Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 115


وَ مَنۡ یُّشَاقِقِ الرَّسُوۡلَ مِنۡۢ بَعۡدِ مَا تَبَیَّنَ لَہُ الۡہُدٰی وَ یَتَّبِعۡ غَیۡرَ سَبِیۡلِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ نُوَلِّہٖ مَا تَوَلّٰی وَ نُصۡلِہٖ جَہَنَّمَ ؕ وَ سَآءَتۡ مَصِیۡرًا
Waman yusyaaqiqirrasuula min ba’di maa tabai-yana lahul huda wayattabi’ ghaira sabiilil mu’miniina nuwallihi maa tawalla wanushlihi jahannama wasaa-at mashiiran;

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.
―QS. 4:115
Topik ▪ Neraka ▪ Nama-nama neraka ▪ Sikap manusia terhadap kitab samawi
4:115, 4 115, 4-115, An Nisaa’ 115, AnNisaa 115, AnNisa 115, An-Nisa’ 115
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 115. Oleh Kementrian Agama RI

Seseorang yang menentang Rasulullah setelah nyata baginya kebenaran risalah yang dibawanya, serta mengikuti jalan orang yang menyimpang dari jalan kebenaran, maka Allah membiarkan mereka menempuh jalan sesat yang dipilihnya.
Kemudian Dia akan memasukkan mereka ke dalam neraka, tempat kembali yang seburuk-buruknya.

Ayat ini erat hubungannya dengan tindakan Tu’mah dan pengikut-pengikutnya, dan perbuatan orang-orang yang bertindak seperti yang dilakukan Tu’mah itu.
Dari ayat ini dipahami bahwa Allah telah menganugerahkan kepada manusia kemauan dan kebebasan memilih.

Pada ayat Al-Qur’an yang lain diterangkan pula bahwa Allah telah menganugerahkan akal, pikiran dan perasaan serta melengkapinya dengan petunjuk-petunjuk yang dibawa para rasul.
Jika manusia menggunakan dengan baik semua anugerah Allah itu, pasti ia dapat mengikuti jalan yang benar.
Tetapi kebanyakan manusia mementingkan dirinya sendiri, mengikuti hawa nafsunya sehingga ia tidak menggunakan akal, pikiran, perasaan, dan petunjuk-petunjuk Allah dalam menetapkan dan memilih perbuatan yang patut dikerjakannya.
Karena itu ada manusia yang menantang dan memusuhi para rasul, setelah nyata bagi mereka kebenaran dan ada pula manusia yang suka mengerjakan pekerjaan jahat, sekalipun hatinya mengakui kesalahan perbuatannya itu.
Allah menilai perbuatan manusia, kemudian Dia memberi balasan yang setimpal, amal baik dibalas dengan pahala yang berlipat ganda, sedang perbuatan buruk diberi balasan yang setimpal dengan perbuatan itu.

An Nisaa' (4) ayat 115 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 115 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 115 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Barangsiapa menentang rasul sesudah melihat jelas jalan kebenaran dan petunjuk, mengikuti selain jalan yang ditempuh orang-orang Muslim dan masuk ke dalam perwalian musuh orang-orang Muslim, maka ia termasuk golongan mereka karena lebih memilih dan menjadikan mereka sebagai penolong.
Allah akan memasukkannya ke dalam api nereka di hari kiamat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan siapa yang menyalahi) atau menentang (Rasul) mengenai kebenaran yang dibawanya (setelah nyata baginya petunjuk) artinya setelah jelas baginya kebenaran dengan adanya mukjizat-mukjizat (dan ia mengikuti) jalan (yang bukan jalan orang-orang mukmin) artinya jalan keagamaan yang biasa mereka lalui dengan cara menyimpang dan mengingkarinya (maka Kami jadikan ia menguasai apa yang telah dikuasainya berupa kesesatan) artinya Kami jadikan ia membina hubungan di antaranya dengan kesesatan itu di atas dunia, lalu (Kami masukkan ia) di akhirat (ke dalam neraka Jahanam) hingga ia terbakar hangus di dalamnya (dan itulah seburuk-buruk tempat kembali).

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Barangsiapa yang menyelisihi Rasulullah setelah dia mengetahui kebenaran, mengambil jalan bukan jalan orang-orang beriman dan meninggalkan kebenaran yang mereka pegang, maka Kami akan membiarkannya mengambil arah yang diinginkannya, sehingga Kami tidak membimbingnya kepada kebaikan, dan Kami akan memasukkannya ke dalam api neraka yang panasnya akan mereka rasakan, dan itu adalah tempat kembali yang sangat buruk.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya.

Barang siapa yang menempuh jalan selain jalan syariat yang didatangkan oleh Rasul ﷺ, maka ia berada di suatu belahan, sedangkan syariat Rasul ﷺ berada di belahan yang lain.
Hal tersebut dilakukannya dengan sengaja sesudah tampak jelas baginya jalan kebenaran.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

…dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin.

Makna firman ini saling berkaitan dengan apa yang digambarkan oleh firman pertama tadi.
Tetapi adakalanya pelanggaran tersebut terhadap nas syariat, dan adakalanya bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh umat Muhammad dalam hal-hal yang telah dimaklumi kesepakatan mereka secara’ nyata.
Karena sesungguhnya dalam kesepakatan mereka telah dipelihara dari kekeliruan, sebagai karunia Allah demi menghormati mereka dan memuliakan Nabi mereka.

Hal ini disebut oleh hadis-hadis sahih yang cukup banyak jumlahnya, sebagian darinya yang telah diseleksi telah kami ketengahkan di dalam kitab Ahadisul Usul.
Di antara ulama ada yang berpendapat bahwa makna hadis-hadis tersebut berpredikat mutawatir.

Ayat ini dijadikan dalil oleh Imam Syafii yang menunjukkan bahwa ijma’ adalah hujah (sumber hukum) yang haram ditentang, hal ini dijadikan sebagai rujukannya setelah pemikiran yang cukup lama dan penyelidikan yang teliti.
Dalil ini merupakan suatu kesimpulan yang terbaik lagi kuat.
Sebelum itu kesimpulan ini sulit ditemukan oleh sebagian kalangan ulama, karenanya jangkauan pemikiran mereka tidak sampai kepada kesimpulan ini.

Untuk itulah Allah subhanahu wa ta’ala.
memberikan ancaman terhadap orang yang berbuat demikian melalui firman selanjutnya, yaitu:

Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.

Dengan kata lain apabila ia menempuh jalan yang menyimpang itu, maka Kami memberikan balasan yang setimpal terhadapnya, misalnya Kami jadikan baik pada permulaannya, dan Kami menghiaskannya untuk dia sebagai istidraj (daya pikat ke arah kebinasaan).
Ayat ini semakna dengan ayat lain yang disebutkan melalui firman-Nya:

Maka serahkanlah kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (Al-Qur’an).
Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui.
(Al Qalam:44)

Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.
(As-Saff: 5)

Sama juga dengan firman-Nya:

dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.
(Al An’am:110)

Allah menjadikan tempat kembalinya adalah neraka kelak di hari kemudian.
Karena orang yang keluar dari jalan hidayah, tiada jalan baginya kecuali jalan yang menuju ke neraka di hari kiamat kelak.
Seperti yang diungkapkan oleh ayat lain, yaitu firman-Nya:

(Kepada malaikat diperintahkan), “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka.” (As-Saffat: 22), hingga akhir ayat.

Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman:

Dan orang-orang yang berdosa melihat neraka, maka mereka meyakini bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling darinya.
(Al Kahfi:53)

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 115

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim, dan lain-lain, yang bersumber dari Qatadah bin an-Nu’man.
Menurut al-Hakim, hadits ini shahih berdasarkan syarat Imam Muslim.
Bahwa diantara keluarga serumah Bani Ubairiq, yaitu Bisyr dan Mubasysyir, terdapat seorang munafik yang bernama Busyair, yang hidupnya melarat sejak zaman jahiliyah.
Ia pernah menggubah syair untuk mencaci maki para shahabat Rasulullah ﷺ dan menuduh bahwa syair itu gubahan orang lain.

Pada waktu itu makanan orang melarat ialah kurma dan sya’ir (semacam jewawut; Inggris: barley) yang didatangkan dari Madinah (sedang makanan orang-orang kaya adalah terigu).
Suatu ketika Rifa’ah bin Zaid (paman Qatadah) membeli terigu beberapa karung yang kemudian disimpan di dalam gudang tempat penyimpanan alat perang, baju besi, dan pedang.
Pada tengah malam gudang itu dibongkara orang yang semua isinya dicuri.
Pagi harinya Rifa’ah datang kepada Qatadah dan berkata: “Wahai anak saudaraku, tadi malam gudang kita dibongkar orang, makanan dan senjata dicuri.” Kemudian mereka menyelidikinya dan bertanya-tanya di sekitar kampung itu.
Ada orang yang mengatakan bahwa semalam bani Ubairiq menyalakan api dan memasak terigu (makanan orang kaya).
Berkatalah Bani Ubairiq: “Kami telah bertanya-tanya di kampung ini.
Demi Allah, kami yakin bahwa pencurinya adalah Labid bin Sahl.” Labid bin Sahl terkenal sebagai Muslim yang jujur.
Ketika Labid mendengar ucapan Bani Ubairiq, ia naik darah dan mencabut pedangnya sambil berkata dengan marah: “Engkau menuduh aku mencuri?
Demi Allah pedang ini akan ikut campur berbicara, sehingga terang dan jelas siapa pencuri itu.” Bani Ubairiq berkata: “Jangan berkata kami yang menuduhmu, sebenarnya buka kamu pencurinya.” Maka berangkatlah Qatadah dan Rifa’ah meneliti dan bertanya-tanya di sekitar kampung itu sehingga yakin bahwa pencurinya adalah Bani Ubairiq.
Maka berkatalah Rifa’ah: “Wahai anak saudaraku, bagaimana sekiranya engkau menghadap Rasulullah ﷺ untuk menerangkan hal ini?” Maka berangkatlah Qatadah menghadap Rasulullah dan menerangkan adanya satu keluarga yang tidak baik di kampung itu, yang mencuri makanan dan senjata kepunyaan pamannya.
Pamannya menghendaki agar senjatanya saja yang dikembalikan, dan membiarkan makanan itu untuk mereka.
Maka bersabdalah Rasulullah ﷺ: “Saya akan meneliti hal ini.”

Ketika Bani Ubairiq mendengar hal itu, mereka mendatangi salah seorang keluarganya yang bernama Asir bin ‘Urwah untuk menceritakan peristiwa tersebut.
Maka berkumpullah orang-orang sekampungnya seraya menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Qatadah bin an-Nu’man dan pamannya telah menuduh seorang yang baik, jujur, dan lurus di antara kami, yaitu menuduh mencuri tanpa bukti apapun.”

Ketika Qatadah berhadapan dengan Rasulullah, iapun ditegur dengan sabdanya: “Kamu telah menuduh mencuri kepada seorang Muslim yang jujur dan lurus tanpa bukti apa pun?” Kemudian Qatadah pulang untuk menceritakan hal itu pada pamannya.
Berkatalah Rifa’ah: “Allahul musta’aan (Allah tempat kita berlindung).” Tidak lama kemudian turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 105) sebagai teguran kepada Nabi ﷺ berkenaan dengan pembelaannya terhadap Bani Ubairiq; dan surah an-Nisaa’ ayat 114 berkenaan dengan ucapan Nabi ﷺ terhadap Qatadah.

Setelah itu Nabi ﷺ membawa sendiri senjata yang hilang itu dan menyerahkannya kepada Rifa’ah, sedang Busyair menggabungkan diri dengan kaum musyrikin dan menumpang pada Sullafah binti Sa’d.
Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (an-Nisaa’: 115-116) sebagai teguran kepada orang-orang yang menggabungkan diri dengan musuh setelah jelas petunjuk Allah kepadanya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d di dalam kitab ath-Thabaqaat, dengan sanad yang bersumber dari Mahmud bin Labid.
Bahwa Busyair bin al-Harits membongkar gudang Rifa’ah bin Zaid (paman Qatadah bin an-Nu’man) dan mencuri makanan serta dua perangkat baju besi.
Qatadah mengadu kepada Nabi ﷺ tentang peristiwa itu, yang kemudian ditanyakan kepada Busyair oleh Nabi ﷺ.
Akan tetapi ia mungkir, dan malah menuduh Labid bin Sahl, seorang bangsawan lagi hartawan.
Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 105) yang menerangkan bahwa Busyair itu seorang pendusta, sedang Labid seorang yang bersih.

Setelah turun ayat itu (an-Nisaa’: 105) yang menunjukkan kepalsuan Busyair, iapun murtad dan lari ke Mekah menggabungkan diri dengan kaum musyrikin serta menumpang di rumah Sullafah binti Sa’d.
Ia mencaci maki Nabi dan kaum Muslimin.
Maka turunlah ayat selanjutnya (an-Nisaa’: 115) berkenaan dengan peristiwa Busyair ini.
Kemudian Hassan bin Tsabit menggubah syair yang menyindir Busyair, sehingga ia kembali pada bulan Rabi’ tahun keempat Hijrah.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 115 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 115



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.5
Rating Pembaca: 3 (1 vote)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku