Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 22


وَ لَا تَنۡکِحُوۡا مَا نَکَحَ اٰبَآؤُکُمۡ مِّنَ النِّسَآءِ اِلَّا مَا قَدۡ سَلَفَ ؕ اِنَّہٗ کَانَ فَاحِشَۃً وَّ مَقۡتًا ؕ وَ سَآءَ سَبِیۡلًا
Walaa tankihuu maa nakaha aabaa’ukum minannisaa-i ilaa maa qad salafa innahu kaana faahisyatan wamaqtan wasaa-a sabiilaa;

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau.
Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).
―QS. 4:22
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah ▪ Ayat yang dinaskh
4:22, 4 22, 4-22, An Nisaa’ 22, AnNisaa 22, AnNisa 22, An-Nisa’ 22
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa' (4) : 22. Oleh Kementrian Agama RI

Adapun sebab turun ayat ini sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Sa'ad dari Muhammad bin Ka'ab pada masa dulunya apabila seorang meninggal dunia maka anak berhak menguasai istri (janda) bapaknya.
Jika ia mau, maka ia dapat mengawininya asalkan bukan ibunya.
Demikianlah tatkala Abu Qais bin Aslat wafat, maka anaknya Mihsan mewarisi istri bapaknya dan tidak diberinya nafkah atau harta warisan, maka bekas istri bapaknya itu mengadukan halnya kepada Rasulullah ﷺ Rasulullah ﷺ menjawab: "Pulanglah dahulu mudah-mudahan Allah akan menetapkan hukumnya",
maka turunlah ayat ini.

Haram hukumnya menikahi perempuan-perempuan yang telah dinikahi oleh bapak kecuali terhadap perbuatan yang telah lalu sebelum turunnya ayat ini, maka hal itu dimaafkan oleh Allah.
Allah melarang perbuatan tersebut karena sangat keji, bertentangan dengan akal sehat, sangat buruk karena dimurkai Allah dan sejahat-jahat jalan menurut adat istiadat manusia yang beradab.

An Nisaa' (4) ayat 22 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 22 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 22 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Janganlah mengawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayah kalian.
Hal itu merupakan perbuatan keji dan buruk yang dimurkai Allah dan manusia.
Itulah jalan dan tujuan yang paling jelek.
Walaupun demikian, Allah tetap akan memaafkan apa yang telah lampau di zaman jahiliah[1].

[1] Bangsa Arab jahiliah mempunyai tradisi yang menempatkan wanita pada posisi yang rendah.
Apabila seorang bapak meninggal dunia dan meninggalkan anak laki-laki dan istri lain selain ibunya, maka anak laki-laki harus mengawini janda ayahnya itu tanpa akad nikah baru.
Seorang istri yang sudah digauli suami kemudian dijatuhi talak, berkewajiban mengembalikan maskawin yang pernah diterimanya.
Lebih dari itu, di antara orang-orang Arab jahiliah ada yang melarang dengan semena-mena istri yang ditinggalkan bapaknya untuk kawin kecuali dengan dirinya.
Setelah Islam datang, semua perilaku tersebut dihilangkan.
Al-Qur'an menyebut perbuatan-perbuatan tersebut dengan kata "maqt" yang sering diartikan sebagai 'kemurkaan', karena semua itu merupakan hal yang sangat jelek yang dimurkai Allah dan orang-orang yang berakal sehat.
Di situlah letak keadilan Allah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan janganlah kamu kawini apa) maksudnya siapa (Di antara wanita-wanita yang telah dikawini oleh bapakmu kecuali) artinya selain dari (yang telah berlalu) dari perbuatanmu itu, maka dimaafkan.
(Sesungguhnya hal itu) maksudnya mengawini mereka itu (adalah perbuatan keji) atau busuk (suatu kutukan) maksudnya sesuatu yang menyebabkan timbulnya kutukan dari Allah, yang berarti kemurkaan-Nya yang amat sangat (dan sejahat-jahat) seburuk-buruk (jalan) yang ditempuh.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Jangan menikahi wanita-wanita yang telah dinikahi oleh bapak-bapak kalian kecuali apa yang telah terjadi di masa lalu di zaman jahiliyah, maka pada saat itu tidak ada hukuman atasmu.
Sesungguhnya pernikahan seorang anak dengan mantan istri bapaknya adalah sesuatu yang sangat buruk, pelakunya dibenci dan dimurkai oleh Allah, cara dan manhaj hidup yang kalian lakukan di zaman jahiliyah tersebut adalah sangat buruk.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah mengharamkan istri-istri para ayah sebagai penghormatan buat mereka, dan memuliakan serta menghargai mereka agar janganlah istri-istri mereka dikawini (oleh anak-anak tirinya).
Sehingga istri ayah diharamkan bagi seorang anak hanya setelah si ayah melakukan akad nikah dengannya.
Hal ini merupakan suatu perkara yang telah disepakati oleh semuanya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Malik ibnu Ismail, telah menceritakan kepada kami Qais ibnur Rabi’, telah menceritakan kepada kami Asy'as ibnu Siwar, dari Addi ibnu Sabit, dari seorang lelaki dari kalangan Ansar yang menceritakan bahwa tatkala Abu Qais (yakni Ibnul Aslat, salah seorang yang saleh dari kalangan Ansar) meninggal dunia, anak lelakinya melamar bekas istrinya.
Lalu si istri berkata, "Sebenarnya aku menganggapmu sebagai anak, dan engkau termasuk orang yang saleh di kalangan kaummu.
Tetapi aku akan datang terlebih dahulu kepada Rasulullah ﷺIstri Ibnu Aslat berkata: sesungguhnya Abu Qais telah meninggal dunia." Nabi ﷺ Bersabda, ”Baik." Si istri bertanya.”Sesungguhnya anak lelakinya (yaitu Qais) melamarku, sedangkan dia adalah seorang yang saleh dari kalangan kaumnya, dan sesungguhnya aku menganggapnya sebagai anak.
Bagaimanakah menurut pendapatmu?"
Nabi ﷺ bersabda, "Kembalilah kamu ke rumahmu." Maka turunlah ayat berikut, yaitu firman-Nya:

Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayah kalian.hingga akhir ayat.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Qasim, telah menceritakan kepada kami Husain, telah menceritakan kepada kami Hajjaj, dari Ibnu Juraij, dari Ikrimah sehubungan dengan firman-Nya:

Dan janganlah kalian kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayah kalian, terkecuali pada masa yang telah lampau.
Ia mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan Abu Qais ibnul Aslat yang meninggalkan Ummu Ubaidillah (yaitu Damrah).
Di masa lalu Damrah adalah bekas istri ayahnya.
diturunkan berkenaan dengan Al-Aswad ibnu Khalaf yang mempunyai istri bekas istri ayahnya sendiri, yaitu anak perempuan At-Talhah ibnu Abdul Uzza ibnu Usman ibnu Abdud Dar.
Juga diturunkan berkenaan dengan Fakhitah (anak perempuan Al-Aswad ibnul Muttalib ibnu Asad) yang dahulunya adalah istri Umayyah ibnu Khalaf.
Setelah Umayyah ibnu Khalaf meninggal dunia, maka bekas istrinya itu dikawini oleh anak lelaki Umayyah (yaitu Safwan ibnu Umayyah).
As-Suhaili menduga mengawini istri ayah (yakni ibu tiri) diperbolehkan di masa Jahiliah.

Karena itulah maka disebutkan di dalam firman-Nya:

...kecuali pada masa lampau.

Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

dan (diharamkan bagi kalian) menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau.
(An Nisaa:23)

As-Suhaili mengatakan bahwa hal tersebut pernah dilakukan oleh Kinanah ibnu Khuzaimah, ia pernah kawin dengan bekas istri ayahnya, lalu dari perkawinannya itu lahirlah An-Nadr Ibnu Kinanah.
As-Suhaili mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Aku dilahirkan dari hasil nikah, bukan dari sifah (perkawinan di masa Jahiliah).

As-Suhaili mengatakan, "Hal ini menunjukkan bahwa perkawinan seperti itu diperbolehkan bagi mereka di masa Jahiliah, dan mereka menganggap hal tersebut sebagai suatu perkawinan."

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah Al-Makhzumi, telah menceritakan kepada kami Qurad, telah menceritakan kepada kami Ibnu Uyaynah, dari Amr, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa orang-orang Jahiliah di masa lampau mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah, kecuali istri ayah dan menghimpun dua perempuan bersaudara dalam satu perkawinan.
Maka Allah menurunkan firman-Nya: Dan janganlah kalian kawini wanita yarg telah dikawini oleh ayah kalian.
(An Nisaa:22), dan (diharamkan bagi kalian) menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara.
(An Nisaa:23)

Hal yang sama dikatakan oleh Ata dan Qatadah.

Akan tetapi, apa yang dinukil oleh As-Suhaili sehubungan dengan kisah Kinanah masih perlu dipertimbangkan (kesahihannya).

Dengan alasan apa pun hal tersebut tetap diharamkan bagi umat ini dan merupakan perbuatan yang sangat keji.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

dan dibenci Allah.

Yaitu dibenci.
Dengan kata lain, perbuatan tersebut memang suatu dosa besar, yang akibatnya akan membuat si anak benci kepada ayahnya sesudah ia mengawini bekas istri ayahnya.
Karena pada galibnya (pada umumnya) setiap orang yang mengawini seorang wanita janda selalu membenci bekas suami istrinya.
Karena itulah maka Umma-hatul Mukminin (istri-istri Nabi ﷺ) diharamkan atas umat ini, karena kedudukan mereka sama dengan ibu dan karena mereka adalah istri-istri Nabi ﷺ yang kedudukannya sebagai bapak dari umat ini, bahkan hak Nabi ﷺ lebih besar daripada para ayah, menurut kesepakatan semuanya.
Bahkan cinta kepada Nabi ﷺ harus didahulukan di atas kecintaan kepada orang lain.

Ata ibnu Abu Rabbah mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

...dan dibenci Allah.
Maksudnya, perbuatan yang dibenci oleh Allah subhanahu wa ta'ala

...dan seburuk-buruk jalan
Yakni merupakan jalan yang paling buruk bagi orang yang menempuhnya.
Barang siapa yang melakukan perbuatan tersebut sesudah adanya larangan ini.
berarti dia telah murtad dari agamanya dan dikenai hukuman mati serta hartanya menjadi harta fa'i diserahkan ke Baitul Mal.

Imam Ahmad dan ahlus sunan meriwayatkan melalui berbagai jalur dari Al-Barra ibnu Azib, dari pamannya (yaitu Abu Burdah) —menurut riwayat yang lain Ibnu Umar— dan menurut riwayat yang lainnya lagi dari paman dari pihak ayahnya.
Disebutkan bahwa Rasulullah Sav..
pernah mengutusnya kepada seorang lelaki yang mengawini istri ayahnya sesudah ayahnya meninggal dunia.
Perintah Nabi ﷺ menginstruksikan kepadanya untuk menghukum mati lelaki tersebut dan menyita harta bendanya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Asy'as, dari Aildi ibnu Sabit, dari Al-Barra ibnu Azib yang mengatakan, "Pamanku bersua denganku, yakni Al-Haris ibnu Umair yang saat itu memimpin sejumlah pasukan yang kepemimpinannya diarahkan kepada pamanku." Maka aku bertanya.”Hai paman.
ke manakah Nabi ﷺ mengutusmu?"
Pamanku menjawab, "'Beliau mengutusku kepada seorang lelaki yang telah mengawini bekas istri ayahnya.
Nabi ﷺ memerintahkan kepadaku agar memancungnya.'

MASALAH :

Para ulama sepakat mengharamkan wanita yang pernah disetubuhi oleh seorang ayah, baik melalui nikah atau hamba sahaya (pemilikan) atau wati syubhat (persetubuhan secara keliru).

Tetapi mereka berselisih pendapat mengenai wanita yang pernah digauli oleh ayah dengan syahwat.
tetapi bukan persetubuhan, atau dipandangnya bagian-bagian tubuh yang tidak halal bagi si ayah sekiranya wanita itu adalah wanita lain (bukan mahramnya).

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa' (4) Ayat 22

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, al-Faryabi, dan ath-Thabarani, yang bersumber dari ‘Adi bin Tsabit , dari seorang Anshar.
Bahwa Abu Qais bin al-Aslat, seorang Anshar yang shaleh meninggal dunia.
Anaknya melamar istri Abu Qais (ibu tiri).
Wanita itu berkata: “Saya menganggap engkau sebagai anakku, dan engkau termasuk dari kaummu yang shaleh.” Maka menghadaplah wanita itu kepada Rasulullah ﷺ untuk menerangkan halnya.
Nabi ﷺ bersabda: “Pulanglah engkau ke rumahmu.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 22) sebagai larangan mengawini bekas istri bapaknya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi, bahwa di zaman jahiliyah, anak laki-laki yang ditinggal mati bapaknya lebih berhak dari diri ibu tirinya: apakah akan mengawininya atau mengawinkannya kepada orang lain, tergantung kehendaknya.
Ketika Abu Qais bin al-Aslat meninggal, Muhsin bin Qais (anaknya) mewarisi istri ayahnya, dan tidak memberikan suatu waris apapun pada wanita itu.
Menghadaplah wanita itu kepada Rasulullah ﷺ menerangkan halnya.
Maka bersabdalah Rasulullah: “Pulanglah, mudah-mudahan Allah akan menurunkan ayat mengenai halmu.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 19 dan 22) sebagai ketentuan waris bagi istri dan larangan mengawini ibu tiri.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari az-Zuhri bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 19 dan 22) berkenaan dengan sebagian besar kaum Anshar, yang apabila seseorang meninggal, maka istri yang bersangkutan menjadi milik wali si mati, dan menguasainya sampai meninggal.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa', yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa' karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa' dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Al Kubraa" (surat An Nisaa' yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Ash Shughraa" (surat An Nisaa' yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf'
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 22 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 22



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.8
Rating Pembaca: 4.4 (28 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ an nisa 22, inti sari surat an nisa ayat 22