Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 36


وَ اعۡبُدُوا اللّٰہَ وَ لَا تُشۡرِکُوۡا بِہٖ شَیۡئًا وَّ بِالۡوَالِدَیۡنِ اِحۡسَانًا وَّ بِذِی الۡقُرۡبٰی وَ الۡیَتٰمٰی وَ الۡمَسٰکِیۡنِ وَ الۡجَارِ ذِی الۡقُرۡبٰی وَ الۡجَارِ الۡجُنُبِ وَ الصَّاحِبِ بِالۡجَنۡۢبِ وَ ابۡنِ السَّبِیۡلِ ۙ وَ مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ مَنۡ کَانَ مُخۡتَالًا فَخُوۡرَا
Waa’buduullaha walaa tusyrikuu bihi syai-an wa bil waalidaini ihsaanan wabidziil qurba wal yataama wal masaakiini wal jaari dziil qurba wal jaaril junubi wash-shaahibi bil janbi waabnissabiili wamaa malakat aimaanukum innallaha laa yuhibbu man kaana mukhtaaalan fakhuuran;

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.
Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,
―QS. 4:36
Topik ▪ Iman ▪ Iman adalah ucapan dan perbuatan ▪ Keabadian surga
4:36, 4 36, 4-36, An Nisaa’ 36, AnNisaa 36, AnNisa 36, An-Nisa’ 36
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 36. Oleh Kementrian Agama RI

Mengabdi dan menyembah kepada Allah dinamakan ibadah.
Beribadah dengan penuh keikhlasan hati, mengakui keesaan Nya dan tidak mempersekutukan Nya dengan sesuatu, itulah kewajiban seseorang kepada Allah.
Melakukan ibadah kepada Allah nampak dalam amal perbuatan setiap hari seperti mengerjakan apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah dan telah dicontohkannya, seperti salat, puasa, zakat.
naik haji dan lain-lain yang dinamakan ibadah khusus.
Kemudian ibadah umum, yaitu semua pekerjaan yang baik yang dikerjakan dalam rangka patuh dan taat kepada Allah saja, bukan karena yang lainnya, seperti membantu fakir miskin, menolong dan memelihara anak yatim, mengajar orang, menunjukkan jalan kepada orang yang sesat dalam perjalanan, menyingkirkan hal-hal yang dapat mengganggu orang di tengah jalan dan sebagainya.
Dalam mengerjakan ibadah itu, harus dengan ikhlas, memurnikan ketaatan kepada Nya dan tidak mempersekutukan Nya dengan yang lain.
Ada bermacam-macam pekerjaan manusia yang menyebabkan dia menjadi musyrik, di antaranya ialah, menyembah berhala sebagai perantara agar permohonannya disampaikan kepada Allah.
Mereka bersembah sujud dihadapan berhala-hala itu untuk menyampaikan hajat dan maksud mereka.
Perbuatan manusia yang seperti itu banyak disebutkan Allah dalam Alquran.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan mereka menyembah selain dari pada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah” Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi ?.
Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu)”

(Q.S.
Yunus: 18)

Ada pula golongan lain yang termasuk musyrik juga.
sebagaimana yang disebutkan Allah dalam Alquran, yaitu orang-orang Nasrani yang menyembah Nabi Isa as, putra Maryam.
Di samping mereka menyembah Allah, juga mereka mengakui Isa as sebagai Tuhan mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa.
Tidak ada Tuhan selain Dia, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan

Ada lagi semacam orang musyrik dan macam seperti ini banyak terdapat pada masa sekarang, yaitu orang yang memohon dan meminta syafaat dengan perantaraan orang-orang yang dianggapnya suci dan keramat, baik orang-orang yang dianggapnya suci itu masih hidup maupun sudah mati.
Mereka mendatangi kuburannya, di sanalah mereka menyampaikan hajat dan doa, bahkan mereka sampai bermalam-malam di sana.
Mereka berwasilah kepadanya dan dengan berwasilah itu, maksudnya akan berhasil dan doanya akan makbul.
tidak jarang pula terjadi manusia berdoa meminta kepada batu, pohon kayu, roh nenek moyang, jin, hantu dan sebagainya.
Semua ini digolongkan perbuatan syirik.

Maka kewajiban seseorang kepada Allah, ialah menyembah Nya dan tidak mempersekutukan Nya dengan yang lain-lain.
Sabda Rasulullah ﷺ:

“Dari Mu’az bin Jabal, Rasulullah ﷺ bersabda: “Ya Mu’az, tahukah engkau apakah hak Allah atas hamba Nya, dan apa pula hak hamba atas Allah?”
Saya menjawab: “Allah dan Rasul Nya yang lebih tahu”.
Rasulullah berkata: “Hak Allah atas hamba N) dialah supaya hamba-Nya menyembah Nya dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu.
Hak hamba atas Allah ialah bahwa Allah tidak akan mengazab hamba Nya yang tidak mempersekutukan Nya dengan sesuatu”
(H.R.
Bukhari dan Muslim)

Kemudian dalam ayat .ini Allah mengatur tentang kewajiban terhadap sesama manusia.
Sesudah Allah memerintahkan agar menyembah dan beribadah kepada Nya saja dengan tidak mempersekutukan Nya dengan yang lain, selanjutnya Allah memerintahkan agar berbuat baik kepada ibu-bapak.
Berbuat baik kepada ibu bapak adalah suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap manusia.
Perintah mengabdi kepada Allah diiringi dengan perintah berbuat baik kepada ibu bapak adalah suatu peringatan bahwa jasa ibu bapak itu sungguh besar dan tidak dapat dinilai harganya dengan benda.
Selain ayat ini ada lagi beberapa ayat dalam Alquran yang memerintahkan supaya berbuat baik kepada ibu bapak seperti Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.
Bersyukurlah kepada Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada Ku lah kembalimu.

(Q.S.
Luqman: 14)

Dan firman Nya:

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.
Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

(Q.S.
Al-Isra’: 23)

Berbuat baik kepada ibu bapak itu mencakup segala-galanya, baik dengan perkataan maupun dengan perbuatan yang dapat membikin senang hati mereka keduanya.
Berlaku lemah lembut dan sopan santun kepada keduanya termasuk berbuat baik kepadanya.
Mengikuti nasihatnya, selama tidak bertentangan dengan ajaran Allah juga termasuk berbuat baik.
Andaikata keduanya memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Allah, perintahnya boleh tidak dipatuhi, tetapi terhadap keduanya tetap dijaga hubungan yang baik.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.
(Q.S.
Luqman: 15)

Termasuk pula berbuat baik mendoakan keduanya supaya Allah mengampuni dosanya sebab keduanya telah berjasa banyak, mendidik, memelihara dan mengasuh semenjak kecil.

Sesudah Allah menyuruh agar selalu berbuat.
baik kepada ibu bapak selama hayat masih di kandung badan, karena ibu bapak itu adalah manusia yang paling berjasa, Allah menyuruh pula agar berbuat baik kepada karib kerabat.
Karib kerabat adalah orang yang paling dekat hubungannya dengan seseorang sesudah ibu bapak, biasa juga disebut famili, baik karena ada hubungan darah maupun karena yang lainnya.

Kalau seseorang telah dapat menunaikan kewajibannya kepada Allah dengan sebaik-baiknya dan dengan sempurna, maka dengan sendirinya akidah orang itu akan bertambah kuat dan amal perbuatannya akan bertambah baik.
Kemudian bila dia telah menunaikan pula kewajibannya kepada kedua ibu bapaknya dengan ikhlas dan setia, akan terwujudlah rumah tangga yang aman dan damai dan akan berbahagialah seluruh rumah tangga itu.

Bilamana rumah tangga telah aman dan damai akan timbullah kekuatan.
Kemudian dengan keluarga dan rumah tangga yang kuat itu, ia dapat melanjutkan berbuat baik kepada karib kerabat dan sanak famili.
Maka akan terhimpunlah suatu kekuatan besar dalam masyarakat.
Dari masyarakat yang seperti ini akan mudahlah terwujud sifat tolong-menolong dan bantu-membantu, berbuat baik kepada anak-anak yatim dan orang-orang miskin.

Berbuat baik kepada anak-anak yatim dan orang-orang miskin, bukan didorong oleh karena ada hubungan darah dan famili, tapi.
semata-mata karena dorongan perikemanusiaan yang ditumbuhkan oleh rasa iman kepada Allah.

Iman kepada Allahlah yang menumbuhkan kasih sayang menyantuni anak-anak yatim dan orang-orang miskin, sebab banyak terdapat perintah-perintah Allah di dalam Al Qur’an yang menyuruh berbuat baik kepada anak-anak yatim dan orang-orang miskin itu.
Tangan siapakan lagi yang dapat diharapkan oleh mereka itu untuk menolongnya, selain dari orang-orang yang penuh dadanya dengan sifat kasih sayang, yaitu orang-orang yang beriman yang mempunyai perikemanusiaan.

Anak-anak yatim itu tidak mempunyai bapak lagi yang akan mengurus dan membelanjainya dan orang-orang miskin itu tidak mempunyai daya lagi untuk membiayai hidupnya sehari-hari.
Mungkin karena lemah badannya atau oleh karena tidak cukup pendapatannya dari sehari ke sehari.
Supaya mereka tetap menjadi anggota masyarakat yang baik jangan sampai terjerumus ke lembah kehinaan dan nista, setiap manusia yang mempunyai perikemanusiaan dan mempunyai rasa kasih sayang, haruslah bersedia turun tangan membantu dan menolong mereka, sehingga lambat laun derajat hidup mereka dapat dinaikkan setingkat demi setingkat.

Selain dari itu Allah juga menyuruh berbuat baik kepada tetangga yang dekat.
dan tetangga yang jauh, kepada teman sejawat, ibnusabil dan hamba sahaya.
Yang dimaksud dengan tetangga dekat dan yang jauh ialah orang-orang berdekatan rumahnya, sering berjumpa setiap hari, nampak setiap hari keluar masuk rumahnya.

Berbuat baik kepada tetangga adalah penting, karena pada hakikatnya tetangga itulah yang menjadi saudara dan famili.
Kalau terjadi apa-apa, dialah yang paling dahulu datang memberikan pertolongannya baik siang hari, lebih-lebih di waktu malam hari.
Saudara-saudara dan sanak famili yang sebenarnya berjauhan tempat tinggalnya, belum tentu dapat diharapkan dengan cepat memberikan pertolongan di waktu di perlukan, seperti halnya tetangga itu harus dijaga hubungan yang baik dengan tetangga, jangan sampai terjadi perselisihan dan pertengkaran, walaupun tetangga itu orang beragama lain.
nabi Muhammad ﷺ pernah melayat anak tetangganya orang Yahudi.
Ibnu Umar pernah menyembelih seekor kambing, lalu dia berkata kepada bujangnya: “Sudahkah engkau berikan hadiah kepada tetangga kita orang Yahudi itu ?
Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

“Malaikat Jibril tidak henti-henti menasihati aku, agar berbuat baik kepada tetangga.
sehingga aku menyangka bahwa tetangga itu akan mewarisi aku”
(H.R.
Bukhari dan Muslim)

Banyak hadis yang menerangkan kewajiban bertetangga secara baik di antaranya:

“Siapa-siapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhirat, maka hendaklah dia berbuat baik kepada tetangganya”
(H.R.
Bukhari dan Muslim)

Dan hadis

Dari Jabir bin Abdullah dia berkata, Telah bersabda Rasulullah ﷺ: “Tetangga itu ada tiga macam, yaitu Tetangga yang mempunyai satu hak saja, merupakan hak yang paling ringan.
Ada tetangga yang mempunyai dua hak dan ada tetangga yang mempunyai tiga hak, inilah tetangga yang paling utama haknya.
Adapun tetangga yang hanya mempunyai satu hak saja, ialah tetangga musyrik, tidak ada hubungan darah dengan dia, dia mempunyai hak bertetangga.
Adapun tetangga yang mempunyai dua hak, ialah tetangga muslim, baginya ada hak sebagai muslim dan hak sebagai tetangga.
Tetangga yang mempunyai tiga hak ialah tetangga muslim dan ada pula hubungan darah.
Baginya ada hak sebagai tetangga, hak sebagai muslim dan hak sebagai famili”
(H.R.
Abu Bakar Al-Bazzar dari Jabir bin Abdullah)

Dan sabdanya:

“Demi Allah, tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah, tidak beriman “Rasulullah ditanya orang, ,Siapa ya Rasulullah?”
Rasulullah menjawab: “Ialah orang yang tidak aman tetangganya dari kejahatannya”
(H.R.
Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Sabda Rasulullah ﷺ:

“Ya Abu Zar, kalau engkau membuat gulai (sop) banyakkanlah kuahnya, kemudian berilah tetanggamu”

Yang dimaksud berbuat baik kepada teman sejawat, ialah teman yang sama-sama dalam perjalanan, atau sama-sama dalam belajar.
atau sama-sama dalam pekerjaan yang mereka mengharapkan pertolongan.
Maka kepada mereka harus diberikan pertolongan, sehingga hubungan berkawan dan berteman tetap terpelihara.
Setia-kawan adalah lambang ukhuwah Islamiah.
lambang persaudaraan dalam Islam.

Yang dimaksud dengan berbuat baik kepada ibnus sabil.
ialah menolong orang yang sedang dalam perjalanan, atau dalam perantanan yang jauh dari sanak famili dan memerlukan pertolongan, di saat dia ingin kembali ke negerinya.
Termasuk ibnus sabil ini, anak yang diketemukan yang tidak diketahui ibu bapaknya.
Maka kewajiban seseorang yang berimanlah menolong anak tersebut, memeliharanya atau mencarikan di mana tempat orang tuanya atau familinya.
supaya anak itu jangan terlunta-lunta hidupnya yang akibatnya akan menjadi anak yang rusak rohani dan jasmaninya.

Berbuat baik kepada hamba sahaya, ialah dengan jalan memerdekakan.
Apakah tuannya sendiri yang memerdekakannya atau orang lain dengan membelinya kepada tuannya, kemudian dimerdekakan, Pada zaman sekarang ini tidak terdapat lagi hamba sahaya, sebab perbudakan itu bertentangan dengan hak asasi manusia.
Agama Islampun tidak menginginkan adanya perbudakan itu.
Karena itu semua hamba sahaya yang bertemu sebelum Islam datang, berangsur-angsur mereka dimerdekakan dari tuannya, sehingga akhirnya habislah perbudakan itu.

Yang dimaksud dengan orang yang sombong dan membanggakan diri dalam ayat ini, ialah orang-orang yang takabur yang dalam gerak-geriknya memperlihatkan kebesaran dirinya, begitu juga dalam pembicaraannya nampak kesombongannya, melebihi orang lain, dialah yang tinggi dan mulia, orang lain rendah dan hina.
Orang yang sombong dan membanggakan diri itu tidak disukai Allah, sebab orang-orang yang seperti itu termasuk manusia yang tak tahu diri, lupa daratan dan akhirnya akan menyesal.
Sifat takabur itu adalah hak Allan, bukan hak manusia.
Siapa yang mempunyai sifat sombong dan takabur berarti menantang Allah.
Biasanya orang yang sombong dan takabur itu kasar budi pekertinya dan busuk hatinya.
Dia tidak dapat menunaikan kewajiban dengan baik dan ikhlas, baik kewajiban kepada Allah maupun kewajiban terhadap sesama manusia.

Banyak hadis-hadis yang mencela orang-orang yang sombong dan takabur, di antaranya: Sabda Rasulullah ﷺ:

“Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat takabur walaupun sedikit”.
Berkata seorang sabahat: “Seseorang itu ingin memakai pakaian yang bogus dan sandal yang bagus”.
Berkata Rasulullah ﷺ: “Sesungguhnya Allah itu indah dan senang kepada keindahan.
Sifat takabur itu ialah menolak yang benar dan memandang rendah kepada orang lain”.
Apakah yang akan disombongkan manusia itu, padahal semua yang ada padanya adalah kepunyaan Allah yang dititipkan kepadanya buat sementara.
Lambat laun semuanya itu akan diambil Allah kembali, berikut nyawa dan tubuhnya yang kasar itu dan semuanya itu akan dipertanggung jawabkan kepada Allah nantinya.
(H.R.
Abu Daud, Tirmizi, dari Ibnu Mas’ud)

An Nisaa' (4) ayat 36 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 36 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 36 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Beribadahlah kalian hanya kepada Allah dan janganlah menjadikan sekutu bagi-Nya dalam hal-hal ketuhanan dan peribadatan.
Berbuat baiklah kepada orangtuamu tanpa kelalaian.
Juga kepada sanak keluarga, anak yatim, orang-orang yang memerlukan bantuan karena ketidakmampuan atau karena tertimpa bencana, tetangga dekat, baik ada hubungan keluarga maupun tidak, teman dekat seperjalanan, sepekerjaan atau sepergaulan, orang musafir yang membutuhkan bantuan karena tidak menetap di suatu negeri tertentu, dan budak laki-laki atau perempuan yang kalian miliki.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri kepada sesama, yaitu orang yang tidak memiliki rasa belas kasih dan orang yang selalu memuji diri sendiri.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sembahlah olehmu Allah) dengan mengesakan-Nya (dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan suatu pun juga.) (Dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak) dengan berbakti dan bersikap lemah lembut (kepada karib kerabat) atau kaum keluarga (anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang karib) artinya yang dekat kepadamu dalam bertetangga atau dalam pertalian darah (dan kepada tetangga yang jauh) artinya yang jauh daripadamu dalam kehidupan bertetangga atau dalam pertalian darah (dan teman sejawat) teman seperjalanan atau satu profesi bahkan ada pula yang mengatakan istri (ibnu sabil) yaitu yang kehabisan biaya dalam perjalanannya (dan apa-apa yang kamu miliki) di antara hamba sahaya.
(Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong) atau takabur (membanggakan diri) terhadap manusia dengan kekayaannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sembahlah Allah dan tunduklah kepada-Nya semata, jangan mengangkat sekutu bagi-Nya dalam rububiyah dan ibadah.
Berbuat baiklah kepada bapak ibu, tunaikan hak keduanya dan hak-hak para kerabat, anak-anak yang ditinggal mati oleh bapak mereka saat mereka belum berusia dewasa, orang-orang yang membutuhkan yang tidak mempunyai apa yang mencukupi dan menutup kebutuhan mereka, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, kawan dalam perjalanan dan saat tinggal, musafir yang memerlukan dan hamba sahaya baik laki-laki maupun wanita.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai hamba-hamba-Nya yang menyombongkan diri yang merasa lebih tinggi dari manusia lainnya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar menyembah Dia semata, tiada sekutu bagi Dia.
Karena sesungguhnya Dialah Yang Maha Pencipta, Maha Pemberi rezeki, Yang memberi nikmat, Yang memberikan karunia kepada makhluk-Nya dalam semua waktu dan keadaan.
Dialah Yang berhak untuk disembah oleh mereka dengan mengesakan-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dari makhluk-Nya.
Seperti yang disebutkan di dalam sabda Nabi ﷺ kepada Mu’az ibnu Jabal:

“Tahukah kamu, apakah hak Allah atas hamba-hamba-Nya?”
Mu’az menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi ﷺ bersabda, “Hendaknya mereka menyembah-Nya dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” Antara lain Nabi ﷺ bersabda pula: Tahukah kamu, apakah hak hamba-hamba Allah atas Allah, apabila mereka mengerjakan hal tersebut?
Yaitu Dia tidak akan mengazab mereka.

Kemudian Nabi ﷺ mewasiatkan agar kedua orang tua diperlakukan dengan perlakuan yang baik, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan keduanya sebagai penyebab bagi keberadaanmu dari alam ‘adam sampai ke alam wujud.
Sering sekali Allah subhanahu wa ta’ala menggandengkan antara perintah beribadah kepada-Nya dengan berbakti kepada kedua orang tua, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu.
(Luqman:14)

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu (Al Israa’:23)

Kemudian berbuat baik kepada ibu bapak ini diiringi dengan perintah berbuat baik kepada kaum kerabat dari kalangan kaum laki-laki dan wanita.
Seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis:

Bersedekah kepada orang miskin adalah sedekah, tetapi kepada kerabat adalah sedekah dan silaturahmi.

Selanjutnya Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

…dan (berbuat baiklah kepada) anak-anak yatim.

Demikian itu karena mereka telah kehilangan orang yang mengurus kemaslahatan mereka dan orang yang memberi mereka nafkah.
Maka Allah memerintahkan agar mereka diperlakukan dengan baik dan dengan penuh kasih sayang.

Kemudian disebutkan oleh firman-Nya:

dan (berbuat baiklah kepada) orang-orang miskin.

Mereka adalah orang-orang yang memerlukan uluran tangan karena tidak menemukan apa yang dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Maka Allah memerintahkan agar mereka dibantu hingga kebutuhan hidup mereka cukup terpenuhi dan terbebaskan dari keadaan daruratnya.
Pembahasan mengenai fakir miskin ini akan disebutkan secara rinci dalam tafsir surat Bara’ah (surat At-Taubah).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…dan (berbuat baiklah kepada) tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan jari dzil qurba ialah tetangga yang antara kamu dan dia ada hubungan kerabat, sedangkan jaril junub ialah tetangga yang antara kamu dan dia tidak ada hubungan kerabat.

Hal yang sama diriwayatkan dari Ikrimah, Mujahid, Maimun ibnu Mihran, Ad-Dahhak, Zaid ibnu Aslam, Muqatil ibnu Hayyan dan Qatadah.

Banyak hadis yang menganjurkan berbuat baik kepada tetangga, berikut ini kami ketengahkan sebagian darinya yang mudah, hanya kepada Allah kami memohon pertolongan.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Umar ibnu Muhammad ibnu Zaid, bahwa ia pernah mendengar Muhammad menceritakan hadis berikut dari Abdullah ibnu Umar, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Jibril masih terus berwasiat kepadaku mengenai tetangga, hingga aku menduga bahwa Jibril akan memberinya hak mewaris.

Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab sahihnya masing-masing dengan melalui Muhammad ibnu Zaid ibnu Abdullah ibnu Umar dengan lafaz yang sama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Abu Imran, dari Talhah ibnu Abdullah, dari Aisyah, bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ Untuk itu ia mengatakan: “Sesungguhnya aku mempunyai dua orang tetangga.
maka kepada siapakah aku akan mengirimkan hadiah (kiriman) ini?”
Nabi ﷺ bersabda, “Kepada tetangga yang pintunya lebih dekat kepadamu.”

Imam Bukhari meriwayatkannya melalui hadis Syu’bah dengan sanad yang sama.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan (berbuat baiklah kepada) teman-teman sejawat.

As-Sauri meriwayatkan dari Jabir Al-Ju’fi, dari Asy-Sya’bi, dari Ali dan Ibnu Mas’ud, yang dimaksud ialah istri.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah diriwayatkan dari Abdur Rahman ibnu Abu Laila, Ibrahim An-Nakha’i, Al-Hasan, dan Sa’id ibnu Jubair dalam salah satu riwayatnya yang menyatakan hal selain itu.

Ibnu Abbas dan sejumlah ulama mengatakan, yang dimaksud adalah tamu.
Ibnu Abbas, Mujahid, Ikrimah, dan Qatadah mengatakan bahwa yang dimaksud adalah teman seperjalanan.

Adapun Ibnu Sabil, menurut Ibnu Abbas dan sejumlah ulama, yang dimaksud adalah tamu.
Menurut Mujahid, Abu Ja’far, Al-Baqir, Al-Hasan, Ad-Dahhak, dan Muqatil, yang dimaksud dengan Ibnu Sabil ialah orang yang sedang dalam perjalanan yang mampir kepadamu.
Pendapat ini lebih jelas, sekalipun pendapat yang mengatakan “tamu” bermaksud orang yang dalam perjalanan, lalu bertamu, pada garis besarnya kedua pendapat bermaksud sama.

Pembahasan mengenai Ibnu Sabil ini akan diketengahkan secara rinci dalam tafsir surat Al-Bara’ah (surat At-Taubah).
Hanya kepada Allah mohon keperca-yaan dan hanya kepada-Nya bertawakal.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

dan (berbuat baiklah kepada) hamba sahaya yang kalian miliki.

Ayat ini memerintahkan untuk berbuat baik kepada para hamba sahaya, karena hamba sahaya adalah orang yang lemah upayanya, dan dikuasai oleh orang lain.
Karena itu, terbukti bahwa Rasulullah ﷺ mewasiatkan kepada umatnya dalam sakit yang membawa kewafatannya melalui sabdanya yang mengatakan:

Salat, salat, dan budak-budak yang kalian miliki!

Maka beliau ﷺ mengulang-ulang sabdanya hingga lisan beliau kelihatan terus berkomat-kamit mengatakannya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Abul Abbas, telah menceritakan kepada kami Baqiyyah, telah menceritakan kepada kami Bujair ibnu Sa’d.
dari Khalid ibnu Ma’dan, dari Al-Miqdam ibnu Ma’di Kariba yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Tidak sekali-kali kamu beri makan dirimu melainkan hal itu sedekah bagimu, tidak sekali-kali kamu beri makan anakmu melainkan hal itu sedekah bagimu, tidak sekali-kali kamu beri makan istrimu melainkan hal itu sedekah bagimu, dan tidak sekali-kali kamu beri makan pelayanmu melainkan hal itu sedekah bagimu.

Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Baqiyyah, sanad hadis berpredikat sahih.

Dari Abdullah ibnu Amr, disebutkan bahwa ia pernah bertanya kepada Qahriman (pegawai)nya, “Apakah engkau telah memberikan makanan pokok kepada budak-budak?”
Ia menjawab, “Belum.” Abdullah ibnu Amr berkata, “Berangkatlah sekarang dan berikanlah makanan pokok itu kepada mereka, karena sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah bersabda:

‘Cukuplah dosa seseorang, bila ia menahan makanan pokok terhadap hamba sahayanya.’

Hadis riwayat Imam Muslim.

Disebutkan dari sahabat Abu Hurairah r.a., dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

Hamba sahaya berhak mendapatkan makanan dan pakaiannya, dan tidak boleh dibebani dengan pekerjaan melainkan sebatas kemampuannya.

Hadis riwayat Imam Muslim pula.

Dari Abu Hurairah r.a.
pula, dari Nabi ﷺ Disebutkan bahwa.
Nabi ﷺ pernah bersabda:

Apabila pelayan seseorang di antara kalian datang menyuguhkan makanan, lalu ia tidak mau mempersilakan pelayan untuk makan bersamanya, maka hendaklah ia memberikan kepadanya sesuap atau dua suap makanan, sepiring atau dua piring makanan, karena sesungguhnya pelayanlah yang memasak dan yang menghidangkannya.

Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.
Lafaz hadis ini berdasarkan apa yang ada pada Sahih Bukhari, sedangkan menurut lafaz Imam Muslim adalah seperti berikut:

Hendaklah ia mempersilakan pelayannya untuk makan bersamanya, dan jika makanan tersebut untuk orang banyak lagi sedikit, maka hendaklah ia memberinya makanan di tangannya barang sesuap atau dua suap makanan.

Dari Abu Zar r.a., dari Nabi ﷺ yang telah bersabda:

Mereka (para pelayan) adalah saudara-saudara kalian lagi budak-budak kalian, Allah telah menjadikan mereka di bawah kekuasaan kalian.
Maka barang siapa yang saudaranya berada di bawah kekuasaannya, hendaklah ia memberinya makan dari apa yang ia makan, dan hendaklah ia memberinya pakaian dari apa yang ia pakai, dan janganlah kalian membebani mereka pekerjaan yang tidak mampu mereka lakukan, dan jika kalian terpaksa membebani mereka (dengan pekerjaan berat), maka bantulah mereka.

Hadis diketengahkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri.

Yakni congkak, takabur, dan sombong terhadap orang lain, dia melihat bahwa dirinya lebih baik daripada mereka.
Dia merasa dirinya besar, tetapi di sisi Allah hina dan di kalangan manusia dibenci.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.
Yang dimaksud dengan mukhtal ialah takabur dan sombong.
Sedangkan yang dimaksud dengan firman-Nya:

…lagi membangga-banggakan diri.
Tidak pernah bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala setelah diberi nikmat oleh-Nya, bahkan dia berbangga diri terhadap orang-orang dengan karunia nikmat yang telah diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya, dan dia orang yang sedikit bersyukur kepada Allah atas hal tersebut.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Al-Husain, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Kasir, dari Abdullah ibnu Waqid, dari Abu Raja Al-Harawi yang mengatakan bahwa ia tidak pernah menjumpai orang yang jahat perangainya kecuali ada pada diri orang yang sombong lagi membangga-banggakan dirinya, lalu ia membacakan firman-Nya:

dan (berbuat baiklah kepada) hamba sahaya yang kalian miliki., hingga akhir ayat.

Tidak pernah ia jumpai orang yang menyakiti kedua orang tuanya kecuali ada pada diri orang sombong lagi durhaka, lalu ia membacakan firman-Nya: dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.
(Maryam:32)

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan dari Al-Awwam ibnu Hausyab hal yang semisal sehubungan dengan makna mukhtal (sombong) dan fakhur (membangga-banggakan diri).
Untuk itu ia mengatakan:

telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, dari Al-Aswad ibnu Syaiban, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Abdullah ibnusy Syiklikhir yang mengatakan bahwa Mutarrif pernah menceritakan bahwa telah sampai kepadanya sebuah hadis dari Abu Zar yang membuatnya ingin sekali bersua dengan Abu Zar.
Lalu ia menjumpai Abu Zar.
Aku (Mutarrif) bertanya, “Hai Abu Zar, telah sampai kepadaku bahwa dirimu pernah menduga bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda, ‘Sesungguhnya Allah menyukai tiga orang dan membenci tiga orang’.” Abu Zar menjawab, “Memang benar, kamu tentu percaya bahwa aku tidak akan berdusta kepada kekasihku (Nabi ﷺ),” sebanyak tiga kali.
Aku bertanya, “Lalu siapakah tiga macam orang yang dibenci oleh Allah itu?”
Abu Zar menjawab, “Orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri.
Bukankah kamu pun telah menjumpainya di dalam Kitabullah yang ada pada kalian?”
Kemudian Abu Zar r.a.
membacakan firman-Nya:

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.

Dan telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Wuhaib, dari Khalid, dari Abu Tamimah, dari seorang lelaki dari kalangan Banil Hujaim yang menceritakan: Aku pernah berkata, “Wahai Rasulullah, berwasiatlah untukku.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Jangan sekali-kali kamu memanjangkan kainmu, karena sesungguhnya memanjangkan kain merupakan sikap orang yang sombong, dan sesungguhnya Allah tidak menyukai (orang yang bersikap) sombong.”

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa' (4) Ayat 36

JUNUB
جُنُب

Arti asal kata junub ialah jarak yang jauh, ia juga berarti orang jauh yang bukan ter­masuk ahli keluarga. Lafaz junub juga mem­ punyai arti orang yang sedang mengalami jinabah, yaitu hadas besar baik karena keluar air mani atau berhubungan badan. Orang yang berhadas besar dinamakan dengan junub karena dia tidak boleh me­lakukan shalat.

Kata junub diulang empat kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
-An Nisaa (4), ayat 36, 43;
-Al Maa’idah (5), ayat 6;
-Al­ Qahsash (28), ayat 11.

Kata junub yang mempunyai arti tempat atau jarak yang jauh adalah yang terdapat dalam surah Al Qashash (28), ayat 11. Dalam ayat ini diceritakan ketika ibu Nabi Musa melepaskan Musa yang masih bayi ke sungai, beliau berpesan kepada saudara perempuan Musa mengawasi peti yang membawa Musa itu dari jauh supaya orang tidak mengetahuinya.

Kata junub yang berarti orang jauh yang bukan termasuk ahli keluarga terdapat dalam surah An Nisaa (4), ayat 36. Dalam ayat ini, Allah memerintahkan orang-orang yang ber­iman supaya sentiasa berbuat baik kepada beberapa golongan tertentu diantaranya kepada “al jaaril junub”. Yang dimaksudkan di sini ialah tetangga yang bukan saudara atau ahli keluarga.

Sedangkan kata junub yang berarti orang yang mengalami jinabah atau hadas besar di sebut di dalam Al Qur’an sebanyak dua kali yaitu dalam surah An Nisaa (4), ayat 43 dan surah Al Maa’idah (5), ayat 6. Dalam kedua ayat ini ditegaskan, orang yang sedang mengalami hadas besar tidak boleh shalat. Dia boleh shalat, setelah dia membersihkan diri dengan cara mandi besar (mandi jinabah) terlebih dahulu.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:170

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 36 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 36



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.4
Rating Pembaca: 4.2 (28 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku