Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 171


یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ لَا تَغۡلُوۡا فِیۡ دِیۡنِکُمۡ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ ؕ اِنَّمَا الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ اِلٰی مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ ۫ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ۟ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا ثَلٰثَۃٌ ؕ اِنۡتَہُوۡا خَیۡرًا لَّکُمۡ ؕ اِنَّمَا اللّٰہُ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ؕ سُبۡحٰنَہٗۤ اَنۡ یَّکُوۡنَ لَہٗ وَلَدٌ ۘ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ وَکِیۡلًا
Yaa ahlal kitaabi laa taghluu fii diinikum walaa taquuluu ‘alallahi ilaal haqqa innamaal masiihu ‘iisaabnu maryama rasuulullahi wakalimatuhu alqaahaa ila maryama waruuhun minhu faaaminuu billahi warusulihi walaa taquuluu tsalaatsatun antahuu khairan lakum innamaallahu ilahun waahidun subhaanahu an yakuuna lahu waladun lahu maa fiis-samaawaati wamaa fiil ardhi wakafa billahi wakiilaa;

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.
Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.
Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan:
“(Tuhan itu) tiga”,
berhentilah (dari ucapan itu).
(Itu) lebih baik bagimu.
Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya.
Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.
―QS. 4:171
Topik ▪ Mengajak bangsa Yahudi untuk jihad
4:171, 4 171, 4-171, An Nisaa’ 171, AnNisaa 171, AnNisa 171, An-Nisa’ 171
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 171. Oleh Kementrian Agama RI

Kaum Nasrani melampaui batas dalam beragama dengan menambah-nambah hal-hal yang bukan dari agama seperti memuja dan mengagung-agungkan nabi mereka sampai melampaui batas-batas yang telah ditentukan Allah dengan mengada-adakan kebohongan terhadap-Nya dan dengan mengatakan bahwa Isa itu adalah putra Allah.

Melampaui batas-batas yang telah digariskan Allah subhanahu wa ta’ala ialah melanggar larangan-larangan-Nya dan mengingkari ketentuan dan ketetapan-Nya.
Perbuatan itu adalah amal berbahaya dan nyata-nyata mengingkari tuntunan Allah yang telah diberikan, tindakan mereka akan membawa kepada kedurhakaan dan tidak mustahil akan membawa kepada kekafiran dan kemusyrikan.
Hal ini pulalah yang membawa kaum Nasrani kepada anggapan bahwa Tuhan itu salah satu dari Tuhan-tuhan yang tiga atau Tuhan itu terdiri dari oknum-oknum yang tiga.
Sebagai penolakan atas paham yang salah ini Allah subhanahu wa ta’ala, menyatakan bahwa Isa ibnu Maryam hanyalah utusan Allah kepada hamba-Nya, bukan Tuhan yang disembah sebagai yang dianggap kaum Nasrani Isa as.
sendiri menyeru mereka supaya mengesakan Allah, tak ada yang disembah hanyalah Dia, dan dia melarang pula kaumnya supaya jangan mempersekutukan Allah dengan suatu apapun.
Sebagai tambahan atas penegasan tersebut Allah memfirmankan lagi bahwa Isa as, itu diciptakan dengan kalimat berupa ucapan “jadilah” (kun) tanpa ada seorang laki-laki pun (bapak) yang menikahi ibunya dan tanpa air mani yang masuk ke dalam rahim ibunya sebagaimana terciptanya manusia biasa.

Tatkala Allah subhanahu wa ta’ala, mengutus kepada ibunya malaikat Jibril dan memberitahukan bahwa Ia adalah utusan Allah yang diperintahkan untuk menyampaikan kepadanya berita gembira, yaitu dia akan memperoleh seorang anak laki-laki, Maryam merasa terkejut dan membantah dengan keras, karena ia masih perawan dan tidak pernah bersuami atau disentuh oleh seorang laki-laki.
Lalu Jibril membacakan kepadanya firman Allah:

Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya.
Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu.
Maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah” lalu jadilah.

(Q.S.
Ali Imran: 47)

Demikianlah dengan kala “kun” itu terciptalah Isa dalam kandungan ibunya.
Inilah suatu bukti kekuasaan Allah, bila Dia hendak menciptakan sesuatu cukup dengan ucapan “kun” saja.
Hal serupa ini berlaku pula penciptaan Nabi Adam as sebagaimana tersebut pada firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam.
Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia) maka jadilah dia.

(Q.S.
Ali Imran: 59)

Lalu ditiuplah roh ciptaan Allah ke dalam perut ibunya dan berkembanglah ia sampai datang masa melahirkannya.
Sebagaimana kaum Nasrani menduga bahwa yang ditiupkan ke dalam perut ibunya itu adalah sebagian dan roh Allah dan atas dasar inilah mereka menganggap bahwa Isa adalah putra Allah karena ia adalah sebahagian dari roh-Nya.
Ada di antara mufassirin menceritakan mengenai anggapan ini bahwa seorang rahib Nasrani yang mengobati Khalifah Harun Ar Rasyid berdiskusi dengan seorang ulama Islam yaitu Ali bin Husein Al Waqidi Al Marwazi.
Tabib Nasrani itu berkata kepada Alwaqidi: “Di dalam Kitabmu (Alquran) terdapat ayat yang membenarkan pendapat dan kepercayaan kami bahwa Isa as, adalah sebagian dari Allah, lalu dia membacakan bagian pertama dari ayat 171 ini.
Sebagai jawaban atas perkataan tabib itu Al Waqidi membacakan ayat

Dan Dia menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai rahmat) dari pada-Nya.
(Q.S.
al-Jatsiyah: 13)

Kemudian Al Waqidi berkata: “kalau benar apa yang kamu katakan bahwa kata ‘min-hu’ dalam ayat yang kamu baca itu berarti ‘sebahagian dan pada Nya’, sehingga kamu mengatakan bahwa Isa as, adalah sebagian dari Allah pula Hal ini berarti bahwa apa yang ada di langit dan di bumi ini adalah sebahagian dari Allah.
Dengan jawaban ini terdiamlah tabib Nasrani itu lalu dia masuk Islam.
(Tafsir Al-Maeagi, juz VI, hal.
30)

Karena kaum Nasrani itu telah tersesat dari akidah tauhid yang dibawa oleh para rasul, maka Allah memerintahkan kepada mereka agar kembali kepada akidah yang benar dengan beriman kepada Allah Yang Maha Esa dan beriman kepada rasul-Nya yang selalu menyeru kepada akidah tauhid dan janganlah mereka mengatakan lagi bahwa ada tiga Tuhan yaitu Bapak, Anak dan Ruhul Qudus, atau mengatakan bahwa Allah itu terdiri dari tiga oknum, masing-masingnya adalah Tuhan yang sempurna, dan kumpulan dari tiga oknum itulah Tuhan Yang Esa.
Mereka diperintahkan meninggalkan paham yang sesat dan menyesatkan ini, karena meninggalkan paham yang sesat itulah yang balk bagi mereka, mereka akan menjadi penganut agama tauhid yang dibawa oleh Nabi Ibrahim dan para Nabi-nabi sebelum dan sesudahnya akan menjadi orang yang benar-benar dan tidak akan termasuk golongan orang-orang kafir.

Dalam ayat lain Allah berfirman:

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah satu dari yang tiga” padahal sekali-kali tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Maha Esa.
(Q.S.
Al-Ma’idah: 73)

Jika mereka tidak berhenti dan apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih, kemudian ditegaskan lagi kepada mereka bahwa Allah sajalah Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Maha bersih dari sifat berbilang atau terbagi-bagi kepada beberapa bagian atau tersusun dari tiga oknum atau bersatu dengan makhluk-makhluk lainnya.
Maha Suci Allah dari hal-hal tersebut dan mustahil Dia mempunyai anak sebagaimana anggapan mereka atau Isa itu adalah Tuhan sebagaimana dikatakan oleh segolongan lain di antara mereka.
Allah adalah Maha Esa tidak ada yang menyerupai-Nya dan tidak beristri sebagai manusia yang melahirkan seorang anak bagi-Nya.
Dialah pemilik langit dan bumi serta semua yang ada pada keduanya termasuk Isa as.

Allah berfirman:

Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba
(Q.S.
Maryam: 93)

Tidak ada kecualinya dalam hal ini, semua makhluk akan menghadap ke hadirat Tuhan sebagai hamba, apapun pangkat dan derajatnya, baik dia malaikat, seorang Nabi, seorang yang diciptakan-Nya tanpa bapak dan ibu Seperti Nabi Adam as atau yang diciptakan-Nya tanpa bapak saja seperti Isa as maupun yang diciptakan dengan perantara bapak dan ibu, semua-Nya itu adalah hamba-Nya yang berharap kepada karunia dan rahmat-Nya, Dialah yang berkuasa sepenuhnya atas mereka dan Dialah yang memelihara dan kepada-Nya-lah mereka harus menyembah, berdoa dan bertawakal, Akidah tauhid inilah yang dibawa dan disampaikan para Nabi dan Rasul kepada umatnya termasuk Nabi Isa as, dan paham inilah yang dianut oleh para pengikutnya sesuai dengan dakwah dan ajarannya.
Tetapi pengikutnya yang datang kemudian terutama pengikut-pengikut yang dahulunya telah menganut agama-agama yang bermacam-macam tidak dapat melepaskan dirinya dari paham lama yang sesat itu sehingga mereka mencoba dan berusaha dengan sekuat tenaga agar agama Masehi yang mereka anut itu mempunyai corak yang sama dengan agama-agama nenek moyang mereka yang dahulu itu.
Paham Trinitas (menganggap Tuhan adalah tiga) sudah berkembang di Mesir, semenjak lebih kurang 4.000 tahun sebelum Masehi.
Di antara mereka ada yang menganggap bahwa Tuhan itu ialah Osiris, Isis dan Huris.
Demikian pula di India terdapat paham ini yang mengatakan bahwa Tuhan itu adalah tiga yang terdiri dari Brahma, Wisnu, dan Syiwa.
Penganut Budhapun ada yang mengatakan bahwa Budha itu adalah Tuhan yang terdiri dari tiga oknum.
Juga di Persia terdapat paham seperti ini.
Mereka menyembah Tuhan yang terdiri dari tiga oknum pula yaitu Hurmuz, Mitrat dan Ahriman.
Akhirnya mereka terbawa hanyut oleh paham trinitas yang beraneka ragam coraknya dan jadilah mereka tersebut tersesat dari paham tauhid yang di bawa Nabi Isa as dan amat sulitlah bagi mereka untuk meniggalkannya.
Para intelektual dari penganut agama Masehi ini memang merasakan dan mengetahui bahwa paham “taslis” ini tidak dapat diterima akal, akan tetapi mereka tetap mencari-cari alasan untuk membenarkan paham ini.
Di antara pendeta mereka ada yang mengatakan: “Dalam hal ini kita harus menyerahkan persoalan ini kepada hal-hal yang gaib yang belum diketahui oleh manusia dan tidak akan dapat diketahuinya, kecuali bila hijab telah berkata untuk itu dan jelaslah di waktu itu semua yang ada di langit dan di bumi”.

Pendeta Bother pengarang buku “Al-Usul wal furu'” (yang asal dari cabang-cabang), dan salah seorang juru penerang agama Nasrani berkata mengenai hal ini: “Kita telah mencoba memahaminya dengan lebih jelas yaitu di kala telah terbuka bagi kita tabir rahasia semua apa yang ada di langit dan di bumi”.

Dapat disimpulkan bahwa agama Nasrani benar-benar didasarkan kepada paham tauhid yang murni tetapi para pendetanya mencampur baurkan dan mengubahnya menjadi agama trinitas yang tidak dapat dipahami oleh akal, karena terpengaruh oleh paham-paham “taslis” bangsa Yunani dan Romawi yang mereka ambil dari paham-paham keagamaan Mesir lama dan Brahma.

An Nisaa' (4) ayat 171 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 171 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 171 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Wahai Ahl al-Kitab, janganlah kalian menentang kebenaran dan melampaui batas dalam beragama.
Jangan berbuat dusta kepada Allah dengan mengingkari risalah ‘Isa a.
s atau dengan menjadikannya sebagai tuhan selain Allah.
‘Isa al-Masih hanyalah rasul Allah seperti rasul-rasul yang lain.
‘Isa diciptakan Allah dengan kekuasaan dan kalimat-Nya yang disampaikan dan ditiupkan oleh malaikat Jibril kepada Maryam.
Hal itu merupakan salah satu rahasia kekuasaan Allah.
Oleh karena itu, berimanlah kepada Allah dan rasul- rasul-Nya dengan benar dan jangan beranggapan bahwa tuhan itu ada tiga.
Tinggalkanlah kebatilan itu, karena hal itu lebih baik.
Sesungguhnya Allah Mahaesa, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Allah Mahasuci dari kemungkinan mempunyai anak.
Segala yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya.
Cukuplah Allah sebagai pemelihara dan pengatur kepunyaan-Nya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Hai Ahli kitab) maksudnya kitab Injil (janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu katakan terhadap Allah kecuali) ucapan (yang benar) yaitu menyucikan-Nya dari kemusyrikan dan mempunyai anak.
(Sesungguhnya Almasih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan kalimat-Nya yang diucapkan-Nya) atau disampaikan-Nya (kepada Maryam dan roh) artinya yang mempunyai roh (daripada-Nya) diidhafatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala demi untuk memuliakan-Nya dan bukanlah sebagai dugaan kamu bahwa dia adalah anak Allah atau Tuhan bersama-Nya atau salah satu dari oknum yang tiga.
Karena sesuatu yang mempunyai roh itu tersusun sedangkan Tuhan Maha Suci dari tersusun dan dari dinisbatkannya tersusun itu kepada-Nya (Maka berimanlah kamu kepada Allah dan kepada rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu katakan) bahwa Tuhan itu (tiga) yakni Allah, Isa dan ibunya (hentikanlah) demikian itu (dan perbuatlah yang lebih baik bagi kamu) yakni bertauhid (Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa Maha Suci Dia) artinya bersih dan terhindar (dari mempunyai anak.
Bagi-Nya apa yang terdapat di langit dan yang di bumi) baik sebagai makhluk maupun sebagai milik dan hamba sedangkan pemiliknya itu bertentangan dengan mempunyai anak (Dan cukuplah Allah sebagai wakil) atau saksi atas demikian itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Wahai orang-orang pengikut Injil, jangan melampaui batas akidah yang shahih dalam agama kalian.
Jangan berkata atas nama Allah, kecuali kebenaran, dan jangan menisbatkan istri dan anak kepada Allah.
Karena al-Maish Isa putra Maryam adalah utusan Allah yang Dia utus dengan membawa kebenaran, Dia menciptakannya dengan kalimat yang dibawa oleh Jibril lalu disampaikannya kepada Maryam, yaitu firman-Nya :
Jadilah, maka dia pun jadi.
Dia adalah tiupan dari Allah yang ditiupkan oleh Jibril atas perintah Allah.
Maka benarkanlah bahwa Allah adalah Esa, tunduklah kepada-Nya, benarkanlah utusan-utusan-Nya dalam apa yang mereka bawa kepada kalian dari Allah dan amalkanlah ia.
Dan jangan jadikan Isa dan ibunya sebagai dua sekutu bagi Allah.
Berhentilah dari ucapan tersebut karena ia lebih baik bagi kalian daripada apa yang kalian pegang selama ini, karena Allah hanyalah satu Mahasuci Allah, apa yang ada di langit dan dibumi adalah milik-Nya, mana mungkin Dia mempunyai istri dan anak?
Cukuplah Allah sebagai pemegang tunggal segala urusan seluruh makhluk-Nya dan pengatur kehidupan mereka, maka bertawakallah hanya kepada-Nya semata karena Dia akan mencukupi kalian.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
melarang Ahli Kitab bersikap melampaui batas dan me­nyanjung secara berlebihan.
Hal ini banyak dilakukan oleh orang-orang Nasrani, karena sesungguhnya mereka melampaui batas sehu­bungan dengan Isa.
Mereka mengangkatnya di atas kedudukan yang telah diberikan oleh Allah kepadanya, lalu memindahkannya dari tingkat kenabian sampai menjadikannya sebagai tuhan selain Allah yang mereka sembah sebagaimana mereka menyembah Dia.

Bahkan pengikut dan golongannya —yaitu dari kalangan orang-orang yang mengakui bahwa dirinya berada dalam agamanya (Isa)— bersikap berlebihan pula, lalu mereka mengakui dirinya terpelihara dari kesalahan.
Akhirnya para pengikut mereka mengikuti semua yang dikatakannya, baik hak atau batil, baik sesat atau benar, baik jujur ataupun dusta.
Karena itulah disebutkan oleh firman-Nya:

Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mere­ka sebagai tuhan selain Allah.
(At-Taubah: 31), hingga akhir ayat.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasyim yang mengatakan bahwa Az-Zuhri menduga dari Ubaidillah ibnu Ab­dullah ibnu Atabah ibnu Mas’ud, dari Ibnu Abbas, dari Umar, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Janganlah kalian menyanjung-nyanjung diriku sebagaimana orang-orang Nasrani menyanjung-nyanjung Isa putra Maryam.
Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang hamba, maka katakan­lah, “Hamba dan utusan Allah.”

Kemudian ia meriwayatkannya pula —juga Ali ibnul Madini-— dari Sufyan ibnu Uyaynah, dari Az-Zuhri.
yang lafaznya seperti berikut:

Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah oleh kalian, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Ali ibnul Madini mengatakan bahwa predikat hadis ini sahih lagi musnad.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Al-Humaidi.
dari Sufyan ibnu Uyaynah, dari Az-Zuhri yang lafaznya berbunyi seperti berikut:

Sesungguhnya aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah, “Hamba Allah dan Rasul-Nya.”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Hasan ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Sabit Al-Bannani, dari Anas ibnu Malik, bahwa seorang lelaki pernah mengatakan, “Ya Muhammad, ya tuan kami, anak tuan kami yang paling baik dari kami, dan anak orang yang paling baik dari kami.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Hai manusia, peliharalah ucapan kalian, dan jangan sekali-kali setan menjerumuskan kalian.
Aku adalah Muhammad ibnu Ab­dullah, hamba Allah dan Rasul-Nya.
Demi Allah, aku tidak suka bila kalian mengangkatku di atas kedudukanku yang telah diberi­kan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
kepadaku.

Hadis ini bila ditinjau dari segi ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid (sendirian).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.

Maksudnya, janganlah kalian membuat kedustaan terhadap-Nya dan menjadikan bagi-Nya istri dan anak.
Mahasuci Allah lagi Mahatinggi dari hal itu dengan ketinggian yang setinggi-tingginya, Mahasuci lagi Maha Esa Zat Allah dalam sifat Keagungan dan Kebesaran-Nya.
Tidak ada Tuhan selain Dia, tidak ada Rabb selain Dia.

Dalam ayat Selanjutnya disebutkan:

Sesungguhnya Al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang terjadi dengan) kalimat-Nya yang disampaikan­Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.

Sesungguhnya Isa itu hanyalah seorang hamba Allah dan makhluk yang diciptakan-Nya.
Allah berfirman kepadanya, “Jadilah kamu,” maka jadilah dia.
Dia (Isa) hanyalah utusan-Nya dan kalimat-Nya yang Allah sampaikan kepada Maryam.
Dengan kata lain, Allah menciptakan Isa melalui kalimat perintah yang disampaikan oleh Malaikat Jibril ‘alaihis salam dari Allah subhanahu wa ta’ala.
kepada Maryam.
Lalu Malaikat Jibril me­niupkan roh ciptaan-Nya ke dalam tubuh Maryam dengan seizin Allah.
Maka jadilah Isa dengan seizin Allah.

Embusan itu ditiupkan oleh Malaikat Jibril ke dalam baju kurung Maryam, lalu tiupan itu turun hingga masuk ke dalam farjinya, sama kedudukannya dengan pembuahan yang dilakukan oleh seorang lelaki kepada istrinya: semuanya adalah makhluk Allah subhanahu wa ta’ala.
Karena itu, di­katakan bahwa Isa adalah kalimat Allah dan roh dari ciptaan-Nya, mengingat kejadiannya tanpa melalui proses seorang ayah.
Sesung­guhnya ia timbul dari kalimah yang diucapkan oleh Allah melalui Jib­ril kepada Maryam, yaitu kalimat kun (Jadilah), maka jadilah Isa, dan roh yang dikirimkan oleh Allah kepada Maryam melalui Jibril.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesung­guhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya se­orang yang sangat benar, keduanya biasa memakan makanan.
(Al Maidah:75)

Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman:

Sesungguhnya misal penciptaan Isa di sisi Allah adalah seperti penciptaan Adam.
Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudi­an Allah berfirman kepadanya, “Jadilah!” (seorang manusia).
Maka jadilah dia.
(Ali Imran:59)

Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormat­annya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya roh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam.
(Al Anbiyaa:91)

dan (ingatlah) Maryam putri Imran yang memelihara kehormat­annya.
(At Tahriim:12), hingga akhir ayat.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.
menceritakan perihal Isa Al-Masih, yaitu:

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepa­danya nikmat (kenabian).
(Az Zukhruf:59), hingga akhir ayat.

Abdur Razzaq meriwayatkan dari Ma’mar, dari Qatadah sehubungan dengan firman-Nya:

…dan (yang terjadi dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.

Ayat ini semakna dengan ayat lain, yaitu firman-Nya:

Jadilah/ Maka terjadilah ia.
(Yaa Siin:82)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ah­mad ibnu Sinan Al-Wasiri yang mengatakan bahwa ia pernah mende­ngar Syaz ibnu Yahya mengatakan sehubungan dengan firman-Nya:

…dan (yang terjadi dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.

Bahwa bukanlah kalimat yang menjadikan Isa, tetapi dengan kalimat itu akhirnya jadilah Isa.

Pendapat ini lebih baik daripada apa yang di­katakan oleh Ibnu Jarir sehubungan dengan firman-Nya:

Yang disampaikan-Nya kepada Maryam.

Makna yang dimaksud ialah Allah mengajarkan kalimat itu kepada Maryam.
sama seperti apa yang dikatakannya sehubungan dengan makna firman-Nya:

(Ingatlah) ketika malaikat berkata, “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari-Nya.
(Ali Imran:45)

Makna yang dimaksud ialah mengajarkan kepadamu suatu kalimat dari-Nya.
Ibnu Jarir menjadikan makna ayat ini sama dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala.
yang mengatakan:

Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Qur’an diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu.
(Al Qashash:86)

Bahkan pendapat yang sahih (benar) ialah yang mengatakan bahwa kalimat tersebut didatangkan oleh Malaikat Jibril kepada Maryam, lalu Malaikat Jibril meniupkan roh ciptaan-Nya ke dalam tubuh Mar­yam dengan seizin Allah.
Maka jadilah Isa ‘alaihis salam

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sadaqah ibnul Fadl, telah menceritakan kepada kami Al-Walid Al-Auza’i, telah menceritakan kepadaku Umair ibnu Hani’, telah mence­ritakan kepada kami Junadah ibnu Abu Umayyah, dari Ubadah ibnus Samit, dari Nabi ﷺ yang telah bersabda: Barang siapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba dan Rasul-Nya serta kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam serta roh dari-Nya, dan bahwa surga itu benar, neraka itu benar, nis­caya Allah akan memasukkannya ke dalam surga berdasarkan amal yang telah dikerjakannya.
Al-Walid mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abdur Rahman ibnu Yazid ibnu Jabir, dari Umair ibnu Hani’, dari Junadah yang di dalamnya disebutkan tambahan, yaitu: (Allah memasukkannya) ke dalam salah satu dari pintu-pintu surga yang delapan buah, dia boleh memasukinya dari pintu ma­na pun yang disukainya.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Daud ibnu Rasyid, dari Al-Walid, dari Ibnu Jabir dengan lafaz yang sama.
Dari jalur yang lain dari Al-Auza’i dengan lafaz yang sama.

Firman Allah yang ada dalam ayat, dan hadis yang semakna, ya­itu:

dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.
(An Nisaa:171) semakna dengan pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

Dan Dia menundukkan untuk kalian apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya.
(Al Jaatsiyah:13)

Yakni dari kalangan makhluk-Nya dan dari sisi-Nya.
Lafaz min di sini bukan untuk makna tab’id (sebagian) seperti yang dikatakan oleh orang-orang Nasrani —semoga laknat Allah yang berturut-turut menimpa mereka— melainkan makna yang dimaksud ialah ibtida-ul goyah, seperti pengertian yang terkandung di dalam ayat lain.
Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…dan (dengan tiupan) roh dari-Nya.

Yang dimaksud dengan ruhun dalam ayat ini ialah rasulun minhu, yakni urusan dari-Nya.
Sedangkan selain Mujahid mengatakan ma-habbatan minhu, yakni kasih sayang dari-Nya.
Tetapi pendapat yang kuat ialah yang pertama, yaitu yang mengatakan bahwa Nabi Isa di-ciptakan dari roh ciptaan-Nya.
Kemudian lafaz roh di-mudaf-kan (di­gandengkan) dengan-Nya dengan maksud mengandung pengertian tasyrif (kehormatan), sebagaimana lafaz naqah (unta) di-mudaf-kan kepada Allah, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:

Unta betina Allah ini.
(Al A’raf:73) Dan lafaz baitun (rumah) yang terdapat di dalam firman-Nya:

Bersihkanlah rumah-Ku, untuk orang-orang yang tawaf.
(Al Hajj:26)

Juga seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis yang mengata­kan:

Maka aku masuk menemui Tuhanku di dalam rumah-Nya.

Nabi ﷺ me-mudaf-kan lafaz darun (rumah) kepada Allah dengan maksud sebagai kehormatan terhadap rumah tersebut.
Masing-masing dari apa yang telah disebutkan termasuk ke dalam bab yang sama.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Maka berimanlah kalian kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.

Maksudnya, percayalah bahwa Allah adalah Satu, lagi Maha Esa, ti­ada beranak, dan tiada beristri, dan ketahuilah serta yakinilah bahwa Isa itu adalah hamba dan Rasul-Nya.

Dalam firman Selanjutnya disebutkan:

dan janganlah kalian mengatakan, “(Tuhan itu) tiga.”

Yakni janganlah kalian menjadikan Isa dan ibunya digandengkan de­ngan Allah sebagai dua orang yang mcnyekutui-Nya.
Mahatinggi Allah dari hal tersebut dengan ketinggian yang setinggi-tingginya.
Di dalam surat Al-Maidah Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Bahwa­sanya Allah salah seorang dari yang tiga,” padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa.
(Al Maidah:73}

Dalam ayat lainnya —masih dalam surat yang sama— Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman pula:

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman.”Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku.’ (Al Maidah:116) hingga akhir ayat.”

Dalam Surat Al-Maidah pada ayat lainnya Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Se­sungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putra Maryam.” (Al Maidah:17 dan 72), hingga akhir ayat.

Orang-orang Nasrani —la’natullahi ‘alaihim— karena kebodohan mereka, maka mereka tidak ada pegangan, kekufuran mereka tidak terbatas, bahkan ucapan dan kesesatannya sudah parah.
Ada yang beranggapan bahwa Isa putra maryam adalah Tuhan, ada yang menganggapnya sebagai sekutu, dan ada yang menganggapnya sebagai anak.
Mereka terdiri atas berbagai macam sekte yang cukup banyak jumlahnya, masing-masing mempunyai pendapat yang berbeda, dan penda­pat mereka tidak ada yang sesuai, semuanya bertentangan.

Salah seorang ahli ilmu kalam (Tauhid) mengatakan suatu penda­pat yang tepat, bahwa seandainya ada sepuluh orang Nasrani berkum­pul, niscaya pendapat mereka berpecah-belah menjadi sebelas penda­pat.

Salah seorang ulama Nasrani yang terkenal di kalangan mereka (yaitu Sa’id ibnu Patrik yang tinggal di Iskandaria pada sekitar tahun empat ratus Hijriah) menyebutkan bahwa mereka mengadakan suatu pertemuan besar yang di dalamnya mereka melakukan suatu misa be­sar.

Padahal sesungguhnya hal tersebut tiada lain hanyalah suatu pengkhianatan yang hina lagi rendah.
Hal ini terjadi pada masa Kon­stantinopel, pembangun kota yang terkenal itu.
Lalu mereka berselisih pendapat dalam pertemuan tersebut dengan perselisihan yang tidak terkendali dan tidak terhitung banyaknya pendapat yang ada.
Jumlah mereka lebih dari dua ribu uskup.
Mereka menjadi golongan yang banyak lagi berpecah belah.
Setiap lima puluh orang dari mereka mem­punyai pendapat sendiri, dan setiap dua puluh orang dari mereka mempunyai pendapat sendiri, setiap seratus orang dari mereka ada yang mempunyai pendapatnya sendiri, dan setiap tujuh puluh orang mem­punyai pendapatnya sendiri, ada pula yang lebih dan kurang dari jumlah tersebut mempunyai pendapat yang berbeda.

Ketika Raja Konstantinopel melihat kalangan mereka demikian, ada sejumlah orang yang banyaknya kurang lebih tiga ratus delapan belas orang uskup sepakat dengan suatu pendapat Maka raja meng­ambil golongan itu, lalu mendukung dan memperkuatnya.

Raja Konstantinopel dikenal sebagai seorang filosof berwatak ke­ras dan tidak mau menerima pendapat orang lain.
Lalu raja menghim­pun persatuan mereka dan membangun banyak gereja buat mereka serta membuat kitab-kitab dan undang-undang untuk mereka.
Lalu mereka membuat suatu amanat yang mereka ajarkan kepada anak-anak agar mereka meyakininya sejak dini, mengadakan pembaptisan besar-besaran atas dasar itu.
Para perigikut mereka dikenal dengan nama sekte Mulkaniyah.

Kemudian mereka mengadakan suatu pertemuan lain yang kedua, maka terjadilah di kalangan mereka sekte Ya’qubiyah.
Pada pertemu­an yang ketiga terbentuklah sekte Nusturiyan.

Ketiga golongan tersebut pada dasarnya mengukuhkan ajaran tri­nitas yang antara lain ialah Al-Masih.
Tetapi mereka berbeda pen­dapat mengenai kaifiyatnya sehubungan dengan masalah lahut dan nasut-nya, masing-masing mempunyai dugaan sendiri.
Apakah dia manunggal atau tidak, bersatukah atau menitis.
Pada kesimpulannya pendapat mereka terpecah menjadi tiga pendapat, masing-masing go­longan mengalirkan golongan yang lain, sedangkan kita mengalirkan semuanya.
Karena itu, dalam ayat ini disebutkan melalui firman-Nya:

berhentilah kalian (dari ucapan itu).
(Itu) lebih baik bagi kalian.

Maksudnya, akan lebih baik bagi kalian.

Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Mahasuci Allah da­ri mempunyai anak.

Yakni Mahasuci lagi Mahatinggi Allah dari hal tersebut dengan ke­tinggian yang setinggi-tingginya.

Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya.
Cu­kuplah Allah untuk menjadi Pemelihara.

Artinya, semuanya adalah makhluk dan milik Allah, dan semua yang ada di antara keduanya adalah hamba-hamba-Nya, mereka berada da­lam pengaturan dan kekuasaan-Nya.
Dialah Yang memelihara segala sesuatu, mana mungkin bila dikatakan bahwa Dia mempunyai istri dan anak dari kalangan mereka.
Dalam ayat yang lain disebutkan me­lalui firman-Nya:

Dia Pencipta langit dan bumi.
Bagaimana Dia mempunyai anak.
(Al An’am:101), hingga akhir ayat.

Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman dalam ayat yang lain, yaitu:

Dan mereka berkata, “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak” Sesungguhnya kalian telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar.
(Maryam:88-89)

sampai dengan firman-Nya:

dengan sendiri-sendiri.
(Maryam:95)

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 171 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 171



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.7
Rating Pembaca: 4.9 (13 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku