Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 143


مُّذَبۡذَبِیۡنَ بَیۡنَ ذٰلِکَ ٭ۖ لَاۤ اِلٰی ہٰۤؤُلَآءِ وَ لَاۤ اِلٰی ہٰۤؤُلَآءِ ؕ وَ مَنۡ یُّضۡلِلِ اللّٰہُ فَلَنۡ تَجِدَ لَہٗ سَبِیۡلًا
Mudzabdzabiina baina dzalika laa ila ha’ulaa-i walaa ila ha’ulaa-i waman yudhlilillahu falan tajida lahu sabiilaa;

Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir):
tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.
―QS. 4:143
Topik ▪ Siksaan Allah sangat pedih
4:143, 4 143, 4-143, An Nisaa’ 143, AnNisaa 143, AnNisa 143, An-Nisa’ 143
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 143. Oleh Kementrian Agama RI

Kaum munafik kadang-kadang memihak orang-orang mukmin dan kadang-kadang memihak orang-orang kafir.
Sikap mereka memihak itupun tidak dilakukan secara ikhlas, karena mereka hanya menginginkan ketentuan duniawi dan melepaskan diri dari tekanan-tekanan yang akan dijumpainya dari kedua belah pihak.
Barang siapa yang disesatkan dari hidayah Allah, maka tidak ada yang dapat menolong dan tidak ada yang dapat menunjukinya kepada jalan yang benar yang akan melepaskan mereka dari kesesatan.

An Nisaa' (4) ayat 143 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 143 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 143 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Orang-orang munafik berada dalam keragu-raguan:
tidak termasuk kelompok kalian dan juga tidak sepenuhnya termasuk kelompok kafir.
Hal itu akibat lemahnya iman dan jiwa mereka, di samping akibat kesesatan mereka dari kebenaran.
Barangsiapa yang disesatkan oleh Allah maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan untuk memberi petunjuk baginya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Mereka dalam keadaan bimbang) ragu-ragu (antara demikian) yakni antara kafir dan iman (tidak) masuk (kepada mereka ini) artinya golongan orang-orang kafir (dan tidak pula kepada mereka itu) artinya golongan orang-orang beriman.
(Dan siapa yang disesatkan Allah, maka tidak akan kamu temui baginya jalan) untuk menerima petunjuk.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Di antara keadaan orang-orang munafik adalah kebimbangan, kebingungan dan maju-mundur.
Mereka tidak bisa tetap di atas satu keadaan, tidak bersama orang-orang mukmin dan juga tidak bersama orang-orang kafir.
Barangsiapa yang Allah palingkan hatinya dari iman dan berpegang kepada petnjuk-Nya, maka dia tidak akan mendapatkan jalan kepada petunjuk dan keyakinan.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Orang-orang munafik itu dalam keadaan bingung antara iman dan kekafiran, mereka tidak bersama golongan orang-orang mukmin lahir dan batinnya, tidak pula bersama golongan orang-orang kafir lahir batinnya.
Dengan kata lain, lahiriah mereka bersama orang-orang mukmin, tetapi batiniah mereka bersama-sama orang-orang kafir.
Di antara mereka ada orang yang pendiriannya labil lagi ragu, adakalanya cenderung kepada orang-orang mukmin, dan adakalanya cenderung kepada orang-orang kafir.
Seperti yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
melalui firman-Nya:

Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinarnya, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti.
(Al Baqarah:20), hingga akhir ayat.

Mujahid mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Mereka dalam keadaan ragu antara yang demikian itu (iman atau kafir), tidak termasuk golongan ini (orang-orang beriman).
(An Nisaa:143) Yang dimaksud dengan ha-ula-i pertama ialah para sahabat Nabi Muhammad ﷺ Dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir).
(An Nisaa:143) Yang dimaksud dengan ha-ula-i yang kedua ialah orang-orang Yahudi.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Nabi ﷺ Disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda: Perumpamaan orang munafik sama seperti seekor kambing yang kebingungan di antara dua kelompok ternak kambing, adakalanya ia mengembik untuk kumpulan ini dan adakalanya mengembik untuk kumpulan itu, sedangkan ia tidak mengerti manakah di antara kedua kumpulan itu yang harus ia ikuti.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim secara munfarid.
Imam Muslim meriwayatkannya pula dari Muhammad ibnul Musanna di lain kesempatan, dari Abdul Wahhab, dan ia meriwayatkannya hanya sampai pada Ibnu Umar, tanpa di-marfu-kan.
Muhammad ibnul Musanna mengatakan bahwa Abdul Wahhab menceritakannya -kepada kami sebanyak dua kali dengan predikat-yang sama.

Menurut kami, hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dari Ishaq ibnu Yusuf ibnu Ubaidillah dengan lafaz yang sama secara marfu’.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Ismail ibnu Ayyasy dan Ali ibnu Asim, dari Ubaidillah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar secara marfu’.
Hal yang sama diriwayatkan oleh Usman ibnu Muhammad ibnu Abu Syaibah, dari Abdah, dari Abdullah secara marfu’.
Ahmad ibnu Salamah meriwayatkan dari Ubaidillah atau Abdullah ibnu Umar, dari Nafi’, dari Ibnu Umar secara marfu’.
Diriwayatkan pula oleh Saklir ibnu Juwairiyah, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, dari Nabi ﷺ dengan predikat yang semisal (yakni marfu’).

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Khalaf ibnul Walid, telah menceritakan kepada kami Al-Huzail ibnu Bilal, dari Ibnu Abu Ubaid, bahwa pada suatu hari ia duduk bersama Abdullah ibnu Umar di Makkah.
Ibnu Abu Ubaid mengatakan bahwa ayahnya (yakni Abu Ubaid) mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Sesungguhnya perumpamaan orang munafik di hari kiamat nanti seperti seekor kambing di antara dua kelompok ternak kambing.
Jika ia datang kepada salah satu dari kelompok itu, maka kelompok tersebut menandukinya (mengusirnya), dan jika ia datang kepada kelompok yang lain, maka kelompok tersebut menandukinya pula.
Ibnu Umar berkata kepadanya, “Kamu dusta.” Kaum yang ada memuji ayahnya dengan pujian yang baik atau sepantasnya (yakni mengiakan apa yang dikatakannya).
Lalu Ibnu Umar berkata, “Saya tidak mempunyai prasangka lain terhadap teman kalian ini, melainkan seperti apa yang kalian nilai.
Tetapi aku, Allah-lah yang menjadi saksi-ku, menyaksikan ketika beliau ﷺ mengucapkannya, yaitu ‘Seperti seekor kambing di antara dua kumpulan ternak kambing’.” Abu Ubaid berkata, “Itu sama saja.” Ibnu Umar mengatakan bahwa memang demikianlah yang pernah ia dengar.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Al-Mas’udi, dari Ibnu Ja’far Muhammad ibnu Ali yang menceritakan bahwa ketika Ubaid ibnu Umair mengisahkan sebuah hadis yang saat itu Abdullah ibnu Umar ada di tempat yang sama, lalu Ubaid ibnu Umair mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: Perumpamaan orang munafik adalah seperti seekor kambing di antara dua kelompok ternak kambing, apabila ia datang kepada salah satu kelompok, maka semuanya menandukinya (mengusirnya), dan apabila datang kepada kelompok yang lainnya, maka semuanya menandukinya.
Maka Ibnu Umar mengatakan, “Bunyi hadis tidak seperti itu, sesungguhnya yang diucapkan oleh Rasulullah ﷺ ialah, “Semisal dengan seekor kambing di antara dua kelompok ternak kambing’.” Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa Ubaid ibnu Umair yang telah berusia lanjut itu menjadi marah dan emosi.
Ketika Ibnu Umar melihat gelagat tersebut, maka ia mengatakan, “Ingatlah, seandainya aku belum pernah mendengarnya, niscaya aku pun tidak berani membuat sanggahan kepadamu.”

Jalur lain dari Ibnu Umar, diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Usman ibnu Madawaih, dari Ya’fur ibnu Zaudi yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Ubaid ibnu Umair mengisahkan apa yang disabdakan oleh Rasulullah ﷺ, yaitu: Perumpamaan orang munafik adalah seperti seekor kambing yang berada di antara dua kumpulan ternak kambing.
Maka Ibnu Umar berkata, “Celakalah kalian, janganlah kalian berdusta terhadap Rasulullah ﷺ Sesungguhnya Rasulullah ﷺ hanya mengatakan: ‘Perumpamaan orang munafik adalah seperti seekor kambing yang kebingungan di antara dua kelompok ternak kambing’.”

Imam Ahmad meriwayatkannya pula melalui berbagai jalur dari Ubaid ibnu Umair dan Ibnu Umar.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya pula.
Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwas, dari Abdullah (yaitu Ibnu Mas’ud) yang mengatakan bahwa perumpamaan orang mukmin, orang munafik, dan orang kafir ialah seperti tiga orang yang sampai ke suatu lembah.
Salah seorang dari mereka menyeberangi lembah itu, kemudian yang kedua menyeberanginya pula, tetapi ketika sampai di pertengahan lembah, ia diseru oleh orang yang berada di pinggir lembah, “Celakalah kamu, ke manakah kamu akan pergi, ke arah kebinasaan.
Kembalilah kamu ke tempat semula kamu berangkat!” Sedangkan orang yang telah menyeberang menyerunya, “Kemarilah menuju jalan selamat!” ia kebingungan, sesekali memandang ke arah orang ini dan sesekali yang lain memandang ke arah orang itu.
Ibnu Mas’ud melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu datanglah banjir yang deras hingga orang tersebut tenggelam.
Perumpamaan orang yang telah menyeberang adalah orang mukmin, dan orang yang tenggelam itu adalah orang munafik.
Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir), tidak termasuk kepada golongan ini (orang-orang ber-iman) dan tidak (pula) kepada golongan ini (orang-orang kafir).
(An Nisaa:143) Orang yang tetap tinggal adalah perumpamaan orang kafir.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Bisyr, telah menceritakan kepada kami Yazid, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Qatadah sehubungan dengan makna firman-Nya: Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman dan kafir), tidak termasuk kepada golongan ini (orang-orang ber-iman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir).
(An Nisaa:143) Qatadah mengatakan bahwa mereka bukan orang-orang mukmin yang murni, bukan pula orang-orang musyrik yang terang-terangan dengan kemusyrikannya.
Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa Nabi Allah pernah membuat perumpamaan bagi orang mukmin dan orang munafik serta orang kafir.
Perihalnya sama dengan tiga orang yang berangkat menuju ke sebuah sungai.
Lalu orang mukmin menceburkan dirinya ke sungai itu dan berhasil menyeberanginya.
Kemudian orang munafik menceburkan dirinya, tetapi ketika ia hampir sampai ke tempat orang mukmin, tiba-tiba orang kafir menyerunya, “Kemarilah kepadaku, karena sesungguhnya aku merasa khawatir denganmu.” Lalu orang mukmin menyerunya pula, “Kemarilah kepadaku, kemarilah ke sisi ku.” Padahal jika ia berenang terus, niscaya ia dapat memperoleh apa yang ada di sisi orang mukmin itu.
Tetapi orang munafik itu terus-menerus dalam keadaan kebingungan di antara kedua orang tersebut, hingga keburu datang air bah yang menenggelamkannya.
Orang munafik masih tetap dalam keadaan ragu dan kebingungan hingga ajal datang menjemputnya, sedangkan dia masih tetap dalam keraguannya.
Qatadah mengatakan, telah diceritakan kepada kami bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda: Perumpamaan orang munafik sama dengan seekor kambing yang mengembik sendirian di antara dua kumpulan ternak kambing.
Ia melihat sekumpulan kambing di atas tempat yang tinggi, lalu ia datang kepadanya dan bergabung dengannya, tetapi ia tidak dikenal.
Kemudian ia melihat sekumpulan ternak kambing yang lain di atas tempat yang tinggi, lalu ia mendatanginya dan bergabung dengannya, tetapi ia tidak dikenal.

Karena itulah disebutkan di dalam firman-Nya:

Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan dapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.

Dengan kata lain, barang siapa yang dipalingkan oleh Allah dari jalan hidayah.
Perihalnya sama dengan apa yang disebut dalam ayat yang lain, yaitu firman-Nya:

maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.
(Al Kahfi:17)

Karena sesungguhnya apa yang disebut oleh firman-Nya:

Barang siapa yang disesatkan Allah, maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.
(Al A’raf:186)

Mereka adalah orang-orang munafik, Allah telah menyesatkan mereka dari jalan keselamatan.
Karena itu, tiada seorang pun yang menunjuki mereka ke jalan hidayah, dan tiada seorang pun yang dapat menyelamatkan mereka dari kesesatannya.

Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala.
tiada yang meminta pertanggungjawaban terhadap keputusan-Nya dan tiada yang bertanya tentang apa yang diperbuat-Nya, sedangkan mereka pasti dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 143 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 143



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.9
Rating Pembaca: 4.5 (13 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku