Kurang tepat! Takdir

Pendidikan Agama Islam #14

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih remaja, baginda telah bekerja mengambil upah sebagai pengembala binatang ternak. Apakah binatang

Instagram