Search
Generic filters
Cari Kategori
🙏 Pilih semua
Quran
Hadits
Kamus
Podcast
Soal Agama
Artikel, Doa, dll.

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 164 [QS. 4:164]

وَ رُسُلًا قَدۡ قَصَصۡنٰہُمۡ عَلَیۡکَ مِنۡ قَبۡلُ وَ رُسُلًا لَّمۡ نَقۡصُصۡہُمۡ عَلَیۡکَ ؕ وَ کَلَّمَ اللّٰہُ مُوۡسٰی تَکۡلِیۡمًا
Warusulaa qad qashashnaahum ‘alaika min qablu warusulaa lam naqshushhum ‘alaika wakallamallahu muusa takliiman;
Dan ada beberapa rasul yang telah Kami kisahkan mereka kepadamu sebelumnya dan ada beberapa rasul (la-in) yang tidak Kami kisahkan mereka kepadamu.
Dan kepada Musa, Allah berfirman langsung.
―QS. An Nisaa’ [4]: 164

Daftar isi

And (We sent) messengers about whom We have related (their stories) to you before and messengers about whom We have not related to you.
And Allah spoke to Moses with (direct) speech.
― Chapter 4. Surah An Nisaa’ [verse 164]

وَرُسُلًا dan Rasul-Rasul

And Messengers
قَدْ sungguh

surely
قَصَصْنَٰهُمْ Kami kisahkan

We (have) mentioned them
عَلَيْكَ kepadamu

to you
مِن dari

from
قَبْلُ sebelum

before
وَرُسُلًا dan Rasul-Rasul

and Messengers
لَّمْ tidak

not
نَقْصُصْهُمْ Kami kisahkan mereka

We (have) mentioned them
عَلَيْكَ kepadamu

to you.
وَكَلَّمَ telah berbicara

And spoke
ٱللَّهُ Allah

Allah
مُوسَىٰ Musa

(to) Musa
تَكْلِيمًا pembicaraan/secara langsung

(in a) conversation.

Tafsir

Alquran

Surah An Nisaa’
4:164

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 164. Oleh Kementrian Agama RI


Ada beberapa rasul yang telah dikisahkan terdahulu oleh Allah kepada Muhammad ﷺ, dan ada pula beberapa rasul yang sengaja tidak dikisahkan kepadanya, karena umat-umatnya kurang dikenal.
Beberapa rasul telah dikisahkan dalam Alquran seperti firman Allah:


(84) Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Yakub kepadanya.

Kepada masing-masing telah Kami beri petunjuk;
dan sebelum itu Kami telah memberi petunjuk kepada Nuh, dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa, dan Harun.
Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik, (85) dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas.

Semuanya termasuk orang-orang yang saleh, (86) Dan Ismail, Alyasa, Yunus dan Lut.
Masing-masing Kami lebihkan (derajatnya) di atas umat lain (pada masanya), (al-An’am [6]: 84, 85 dan 86).


Kisah para nabi itu sebagian besar terdapat pada Surah Hud [11] dan Surah asy-Syu’ara [26].
Rasul-rasul yang tidak dikisahkan itu kurang dikenal umatnya oleh orang Arab dan tidak dikenal pula oleh Ahli Kitab yang berdampingan masa hidupnya dengan mereka.

Hikmah dari mengisahkan nabi-nabi itu ialah untuk mengambil iktibar dan pelajaran, untuk menambah ketabahan hati ketika menghadapi tantangan-tantangan dan permusuhan dan untuk memperkuat kenabian Muhammad, sebagaimana firman Allah:

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ

Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu;
dan di dalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat dan peringatan bagi orang yang beriman.
(Hud[11]: 120).


Orang Yahudi beranggapan, bahwa yang diberi wahyu dan pangkat kenabian itu hanya dari golongan mereka saja, padahal beberapa ayat menunjukkan bahwa Allah telah mengutus beberapa rasul untuk setiap umat sebagai realisasi dari rahmat Allah yang tersebar luas ke seluruh dunia.
Firman Allah:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan),
"Sembahlah Allah, dan jauhilah Tagut"
(an-Nahl [16]: 36).

وَاِنْ مِّنْ اُمَّةٍ اِلَّا خَلَا فِيْهَا نَذِيْرٌ

Dan tidak ada satu pun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan.
(Fathir [35]: 24).


Allah telah berbicara langsung kepada Musa meskipun Allah tidak menampakkan wujud-Nya kepada Nabi Musa ketika menurunkan wahyu kepadanya sebagaimana dijelaskan Allah di dalam firman-Nya:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحْيًا اَوْ مِنْ وَّرَاۤئِ حِجَابٍ اَوْ يُرْسِلَ رَسُوْلًا فَيُوْحِيَ بِاِذْنِهٖ مَا يَشَاۤءُ اِنَّهٗ عَلِيٌّ حَكِيْمٌ

Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara kepadanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki.
Sungguh, Dia Maha Tinggi, Maha Bijaksana.
(asy-Syura [42]: 51).


Pembicaraan Allah kepada Musa itu termasuk pembicaraan di belakang tabir, karena beliau hanya mendengar kalam Ilahi dan tidak dapat melihat-Nya.

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 164. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Begitulah, Kami telah mengutus banyak rasul sebelummu.
Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kisahnya kepadamu, dan ada pula yang tidak Kami ceritakan.


Cara Allah memberikan wahyu kepada Musa adalah dengan berbicara secara langsung dari balik tabir, tanpa perantara.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Kami telah mengutus para Rasul yang telah Kami kisahkan mereka didalam Alquran sebelum ayat ini.
Dan ada pula Rasul-rasul yang belum Kami kisahkan kepadamu karena sebuah hikmah yang Kami kehendaki.


Allah berbicara kepada Musa secara langsung sebagai sebuah kehormatan baginya dengan keistimewaan ini.
Ayat yang mulia ini menetapkan sifat kalam bagi Allah sesuai dengan keagungan-Nya, dan bahwa Allah berbicara kepada Nabi-Nya Musa secara hakiki tanpa perantara.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan) telah Kami utus


(rasul-rasul yang telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dulu, dan rasul-rasul yang belum Kami kisahkan).
Diriwayatkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengirim delapan ribu orang nabi, empat ribu dari kalangan Bani Israel dan empat ribu lagi dari kalangan manusia lainnya ini dikatakan oleh Syekh dalam surah Ghafir.


(Dan Allah telah berbicara dengan Musa sebenar berbicara) artinya secara langsung.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Yakni sebelum ayat ini, dalam surat-surat Makkiyah dan lain-lainnya.
Berikut ini adalah nama para nabi yang disebut oleh Allah subhanahu wa ta’ala, di dalam Alquran, yaitu:
1. Adam
2. Idris
3. Nuh
4. Hud
5. Saleh
6. Ibrahim
7. Lut
8. Ismail
9. Ishaq
10. Ya’qub
11. Yusuf
12. Ayyub
13. Syu’aib
14. Musa
15. Harun
16. Yunus
17. Daud
18. Sulaiman
19. Ilyas
20. Ilyasa’
21. Zakaria
22. Yahya
23. Isa
24. ZulKifli
me­nurut kebanyakan ulama tafsir 25. Penghulu mereka semuanya, yaitu Nabi Muhammad ﷺ

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

…dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka ke­padamu.

Sejumlah nabi lainnya yang cukup banyak tidak disebutkan di dalam Alquran.

Para ulama berbeda pendapat mengenai jumlah para nabi dan para rasul.
Hal yang terkenal sehubungan dengan masalah ini adalah hadis Abu Zar yang cukup panjang yang diriwayatkan oleh Ibnu Murdawaih di dalam kitab tafsirnya.
Ibnu Murdawaih mengatakan:


telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad, telah menceri­takan kepada kami Ja’far ibnu Muhammad ibnul Hasan dan Al-Husain ibnu Abdullah ibnu Yazid, keduanya mengatakan, telah men­ceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Hisyam ibnu Yahya Al-Gassani, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari kakekku, dari Abu Idris Al-Khaulani, dari Abu Zar yang menceritakan hadis berikut:
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, berapakah para nabi itu?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Seratus dua puluh empat ribu orang nabi."
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, berapakah jum­lah yang menjadi rasul dari kalangan mereka?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Tiga ratus tiga belas orang rasul, jumlah yang cu­kup banyak."
Aku bertanya,
"Siapakah rasul yang paling perta­ma itu?"
Nabi ﷺ menjawab,
"Adam."
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, apakah dia nabi yang jadi rasul?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Ya, Allah menciptakannya secara langsung dengan tangan kekuasaan-Nya, kemudian meniupkan ke dalam tubuh Adam sebagian dari roh (ciptaan)-Nya setelah bentuknya sem­purna."
Selanjutnya Rasulullah ﷺ bersabda:
Hai Abu Zar, empat orang (dari mereka) adalah orang-orang Siryani, yaitu Adam, Syis, Nuh, dan Khunu’, yakni Idris yang me­rupakan orang yang mula-mula menulis dengan qalam (pena).
Dan empat orang rasul dari Arab, yaitu Hud, Saleh, Syu’aib, dan Nabimu, hai Abu Zar.
Mula-mula nabi dari kalangan Bani Israil adalah Musa, dan yang terakhir adalah Isa.
Mula-mula nabi adalah Adam, dan yang terakhir dari mereka adalah Nabi­mu.

Hadis ini secara lengkap diriwayatkan pula oleh Abu Hatim ibnu Hibban Al-Basti di dalam kitabnya yang berjudul Al-Anwa’ wal Taqasim, ia menilainya berpredikat sahih.
Tetapi Abul Faraj ibnul Jauzi berbeda dengannya, ia menyebutkan hadis ini di dalam kitabnya yang berjudul Al-Maudu’at (Hadis-hadis Buatan), dan ia mencurigainya se­bagai buatan Ibrahim ibnu Hisyam.
Ibrahim ibnu Hisyam ini tidak di­ragukan lagi menjadi pembahasan bagi para Imam ahli Jurh Wat Ta’-dil karena hadisnya ini.

Abu Ya’la mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abur Rabi’, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sabit Al-Abdi, telah menceritakan kepada kami Ma’bad ibnu Khalid Al-Ansari, dari Yazid Ar-Raqqasyi, dari Anas yang mengatakan bahwa Ra­sulullah ﷺ telah bersabda:
Saudara-saudaraku dari kalangan para nabi di masa lalu jum­lahnya ada delapan ribu orang nabi, kemudian Isa ibnu Maryam, dan barulah aku sendiri.

Kami meriwayatkannya melalui sahabat Anas dari jalur lain,

telah menceritakan kepada kami Al-Hafiz Abu Abdullah Az-Zahabi, telah menceritakan kepada kami Abul Fadl ibnu Asakir, telah menceritakan kepada kami Imam Abu Bakar ibnul Qasim ibnu Abu Sa’id As-Saffar, telah menceritakan kepada kami bibi ayahku (yaitu Siti Aisyah binti Ahmad ibnu Mansur ibnus Saffar), telah menceritakan kepada kami Asy-Syarif Abus Sanabik Hibatullah ibnu Abus Sahba Muham­mad ibnu Haidar Al-Qurasyi, telah menceritakan kepada kami Imam Al-Ustaz Abu Ishaq Al-Isfirayini yang mengatakan, telah mencerita­kan kepada kami Imam Abu Bakar Ahmad ibnu Ibrahim Al-Ismaili, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Usman ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Tariq, telah menceritakan kepada kami Muslim ibnu Khalid, telah menceritakan kepada kami Ziyad ibnu Sa’d, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Safwan ibnu Sulaim, dari Anas ibnu Malik yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Aku diutus sesudah delapan ribu orang nabi, di antara mereka empat ribu orang nabi dari kalangan Bani Israil.

Bila ditinjau dari segi ini, hadis berpredikat garib, tetapi sanadnya ti­dak mengandung kelemahan, semua perawinya dikenal kecuali Ahmad ibnu Tariq, orang ini tidak kami kenal, apakah berpredikat adil atau daif, hanya Allah yang lebih mengetahui.

Hadis Abu Zar Al-Giffari mengenai jumlah para nabi cukup pan­jang.

Muhammad ibnul Husain Al-Ajiri mengatakan, telah men­ceritakan kepada kami Abu Bakar Ja’far ibnu Muhammad ibnul Giryani secara imla dalam bulan Rajab tahun 297 Hijriah, telah men­ceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Hisyam ibnu Yahya Al-Gassani, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari kakekku, dari Abu Idris Al-Khaulani, dari Abu Zar yang menceritakan hadis berikut:
Aku masuk ke dalam masjid, dan kujumpai Rasulullah ﷺ se­dang duduk sendirian, maka aku duduk menemaninya dan bertanya kepadanya,
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya Engkau telah memerin­tahkan aku untuk menunaikan salat"
(yakni sunnah).
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Salat adalah sebaik-baik pekerjaan, maka perbanyaklah atau persedikitlah.
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, amal apakah yang paling utama?"
Maka Nabi ﷺ menjawab:
Iman kepada Allah dan berjihad di jalan-Nya.
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?"
Nabi ﷺ menjawab:
Di antara mereka yang paling baik akhlaknya.
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, siapakah orang muslim yang paling selamat?"
Nabi ﷺ menjawab:
Orang (muslim) yang menyelamatkan orang-orang dari ganggu­an lisan dan tangannya.
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, hijrah apakah yang paling utama?"
Nabi ﷺ menjawab:
Orang yang hijrah (meninggalkan) semua kejahatan.
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, salat apakah yang paling afdal?
Rasulullah ﷺ menjawab:
yang paling panjang qunutnya.
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, puasa apakah yang paling utama?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
Melakukan puasa fardu dengan cukup (baik) dan di sisi Allah ada pahala yang berlipat ganda dengan lipat ganda yang ba­nyak.
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, jihad apakah yang paling utama?"
Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Orang yang kudanya disembelih dan darah dirinya dialirkan (yakni gugur).
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, hamba sahaya manakah yang paling afdal?"
Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Hamba sahaya yang paling mahal harganya dan paling bernilai di kalangan tuannya.
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling utama?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
Yang dikeluarkan dengan susah payah oleh orang yang minim, dan sedekah secara sembunyi-sembunyi kepada orang fakir (mis­kin).
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, ayat apakah yang paling agung di antara yang diturunkan kepadamu?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
"Ayat Kursi,"
kemudian beliau ﷺ bersabda,
"Hai Abu Zar, ti­adalah langit yang tujuh dibandingkan dengan Kursi, melainkan seperti gelang yang dilemparkan di tengah padang sahara.
Keutamaan Arasy atas Kursi sama dengan keutamaan padang sa­hara atas gelang itu."
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, berapakah jumlah para nabi itu?"
Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Seratus dua puluh empat ribu orang nabi.
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, berapakah jumlah para rasul dari kalangan mereka?"
Nabi ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Tiga ratus tiga belas orang rasul, jumlah yang cukup banyak lagi baik.
Aku bertanya,
"Siapakah yang paling pertama di antara mereka?"
Na­bi ﷺ menjawab,
"Adam."
Aku bertanya,
"Apakah dia seorang nabi yang jadi rasul?"
Nabi ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Ya, Allah menciptakannya (lengan tangan kekuasaan-Nya sendiri dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya ke dalam tubuhnya, dan me­nyempurnakannya sebelum itu.
Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda pula:
Hai Abu Zar, empat orang adalah bangsa Siryani, yaitu Adam, Syis, Khanukh —yakni Idris, dia orang yang mula-mula menulis dengan qalam (pena)— dan Nuh.
Empat orang dari bangsa Arab, yaitu Hud, Syu’aib, Saleh, dan Nabimu, hai Abu Zar.
Mu­la-mula nabi Bani Israil adalah Musa dan yang paling terakhir adalah Isa.
Mula-mula rasul adalah Adam, dan yang paling akhir adalah Muhammad.
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, berapakah jumlah kitab yang ditu­runkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala?"
Rasulullah ﷺ menjawab:
Seratus empat buah kitab.
Allah menurunkan kepada Syis seba­nyak lima puluh sahifah.
kepada Khunukh (Idris) tiga puluh sahifah, kepada Ibrahim sepuluh sahifah, dan kepada Musa sebelum Taurat sepuluh sahifah.
Dan Allah menurunkan kitab Taurat, ki­tab Injil, kitab Zabur, dan Al-Furqan (Al-Qur’an).
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, apa sajakah yang terkandung di dalam sahifah Nabi Ibrahim."
Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Semuanya mengandung kalimat berikut,
"Hai raja yang ber­kuasa, yang mendapat cobaan lagi teperdaya.
Sesungguhnya Aku tidak menjadikanmu untuk menghimpun dunia sebagian darinya dengan sebagian yang lain, tetapi aku menjadikanmu agar menghindarkan diri dari doa orang yang teraniaya, karena sesungguhnya Aku tidak akan menolaknya, sekalipun dari orang kafir."
Di dalamnya banyak terkandung tamsil-tamsil (yang antara lain mengatakan),
"Diharuskan bagi orang yang berakal membagi waktunya ke dalam beberapa saat.
Sesaat ia gunakan untuk bermunajat kepada Tuhannya, sesaat ia gunakan untuk menghisab dirinya sendiri, sesaat ia gunakan untuk memikirkan ciptaan Allah, dan sesaat lagi ia gunakan untuk kepentingan dirinya untuk mencari makan dan minumnya.
Diharuskan bagi orang yang berakal tidak bepergian kecuali karena tiga perkara, yaitu mencari bekal untuk hari kemudian, mencari penghidupan, atau kesenangan yang tidak diharamkan, dan harus mengetahui zamannya guna menghadapi urusannya serta memelihara lisan­nya.
Barang siapa yang memperhitungkan percakapannya de­ngan amalnya, niscaya ia akan sedikit bicara, kecuali mengenai hal yang berurusan dengannya.
Abu Zar melanjutkan kisahnya, Lalu aku bertanya,
"Wahai Rasulul­lah, apakah yang terkandung di dalam sahifah Nabi Musa?"
Rasulul­lah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Semuanya merupakan nasihat-nasihat (pelajaran-pelajaran), ya­itu:
"Aku merasa heran terhadap orang yang percaya dengan kematian, lalu ia merasa gembira.
Aku merasa heran terhadap orang yang percaya dengan takdir, lalu ia bersusah payah.
Aku merasa heran dengan orang yang melihat dunia dan silih ber­gantinya terhadap para penghuninya, lalu ia merasa tenang de­ngan dunia itu.
Dan aku merasa heran dengan orang yang per­caya kepada hisab di hari kemudian, lalu ia tidak beramal.
Aku bertanya,
"Wahai Rasulullah, apakah di dalam kitab (Alquran) yang ada di tangan kita terdapat sesuatu yang telah tertera di dalam kitab-kitab Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan apa yang diturunkan oleh Allah kepadamu?"
Rasulullah ﷺ menjawab,
"Ya benar, hai Abu Zar, bacalah firman Allah subhanahu wa ta’ala :
"Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan ia ingat nama Tuhannya, lalu ia salat.
Tetapi kalian (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi.
Sedang­kan kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.
Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) kitab-kitab Ibrahim dan Musa (Al-A’la:
14-19)."
Aku berkata.”Wahai Rasulullah, berwasiadah kepadaku."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
Aku berwasiat kepadamu agar takwa kepada Allah, karena se­sungguhnya takwa kepada Allah adalah induk semua perkaramu.
Aku berkata,
"Wahai Rasulullah, tambahkanlah wasiatmu kepadaku."
Rasulullah ﷺ bersabda:
Bacalah Alquran dan berzikir kepada Allah, karena sesung­guhnya hal itu merupakan sebutan bagimu di langit dan nur bagimu di bumi.
Aku berkata,
"Wahai Rasulullah, tambahkanlah wasiatmu kepadaku."
Rasulullah ﷺ bersabda:
Hindarilah olehmu banyak tertawa, karena sesungguhnya hal itu dapat mematikan hati dan melenyapkan nur wajahmu.
Aku berkata,
"Wahai Rasulullah, tambahkanlah wasiatmu kepadaku."
Maka Rasulullah ﷺ, bersabda:
Berjihadlah kamu, karena sesungguhnya jihad itu merupakan ruhbaniyah umatku.
Aku berkata,
"tambahkanlah kepadaku."
Maka Nabi ﷺ bersabda:
Diamlah kamu kecuali karena kebaikan, karena sesungguhnya (banyak) diam itu dapat mengusir setan dan membantumu untuk mengerjakan urusan agamamu.
Aku berkata, ‘Tambahkanlah kepadaku."
Rasulullah ﷺ bersabda:
Pandanglah orang yang sebawahmu dan janganlah kamu me­mandang orang yang seatasmu, karena sesungguhnya hal ini le­bih mendorong dirimu untuk tidak meremehkan nikmat Allah ke­padamu.
Aku berkata,
"Tambahkanlah kepadaku."
Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Cintailah orang-orang miskin dan duduklah (bergaullah) ber­sama mereka, karena sesungguhnya hal ini mendorongmu untuk tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu.
Aku berkata,
"Tambahkanlah kepadaku."
Rasulullah ﷺ menjawab melalui sabdanya:
Bersilaturahmilah kepada tetanggamu, sekalipun mereka memu­tuskannya darimu.
Aku berkata,
"Tambahkanlah kepadaku."
Rasulullah menjawab me­lalui sabdanya:
Katakanlah perkara yang hak, sekalipun pahit.
Aku berkata,
"Tambahkanlah kepadaku."
Rasulullah ﷺ, menjawab melalui sabdanya:
Janganlah kamu takut terhadap celaan orang yang mencela ka­rena membela (agama) Allah.
Aku berkata,
"Tambahkanlah kepadaku."
Maka Rasulullah ﷺ men­jawab melalui sabdanya,
"Dapat mencegah dirimu terhadap orang lain apa yang kamu ketahui mengenai dirimu, sedangkan kamu tidak me­nemukan pada mereka apa yang kamu sukai.
Cukuplah keaiban bagi­mu bila kamu mengetahui dari orang lain apa yang tidak kamu keta­hui mengenai dirimu atau kamu menemukan pada mereka apa yang kamu sukai."
Kemudian Rasulullah ﷺ mengusap tangannya ke dadaku se­raya bersabda:
Hai Abu Zar, tidak ada akal seperti berpikir, tidak ada wara’ seperti menahan diri, dan tidak ada kehormatan seperti akhlak yang baik.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abul Mugirah, dari Ma’an ibnu Rifa’ah, dari Ali ibnu Yazid, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah, bahwa Abu Zar pernah bertanya kepada Nabi ﷺ Maka Nabi ﷺ menye­butkan perkara salat, puasa, sedekah, keutamaan ayat Kursi, dan kali­mati la haula wala quwwata illa billahi (tidak ada upaya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah), syuhada yang paling utama, hamba sahaya yang paling utama, kenabian Nabi Adam, dan bahwa dia diajak bicara langsung oleh Allah, serta bilangan para nabi dan para rasul, seperti yang disebutkan di atas.

Abdullah ibnul Imam Ahmad mengatakan bahwa ia menjumpai dalam kitab ayahnya yang ditulis oleh tangan ayahnya sendiri, telah menceritakan kepadaku Abdul Muta’ali ibnu Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id Al-Umawi, telah men­ceritakan kepada kami Mujalid, dari Abul Wadak yang mengatakan bahwa Abu Sa’id pernah bertanya,
"Apakah menurut pendapatmu Khawarij adalah Dajjal?"
Abul Wadak menjawab,
"Bukan."
Lalu Abu Sa’id berkata bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Sesungguhnya aku adalah penutup seribu nabi atau lebih, dan ti­dak sekali-kali seorang nabi yang diutus kecuali dia pasti mem­peringatkan umatnya terhadap Dajjal.
Dan sesungguhnya telah dijelaskan kepadaku hal-hal yang belum pernah diterangkan.
Se­sungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya, sedangkan Tuhan kalian tidaklah buta.
Mata Dajjal yang sebelah kanan buta lagi menonjol tampak jelas seakan-akan seperti dahak yang ada pada tembok yang diplester, sedangkan mata kirinya seakan-akan se­perti bintang yang berkilauan, pada tiap-tiap anggota tubuhnya terdapat lisan, dan ia selalu membawa gambaran surga yang hi­jau di dalamnya mengalir air.
dan gambaran neraka yang hitam lagi berasap.

Kami meriwayatkannya pada bagian yang di dalamnya terdapat riwa­yat Abu Ya’la Al-Mausuli, dari Yahya ibnu Mu’in, disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Marwan ibnu Mu’awiyah, telah men­ceritakan kepada kami Mujalid, dari Abul Wadak, dari Abu Sa’id yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya aku mengakhiri sejuta nabi atau lebih.
Tidak seka­li-kali Allah mengutus seseorang nabi kepada kaumnya, melain­kan memperingatkan kepada mereda terhadap Dajjal.

Lalu ia menuturkan hadis ini hingga selesai, demikianlah menurut la­faz yang diketengahkannya, yaitu dengan tambahan lafaz alfun (hing­ga maknanya menjadi satu juta, bukan seribu).


Tetapi adakalanya lafaz tersebut merupakan sisipan, hanya Allah yang lebih mengetahui.
Tetapi konteks riwayat Imam Ahmad lebih kuat dan lebih berhak untuk dinilai sahih, Semua perawi yang disebutkan dalam sanad hadis ini tidak ada masalah.

Hadis ini diriwayatkan pula melalui jalur Jabir ibnu Abdullah r.a.

Untuk itu Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan, telah men­ceritakan kepada kami Amr ibnu Ali, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, telah menceritakan kepada kami Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Jabir yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah ber­sabda:
Sesungguhnya aku benar-benar merupakan penutup seribu nabi atau lebih, dan sesungguhnya tidak ada seorang pun dari mereka melainkan telah memperingatkan umatnya akan Dajjal Dan se­sungguhnya telah dijelaskan kepadaku apa-apa yang belum per­nah dijelaskan kepada seseorang pun dari mereka (para nabi).
Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah matanya, sedangkan se­sungguhnya Tuhan kalian itu tidaklah buta.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.

Hal ini merupakan suatu penghormatan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam Karena itu, Nabi Musa dikenal dengan julukan ‘Kalimullah’.


Al-Hafiz Abu Bakar ibnu Murdawaih meriwayatkan, telah menceritakan ke­pada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Sulaiman Al-Maliki, telah menceritakan kepada kami Masih ibnu Hatim, telah menceritakan ke­pada kami Abdul Jabbar ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa ada seorang lelaki datang kepada Abu Bakar ibnu Ayyasy, lalu ia menga­takan bahwa dirinya mendengar seorang lelaki membaca firman-Nya dengan bacaan seperti berikut:


"Dan Musa berbicara kepada Allah dengan langsung."

Maka Abu Bakar ibnu Ayyasy berkata,
"Tidak sekali-kali mem­baca ayat ini dengan bacaan itu, melainkan hanyalah orang kafir."
Abu Bakar mengatakan bahwa ia belajar qiraah dari Al-A’masy, dan Al-A’masy belajar qiraah dari Yahya ibnu Wasab, Yahya ibnu Wasab belajar qiraah dari Abu Abdur-Rahman As-Sulami.
dan Abu Abdur­Rahman As-Sulami belajar qiraah dari Ali ibnu Abu Talib, dan Ali ibnu Abu Talib belajar qiraah dari Rasulullah ﷺ Mengenai ayat ini yang bunyinya mengatakan:

Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.

Abu Bakar ibnu Ayyasy marah terhadap orang yang membaca ayat tersebut tiada lain karena orang tersebut membacanya dengan bacaan yang mengubah maknanya.
Ternyata lelaki tersebut dari kalangan mu’tazilah yang mengingkari bahwa Allah berbicara kepada Musa ‘alaihis salam atau berbicara kepada seseorang dari makhluk-Nya.
Seperti yang kami riwayatkan dari salah seorang mu’tazilah, bahwa ia membaca­kan firman berikut kepada salah seorang syekh dengan bacaan beri­kut:

Dan Allah diajak bicara oleh Musa dengan langsung.

Maka syekh itu berkata kepadanya,
"Hai Ibnul Lakhna, apakah yang akan engkau lakukan terhadap firman Allah subhanahu wa ta’ala, yang mengatakan:

‘Dan tatkala datang Musa untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya’ (QS. Al-A’raf [7]: 143)?"

Dengan kata lain, makna ayat tersebut tidak mengandung takwil dan perubahan makna.

Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ahmad ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Husain ibnu Bahram, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Marzuq, telah menceritakan kepada kami Hani’ ibnu Yahya, dari Al-Hasan ibnu Abu Ja’far, dari Qatadah, dari Yahya ibnu Wassab, dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Tatkala Musa diajak berbicara oleh Allah, ia dapat melihat ge­rakan semut di atas Bukit Safa di malam yang gelap gulita.

Hadis ini berpredikat garib dan sanadnya tidak sahih.
Apabila hadis ini benar mauquf, berarti predikatnya jayyid (baik).

Imam Hakim di dalam kitab Mustadrak-nya dan Ibnu Murdawaih telah meriwayatkan melalui hadis Humaid ibnu Qais Al-A’raj, dari Abdullah ibnul Haris, dari ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:

Nabi Musa pada hari ia diajak bicara oleh Tuhannya memakai jubah dari bulu, baju dari bulu, dan celana dari bulu serta sepa­sang terompah dari kulit keledai yang tidak disembelih.

Ibnu Murdawaih meriwayatkan pula hadis berikut dengan sanadnya, dari Juwaibir, dari Ad-Dahhak, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah berbicara dengan Musa sebanyak seratus empat puluh ribu kalimat selama tiga hari, semuanya berisi wasiat.
Ketika Musa mendengar pembicaraan manusia, maka ia menjadi ma­rah karena pengaruh dari apa yang telah ia dengar dari kalam Tuhan Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.


Sanad asar ini pun lemah karena Juwaibir berpredikat daif, dan Ad-Dahhak tidak menjumpai masa hidup Ibnu Abbas r.a.
Mengenai asar yang diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Murdawaih serta lain-lainnya melalui jalur Al-Fadl ibnu Isa Ar-Raqqasyi, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan bahwa ketika Allah berbicara kepada Musa pada hari Tur, bukan dengan kalam yang pernah Dia gunakan ketika me­nyerunya, maka Musa bertanya kepada-Nya,
"Wahai Tuhanku, apa­kah ini adalah kalam-Mu yang pernah Engkau gunakan kepadaku?"
Allah subhanahu wa ta’ala, menjawab,
"Bukan, hai Musa.
Sesungguhnya Aku ber­bicara denganmu baru hanya dengan kekuatan sepuluh ribu lisan dan Aku mempunyai kekuatan semua lisan, bahkan Aku lebih kuat dari­pada hal tersebut."
Ketika Musa kembali kepada kaum Bani Israil, mereka bertanya,
"Hai Musa, gambarkanlah kepada kami kalam Tuhan Yang Maha Pe­murah."
Musa menjawab,
"Aku tidak mampu melakukannya."
Mereka berkata,
"Serupakanlah saja kepada kami."
Musa menjawab,
"Tidakkah kalian pernah mendengar suara guntur?
Sesungguh­nya hal itu berdekatan dengannya, tetapi bukan seperti suara guntur."


Sanad riwayat ini daif, karena A-Fadl Ar-Raqqasyi adalah orang yang lemah sekali dalam periwayatan hadis.

Abdur Razzaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhri, dari Abu Bakar ibnu Abdur Rahman ibnul Haris.
dari Juz ibnu Jabir Al-Khas’ami, dari Ka’b yang mengatakan bahwa sesungguhnya Allah ketika berbicara kepada Musa memakai semua lisan (berbagai macam bahasa) kecuali kalam-Nya sendiri.
Maka Musa berkata,
"Wahai Tuhanku, apakah ini kalam-Mu?"
Allah menjawab,
"Bukan, sekiranya Aku berbicara dengan kalam-Ku, niscaya kamu tidak akan kuat mendengarnya"
Musa berkata,
"Wahai Tuhanku, apakah di antara makhluk-Mu terdapat sesuatu yang memiliki suara mirip dengan-Mu?"
Allah men­jawab,
"Tidak ada, dan yang lebih serupa dengan kalam-Ku ialah apa yang biasa kamu dengar dari suara guntur yang sangat keras."

Tetapi riwayat ini mauquf hanya sampai pada Ka’b Al-Ahbar.
Dia menukilnya dari kitab-kitab terdahulu yang menyangkut berita-berita Bani Israil, tetapi di dalamnya terkandung perubahan dan tambahan.

Unsur Pokok Surah An Nisaa’ (النّساء)

Surat An-Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al-Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath-Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
"Surat An Nisaa’ Al Kubraa" (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa’ Ash Shughraa" (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

▪ Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

▪ Kewajiban para washi dan para wali.
▪ Hukum poligami.
▪ Mas kawin.
▪ Memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya.
▪ Pokok-pokok hukum warisan.
▪ Perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya.
▪ Wanita-wanita yang haram dikawini.
▪ Hukum mengawini budak wanita.
▪ Larangan memakan harta secara bathil.
▪ Hukum syiqaq dan nusyuz.
▪ Kesucian lahir batin dalam shalat.
▪ Hukum suaka.
▪ Hukum membunuh seorang Islam.
▪ Shalat khauf’.
▪ Larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk.
▪ Masalah pusaka kalalah.

Kisah:

▪ Kisah-kisah tentang nabi Musa `alaihis salam dan pengikutnya.

Lain-lain:

▪ Asal manusia adalah satu.
▪ Keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita.
▪ Norma-norma bergaul dengan isteri.
▪ Hak seseorang sesuai dengan kewajibannya.
▪ Perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang diturunkan kepadanya.
▪ Dasar-dasar pemerintahan.
▪ Cara mengadili perkara.
▪ Keharusan siap-siaga terhadap musuh.
▪ Sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi peperangan.
▪ Berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf.
▪ Norma dan adab dalam peperangan.
▪ Cara menghadapi orang-orang munafik.
▪ Derajat orang yang berjihad.

Audio

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan Indonesia



QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 176

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nisaa' ayat 164 - Gambar 1 Surah An Nisaa' ayat 164 - Gambar 2
Statistik QS. 4:164
  • Rating RisalahMuslim
4.6

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa’.

Surah An-Nisa’ (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, “Wanita”) terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah 4
Nama Surah An Nisaa’
Arab النّساء
Arti Wanita
Nama lain Al-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 92
Juz Juz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku’ 0
Jumlah ayat 176
Jumlah kata 3764
Jumlah huruf 16327
Surah sebelumnya Surah Ali ‘Imran
Surah selanjutnya Surah Al-Ma’idah
Sending
User Review
4.2 (20 suara)
Bagikan ke FB
Bagikan ke TW
Bagikan ke WA
Tags:

4:164, 4 164, 4-164, Surah An Nisaa' 164, Tafsir surat AnNisaa 164, Quran AnNisa 164, An-Nisa’ 164, Surah An Nisa ayat 164

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Kandungan Surah An Nisaa’

۞ QS. 4:1 Ar Rabb (Tuhan) • Al Raqib (Maha Pengawas) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 4:6 Al Hasib (Maha Penghitung amal) • Perbuatan dan niat

۞ QS. 4:10 • Dosa-dosa besar • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:11 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:12 Al Halim (Maha Penyabar) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:13 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 4:14 • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Menyiksa pelaku maksiat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:16 At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Dosa-dosa besar • Pelebur dosa besar •

۞ QS. 4:17 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:18 • Pintu taubat terbuka hingga ruh sampai di kerongkongan • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:19 • Kebaikan pada pilihan Allah

۞ QS. 4:22 • Penghapus pahala kebaikan • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah

۞ QS. 4:23 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 4:24 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:25 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 4:26 Sifat Iradah (berkeinginan) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Hidayah (petunjuk) dari Allah •

۞ QS. 4:27 Sifat Iradah (berkeinginan)

۞ QS. 4:28 • Kasih sayang Allah yang luas • Sifat Iradah (berkeinginan) • Keistimewaan Islam • Toleransi Islam

۞ QS. 4:29 Al Rahim (Maha Penyayang) • Dosa-dosa besar

۞ QS. 4:30 • Kekuasaan Allah • Dosa-dosa besar • Balasan dari perbuatannya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:31 Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Memasuki surga • Pelebur dosa kecil • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat •

۞ QS. 4:32 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:33 Al Syahid (Maha Menyaksikan)

۞ QS. 4:34 Al ‘Aliyy (Maha Tinggi) • Al Kabir (Maha Besar)

۞ QS. 4:35 Al Khabir (Maha Waspada) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Taufiq dari Allah

۞ QS. 4:36 Tauhid UluhiyyahSyirik adalah dosa terbesar • Iman adalah ucapan dan perbuatan

۞ QS. 4:37 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:38 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat • Mengingkari hari kebangkitan • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia

۞ QS. 4:39 • Pahala iman • Tauhid UluhiyyahAl ‘Alim (Maha megetahui) • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat

۞ QS. 4:40 Al Karim (Maha Mulia) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Pelipatgandaan pahala bagi orang mukmin • Balasan dan pahala dari Allah •

۞ QS. 4:41 • Setiap umat mengikuti nabi-nabi mereka • Sifat hari penghitungan

۞ QS. 4:42 • Kebenaran hari penghimpunan • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Setiap makhluk ditanya pada hari penghimpunan • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:43 • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam

۞ QS. 4:45 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’ala • Keluasan ilmu Allah • Al Wali (Maha Pelindung)

۞ QS. 4:47 • Allah menepati janji • Pengakuan antara satu kitab dengan lainnya • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:48 • Mendustai Allah • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Syirik adalah dosa terbesar • Siksa orang kafir • Pelebur dosa kecil

۞ QS. 4:49 Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 4:50 • Mendustai Allah

۞ QS. 4:51 Hukum sihir

۞ QS. 4:52 • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:53 • Segala sesuatu milik Allah

۞ QS. 4:54 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan)

۞ QS. 4:55 • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:56 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia) • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Mereka yang kekal dalam neraka

۞ QS. 4:57 • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Sifat ahli surga • Sifat wanita penghuni surga • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 4:58 Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar)

۞ QS. 4:59 • Kewajiban beriman pada hari akhir • Sikap orang mukmin terhadap fitnah

۞ QS. 4:60 • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:61 • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:62 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 4:63 • Keluasan ilmu Allah

۞ QS. 4:64 • Ampunan Allah yang luas • At Tawwab (Maha Penerima taubat) • Al Rahim (Maha Penyayang) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat •

۞ QS. 4:65 Ar Rabb (Tuhan) • Sifat orang munafik

۞ QS. 4:66 • Toleransi Islam • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:67 • Pahala iman • Keutamaan iman • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:68 • Pahala iman • Keutamaan iman • Hidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 4:69 • Derajat para nabi, shiddiqin dan syuhada’ • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Keutamaan iman • Cinta Allah pada hamba yang shaleh

۞ QS. 4:70 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:71 • Melihat sebab akibat

۞ QS. 4:72 • Sifat orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:73 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:74 • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:75 Ar Rabb (Tuhan) • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong)

۞ QS. 4:76 • Sifat iblis dan pembantunya • Wali Allah dan wali syetan

۞ QS. 4:77 Ar Rabb (Tuhan) • Keadilan Allah dalam menghakimi • Kebaikan yang ada di alam akhirat

۞ QS. 4:78 • Kematian pasti terjadi pada setiap makhluk hidup • Ketakutan pada kematian • Kebenaran dan hakikat takdir • Segala sesuatu ada takdirnya • Ketentuan Allah tak dapat dihindari

۞ QS. 4:79 Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Kebaikan pada pilihan Allah

۞ QS. 4:80 • Kewajiban patuh kepada Rasul • Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir

۞ QS. 4:81 Al Wakil (Maha Penolong) • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik • Sikap orang munafik terhadap Islam • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:83 • Kasih sayang Allah yang luas • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Sifat orang munafik

۞ QS. 4:84 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Kekuasaan Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:85 Al Muqit (Maha Penentu waktu) • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Menanggung dosa orang lain • Balasan dari perbuatannya •

۞ QS. 4:86 Al Hasib (Maha Penghitung amal)

۞ QS. 4:87 Tauhid Uluhiyyah • Allah menepati janji • Nama-nama hari kiamat • Kebenaran hari penghimpunan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:88 • Allah menggerakkan hati manusia • Azab orang kafirHidayah (petunjuk) dari Allah • Menyiksa pelaku maksiat •

۞ QS. 4:89 • Bersikap keras terhadap orang kafir • Sifat orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik • Kapan boleh membunuh orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:90 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaSifat Masyi’ah (berkehendak) • Kapan boleh membunuh orang munafik

۞ QS. 4:91 • Sifat orang munafik • Beberapa hukum tentang orang munafik • Kapan boleh membunuh orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:92 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Pelebur dosa besar

۞ QS. 4:93 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Dosa-dosa besar • Menyiksa pelaku maksiat • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah

۞ QS. 4:94 Al Khabir (Maha Waspada) • Islamnya orang yang mengucapkan dua kalimat syahadat • Dua kalimat syahadat, bukti lahiriah keimanan seseorang • Beriman berarti menjaga harta dan darah •

۞ QS. 4:95 • Nama-nama surga • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:96 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Perbedaan derajat di surga

۞ QS. 4:97 • Tugas-tugas malaikat • Sikap orang mukmin terhadap fitnah • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Menyiksa pelaku maksiat

۞ QS. 4:98 • Toleransi Islam

۞ QS. 4:99 • Ampunan Allah yang luas • Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Toleransi Islam

۞ QS. 4:100 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Perbuatan dan niat •

۞ QS. 4:101 • Keistimewaan Islam • Toleransi Islam • Permusuhan orang kafir terhadap orang Islam

۞ QS. 4:102 • Toleransi Islam • Azab orang kafir • Melihat sebab akibat • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:104 • Memohon hanya kepada Allah • Keluasan ilmu Allah • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) •

۞ QS. 4:105 Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 4:106 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 4:107 • Sifat orang munafik

۞ QS. 4:108 • Keluasan ilmu Allah • Al Muhith (Maha Mengetahui) • Sifat orang munafik • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:109 • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat • Siksa orang munafik

۞ QS. 4:110 • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 4:111 • Keluasan ilmu Allah • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menanggung dosa orang lain • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:112 • Menanggung dosa orang lain • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:113 • Dzul Fadhl (Pemilik keutamaan) • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:114 • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Perbuatan dan niat • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan • Balasan dan pahala dari Allah • Ikhlas dalam berbuat

۞ QS. 4:115 • Siksaan Allah sangat pedih • Perintah untuk selalu bersatu • Akibat terpisah dari umat Islam • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 4:116 • Ampunan Allah yang luas • Sifat Masyi’ah (berkehendak) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Syirik adalah dosa terbesar • Siksa orang kafir

۞ QS. 4:117 • Sifat iblis dan pembantunya • Syirik adalah dosa terbesar • Dosa terbesar

۞ QS. 4:119 • Sifat iblis dan pembantunya • Menjaga diri dari syetan • Wali Allah dan wali syetan • Siksa orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:120 • Sifat iblis dan pembantunya • Syetan menyesatkan dan menghinakan manusia

۞ QS. 4:121 • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Siksa orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat •

۞ QS. 4:122 • Pahala iman • Allah menepati janji • Keabadian surga • Sifat surga dan kenikmatannya • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga

۞ QS. 4:123 • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) • Keadaan orang kafir pada hari penghimpunan • Terputusnya hubungan antara orang musyrik dengan tuhan mereka • Keadilan Allah dalam menghakimi

۞ QS. 4:124 • Keadilan Allah dalam menghakimi • Memasuki surga • Perbuatan baik adalah penyebab masuk surga • Iman adalah ucapan dan perbuatan • Kebutuhan muslim terhadap amal saleh

۞ QS. 4:125 Islam agama para nabi

۞ QS. 4:126 • Segala sesuatu milik Allah • Keluasan ilmu Allah • Al Muhith (Maha Mengetahui)

۞ QS. 4:127 • Keluasan ilmu Allah • Al ‘Alim (Maha megetahui) • Menghitung amal kebaikan

۞ QS. 4:128 Al Khabir (Maha Waspada)

۞ QS. 4:129 • Ampunan Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat • Ampunan Allah dan rahmatNya

۞ QS. 4:130 Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al Wasi’ (Maha Luas)

۞ QS. 4:131 • Segala sesuatu milik Allah • Allah tidak membutuhkan makhlukNya • Al Hamid (Maha Terpuji) • Al Ghaniy (Maha Kaya) •

۞ QS. 4:132 • Segala sesuatu milik Allah • Al Wakil (Maha Penolong)

۞ QS. 4:133 • Kekuasaan Allah • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:134 • Sifat Sama’ (mendengar) • Sifat Bashar (melihat) • Al Bashir (Maha Melihat) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat

۞ QS. 4:135 Al Khabir (Maha Waspada) • Menghitung amal kebaikan • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:136 • Kewajiban beriman kepada malaikat • Kewajiban dan keutamaan beriman pada kitab-kitab • Kewajiban beriman pada para rasul • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat

۞ QS. 4:137 • Azab orang kafir • Sifat orang munafik • Siksa orang munafikHidayah (petunjuk) dari Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:138 • Siksaan Allah sangat pedih • Siksa orang munafik

۞ QS. 4:139 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:140 Al Jami’ (Yang mengumpulkan manusia di akhirat) • Sikap manusia terhadap kitab samawi • Nama-nama neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir

۞ QS. 4:141 • Pertolongan Allah Ta’ala kepada orang mukmin • Sifat orang munafik • Sikap orang munafik terhadap Islam

۞ QS. 4:142 • Sifat orang munafikRiyaa’ dalam berbuat baik

۞ QS. 4:143 • Sifat orang munafik • Siksa orang munafik

۞ QS. 4:144 • Kewajiban saling setia antar sesama muslim • Bebas dari kekafiran dan orang-orang kafir

۞ QS. 4:145 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Siksa orang munafik

۞ QS. 4:146 • Pahala iman • Berpegang teguh dengan (ajaran) Allah • Keutamaan iman • Perbuatan dan niat • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:147 • Allah tidak membutuhkan makhlukNya • Al Syakur (Maha Penerima syukur) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:148 • Keluasan ilmu Allah • Sifat Sama’ (mendengar) • Al Sami’ (Maha Pendengar) • Al ‘Alim (Maha megetahui) •

۞ QS. 4:149 Al ‘Afwu (Maha Pemaaf) • Al Qadiir (Maha Penguasa) • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 4:150 • Kewajiban beriman pada para rasul • Tiada pengutamaan antara para nabi

۞ QS. 4:151 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Penghinaan orang kafir terhadap Allah • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat • Hal-hal yang mengakibatkan kemurkaan Allah

۞ QS. 4:152 • Pahala iman • Ampunan Allah yang luas • Kasih sayang Allah yang luas • Al Rahim (Maha Penyayang) • Al Ghafur (Maha Pengampun)

۞ QS. 4:153 • Ampunan Allah terhadap pelaku maksiat

۞ QS. 4:155 • Azab orang kafir • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:158 • Orang mukmin selalu dalam lindungan Allah Ta’alaAl Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 4:159 • Turunnya nabi Isa sebelum kiamat

۞ QS. 4:160 • Menyiksa pelaku maksiat • Balasan dari perbuatannya

۞ QS. 4:161 • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka • Azab orang kafir • Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat

۞ QS. 4:162 • Pahala iman • Kewajiban beriman pada hari akhir • Nama-nama hari kiamat • Keutamaan iman • Balasan dan pahala dari Allah

۞ QS. 4:164 • Sifat Kalam (berfirman)

۞ QS. 4:165 Dalil Allah atas hambaNya • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Aziz (Maha Mulia)

۞ QS. 4:166 Al Syahid (Maha Menyaksikan) • Tugas-tugas malaikat

۞ QS. 4:167 • Azab orang kafir

۞ QS. 4:168 • Azab orang kafirHidayah (petunjuk) dari Allah

۞ QS. 4:169 • Siksaan Allah sangat pedih • Kekuasaan Allah • Nama-nama neraka • Keabadian neraka • Sifat ahli neraka dan kejahatan mereka

۞ QS. 4:170 • Pahala iman • Segala sesuatu milik Allah • Ar Rabb (Tuhan) • Al Hakim (Maha Bijaksana) • Al ‘Alim (Maha megetahui)

۞ QS. 4:171 Tauhid Uluhiyyah • Kesucian Allah dari sekutu dan anak • Mendustai Allah • Segala sesuatu milik Allah • Al Wahid (Maha Esa)

۞ QS. 4:172 • Kebenaran hari penghimpunan • Azab orang kafir

۞ QS. 4:173 • Kesentosaan orang mukmin di dunia dan di akhirat • Pahala iman • Al Wali (Maha Pelindung) • An-Nashir (Maha Penolong) • Terputusnya hubungan antara sesama pada hari kiamat

۞ QS. 4:174 Ar Rabb (Tuhan) • Hikmah penurunan kitab-kitab samawi

۞ QS. 4:175 • Pahala iman • Berpegang teguh dengan (ajaran) Allah • Memasuki surga • Keutamaan iman • Amal shaleh sebagai pintu kebaikan

۞ QS. 4:176 Al ‘Alim (Maha megetahui)

Ayat Pilihan

Musa berdoa:
“Ya Tuhanku,
ampunilah aku & saudaraku & masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau,
dan Engkau adalah Maha Penyayang di antara para penyayang”.
QS. Al-A’raf [7]: 151

Dialah yang turunkan air hujan,
lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuhan itu tanaman yang hijau.
Sungguh pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang beriman
QS. Al-An’am [6]: 99


dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk & telah Kami pilih.
Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka,
maka mereka menyungkur dengan bersujud & menangis.
QS. Maryam [19]: 58

Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari & Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari,
kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan,
kemudian kepada Allah-lah kamu kembali
QS. Al-An’am [6]: 60

Hadits Shahih

Podcast

Doa

Soal & Pertanyaan

Tempat berkumpulnya manusia di akhirat di sebut padang ...

Benar! Kurang tepat!

Hari kiamat di jelaskan dalam Alquran, surah ...

Benar! Kurang tepat!

Surah yang menjelaskan bahwa ''Allah Subhanahu Wa Ta`ala tempat meminta'', yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Salah satu hikmah mempercayai datangnya hari akhir, yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Berakhirnya seluruh kehidupan di dunia dinamakan ...

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #19
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #19 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #19 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #14

Ketika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih remaja, baginda telah bekerja mengambil upah sebagai pengembala binatang ternak. Apakah binatang tersebut? … Dalam Islam, teladan yang baik disebut juga dengan istilah … Dalam Islam, pengendalian diri atau kontrol terhadap diri, disebut juga dengan … Pengertian Mujahadah An-Nafs adalah … Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa berjihad (berjuang) yang paling utama adalah melawan …

Pendidikan Agama Islam #11

Masyarakat Arab sebelum Islam memiliki kebiasaan buruk, juga memiliki kebiasaan baik. Di bawah ini yang tidak termasuk kebiasaan baik masyarakat Arab sebelum Islam adalah … Berikut ini yang bukan merupakan substansi dakwah Rasulullah di Mekkah adalah … Dalam QS. Al-Muddassir ayat 1-7 adalah menjadi dasar bagi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melakukan dakwah di Mekkah secara … Dari proses dakwah secara diam-diam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah, maka terdapat beberapa sahabat yang masuk Islam pertama kali. Mereka dikenal dengan sebutan … Cara yang pertama kali ditempuh oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan dakwah di Mekkah secara terang- terangan adalah …

Pendidikan Agama Islam #6

Sifat dasar hukum Alquran adalah keseimbangan dalam hal aspek material dan psikologis, yang disebut sebagai … Alquran dimulai dengan surah Al Fatihah (pembukaan) dan berakhir dengan surah … Alquran adalah panduan dan pedoman manusia bagi mereka yang beriman. Ini dikonfirmasikan oleh Allah dalam surah … Alquran bertindak sebagai Hudan, yang artinya adalah … Dalam Surah Al-Baqarah ayat 2, Allah berfirman bahwa Alquran adalah pedoman untuk orang …

Kamus

riya’

Apa itu riya’? Riya merupakan perilaku tercela yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam. Sifat tersebut tentunya harus kita hindari. Selain berdosa, sifat riya juga merugikan diri sendiri, k...

hasad

Apa itu hasad? Apa itu hasad? Apa saja sebab-sebab terjadinya hasad (iri hati, dengki)? Lalu bagaimana cara menghadapi orang yang hasad?
Kalau kita melihat dari sisi pengertian hasad sebenarnya lebih...

Syariat Islam

Apa itu Syariat Islam? Syariat Islam (شريعة إسلامية ) Kata syara’ secara etimologi berarti “jalan yang dapat di lalui air”, maksudnya adalah jalan yang ditempuh manusia u...