Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

Tampilkan Lainnya ...

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 24 [QS. 4:24]

وَّ الۡمُحۡصَنٰتُ مِنَ النِّسَآءِ اِلَّا مَا مَلَکَتۡ اَیۡمَانُکُمۡ ۚ کِتٰبَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ ۚ وَ اُحِلَّ لَکُمۡ مَّا وَرَآءَ ذٰلِکُمۡ اَنۡ تَبۡتَغُوۡا بِاَمۡوَالِکُمۡ مُّحۡصِنِیۡنَ غَیۡرَ مُسٰفِحِیۡنَ ؕ فَمَا اسۡتَمۡتَعۡتُمۡ بِہٖ مِنۡہُنَّ فَاٰتُوۡہُنَّ اُجُوۡرَہُنَّ فَرِیۡضَۃً ؕ وَ لَا جُنَاحَ عَلَیۡکُمۡ فِیۡمَا تَرٰضَیۡتُمۡ بِہٖ مِنۡۢ بَعۡدِ الۡفَرِیۡضَۃِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ کَانَ عَلِیۡمًا حَکِیۡمًا
Wal muhshanaatu minannisaa-i ilaa maa malakat aimaanukum kitaaballahi ‘alaikum wauhilla lakum maa waraa-a dzalikum an tabtaghuu biamwaalikum muhshiniina ghaira musaafihiina famaaastamta’tum bihi minhunna faaatuuhunna ujuurahunna fariidhatan walaa junaaha ‘alaikum fiimaa taraadhaitum bihi min ba’dil fariidhati innallaha kaana ‘aliiman hakiiman;
Dan (diharamkan juga kamu menikahi) perempuan yang bersuami, kecuali hamba sahaya perempuan (tawanan perang) yang kamu miliki sebagai ketetapan Allah atas kamu.
Dan dihalalkan bagimu selain (perempuan-perempuan) yang demikian itu jika kamu berusaha dengan hartamu untuk menikahinya bukan untuk berzina.
Maka karena kenikmatan yang telah kamu dapatkan dari mereka, berikanlah maskawinnya kepada mereka sebagai suatu kewajiban.
Tetapi tidak mengapa jika ternyata di antara kamu telah saling merelakannya, setelah ditetapkan.
Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana.
―QS. 4:24
Topik ▪ Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala
English Translation - Sahih International
And (also prohibited to you are all) married women except those your right hands possess.
(This is) the decree of Allah upon you.
And lawful to you are (all others) beyond these, (provided) that you seek them (in marriage) with (gifts from) your property, desiring chastity, not unlawful sexual intercourse.
So for whatever you enjoy (of marriage) from them, give them their due compensation as an obligation.
And there is no blame upon you for what you mutually agree to beyond the obligation.
Indeed, Allah is ever Knowing and Wise.
―QS. 4:24

Alquran Arti Perkata (Indonesia & English)
وَٱلْمُحْصَنَٰتُ dan wanita yang bersuami

And (prohibited are) the ones who are married
مِنَ dari

of
ٱلنِّسَآءِ manusia

the women
إِلَّا kecuali

except
مَا apa

whom
مَلَكَتْ kamu miliki

you possess
أَيْمَٰنُكُمْ tangan kananmu/budak-budakmu

rightfully.
كِتَٰبَ ketetapan

Decree
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah
عَلَيْكُمْ atas kalian

upon you.
وَأُحِلَّ dan dihalalkan

And are lawful
لَكُم bagi kalian

to you
مَّا apa

what
وَرَآءَ dibelakang (selain)

(is) beyond
ذَٰلِكُمْ demikian itu

that;
أَن bahwa

that
تَبْتَغُوا۟ kamu mencari

you seek
بِأَمْوَٰلِكُم dengan hartamu

with your wealth
مُّحْصِنِينَ untuk dikawini

desiring to be chaste
غَيْرَ tidak/bukan

not
مُسَٰفِحِينَ untuk berzina

(to be) lustful.
فَمَا maka apa

So what
ٱسْتَمْتَعْتُم telah kamu nikmati

you benefit[ed]
بِهِۦ dengannya (wanita itu)

of it
مِنْهُنَّ dari/diantara mereka

from them,
فَـَٔاتُوهُنَّ maka berikan kepada mereka

so you give them
أُجُورَهُنَّ mahar/maskawin

their bridal due
فَرِيضَةً suatu kewajiban

(as) an obligation.
وَلَا dan tidak

And (there is) no
جُنَاحَ berdosa

sin

 

Tafsir surah An Nisaa' (4) ayat 24

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kalian juga diharamkan menikah dengan wanita yang bersuami, baik wanita merdeka maupun budak, kecuali wanita-wanita tawanan dari hasil perang antara kalian dan orang-orang kafir.
Ikatan tali pernikahan mereka sebelumnya dengan sendirinya telah batal dan halal hukumnya untuk kalian kawini bila terbukti mereka tidak sedang hamil.
Tepatilah apa yang telah ditentukan oleh Allah untuk kalian yang berupa pelarangan hal-hal itu.
Selain wanita-wanita yang diharamkan tadi, carilah wanita dengan harta kalian untuk dijadikan istri, bukan untuk maksud zina atau menjadikannya wanita simpanan.
Semua wanita yang telah kalian gauli setelah pernikahan secara <a aria-describedby="tt" href="https://risalahmuslim.id/kamus/sah" class="glossaryLink cmtt_Istilah Umum" data-cmtooltip="

Sah
Sah adalah salah satu dari hukum Islam.<BR CLASS="">Sah adalah sesuatu perkara yang dilakukan sesuai dengan hukum syariat.<BR CLASS="">Seperti salat yang dikerjakan dengan cukup rukun dan syaratnya.

” >sah dengan yang halal dikawini, berilah mereka mahar yang telah kalian tentukan, sebagai kewajiban yang harus dibayar pada waktunya.
Kalian semua tidak berdosa, selama telah ada kesepakatan secara suka rela antara suami dan istri, jika istri hendak melepas <a aria-describedby="tt" href="https://risalahmuslim.id/kamus/haq" class="glossaryLink cmtt_Istilah Umum" data-cmtooltip="

haq
Sebelum menjalani hukuman mati, seorang sufi, Hussein bin Manshur al Hallaj, berjalan sambil dikawal aparat.<BR CLASS=""> Ketika melihat kerumunan orang, dia berkata lantang,“Haq, haq, haq, ana al-haq (kebenaran, kebenaran, kebenaran, akulah kebenaran).”Dia pun harus menjalani hukuman mati atas pernyataannya yang kontroversial itu.<BR CLASS="">Lantas, apa sebetulnya makna al-haq? Ensiklopedia Alquran: Kajian Kosakata Menulis menjelaskan bahwa kata yang terdiri atas huruf haa dan qaf itu maknanya berkisar padaㅤ(…)</BR></BR>

” >hak maharnya, atau jika suami hendak menambah jumlah maharnya.
Sesungguhnya Allah selalu memantau urusan hamba-Nya, mengatur segala sesuatu yang membawa maslahat bagi mereka dengan bijaksana.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) diharamkan bagimu

(wanita-wanita yang bersuami) untuk dikawini sebelum bercerai dengan suami-suami mereka itu, baik mereka merdeka atau budak dan beragama Islam

(kecuali wanita-wanita yang kamu miliki) yakni hamba-hamba sahaya yang tertawan, maka mereka boleh kamu campuri walaupun mereka punya suami di negeri perang, yakni setelah istibra’ atau membersihkan rahimnya

(sebagai ketetapan dari Allah) kitaaba manshub sebagai mashdar dari kata dzaalika, artinya telah ditetapkan sebagai suatu ketetapan dari Allah

(atas kamu, dan dihalalkan) ada yang membaca uhilla bentuk pasif ada pula ahalla bentuk aktif

(bagi kamu selain yang demikian itu) artinya selain dari wanita-wanita yang telah diharamkan tadi

(bahwa kamu mencari) istri

(dengan hartamu) baik dengan maskawin atau lainnya

(untuk dikawini bukan untuk dizinahi)

(maka istri-istri) dengan arti faman

(yang telah kamu nikmati) artinya campuri

(di antara mereka) dengan jalan menyetubuhi mereka

(maka berikanlah kepada mereka upah mereka) maksudnya maskawin mereka yang telah kamu tetapkan itu

(sebagai suatu kewajiban.
Dan kamu tidaklah berdosa mengenai sesuatu yang telah saling kamu relakan) dengan mereka

(setelah ditetapkan itu) baik dengan menurunkan, menambah atau merelakannya.

(Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan ciptaan-Nya

(lagi Maha Bijaksana) dalam mengatur kepentingan mereka.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Haram atasmu menikahi wanita-wanita yang telah bersuami kecuali siapa yang kalian tawan dalam jihad.
Halal bagi kalian menikahinya setelah memastikan kebebasan rahimnya dengan satu kali haid.
Allah telah menetapkan bahwa menikahi mereka adalah haram, dan Dia membolehkan bagi kalian untuk menikahi selain mereka dari para wanita yang telah Allah halalkan bagi kalian di mana kalian menikah dengan harta kalian sehingga kalian bisa terjaga dari yang haram.
Bila kalian sudah mendapatkan kenikmatan dari mereka dalam pernikahan yang shahih maka berikanlah mahar mereka yang telah Allah tetapkan atas kalian bagi mereka.
Tidak ada dosa atas kalian terkait dengan apa yang telah kalian sepakati dengan sukarela di antara kalian dalam bentuk mengurangi atau menambah mahar setelah sebelumnya ditetapkan.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui perkara-perkara para hamba-Nya dan Maha Bijaksana dalam hukumhukum dan pengaturan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Diharamkan atas kalian mengawini wanita yang telah terpelihara kehormatannya, yakni telah bersuami.
Kecuali budak-budak yang kalian miliki melalui tawanan perang, dihalalkan bagi kalian menggauli mereka bila terlebih dahulu kalian meng-istibra’ -kan (membersihkan rahim) mereka terlebih dahulu, karena sesungguhnya ayat ini diturunkan berkenaan dengan hal tersebut.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Sufyan As-Sauri, dari Usman Al-Batti, dari Abul Khalil, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang menceritakan,
“Kami pernah memperoleh tawanan perang dari tawanan Perang Autas, sedangkan mereka (wanita-wanita hasil tawanan) mempunyai suami.
Maka kami tidak suka menggauli mereka karena mereka punya suami.
Lalu kami bertanya kepada Nabi ﷺ, dan turunlah firman-Nya:

…dan (diharamkan juga kalian mengawini) wanita yang bersuami kecuali budak-budak yang kalian miliki ‘
Maka kami menghalalkan farji mereka.”

Ibnu Majah meriwayatkannya melalui hadis Asy’as ibnu Siwar, dari Usman Al-Batti.
Imam Muslim meriwayatkannya di dalam kitab sahihnya melalui hadis Syu’bah, dari Qatadah.
Usman Al-Batti dan Qatadah menerima hadis ini dari Abul Khalil Saleh ibnu Abu Maryam, dari Abu Sa’id Al-Khudri.

Diriwayatkan melalui jalur lain dari Abul Khalil, dari Abu Alqamah Al-Hasyimi, dari Abu Sa’id Al-Khudri.
Untuk itu Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Addi, dari Sa’id, dari Qatadah, dari Abul Khalil, dari Abu Alqamah, dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ memperoleh tawanan wanita dalam Perang Autas, sedangkan tawanan-tawanan wanita itu mempunyai suami yang musyrik.
Tersebutlah bahwa sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ ada yang enggan dan merasa berdosa bila menggauli mereka.
Maka turunlah ayat berikut sehubungan dengan peristiwa itu, yaitu firman-Nya:

…dan (diharamkan juga kalian mengawini) wanita-wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kalian miliki.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Abu Daud, dan Imam Nasai melalui hadis Sa’id ibnu Abu Arubah.
Imam Muslim dan Syu’bah menambahkan bahwa Imam Turmuzi meriwayatkannya dari hadis Hammam ibnu Yahya.
Ketiga-tiganya menerima hadis ini dari Qatadah berikut sanadnya dengan lafaz yang semisal.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan.”Aku merasa yakin tidak ada seorang pun yang menyebutkan Abu Alqamah dalam sanad hadis ini kecuali apa yang diutarakan oleh Hammam dari Qatadah,”
demikianlah menurut Imam Turmuzi.
Ternyata hal ini diikuti oleh Sa’id dan Syu’bah.

Imam Tabrani meriwayatkan melalui hadis Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan tawanan Perang Khaibar, lalu Tabrani menuturkan kisah seperti yang diutarakan oleh Abu Sa’id.

Segolongan ulama Salaf berpendapat, menjual budak wanita merupakan talak baginya dari suaminya, karena berdasarkan keumuman makna ayat ini.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Musanna, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, dari Syu’bah, dari Mugirah, dari Ibrahim, bahwa ia pernah ditanya tentang masalah budak perempuan yang dijual, sedangkan budak perempuan itu mempunyai suami.
Maka Ibrahim mengatakan,
“Dahulu Abdullah pernah mengatakan bahwa menjualnya berarti sama saja dengan menceraikannya dari suaminya.
Lalu Abdullah membacakan firman-Nya:

…dan (diharamkan juga kalian mengawini) wanita-wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kalian miliki

Hal yang sama diriwayatkan oleh Sufyan As-Sauri, dari Mansur dan Mugirah dan Al-A’masy dari Ibrahim, dari ibnu Mas’ud yang telah mengatakan
“Menjual budak perempuan (yang telah bersuami) sama dengan menceraikannya.”
Asar ini munqati’.

Sufyan As-Sauri meriwayatkannya dari Khulaid, dari Abu Qilabah, dari Ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa budak perempuan apabila dijual dalam keadaan telah bersuami, maka tuan yang membelinya adalah orang yang lebih berhak terhadap farjinya.

Sa’id meriwayatkannya dari Qatadah yang mengatakan bahwa Ubay ibnu Ka’b, Jabir ibnu Abdullah, dan Ibnu Abbas mengatakan,
“Menjual budak perempuan (yang telah bersuami) sama dengan menceraikannya.”

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ulayyah, dari Khulaid, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa perceraian budak perempuan ada enam (lima) perkara, yaitu:
Menjualnya berarti menceraikannya, memerdekakannya berarti menceraikannya, menghibahkannya berarti menceraikannya, meng-istibra’-kannya berarti menceraikannya, dan diceraikan oleh suaminya berarti menceraikannya.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Ibnul Musayyab sehubungan dengan firman -Nya:

…dan (diharamkan juga kalian mengawini) wanita yang bersuami.
Bahwa ayat ini berkenaan dengan wanita-wanita yang mempunyai suami, Allah mengharamkan mengawini mereka, kecuali budak-budak yang dimiliki olehmu, maka menjualnya berarti sama dengan menceraikannya.
Ma’mar mengatakan bahwa Al-Hasan telah mengatakan hal yang semisal.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Sa’id ibnu Abu Arubah, dari Qatadah, dari Al-Hasan sehubungan dengan firman-Nya:

…dan (diharamkan juga kalian mengawini) wanita-wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kalian miliki.

Apabila budak wanita mempunyai suami.
lalu dijual, maka menjualnya sama dengan menceraikannya dari suaminya.

Auf telah meriwayatkan dari Al-Hasan, bahwa menjual budak perempuan sama dengan menceraikannya dari suaminya, dan menjual budak laki-laki sama dengan menceraikannya dari istrinya.

Demikianlah pendapat yang dikatakan oleh ulama Salaf.
Tetapi berbeda dengan mereka apa yang dikatakan oleh jumhur ulama, baik yang terdahulu maupun yang kemudian, mereka berpendapat bahwa menjual budak perempuan bukan berarti menceraikannya dari suaminya.
Dikatakan demikian karena pihak pembeli merupakan pengganti dari pihak penjual.
Sedangkan pihak penjual sejak semula telah dikecualikan dari pemilikannya manfaat ini, lalu ia menjual si budak yang memegang manfaat ini.

Mereka yang mengatakan demikian berpegang kepada hadis Barirah yang diketengahkan di dalam kitab Sahihain dan kitab lainnya.
Disebutkan bahwa Siti Aisyah Ummul Mukminin membeli Barirah, lalu memerdekakannya, sedangkan nikah Barirah dengan suaminya —Mugis— tetap utuh, tidak fasakh, melainkan Rasulullah ﷺ menyuruhnya memilih antara fasakh dan tetap.
Ternyata Barirah memilih fasakh.
Kisah mengenai Barirah ini cukup terkenal.

Disimpulkan dari hadis di atas, seandainya menjual budak perempuan adalah menceraikannya dari suaminya, seperti yang dikatakan mereka, niscaya Nabi ﷺ tidak menyuruhnya memilih.
Karena ternyata Nabi ﷺ menyuruhnya memilih antara fasakh dan tetap, hal ini berarti menunjukkan bahwa nikahnya tetap utuh.
Sedangkan yang dimaksud dalam ayat tersebut khusus bagi wanita-wanita yang dihasilkan dari tawanan perang saja.

Barangkali dapat dikatakan bahwa makna yang dimaksud dari firman-Nya:
dan (diharamkan juga kalian mengawini) wanita-wanita yang bersuami.
(QS. An-Nisa’ [4]: 24)
Yakni wanita-wanita yang terpelihara kehormatannya diharamkan bagi kalian sebelum kalian memiliki pegangannya melalui nikah, saksi-saksi, mahar, dan wali, seorang, dua orang, tiga orang, atau empat orang.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Abul Aliyah, Tawus, dan selain keduanya.

Umar dan Ubaid mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:
dan (diharamkan juga kalian mengawini) wanita-wanita yang bersuami.
(QS. An-Nisa’ [4]: 24)
selain dari empat orang istri, haram bagi kalian (kawin lagi), kecuali budak-budak wanita yang kalian miliki (pergundikan, pent.).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…sebagai ketetapan (dari) Allah buat kalian.

Pengharaman ini adalah hukum Allah yang ditetapkan-Nya atas kalian.
Yang dimaksud ialah empat istri.
Maka berpeganglah kalian kepada ketetapan-Nya dan janganlah kalian menyimpang dari hukumhukum-Nya, tetapilah syariat dan hukum-Nya.

Ubaidah, Ata, dan As-Saddi mengatakan sehubungan dengan firman -Nya:

…sebagai ketetapan Allah atas kalian.
Yakni empat orang istri.

Ibrahim mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:
sebagai ketetapan Allah atas kalian.
(QS. An-Nisa’ [4]: 24)
Yaitu hal-hal yang diharamkan atas kalian.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan dihalalkan bagi kalian selain yang demikian.

Selain dari wanita-wanita mahram yang telah disebutkan, semuanya halal kalian kawini.
Demikianlah menurut Ata dan lain-lainnya.

Ubaidah dan As-Saddi mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

Dan dihalalkan bagi kalian selain yang demikian.
Selain dari empat orang istri.
Akan tetapi, pendapat ini jauh dari kebenaran.
Pendapat yang benar adalah apa yang dikatakan oleh Ata tadi.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

Dan dihalalkan bagi kalian selain yang demikian.
Yaitu budak-budak wanita yang kalian miliki.

Ayat ini merupakan dalil yang dijadikan hujah bagi orang yang mengatakan halal menghimpun dua wanita bersaudara dalam nikah.
Juga oleh pendapat orang yang mengatakan bahwa masalah tersebut dihalalkan oleh satu ayat dan diharamkan oleh ayat yang lain.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…(yaitu) mencari istri-istri dengan harta kalian untuk kalian kawini, bukan untuk berzina.

Kalian boleh mencari istri sebanyak empat orang dengan harta kalian, atau budak-budak wanita sebanyak yang kamu sukai melalui jalan yang diakui oleh syariat.
Karena itulah disebutkan di dalam firman-Nya:
untuk kalian kawini, bukan untuk berzina.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka istri-istri yang telah kalian gauli di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban.

Sebagaimana kalian telah memperoleh kesenangan dari mereka, maka berikanlah kepada mereka maharnya sebagai imbalan hal tersebut.
Perihalnya sama dengan makna yang terkandung di dalam firman-Nya:

Bagaimana kalian mengambilnya kembali, padahal sebagian kalian telah bergaul (bercampur) dengan yang lain

Sama dengan makna firman-Nya:

Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kalian nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.
(QS. An-Nisa’ [4]:4)

Seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Tidak halal bagi kalian mengambil kembali sesuatu dari yang telah kalian berikan kepada mereka.
(Al Baqarah:
229)

Keumuman makna ayat ini dijadikan dalil yang membolehkan nikah mut’ah, dan tidak diragukan lagi nikah mut’ah memang disyariatkan pada masa permulaan Islam, kemudian sesudah itu dimansukh.

Imam Syafii dan segolongan ulama mengatakan bahwa pada permulaannya nikah mut’ah diperbolehkan, kemudian dimansukh, lalu diperbolehkan lagi dan akhirnya dimansukh lagi, pe-nasikh-an terhadapnya terjadi dua kali.
Sedangkan ulama lainnya berpendapat lebih banyak dari dua kali.
Ulama lainnya lagi mengatakan bahwa nikah mut’ah hanya diperbolehkan sekali, kemudian dimansukh dan tidak diperbolehkan lagi sesudahnya.

Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan sejumlah sahabat suatu pendapat yang mengatakan boleh bila dalam keadaan darurat.
Pendapat ini merupakan riwayat yang diketengahkan oleh Imam Ahmad.
Tersebutlah bahwa Ibnu Abbas, Ubay ibnu Ka’b, Sa’id ibnu Jubair, dan As-Saddi membaca ayat ini dengan memakai tafsirnya seperti berikut:

Maka istri-istri yang telah kalian nikmati (campuri) di antara mereka —sampai dengan batas waktu tertentu— berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban.

Mujahid mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan masalah nikah mut’ah.

Akan tetapi, jumhur ulama berpendapat tidak demikian.
Hal yang menjadi pegangan dalam masalah ini ialah sebuah hadis yang terdapat di dalam kitab Sahihain dari Amirul Mu’minun Ali ibnu Abu Talib yang mengatakan:

Rasulullah ﷺ melarang nikah mut’ah dan (memakan) daging keledai kampung pada hari Perang Khaibar.

Hadis ini mempunyai banyak lafaz dan ungkapan, yang semuanya itu merupakan bagian dari kitabul ahkam (kitabkitab yang membahas masalah hukum).

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan dari Ar-Rabi’ ibnu Sabrah ibnu Ma’bad Al-Juhani, dari ayahnya, bahwa ia pernah berperang bersama-sama Rasulullah ﷺ pada hari penaklukan atas kota Mekah.
Maka beliau ﷺ bersabda:

Hai manusia sekalian, sesungguhnya aku dahulu pernah mengizinkan kalian melakukan nikah mut’ah terhadap wanita.
Dan sesungguhnya Allah telah mengharamkan hal tersebut sekarang sampai hari kiamat.
Karena itu, barang siapa yang padanya terdapat sesuatu dari nikah mut’ah ini, hendaklah ia melepaskannya, dan janganlah kalian mengambil kembali apa yang telah kalian berikan kepada mereka barang sedikit pun.

Juga di dalam riwayat lain bagi Imam Muslim dalam kisah haji wada’, hadis ini diungkapkan dengan berbagai lafaz, yang pembahasannya berada di dalam kitabkitab fiqih.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…dan tiadalah mengapa bagi kalian terhadap sesuatu yang kalian telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu.

Orang yang menginterpretasikan ayat ini bermakna nikah mut’ah sampai batas waktu yang ditentukan mengatakan,
“Tidak ada dosa bagi kalian apabila waktunya telah habis untuk saling merelakan (bernegosiasi) untuk penambahan masa nikah mut’ah dan penambahan imbalannya.”

As-Saddi mengatakan,
“Jika pihak lelaki menghendaki, boleh merelakan pihak wanita sesudah mahar yang pertama, yakni upah yang telah diberikannya kepada pihak wanita sebagai imbalan menikmati tubuhnya sebelum masa berlaku nikah mut’ah yang disepakati kedua belah pihak habis.
Untuk itu pihak laki-laki berkata kepada pihak perempuan, ‘Aku akan nikah mut’ah lagi denganmu dengan imbalan sekian dan sekian.’ Jika upah bertambah sebelum pihak wanita membersihkan rahimnya pada hari habisnya masa mut’ah di antara keduanya, maka hal inilah yang disebutkan di dalam firman-Nya:
‘dan tiada mengapa bagi kalian terhadap sesuatu yang kalian telah saling merelakannya sesudah menentukan faridah itu’

As-Saddi mengatakan,
“Apabila masa mut’ah habis, maka tiada jalan bagi pihak laki-laki terhadap pihak wanita, dan pihak wanita bebas dari pihak laki-laki.
Sesudah itu pihak wanita harus membersihkan rahimnya, dan tidak ada saling mewarisi lagi di antara keduanya.
Untuk itu satu pihak tidak dapat mewarisi pihak lainnya.
Hubungan keduanya telah terputus.”

Orang yang berpendapat seperti ini pada pendapat yang pertama tadi menjadikan ayat ini semakna dengan firman-Nya:

Berikanlah mas kawin kepada wanita (yang kalian nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.
(QS. An-Nisa’ [4]:4)

Dengan kata lain, apabila engkau telah menentukan sejumlah mas kawin kepada pihak wanita, lalu pihak wanita merelakan sebagian darinya untuk pihak laki-laki atau keseluruhannya, maka tidak ada dosa bagi kamu dan bagi pihak wanita dalam hal tersebut.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdul A’la, telah menceritakan kepada kami Al-Miftamir ibnu Sulaiman, dari ayahnya yang mengatakan bahwa Al-Hadrami menduga bahwa banyak kaum lelaki yang telah menentukan mahar, kemudian barangkali seseorang dari mereka ada yang mengalami kesulitan.
Maka Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman,
“Tidak mengapa bagi kamu, hai manusia, terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya sesudah menentukan mahar.
Yakni jika pihak wanita merelakan kepadamu sebagian dari maharnya, maka hal itu diperbolehkan bagimu.”
Pendapat inilah yang dipilih oleh ibnu Jarir.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya:
dan tiadalah mengapa bagi kalian terhadap sesuatu yang kalian telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu.
(QS. An-Nisa’ [4]: 24)
Yang dimaksud dengan saling merelakan ialah bila pihak lelaki memberikan mahar secara sempurna kepada pihak wanita, kemudian pihak lelaki menyuruh pihak wanita menentukan pilihan, antara tetap menjadi istri atau berpisah (cerai).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Sangatlah sesuai penyebutan kedua sifat Allah ini sesudah Dia mensyaratkan hal-hal yang diharamkan.

Qari Internasional

QS. An-Nisaa’ (4) : 24 ⊸ Syekh Mishari Alafasy

QS. An-Nisaa’ (4) : 24 ⊸ Syekh Sa’ad Al-Ghamidi

QS. An-Nisaa’ (4) : 24 ⊸ Syekh Muhammad Ayyub

Murottal Alquran & Terjemahan Indonesia
QS. An-Nisaa’ (4) : 1-176 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan

Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan