Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 13 [QS. 4:13]

تِلۡکَ حُدُوۡدُ اللّٰہِ ؕ وَ مَنۡ یُّطِعِ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ یُدۡخِلۡہُ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ وَ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ
Tilka huduudullahi waman yuthi’illaha warasuulahu yudkhilhu jannaatin tajrii min tahtihaal anhaaru khaalidiina fiihaa wadzalikal fauzul ‘azhiim(u);
Itulah batas-batas (hukum) Allah.
Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya.
Dan itulah kemenangan yang agung.
―QS. An Nisaa’ [4]: 13

These are the limits (set by) Allah, and whoever obeys Allah and His Messenger will be admitted by Him to gardens (in Paradise) under which rivers flow, abiding eternally therein;
and that is the great attainment.
― Chapter 4. Surah An Nisaa‘ [verse 13]

تِلْكَ itulah

These
حُدُودُ ketentuan-ketentuan

(are the) limits
ٱللَّهِ Allah

(of) Allah,
وَمَن dan barang siapa

and whoever
يُطِعِ mentaati

obeys
ٱللَّهَ Allah

Allah
وَرَسُولَهُۥ dan RasulNya

and His Messenger,
يُدْخِلْهُ Dia akan memasukkannya

He will admit him
جَنَّٰتٍ surga

(to) Gardens
تَجْرِى mengalir

flows
مِن dari

from
تَحْتِهَا bawahnya

underneath them
ٱلْأَنْهَٰرُ sungai-sungai

the rivers –
خَٰلِدِينَ mereka kekal

(will) abide forever
فِيهَا di dalamnya

in it.
وَذَٰلِكَ dan demikianitu

And that
ٱلْفَوْزُ keuntungan

(is) the success
ٱلْعَظِيمُ yang besar

[the] great.

Tafsir

Alquran

Surah An Nisaa’
4:13

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 13. Oleh Kementrian Agama RI


Semua ini merupakan ketentuan dari Allah yang harus dilaksanakan oleh orang yang bertakwa kepada-Nya.
Allah Maha Mengetahui apa yang lebih bermanfaat untuk manusia dan Maha Penyantun.

Dia tidak segera memberi hukuman kepada hamba-Nya yang tidak taat agar ada kesempatan baginya untuk bertobat dan kembali kepada jalan yang diridai-Nya.
Barang siapa yang taat melaksanakan apa yang disyariatkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya, kepada mereka akan diberikan kebahagiaan hidup di akhirat.

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 13. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Hukumhukum yang telah disebutkan tentang warisan itu merupakan ketentuan-ketentuan yang ditetapkan Allah kepada hamba-Nya agar dikerjakan dan tidak dilanggar.
Barangsiapa taat kepada hukumhukum Allah dan Rasul-Nya, maka ganjarannya adalah surga yang dialiri sungai-sungai.


Mereka akan kekal di dalamnya.
Itulah kemenangan yang besar[1].



[1] Sistem pembagian warisan yang telah dijelaskan Alquran merupakan aturan yang paling adil dalam semua perundang-undangan di dunia.
Hal itu diakui oleh seluruh pakar hukum di Eropa.


Ini merupakan bukti bahwa Alquran adalah benar-benar datang dari Allah, sebab saat itu belum ada sistem hukum yang mengatur hal-hal seperti itu, termasuk dalam sistem hukum Romawi, Persia atau sistem hukum yang ada sebelumnya.
Secara garis besar, keadilan sistem tersebut terangkum dalam hal-hal berikut.


Pertama, hukum waris ditetapkan oleh syariat, bukan oleh pemilik harta, tanpa mengabaikan keinginannya.
Pemilik harta berhak menetapkan wasiat yang baik sepertiga dari harta peninggalan sebagai pengganti dari ketentuan-ketentuan agama yang belum dilaksanakan seperti mengeluarkan zakat, atau pemberian kepada mereka yang membutuhkan selain yang berhak menerima bagian.


Wasiat tidak boleh dilaksanakan bila bermotifkan maksiat atau mendorong berlanjutnya maksiat.
Syariat menentukan sepertiga dari harta yang ditinggalkan, bila ada wasiat.


Bila tidak, seluruh harta dibagikan kepada yang berhak menerima.
Bisa juga di bawah sepertiga, dan selebihnya dibagikan sesuai dengan ketentuan syariat.
Kedua, harta waris dua pertiga yang diatur oleh Allah, diberikan kepada kerabat yang terdekat, tanpa membedakan antara kecil dan besar.
Anak-anak mendapatkan bagian lebih banyak dari yang lainnya karena mereka merupakan pelanjut orang yang meninggal yang pada umumnya masih lemah.
Meskipun demikian, selain mereka, masih ada lagi yang berhak menerima warisan seperti ibu, nenek, bapak, kakek, walaupun dengan jumlah yang lebih sedikit.
Ketiga, dalam pembagian warisan juga diperhatikan sisi kebutuhan.
Atas dasar pertimbangan itu, bagian anak menjadi lebih besar.
Sebab, kebutuhan mereka itu lebih besar dan mereka masih akan menghadapi masa hidup lebih panjang.
Pertimbangan kebutuhan itu pulalah yang menyebabkan bagian wanita separuh dari bagian laki-laki.
Sebab, kebutuhan laki-laki terhadap harta lebih besar, seperti tuntutan memberi nafkah kepada anak dan istri.
Hal ini sesuai dengan fitrah manusia di mana wanita mempunyai tanggung jawab mengatur rumah dan mengasuh anak.
Sedangkan laki-laki bekerja mencari nafkah di luar rumah dan menyediakan anggaran kebutuhan rumah tangga.
Maka, dengan demikian, keadilan diukur sesuai dengan kebutuhan.
Merupakan sikap yang tidak adil apabila keduanya diperlakukan secara sama, sementara tuntutan kebutuhan masing-masing berbeda.
Keempat, dasar ketentuan syariat Islam dalam pembagian harta waris adalah distribusi, bukan monopoli.
Maka, harta warisan tidak hanya dibagikan kepada anak sulung saja, atau laki-laki saja, atau anak-anak mayit saja.
Kerabat yang lain seperti orang tua, saudara, paman, juga berhak.
Bahkan hak waris juga bisa merata dalam satu kabilah, meskipun dalam prakteknya diutamakan dari yang terdekat.
Jarang sekali terjadi warisan dimonopoli oleh satu orang saja.
Kelima, wanita tidak dilarang menerima warisan seperti pada bangsa Arab dahulu.
Wanita juga berhak menerima.
Dengan begitu berarti Islam menghormati wanita dan memberikan hak-haknya secara penuh.
Lebih dari itu Islam juga memberikan bagian warisan kepada kerabat pihak wanita seperti saudara laki-laki dan perempuan dari ibu.
Ini juga berarti sebuah penghargaan terhadap kaum wanita yang belum pernah terjadi sebelum Islam.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Hukumhukum ilahiyah yang Allah tetapkan tentang anak-anak yatim, kaum wanita dan juga warisan merupakan syariat-Nya yang membuktikan bahwa ia datang dari sisi Allah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya dalam hukumhukum diatas dan lainnya yang telah Allah syariatkan, maka Dia akan memasukkannya ke dalam surga yang banyak pepohonan dan istananya, sungai-sungai mengalir dibawahnya dengan airnya yang jernih, mereka kekal di dalam kenikmatan tersebut, tidak meninggalkannya dan pahala ini adalah kemenangan yang besar.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Itulah) maksudnya hukumhukum tersebut semenjak urusan anak yatim hingga berikutnya


(ketentuan-ketentuan Allah) syariatsyariat yang ditetapkan-Nya buat hamba-hamba-Nya agar mereka patuhi dan tidak dikhianati.


(Barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya) mengenai hukumhukum yang ditetapkan-Nya itu


(maka akan dimasukkan-Nya) ada yang membaca nudkhiluhu, artinya Kami masukkan ia, dengan maksud merubah pembicaraan kepada orang pertama


(ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar).

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


(13-14)
Dengan kata lain, bagian-bagian dan ketentuan-ketenman yang telah dijadikan oleh Allah untuk para ahli waris sesuai dengan dekatnya hubungan nasab mereka dengan si mayat dan keperluan mereka kepadanya serta kesedihan mereka di saat ditinggalkan.
semuanya itu merupakan batasan-batasan yang telah ditetapkan oleh Allah maka janganlah kalian melanggar dan menyimpangkannya.


Allah berfirman:

Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya.
(QS. An-Nisa’ [4]: 13)

Yakni dalam batasan-batasan tersebut, dan tidak menambahi atau mengurangi bagian sebagian ahli waris melalui cara tipu muslihat dan sarana penggelapan, melainkan membiarkan mereka menuruti hukum Allah, bagian, dan ketetapan yang telah ditentukan-Nya.

niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedangkan mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar.
Dan barang siapa yang men-durhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentu-an-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, sedangkan ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan.
(QS. An-Nisa’ [4]: 13 – 14)

Dikatakan demikian karena hal tersebut berarti mengubah hukum yang telah ditentukan oleh Allah dan menentang Allah dalam hukum-Nya.
Sikap seperti itu tiada lain hanyalah timbul dari orang yang merasa tidak puas dengan apa yang telah dibagikan dan ditetapkan Allah untuknya.
Karena itu, Allah membalasnya dengan penghinaan dalam siksa yang sangat pedih lagi terus-menerus.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Asy’as ibnu Abdullah, dari Syahr ibnu Hausab.
dari Abu Hurairah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Sesungguhnya seorang lelaki benar-benar mengerjakan amal ahli kebaikan selama tujuh puluh tahun, tetapi apabila ia berwasiat dan berlaku aniaya dalam wasiatnya, maka amal perbuatan terakhirnya ditetapkan amal perbuatan yang buruk, lalu ia masuk neraka.
Dan sesungguhnya seorang lelaki benar-benar mengerjakan perbuatan ahli keburukan selama tujuh puluh tahun, tetapi ia berlaku adil dalam wasiatnya.
maka amal perbualan terakhir-nya adalah amal kebaikan, lalu masuklah ia ke dalam surga.
Kemudian sahabat Abu Hurairah mencatakan,
"Bacalah oleh kalian jika kalian suka,"
yaitu firman-Nya:
(Hukumhukum tersebut ) adalah ketentuan dari Allah.
(QS. An-Nisa’ [4]: 13)
Sampai dengan firman-Nya:
dan baginya siksa yang menghinakan.
(QS. An-Nisa’ [4]: 14)

Imam Abu Daud mengatakan di dalam Bab
"Menimpakan Mudarat dalam Berwasiat",
bagian dari kitab sunannya:


telah menceritakan kepada kami Ubaidah ibnu Abdullah, telah menceritakan keruda kami Abdus Samad, telah menceritakan kepada kami Nasr ibnn Ali Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Al-Asy’as ibnu Abdullah ibnu Jabir Al-Haddani, telah menceritakan kepadaku Syahr ibnu Hausyab, bahwa sahabat Abu Hurairah pernah menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah ﷺ pernah berabda:
Sesungguhnya seorang lelaki atau seorang wanita benar-benar melakukan amal ketaatan kepada Allah selama enam puluh tahun, kemudian keduanya menjelang kematiannya, lalu keduanya menimpakan mudarat (kepada ahli warisnya) dalam wasiatnya, maka pastilah keduanya masuk neraka.
Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa Abu Hurairah ra.
membacakan firman-Nya kepadaku mulai dari firman-Nya:
sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya (si mayat) atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris).
(QS. An-Nisa’ [4]: 12)
sampai dengan firman-Nya:
dan itulah kemenangan yang besar.
(QS. An-Nisa’ [4]: 13)

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Turmuzi dan Imam Ibnu Majah melalui hadis Asy’as dengan lafaz yang lebih lengkap darinya.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib.
Tetapi lafaz hadis Imam Ahmad jauh lebih lengkap dan lebih sempurna.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa’ (4) Ayat 13

HUDUUD
حُدُود

Lafaz huduud adalah bentuk jamak dari lafaz tunggal hadd. Lafaz ini bermakna sesuatu yang menghalangi dua benda sehingga kedua-duanya tidak dapat berkumpul antara yang satu sama lain.

Lafaz ini dalam bentuk mufrad tidak di sebut di dalam Al Qur’an tetapi dalam bentuk jamak sebanyak 12 kali lafaz hudud disebut dengan diikuti lafz al-jalalah menjadikannya huduudullah yaitu didalam surah:
-Al Baqaarah (2), ayat 187, 229 (empat kali), 230 (dua kali);
An Nisaa (4), ayat 13;
At Taubah (9), ayat 112;
-Al Mujaadalah (58), ayat 4;
Ath Thalaaq (65), ayat 1 (dua kali).

Hanya sekali saja disebut dengan diikuti lafaz ganti (damir) huduudahuu yaitu dalam surah An Nisaa (4), ayat 14. Sedangkan dalam bentuk hudduda maa anzalallah disebut sekali saja yaitu dalam surah At Taubah (9), ayat 97 sehingga jumlah keseluruhan ulangan lafaz hudud di dalam Al Qur’an adalah 14 kali.

Yang dimaksudkan dengan huduudullah atau hudduda maa anzalallah adalah atural-aturan Allah yang berbentuk perintah dan larangan.
Hukumhukum Allah dan syari’atnya dinamakan huddud karena ia adalah pembatas yang ditetapkan oleh Allah dan tidak boleh dilanggar.
Dalam dua ayat, huddud digunakan unttuk menunjukkan hukumhukum Allah secara umum, bukan hukum dalam kasus tertentu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

Ia menjadi aturan bagi manusia sebagaimana dalam surah At Taubah (9), ayat 97, di mana Allah menerangkan orang Arab yang tinggal di pedalaman adalah orang yang pengetahuannya begitu rendah tentang aturan Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.

Begitu juga dalam surah surah At Taubah (9), ayat 112, di mana Allah menjelaskan antara sifat orang beriman yang dijanjikan syurga adalah orang yang selalu mematuhi aturan Allah secara konsisten.

وَٱلْحَٰفِظُونَ لِحُدُودِ ٱللَّهِۗ

Selain dua ayat diatas, lafaz huduud selalu digunakan untuk menegaskan aturan Allah secara khusus yaitu:

1. Hukum dan aturan tentang puasa dan i’tikaf yang terdapat dalam surah Al Baqarah (2), ayat 187.

2. Hukum dan aturan talak, rujuk, khulu’ dan ‘iddah yaitu yang terdapat dalam surah Al Baqarah (2), ayat 229, 230 dan surah Ath Thalaaq (65), ayat 1.

3. Hukum dan aturan zihar dan kafaratnya yaitu yang terdapat dalam surah Al Mujaadalah (58), ayat 4.

4. Hukum dan aturan pembagian waris yaitu yang terdapat dalam surah An Nisaa (4), ayat 13 dan 14.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN BHD, Hal: 200-201

Unsur Pokok Surah An Nisaa’ (النّساء)

Surat An-Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al-Baqarah.

Dinamakan An Nisaa‘ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding dengan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath-Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa‘ dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Al Kubraa" (surat An Nisaa‘ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa‘ Ash Shughraa" (surat An Nisaa‘ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

▪ Kewajiban para washi dan para Hukum poligami.
▪ Mas kawin.
▪ Memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya.
▪ Pokok-pokok hukum warisan.
▪ Perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya.
▪ Wanita-wanita yang haram dikawini.
Hukum mengawini budak wanita.
▪ Larangan memakan harta secara bathil.
Hukum syiqaq dan nusyuz.
▪ Kesucian lahir batin dalam shalat.
Hukum suaka.
Hukum membunuh seorang Islam.
Shalat khauf‘.
▪ Larangan melontarkan ucapan-ucapan buruk.
▪ Masalah pusaka kalalah.

Kisah:

▪ Kisah-kisah tentang nabi Musa `alaihis salam dan pengikutnya.

Lain-lain:

▪ Asal manusia adalah satu.
▪ Keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita.
Normanorma bergaul dengan isteri.
▪ Hak seseorang sesuai dengan kewajibannya.
▪ Perlakuan ahli kitab terhadap kitabkitab yang diturunkan kepadanya.
▪ Dasar-dasar pemerintahan.
▪ Cara mengadili perkara.
▪ Keharusan siap-siaga terhadap musuh.
▪ Sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi peperangan.
▪ Berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf.
Norma dan adab dalam peperangan.
▪ Cara menghadapi orang-orang munafik.
▪ Derajat orang yang berjihad.

Audio

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 176 + Terjemahan Indonesia

QS. An-Nisaa' (4) : 1-176 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 176

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nisaa' ayat 13 - Gambar 1 Surah An Nisaa' ayat 13 - Gambar 2
Statistik QS. 4:13
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa’.

Surah An-Nisa’ (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, “Wanita”) terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa’
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali ‘Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma’idah
Sending
User Review
4.3 (9 votes)
Tags:

4:13, 4 13, 4-13, Surah An Nisaa' 13, Tafsir surat AnNisaa 13, Quran AnNisa 13, An-Nisa’ 13, Surah An Nisa ayat 13

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Video


Panggil Video Lainnya

Ayat Lainnya

QS. Al Kahfi (Penghuni-penghuni Gua) – surah 18 ayat 66 [QS. 18:66]

Nabi Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu, yakni menjadi pengikut dan muridmu yang senantiasa bersamamu ke mana pun engkau pergi, agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian dari ilmu yang … 18:66, 18 66, 18-66, Surah Al Kahfi 66, Tafsir surat AlKahfi 66, Quran Al-Kahf 66, Surah Al Kahfi ayat 66

QS. Al Anbiyaa (Nabi-Nabi) – surah 21 ayat 63 [QS. 21:63]

63. Ibrahim menjawab dengan jawaban yang mengejutkan untuk memberi pelajaran kepada mereka. Beliau berpura-pura tidak mengaku dirinya yang merusak patung-patung itu. Dia menjawab, “Sebenarnya patung b … 21:63, 21 63, 21-63, Surah Al Anbiyaa 63, Tafsir surat AlAnbiyaa 63, Quran Al-Anbya 63, Al Anbiya 63, Alanbiya 63, Al-Anbiya’ 63, Surah Al Anbiya ayat 63

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Surah yang pertama kali turun secara lengkap adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Surah yang tidak diawali basmalah adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah At-Taubah adalah surah ke-9 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah Madaniyah yang terdiri atas 129 ayat. Dinamakan At-Taubah yang berarti 'Pengampunan' karena kata At-Taubah berulang kali disebut dalam surah ini.

Surah yang terpendek dalam Alquran adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-Kausar adalah surah ke-108 dalam Alquran. Surah ini tergolong surah Makkiyah dan terdiri dari 3 ayat yang menjadi surah terpendek dalam Alquran.

+

Array

Basmalah tertulis atau disebutkan sebanyak dua kali pada surah ...

Benar! Kurang tepat!

Proses turunnya wahyu berlangsung selama ... tahun.

Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #27
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #27 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #27 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #6

Alquran adalah panduan dan pedoman manusia bagi mereka yang beriman. Ini dikonfirmasikan oleh Allah dalam surah … QS. Ali Imran

Pendidikan Agama Islam #26

Nama lain dari surah Al-Insyirah adalah … Yasin Alam Nasyrah Al Maidah Al Adiyat Al Maun Benar! Kurang tepat! Jumlah

Pendidikan Agama Islam #28

Ada berapa syarat dalam menuntut ilmu? Tiga Lima Tujuh Dua Enam Benar! Kurang tepat! Penjelasan:Enam Syarat Meraih Ilmu Menurut Sayyidina

Instagram