Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages

Tampilkan Lainnya ...

Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages
QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 164 [QS. 4:164]
وَ رُسُلًا قَدۡ قَصَصۡنٰہُمۡ عَلَیۡکَ مِنۡ قَبۡلُ وَ رُسُلًا لَّمۡ نَقۡصُصۡہُمۡ عَلَیۡکَ ؕ وَ کَلَّمَ اللّٰہُ مُوۡسٰی تَکۡلِیۡمًا
Warusulaa qad qashashnaahum ‘alaika min qablu warusulaa lam naqshushhum ‘alaika wakallamallahu muusa takliiman;
Dan ada beberapa rasul yang telah Kami kisahkan mereka kepadamu sebelumnya dan ada beberapa rasul (la-in) yang tidak Kami kisahkan mereka kepadamu.
Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung.
―QS. 4:164
Topik ▪ Sifat-sifat orang Nasrani
English Translation - Sahih International
And (We sent) messengers about whom We have related (their stories) to you before and messengers about whom We have not related to you.
And Allah spoke to Moses with (direct) speech.
―QS. 4:164

Alquran Arti Perkata (Indonesia & English)
وَرُسُلًا dan Rasul-Rasul

And Messengers
قَدْ sungguh

surely
قَصَصْنَٰهُمْ Kami kisahkan

We (have) mentioned them
عَلَيْكَ kepadamu

to you
مِن dari

from
قَبْلُ sebelum

before
وَرُسُلًا dan Rasul-Rasul

and Messengers
لَّمْ tidak

not
نَقْصُصْهُمْ Kami kisahkan mereka

We (have) mentioned them
عَلَيْكَ kepadamu

to you.
وَكَلَّمَ telah berbicara

And spoke
ٱللَّهُ Allah

Allah
مُوسَىٰ Musa

(to) Musa
تَكْلِيمًا pembicaraan/secara langsung

(in a) conversation.

 

Tafsir surah An Nisaa' (4) ayat 164

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Begitulah, Kami telah mengutus banyak rasul sebelummu.
Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kisahnya kepadamu, dan ada pula yang tidak Kami ceritakan.
Cara Allah memberikan wahyu kepada Musa adalah dengan berbicara secara langsung dari balik tabir, tanpa perantara.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan) telah Kami utus

(rasulrasul yang telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dulu, dan rasulrasul yang belum Kami kisahkan).
Diriwayatkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengirim delapan ribu orang nabi, empat ribu dari kalangan Bani Israel dan empat ribu lagi dari kalangan manusia lainnya ini dikatakan oleh Syekh dalam surah Ghafir.

(Dan Allah telah berbicara dengan Musa sebenar berbicara) artinya secara langsung.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Kami telah mengutus para Rasul yang telah Kami kisahkan mereka didalam Alquran sebelum ayat ini.
Dan ada pula Rasulrasul yang belum Kami kisahkan kepadamu karena sebuah hikmah yang Kami kehendaki.
Allah berbicara kepada Musa secara langsung sebagai sebuah kehormatan baginya dengan keistimewaan ini.
Ayat yang mulia ini menetapkan sifat kalam bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya, dan bahwa Allah berbicara kepada Nabi-Nya Musa secara hakiki tanpa perantara.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Yakni sebelum ayat ini, dalam surat-surat Makkiyah dan lain-lainnya.
Berikut ini adalah nama para nabi yang disebut oleh Allah subhanahu wa ta’ala, di dalam Alquran, yaitu:
1.
Adam
2.
Idris
3.
Nuh
4.
Hud
5.
Saleh
6.
Ibrahim
7.
Lut
8.
Ismail
9.
Ishaq
10.
Ya’qub
11.
Yusuf
12.
Ayyub
13.
Syu’aib
14.
Musa
15.
Harun
16.
Yunus
17.
Daud
18.
Sulaiman
19.
Ilyas
20.
Ilyasa
21.
Zakaria
22.
Yahya
23.
Isa
24.
ZulKifli
me­nurut kebanyakan ulama tafsir 25.
Penghulu mereka semuanya, yaitu Nabi Muhammad ﷺ

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

…dan rasulrasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka ke­padamu.

Sejumlah nabi lainnya yang cukup banyak tidak disebutkan di dalam Alquran.

Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah para nabi dan para rasul.
Hal yang terkenal sehubungan dengan masalah ini adalah hadis Abu Zar yang cukup panjang yang diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih di dalam kitab tafsirnya.
Ibnu Murdawaih mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad, telah menceri­takan kepada kami Ja’far ibnu Muhammad ibnul Hasan dan Al-Husain ibnu Abdullah ibnu Yazid, keduanya mengatakan, telah men­ceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Hisyam ibnu Yahya Al-Gassani, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari kakekku, dari Abu Idris Al-Khaulani, dari Abu Zar yang menceritakan hadis berikut:
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, berapakah para nabi itu?”
Rasulullah ﷺ menjawab,
“Seratus dua puluh empat ribu orang nabi.”
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, berapakah jum­lah yang menjadi rasul dari kalangan mereka?”
Rasulullah ﷺ menjawab,
“Tiga ratus tiga belas orang rasul, jumlah yang cu­kup banyak.”
Aku bertanya,
“Siapakah rasul yang paling perta­ma itu?”
Nabi ﷺ menjawab,
Adam.”
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, apakah dia nabi yang jadi rasul?”
Rasulullah ﷺ menjawab,
“Ya, Allah menciptakannya secara langsung dengan tangan kekuasaan-Nya, kemudian meniupkan ke dalam tubuh Adam sebagian dari roh (ciptaan)-Nya setelah bentuknya sem­purna.”
Selanjutnya Rasulullah ﷺ bersabda:
Hai Abu Zar, empat orang (dari mereka) adalah orang-orang Siryani, yaitu Adam, Syis, Nuh, dan Khunu’, yakni Idris yang me­rupakan orang yang mula-mula menulis dengan qalam (pena).
Dan empat orang rasul dari Arab, yaitu Hud, Saleh, Syu’aib, dan Nabimu, hai Abu Zar.
Mula-mula nabi dari kalangan Bani Israil adalah Musa, dan yang terakhir adalah Isa.
Mula-mula nabi adalah Adam, dan yang terakhir dari mereka adalah Nabi­mu.

Hadis ini secara lengkap diriwayatkan pula oleh Abu Hatim ibnu Hibban Al-Basti di dalam kitabnya yang berjudul Al-Anwa’ wal Taqasim, ia menilainya berpredikat sahih.
Tetapi Abul Faraj ibnul Jauzi berbeda dengannya, ia menyebutkan hadis ini di dalam kitabnya yang berjudul Al-Maudu’at (Hadishadis Buatan), dan ia mencurigainya se­bagai buatan Ibrahim ibnu Hisyam.
Ibrahim ibnu Hisyam ini tidak di­ragukan lagi menjadi pembahasan bagi para Imam ahli Jurh Wat Ta’-dil karena hadisnya ini.

Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abur Rabi’, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sabit Al-Abdi, telah menceritakan kepada kami Ma’bad ibnu Khalid Al-Ansari, dari Yazid Ar-Raqqasyi, dari Anas yang mengatakan bahwa Ra­sulullah ﷺ telah bersabda:
Saudara-saudaraku dari kalangan para nabi di masa lalu jum­lahnya ada delapan ribu orang nabi, kemudian Isa ibnu Maryam, dan barulah aku sendiri.

Kami meriwayatkannya melalui sahabat Anas dari jalur lain,

telah menceritakan kepada kami Al-Hafiz Abu Abdullah Az-Zahabi, telah menceritakan kepada kami Abul Fadl ibnu Asakir, telah menceritakan kepada kami Imam Abu Bakar ibnul Qasim ibnu Abu Sa’id As-Saffar, telah menceritakan kepada kami bibi ayahku (yaitu Siti Aisyah binti Ahmad ibnu Mansur ibnus Saffar), telah menceritakan kepada kami Asy-Syarif Abus Sanabik Hibatullah ibnu Abus Sahba Muham­mad ibnu Haidar Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Imam Al-Ustaz Abu Ishaq Al-Isfirayini yang mengatakan, telah mencerita­kan kepada kami Imam Abu Bakar Ahmad ibnu Ibrahim Al-Ismaili, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Usman ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Tariq, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Ziyad ibnu Sa’d, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Safwan ibnu Sulaim, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Aku diutus sesudah delapan ribu orang nabi, di antara mereka empat ribu orang nabi dari kalangan Bani Israil.

Bila ditinjau dari segi ini, hadis berpredikat garib, tetapi sanadnya ti­dak mengandung kelemahan, semua perawinya dikenal kecuali Ahmad ibnu Tariq, orang ini tidak kami kenal, apakah berpredikat adil atau daif, hanya Allah yang lebih mengetahui.

Hadis Abu Zar Al-Giffari mengenai jumlah para nabi cukup pan­jang.

Muhammad ibnul Husain Al-Ajiri mengatakan, telah men­ceritakan kepada kami Abu Bakar Ja’far ibnu Muhammad ibnul Giryani secara imla dalam bulan Rajab tahun 297 Hijriah, telah men­ceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Hisyam ibnu Yahya Al-Gassani, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari kakekku, dari Abu Idris Al-Khaulani, dari Abu Zar yang menceritakan hadis berikut:
Aku masuk ke dalam masjid, dan kujumpai Rasulullah ﷺ se­dang duduk sendirian, maka aku duduk menemaninya dan bertanya kepadanya,
“Wahai Rasulullah, sesungguhnya Engkau telah memerin­tahkan aku untuk menunaikan salat
(yakni sunnah).
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Salat adalah sebaik-baik pekerjaan, maka perbanyaklah atau persedikitlah.
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama?”
Maka Nabi ﷺ menjawab:
Iman kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya.
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?”
Nabi ﷺ menjawab:
Di antara mereka yang paling baik akhlaknya.
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, siapakah orang muslim yang paling selamat?”
Nabi ﷺ menjawab:
Orang (muslim) yang menyelamatkan orang-orang dari ganggu­an lisan dan tangannya.
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, hijrah apakah yang paling utama?”
Nabi ﷺ menjawab:
Orang yang hijrah (meninggalkan) semua kejahatan.
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, salat apakah yang paling afdal?
Rasulullah ﷺ menjawab:
yang paling panjang qunutnya.
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, puasa apakah yang paling utama?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
Melakukan puasa fardu dengan cukup (baik) dan di sisi Allah ada pahala yang berlipat ganda dengan lipat ganda yang ba­nyak.
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, jihad apakah yang paling utama?”
Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Orang yang kudanya disembelih dan darah dirinya dialirkan (yakni gugur).
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, hamba sahaya manakah yang paling afdal?”
Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Hamba sahaya yang paling mahal harganya dan paling bernilai di kalangan tuannya.
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
Yang dikeluarkan dengan susah payah oleh orang yang minim, dan sedekah secara sembunyi-sembunyi kepada orang fakir (mis­kin).
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, ayat apakah yang paling agung di antara yang diturunkan kepadamu?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
“Ayat Kursi,”
kemudian beliau ﷺ bersabda,
“Hai Abu Zar, ti­adalah langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi, melainkan seperti gelang yang dilemparkan di tengah padang sahara.
Keutamaan Arasy atas Kursi sama dengan keutamaan padang sa­hara atas gelang itu.”
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, berapakah jumlah para nabi itu?”
Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Seratus dua puluh empat ribu orang nabi.
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, berapakah jumlah para rasul dari kalangan mereka?”
Nabi ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Tiga ratus tiga belas orang rasul, jumlah yang cukup banyak lagi baik.
Aku bertanya,
“Siapakah yang paling pertama di antara mereka?”
Na­bi ﷺ menjawab,
Adam.”
Aku bertanya,
“Apakah dia seorang nabi yang jadi rasul?”
Nabi ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Ya, Allah menciptakannya (lengan tangan kekuasaan-Nya sendiri dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam tubuhnya, dan me­nyempurnakannya sebelum itu.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda pula:
Hai Abu Zar, empat orang adalah bangsa Siryani, yaitu Adam, Syis, Khanukh —yakni Idris, dia orang yang mula-mula menulis dengan qalam (pena)— dan Nuh.
Empat orang dari bangsa Arab, yaitu Hud, Syu’aib, Saleh, dan Nabimu, hai Abu Zar.
Mu­la-mula nabi Bani Israil adalah Musa dan yang paling terakhir adalah Isa.
Mula-mula rasul adalah Adam, dan yang paling akhir adalah Muhammad.
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, berapakah jumlah kitab yang ditu­runkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
Seratus empat buah kitab.
Allah menurunkan kepada Syis seba­nyak lima puluh sahifah.
kepada Khunukh (Idris) tiga puluh sahifah, kepada Ibrahim sepuluh sahifah, dan kepada Musa sebelum Taurat sepuluh sahifah.
Dan Allah menurunkan kitab Taurat, ki­tab Injil, kitab Zabur, dan Al-Furqan (Al-Qur’an).
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, apa sajakah yang terkandung di dalam sahifah Nabi Ibrahim.”
Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Semuanya mengandung kalimat berikut,
“Hai raja yang ber­kuasa, yang mendapat cobaan lagi teperdaya.
Sesungguhnya Aku tidak menjadikanmu untuk menghimpun dunia sebagian darinya dengan sebagian yang lain, tetapi aku menjadikanmu agar menghindarkan diri dari doa orang yang teraniaya, karena sesungguhnya Aku tidak akan menolaknya, sekalipun dari orang kafir.”
Di dalamnya banyak terkandung tamsil-tamsil (yang antara lain mengatakan),
“Diharuskan bagi orang yang berakal membagi waktunya ke dalam beberapa saat.
Sesaat ia gunakan untuk bermunajat kepada Tuhannya, sesaat ia gunakan untuk menghisab dirinya sendiri, sesaat ia gunakan untuk memikirkan ciptaan Allah, dan sesaat lagi ia gunakan untuk kepentingan dirinya untuk mencari makan dan minumnya.
Diharuskan bagi orang yang berakal tidak bepergian kecuali karena tiga perkara, yaitu mencari bekal untuk hari kemudian, mencari penghidupan, atau kesenangan yang tidak diharamkan, dan harus mengetahui zamannya guna menghadapi urusannya serta memelihara lisan­nya.
Barang siapa yang memperhitungkan percakapannya de­ngan amalnya, niscaya ia akan sedikit bicara, kecuali mengenai hal yang berurusan dengannya.
Abu Zar melanjutkan kisahnya, Lalu aku bertanya,
“Wahai Rasulul­lah, apakah yang terkandung di dalam sahifah Nabi Musa?”
Rasulul­lah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Semuanya merupakan nasihat-nasihat (pelajaran-pelajaran), ya­itu:
“Aku merasa heran terhadap orang yang percaya dengan kematian, lalu ia merasa gembira.
Aku merasa heran terhadap orang yang percaya dengan takdir, lalu ia bersusah payah.
Aku merasa heran dengan orang yang melihat dunia dan silih ber­gantinya terhadap para penghuninya, lalu ia merasa tenang de­ngan dunia itu.
Dan aku merasa heran dengan orang yang per­caya kepada hisab di hari kemudian, lalu ia tidak beramal.
Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah, apakah di dalam kitab (Alquran) yang ada di tangan kita terdapat sesuatu yang telah tertera di dalam kitabkitab Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan apa yang diturunkan oleh Allah kepadamu?”
Rasulullah ﷺ menjawab,
“Ya benar, hai Abu Zar, bacalah firman Allah subhanahu wa ta’ala :
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan ia ingat nama Tuhannya, lalu ia salat.
Tetapi kalian (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.
Sedang­kan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.
Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitabkitab yang dahulu, (yaitu) kitabkitab Ibrahim dan Musa (Al-A’la:
14-19).”
Aku berkata.”Wahai Rasulullah, berwasiadah kepadaku.”
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Aku berwasiat kepadamu agar takwa kepada Allah, karena se­sungguhnya takwa kepada Allah adalah induk semua perkaramu.
Aku berkata,
“Wahai Rasulullah, tambahkanlah wasiatmu kepadaku.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
Bacalah Alquran dan berzikir kepada Allah, karena sesung­guhnya hal itu merupakan sebutan bagimu di langit dan nur bagimu di bumi.
Aku berkata,
“Wahai Rasulullah, tambahkanlah wasiatmu kepadaku.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
Hindarilah olehmu banyak tertawa, karena sesungguhnya hal itu dapat mematikan hati dan melenyapkan nur wajahmu.
Aku berkata,
“Wahai Rasulullah, tambahkanlah wasiatmu kepadaku.”
Maka Rasulullah ﷺ, bersabda:
Berjihadlah kamu, karena sesungguhnya jihad itu merupakan ruhbaniyah umatku.
Aku berkata,
“tambahkanlah kepadaku.”
Maka Nabi ﷺ bersabda:
Diamlah kamu kecuali karena kebaikan, karena sesungguhnya (banyak) diam itu dapat mengusir setan dan membantumu untuk mengerjakan urusan agamamu.
Aku berkata, ‘Tambahkanlah kepadaku.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
Pandanglah orang yang sebawahmu dan janganlah kamu me­mandang orang yang seatasmu, karena sesungguhnya hal ini le­bih mendorong dirimu untuk tidak meremehkan nikmat Allah ke­padamu.
Aku berkata,
“Tambahkanlah kepadaku.”
Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Cintailah orang-orang miskin dan duduklah (bergaullah) ber­sama mereka, karena sesungguhnya hal ini mendorongmu untuk tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.
Aku berkata,
“Tambahkanlah kepadaku.”
Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Bersilaturahmilah kepada tetanggamu, sekalipun mereka memu­tuskannya darimu.
Aku berkata,
“Tambahkanlah kepadaku.”
Rasulullah menjawab me­lalui sabdanya:
Katakanlah perkara yang <a aria-describedby="tt" href="https://risalahmuslim.id/kamus/haq" class="glossaryLink cmtt_Istilah Umum" data-cmtooltip="

haq
Sebelum menjalani hukuman mati, seorang sufi, Hussein bin Manshur al Hallaj, berjalan sambil dikawal aparat.<BR CLASS=""> Ketika melihat kerumunan orang, dia berkata lantang,“Haq, haq, haq, ana al-haq (kebenaran, kebenaran, kebenaran, akulah kebenaran).”Dia pun harus menjalani hukuman mati atas pernyataannya yang kontroversial itu.<BR CLASS="">Lantas, apa sebetulnya makna al-haq? Ensiklopedia Alquran: Kajian Kosakata Menulis menjelaskan bahwa kata yang terdiri atas huruf haa dan qaf itu maknanya berkisar padaㅤ(…)</BR></BR>

” >hak, sekalipun pahit.
Aku berkata,
“Tambahkanlah kepadaku.”
Rasulullah ﷺ, menjawab melalui sabdanya:
Janganlah kamu takut terhadap celaan orang yang mencela ka­rena membela (agama) Allah.
Aku berkata,
“Tambahkanlah kepadaku.”
Maka Rasulullah ﷺ men­jawab melalui sabdanya,
“Dapat mencegah dirimu terhadap orang lain apa yang kamu ketahui mengenai dirimu, sedangkan kamu tidak me­nemukan pada mereka apa yang kamu sukai.
Cukuplah keaiban bagi­mu bila kamu mengetahui dari orang lain apa yang tidak kamu keta­hui mengenai dirimu atau kamu menemukan pada mereka apa yang kamu sukai.”
Kemudian Rasulullah ﷺ mengusap tangannya ke dadaku se­raya bersabda:
Hai Abu Zar, tidak ada akal seperti berpikir, tidak ada wara’ seperti menahan diri, dan tidak ada kehormatan seperti akhlak yang baik.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abul Mugirah, dari Ma’an ibnu Rifa’ah, dari Ali ibnu Yazid, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah, bahwa Abu Zar pernah bertanya kepada Nabi ﷺ Maka Nabi ﷺ menye­butkan perkara salat, puasa, sedekah, keutamaan ayat Kursi, dan kali­mati la haula wala quwwata illa billahi (tidak ada upaya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah), syuhada yang paling utama, hamba sahaya yang paling utama, kenabian Nabi Adam, dan bahwa dia diajak bicara langsung oleh Allah, serta bilangan para nabi dan para rasul, seperti yang disebutkan di atas.

Abdullah ibnul Imam Ahmad mengatakan bahwa ia menjumpai dalam kitab ayahnya yang ditulis oleh tangan ayahnya sendiri, telah menceritakan kepadaku Abdul Muta’ali ibnu Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id Al-Umawi, telah men­ceritakan kepada kami Mujalid, dari Abul Wadak yang mengatakan bahwa Abu Sa’id pernah bertanya,
“Apakah menurut pendapatmu Khawarij adalah Dajjal?”
Abul Wadak menjawab,
“Bukan.”
Lalu Abu Sa’id berkata bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Sesungguhnya aku adalah penutup seribu nabi atau lebih, dan ti­dak sekali-kali seorang nabi yang diutus kecuali dia pasti mem­peringatkan umatnya terhadap Dajjal.
Dan sesungguhnya telah dijelaskan kepadaku hal-hal yang belum pernah diterangkan.
Se­sungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya, sedangkan Tuhan kalian tidaklah buta.
Mata Dajjal yang sebelah kanan buta lagi menonjol tampak jelas seakan-akan seperti dahak yang ada pada tembok yang diplester, sedangkan mata kirinya seakan-akan se­perti bintang yang berkilauan, pada tiap-tiap anggota tubuhnya terdapat lisan, dan ia selalu membawa gambaran surga yang hi­jau di dalamnya mengalir air.
dan gambaran neraka yang hitam lagi berasap.

Kami meriwayatkannya pada bagian yang di dalamnya terdapat riwa­yat Abu Ya’la Al-Mausuli, dari Yahya ibnu Mu’in, disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu Mu’awiyah, telah men­ceritakan kepada kami Mujalid, dari Abul Wadak, dari Abu Sa’id yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya aku mengakhiri sejuta nabi atau lebih.
Tidak seka­li-kali Allah mengutus seseorang nabi kepada kaumnya, melain­kan memperingatkan kepada mereda terhadap Dajjal.

Lalu ia menuturkan hadis ini hingga selesai, demikianlah menurut la­faz yang diketengahkannya, yaitu dengan tambahan lafaz alfun (hing­ga maknanya menjadi satu juta, bukan seribu).

Tetapi adakalanya lafaz tersebut merupakan sisipan, hanya Allah yang lebih mengetahui.
Tetapi konteks riwayat Imam Ahmad lebih kuat dan lebih berhak untuk dinilai sahih, Semua perawi yang disebutkan dalam sanad hadis ini tidak ada masalah.

Hadis ini diriwayatkan pula melalui jalur Jabir ibnu Abdullah r.a.

Untuk itu Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah men­ceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Jabir yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah ber­sabda:
Sesungguhnya aku benar-benar merupakan penutup seribu nabi atau lebih, dan sesungguhnya tidak ada seorang pun dari mereka melainkan telah memperingatkan umatnya akan Dajjal Dan se­sungguhnya telah dijelaskan kepadaku apa-apa yang belum per­nah dijelaskan kepada seseorang pun dari mereka (para nabi).
Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya, sedangkan se­sungguhnya Tuhan kalian itu tidaklah buta.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.

Hal ini merupakan suatu penghormatan kepada Nabi Musaalaihis salam Karena itu, Nabi Musa dikenal dengan julukan ‘Kalimullah’.

Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih meriwayatkan, telah menceritakan ke­pada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Sulaiman Al-Maliki, telah menceritakan kepada kami Masih ibnu Hatim, telah menceritakan ke­pada kami Abdul Jabbar ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Abu Bakar ibnu Ayyasy, lalu ia menga­takan bahwa dirinya mendengar seorang lelaki membaca firman-Nya dengan bacaan seperti berikut:

“Dan Musa berbicara kepada Allah dengan langsung.”

Maka Abu Bakar ibnu Ayyasy berkata,
“Tidak sekali-kali mem­baca ayat ini dengan bacaan itu, melainkan hanyalah orang kafir.”
Abu Bakar mengatakan bahwa ia belajar qiraah dari Al-A’masy, dan Al-A’masy belajar qiraah dari Yahya ibnu Wasab, Yahya ibnu Wasab belajar qiraah dari Abu Abdur-Rahman As-Sulami.
dan Abu Abdur­Rahman As-Sulami belajar qiraah dari Ali ibnu Abu Talib, dan Ali ibnu Abu Talib belajar qiraah dari Rasulullah ﷺ Mengenai ayat ini yang bunyinya mengatakan:

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.

Abu Bakar ibnu Ayyasy marah terhadap orang yang membaca ayat tersebut tiada lain karena orang tersebut membacanya dengan bacaan yang mengubah maknanya.
Ternyata lelaki tersebut dari kalangan mu’tazilah yang mengingkari bahwa Allah berbicara kepada Musaalaihis salam atau berbicara kepada seseorang dari makhluk-Nya.
Seperti yang kami riwayatkan dari salah seorang mu’tazilah, bahwa ia membaca­kan firman berikut kepada salah seorang syekh dengan bacaan beri­kut:

Dan Allah diajak bicara oleh Musa dengan langsung.

Maka syekh itu berkata kepadanya,
“Hai Ibnul Lakhna, apakah yang akan engkau lakukan terhadap firman Allah subhanahu wa ta’ala, yang mengatakan:

‘Dan tatkala datang Musa untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya’ (QS. Al-A’raf [7]: 143)?”

Dengan kata lain, makna ayat tersebut tidak mengandung takwil dan perubahan makna.

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Husain ibnu Bahram, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Marzuq, telah menceritakan kepada kami Hani’ ibnu Yahya, dari Al-Hasan ibnu Abu Ja’far, dari Qatadah, dari Yahya ibnu Wassab, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Tatkala Musa diajak berbicara oleh Allah, ia dapat melihat ge­rakan semut di atas Bukit Safa di malam yang gelap gulita.

Hadis ini berpredikat garib dan sanadnya tidak sahih.
Apabila hadis ini benar mauquf, berarti predikatnya jayyid (baik).

Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya dan Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan melalui hadis Humaid ibnu Qais Al-A’raj, dari Abdullah ibnul Haris, dari ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Nabi Musa pada hari ia diajak bicara oleh Tuhannya memakai jubah dari bulu, baju dari bulu, dan celana dari bulu serta sepa­sang terompah dari kulit keledai yang tidak disembelih.

Ibnu Murdawaih meriwayatkan pula hadis berikut dengan sanadnya, dari Juwaibir, dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah berbicara dengan Musa sebanyak seratus empat puluh ribu kalimat selama tiga hari, semuanya berisi wasiat.
Ketika Musa mendengar pembicaraan manusia, maka ia menjadi ma­rah karena pengaruh dari apa yang telah ia dengar dari kalam Tuhan Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.

Sanad asar ini pun lemah karena Juwaibir berpredikat daif, dan Ad-Dahhak tidak menjumpai masa hidup Ibnu Abbas r.a.
Mengenai asar yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Murdawaih serta lain-lainnya melalui jalur Al-Fadl ibnu Isa Ar-Raqqasyi, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa ketika Allah berbicara kepada Musa pada hari Tur, bukan dengan kalam yang pernah Dia gunakan ketika me­nyerunya, maka Musa bertanya kepada-Nya,
“Wahai Tuhanku, apa­kah ini adalah kalam-Mu yang pernah Engkau gunakan kepadaku?”
Allah subhanahu wa ta’ala, menjawab,
“Bukan, hai Musa.
Sesungguhnya Aku ber­bicara denganmu baru hanya dengan kekuatan sepuluh ribu lisan dan Aku mempunyai kekuatan semua lisan, bahkan Aku lebih kuat dari­pada hal tersebut.”
Ketika Musa kembali kepada kaum Bani Israil, mereka bertanya,
“Hai Musa, gambarkanlah kepada kami kalam Tuhan Yang Maha Pe­murah.”
Musa menjawab,
“Aku tidak mampu melakukannya.”
Mereka berkata,
“Serupakanlah saja kepada kami.”
Musa menjawab,
“Tidakkah kalian pernah mendengar suara guntur?
Sesungguh­nya hal itu berdekatan dengannya, tetapi bukan seperti suara guntur.”

Sanad riwayat ini daif, karena A-Fadl Ar-Raqqasyi adalah orang yang lemah sekali dalam periwayatan hadis.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abu Bakar ibnu Abdur Rahman ibnul Haris.
dari Juz ibnu Jabir Al-Khas’ami, dari Ka’b yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah ketika berbicara kepada Musa memakai semua lisan (berbagai macam bahasa) kecuali kalam-Nya sendiri.
Maka Musa berkata,
“Wahai Tuhanku, apakah ini kalam-Mu?”
Allah menjawab,
“Bukan, sekiranya Aku berbicara dengan kalam-Ku, niscaya kamu tidak akan kuat mendengarnya”
Musa berkata,
“Wahai Tuhanku, apakah di antara makhluk-Mu terdapat sesuatu yang memiliki suara mirip dengan-Mu?”
Allah men­jawab,
“Tidak ada, dan yang lebih serupa dengan kalam-Ku ialah apa yang biasa kamu dengar dari suara guntur yang sangat keras.”

Tetapi riwayat ini mauquf hanya sampai pada Ka’b Al-Ahbar.
Dia menukilnya dari kitabkitab terdahulu yang menyangkut berita-berita Bani Israil, tetapi di dalamnya terkandung perubahan dan tambahan.