Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 12


وَ لَکُمۡ نِصۡفُ مَا تَرَکَ اَزۡوَاجُکُمۡ اِنۡ لَّمۡ یَکُنۡ لَّہُنَّ وَلَدٌ ۚ فَاِنۡ کَانَ لَہُنَّ وَلَدٌ فَلَکُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَکۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِ وَصِیَّۃٍ یُّوۡصِیۡنَ بِہَاۤ اَوۡ دَیۡنٍ ؕ وَ لَہُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَکۡتُمۡ اِنۡ لَّمۡ یَکُنۡ لَّکُمۡ وَلَدٌ ۚ فَاِنۡ کَانَ لَکُمۡ وَلَدٌ فَلَہُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَکۡتُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ وَصِیَّۃٍ تُوۡصُوۡنَ بِہَاۤ اَوۡ دَیۡنٍ ؕ وَ اِنۡ کَانَ رَجُلٌ یُّوۡرَثُ کَلٰلَۃً اَوِ امۡرَاَۃٌ وَّ لَہٗۤ اَخٌ اَوۡ اُخۡتٌ فَلِکُلِّ وَاحِدٍ مِّنۡہُمَا السُّدُسُ ۚ فَاِنۡ کَانُوۡۤا اَکۡثَرَ مِنۡ ذٰلِکَ فَہُمۡ شُرَکَآءُ فِی الثُّلُثِ مِنۡۢ بَعۡدِ وَصِیَّۃٍ یُّوۡصٰی بِہَاۤ اَوۡ دَیۡنٍ ۙ غَیۡرَ مُضَآرٍّ ۚ وَصِیَّۃً مِّنَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌ حَلِیۡمٌ
Walakum nishfu maa taraka azwaajukum in lam yakun lahunna waladun fa-in kaana lahunna waladun falakumurrubu’u mimmaa tarakna min ba’di washii-yatin yuushiina bihaa au dainin walahunnarrubu’u mimmaa taraktum in lam yakun lakum waladun fa-in kaana lakum waladun falahunnats-tsumunu mimmaa taraktum min ba’di washii-yatin tuushuuna bihaa au dainin wa-in kaana rajulun yuuratsu kalaalatan awiimraatun walahu akhun au ukhtun falikulli waahidin minhumaassudusu fa-in kaanuu aktsara min dzalika fahum syurakaa-u fiits-tsulutsi min ba’di washii-yatin yuusha bihaa au dainin ghaira mudhaarrin washii-yatan minallahi wallahu ‘aliimun haliimun;

Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak.
Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya.
Para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak.
Jika kamu mempunyai anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu.
Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.
Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris).
(Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.
―QS. 4:12
Topik ▪ Ayat yang dinaskh
4:12, 4 12, 4-12, An Nisaa’ 12, AnNisaa 12, AnNisa 12, An-Nisa’ 12
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 12. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menjelaskan perincian pembagian hak waris untuk suami atau istri yang ditinggal mati.
Suami yang mati istrinya jika tidak ada anak maka ia mendapat 1/2 dari harta, tetapi bila ada anak, ia mendapat 1/4 dari harta warisan..
ini juga baru diberikan setelah lebih dahulu diselesaikan wasiat atau hutang almarhum.
Adapun istri apabila mati suaminya dan tidak meninggalkan anak maka ia mendapat 1/4 dari harta, tetapi bila ada anak, istri mendapat 1/8.
Lalu diingatkan Allah bahwa hak tersebut baru diberikan setelah menyelesaikan urusan wasiat dan hutangnya.
Kemudian Allah menjelaskan lagi bahwa apabila seseorang meninggal dunia sedang ia tidak meninggalkan bapak maupun anak, tapi hanya meninggalkan saudara laki-laki atau wanita yang seibu Saja maka masing-masing saudara seibu itu apabila seorang diri bagiannya adalah 1/6 dari harta warisan dan apabila lebih dari seorang, mereka mendapat 1/3 dan kemudian dibagi rata di antara mereka.
Dalam hal ini tidak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita.
Allah menerangkan juga bahwa ini dilaksanakan setelah menyelesaikan hal-hal yang berhubungan dengan wasiat dan hutang almarhum.
Allah memperingatkan agar wasiat itu hendaklah tidak memberi mudarat kepada ahli waris.
Umpama seorang berwasiat semata-mata agar harta warisannya berkurang atau berwasiat lebih dari 1/3 hartanya.
Ini semua memberi kerugian bagi para ahli waris.

An Nisaa' (4) ayat 12 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 12 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 12 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Suami mendapatkan separuh dari harta yang ditinggalkan oleh istri, jika si istri tidak mempunyai anak darinya atau dari suami yang lain.
Jika sang istri mempunyai anak, maka suami mendapatkan seperempat dari harta yang ditinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau sesudah utangnya dibayar.
Istri–satu atau lebih–memperoleh seperempat harta yang ditinggalkan suami, jika suami tidak mempunyai anak dari istri yang ditinggalkan atau dari istri yang lain.
Jika si suami mempunyai anak dari istri itu atau dari istri yang lain, maka si istri menerima seperdelapan dari harta yang ditinggalkan sesudah dipenuhi wasiat atau sesudah dibayar utang-utangnya.
Bagian cucu sama dengan bagian anak seperti di atas.
Jika si pewaris itu, baik laki-laki maupun perempuan, tidak meninggalkan ayah dan anak tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki atau perempuan seibu, maka masing-masing mendapat seperenam dari harta yang ditinggalkan.
Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersama-sama menerima sepertiga dari harta yang ditinggalkan, sesudah utang-utangnya dibayar atau setelah dilaksanakan wasiat yang tidak mendatangkan mudarat bagi ahli waris, yaitu yang tidak melampaui sepertiga dari harta yang ditinggalkan setelah melunasi utang.
Laksanakanlah, wahai orang-orang yang beriman, apa-apa yang diwasiatkan Allah kepada kalian.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat adil dan zalim di antara kalian dan Maha Panyabar, tidak menyegerakan hukuman bagi yang melanggar.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan bagi kamu, suami-suami, seperdua dari harta peninggalan istri-istrimu jika mereka tidak mempunyai anak) baik dari kamu maupun dari bekas suaminya dulu.
(Tetapi jika mereka mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta peninggalan, yakni setelah dipenuhinya wasiat yang mereka buat atau dibayarnya utang mereka.) Dalam hal ini cucu dianggap sama dengan anak menurut ijmak.
(Dan bagi mereka) artinya para istri itu baik mereka berbilang atau tidak (seperempat dari harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak, dan jika kamu mempunyai anak) baik dari istrimu itu maupun dari bekas istrimu (maka bagi mereka seperdelapan dari harta peninggalanmu, yakni setelah dipenuhinya wasiat yang kamu buat atau dibayarnya utangmu).
Dalam hal ini cucu dianggap sama dengan anak menurut ijmak.
(Jika seorang laki-laki yang diwarisi itu) menjadi sifat, sedangkan khabarnya:
(kalalah) artinya tidak meninggalkan bapak dan tidak pula anak (atau perempuan) yang mewaris secara kalalah (tetapi ia mempunyai) maksudnya yang diwarisi itu (seorang saudara laki-laki atau seorang saudara perempuan) maksudnya yang seibu, dan jelas-jelas dibaca oleh Ibnu Masud dan lain-lain (maka masing-masing jenis saudara itu memperoleh seperenam) harta peninggalan.
(Tetapi jika mereka itu) maksudnya saudara-saudara yang seibu itu, baik laki-laki maupun perempuan (lebih daripada itu) maksudnya lebih dari seorang (maka mereka berserikat dalam sepertiga harta) dengan bagian yang sama antara laki-laki dan perempuan (sesudah dipenuhinya wasiat yang dibuatnya atau dibayarnya utangnya tanpa memberi mudarat) menjadi hal dari dhamir yang terdapat pada yuushaa, artinya tidak menyebabkan adanya kesusahan bagi para ahli waris, misalnya dengan berwasiat lebih dari sepertiga harta (sebagai amanat) atau pesan, dan merupakan mashdar yang mengukuhkan dari yuushiikum (dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui) faraid atau tata cara pembagian pusaka yang diatur-Nya buat makhluk-Nya (lagi Maha Penyantun) dengan menangguhkan hukuman terhadap orang-orang yang melanggarnya.
Kemudian mengenai pembagian pusaka terhadap ahli-ahli waris tersebut yang mengandung keraguan dengan adanya halangan seperti pembunuhan atau perbedaan agama dan menjadi murtad, maka penjelasannya diserahkan pada sunah.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Bagi kalian wahai kaum laki-laki setengah dari apa yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian setelah mereka wafat bila mereka tidak memiliki anak, laki-laki atau perempuan.
Bila mereka mempunyai anak maka kalian mendapatkan seperempat dari apa yang mereka tinggalkan, kalian mewarisinya setelah wasiat mereka yang dibolehkan sudah dilaksanakan, atau hutang yang mereka pikul sudah dibayarkan kepada pemiliknya.
Sedangkan untuk istri-istri kalian wahai kaum laki-laki seperempat dari apa yang kalian tinggalkan bila kalian tidak mempunyai anak dari mereka, atau dari selain mereka.
Bila kalian mempunyai anak laki-laki atau wanita, maka mereka mendapatkan seperdelapan dari apa yang kalian tinggalkan, seperempat atau seperdelapan tersebut dibagi-bagi di antara mereka.
Dan bila istri hanya satu maka ia merupakan hak warisnya, setelah pelaksanaan wasiat yang dibolehkan yang kalian wasiatkan, atau setelah pelunasan hutang yang menjadi tanggungan kalian.
Bila seorang laki-laki atau wanita wafat sementara dia tidak mempunyai anak dan bapak, tetapi dia mempunyai saudara laki-laki atau saudara perempuan dari pihak ibu, maka masing-masing dari keduanya mendapatkan seperenam.
Bila saudara laki-laki atau perempuan seibu lebih dari itu maka mereka berserikat dalam sepertiga dibagi di antara mereka secara sama tanpa membedakan antara laki-laki dengan perempuan.
Apa yang Allah tetapkan untuk saudara laki-laki atau perempuan seibu yang mereka terima sebagai warisan bagi mereka setelah pelaksanaan wasiat mayit bila mayit memang mewasiatkan sesuatu atau pelunasan hutang-hutangnya , tidak akan ada mudharat atas ahli waris.
Dengan ini Tuhan kalian mewasiatkan kepada kalian, wasiat yang berguna.
Allah Maha Mengetahui apa yang bermanfaat bagi makhluk-Nya, Maha Penyantun kepada mereka sehingga Dia tidak menyegerakan hukuman atas mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman.”Bagi kalian, hai kaum Lelaki, separo harta yang ditinggalkan oleh istri-istri kalian, jika mereka mati tanpa meninggalkan seorang anak pun.
Jika mereka mempunyai seorang anak, maka bagi kalian hanyalah seperempat dari apa yang mereka tinggalkan setelah dipenuhi wasiat dan sesudah dibayar utangnya.”

Dalam pembahasan yang lalu telah disebutkan bahwa pelunasan utang harus didahulukan atas penunaian wasiat, sesudah utang diselesaikan, maka barulah wasiat, dan sesudah wasiat, baru harta dibagikan kepada ahli waris si mayat.
Ketetapan ini telah disepakati oleh para ulama.
Hukum cucu lelaki dari anak lelaki sama dengan hukum anak lelaki sendiri yang menurunkan mereka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…para istri memperoleh seperempti harta yang kalian tinggalkan., hingga akhir ayat.

Baik dalam seperempat atau seperdelapan seorang istri —dua orang istri, tiga orang istri, atau empat orang istri— mereka bersekutu dalam bagian tersebut.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…sesudah dipenuhi wasiat.

Tafsir firman ini telah dikemukakan di atas.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Jika seseorang diwaris secara kalalah.

Al-kalalah berakar dari kata iklil, artinya kalungan yang diletakkan di atas kepala dan meliputi semua sisinya.
Makna yang dimaksud ayat ini ialah sesorang yang mati, kemudian harta peninggalannya diwarisi oleh kaum kerabat dari sisi-sisinya, bukan dari pokok (orang tua), bukan pula dari cabang (anak keturunannya).

Asy-Sya’bi meriwayatkan dari Abu Bakar As-Siddiq, bahwa ia pernah ditanya mengenai kalalah, maka ia menjawab, “Aku akan rnenjawab masalah ini melalui rayu (pendapat)ku sendiri.
Jika jawabanku ini benar.
maka berasal dari Allah: dan jika keliru, berarti dariku dan dari setan.
Sedangkan Allah dan Rasul-Nya bebas darinya.
Al-kalalah ialah orang yang tidak mempunyai orang tua dan tidak mempunyai anak,” (dengan kata lain, yang mewarisinya hanyalah saudara-saudaranya).
Manakala Umar pergi, ia berkata, “Sesungguhnya aku benar-benar malu bila berbeda pendapat dengan Abu Bakar.”

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lain-lainnya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan di dalam kitab tafsirnya, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yazid, dari Sufyan, dari Sulaiman Al-Ahwal, dari Tawus yang mengatakan bahwa dia pernah mendengar ibnu Abbas mengatakan, “Saya adalah orang yang paling akhir menemui sahabat Umar.
Ku dengar di akhir usianya ia mengatakan, “Apakah yang pernah saya katakan, Apakah yang pernah saya katakan.
Ibnu abbas menceritakan.”Al-kalalah ialah orang yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai orang tua, (yang mewarisi hanyalah saudara-saudaranya saja).”

Hal yang sama dikatakan oleh Ali dan Ibnu Mas’ud dan menurut pendapat yang sahih diriwayatkan bukan hanya oleh seorang saja bersumber dari Ibnu Abbas serta Zaid ibnu Sabit.
Pendapat inilah yang dikatakan oleh Asy-Sya’bi, An-Nakha’i, Al-Hasan, Qatadah, Jabir ibnu Zaid, dan Al-Hakam.
Hal yang sama dikatakan oleh ulama Madinah, Kufah dan Basrah.

Pendapat inilah yang dikatakan oleh tujuh ulama fiqih, empat orang imam dan jumhur ulama Salaf dan Khalaf, bahkan seluruhnya.

Telah diriwayatkan bukan hanya oleh seseorang tentang adanya ijma’ (kesepakatan) di kalangan para ulama sehubungan dengan pendapat ini.
Telah diriwayatkan sebuah hadis marfu’ yang mengatakan hal yang sama.
Abu Husain ibnul Labban mengatakan, telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas suatu pendapat yang berbeda dengan pendapat ini.
Yaitu bahwa kalalah ialah orang yang tidak mempunyai anak.
Tetapi riwayat yang sahih yang bersumber dari Ibnu Abbas adalah riwayat yang pertama tadi.
Barangkali si perawi masih belum memahami apa yang dimaksud oleh Ibnu Abbas.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja)

Yang dimaksud dengan saudara dalam ayat ini ialah saudara seibu, seperti menurut qiraah sebagian ulama Salaf.
antara lain ialah Sa’d ibnu Abu Waqqas.
Hal yang sama dikatakan oleh Abu Bakar As-Siddiq menurut apa yang diriwayatkan oleh Qatadah darinya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.
Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu

Saudara seibu berbeda dengan saudara seayah dalam hal mewarisi ditinjau dari berbagai segi seperti berikut:

Pertama, mereka dapat mewaris bersama adanya yang nurunkan mereka, yaitu ibu.

Kedua, jenis laki-laki dan jenis perempuan dari mereka sama bagian warisannya.

Ketiga, mereka tidak dapat mewaris kecuali jika mayat mereka diwaris secara kalalah.
Oleh karena itu.
mereka tidak dapat mewarisi bila ada ayah si mayat atau kakek si mayat, atau cucu laki-laki si mayat.

Keempat bagian mereka tidak lebih dari sepertiga sekalipun jumlah mereka yang terdiri atas laki-laki dan perempuan itu jumlahnya banyak.

Ibnu Abu Hatim mengatakan.
telah menceritakan kepada kami Yunus, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada kami Yunus, dari Az-Zuhri yang menceritakan bahwa Khalifah Umar memutuskan bahwa warisan saudara yang seibu di antara sesama mereka bagian laki-laki sama dengan bagian perempuan.
Az-Zuhri mengatakan tidak sekali-kali Khalifah Umar memutuskan demikian.
melainkan ia telah mengetahuinya dari Rasulullah ﷺ” Ayat berikut inilah yang dikatakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala mengenai masalah tersebut, yaitu firman-Nya:

Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu.

Para ulama berselisih pendapat sehubungan dengan masalah musytarakah (persekutuan mewarisi antara saudara seibu dan saudara seibu seayah).
Masalah musytarakah ini terdiri atas suami, ibu atau nenek dan dua orang sudara seibu serta seorang atau lebih dari seorang dari saudara laki-laki seibu seayah.

Menurut pendapat jumhur ulama, suami mendapat setengah, ibu atau nenek mendapat seperenam, dan saudara seibu mendapat sepertiga, dan bersekutu dalam bagian ini saudara-saudara seibu seayah, mengingat adanya persekutuan di antara sesama mereka.
yaitu persaudaraan seibu.

Masalah ini pernah terjadi di masa pemerintahan Amirul Muminin Umar ra.
Karenanya ia memberi suami setengah, ibu seperenam, dan memberikan yang sepertiganya kepada anak-anak ibu (saudara-saudara seibu).
Maka saudara-saudara (lelaki) yang seibu dan seayah dari si mayat berkata kepada Umar, “Wahai Amirul Mukminin, seandainya ayah kami adalah keledai, bukankan kami berasal dari satu ibu juga?”
Akhirnya Khalifah Umar mempersekutukan mereka dalam bagian sepertiga itu, antara saudara seibu dan saudara seibu seayah.

Persekutuan dalam sepertiga ini pernah pula dikatakan oleh Usman menurut riwayat yang sahih.
Hal yang sama dikatakan menurut salah satu di antara kedua riwayat dari Ibnu Mas’ud dan Zaid ibnu Sabit serta Ibnu Abbas, semoga Allah melimpahkan rida-Nya kepada mereka.

Hal yang sama dikatakan oleh Sa’id ibnul Musayyab, Syuraih Al-Qadi, Masniq, Tawus, Muhammad ibnu Sirin, Ibrahim An-Nakha’i.
Umar ibnu Abdul Aziz, As-Sauri, dan Syarik.
Pendapat inilah yang dipegang oleh mazhab Imam Malik.
Imam Syafii, dan Ishaq ibnu Rahawaih.

Disebutkan bahwa Khalifah Ali ibnu Abu Talib pernah tidak mempersekutukan mereka (dalam perkara itu).
bahkan dia menjadikan bagian yang sepertiga itu hanya untuk saudara-saudara seibu si mayat, sedangkan saudara-Saudara seibu dan seayah tidak mendapat apa-apa, karena mereka terdiri atas laki-laki (asyabah).

Pendapat inilah yang dikatakan oleh Ubay ibnu Ka’b dan Abu Musa Al-Asy’ari, yang terkenal dari Ibnu Abbas.
Pendapat inilah yang dijadikan pegangan oleh Asy-Sya’bi.
Ibnu Abu Laila.
Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad ibnul Hasan.
Al-Hasan ibnu Ziyad.
Zufar ibnul Huzail.
Imam Ahmad.
Yahya ibnu Aslam, Nuaim bin Hammad.
Abu Saur.
dan Daud Al-Zahiri.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya (si mayat) atau sesudah dibayar utangnya dengan tidak memberi mudarat (kerugian kepada ahli waris).

Hendaknya wasiat yang dibuat oleh si mayat tidak merupakan mudarat kepada ahli waris, tidak aniaya, dan tidak menyimpang.
Hal yang menyimpang ialah misalnya si mayat dengan wasiatnya itu mengakibatkan terhalangnya sebagian ahli waris dari bagiannya atau mengurangi bagiannya, atau memberinya lebih dari apa yang telah ditetapkan baginya oleh Allah subhanahu wa ta’ala Barang siapa yang berbuat demikian, berarti sama saja dengan orang yang menentang Allah dalam Hukum dan syariat-Nya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abun Nadr Ad-Dimasyqi telah menceritakan kepada kami Umar ibnul Mugirah, dan Dari Ibn Abu Hindun, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, dari Nabi saw bersabda: Menimpakan mudarat (terhadap ahli waris) dalam wasiat termasuk dosa besar.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari jalur Umar bin Mughirah dia adalah Abu Hafs Basri.

Sehubungan dengan Abu Hafs ini, Ibnu Asakir mengatakan bahwa dia dikenal sebagai orang yang memberikan kecukupan kepada orang-orang miskin.
Telah meriwayatkan darinya banyak orang dari kalangan para imam.

Abu Hatim Ar-Razi mengatakan dia adalah seorang syekh (guru).

Ali ibnul Madini mengatakan: Dia orang yang tidak dikenal.
dan aku tidak mengenalnya.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa menurut pendapat yang sahih, hadis ini mauquf.

Karena itulah para Imam berselisih pendapat tentang iqrar (pengukuhan) buat ahli waris apakah hal ini dianggap tindakan yang benar ataukah tidak?
Ada dua pendapat mengenainya.
Salah satunya mengatakan, tidak sah mengikrarkan bagian waris kepada ahli waris.
Rasululah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya Allah telah memberikan kepada setiap orarg (ahli waris) hak yang diperoleh, maka tidak ada wasiat bagi ahli waris.

Pendapat ini merupakan mazhab Malik, Imam Ahmad bin Hambal, dan Imam Abu Hanifah serta qaul qadim Imam Syafi’i, sedangkan dalam qaul jadid Imam Syafii mengatakan iqrar adalah sah (dibenarkan).

Pendapat yang mengatakan sah ini merupakan rnazhab Tawus, Ata, Al-Hasan, dan Umar ibnu Abdul Aziz, pendapat ini pulalah yang dipilih oleh Abu Abdullah Al-Bukhari di dalam kitab sahih-nya.
dengan alasan bahwa Rafi’ ibnu Khadij pernah berwasiat bahwa Al-Fazariah yang telah ditutup pintunya tidak boleh dibuka.

Ibnu Jarir mengatakan sebagian ulama mengatakan seseorang tidak boleh melakukan iqrar karena hal ini memberikan kesan buruk prasangka terhadap para ahli waris.
Karena sesungguhnya Nabi ﷺ pernah bersabda:

Hati-hatilah kalian terhadap prasangka karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling dusta.

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.
(An Nisaa:58)

Dalam ayat ini Allah tidak mengkhususkan kepada seorang ahli waris pun.
juga tidak kepada yang lainnya.

Sebagai kesimpulannya dapat dikatakan bahwa manakala iqrar dinyatakan sah sesuai dengan duduk perkara yang sebenarnya, maka berlakulah perbedaan pendapat seperti yang disebut di atas.
Tetapi manakala iqrar yang dimaksud adalah sebagai tipu muslihat dan sarana untuk menambahi bagian sebagian ahli waris atau mengurangi bagian sebagian dari mereka, maka hal ini haram hukumnya menurut kesepakatan ulama dan nas ayat yang mulia yang mengatakan:

…dengan tidak memberi mudarat (kepada ahli waris).
(Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa' (4) Ayat 12

KALAALAH
كَلَٰلَة

Lafaz ini dalam bentuk mashdar yang bermakna al kalaal yaitu kehilangan kekuatan karena letih dan lemah. Lalu ia dipinjamkan untuk sanak saudara yang bukan dari pihak anak atau kedua ibu bapak. Dari pihak perhubungan dengan kedua-duanya, ia seperti alat yang lemah. Oleh karena itu, apabila ia dijadikan sifat bagi pewaris atau yang mewarisi, ia bermakna dzi kalaalah yaitu yang mewarisi atau diwarisi.

Disebut dua kali dalam surah An Nisaa (4), ayat 12 dan 176.

Dalam Tafsir Al Misbah, lafaz kalaalah adalah lafaz yang paling banyak diperselisihkan oleh ahli tafsir sehingga diriwayatkan dari Umar bin Khattab berkata,
“Tiga hal yang sekiranya dijelaskan keterangannya oleh Rasulullah, menjadi hal-hal yang lebih kusenangi dari kenikmatan duniawi, kalaalah, riba dan khalifah. Diantara pendapat pakar mengenai makna kalaalah adalah:

– Ibn Al Arabi berpendapat, kalaalah adalah anak bapak saudara yang jauh.

– Abu Bakr, Umar bin Khattab, Ibn Abbas, Qatadah, Az Zuhri, Abu Ishaq dan lainnya berpendapat, kalaalah adalah yang mati yang tidak meninggalkan dan memiliki anak dan bapak.

– Syu’bah berpendapat, kalaalah adalah yang tidak memiliki bapak.

– Laporan dari Tawus dari Ibn Abbas, kalaalah adalah yang mati tanpa meninggalkan anak, di mana seperenam diwarisi oleh saudara-saudara dari ibu bersama kedua ibu bapak.

– Kesemua pendapat di atas mengisyaratkan, kalaalah adalah al mauruts yaitu yang mati. Ia dinamakan demikian apabila ahli warisnya mewarisi karena ketiadaan anak dan bapak.

– Ada juga yang berpendapat, kalaalah adalah ahli waris bagi si mati apabila mereka saudara-saudara lelaki dan perempuan dan lainnya apabila tidak ada di tepi mereka anak dan bapak. Sebagaimana pendapat Ibn Jarir dan Ibn Zaid.

Asy Syaukani berkata,
siapa yang membaca ayat dengan berbaris bawah dan syiddah pada huruf raa’ atau yuuwarritsu yaitu bacaan ulama Kuffah atau dengan berbaris bawah saja pada raa’ atau yuuritsu yaitu bacaan Al Hasan dan Ayyub, ia bermakna ahli waris si mati. Qira’at jumhur yaitu dengan berbaris atas pada huruf raa atau yuuratsu, ia mempunyai dua makna. Bisa jadi ia bermakna ahli waris, bisa jadi ia bermakna al mauruts yaitu yang mati

Diriwayatkan dari Ali, Ibn Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Ibn Abbas dan Asy Sya’bi, Al kalaalah bermakna selain dari anak dan bapa dari ahli waris.

At Tabari rnenyatakan, al kalaalah adalah mereka yang mewarisi si mati selain dari anak dan bapanya berdasarkan kebenaran hadis Jabir, “Aku berkata,
Wahai Rasulullah, sesungguhnya kalaalah mewarisi hartaku, patutkah aku mewasiatkan kesemua hartaku? Beliau menjawab, “Tidak'”

Dalam satu riwayat lagi, Sa’ad mengalami sakit tenat di Makkah. Dia mengatakan Rasulullah menziarahinya, lalu dia berkata,
“Wahai Rasulullah, saya memiliki harta yang banyak, namun saya tidak memiliki ahli waris melainkan kalaalah, adakah aku mewasiatkan kesemua hartaku?” Beliau menjawab, “Tidak”

Kesimpulannya, terdapat dua makna lafaz kalaalah yaitu:

(1) Sekiranya merujuk kepada yang mati dan meninggalkan warisan, kebanyakan pakar berpendapat kalaalah adalah yang mati tidak meninggalkan ayah dan dan tidak meninggalkan anak.

(2) Sekiranya merujuk kepada ahli waris, kalaalah bermakna ahli waris selain kedua ibu bapak dan anak.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:515-516

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.

QS 4 An-Nisa (12-14) - Indonesian - Clarisa Wirija
QS 4 An-Nisa (12-14) - Arabic - Clarisa Wirija


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 12 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 12



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.4
Rating Pembaca: 4.2 (8 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku