Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 105


اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ لِتَحۡکُمَ بَیۡنَ النَّاسِ بِمَاۤ اَرٰىکَ اللّٰہُ ؕ وَ لَا تَکُنۡ لِّلۡخَآئِنِیۡنَ خَصِیۡمًا
Innaa anzalnaa ilaikal kitaaba bil haqqi litahkuma bainannaasi bimaa araakallahu walaa takul(n)-lilkhaa-iniina khashiiman;

Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat,
―QS. 4:105
Topik ▪ Ampunan Allah yang luas
4:105, 4 105, 4-105, An Nisaa’ 105, AnNisaa 105, AnNisa 105, An-Nisa’ 105
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa' (4) : 105. Oleh Kementrian Agama RI

Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan dalam ayat ini bahwa Alquran yang membenarkan kebenaran itu diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ untuk mengadili perkara yang terjadi antara manusia dengan berdasarkan hukum-hukum yang diajarkan Allah.
berdasarkan kitab itu, Nabi Muhammad ﷺ memutuskan suatu perkara dengan adil.
Beliau dilarang menjadi lawan dari yang benar atau kawan bagi yang salah.
Diriwayataan oleh Ibnu Mardawaih dari Ibnu Abbas:

"Bahwa salah seorang dari golongan Ansar yang berperang bersama Rasulullah ﷺ dalam satu peperangan kehilangan baju besi.
Seorang laki-laki dari Ansar tertuduh mencuri baju besi itu.
Pemilik baju besi itu menghadap Rasulullah ﷺ dan mengatakan bahwa Tu'mah bin Ubairik yang mencuri baju besi itu dan meletakannya di rumah seorang laki-laki yang tidak bersalah.
Kemudian Tu'mah memberitahukan kepada kaumnya bahwa dia telah menggelapkan baju besi dan menyembunyikannya di rumah orang lain yang tidak bersalah.
Baju besi itu kelak diketemukan di rumah orang itu.
Famili Tu'mah pergi menghadap Rasul pada suatu malam mengatakan kepada beliau: "Sesungguhnya saudara kami Tu'mah bersih dari tuduhan itu.
Sesungguhnya pencuri baju besi itu ialah si fulan, dan kami benar-benar mengetahui tentang itu".
Bebaskanlah saudara kami dari segala tuduhan di hadapan khalayak dan belalah dia.
Jika Allah tidak memeliharanya dengan perantaraanmu binasalah dia, lalu berdirilah Rasul membersihkan Tu'mah dari segala tuduhan dan mengumumkan hal itu di hadapan khalayak ramai, maka turunlah ayat ini.
(H.R.
Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas)

Ayat ini menegur Rasul karena beliau percaya begitu saja terhadap laporan Bani Ubairik dan beliau dengan segera membebaskan Tu'mah.
Seolah-olah beliau menjadi pembela bagi orang-orang yang belum tentu benar.

An Nisaa' (4) ayat 105 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 105 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 105 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Kami telah menurunkan Al Quran kepadamu, Muhammad, dengan benar:
mengandung dan menjelaskan segala kebenaran sampai hari kiamat.
Al-Qur'an menjadi pedoman dalam memutuskan hukum di antara manusia.
Tentukanlah hukum mereka--dengan berpedoman pada Al Quran-dan jangan kamu membela orang-orang yang berkhianat.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu) yakni Alquran (dengan benar) kaitannya ialah kepada "menurunkan" (agar kamu mengadili di antara manusia dengan apa yang telah diajarkan Allah kepadamu).
(Dan janganlah kamu menjadi pembela bagi orang yang berkhianat) seperti Thu`mah dan menjadi penentang mereka atau pihak lawannya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu wahai Rasul al-Qur an yang berisi kebenaran, agar kamu memisahkan di antara manusia semuanya dengan apa yang Allah telah wahyukan kepadamu dan beritahukan kepadamu.
Maka jangan membela orang-orang yang mengkhianati diri mereka sendiri dengan menyembunyikan kebenaran, hanya karena apa yang mereka perlihatkan berupa kata-kata yang menyimpang dari kebenaran kepadamu.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Allah subhanahu wa ta'ala.
berfirman, ditujukan kepada Rasul-Nya:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran.

Kitab itu adalah perkara yang hak dari Allah, di dalam berita dan perintah serta larangannya mengandung perkara yang hak.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah perlihatkan kepadamu.

Ayat ini dijadikan dalil oleh kalangan ulama Usul yang berpendapat bahwa Nabi ﷺ boleh memutuskan peradilan dengan ijtihad, berdasarkan makna ayat ini.

Berdasarkan apa yang telah disebut di dalam kitab Sahihain, dari Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Zainab binti Ummu Salamah, dari Ummu Salamah, bahwa Rasulullah ﷺ pernah mendengar suara gaduh persengketaan di depan pintu rumahnya.
Maka beliau keluar menemui mereka, dan bersabda:

Ingatlah, sebenarnya aku adalah seorang manusia, dan aku hanya memutuskan peradilan sesuai dengan apa yang aku dengar.
Dan barangkali seseorang dari kalian adalah orang yang lebih lihai dalam beralasan daripada sebagian yang lain, lalu aku memutuskan peradilan untuk (kemenangan)nya.
Maka barang siapa yang aku telah putuskan peradilan untuknya terhadap hak seorang muslim, sesungguhnya hal itu hanyalah sepotong api neraka.
Karena itu, hendaklah ia membawanya atau membiarkannya.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Usamah ibnu Zaid, dari Abdullah ibnu Rafi', dari Ummu Salamah yang menceritakan bahwa ada dua orang lelaki dari kalangan Ansar datang mengadukan persengketaan mereka kepada Rasulullah ﷺ mengenai warisan yang ada di antara keduanya di masa yang lalu, sedangkan masing-masing tidak mempunyai bukti.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Sesungguhnya kalian mengadukan perkara kalian kepadaku, dan sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia, barangkali salah seorang dari kalian lebih lihai dalam alasannya daripada yang lain, dan aku hanya memutuskan berdasarkan apa yang aku dengar.
Maka barang siapa yang aku putuskan sesuatu untuk kemenangannya menyangkut hak saudaranya, janganlah dia mengambilnya.
Karena sebenarnya aku memberikan kepadanya sepotong api neraka, yang akan ia bawa seraya dikalungkan di lehernya kelak di hari kiamat.
Maka kedua lelaki itu menangis, lalu masing-masing mengatakan, "Hakku untuk saudaraku." Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: Mengapa tidak kalian katakan sejak semula, sekarang pergilah dan berbagilah kalian, dan tegakkanlah perkara yang hak di antara kalian berdua, kemudian bagikanlah di antara kamu berdua dan hendaklah masing-masing dari kalian menghalalkan kepada temannya.

Imam Abu Daud meriwayatkannya melalui hadis Usamah ibnu Zaid dengan lafaz yang sama, tetapi ditambahkan:

Sesungguhnya aku hanya memutuskan perkara di antara kalian berdua dengan pendapatku sehubungan dengan hal-hal yang tidak diturunkan wahyu kepadaku mengenainya.

Mujahid, Ikrimah, Qatadah, As-Saddi, Ibnu Zaid, dan lain-lainnya telah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang pencuri dari kalangan Bani Ubairiq.
Mereka mengetengahkan kisahnya dengan konteks yang berbeda-beda, tetapi pengertiannya berdekatan.

Muhammad ibnu Ishaq meriwayatkan kisah ini secara panjang lebar.
Untuk itu Abu Isa At-Turmuzi dalam kitab Jami'-nya dalam tafsir ayat ini —dan Imam Ibnu Jarir dalam kitab tafsirnya— mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Ahmad ibnu Abu Syu'aib Abu Muslim Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salamah Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ishaq, dari Asim, dari Umar ibnu Qatadah, dari ayahnya, dari kakeknya (yaitu Qatadah ibnu Nu'man r.a.) yang menceritakan hadis berikut:

Dalam salah satu ahli bait dari kalangan kami yang dikenal dengan nama Bani Ubairiq terdapat orang yang bernama Bisyr, Basyir, dan Mubasysyir.
Basyir adalah seorang munafik, dia mengucapkan syair untuk mengejek sahabat-sahabat Rasul ﷺ, kemudian ia menisbatkannya kepada seseorang dari kalangan orang-orang Badui.
Lalu ia mengatakan bahwa si Fulan telah mengatakan anu dan anu, dan si Fulan yang lain telah mengatakan demikian dan demikian.
Akan tetapi, bila sahabat-sahabat Rasulullah ﷺ mendengar syair tersebut, mereka berkata, "Demi Allah, tidak ada orang yang mengatakan syair ini kecuali lelaki yang jahat itu," atau kalimat yang serupa.
Mereka mengatakan bahwa yang mengatakannya adalah Ibnul Ubairiq.
Bani Unairiq adalah suatu keluarga yang miskin lagi sengsara, baik di masa Jahiliah maupun di masa Islam.
Di Madinah makanan pokok mereka adalah buah kurma dan gandum.
Seseorang yang mempunyai kemampuan, bila datang kafilah dari negeri Syam (yaitu dari Darmak), dia membeli makanan pokoknya dari kafilah tersebut khusus untuk dirinya.
Adapun anak-anak mereka, makanan pokoknya adalah kurma dan gandum.
Ketika datang kafilah dari Syam, pamanku (yaitu Rifa'ah ibnu Zaid) membeli sepikul makanan pokok yang dibawa kafilah itu dari Darmak, lalu ia memasukkannya ke dalam pedaringan (gentong beras), di dalam pedaringan itu terdapat pula senjata, baju besi, dan pedang.
Pada suatu malam sesudah pembelian itu, rumah pamanku kemasukan pencuri yang masuk dari bagian bawah.
Si pencuri membobok pedaringan dan mengambil makanan berikut senjata.
Pada pagi harinya, pamanku Rifa'ah datang kepadaku melaporkan, "Hai anak saudaraku, sesungguhnya tadi malam kita kemalingan, tempat penyimpanan makanan kita dibobok dan pencuri membawa makanan serta senjata kita." Lalu kami menyelidiki di sekitar perkampungan itu.
Kami bertanya ke sana dan kemari.
Akhirnya ada yang mengatakan bahwa mereka melihat Bani Ubairiq menyalakan api (memasak) tadi malam, dan mereka berpendapat bahwa yang mereka masak itu tiada lain makanan curian dari kami.
Ketika kami sedang melakukan penyelidikan, yang saat itu Bani Ubairiq ada di dalam perkampungan itu, mereka mengatakan, "Demi Allah, kami merasa yakin orang yang mencuri makanan kalian itu tiada lain Labid ibnu Sahl, seorang lelaki dari kalangan kita yang dikenal baik dan Islam." Ketika Labid mendengar tuduhan itu, dengan serta merta ia menghunus pedangnya dan berkata, "Aku dikatakan mencuri?
Demi Allah, kalian akan merasakan pedang ini atau kalian harus membuktikan pencurian ini." Mereka berkata, "Tenanglah, menjauhlah engkau dari kami, engkau bukan pencurinya." Maka kami terus melakukan penyelidikan di perkampungan itu sampai kami tidak meragukan lagi bahwa mereka adalah pencurinya.
Kemudian pamanku berkata kepadaku, "Hai keponakanku, sebaiknya engkau datang saja kepada Rasulullah ﷺ dan berbicara kepadanya mengenai hal tersebut." Qatadah melanjutkan kisahnya, bahwa lalu ia datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, "Sesungguhnya ada suatu keluarga dari kalangan kami yang miskin, mereka mengincar rumah pamanku Rifa'ah ibnu Zaid, lalu mereka mencuri apa yang tersimpan di dalam tempat makanannya, mereka mengambil senjata dan makanan yang ada padanya.
Maka aku memohon kepadamu untuk mengatakan kepada mereka, hendaknya mereka mengembalikan kepada kami senjata kami.
Adapun mengenai makanan, maka kami relakan." Nabi ﷺ bersabda, "Aku akan melaksanakan hal tersebut." Tetapi ketika Bani Ubairiq mendengar hal tersebut, mereka datang kepada seorang lelaki dari kalangan mereka yang dikenal dengan nama Usaid ibnu Urwah, lalu mereka berbicara kepadanya mengenai hal itu.
Maka mereka sepakat untuk mengadakan pembelaan di hadapan Nabi ﷺ, lalu mereka berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Qatadah ibnun Nu'man dan pamannya datang kepada suatu keluarga dari kalangan kami yang dikenal sebagai ahli Islam dan orang baik-baik, lalu mereka menuduhnya berbuat mencuri, tanpa bukti dan saksi." Qatadah melanjutkan kisahnya, Maka aku datang lagi kepada Nabi ﷺ untuk membicarakan hal itu, tetapi Nabi ﷺ bersabda (kepadaku), 'Kamu telah datang ke suatu keluarga yang dikenal di kalangan mereka sebagai pemeluk Islam dan orang baik-baik, lalu kamu tuduh mereka mencuri tanpa bukti dan tanpa saksi'." Qatadah mengatakan, "Lalu aku kembali, dan sesungguhnya perasaanku saat itu benar-benar rela mengeluarkan sebagian dari hartaku, tanpa harus membicarakan hal tersebut kepada Rasulullah ﷺ Lalu pamanku datang kepadaku dan bertanya, 'Hai keponakanku, apakah yang telah kamu lakukan?' Lalu aku menceritakan kepadanya apa yang telah dikatakan oleh Rasulullah ﷺ kepadaku.
Maka pamanku berkata, 'Hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan'." Tetapi tidak lama kemudian turunlah wahyu Al-Qur'an yang mengatakan seperti berikut, yaitu: Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan jangan-lah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat.
(An Nisaa:105) dan mohonlah ampun kepada Allah.
(An Nisaa:106) Yang dimaksud dengan 'orang-orang yang berkhianat' itu adalah Bani Ubairiq.
Yaitu memohon ampun dari apa yang telah kamu katakan kepada Qatadah.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya.
(An Nisaa:106-107) sampai dengan firman-Nya: Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(An Nisaa:110) Dengan kata lain, seandainya mereka meminta ampun, niscaya mereka diampuni.
Barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakan untuk (kemudaratan) dirinya sendiri.
(An Nisaa:111) sampai dengan firman-Nya: dosa yang nyata.
(An Nisaa:112) Firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang ditujukan kepada Labid, yaitu: Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu.
(An Nisaa:113) sampai dengan firman-Nya: maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.
(An Nisaa:114) Ketika Al-Qur'an telah diturunkan kepada Rasulullah ﷺ, senjata itu diserahkan kepada Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah ﷺ mengembalikannya kepada Rifa'ah.
Qatadah mengatakan, "Aku datang kepada pamanku dengan membawa senjata tersebut, sedangkan pamanku adalah orang yang sudah lanjut usia atau telah tuna netra sejak zaman Jahiliah, 'atau' di sini mengandung makna ragu-ragu dari pihak Abu Isa, dan aku menilai Islam pamanku masih diragukan.
Ketika aku menyerahkan senjata itu kepadanya, ia berkata, "Hai keponakanku, senjata itu kusedekahkan buat sabilillah." Maka aku merasa yakin bahwa Islamnya adalah benar.
Setelah Al-Qur'an mengenai hal tersebut diturunkan, maka Basyir bergabung dengan orang-orang musyrik, lalu ia bertempat tinggal di rumah Sulafah binti Sa'd ibnu Sumayyah.
Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya: Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia berkuasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu.
dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya.
Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.
(An Nisaa:115-116) Setelah Basyir tinggal di rumah Sulafah binti Sa'd, maka Hissan ibnu Sabit mengejeknya melalui bait-bait syair.
Maka Sulafah mengambil pelana unta kendaraan Basyir dan memanggulnya di atas kepala, lalu ia keluar rumah dan mencampakkan pelana itu ke padang pasir.
Kemudian ia berkata, "Kamu menghadiahkan kepadaku syairnya Hissan (yang pedas), kamu bukan datang kepadaku dengan kebaikan."

Lafaz hadis ini menurut apa yang ada pada Imam Turmuzi disebutkan bahwa hadis ini garib, kami tidak mengetahui seseorang pun yang meng-isnad-kan (menyandarkan)nya selain Muhammad ibnu Salamah Al-Harrani.

Yunus ibnu Bukair dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang telah meriwayatkannya melalui Muhammad ibnu Ishaq, dari Asim ibnu Umar ibnu Qatadah secara mursal, tanpa menyebutkan dari ayahnya, dari kakeknya.

Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya dari Hasyim ibnul Qasim Al-Harrani, dari Muhammad ibnu Salamah dengan lafaz yang sama dengan sebagiannya.

Ibnul Munzir di dalam kitab tafsirnya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ismail (yakni As-Saiq), telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Abu Syu'aib Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Salamah, lalu ia mengetengahkan hadis ini dengan panjang lebar.

Abusy Syekh Al-Asbahani di dalam kitab tafsirnya telah meriwayatkan hadis ini dari Muhammad ibnu Ayyasy ibnu Ayyub dan Al-Hasan ibnu Ya'qub, keduanya dari Al-Hasan ibnu Ahmad ibnu Abu Syu'aib Al-Harrani, dari Muhammad ibnu Salamah dengan lafaz yang sama.
Kemudian di akhirnya ia mengatakan bahwa Muhammad ibnu Salamah mengatakan, "Telah mendengar hadis ini dariku Yahya ibnu Mu'in, Ahmad ibnu Hambal, dan Ishaq ibnu Israil."

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Hakim Abu Abdullah An-Naisaburi di dalam kitabnya yang berjudul Al-Mustadrak, dari Ibnu Abbas Al-Asam, dari Ahmad ibnu Abdul Jabbar Al-Utaridi, dari Yunus ibnu Bukair, dari Muhammad ibnu Ishaq secara makna lagi lebih lengkap daripada yang lain, dan di dalamnya terdapat syair.
Kemudian Imam Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih dengan syarat Imam Muslim, tetapi keduanya (Imam Bukhari dan Imam Muslim) tidak mengetengahkannya.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa' (4) Ayat 105

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim, dan lain-lain, yang bersumber dari Qatadah bin an-Nu’man.
Menurut al-Hakim, hadits ini shahih berdasarkan syarat Imam Muslim.
Bahwa diantara keluarga serumah Bani Ubairiq, yaitu Bisyr dan Mubasysyir, terdapat seorang munafik yang bernama Busyair, yang hidupnya melarat sejak zaman jahiliyah.
Ia pernah menggubah syair untuk mencaci maki para shahabat Rasulullah ﷺ dan menuduh bahwa syair itu gubahan orang lain.

Pada waktu itu makanan orang melarat ialah kurma dan sya’ir (semacam jewawut; Inggris: barley) yang didatangkan dari Madinah (sedang makanan orang-orang kaya adalah terigu).
Suatu ketika Rifa’ah bin Zaid (paman Qatadah) membeli terigu beberapa karung yang kemudian disimpan di dalam gudang tempat penyimpanan alat perang, baju besi, dan pedang.
Pada tengah malam gudang itu dibongkara orang yang semua isinya dicuri.
Pagi harinya Rifa’ah datang kepada Qatadah dan berkata: “Wahai anak saudaraku, tadi malam gudang kita dibongkar orang, makanan dan senjata dicuri.” Kemudian mereka menyelidikinya dan bertanya-tanya di sekitar kampung itu.
Ada orang yang mengatakan bahwa semalam bani Ubairiq menyalakan api dan memasak terigu (makanan orang kaya).
Berkatalah Bani Ubairiq: “Kami telah bertanya-tanya di kampung ini.
Demi Allah, kami yakin bahwa pencurinya adalah Labid bin Sahl.” Labid bin Sahl terkenal sebagai Muslim yang jujur.
Ketika Labid mendengar ucapan Bani Ubairiq, ia naik darah dan mencabut pedangnya sambil berkata dengan marah: “Engkau menuduh aku mencuri?
Demi Allah pedang ini akan ikut campur berbicara, sehingga terang dan jelas siapa pencuri itu.” Bani Ubairiq berkata: “Jangan berkata kami yang menuduhmu, sebenarnya buka kamu pencurinya.” Maka berangkatlah Qatadah dan Rifa’ah meneliti dan bertanya-tanya di sekitar kampung itu sehingga yakin bahwa pencurinya adalah Bani Ubairiq.
Maka berkatalah Rifa’ah: “Wahai anak saudaraku, bagaimana sekiranya engkau menghadap Rasulullah ﷺ untuk menerangkan hal ini?” Maka berangkatlah Qatadah menghadap Rasulullah dan menerangkan adanya satu keluarga yang tidak baik di kampung itu, yang mencuri makanan dan senjata kepunyaan pamannya.
Pamannya menghendaki agar senjatanya saja yang dikembalikan, dan membiarkan makanan itu untuk mereka.
Maka bersabdalah Rasulullah ﷺ: “Saya akan meneliti hal ini.”

Ketika Bani Ubairiq mendengar hal itu, mereka mendatangi salah seorang keluarganya yang bernama Asir bin ‘Urwah untuk menceritakan peristiwa tersebut.
Maka berkumpullah orang-orang sekampungnya seraya menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Qatadah bin an-Nu’man dan pamannya telah menuduh seorang yang baik, jujur, dan lurus di antara kami, yaitu menuduh mencuri tanpa bukti apapun.”

Ketika Qatadah berhadapan dengan Rasulullah, iapun ditegur dengan sabdanya: “Kamu telah menuduh mencuri kepada seorang Muslim yang jujur dan lurus tanpa bukti apa pun?” Kemudian Qatadah pulang untuk menceritakan hal itu pada pamannya.
Berkatalah Rifa’ah: “Allahul musta’aan (Allah tempat kita berlindung).” Tidak lama kemudian turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 105) sebagai teguran kepada Nabi ﷺ berkenaan dengan pembelaannya terhadap Bani Ubairiq; dan surah an-Nisaa’ ayat 114 berkenaan dengan ucapan Nabi ﷺ terhadap Qatadah.

Setelah itu Nabi ﷺ membawa sendiri senjata yang hilang itu dan menyerahkannya kepada Rifa’ah, sedang Busyair menggabungkan diri dengan kaum musyrikin dan menumpang pada Sullafah binti Sa’d.
Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (an-Nisaa’: 115-116) sebagai teguran kepada orang-orang yang menggabungkan diri dengan musuh setelah jelas petunjuk Allah kepadanya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d di dalam kitab ath-Thabaqaat, dengan sanad yang bersumber dari Mahmud bin Labid.
Bahwa Busyair bin al-Harits membongkar gudang Rifa’ah bin Zaid (paman Qatadah bin an-Nu’man) dan mencuri makanan serta dua perangkat baju besi.
Qatadah mengadu kepada Nabi ﷺ tentang peristiwa itu, yang kemudian ditanyakan kepada Busyair oleh Nabi ﷺ.
Akan tetapi ia mungkir, dan malah menuduh Labid bin Sahl, seorang bangsawan lagi hartawan.
Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 105) yang menerangkan bahwa Busyair itu seorang pendusta, sedang Labid seorang yang bersih.

Setelah turun ayat itu (an-Nisaa’: 105) yang menunjukkan kepalsuan Busyair, iapun murtad dan lari ke Mekah menggabungkan diri dengan kaum musyrikin serta menumpang di rumah Sullafah binti Sa’d.
Ia mencaci maki Nabi dan kaum Muslimin.
Maka turunlah ayat selanjutnya (an-Nisaa’: 115) berkenaan dengan peristiwa Busyair ini.
Kemudian Hassan bin Tsabit menggubah syair yang menyindir Busyair, sehingga ia kembali pada bulan Rabi’ tahun keempat Hijrah.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa', yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa' karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa' dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Al Kubraa" (surat An Nisaa' yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Ash Shughraa" (surat An Nisaa' yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf'
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 105 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 105



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.7
Rating Pembaca: 4.7 (27 votes)
Sending







PEMBAHASAN ✔ Al quran surah an-Nisa ayat 105, surah an-nisa/4:105