Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 143 [QS. 4:143]

مُّذَبۡذَبِیۡنَ بَیۡنَ ذٰلِکَ ٭ۖ لَاۤ اِلٰی ہٰۤؤُلَآءِ وَ لَاۤ اِلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ مَنۡ یُّضۡلِلِ اللّٰہُ فَلَنۡ تَجِدَ لَہٗ سَبِیۡلًا
Mudzabdzabiina baina dzalika laa ila ha’ulaa-i walaa ila ha’ulaa-i waman yudhlilillahu falan tajida lahu sabiilaa;
Mereka dalam keadaan ragu antara yang demikian (iman atau kafir), tidak termasuk kepada golongan ini (orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang kafir).
Barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka kamu tidak akan mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.
―QS. An Nisaa’ [4]: 143

Wavering between them, (belonging) neither to the believers nor to the disbelievers.
And whoever Allah leaves astray – never will you find for him a way.
― Chapter 4. Surah An Nisaa‘ [verse 143]

مُّذَبْذَبِينَ mereka dalam keadaan ragu-ragu

Wavering
بَيْنَ antara

between
ذَٰلِكَ demikian

that,
لَآ tidak

not
إِلَىٰ kepada

to
هَٰٓؤُلَآءِ ini/itu

these
وَلَآ dan tidak

and not
إِلَىٰ kepada

to
هَٰٓؤُلَآءِ ini/itu

those.
وَمَن dan barang siapa

And whoever
يُضْلِلِ menyesatkan

has been lead astray
ٱللَّهُ Allah

(by) Allah –
فَلَن maka tidak

then never
تَجِدَ mendapat

you will find
لَهُۥ baginya

for him
سَبِيلًا jalan

a way.

Tafsir

Alquran

Surah An Nisaa’
4:143

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 143. Oleh Kementrian Agama RI


Kaum munafik kadang-kadang memihak orang-orang mukmin dan kadang-kadang memihak orang-orang kafir.
Sikap mereka memihak itupun tidak dilakukan secara ikhlas, karena mereka hanya menginginkan ketentuan duniawi dan melepaskan diri dari tekanan-tekanan yang akan dijumpainya dari kedua belah pihak.


Barang siapa yang disesatkan dari hidayah Allah, maka tidak ada yang dapat menolong dan tidak ada yang dapat menunjukinya kepada jalan yang benar yang akan melepaskan mereka dari kesesatan.

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 143. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Orang-orang munafik berada dalam keragu-raguan:
tidak termasuk kelompok kalian dan juga tidak sepenuhnya termasuk kelompok kafir.
Hal itu akibat lemahnya iman dan jiwa mereka, di samping akibat kesesatan mereka dari kebenaran.


Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan untuk memberi petunjuk baginya.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Di antara keadaan orang-orang munafik adalah kebimbangan, kebingungan dan maju-mundur.
Mereka tidak bisa tetap di atas satu keadaan, tidak bersama orang-orang mukmin dan juga tidak bersama orang-orang kafir.


Barangsiapa yang Allah palingkan hatinya dari iman dan berpegang kepada petunjuk-Nya, maka dia tidak akan mendapatkan jalan kepada petunjuk dan keyakinan.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Mereka dalam keadaan bimbang) ragu-ragu


(antara demikian) yakni antara kafir dan iman


(tidak) masuk


(kepada mereka ini) artinya golongan orang-orang kafir


(dan tidak pula kepada mereka itu) artinya golongan orang-orang beriman.


(Dan siapa yang disesatkan Allah, maka tidak akan kamu temui baginya jalan) untuk menerima petunjuk.

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Orang-orang munafik itu dalam keadaan bingung antara iman dan kekafiran, mereka tidak bersama golongan orang-orang mukmin lahir dan batinnya, tidak pula bersama golongan orang-orang kafir lahir batinnya.
Dengan kata lain, lahiriah mereka bersama orang-orang mukmin, tetapi batiniah mereka bersama-sama orang-orang kafir.
Di antara mereka ada orang yang pendiriannya labil lagi ragu, adakalanya cenderung kepada orang-orang mukmin, dan adakalanya cenderung kepada orang-orang kafir.
Seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, melalui firman-Nya:

Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinarnya, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti.
(QS. Al-Baqarah [2]: 20), hingga akhir ayat.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
Mereka dalam keadaan ragu antara yang demikian itu (iman atau kafir), tidak termasuk golongan ini (orang-orang beriman).
(QS. An-Nisa’ [4]: 143)
Yang dimaksud dengan ha-ula-i pertama ialah para sahabat Nabi Muhammad ﷺ Dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir).
(QS. An-Nisa’ [4]: 143)
Yang dimaksud dengan ha-ula-i yang kedua ialah orang-orang Yahudi.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Nabi ﷺ Disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:
Perumpamaan orang munafik sama seperti seekor kambing yang kebingungan di antara dua kelompok ternak kambing, adakalanya ia mengembik untuk kumpulan ini dan adakalanya mengembik untuk kumpulan itu, sedangkan ia tidak mengerti manakah di antara kedua kumpulan itu yang harus ia ikuti.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim secara munfarid.
Imam Muslim meriwayatkannya pula dari Muhammad ibnul Musanna di lain kesempatan, dari Abdul Wahhab, dan ia meriwayatkannya hanya sampai pada Ibnu Umar, tanpa di-marfu-kan.
Muhammad ibnul Musanna mengatakan bahwa Abdul Wahhab menceritakannya -kepada kami sebanyak dua kali dengan predikat-yang sama.

Menurut kami, hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dari Ishaq ibnu Yusuf ibnu Ubaidillah dengan lafaz yang sama secara marfu‘.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Ismail ibnu Ayyasy dan Ali ibnu Asim, dari Ubaidillah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar secara marfu‘.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Usman ibnu Muhammad ibnu Abu Syaibah, dari Abdah, dari Abdullah secara marfu‘.
Ahmad ibnu Salamah meriwayatkan dari Ubaidillah atau Abdullah ibnu Umar, dari Nafi’, dari Ibnu Umar secara marfu‘.
Diriwayatkan pula oleh Saklir ibnu Juwairiyah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Nabi ﷺ dengan predikat yang semisal (yakni marfu‘).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Al-Huzail ibnu Bilal, dari Ibnu Abu Ubaid, bahwa pada suatu hari ia duduk bersama Abdullah ibnu Umar di Makkah.
Ibnu Abu Ubaid mengatakan bahwa ayahnya (yakni Abu Ubaid) mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Sesungguhnya perumpamaan orang munafik di hari kiamat nanti seperti seekor kambing di antara dua kelompok ternak kambing.
Jika ia datang kepada salah satu dari kelompok itu, maka kelompok tersebut menandukinya (mengusirnya), dan jika ia datang kepada kelompok yang lain, maka kelompok tersebut menandukinya pula.
Ibnu Umar berkata kepadanya,
"Kamu dusta."
Kaum yang ada memuji ayahnya dengan pujian yang baik atau sepantasnya (yakni mengiakan apa yang dikatakannya).
Lalu Ibnu Umar berkata,
"Saya tidak mempunyai prasangka lain terhadap teman kalian ini, melainkan seperti apa yang kalian nilai.
Tetapi aku, Allah-lah yang menjadi saksi-ku, menyaksikan ketika beliau ﷺ mengucapkannya, yaitu ‘Seperti seekor kambing di antara dua kumpulan ternak kambing’."
Abu Ubaid berkata,
"Itu sama saja."
Ibnu Umar mengatakan bahwa memang demikianlah yang pernah ia dengar.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Al-Mas’udi, dari Ibnu Ja’far Muhammad ibnu Ali yang menceritakan bahwa ketika Ubaid ibnu Umair mengisahkan sebuah hadis yang saat itu Abdullah ibnu Umar ada di tempat yang sama, lalu Ubaid ibnu Umair mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda:
Perumpamaan orang munafik adalah seperti seekor kambing di antara dua kelompok ternak kambing, apabila ia datang kepada salah satu kelompok, maka semuanya menandukinya (mengusirnya), dan apabila datang kepada kelompok yang lainnya, maka semuanya menandukinya.
Maka Ibnu Umar mengatakan,
"Bunyi hadis tidak seperti itu, sesungguhnya yang diucapkan oleh Rasulullah ﷺ ialah,
"Semisal dengan seekor kambing di antara dua kelompok ternak kambing’."
Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa Ubaid ibnu Umair yang telah berusia lanjut itu menjadi marah dan emosi.
Ketika Ibnu Umar melihat gelagat tersebut, maka ia mengatakan,
"Ingatlah, seandainya aku belum pernah mendengarnya, niscaya aku pun tidak berani membuat sanggahan kepadamu."

Jalur lain dari Ibnu Umar, diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Usman ibnu Madawaih, dari Ya’fur ibnu Zaudi yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ubaid ibnu Umair mengisahkan apa yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ, yaitu:
Perumpamaan orang munafik adalah seperti seekor kambing yang berada di antara dua kumpulan ternak kambing.
Maka Ibnu Umar berkata,
"Celakalah kalian, janganlah kalian berdusta terhadap Rasulullah ﷺ Sesungguhnya Rasulullah ﷺ hanya mengatakan:
‘Perumpamaan orang munafik adalah seperti seekor kambing yang kebingungan di antara dua kelompok ternak kambing’."

Imam Ahmad meriwayatkannya pula melalui berbagai jalur dari Ubaid ibnu Umair dan Ibnu Umar.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya pula.
Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwas, dari Abdullah (yaitu Ibnu Mas’ud) yang mengatakan bahwa perumpamaan orang mukmin, orang munafik, dan orang kafir ialah seperti tiga orang yang sampai ke suatu lembah.
Salah seorang dari mereka menyeberangi lembah itu, kemudian yang kedua menyeberanginya pula, tetapi ketika sampai di pertengahan lembah, ia diseru oleh orang yang berada di pinggir lembah,
"Celakalah kamu, ke manakah kamu akan pergi, ke arah kebinasaan.
Kembalilah kamu ke tempat semula kamu berangkat!"
Sedangkan orang yang telah menyeberang menyerunya,
"Kemarilah menuju jalan selamat!"
ia kebingungan, sesekali memandang ke arah orang ini dan sesekali yang lain memandang ke arah orang itu.
Ibnu Mas’ud melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu datanglah banjir yang deras hingga orang tersebut tenggelam.
Perumpamaan orang yang telah menyeberang adalah orang mukmin, dan orang yang tenggelam itu adalah orang munafik.
Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir), tidak termasuk kepada golongan ini (orang-orang ber-iman) dan tidak (pula) kepada golongan ini (orang-orang kafir).
(QS. An-Nisa’ [4]: 143)
Orang yang tetap tinggal adalah perumpamaan orang kafir.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya:
Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir), tidak termasuk kepada golongan ini (orang-orang ber-iman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir).
(QS. An-Nisa’ [4]: 143)
Qatadah mengatakan bahwa mereka bukan orang-orang mukmin yang murni, bukan pula orang-orang musyrik yang terang-terangan dengan kemusyrikannya.
Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa Nabi Allah pernah membuat perumpamaan bagi orang mukmin dan orang munafik serta orang kafir.
Perihalnya sama dengan tiga orang yang berangkat menuju ke sebuah sungai.
Lalu orang mukmin menceburkan dirinya ke sungai itu dan berhasil menyeberanginya.
Kemudian orang munafik menceburkan dirinya, tetapi ketika ia hampir sampai ke tempat orang mukmin, tiba-tiba orang kafir menyerunya,
"Kemarilah kepadaku, karena sesungguhnya aku merasa khawatir denganmu."
Lalu orang mukmin menyerunya pula,
"Kemarilah kepadaku, kemarilah ke sisi ku."
Padahal jika ia berenang terus, niscaya ia dapat memperoleh apa yang ada di sisi orang mukmin itu.
Tetapi orang munafik itu terus-menerus dalam keadaan kebingungan di antara kedua orang tersebut, hingga keburu datang air bah yang menenggelamkannya.
Orang munafik masih tetap dalam keadaan ragu dan kebingungan hingga ajal datang menjemputnya, sedangkan dia masih tetap dalam keraguannya.
Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda:
Perumpamaan orang munafik sama dengan seekor kambing yang mengembik sendirian di antara dua kumpulan ternak kambing.
Ia melihat sekumpulan kambing di atas tempat yang tinggi, lalu ia datang kepadanya dan bergabung dengannya, tetapi ia tidak dikenal.
Kemudian ia melihat sekumpulan ternak kambing yang lain di atas tempat yang tinggi, lalu ia mendatanginya dan bergabung dengannya, tetapi ia tidak dikenal.

Karena itulah disebutkan di dalam firman-Nya:

Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan dapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.

Dengan kata lain, barang siapa yang dipalingkan oleh Allah dari jalan hidayah.
Perihalnya sama dengan apa yang disebut dalam ayat yang lain, yaitu firman-Nya:

maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
(QS. Al-Kahfi:
17)

Karena sesungguhnya apa yang disebut oleh firman-Nya:

Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.
(QS. Al-A’raf:
186)

Mereka adalah orang-orang munafik, Allah telah menyesatkan mereka dari jalan keselamatan.
Karena itu, tiada seorang pun yang menunjuki mereka ke jalan hidayah, dan tiada seorang pun yang dapat menyelamatkan mereka dari kesesatannya.

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala, tiada yang meminta pertanggungjawaban terhadap keputusan-Nya dan tiada yang bertanya tentang apa yang diperbuat-Nya, sedangkan mereka pasti dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.

Unsur Pokok Surah An Nisaa’ (النّساء)

Surat An-Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al-Baqarah.

Dinamakan An Nisaa‘ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath-Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa‘ dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Al Kubraa" (surat An Nisaa‘ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Ash Shughraa" (surat An Nisaa‘ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

▪ Kewajiban para washi dan para wali.
Hukum poligami.
▪ Mas kawin.
▪ Memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya.
▪ Pokok-pokok hukum warisan.
▪ Perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya.
▪ Wanita-wanita yang haram dikawini.
Hukum mengawini budak wanita.
▪ Larangan memakan harta secara bathil.
Hukum syiqaq dan nusyuz.
▪ Kesucian lahir batin dalam shalat.
Hukum suaka.
Hukum membunuh seorang Islam.
Shalat khauf‘.
▪ Larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk.
▪ Masalah pusaka kalalah.

Kisah:

▪ Kisah-kisah tentang nabi Musa `alaihis salam dan pengikutnya.

Lain-lain:

▪ Asal manusia adalah satu.
▪ Keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita.
Normanorma bergaul dengan isteri.
ahli kitab terhadap kitabkitab yang diturunkan kepadanya.
▪ Dasar-dasar pemerintahan.
▪ Cara mengadili perkara.
▪ Keharusan siap-siaga terhadap musuh.
▪ Sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi peperangan.
▪ Berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf.
Norma dan adab dalam peperangan.
▪ Cara menghadapi orang-orang munafik.
▪ Derajat orang yang berjihad.

Audio

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan Indonesia

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 176

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nisaa' ayat 143 - Gambar 1 Surah An Nisaa' ayat 143 - Gambar 2
Statistik QS. 4:143
  • Rating RisalahMuslim
4.9

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa’.

Surah An-Nisa’ (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, “Wanita”) terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa’
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali ‘Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma’idah
Sending
User Review
4.5 (13 votes)
Tags:

4:143, 4 143, 4-143, Surah An Nisaa' 143, Tafsir surat AnNisaa 143, Quran AnNisa 143, An-Nisa’ 143, Surah An Nisa ayat 143

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Hajj (Haji) – surah 22 ayat 3 [QS. 22:3]

3. Meskipun Allah telah menjelaskan azab yang sangat keras pada hari Kiamat bagi orang kafir dan mengajak manusia untuk bertakwa kepada-Nya, tetapi di antara manusia, yang kafir dan keras kepala, ada … 22:3, 22 3, 22-3, Surah Al Hajj 3, Tafsir surat AlHajj 3, Quran Al-Haj 3, Alhaj 3, Al Haj 3, Al-Hajj 3, Surah Al Hajj ayat 3

QS. Al Qamar (Bulan) – surah 54 ayat 26 [QS. 54:26]

25-26. Apakah wahyu itu justru diturunkan kepadanya, bukan kepada orang lain di antara kita yang lebih istimewa dan berpengaruh? Pastilah dia seorang pendusta besar lagi sombong.” Allah membantah, “Ke … 54:26, 54 26, 54-26, Surah Al Qamar 26, Tafsir surat AlQamar 26, Quran Al-Qamar 26, Surah Al Qomar ayat 26

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

أَلَمْ dalam surah Al-Insyirah berarti ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

a lam nasyraḥ laka ṣadrak

'Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?'
--QS. Al-Insyirah [94] : 1

Surah Al-Insyirah terdiri dari ... ayat.

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Insyirah adalah surah ke-94 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Ad-Duha.

وَوَضَعْنَا عَنْكَ وِزْرَكَ

Ayat diatas terdapat dalam Alquran surah Al-Insyirah ayat ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ

wa waḍa'nā 'angka wizrak

'dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,'
--QS. Al-Insyirah [94] : 2

+

Array

Surah Al-Insyirah turun sesudah surah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Insyirah adalah surah ke-94 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah serta diturunkan sesudah surah Ad-Duha.

Surah Al-Insyirah diawali dengan lafal ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

a lam nasyraḥ laka ṣadrak

'Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?'
--QS. Al-Insyirah [94] : 1

Pendidikan Agama Islam #25
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #25 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #25 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #1

Tuhan memiliki sifat Al Matiin, yang berarti bahwa Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah zat Yang … Maha Mematikan Maha Kokoh

Pendidikan Agama Islam #14

Dalam Islam, teladan yang baik disebut juga dengan istilah … Uswatun khisah Akhlakul karimah Uswatun Hasanah Akhlakul khabisah Htaman Nabiyyin

Pendidikan Agama Islam #12

Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir pada bulan … Rabiul Akhir Safar Rabiul Awal Muharram Ramadan Benar! Kurang tepat!

Instagram