Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 20


وَ اِنۡ اَرَدۡتُّمُ اسۡتِبۡدَالَ زَوۡجٍ مَّکَانَ زَوۡجٍ ۙ وَّ اٰتَیۡتُمۡ اِحۡدٰہُنَّ قِنۡطَارًا فَلَا تَاۡخُذُوۡا مِنۡہُ شَیۡئًا ؕ اَتَاۡخُذُوۡنَہٗ بُہۡتَانًا وَّ اِثۡمًا مُّبِیۡنًا
Wa-in aradtumuustibdaala zaujin makaana zaujin waaataitum ihdaahunna qinthaaran falaa ta’khudzuu minhu syai-an ata’khudzuunahu buhtaanan waitsman mubiinan;

Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun.
Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?
―QS. 4:20
Topik ▪ Para nabi menjadi saksi atas kaumnya
4:20, 4 20, 4-20, An Nisaa’ 20, AnNisaa 20, AnNisa 20, An-Nisa’ 20
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 20. Oleh Kementrian Agama RI

Allah menerangkan pula bahwa apabila di antara para suami ingin mengganti dengan istri yang lain, karena is tidak dapat lagi mempertahankan kesabaran atas ketidak senangannya kepada istrinya itu.
dan istri tidak pula melakukan tindak kejahatan, maka janganlah suami mengambil barang atau harta yang telah diberikan kepadanya.
Bahkan suami wajib memberikan hadiah penghibur kepadanya sebab perpisahan itu bukanlah atas kesalahan ataupun permintaan dari istri, tapi semata-mata kerena suami mencari kemaslahatan bagi dirinya sendiri.
Allah memperingatkan: apakah suami man menjadi orang yang berdosa, dengan tetap meminta kembali harta mereka dengan alasan yang dicari-cari?.
Karena tidak jarang suami membuat tuduhan-tuduhan jelek terhadap istrinya agar ada alasan baginya untuk menceraikan dan mints kembali harta yang telah diberikannya

An Nisaa' (4) ayat 20 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 20 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 20 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Jika kalian ingin mengganti istri dengan wanita lain, sementara kalian telah memberikan banyak harta kepada salah satunya, maka kalian tidak diperkenankan mengambil sedikit pun dari harta itu.
Apakah kalian akan mengambilnya secara tidak benar dan dalam bentuk dosa yang nyata?

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan jika kamu bermaksud hendak mengganti istrimu dengan istri yang lain) artinya kamu ambil dia sebagai penggantinya setelah kamu ceraikan istrimu yang pertama itu (dan) sungguh (kamu telah memberikan kepada salah seorang di antara mereka) maksudnya istri-istri itu (harta yang banyak) sebagai maskawinnya (maka janganlah kamu mengambil kembali daripadanya barang sedikit pun.
Apakah kamu akan mengambilnya kembali secara aniaya) dengan zalim (dan dengan -memikul- dosa yang nyata?) Dinashabkan keduanya karena kedudukan mereka sebagai hal sedangkan pertanyaan berikut maksudnya sebagai celaan dan penolakan:

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Bila kalian hendak mengganti satu orang istri dengan selainnya dan kalian sudah memberikan harta yang banyak kepada istri yang hendak kalian talak, maka tidak halal bagi kalian mengambil sedikit pun darinya.
Apakah kalian mau mengambilnya kembali sebgai sebuah kedustaan dan kepalsuan yang nyata?

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Jika seseorang di antara kalian ingin menceraikan seorang istri dan menggantikannya dengan istri yang lain, maka janganlah ia mengambil darinya maskawin yang pernah ia berikan kepadanya di masa lalu barang sedikit pun, sekalipun apa yang telah ia berikan kepadanya berupa harta yang banyak.

Dalam surat Ali Imran telah kami sebutkan penjelasan mengenai pengertian qintar ini dengan penjelasan yang cukup.
hingga tidak perlu diulangi lagi di sini.

Di dalam ayat ini terkandung dalil yang menunjukkan boleh memberikan maskawin dalam jumlah yang sangat banyak.
Akan tetapi, Khalifah Umar ibnul Khattab pernah melarang mengeluarkan maskawin dalam jumlah yang sangat banyak, kemudian beliau mencabut kembali larangannya itu.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail, telah menceritakan kepada kami Salamah ibnu Alqamah, dari Muhammad ibnu Sirin yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar dari Abul Ajfa As-Sulami yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Khalifah Umar ibnul Khattab berkata, “Ingatlah, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam bermaskawin terhadap wanita, karena sesungguhnya seandainya maskawin itu merupakan kemuliaan di dunia atau suatu ketakwaan di sisi Allah, niscaya Nabi ﷺ lebih mendahuluinya daripada kalian.
Rasulullah ﷺ tidak pernah memberikan maskawin kepada seorang pun dari istri-istrinya, tidak pula seorang wanita pun dari anak perempuannya menerima maskawin dalam jumlah yang lebih dari dua belas auqiyah.
Sesungguhnya seorang lelaki itu benar-benar akan mendapat ujian karena maskawin istrinya, hingga ia mempunyai rasa permusuhan terhadap istrinya dalam dirinya dan hingga ia mengatakan, “Aku terpaksa menggantungkan qirba-ku untuk mendapatkanmu.”

Kemudian hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan ahlus sunan melalui berbagai jalur dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abul Aufa yang nama aslinya ialah Haram ibnu Sayyib Al-Basri.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini berpredikat hasan sahih.

Jalur yang lain dari Umar r.a.

Al-Hafiz Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Khaisamah.
telah menceritakan kepada kami Ya’qub ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami ayahku.
dari Ibnu Ishaq.
telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnu Abdur Rahman, dari Khalid ibnu Sa’id, dari Asy-Sya’bi, dari Masruq yang mengatakan bahwa Khalifah Umar ibnul Khattab menaiki mimbar Rasulullah ﷺ, kemudian berkata, “Hai manusia, mengapa kalian berbanyak-banyak dalam mengeluarkan maskawin untuk wanita, padahal dahulu Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya membayar maskawin mereka di antara sesama mereka hanya empat ratus dirham atau kurang dari itu.
Seandainya memperbanyak maskawin merupakan ketakwaan di sisi Allah atau suatu kemuliaan, niscaya kalian tidak akan dapat mendahului mereka dalam hal ini.
Sekarang aku benar-benar akan mempermaklumatkan, hendaknya seorang lelaki jangan membayar maskawin kepada seorang wanita dalam jumlah lebih dari empat ratus dirham.” Masruq melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu Khalifah Umar turun dari mimbarnya, tetapi ada seorang wanita dari kalangan Quraisy mencegatnya dan mengatakan kepadanya, “Wahai Amirul Mu’minin, engkau melarang orang-orang melebihi empat ratus dirham dalam maskawin mereka?”
Khalifah Umar menjawab, “Ya.” Wanita itu berkata.”Tidakkah engkau mendengar apa yang telah diturunkan oleh Allah dalam Al-Qur’an?”
Khalifah Umar bertanya, “Ayat manakah yang engkau maksudkan?”
Wanita itu menjawab, “Tidakkah engkau pernah mendengar bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: ‘sedangkan kalian telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak’ (An Nisaa:20), hingga akhir ayat.” Maka Khalifah Umar berkata.”Ya Allah, ampunilah aku sesungguhnya orang ini lebih pandai daripada Umar.” Kemudian Khalifah Umar kembali menaiki mimbar, dan berkata.”Hai manusia sekalian.
sesungguhnya aku telah melarang kalian melebihi empat ratus dirham dalam membayar maskawin wanita.
Sekarang barang siapa yang ingin memberi mahar dari hartanya menurut apa yang disukainya, ia boleh melakukannya.”

Abu Ya’la mengatakan, “Menurut dugaan kuatku, Umar r.a.
mengatakan, ‘Barang siapa yang suka rela (memberi mahar dalam jumlah yang lebih dari empat ratus dirham), ia boleh melakukannya’.” Sanad asar ini dinilai jayyid (baik) lagi kuat.

Jalur yang lain.

Ibnul Munzir mengatakan.
telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim, dari Abdur Razzau.
dari Qais Ibnu Rabi’, dari Abu Husain.
dari Abu Abdur Rahman As-Sulami yang menceritakan bahwa Khalifah Umar Ibnu Khattab pernah mengatakan, “Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam membayar maskawin wanita.” Lalu ada seorang wanita berkata, “Tidaklah demikian, hai Umar, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: ‘Sedangkan kalian telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak’ (An Nisaa:20).” Yang dimaksud dengan qintar ialah emas yang banyak.
Abu Abdur Rahman As-Sulami mengatakan, “Demikian pula menurut qiraah Abdullah ibnu Mas’ud, yakni seqintar emas.
Maka janganlah kalian mengambil kembali darinya barang sedikit pun.” Kemudian Khalifah Umar berkata, “Sesungguhnya seorang wanita telah mendebat Umar, ternyata wanita itu dapat mengalahkannya.”

Jalur lain dari Umar terdapat inqita (rawi yang terputus).

Az-Zubair ibnu Bakkar mengatakan, telah menceritakan kepadaku pamanku Mus’ab ibnu Abdullah, dari kakekku yang telah menceritakan bahwa Khalifah Umar pernah mengatakan.”Janganlah kalian berlebihan dalam membayar maskawin Wanita.
sekalipun wanita yang dimaksud adalah anak perempuan Zul Qussah (yakni Yazid ibnul Husain Al-Harisi).
Dan barang siapa yang berlebihan, maka selebihnya diberikan ke Baitul Mal” Maka ada seorang wanita jangkung dari barisan kaum wanita —yang pada hidungnya terdapat anting-anting— mengatakan, “Itu tidak ada hak bagimu.” Khalifah Umar bertanya, “Mengapa?”
Wanita itu menjawab bahwa Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: sedangkan kalian telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak.
(An Nisaa:20), hingga akhir ayat.
Maka Umar berkata, “Seorang wanita benar, dan seorang lelaki keliru.” Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dengan nada mengingkari: Bagaimana kalian akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kalian telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami istri.
(An Nisaa:21)

Maksudnya bagaimana kalian tega mengambil kembali maskawin dari wanita.
padahal kamu telah bergaul dan bercampur dengannya, dan ia pun telah bergaul dan bercampur denganmu.
Menurut Ibnu Abbas, Mujahid, As-Saddi, dan ulama lainnya, yang dimaksud dengan ‘bergaul’ di sini ialah bersetubuh.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda kepada dua orang yang melakukan li’an, sesudah keduanya selesai dari sumpah li’an-nya:

Allah mengetahui bahwa salah satu dari kalian berdua ada yang dusta, maka adakah di antara kamu yang man bertobat?
Nabi ﷺ mengucapkan kalimat ini sebanyak tiga kali.
Maka si lelaki berkata, “Wahai Rasulullah.
bagaimanakah dengan hartaku —yakni maskawin yang telah diberikan?”
Nabi ﷺbersabda: Kamu tidak mempunyai harta itu lagi, jika kamu telah memberikannya sebagai maskawin, maka hal itu sebagai imbalan dari apa yang telah engkau halalkan dari farjinya.
Dan jika kamu adalah orang yang berdusta terhadapnya (istrimu), maka harta itu lebih jauh lagi bagimu dan lebih dekat kepadanya.

Di dalam kitab Sunan Abu daud dan lain-lain diriwayatkan dari Nadrah ibnu Abu Nadrah.
Bahwa ia pernah kawin dengan seorang wanita yang masih perawan yang berada dalam pingitannya.
Tetapi ternyata tiba-tiba wanita itu sudah hamil.
Lelaki itu datang kepada Rasulullah ﷺ dan menceritakan hal tersebut kepadanya.
Maka Nabi ﷺ memutuskan bahwa pihak lelaki tetap harus membayar maskawin kepada wanita itu, lalu beliau ﷺ menceraikan keduanya dan memerintahkan agar si wanita dihukum dera.

Lalu beliau ﷺ bersabda:

Anak ini adalah budakmu, dan maskawin itu sebagai ganti dari al-bud’u (farji).

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa' (4) Ayat 20

QINTHAAR
قِنطَار

Lafaz ini dalam bentuk mufrad, jamaknya adalah qanaathir mengandung arti sukatan atau ukuran yang timbangannya atau beratnya berbeda menurut tempat dan zaman, yaitu lebih kurang 100 ritl di Mesir dan 100 kg di Tunisia, harta yang banyak, atau lebih kurang 100 kati.

Ia disebut dua kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah Ali Imran (3), ayat 75 dan surah An Nisa’ (4), ayat 20.

Para ulama berbeda pendapat mengenai makna qinthaar.

– Mu’adz bin Jabl, Ibn Umar, Asim bin Abu An Najwad, Abu Hurairah dan Ubay bin Ka’ab berpendapat qinthaar adalah 1200 dirham, berdasarkan hadis Ubay bin Ka’ab, katanya, Rasulullah bersabda, “Al qinthaar adalah 1200 dirham'”

– Al Hasan, Ibn Abbas dan Ad Dahhak berpendapat al qinthaar adalah harta yang banyak dari emas dan perak, yaitu 1200 dinar dan 1200 seberat perak.

– Ibn Abbas, Al Hasan, Qatadah, Ad Dahhak berpendapat al qinthaar adalah 12.000 dirham atau 1000 dinar. Abu Hurayrah berkata,
“Rasulullah bersabda, “Al qinthaar adalah 12.000 dirham dan setiap dirham lebih baik dari apa yang ada antara langit dan bumi.”

– Sa’id bin Al Musayyab, Qatadah, Abu Shalih, As Suddi berpendapat al qinthaar sebanyak 80.000 dirham atau 100 ritl dari emas dan 80,000 dirham dari pada perak.

– Ada yang berpendapat ia sebanyak 70.000, yaitu pendapat Mujahid dan satu riwayat dari Ibn Umar.”

– Ar Rabi’ bin Anas berpendapat al qinthaar bermakna harta yang banyak.

Kesimpulannya, At Tabari berkata,
“Yang benar adalah al qinthaar bermakna harta yang banyak, tidak ada batasan kadar ukuran dan timbangannya yang tertentu”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:485

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 20 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 20



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.6
Rating Pembaca: 4.2 (16 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku