Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 15 [QS. 4:15]

وَ الّٰتِیۡ یَاۡتِیۡنَ الۡفَاحِشَۃَ مِنۡ نِّسَآئِکُمۡ فَاسۡتَشۡہِدُوۡا عَلَیۡہِنَّ اَرۡبَعَۃً مِّنۡکُمۡ ۚ فَاِنۡ شَہِدُوۡا فَاَمۡسِکُوۡ ہُنَّ فِی الۡبُیُوۡتِ حَتّٰی یَتَوَفّٰہُنَّ الۡمَوۡتُ اَوۡ یَجۡعَلَ اللّٰہُ لَہُنَّ سَبِیۡلًا
Wal-laatii ya’tiinal faahisyata min nisaa-ikum faastasyhiduu ‘alaihinna arba’atan minkum fa-in syahiduu faamsikuuhunna fiil buyuuti hatta yatawaffaahunnal mautu au yaj’alallahu lahunna sabiilaa;
Dan para perempuan yang melakukan perbuatan keji di antara perempuan-perempuan kamu, hendaklah terhadap mereka ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya).
Apabila mereka telah memberi kesaksian, maka kurunglah mereka (perempuan itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan (yang lain) kepadanya.
―QS. An Nisaa’ [4]: 15

Those who commit unlawful sexual intercourse of your women – bring against them four (witnesses) from among you.
And if they testify, confine the guilty women to houses until death takes them or Allah ordains for them (another) way.
― Chapter 4. Surah An Nisaa‘ [verse 15]

وَٱلَّٰتِى dan wanita-wanita yang

And those who
يَأْتِينَ (mereka) mendatangkan/melakukan

commit
ٱلْفَٰحِشَةَ perbuatan keji

[the] immorality
مِن dari/diantara

from
نِّسَآئِكُمْ isteri-isterimu

your women
فَٱسْتَشْهِدُوا۟ maka datangkanlah saksi-saksi

then call to witness
عَلَيْهِنَّ atas mereka

against them
أَرْبَعَةً empat (orang)

four
مِّنكُمْ diantara kamu

among you.
فَإِن maka jika

And if
شَهِدُوا۟ mereka memberikan kesaksian

they testify
فَأَمْسِكُوهُنَّ maka kurunglah mereka

then confine them
فِى dalam

in
ٱلْبُيُوتِ rumah

their houses
حَتَّىٰ sehingga/sampai

until
يَتَوَفَّىٰهُنَّ mewafatkan mereka

comes to them
ٱلْمَوْتُ mati/kematian

[the] death
أَوْ atau

or
يَجْعَلَ memberikan/menyediakan

makes
ٱللَّهُ Allah

Allah
لَهُنَّ bagi/kepada mereka

for them
سَبِيلًا jalan

a way.

Tafsir

Alquran

Surah An Nisaa’
4:15

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 15. Oleh Kementrian Agama RI


Tentang hukum yang berhubungan dengan orang yang melakukan perbuatan keji (zina).
Bahwa apabila terdapat di antara perempuan Muslimah yang pernah bersuami (muhsanah) melakukan perbuatan keji, maka sebelum dilakukan hukuman kepada mereka haruslah diteliti dahulu oleh empat orang saksi laki-laki yang adil.

Apabila kesaksian mereka dapat diterima, maka perempuan itu harus dikurung atau dipenjara di dalam rumahnya tidak boleh keluar sampai menemui ajalnya.



Menurut ahli tafsir, jalan keluar yang diberikan Allah dan Rasul-Nya yaitu dengan datangnya hukuman zina yang lebih jelas yakni dengan turunnya ayat ke-2 Surah an-Nur yang kemudian diperinci lagi oleh Nabi dengan hadisnya, yaitu apabila pezina itu sudah pernah kawin, maka hukumannya rajam, yakni dilempari batu hingga mati dan apabila perawan/jejaka maka didera seratus kali, demikian menurut suatu riwayat.

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 15. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Bagi wanita yang melakukan zina, bila dipersaksikan oleh empat orang saksi yang adil, harus dikurung dalam rumah untuk menjaga dan menghindari kerusakan dan kejahatan, sampai datang ajalnya atau sampai Allah membuka jalan kehidupan yang lurus dengan cara perkawinan atau tobat.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Wanita-wanita yang berzina dari istri-istri kalian, tetapkanlah wahai para hakim dan pemimpin, dengan empat orang saksi laki-laki yang adil dari kaum muslimin.
Bila para saksi menetapkannya atas mereka, maka tahanlah mereka didalam rumah sampai kehidupan mereka selesai dengan kematian, atau Allah akan meletakkan jalan keluar dalam hal ini.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Dan wanita-wanita yang melakukan perbuatan keji) maksudnya berzina di antara wanita-wanitamu


(maka persaksikanlah mereka itu kepada empat orang saksi di antaramu) maksudnya di antara laki-lakimu yang beragama Islam.


(Maka jika mereka memberikan kesaksian) terhadap perbuatan mereka itu


(maka tahanlah mereka itu) atau kurunglah


(dalam rumah) dan laranglah mereka bergaul dengan manusia


(sampai mereka diwafatkan oleh maut) maksudnya oleh malaikat maut


(atau) hingga


(Allah memberi bagi mereka jalan lain) yakni jalan untuk membebaskan mereka dari hukuman semacam itu.
Demikianlah hukuman mereka pada awal Islam lalu mereka diberi jalan lain yaitu digantinya dengan hukum dera sebanyak seratus kali serta membuangnya dari kampung halamannya selama setahun yakni bagi yang belum kawin dan dengan merajam wanita-wanita yang sudah kawin.
Dalam hadis tersebut bahwa tatkala hukuman itu diumumkan, bersabdalah Nabi ﷺ,
"Terimalah daripadaku, contohlah kepadaku karena Allah telah memberikan bagi mereka jalan lepas!"
Riwayat Muslim.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Ketetapan hukum di masa permulaan Islam menyatakan bahwa seorang wanita itu apabila nyata melakukan perbuatan zina melalui bukti yang adil, maka ia ditahan di dalam rumah dan tidak dapat keluar darinya hingga ia mati (yakni dikurung) sampai mati.
Karena itulah disebutkan di dalam firman-Nya:

Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji.

Yang dimaksud dengan fahisyah dalam ayat ini ialah perbuatan zina.

…di antara wanita-wanua kalian, hendaklah ada empat orang saksi di antara kalian (yang menyaksikannya).
Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah wanita-wanita itu dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya.


Yang dimaksud dengan jalan yang lain yang dijadikan oleh Allah ialah ayat lain yang menasakh (merevisi) hukum ini.

Ibnu Abbas mengatakan bahwa pada mulanya ketetapan hukum adalah seperti yang tertera dalam ayat ini, hingga Allah menurunkan surat An-Nur, lalu me-nasakh-nya dengan hukum dera atau hukum rajam.

Hal yang sama diriwayatkan dari Ikrimah, Sa’id ibnu Jubair Al-Hasan, Ata Al-Khurrasani, Abu Saleh, Qatadah, Zaid ibnu Aslam, dan Ad-Dahhak, bahwa ayat ini dimansukh.
Pendapat ini disepakati oleh semua ulama.

Imam ahmad berkata telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far.
telah menceritakan kepada kami Sa’id.
dari Qatadah.
dari Al-Hasan, dari Hattan ibnu Abdullah Ar-Raqqasyi, dari Ubadah ibnus Samit yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ apabila turun wahyu kepadanya, hal itu mempengaruhinya dan beliau tampak susah serta wajahnya berubah (karena beratnya wahyu).
Maka pada suatu hari Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan wahyu kepadanya, setelah selesai dan keadaan beliau menjadi seperti sediakala, beliau bersabda:
Ambillah dariku! Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi mereka (wanita-wanita itu) jalan yang lain, janda dengan duda, dan jejaka dengan perawan.
Janda (duda) dikenai hukuman dera seratus kali dan dirajam dengan batu, sedangkan jejaka (perawan) dikenai hukuman dera seratus kali dan dibuang (diasingkan) selama satu tahun.

Imam Muslim dan Ashabus Sunan meriwayatkan melalui berbagai jalur dari Qatadah, dari Al-Hasan, dari Hattan, dari Ubadah ibnus Samit, dari Nabi ﷺ yang lafaznya seperti berikut:


Ambillah dariku, ambillah dariku! Sesungguhnya Allah telah memberi jalan yang lain bagi mereka (wanita-wanita itu), jejaka dengan gadis seratus kali dera dan dibuang satu tahun, sedangkan duda dengan janda seratus kali dera dan dirajam.

Imam Turmuzi mengatakan bahwa hasan shahih

Hal yang sama diriwayatkan oleh Abu Duud At-Tayalisi:


dari Mubarak ibnu Fudalah, dari Al-Hasan, dari Hattan ibnu Abdullah Ar-Raqqasyi, dari Ubadah, bahwa Rasulullah ﷺ apabila sedang turun wahyu kepadanya, hal tersebut dapat diketahui melalui wajahnya.
Allah menurunkan ayat berikut:

…atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya.
Ketika wahyu telah selesai darinya, maka ia bersabda:
Ambillah, ambillah oleh kalian, Allah telah beri jalan yang lain kepada wanita-wanita itu, jekaka dan gadis seratus kali dera dan dibuang satu tahun.
sedangkan duda dengan janda seratus kali dera dan dirajam dengan batu.

Imam Ahmad meriwayatkan pula hadis ini:


Dari Waki’ ibnul Jarrah, dari Al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Al-Fadl ibnu Dalham, dari Qubaisah ibnu Harb, dari Salamah ibnul Muhabbaq yang menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Ambillah dariku, ambillah dariku! Sesungguhnya Allah telah memberi jalan yang lain kepada wanita-wanita itu.
Jejaka dengan gadis seratus kali dera dan dibuang satu tahun, sedangkan duda dengan janda seratus kali dera dan dirajam.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dengan panjang lebar melalui hadis Al-Fadl ibnu Dalham.
Kemudian Imam Abu Daud mengatakan bahwa Al-Fadl orangnya bukan Hafiz.
dia adalah tukang tebu di Wash.

Imam Tabrani meriwayatkan melalui jalur Ibnu Luhai’ah, dari saudaranya Isa ibnu Luhai’ah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa setelah surat An-Nisa diturunkan, maka Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Tidak ada kurungan lagi sesudah surat An-Nisa.

Imam Ahmad ibnu Hambal berpegang kepada makna hadis ini, yaitu yang menggabungkan antara hukuman dera dan rajam terhadap duda atau janda yang berzina.
Sedangkan menurut jumhur ulama, janda atau duda yang berzina hanya dikenai hukuman rajam saja, tanpa hukuman dera.
Mereka mengatakan demikian dengan alasan bahwa Nabi ﷺ telah merajam Ma’iz dan Al-Gamidiyyah serta kedua orang Yahudi (yang telah berbuat zina) dan beliau tidak mendera mereka.
Maka hal ini menunjukkan bahwa hukuman dera bukan merupakan suatu keputusan yang pasti dan tidak dapat diganggu gugat lagi melainkan ia dimansukh.
Demikianlah menurut pendapat mereka (jumhur ulama).

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa’ (4) Ayat 15

ARBA’AH
أَرْبَعَة

Lafaz ini mudzakkar dan mu’annatsnya adalah arba’. Ia mengandung beberapa makna berdasarkan sandarannya atau hubungannya dengan kalimat lain.

Apabila disandarkan kepada al ‘udad (bilangan) bermakna empat atau bilangan yang diketahui.

Arba’ al qawm bermakna mereka dalam musim semi atau musim bunga,

Arba’ al-hamil bermakna melahirkan dalam musim bunga.

Dzawat al-arba’ artinya hewan yang berjalan di atas empat kaki.

Ar riyah al-arba’ bermakna angin timur, barat, selatan dan utara.

Lafaz arba’ah disebut sembilan kali di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah:
Al Baqarah (2), ayat 226, 234, 260;
-Al Nisaa (4), ayat 15;
At Taubah (9), ayat 2, 36;
An Nuur (24), ayat 4, 13;
Fushshilat (41), ayat 10.

Lafaz arba’ah di dalam Al Qur’an disandarkan kepada beberapa perkara yang mengisyaratkan perbedaan makna.

Pertama, ia disandarkan kepada kesaksian atau arba’ syahadat sebagaimana dalam surah An Nisaa ayat 15 dan An Nuur, ayat 41 dan 13

"Bagi isteri-isteri yang berzina, suami-suami mereka perlu mendatangkan empat orang saksi dari lelaki muslim yang merdeka.
Apabila terbukti kesalahan, wanita itu hendaklah dikurung sehingga mati.’"

Ibn Katsir berkata,
"Pada awal Islam, hukuman bagi seorang perempuan yang dibuktikan berzina dengan adanya saksi yang adil, ia dikurung di dalam rumah dan tidak dibolehkan keluar sehingga mati.
Kemudian Allah memansuhkannya dengan perkataan sabila.

Kedua, ia disandarkan kepada bulan (arba’ah asyhur) sebagaimana dalam surah Al Baqarah (2), ayat 226, 234 dan At Taubah (9), ayat 2. Dalam ayat 226, surah Al Baqarah, Allah memberikan tempoh empat bulan bagi orang yang bersumpah tidak mencampuri isterinya.

Ketiga, ia disandarkan kepada hari atau malam (arba’ah ayyaam) yaitu yang terdapat dalam surah Fushshilat, ayat 10.

Az Zamakhsyari berkata,
"Maksud dari empat hari itu ialah tempoh di mana Allah menciptakan bumi dan segala yang ada di dalamnya, seakan-akan Dia berkata,
"Penciptaan semua itu adalah sempurna dalam empat hari," tidak kurang dan tidak lebih"

Keempat, ia disandarkan kepada hurum (arba’ah hurum), yaitu yang terdapat pada surah At Taubah, ayat 36.
Dalam Tafsir Al Jalalain, ia bermaksud empat bulan yang dihormati dalam Islam di antara dua belas bulan yaitu Zulkaedah, Zulhijjah, Muharam dan Rajab.

Kelima, ia disandarkan kepada burung (arba’ah min al-tayr) sebagaimana dalam surah Al Baqarah, ayat 260.
Ibn Katsir berkata,
"Para mufassir berbeda pendapat tentang empat burung itu.
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas, ia adalah ayam jantan (al-dik), burung merpati (al-hamamah), burung merak (altawus) dan burung bangau (al-ghurnuq).

Dari Mujahid, Ibn Iuraij, Ibn Zaid, ia adalah al hamiimah (burung merpati), al dik (ayam jantan), al-tawus (burung merak) dan al ghurab (burung gagak).

Kesimpulannya adalah lafaz arba’ah bermakna bilangan empat.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 60-61

Unsur Pokok Surah An Nisaa’ (النّساء)

Surat An-Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al-Baqarah.

Dinamakan An Nisaa‘ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath-Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa‘ dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Al Kubraa" (surat An Nisaa‘ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Ash Shughraa" (surat An Nisaa‘ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

▪ Kewajiban para washi dan para wali.
Hukum poligami.
▪ Mas kawin.
▪ Memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya.
▪ Pokok-pokok hukum warisan.
▪ Perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya.
▪ Wanita-wanita yang haram dikawini.
Hukum mengawini budak wanita.
▪ Larangan memakan harta secara bathil.
Hukum syiqaq dan nusyuz.
▪ Kesucian lahir batin dalam shalat.
Hukum suaka.
Hukum membunuh seorang Islam.
Shalat khauf‘.
▪ Larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk.
▪ Masalah pusaka kalalah.

Kisah:

▪ Kisah-kisah tentang nabi Musa `alaihis salam dan pengikutnya.

Lain-lain:

▪ Asal manusia adalah satu.
▪ Keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita.
Normanorma bergaul dengan isteri.
▪ Hak seseorang sesuai dengan kewajibannya.
▪ Perlakuan ahli kitab terhadap kitabkitab yang diturunkan kepadanya.
▪ Dasar-dasar pemerintahan.
▪ Cara mengadili perkara.
▪ Keharusan siap-siaga terhadap musuh.
▪ Sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi peperangan.
▪ Berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf.
Norma dan adab dalam peperangan.
▪ Cara menghadapi orang-orang munafik.
▪ Derajat orang yang berjihad.

Audio

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan Indonesia

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 176

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nisaa' ayat 15 - Gambar 1 Surah An Nisaa' ayat 15 - Gambar 2
Statistik QS. 4:15
  • Rating RisalahMuslim
4.7

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa’.

Surah An-Nisa’ (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, “Wanita”) terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa’
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali ‘Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma’idah
Sending
User Review
4.5 (11 votes)
Tags:

4:15, 4 15, 4-15, Surah An Nisaa' 15, Tafsir surat AnNisaa 15, Quran AnNisa 15, An-Nisa’ 15, Surah An Nisa ayat 15

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Ash Shaffaat (Barisan-barisan) – surah 37 ayat 157 [QS. 37:157]

154-157. Wahai Nabi Muhammad, katakanlah kepada mereka, “Me-ngapa kamu beranggapan buruk seperti ini kepada Allah? Bagaimana kamu bisa menetapkan bahwa Allah memilih anak perempuan, padahal kamu sendi … 37:157, 37 157, 37-157, Surah Ash Shaffaat 157, Tafsir surat AshShaffaat 157, Quran Al-Shaffat 157, AshShaffat 157, Ash Shafat 157, Ash Shaffat 157, Surah Ash Shaffat ayat 157

QS. Al Muddatstsir (Orang yang berkemul) – surah 74 ayat 1 [QS. 74:1]

1-2. Di akhir surah al-Muzammil berisi berita gembira bagi yang berbuat kebajikan, di awal surah ini berisi perintah untuk bersemangat menyeru kepada kebajikan. Wahai orang yang berkemul atau berselim … 74:1, 74 1, 74-1, Surah Al Muddatstsir 1, Tafsir surat AlMuddatstsir 1, Quran Al-Mudatsir 1, Al-Muddatstsir 1, Al Mudasir 1, Al-Muddassir 1, Surah Al Mudasir ayat 1

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Nama pedang Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam yaitu ...

Benar! Kurang tepat!

Apa nama peperangan pertama yang berlaku dalam sejarah Islam?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Pertempuran Badar (غزوة بدر, / gazwah badr‎), adalah pertempuran besar pertama antara umat Islam melawan musuh-musuhnya. Perang ini terjadi pada 17 Ramadan 2 H (13 Maret 624).
Pasukan kecil kaum Muslim yang berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan Quraisy dari Mekkah yang berjumlah 1.000 orang. Setelah bertempur habis-habisan sekitar dua jam, pasukan Muslim menghancurkan barisan pertahanan pasukan Quraisy, yang kemudian mundur dalam kekacauan.

Sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Siapa yang berselawat kepadaku sekali, maka Allah akan berselawat kepadanya ... kali."

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا
Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.'
(HR. Muslim, no. 408)

+

Array

Apa warna kesukaan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
'Pakailah pakaian putih karena pakaian seperti itu lebih bersih dan lebih baik. Dan kafanilah pula mayit dengan kain putih.'
(HR. An Nasai no. 5324, hadits shahih)

Apa makanan kegemaran Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam?

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
== Cuka ==
Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi, telah mengabarkan kepadaku Yahya bin Hassan telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Hisyam bin 'Urwah dari Bapaknya dari Aisyah bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sebaik-baik lauk pauk adalah cuka.' (HR. Muslim, No: 3823).

== Labu ==
Diriwayatkan oleh Muhammad bin Basyar, dari Muhammad bin Ja'far dan diriwayatkan pula oleh 'Abdurrahman bin Mahdi, keduanya menerima dari Syu'bah dari Qatabah yang bersumber dari Anas bin Malik r.a. menyebutkan 'Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menggemari labu. Maka (pada suatu hari) beliau diberi makanan itu atau diundang untuk makan makanan itu (labu). Aku pun mengikutinya, maka makanan itu (labu) kuletakkan dihadapannya, karena aku tahu beliau menggemarinya.'

Pendidikan Agama Islam #13
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #13 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #13 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #5

Orang yang jujur akan senantiasa mengatakan … aku yang paling benar seperti yang kamu inginkan kebenaran apa yang dirasakan oleh

Pendidikan Agama Islam #25

Surah Al-Insyirah diawali dengan lafal … alam nasyrah alam yaj’al alam dunya bismika alam tara Benar! Kurang tepat! Penjelasan:أَلَمْ نَشْرَحْ

Pendidikan Agama Islam #20

Berikut adalah contoh bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala Maha Mendahulukan. makhluk lebih dahulu dari pencipta meja lebih dahulu dari tukang

Instagram