Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 11


یُوۡصِیۡکُمُ اللّٰہُ فِیۡۤ اَوۡلَادِکُمۡ ٭ لِلذَّکَرِ مِثۡلُ حَظِّ الۡاُنۡثَیَیۡنِ ۚ فَاِنۡ کُنَّ نِسَآءً فَوۡقَ اثۡنَتَیۡنِ فَلَہُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَکَ ۚ وَ اِنۡ کَانَتۡ وَاحِدَۃً فَلَہَا النِّصۡفُ ؕ وَ لِاَبَوَیۡہِ لِکُلِّ وَاحِدٍ مِّنۡہُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَکَ اِنۡ کَانَ لَہٗ وَلَدٌ ۚ فَاِنۡ لَّمۡ یَکُنۡ لَّہٗ وَلَدٌ وَّ وَرِثَہٗۤ اَبَوٰہُ فَلِاُمِّہِ الثُّلُثُ ۚ فَاِنۡ کَانَ لَہٗۤ اِخۡوَۃٌ فَلِاُمِّہِ السُّدُسُ مِنۡۢ بَعۡدِ وَصِیَّۃٍ یُّوۡصِیۡ بِہَاۤ اَوۡ دَیۡنٍ ؕ اٰبَآؤُکُمۡ وَ اَبۡنَآؤُکُمۡ لَا تَدۡرُوۡنَ اَیُّہُمۡ اَقۡرَبُ لَکُمۡ نَفۡعًا ؕ فَرِیۡضَۃً مِّنَ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ کَانَ عَلِیۡمًا حَکِیۡمًا
Yuushiikumullahu fii aulaadikum li-dzdzakari mitslu hazh-zhil antsayaini fa-in kunna nisaa-an fauqaatsnataini falahunna tsulutsaa maa taraka wa-in kaanat waahidatan falahaannishfu wal-abawaihi likulli waahidin minhumaassudusu mimmaa taraka in kaana lahu waladun fa-in lam yakun lahu waladun wawaritsahu abawaahu fal-ammihits-tsulutsu fa-in kaana lahu ikhwatun fal-ammihissudusu min ba’di washii-yatin yuushii bihaa au dainin aabaa’ukum waabnaa’ukum laa tadruuna ai-yuhum aqrabu lakum naf’an fariidhatan minallahi innallaha kaana ‘aliiman hakiiman;

Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.
Yaitu:
bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan, jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta.
Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak, jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga, jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam.
(Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.
(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu.
Ini adalah ketetapan dari Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
―QS. 4:11
Topik ▪ Manusia tamak dan bakhil
4:11, 4 11, 4-11, An Nisaa’ 11, AnNisaa 11, AnNisa 11, An-Nisa’ 11
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa’ (4) : 11. Oleh Kementrian Agama RI

Adapun sebab turun ayat ini menurut hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud dun Tirmizi dari sahabat Jabir yang artinya Telah datang kepada Rasulullah ﷺ istri Saad bin Rabi’ dan berkata “Wahai Rasulullah ini adalah dua anak perempuan Sa’ad bin Rabi’.
Ia telah gugur dalam perang Uhud, seluruh hartanya telah diambil pamannya dan tak ada yang ditinggalkan untuk mereka sedangkan mereka tak dapat nikah bila tidak memiliki harta”.
Rasulullah ﷺ berkata, “Allah akan memberikan hukumnya”,
maka turunlah ayat warisan.
Kemudian Rasulullah ﷺ mendatangi paman kedua anak tersebut dun berkata: “Berikan dua pertiga dari harta Sa’ad kepada anaknya dan kepada ibunya berikan seperdelapannya sedang sisanya ambillah untuk kamu”.
Dalam ayat ini Allah menyampaikan wasiat yang mewajibkan kepada kaum muslimin yang telah mukalaf untuk menyelesaikan harta warisan bagi anak yang ditinggalkan oleh orang tuanya baik mereka laki-laki atau perempuan.
Apabila ahli waris itu sendiri terdiri dari anak-anak laki-laki dan perempuan maka berikan kepada yang laki-laki dua bagian dan kepada yang perempuan satu bagian.
Adapun hikmah anak laki-laki diberikan dua bagian yaitu karena laki-laki memerlukan harta untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan nafkah istrinya serta anaknya, sedang perempuan hanya memerlukan biaya untuk diri sendiri.
Adapun apabila ia telah menikah maka kewajiban nafkah itu ditanggung oleh suaminya.
Karena itu wajarlah jika ia diberikan satu bagian.
Yang dimaksud anak atau ahli waris lainnya dalam ayat ini adalah secara umum.
Kecuali karena ada halangan yang-menyebabkan anak atau ahli waris lainnya tidak mendapat hak warisan.
Adapun yang dapat menghalangi seseorang menerima hak warisannya adalah:

1.
Berlainan agama, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ yang berbunyi:

Artinya:
“Tidak ada waris mewarisi antara orang-orang yang berlainan agama”
(H.R.
Ibnu Majah)

2.
Membunuh pewaris.
ini berdasarkan hadis dan ijmak.
3.
Bila ahli waris menjadi hamba sahaya.
4.
Harta peninggalan para nabi tidak boleh dibagi-bagi sebagai warisan.

Selanjutnya ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala apabila seorang wafat hanya mempunyai anak perempuan yang jumlahnya lebih dan dua orang dan tidak ada anak laki-laki, maka mereka keseluruhannya mendapat dua pertiga dari jumlah harta, lalu dibagi rata di antara mereka masing-masing.
Akan tetapi apabila yang ditinggalkan itu anak perempuan hanya seorang diri maka ia mendapat seperdua dari jumlah harta warisan.
Sisa harta yang sepertiga (kalau hanya meninggalkan dua anak perempuan) atau yang seperdua.
(bagi yang meninggalkan hanya seorang anak perempuan) dibagikan kepada ahli waris yang lain sesuai dengan ketentuan masing-masing.

Perlu ditambahkan di sini bahwa menurut bunyi ayat, anak perempuan mendapat 2/3 apabila jumlahnya lebih dari dua atau dengan kata lain mulai dari 3 ke atas.
Tidak disebutkan berapa bagian apabila anak perempuan tersebut hanya dua orang.
Menurut pendapat Jumhur Ulama bahwa mereka dimasukkan pada jumlah tiga ke atas mendapat 2/3 dari harta warisan.
Dari perincian tersebut di atas diketahuilah bahwa anak perempuan tidak pernah menghabiskan semua harta.
Paling banyak hanya memperoleh 1/2 dari jumlah harta.
Berbeda dengan anak laki-laki, apabila tidak ada waris yang lain dan ia hanya seorang diri, maka ia mengambil semua harta warisan.
Dan apabila anak laki-laki lebih dari seorang maka dibagi rata di antara mereka.

Tentang hikmah dan perbedaan ini telah diterangkan di atas.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan pula tentang hak kedua orang tua.
Apabila seorang meninggal dunia dan ia meninggalkan anak baik laki-laki maupun perempuan, maka masing-masing orang tua yaitu ibu dan bapak mendapat 1/6 dari jumlah harta.
Sebaliknya apabila ia tidak meninggalkan anak, maka ibu mendapat 1/3 dari jumlah harta dan sisanya diberikan kepada bapak Apabila yang meninggal itu selain meninggalkan ibu-bapak ada pula saudara-saudaranya yang lain, laki-laki atau perempuan yaitu dua ke atas menurut Jumhur maka ibu mendapat 1/6 dan bapak mendapat sisanya Setelah Allah menerangkan jumlah pembagian untuk anak, ibu dan bapak, diterangkan lagi bahwa pembagian tersebut barulah dilaksanakan setelah lebih dahulu diselesaikan urusan wasiat dan hutangnya.
Walaupun dalam ayat Allah mendahulukan penyebutan wasiat dari hutang namun dalam pelaksanaannya menurut Sunah Rasul hendaklah didahulukan pembayaran hutang.

Di antara orang tua dan anak, kamu tidak mengetahui mana yang lebih dekat atau yang lebih memberi manfaat bagi kamu.
Oleh karena itu janganlah kamu membagi harta warisan sebagaimana yang dilakukan oleh orang jahiliah yang memberikan hak warisan hanya kepada orang yang dianggap dapat ikut perang akan membela keluarganya dan tidak memberikan hak warisan sama sekali bagi anak kecil kaum wanita.
Ikutilah apa yang ditentukan Allah karena Dialah yang lebih tahu mana yang bermanfaat untuk kamu baik di dunia maupun di akhirat Hukum warisan tersebut adalah suatu ketentuan dari Allah yang wajib dilaksanakan oleh kaum Muslimin.
Ketahuilah bahwa Allah Mengetahui segala Sesuatu dan apa yang ditentukannya mestilah mengandung manfaat untuk kemaslahatan manusia.

An Nisaa' (4) ayat 11 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 11 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 11 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah memerintahkan kalian, dalam urusan warisan anak-anak dan kedua orangtua kalian bila kalian meninggal dunia, untuk melakukan sesuatu yang bisa mewujudkan keadilan dan perbaikan.
Apabila anak yang ditinggalkan terdiri atas laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan.
Apabila semua anaknya perempuan, dan lebih dari dua orang, maka mereka mendapat dua pertiga dari harta yang ditinggalkan.
Secara tersirat, ayat ini bisa dipahami bahwa bila jumlah anak perempuan itu hanya dua orang, bagian mereka sama dengan bila mereka berjumlah lebih dari dua orang.
Jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separuh harta yang ditinggalkan.
Apabila si mayit meninggalkan bapak dan ibu, maka bagian masing-masing seperenam, jika ia mempunyai anak, laki- laki atau perempuan.
Tetapi bila ia tidak mempunyai anak, dan yang mewarisi hanya ibu dan bapak saja, maka bagian ibu adalah sepertiga dan sisanya menjadi bagian bapak.
Jika mayit itu mempunyai saudara, maka ibunya menerima seperenam, dan sisanya menjadi bagian bapak, tanpa ada bagian untuk saudara- saudaranya.
Bagian-bagian ini diberikan kepada yang berhak setelah dibayar utang-utangnya dan telah dilaksanakan apa yang diwasiatkan, selama dalam batasan syariat.
Inilah hukum Allah yang adil dan mengandung kebijaksanaan.
Kalian tidak mengetahui siapa di antara bapak dan anak kalian yang lebih banyak manfaatnya bagi kalian.
Sesungguhnya kebaikan ada pada perintah Allah.
Allah Maha Mengetahui maslahat kalian dan Mahabijaksana pada apa-apa yang diwajibkan kepada kalian.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Allah mewasiatkan atau menitahkan padamu mengenai anak-anakmu) dengan apa yang akan disebutkan ini:
(yaitu bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan) di antara mereka.
Jika ketiga mereka itu berkumpul, maka bagi yang lelaki seperdua harta dan bagi kedua anak perempuan seperdua pula.
Sedangkan jika yang ditemui itu hanya seorang anak lelaki dan seorang perempuan, maka bagi yang perempuan itu hanya sepertiga sementara bagi yang laki-laki dua pertiga.
Dan sekiranya yang laki-laki itu tunggal, maka ia menghabisi semua harta (jika mereka) maksudnya anak-anak itu (hanya perempuan) saja (lebih dari dua orang maka bagi mereka dua pertiga harta yang ditinggalkan) mayat, demikian pula jika jumlah mereka dua orang karena mereka itu dua bersaudara yang tercakup dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, “…
maka bagi mereka dua pertiga dari harta peninggalan,” mereka lebih utama apalagi mengingat bahwa seorang anak perempuan berhak sepertiga harta jika bersama seorang anak laki-laki sehingga dengan demikian jika dia bersama seorang anak perempuan lebih utama lagi dan lebih didahulukan dari hubungan apa pun.
Ada pula yang mengatakan bahwa demikian itu ialah untuk menghilangkan dugaan bertambahnya bagian dengan bertambahnya bilangan, yakni tatkala timbul pengertian bahwa dengan diberikannya sepertiga bagian untuk seorang anak perempuan jika ia bersama seorang anak laki-laki, maka dua orang anak perempuan beroleh dua pertiga bagian.
(Jika dia) maksudnya anak perempuan itu (seorang saja) menurut qiraat dengan baris di depan sehingga kaana dianggap sebagai tam dan bukan naqish.
(maka ia memperoleh seperdua harta sedangkan untuk kedua orang tuanya) maksudnya orang tua mayat yang di sini diberi badal dengan (bagi masing-masing mereka seperenam dari harta pusaka, yakni jika si mayat itu mempunyai anak) baik laki-laki maupun wanita.
Ditekankannya badal ialah untuk menyatakan bahwa kedua orang tua itu tidaklah berserikat padanya.
Dan terhadap adanya anak dianggap adanya cucu, begitu pula terhadap adanya bapak adanya kakek.
(Jika si mayat tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua orang tuanya) saja atau bersama istrinya (maka bagi ibunya) dapat dibaca li-ummihi dengan hamzah baris di depan dan boleh pula limmihi dengan hamzah baris di bawah untuk meringankan bertemunya dhammah dan kasrah pada dua tempat yang berdekatan (sepertiga) maksudnya sepertiga dari harta yang telah dibagikan kepada pihak istri, sedangkan sisanya buat bapak.
(Jika yang meninggal itu mempunyai beberapa orang saudara) maksudnya dua orang atau lebih, baik laki-laki atau perempuan (maka bagi ibunya seperenam) sedangkan sisanya untuk bapaknya, sementara saudara-saudaranya itu tidak beroleh bagian apa-apa.
Dan pembagian warisan seperti tersebut di atas itu ialah (setelah) dilaksanakannya (wasiat yang dibuatnya) dibaca yuushii atau yuushaa dalam bentuk aktif atau pun pasif (atau) dibayarnya (utangnya).
Dan disebutkannya lebih dulu pemenuhan wasiat daripada pembayaran utang, walaupun pelaksanaannya dibelakangkan ialah dengan maksud untuk tidak mengabaikannya.
(Mengenai orang tuamu dan anak-anakmu) menjadi mubtada sedangkan khabarnya ialah:
(tidaklah kamu ketahui manakah yang lebih dekat kepadamu manfaatnya) di dunia dan di akhirat.
Ada orang yang mengira bahwa putranyalah yang lebih banyak kegunaannya kepadanya, lalu diberinya harta warisan sehingga dengan demikian ternyatalah bahwa bapaklah yang lebih bermanfaat bagi manusia, demikian sebaliknya.
Maka yang mengetahui soal itu hanyalah Allah subhanahu wa ta’ala dan itulah sebabnya diwajibkan-Nya pembagian pusaka.
(Ini adalah ketetapan dari Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui) terhadap makhluk-Nya (lagi Maha Bijaksana) tentang peraturan-peraturan yang diberikan-Nya kepada mereka, artinya Dia tetap bersifat bijaksana dalam semuanya itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah mewasiatkan dan memerintahkan kepada kalian terkait dengan anak-anak kalian, bila salah seorang dari kalian mati dan meninggalkan anak-anak, laki-laki maupun wanita, maka seluruh warisannya untuk mereka, laki-laki mendapatkan dua kali bagian wanita, bila bersama mereka tidak ada ahli waris yang lain.
Bila mayit hanya meninggalkan anak-anak perempuan saja, maka dua anak perempuan atau lebih mendapatkan dua pertiga dari harta, bila anak perempuan itu hanya satu maka dia mendapatkan setengah.
Bapak ibu mayit, masing-masing dari keduanya mendapatkan seperenam bila mayit mempunyai anak, laki-laki atau wanita, satu atau lebih.
Bila mayit tidak mempunyai anak dan ahli warisnya hanya bapak dan ibunya, maka ibu mendapatkan sepertiga dan sisanya untuk bapak.
Bila mayit mempunyai saudara-saudara, dua atau lebih, laki-laki atau wanita, maka ibunya mendapatkan seperenam, sedangkan bapaknya mendapatkan sisanya dan saudara-saudara tersebut tidak mendapatkan apa pun.
Pembagian warisan ini baru boleh dilakukan setelah menunaikan wasiat mayit sebatas sepertiga hartanya atau membayar hutangnya.
Bapak-bapak dan anak-anak kalian yang berhak mendapatkan warisan, kalian tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat manfaatnya kepada kalian di dunia dan akhirat kalian, maka janganlah melebihkan salah seorang dari mereka atas yang lain.
Apa yang Aku wasiatkan kepada kalian ini merupakan kewajiban dari Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui makhluk-Nya lagi Maha Bijaksana dalam syariat yang ditetapkan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ayat yang mulia ini, ayat sesudahnya, serta ayat yang memungkasi surat ini ketiganya merupakan ayat-ayat yang membahas ilmu faraid.
Ilmu faraid merupakan rincian dari ketiga ayat ini, dan hadis-hadis yang menerangkan tentang hal ini kedudukannya sebagai tafsir dari ayat-ayat tersebut.

Kami akan mengetengahkan sebagian darinya yang berkaitan dengan tafsir ayat ini.
Mengenai ketetapan semua masalah dan perbedaan pendapat, semua dalilnya dan alasan-alasan yang dikemukakan di kalangan para Imam, pembahasannya terdapat di dalam kitab-kitab fiqih yang membahas masalah hukum-hukum syara’.

Di dalam hadis telah disebutkan anjuran untuk belajar ilmu faraid, dan bagian-bagian waris tertentu ini merupakan hal yang paling penting dalam ilmu faraid.

Imam Abu Daud dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan melalui hadis Abdur Rahman ibnu Ziyad ibnu An’am Al-Ifriqi, dari Abdur Rahman ibnu Rafi’ At-Tanukhi, dari Abdullah ibnu Amr secara marfu’:

Ilmu itu ada tiga macam, dan yang selain dari itu hanya dinamakan keutamaan (pelengkap), yaitu ayat muhkamah, atau sunnah yang ditegakkan, atau faridah (pembagian waris) yang adil.

Telah diriwayatkan melalui hadis Ibnu Mas’ud dan Abu Sa’id, tetapi sanad masing-masing dari keduanya perlu dipertimbangkan.

Ibnu Uyaynah mengatakan, sebenarnya ilmu faraid itu dinamakan separo ilmu, karena dengan ilmu ini semua manusia mendapat cobaan.

Imam Bukhari mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini:

telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Musa, telah menceritakan kepada kami Hisyam, bahwa Ibnu Juraij pernah menceritakan kepada mereka, telah menceritakan kepadaku Ibnul Munkadir, dari Jabir ibnu Abdullah yang mengatakan: Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar datang dengan berjalan kaki menjengukku di Bani Salamah.
Nabi menjumpaiku dalam keadaan tidak sadar akan sesuatu pun.
Lalu beliau meminta air wudu dan melakukan wudu, kemudian mencipratkan (bekas air wudunya itu) kepadaku hingga aku sadar.
Lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang akan engkau perintahkan kepadaku sehubungan dengan hartaku?
Apa yang harus kuperbuat dengannya?”
Maka turunlah firman-Nya.
Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.
Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Nasai melalui hadis Hajaj ibnu Muhammad Al-A’war, dari Ibnu Juraii dengan lafaz yang sama.

Jama’ah meriwayatkannya, semuanya melalui hadis Sufyan ibnu Uyaynah, dari Muhammad ibnul Munkadir, dari Jabir.

Hadis lain dari Jabir mengenai asbabun nuzul ayat ini.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Zakaria ibnu Addi, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah (yaitu Ibnu Amr Ar-Ruqqi), dari Abdullah ibnu Muhammad ibnu Uqail.
dari Jabir yang menceritakan bahwa istri Sa’d ibnur Rabi’ datang menghadap Rasulullah ﷺ, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, kedua wanita ini adalah anak perempuan Sa’d ibnur Rabi’, ayahnya telah gugur sebagai syuhada ketika Perang Uhud bersamamu.
Sesungguhnya paman kedua anak perempuan ini mengambil semua hartanya dan tidak meninggalkan bagi keduanya sedikit harta pun, sedangkan keduanya tidak dapat menikah kecuali bila keduanya mempunyai harta.” Jabir melanjutkan kisahnya, bahwa lalu Rasulullah ﷺ bersabda: Allah akan memberikan keputusan mengenai hal tersebut.
Maka turunlah ayat tentang pembagian waris.
Kemudian Rasulullah ﷺ mengirimkan utusan kepada paman kedua wanita itu dan bersabda (kepadanya): Berikanlah dua pertiganya kepada kedua anak perempuan Sa’d dan bagi ibu keduanya seperdelapan.
sedangkan selebihnya adalah untukmu.

Imam Abu Daud, Imam Turmuzi, dan Imam Ibnu Majah meriwayatkannya melalui jalur Abdullah ibnu Muhammad ibnu Uqail dengan.
lafaz yang sama.
Imam Turmuzi mengatakan bahwa hal ini tidak dikenal kecuali melalui hadisnya (Ibnu Uqail).

Yang jelas hadis Jabir yang pertama sebenarnya menerangkan asbabun nuzul ayat terakhir dari surat An-Nisa ini, seperti yang akan diterangkan kemudian.
Karena sesungguhnya saat itu ia hanya mempunyai beberapa saudara perempuan dan tidak mempunyai anak perempuan.
dan sebenarnya kasus pewarisannya adalah berdasarkan kalalah.
Tetapi kami sengaja menyebutkannya dalam pembahasan ayat ini karena mengikut kepada Imam Bukhari, mengingat dia pun menyebutkannya dalam bab ini.

Hadis kedua dari Jabir lebih dekat kepada pengertian asbabun nuzul ayat ini.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Allah mensyariatkan bagi kalian tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anak kalian.
Yaitu: Bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.

Allah memerintahkan kepada kalian untuk berlaku adil terhadap mereka.
Karena dahulu orang-orang Jahiliah menjadikan semua harta pusaka hanya untuk ahli waris laki-laki saja.
sedangkan ahli waris perempuan tidak mendapatkan sesuatu pun darinya.
Maka Allah memerintahkan agar berlaku adil di antara sesama mereka (para ahli waris) dalam pembagian pokok harta pusaka.
tetapi bagian kedua jenis dibedakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, Dia rnenjadikan bagian anak lelaki sama dengan bagian dua anak perempuan..
Dikarenakan itu karena seorang lelaki dituntut kewajiban memberi nafkah, dan beban biaya lainnya.
jerih payah dalam berniaga, dan berusaha serta menanggung semua hal yang berat.
Maka sangatlah sesuai bila ia diberi dua kali lipat dari apa yang diterima oleh perempuan.

Seorang ulama yang cerdik menyimpulkan dari firman-Nya: Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu.
Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala lebih kasih sayang kepada makhluk-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya, karena Allah telah mewasiatkan kepada kedua orang tua terhadap anak-anak mereka, maka diketahuilah bahwa Dia lebih sayang kepada mereka daripada orang-orang tua mereka sendiri.
Seperti yang disebutkan di dalam sebuah hadis sahih.
bahwa ada seorang wanita dari kalangan para tawanan dipisahkan dengan bayinya.
Lalu si ibu mencari-cari bayinya kesana kemari.
Ketika ia menjumpai bayinya, maka ia langsung mengambilnya dan menempelkannya pada dadanya, lalu menyusukannya.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepada para sahabatnya:

Bagaimanakah menurut kalian, tegakah wanita ini mencampakkan bayinya ke dalam api, sedangkan dia mampu melakukannya.
Mereka menjawab, “Tidak, wahai Rasulullah.” Nabi ﷺ bersabda.”Maka demi Allah, sesungguhnya Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada wanita ini kepada anaknya.”

Imam Bukhari sehubungan dengan bab ini mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yusuf, dari Warqa, dari Ibnu Abu Najaih.
dari Ata.
dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa pada mulanya harta pusaka bagi anak (si mayat) dan bagi kedua orang tuanya hanya wasiat, maka Allah menurunkan sebagian dari ketentuan tersebut menurut apa yang disukai-Nya.
Dia menjadikan bagian anak lelaki sama dengan bagian dua anak perempuan, dan menjadikan bagi kedua orang tua, masing-masing dari keduanya mendapat seperenam dan sepertiga, dan bagi istri seperdelapan dan seperempat, dan bagi suami separo dan seperempat.

Al-Aufi meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

Allah mensyariatkan bagi kalian tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anak kalian.Yaitu: Bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.

Demikian itu karena ketika turun ayat faraid yang isinya adalah ketetapan dari Allah subhanahu wa ta’ala yang menentukan bagian bagi anak lelaki, anak perempuan, dan kedua orang tua, maka orang-orang merasa tidak suka atau sebagian dari mereka tidak senang dengan pembagian itu.
Di antara mereka ada yang mengatakan, “Wanita diberi seperempat atau seperdelapan dan anak perempuan diberi setengah serta anak lelaki kecil pun diberi, padahal tiada seorang pun dari mereka yang berperang membela kaumnya dan tidak dapat merebut ganimah.” Akan tetapi, hadis ini didiamkan saja, barangkali Rasulullah ﷺ melupakannya atau kita katakan kepadanya, lalu beliau bersedia mengubahnya.
Mereka berkata.
“Wahai Rasulullah, mengapa engkau memberikan bagian warisan kepada anak perempuan separo dari harta yang ditinggalkan ayahnya.
padahal ia tidak dapat menaiki kuda dan tidak pula dapat berperang rnembela kaumnya?”
Bahkan anak kecil pun diberi bagian warisan padahal ia tidak dapat berbuat apa-apa.
Tersebutlah bahwa di masa Jahiliah mereka tidak memberikan warisan kecuali hanya kepada orang yang berperang membela kaumnya.
dan mereka hanya memberikannya kepada anak yang tertua dan yang lebih tua lagi.

Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan

Sebagian ulama mengatakan bahwa lafaz fauqa (lebih) adalah tambahan yang berarti, jika anak itu semuanya perempuan dua orang.
Seperti pengertian yang terdapat di dalam firman-Nya:

maka penggallah kepala mereka.
(Al Anfaal:12)

Akan tetapi, pendapat ini kurang dapat diterima.
baik dalam ayat ini ataupun dalam ayat yang kedua.
Karena sesungguhnya tidak ada dalam Al-Qur’an suatu tambahan pun yang tidak ada faedahnya, maka pendapat tersebut tidak dapat diterima.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

…maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan.

Seandainya makna yang dimaksud adalah seperti apa yang dikatakan mereka, niscaya akan disebutkan dalam firman di atas dengan memakai Lafaz falahuma (maka bagi keduanya) dua pertiga dari harta yang ditinggalkan.
Sebenarnya pengertian bagian dua pertiga bagi dua anak perempuan ini diambil dari pengertian hukum bagian dua saudara perempuan yang terdapat pada ayat terakhir dari surat An-Nisa.
Karena sesungguhnya dalam ayat ini Allah menetapkan bahwa bagian dua saudara perempuan adalah dua pertiga.
Apabila dua saudara perempuan mendapat bagian dua pertiga.
maka terlebih lagi dua anak perempuan secara analoginya.

Dalam pembahasan yang lalu disebutkan melalui hadis Jabir, bahwa Nabi ﷺ pernah menetapkan bagi kedua orang anak perempuan Sa’d ibnur Rabi’ dua pertiga.
Maka Al-Kitab dan Sunnah menunjukkan kepada pengertian ini pula, juga sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta.
(An Nisaa:11)

Seandainya bagian dua anak perempuan adalah separo, niscaya hal ini dinaskan oleh ayat Al-Qur’an.
Untuk itu disimpulkan, bilamana ditetapkan bagi anak perempuan yang seorang bagiannya sendiri, maka hal ini menunjukkan bahwa dua orang anak perempuan mempunyai bagian yang sama dengan tiga orang anak perempuan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan.
, hingga akhir ayat.

Ibu dan bapak mempunyai bagian warisan dalam berbagai keadaan seperti penjelasan berikut:

Pertama, bilamana keduanya berkumpul bersama anak-anak si mayat, maka ditetapkan bagi masing-masing dari keduanya bagian seperenam.
Jika si mayat tidak mempunyai anak kecuali hanya seorang anak perempuan.
maka bagi si anak perempuan ditetapkan separo harta warisan.
sedangkan masing-masing kedua orang tua si mayat mendapat bagian seperenam.
Kemudian si ayah mendapat seperenam lainnya secara ta’sib.
Dengan demikian.
pihak ayah dalam keadaan seperti ini memperoleh dua bagian.
yaitu dari bagian yang tertentu dan dari status ‘asabah.

Kedua, bilamana ibu dan bapak yang mewaris harta peninggalan si mayat tanpa ada ahli waris yang lain, maka ditetapkan bagi ibu bagian sepertiga, sedangkan bagi ayah dalam keadaan seperti mengambil semua sisanya secara ‘asabah murni.
Dengan demikian si ayah memperoleh bagian dua kali lipat dari si ibu yaitu dua pertiganya.

Seandainya kedua ibu bapak dibarengi dengan suami atau istri si mayat, maka si suami mengambil separonya atau si istri mengambil seperempatnya.
Kemudian para ulama berbeda pendapat mengenai bagian yang diambil oleh si ibu sesudah tersebut.
Pendapat mereka tersimpul ke dalam tiga kelompok:

Ibu mendapat bagian sepertiga dari sisa (setelah bagian suami atau istri diambil) dalam kedua masalah di atas.
karena sisanya seakan-akan adalah seluruh warisan bagi keduanya, dan Allah menetapkan bagi si ibu separo dari apa yang diterima oleh si ayah.
Dengan demikian, berarti si ibu mendapat sepertiga dari sisa sedangkan si ayah mendapat dua pertiga dari sisa.
Demikianlah menurut pendapat Umar dan Usman serta riwayat yang paling sahih di antara dua riwayat yang bersumber dari Ali.
Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Mas’ud dan Zaid ibnu Sabit, yang merupakan pegangan para ahli fiqih yang tujuh orang dan keempat orang Imam, serta jumhur ulama.

Si ibu mendapat sepertiga dari seluruh harta peninggalan.
Karena berdasarkan keumuman makna firman-Nya: jika orang yang meninggal tidak punya anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga.
Karena sesungguhnya makna ayat lebih mencakup daripada hanya dibatasi dengan adanya suami atau istri atau tidak sama sekali.
Hal ini merupakan pendapat Ibnu Abbas.
Telah diriwayatkan hal yang serupa dari Ali dan Mu’az ibnu Jabal.
Hal yang sama dikatakan oleh Syuraih serta Daud Az-Zahiri.
Pendapat ini dipilih oleh Abul Husain Muhammad ibnu Abdullah.
ibnul Labban Al-Basri di dalam kitabnya Al-Ijaz fi ‘Umul Faraid.
Tetapi pendapat ini masih perlu dipertimbangkan, bahkan boleh dikata lemah, karena makna lahiriah ayat menunjukkan bahwa sebenarnya pembagian tersebut hanyalah bila keduanya saja yang mewarisi semua harta, tanpa ada ahli waris yang lain.
Dalam masalah ini sebenarnya suami atau istri mengambil bagian yang telah ditentukan.
sedangkan sisanya dianggap seakan-akan semua warisan.
lalu si ibu mengambil sepertiganya.

Ibu mendapat sepertiga dari seluruh warisan dalam masalah istri secara khusus.
Istri mendapat bagian seperempatnya, yaitu memperoleh tiga point dari dua belas point.
Sedangkan ibu mendapat sepertiganya, yaitu empat point.
Sisanya diberikan kepada bapak si mayat.
Dalam masalah suami, ibu mendapat sepertiga dari sisa agar si ibu tidak mendapat bagian lebih banyak daripada bagian si ayah sekiranya si ibu mendapat sepertiga dari seluruh harta warisan.
Dengan demikian.
maka asal masalahnya adalah enam: Suami mendapat separonya.
yaitu tiga point, bagi si ibu sepertiga dari sisa, yakni asal masalah dikurangi bagian suami, yaitu satu point.
Sedangkan bagi si ayah adalah sisanya setelah diambil bagian si ibu, yaitu dua point.
Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Sirin, pendapat ini merupakan gabungan dari kedua pendapat di atas.
Tetapi pendapat ini pun dinilai lemah, dan pendapat yang sahih adalah yang pertama tadi.

Ketiga, bilamana ibu bapak si mayat berkumpul dengan saudara-saudara lelaki si mayat, baik yang dari seibu sebapak atau yang dari sebapak atau yang dari seibu.
Maka sesungguhnya saudara-saudara si mayat tidak dapat warisan apa pun bila ada bapak si mayat.
Tetapi sekalipun demikian, mereka dapat menghijab (menghalang-halangi) ibu untuk mendapat sepertiganya.
tetapi yang didapat oleh si ibu hanyalah seperenamnya.
Maka bagian si ibu bersama keberadaan saudara-saudara si mayat adalah seperenam.

Jika tiada ahli waris lagi selain ibu bapak, maka si bapak mendapat sisa keseluruhannya.
Hukum mengenai kedua saudara lelaki sama dengan hukum banyak saudara lelaki, seperti yang telah disebutkan di atas.
Demikianlah menurut jumhur ulama.

Imam Baihaqi meriwayatkan melalui jalur Syu’bah maula Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa ia masuk menemui Usman, lalu Ibnu Abbas mengatakan ‘Sesungguhnya seorang saudara tidak dapat menolak ibu untuk mendapatkan sepertiga.” Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman: jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara.
Dua orang saudara menurut bahasa kaummu berbeda dengan beberapa orang saudara.
Maka sahabat Usman berkata.”Aku tidak mampu mengubah apa yang telah berlaku sebelumku dan telah dijalankan di beberapa kota besar, dijadikan sebagai kaidah waris-mewaris di kalangan orang-orang.”

Akan tetapi, kebenaran asar ini masih perlu dipertimbangkan, karena Syu’bah yang disebut dalam sanad asar ini pemah diragukan oleh Malik ibnu Anas.
Seandainya asar ini sahih dari Ibnu Abbas, niscaya akan dijadikan pegangan oleh murid-muridnya yang terdekat.
Apa yang dinukil oleh mereka dari Ibnu Abbas justru berbeda dengan hal tersebut.

Telah diriwayatkan oleh Abdur Rahman ibnu Abuz Zanad, dari Kharijah ibnu Zaid, dari ayatnya yang mengatakan bahwa dua orang saudara dinamakan pula ikhwah (beberapa orang saudara).

Kami telah membahas masalah ini secara terpisah dengan pembahasan yang terinci.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnul Mugirah, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Zurai, dari Sa’id, dari Qatadah, sehubungan dengan Firman Allah subhanahu wa ta’ala: Jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara maka ibunya mendapat seperenam.
Mereka (beberapa saudara) dapat merugikan bagian ibu.
sekalipun mereka tidak dapat mewaris (karena adanya ayah si mayat).
Tetapi jika saudara si mayat hanya seorang, maka ia tidak dapat menghalang-halangi ibu dari bagian sepertiganya, dan ibu baru dapat dihalang-halangi jika jumlah saudara lebih dari satu orang.
Para ulama berpendapat.
sebenarnya mereka (beberapa saudara) dapat menghalang-halangi sebagian dari bagian ibu —yakni dari sepertiga menjadi seperenam— karena ayah mereka menjadi wali yang menikahkan mereka dan memberi mereka nafkah, sedangkan ibu mereka tidak.

Pendapat ini dinilai cukup baik.

Tetapi telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas dengan sanad yang sahih, bahwa ia memandang seperenam bagian ibu karena ada mereka, adalah untuk mereka yang sisanya.

Pendapat ini dinilai syaz.
diriwayatkan oleh Ibnu Jarir di dalam kitab tafsirnya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Yahya, telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, dari Ibnu Tawus, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa seperenam yang dihalang-halangi oleh beberapa saudara dari ibu mereka adalah agar bagian tersebut untuk mereka, bukan untuk ayah mereka.

Selanjutnya Ibnu Jarir mengatakan bahwa pendapat ini berbeda dengan pendapat semua ulama.
Telah menceritakan kepadaku Yunus, telah menceritakan kepada kami Sufyan, telah menceritakan kepada kami Amr, dari Al-Hasan ihnu Muhammad, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa kalalah ialah orang yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai orang tua (yakni yang mewarisinya hanyalah saudara-saudaranya saja).

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan), sesudah dibayar utangnya.

Para ulama Salaf dan Khalaf sepakat bahwa utang lebih didahulukan daripada wasiat.
Pengertian ini dapat tersimpul dari makna ayat bila direnungkan secara mendalam.

Imam Ahmad.
Imam Turmuzi, dan Imam Ibnu Majah serta para penulis kitab tafsir meriwayatkan melalui hadis Ibnu Ishaq, dari Al-Haris ibnu Abdullah Al-A’war, dari Ali ibnu Abu Talib yang mengatakan bahwa:

sesungguhnya kalian telah membaca firman-Nya: sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar utangnya.
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah memutuskan bahwa utang lebih didahulukan daripada wasiat.
Sesungguhnya saudara-saudara yang seibu itu dapat saling mewaris, tetapi saudara-saudara yang berbeda ibu tidak dapat saling mewaris.
Seorang Lelaki dapat mewarisi saudara yang seibu sebapak, tetapi tidak kepada saudara yang sebapak.

Kemudian Imam Turmuzi mengatakan, “Kami tidak mengetahui asar ini kecuali melalui riwayat Al-Haris, sebagian dan kalangan ulama ada yang membicarakan tentangnya.”

Menurut kami: Al-Haris adalah orang yang mahir dalam Ilmu faraid dan mendalaminya serta menguasai ilmu hisab.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Orang-orang tua kalian dan anak-anak kalian, kalian tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagi kalian.

Sesungguhnya Kami menentukan bagi orang-orang tua dan anak-anak bagian yang tertentu.
dan Kami samakan di antara masing-masingnya dalam pembagian warisan, berbeda dengan perkara yang biasa dilakukan di Masa Jahiliah.
Berbeda dengan apa yang pernah diterapkan pada permulaan Islam, yaitu harta pusaka buat anak.
sedangkan buat kedua orang tua adalah berdasarkan wasiat, seperti dalam riwayat yang lalu dari Ibnu Abbas.
Sesungguhnya Allah menasakh hal tersebut, lalu menggantinya dengan ketentuan dalam ayat ini, maka diberi-Nyalah bagian kepada mereka, juga kepada yang lainnya berdasarkan kekerabatan mereka (dengan si mayat).
Hal ini tiada lain karena manusia itu adakalanya mendapat manfaat duniawi atau ukhrawi atau kedua-duanya dari pihak ayah banyak hal yang tidak ia dapatkan dari anaknya sendiri: tetapi adakalanya sebaliknya.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan dalam firman-Nya:

Orang-orang tua kalian dan anak-anak kalian, kalian tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagi kalian.

Yakni sesungguhma manfaat dapat diharapkan dari pihak ini, sebagaimana manfaat pun dapat diharapkan dari pihak yang lain.
Karena itulah maka Kami menentukan bagian untuk ini dan untuk itu, sena Kami samakan di antara kedua belah pihak dalam hal mewaris harta pusaka.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala:

Ini adalah ketetapan dari Allah.

Ketetapan yang telah Kami sebutkan menyangkut rincian bagian warisan dan memberikan kepada sebagian ahli waris bagian yang lebih banyak daripada yang lainnya.
Hal tersebut merupakan ketentuan dari Allah dan keputusan yang telah ditetapkan-Nya.
Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana, Dia tidak akan meletakkan segala sesuatu yang bukan pada tempatnya, dan Dia pasti memberi setiap orang hak yang layak, diterima sesuai dengan keadaannya.
Karena itulah Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Sesungguhnya Allah Maha tahu dan Maha bijaksana.

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah An Nisaa' (4) ayat 11
Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa Telah menceritakan kepada kami Hisyam bahwa Ibnu Juraij Telah mengabarkan kepada mereka berkata,
Telah mengabarkan kepadaku Ibnu Al Munkadir dari Jabir ra. berkata,
Nabi ﷺ bersama Abu Bakr menjengukku dengan berjalan kaki ketika aku sakit di bani Salamah. Beliau mendapatkanku dalam keadaan pingsan. Lalu beliau meminta air kemudian beliau berwudlu dengan air itu setelah itu beliau memercikiku hingga aku pun sadar kembali. Lalu aku bertanya,
Ya Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepadaku mengenai hartaku? maka turulah ayat: Allah mewasiatkan kalian mengenai anak-anak kalian. (An Nisa: 11).

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur’an – Nomor Hadits: 4211

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa’ (4) Ayat 11

Diriwayatkan oleh Imam yang enam, yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa Rasulullah ﷺ disertai Abu Bakr berjalan kaki menengok Jabir bin ‘Abdillah sewaktu sakit keras di kampung bani Salamah.
Ketika didapatkannya tidak sadarkan diri, beliau minta air untuk berwudlu dan memercikan air padanya, sehingga sadar.
Lalu berkata Jabir: “Apa yang tuan perintahkan kepadaku tentang harta bendaku?” maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 11-12) sebagai pedoman pembagian harta waris.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan al-Hakim, yang bersumber dari Jabir, bahwa istri Sa’d bin ar-Rabi’ menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata: “Ya Rasulallah.
Kedua putri ini anak Sa’d bin ar-Rabi’ yang menyertai tuan dalam perang Uhud dan ia telah gugur sebagai syahid.
Paman kedua anak ini mengambil harta bendanya, dan tidak meninggalkan sedikitpun, sedang kedua anak ini sukar mendapatkan jodoh kalau tidak berharta.” Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah akan memutuskan persoalan tersebut.” Maka turunlah ayat hukum pembagian waris seperti tersebut di atas.
(an-Nisaa’: 11-12)

Keterangan: menurut al-Hafidz Ibnu Hajar, berdasarkan hadits tentang kedua putri Sa’d bin ar-Rabi’, ayat ini (an-Nisaa’: 11-12) turun berkenaan dengan kedua putri itu dan tidak berkenaan dengan Jabir, karena Jabir waktu itu belum mempunyai anak.
Selanjutnya ia menerangkan bahwa ayat ini (an-Nisaa’: 11-12) turun berkenaan dengan keduanya.
Mungkin ayat 11 pertama berkenaan dengan kedua putri Sa’d dan bagian akhir ayat itu, yaitu (an-Nisaa’: 12) berkenaan dengan kisah Jabir.
Adapun maksud Jabir dengan kata-katanya, “turun ayat 11”, ingin menyebutkan hal penetapan hukum waris bagi kalaalah (orang yang tidak meninggalkan anak dan ayah), yang terdapat pada ayat selanjutnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi bahwa orang Jahiliyah tidak meberikan harta waris kepada wanita dan anak laki-laki yang belum dewasa atau yang belum mampu berperang.
Ketika ‘Abdurrahman (saudara Hassan bin Tsabit, ahli syair yang masyur) wafat, ia meninggalkan seorang istri bernama Ummu Kuhhah dan lima orang putri.
Maka datanglah keluarga suaminya mengambil harta bendanya.
Berkatalah Ummu Kuhhah kepada Nabi ﷺ mengadukan halnya.
Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 11) yang menegaskan hak waris bagi anak-anak wanita dan ayat (an-Nisaa’: 12) yang menegaskan hak waris bagi istri.

Diriwayatkan oleh al-Qadli Isma’il di dalam kitab Ahkaamul Qr’aan, yang bersumber dari ‘Abdulmalik bin Muhammad bin Hazm bahwa peristiwa Sa’d bin ar-Rabi’ berkaitan dengan turunnya surah an-Nisaa’ ayat 127.
‘Amrah binti Hazm –yang ditinggal gugur oleh suaminya (Sa’d bin ar-Rabi’, sebagai syahid di perang Uhud,- menghadap Nabi ﷺ dengan membawa putrinya (dari Sa’d bin ar-Rabi’) menuntut hak waris.
Surah an-Nisaa’ ayat 127 tersebut menegaskan kedudukan dan hak wanita dalam hukum waris.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa' (4) Ayat 11

DIMAA’
لدِّمَآء

Lafaz ini berbentuk jamak mufradnya ad­ damm asal katanya damayun atau damawun, lalu al yaa’ dihilangkan dan diganti menjadi mim, ia mengandung maksud aliran merah yang mengalir pada urat-urat hewan dan darah.

Lafaz dimaa’ disebut sekali tersendiri­ di dalam Al Qur’an yaitu dalam surah Al­ Baqarah (2), ayat 30.

Disebut dua kali yang disambungkan dengan dhamir yaitu dalam surah Al Baqarah (2), ayat 84 dan surah Al­ Hajj (22), ayat 37.

Lafaz ini mengandung makna umum dan khusus. Makna umum bagi lafaz ini ter­dapat dalam surah Al Baqarah yang dikaitkan dengan as safk yaitu menumpahkan.

Ibnu Katsir berkata,
“Sesungguhnya dari jenis ini (manusia) ada yang menumpah­kan darah, seakan-akan malaikat mengetahui hal itu karena memiliki ilmu yang khusus atau mereka dapat memahami sebahagi­an dari tabiat manusia karena diantara manusia ada orang yang melakukan ke­zaliman dan berbuat maksiat serta dosa.”

Al Qurtubi berkata,
“Atau mereka membuat kiasan kepada mahluk yang ada sebelumnya seperti yang diriwayatkan Ad Dahhak dari Ibnu ‘Abbas, yang pertama yang mendiami bumi adalah para jin mereka pun mem­buat kerusakan dan berbunuhan serta menumpahkan darah, lalu Allah mengirimkan Iblis dan menghapuskan mereka sehingga mereka mendiami pulau-pulau dan diatas gunung-gunung.

Dalam riwayat Mujahid dari Abdullah Ibnu Umar, mereka mendiami bumi 1000 tahun tahun sebelum Adam diciptakan dan ketika mereka melakukan pertumpah­an darah dan kerusakan Allah mengutus malaikat untuk memerangi mereka sehingga mereka mendiami pulau kemudian Allah berkata kepada malaikat, “Sesungguhnya aku akan menjadikan khalifah (Adam) di muka bumi,” para malaikat pun berkata,
“Adakah Engkau akan menjadikan di dalamnya orang yang akan menumpahkan darah?”

Sedangkan makna khusus untuk lafaz ini terdapat dalam surah Al Baqarah, ayat 84 dan surah Al Hajj.

Dalam surah Al Baqarah, lafaz dimaa’ ditujukan kepada Bani Israil, maksud­nya, “Wahai Bani Israil! Janganlah kamu menumpahkan darah sesama saudara dan sebahagian kamu menumpahkan darah sebahagian yang lain.”

Dalam surah Al Hajj, ad­ dimaa’ bermakna darah binatang sernbelih­an. Tafsirannya, “Tidak akan mendapat ridha Allah daging yang disedekahkan dan darah yang ditumpahkan dengan penyembelihan tetapi yang diterima adalah amal shaleh dan keikhlasan di dalamnya dengan hanya meng­harapkan ridha Allah.”

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:225-226

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa’, yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa’ karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa’ dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Al Kubraa” (surat An Nisaa’ yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
“Surat An Nisaa’ Ash Shughraa” (surat An Nisaa’ yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf’
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.

QS 4 An-Nisa (7-11) - Indonesian - Quincy Wirija
QS 4 An-Nisa (7-11) - Arabic - Quincy Wirija


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 11 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 11



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.9
Rating Pembaca: 4.9 (21 votes)
Sending







Anda perlu login mengelola Bookmark.

📖 Lihat Semua Bookmark-ku