QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 110 [QS. 4:110]

وَ مَنۡ یَّعۡمَلۡ سُوۡٓءًا اَوۡ یَظۡلِمۡ نَفۡسَہٗ ثُمَّ یَسۡتَغۡفِرِ اللّٰہَ یَجِدِ اللّٰہَ غَفُوۡرًا رَّحِیۡمًا
Waman ya’mal suu-an au yazhlim nafsahu tsumma yastaghfirillaha yajidillaha ghafuuran rahiiman;

Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
―QS. 4:110
Topik ▪ Taubat ▪ Cara bertaubat ▪ Menuruti hawa nafsu
4:110, 4 110, 4-110, An Nisaa’ 110, AnNisaa 110, AnNisa 110, An-Nisa’ 110

Tafsir surah An Nisaa' (4) ayat 110

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 110. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini memberikan dorongan kepada mereka yang berbuat salah untuk menyadari dirinya dan kembali ke jalan yang benar, bertobat kepada Allah.
Perbuatan mereka menzalimi diri sendiri dengan jalan berbuat maksiat, seperti sumpah palsu akan diampuni Allah jika mereka benar-benar minta ampun kepada-Nya.
Dalam ayat ini diterangkan bagaimana jalan keluar dari dosa sesudah terperosok ke dalamnya dan sesudah diturunkan peringatan kepada musuh-musuh kebenaran, yaitu dengan tobat dan minta ampun.
Orang yang minta ampun akan mendapati Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.
Dia akan merasakan hasil pengampunan Allah pada dirinya yaitu rasa benci kepada kemaksiatan dan penyebab-penyebabnya.
Dia juga akan merasakan kasih sayang Allah kepadanya dengan tumbuhnya hasrat dalam hatinya hendak berbuat kebajikan.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Pintu tobat itu selalu terbuka lebar.
Barangsiapa melakukan kejahatan atau menganiaya diri sendiri dengan melakukan maksiat, kemudian memohon ampun kepada Allah, Allah pasti akan menerima pertobatan itu dan akan mengampuni dosanya.
Sebab, pengampunan dan kasih sayang merupakan sifat- sifat Allah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan siapa yang mengerjakan kejahatan) atau dosa yang mengenai orang lain seperti Thu’mah yang menuduh si Yahudi (atau menganiaya dirinya) artinya berbuat dosa yang hanya menimpa dan terbatas pada dirinya sendiri (kemudian ia memohon ampun kepada Allah) atas perbuatannya itu atau ia bertobat (maka akan didapatinya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang) kepadanya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Barangsiapa yang melakukan perbuatan buruk lagi jahat atau menzhalimi dirinya sendiri dengan melakukan perbuatan yang menyelisihi syariat dan hukum Allah, kemudian dia kembali kepada Allah dengan penyesalan atas apa yang dilakukannya, berharap ampunan dari-Nya dan ditutupinya dosanya, niscaya dia mendapatkan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta’ala.
memberitakan tentang kemurahan dan kedermawanan-Nya, bahwa semua orang yang bertobat kepada-Nya, pasti Dia menerima tobatnya atas semua dosa yang telah ia lakukan.
Untuk itu Allah subhanahu wa ta’ala.
berfirman:

Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Ali ibnu Abu Talhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas.
Ibnu Abbas telah mengatakan sehubungan dengan ayat ini, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala.
memberitahukan kepada hamba-hamba-Nya tentang ampunan-Nya, sifat penyantun-Nya, kemurahan-Nya, keluasan rahmat-Nya, dan pemaafan-Nya.
Barang siapa yang mengerjakan suatu dosa, baik kecil ataupun besar.

…kemudian ia mohon ampun kepada Allah,’ niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sekalipun dosa-dosanya lebih besar daripada langit, bumi dan semua gunung.
Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Musanna, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abu Addi, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Asim, dari Abu Wail yang mengatakan bahwa Abdullah pernah menceritakan, ”Dahulu kaum Bani Israil, apabila seseorang dari mereka melakukan suatu dosa, tercatat kifarat dosanya itu di atas pintu rumahnya.
Apabila ada air seni yang mengenai sesuatu dari pakaiannya, maka ia harus menggunting bagian yang terkena itu dengan gunung dan membuangnya.” Maka ada seorang lelaki berkata, “Sesungguhnya Allah telah memberikan kebaikan kepada kaum Bani Israil.” Lalu Abdullah ibnu Mas’ud r.a.
berkata, “Apa yang diberikan oleh Allah kepada kalian lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepada mereka.
Allah telah menjadikan air suci lagi menyucikan bagi kalian.” Selanjutnya Abdullah ibnu Mas’ud membacakan firman-Nya: Dan (juga) orang-orang yang apabila mereka mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka.
(Q.S. Ali ‘Imran [3]: 135), Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 110)

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepadaku Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Hasyim, dari Ibnu Aun, dari Habib ibnu Abu Sabit yang menceritakan bahwa ada seorang wanita datang kepada Abdullah ibnu Mugaffal, lalu wanita itu menanyakan kepadanya tentang seorang wanita yang berbuat zina hingga mengandung.
Setelah melahirkan bayinya, maka bayi itu ia bunuh.
Abdullah ibnu Mugaffal menjawab, bahwa wanita tersebut masuk neraka.
Maka wanita yang bertanya itu pergi seraya menangis.
Lalu Abdullah ibnu Mugaffal memanggilnya dan berkata kepadanya, “Menurutku, perkaramu itu hanyalah salah satu di antara dua pilihan,” lalu Abdullah membacakan firman-Nya: Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 110) Mendengar hal tersebut wanita itu mengusap air matanya, kemudian pergi.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur-Razzaq, telah menceritakan kepada kami Abdur-Rahman ibnu Mahdi, telah menceritakan kepada Kami Syu’bah, dari Usman ibnul Mugirah yang menceritakan bahwa ia pernah mendengar Ali ibnu Rabi’ah dari Bani Asad menceritakan hadis kepada Asma atau Ibnu Asma dari Bani Fazzarah, bahwa Ali r.a.
pernah mengatakan, “Apabila aku mendengar dari Rasulullah ﷺ sesuatu hal, maka Allah memberikan manfaat kepadaku mengenainya menurut apa yang dikehendaki-Nya.
Telah menceritakan kepadaku Abu Bakar As-Siddiq, dan memang Abu Bakar itu orangnya siddiq, ia mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: ‘Tidak sekali-kali seorang muslim melakukan suatu dosa, lalu ia melakukan wudu dan salat dua rakaat, kemudian memohon ampun kepada Allah untuk dosa tersebut, melainkan Allah memberikan ampun baginya’.” Kemudian Rasulullah ﷺ membacakan kedua ayat berikut, yaitu firman-Nya: Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya.
(Q.S. An-Nisa’ [4]: 110), hingga akhir ayat.
Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri.
(Q.S. Ali ‘Imran [3]: 135), hingga akhir ayat.

Kami membicarakan tentang hadis ini dan menisbatkannya kepada orang-orang dari kalangan ashabus sunan yang meriwayatkannya.
Kami menyebutkan pula perihal sesuatu kelemahan pada sanadnya dalam Musnad Abu Bakar As-Siddiq r.a.
Sebagian darinya telah diterangkan di dalam surat Ali Imran.

Ibnu Murdawaih meriwayatkan di dalam kitab tafsirnya melalui jalur lain dari Ali r.a.
Untuk itu ia mengatakan:

telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ziyad, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Ishaq Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Mihran Ad-Dabbag, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Yazid, dari Abdu Khair, dari Ali yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Abu Bakar As-Siddiq menceritakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: tidak sekali-kali seorang hamba melakukan perbuatan dosa, lalu ia bangkit melakukan wudu dengan wudu yang baik, kemudian berdiri melakukan salat, lalu memohon ampun dari dosanya, melainkan pasti Allah memberikan ampunan kepadanya.
Karena Allah subhanahu wa ta’ala.
telah berfirman, “Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan atau menganiaya dirinya” (Q.S. An-Nisa’ [4]: 110), hingga akhir ayat.


Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nisaa' (4) ayat 110 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nisaa' (4) ayat 110 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nisaa' (4) ayat 110 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nisaa' - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 176 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 4:110
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Nisaa'.

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah 4
Nama Surah An Nisaa'
Arab النّساء
Arti Wanita
Nama lain Al-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat Turun Madinah
Urutan Wahyu 92
Juz Juz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku' 0
Jumlah ayat 176
Jumlah kata 3764
Jumlah huruf 16327
Surah sebelumnya Surah Ali 'Imran
Surah selanjutnya Surah Al-Ma'idah
4.6
Ratingmu: 4.4 (8 orang)
Sending







Pembahasan ▪ qs 4:110

Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim