Search
Generic filters
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Langsung kunjungi https://risalahmuslim.id/2-255 atau cari dengan ketik nomer_surah:nomer_ayat. Contoh: 2:255

An Nisaa'

An Nisaa’ (Wanita) surah 4 ayat 102


وَ اِذَا کُنۡتَ فِیۡہِمۡ فَاَقَمۡتَ لَہُمُ الصَّلٰوۃَ فَلۡتَقُمۡ طَآئِفَۃٌ مِّنۡہُمۡ مَّعَکَ وَ لۡیَاۡخُذُوۡۤا اَسۡلِحَتَہُمۡ ۟ فَاِذَا سَجَدُوۡا فَلۡیَکُوۡنُوۡا مِنۡ وَّرَآئِکُمۡ ۪ وَ لۡتَاۡتِ طَآئِفَۃٌ اُخۡرٰی لَمۡ یُصَلُّوۡا فَلۡیُصَلُّوۡا مَعَکَ وَ لۡیَاۡخُذُوۡا حِذۡرَہُمۡ وَ اَسۡلِحَتَہُمۡ ۚ وَدَّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا لَوۡ تَغۡفُلُوۡنَ عَنۡ اَسۡلِحَتِکُمۡ وَ اَمۡتِعَتِکُمۡ فَیَمِیۡلُوۡنَ عَلَیۡکُمۡ مَّیۡلَۃً وَّاحِدَۃً ؕ وَ لَا جُنَاحَ عَلَیۡکُمۡ اِنۡ کَانَ بِکُمۡ اَذًی مِّنۡ مَّطَرٍ اَوۡ کُنۡتُمۡ مَّرۡضٰۤی اَنۡ تَضَعُوۡۤا اَسۡلِحَتَکُمۡ ۚ وَ خُذُوۡا حِذۡرَکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ اَعَدَّ لِلۡکٰفِرِیۡنَ عَذَابًا مُّہِیۡنًا
Wa-idzaa kunta fiihim faaqamta lahumush-shalaata faltaqum thaa-ifatun minhum ma’aka walya’khudzuu aslihatahum fa-idzaa sajaduu falyakuunuu min waraa-ikum walta’ti thaa-ifatun ukhra lam yushalluu falyushalluu ma’aka walya’khudzuu hidzrahum waaslihatahum waddal-ladziina kafaruu lau taghfuluuna ‘an aslihatikum waamti’atikum fayamiiluuna ‘alaikum mailatan waahidatan walaa junaaha ‘alaikum in kaana bikum adzan min matharin au kuntum mardha an tadha’uu aslihatakum wakhudzuu hidzrakum innallaha a’adda lilkaafiriina ‘adzaaban muhiinan;

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu], dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata.
Orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus.
Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit, dan siap siagalah kamu.
Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.
―QS. 4:102
Topik ▪ Maksiat dan dosa ▪ Ancaman bagi orang kafir dan pelaku maksiat ▪ Segala sesuatu milik Allah
4:102, 4 102, 4-102, An Nisaa’ 102, AnNisaa 102, AnNisa 102, An-Nisa’ 102
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nisaa' (4) : 102. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah menjelaskan tentang cara salat khauf, yaitu bilamana Rasul berada dalam barisan kaum Muslimin dan beliau hendak salat bersama pasukannya, maka lebih dahulu beliau membagi pasukannya dalam dua kelompok.
Kelompok pertama salat bersama Rasul sedang kelompok kedua tetap ditempatnya menghadapi musuh sambil melindungi kelompok yang sedang salat.
Kelompok yang sedang salat ini di haruskan menyandang senjata dalam salat untuk menjaga kemungkinan musuh menyerang dan agar mereka tetap waspada.
Bilamana kelompok pertama ini telah menyelesaikan rakaat pertama, hendaklah mereka pergi menggantikan kelompok kedua, dan Nabi menanti dalam salat.
Kelompok kedua ini juga harus menyandang senjata bahkan harus lebih bersiap siaga.
Nabi bersalat dengan kelompok kedua ini dalam rakaat kedua.
Sesudah rakaat kedua ini beliau membaca salam, kemudian masing-masing kelompok menyelesaikan satu rakaat lagi dengan cara bergantian.
Dari Ibnu Umar beliau berkata:

"Nabi ﷺ mengerjakan salat khauf dengan salah satu di antara dua kelompok satu rakaat.
sedang kelompok lainnya menghadapi musuh.
Kemudian kelompok pertama pindah menempati kelompok teman-teman mereka sambil menghadapi musuh, lalu datanglah kelompok kedua dan bersalat di belakang Nabi satu rakaat pula kemudian Nabi membaca salam.
Kemudian masing-masing kelompok menyelesaikan salatnya satu rakaat lagi".
(H.R.
Bukhari dan Muslim)

Ayat ini menjadi dasar salat khauf.
Kecuali cara tersebut dalam ayat ini terdapat pula cara salat khauf yang diterangkan dalam Sunah Rasul.
Dalam ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan alasan kaum muslimin bersalat menyandang senjata dalam salat khauf itu yaitu musuh yang tidak jauh dan mereka selalu mengintai saat-saat pasukan Islam kehilangan kewaspadaan dan melengahkan senjata dan perlengkapan mereka, maka pada saat itulah pasukan kafir dapat kesempatan menggempur mereka dengan sekali gempuran.
Kemudian Allah menerangkan pula bilamana ternyata pasukan itu mendapat kesusahan karena hujan atau sakit atau kesulitan lain karena membawa senjata dalam salat khauf itu dibolehkan dia tidak menyandang senjata.
Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan terhadap orang-orang kafir itu yaitu kekalahan-kekalahan yang mereka alami.

An Nisaa' (4) ayat 102 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nisaa' (4) ayat 102 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nisaa' (4) ayat 102 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Ketika kamu, Rasulullah, sedang berada di tengah-tengah mereka, kemudian datang waktu salat, kalian harus tetap berhati-hati dan waspada terhadap musuh dengan mengelompokkan umat Islam ke dalam dua kelompok.
Kelompok pertama melakukan salat bersamamu, sedang yang lain berada di belakang sambil memegang senjata untuk berjaga-jaga.
Bila kamu telah menyelesaikan separuh salat, kelompok pertama yang salat di belakangmu tadi mundur menggantikan posisi kelompok kedua, dan kelompok kedua maju untuk melakukan salat bersamamu.
Kemudian, masing-masing kelompok menyempurnakan sendiri- sendiri rakaat yang belum dikerjakan.
Kelompok pertama yang belum mengerjakan rakaat kedua disebut lahiqah dan kelompok kedua yang belum mengerjakan rakaat pertama disebut masbuqah.
[1] Ketentuan ini diambil demi ketertiban agar salat kalian tidak terlewatkan, dan untuk berjaga-jaga terhadap orang-orang kafir yang selalu menginginkan kalian lengah dan tidak memperhatikan senjata dan perlengkapan, lalu menyerbu kalian secara serentak ketika kalian sedang melaksanakan salat.
Selain itu, ketentuan ini ditetapkan untuk menegaskan bahwa memerangi orang-orang musyrik tetap diwajibkan, meskipun pada waktu salat.
Tetapi, jika kalian sakit, luka akibat perang, atau jika turun hujan lebat, kalian boleh "beristirahat" perang, dengan tidak melupakan kewaspadaan dan kehati-hatian.
Itulah hukuman Allah di dunia bagi orang-orang kafir.
Sedang di akhirat kelak, Allah telah menyiapkan bagi mereka siksa yang menghinakan.

[1] Kelompok lahiqah adalah kelompok yang mengerjakan bagian awal salat bersama imam dan menunda bagian akhir dengan mengerjakannya sendiri.
Sedang kelompok masbuqah adalah kelompok yang melakukan bagian akhir salat secara berjamaah bersama imam dan mengerjakan bagian awalnya sendiri.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan apabila kamu) hai Muhammad, hadir (di tengah-tengah mereka) sedangkan kamu khawatir terhadap musuh (lalu kamu hendak mendirikan salat bersama mereka) ini berlaku menurut kebiasaan Alquran dalam pola pembicaraan sehingga dengan demikian mafhumnya tidak berlaku (maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri, salat, bersamamu) sedangkan golongan lainnya mengundurkan diri (dan hendaklah mereka mengambil) artinya golongan yang berdiri salat bersamamu tadi (senjata-senjata mereka) bersama mereka.
(Dan apabila mereka sujud) artinya telah menyelesaikan salat satu rakaat (maka hendaklah mereka) yakni rombongan yang pertama tadi (pergi ke belakangmu) untuk menjaga musuh sampai salat selesai (dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum salat lalu salat bersamamu dan hendaklah mereka bersikap waspada dan membawa senjata mereka) bersama mereka sampai mereka menyelesaikan salat itu.
Dan hal ini pernah dilakukan Nabi ﷺ di lembah Nakhl, diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
(Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah) di waktu kamu mengerjakan salat (terhadap senjata dan harta bendamu lalu mereka menyerbu kamu sekaligus) yakni dengan menyerang dan menawan kamu.
Inilah yang menjadi sebab kenapa kamu disuruh membawa senjata.
(Dan tak ada salahnya bagimu meletakkan senjata-senjatamu kalau kamu mendapat gangguan dari hujan atau kamu dalam keadaan sakit) sehingga kamu tidak membawanya.
Ini menunjukkan wajibnya membawa senjata di kala tak ada halangan, dan merupakan salah satu di antara kedua pendapat Syafii.
Sedangkan pendapatnya yang kedua bahwa ini hanyalah sunah dan merupakan pendapat yang lebih kuat.
(Dan hendaklah kamu bersikap waspada) terhadap musuh, artinya selalulah dalam keadaan siap siaga menghadapi serangannya.
(Sesungguhnya Allah telah menyediakan bagi orang-orang kafir itu siksa yang menghinakan.)

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Bila kamu wahai Nabi sedang berada di medan perang dan kamu hendak mendirikan shalat bersama mereka, maka hendaknya sekelompok orang berdiri bersamamu untuk mendirikan shalat sedangkan kelompok yang lain menyiapkan senjata mereka.
Bila kelompok pertama sujud, maka hendaknya kelompok kedua dibelakang kalian dalam keadaan bersiap siaga menghadapi musuh.
Kelompok pertama menyempurnakan rakaat mereka yang kedua lalu mereka salam, kemudian kelompok kedua yang belum memulai shalat datang untuk bermakmum kepadamu di rakaat mereka yang pertama.
Kemudian mereka menyempurnakan sendiri rakaat mereka yang kedua.
Hendaknya mereka tetap waspada kepada musuh mereka dan menyiapkan senjata mereka.
Orang-orang yang mengingkari agama Allah itu ingin kalian lengah dari senjata dan perbekalan kalian sehingga mereka bisa menyerang kalian secara tiba-tiba dan menghabisi kalian.
Tidak ada dosa atas kalian saat itu bila kalian mendapatkan gangguan berupa hujan atau kalian dalam keadaan sakit untuk meninggalkan senjata-senjata kalian dengan tetap disertai kewaspadaan.
Sesungguhnya Allah telah menyiapkan bagi orang-orang yang mengingkari agama-Nya siksa yang menghinakan dan merendahkan mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Salat Khauf banyak ragamnya, karena sesungguhnya musuh itu adakalanya berada di arah kiblat, dan adakalanya berada di lain arah.
Salat itu adakalanya terdiri atas empat rakaat, adakalanya tiga rakaat (seperti salat Magrib), dan adakalanya dua rakaat (seperti salat Subuh dan salat Safar).
Kemudian adakalanya mereka melakukan salat dengan berjamaah, adakalanya perang sedang berkecamuk, sehingga mereka tidak dapat berjamaah, melainkan masing-masing salat sendirian dengan menghadap ke arah kiblat atau ke arah lainnya, baik dengan berjalan kaki ataupun berkendaraan.

Dalam keadaan perang sedang berkecamuk, mereka diperbolehkan berjalan dan memukul dengan pukulan yang bertubi-tubi, sedangkan mereka dalam salatnya.

Ada ulama yang mengatakan bahwa dalam keadaan perang sedang berkecamuk, mereka melakukan salatnya satu rakaat saja, karena berdasarkan kepada hadis Ibnu Abbas yang lalu tadi.
Hal ini dikatakan oleh Imam Ahmad ibnu Hambal.
Al-Munziri di dalam kitab Al-Hawasyi mengatakan bahwa pendapat ini dikatakan oleh Ata, Jabir, Al-Hasan, Mujahid, Al-Hakam, Qatadah, dan Hammad.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Tawus dan Ad-Dahhak.

Abu Asim Al-Abbadi meriwayatkan dari Muhammad ibnu Nasr Al-Marwazi, bahwa ia berpendapat salat Subuh dikembalikan menjadi satu rakaat dalam keadaan khauf (perang).
Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Hazm.

Ishaq ibnu Rahawaih mengatakan, "Adapun dalam keadaan pedang beradu, maka cukup bagimu satu rakaat dengan cara memakai isyarat saja.
Jika kamu tidak mampu, cukup hanya dengan sekali sujud karena salat adalah zikrullah."

Ulama lainnya mengatakan cukup hanya dengan sekali takbir saja.
Barangkali dia bermaksud satu rakaat, seperti yang dikatakan oleh Imam Ahmad ibnu Hambal dan murid-muridnya.
Hal yang sama dikatakan oleh Jabir ibnu Abdullah, Abdullah ibnu Umar dan Ka'b serta lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan sahabat, juga As-Saddi, menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir.

Akan tetapi, orang-orang yang meriwayatkan pendapat ini hanya meriwayatkan berdasarkan makna lahiriahnya saja, yaitu menilai cukup salat khauf hanya dengan sekali takbir, seperti yang dikatakan oleh mazhab Ishaq ibnu Rahawaih.
Hal yang sama dikatakan pula oleh Al-Amir Abdul Wahhab ibnu Bukht Al-Makki.
Bahkan ia berani mengatakan, "Jika ia tidak mampu melakukan takbir, janganlah ia meninggalkan salat dalam hatinya, cukup hanya dengan niat." Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Sa'id ibnu Mansur di dalam kitab sunannya, dari Ismail ibnu Ayyasy, dari Syu'aib ibnu Dinar.

Di antara ulama ada yang membolehkan mengakhirkan salat karena uzur peperangan dan sibuk menghadapi musuh, seperti yang dilakukan oleh Nabi ﷺ, beliau mengakhirkan salat Lohor dan Asar dalam Perang Ahzab dan mengerjakannya sesudah Magrib.
Kemudian beliau melakukan salat Magrib dan Isya sesudahnya.
Juga seperti yang disabdakannya sesudah itu (yakni dalam Perang Bani Quraizah) ketika beliau mempersiapkan pasukan kaum muslim untuk menghadapi mereka.
Beliau ﷺ bersabda:

Jangan sekali-kali seseorang di antara kalian salat Asar, melainkan di tempat Bani Quraizah!

Waktu salat datang ketika mereka berada di tengah jalan.
Maka sebagian dari mereka mengatakan bahwa yang dimaksud oleh Rasulullah ﷺ hanyalah agar kita berjalan dengan cepat, bukan bermaksud agar kita mengakhirkan salat dari waktunya.
Maka golongan ini mengerjakan salat Asar tepat pada waktunya di tengah jalan.

Sedangkan golongan lain dari mereka mengakhirkan salat Asar, lalu mereka mengerjakannya di tempat Bani Quraizah sesudah salat Magrib.
Akan tetapi, Rasulullah ﷺ tidak menegur salah satu dari kedua golongan tersebut.

Kami membahas masalah ini di dalam kitab Sirah, dan menerangkan pula bahwa orang-orang yang mengerjakan salat Asar pada waktunya lebih dekat kepada kebenaran daripada kenyataannya, sekalipun golongan yang lain dimaafkan.
Hujah mereka yang menyebabkan mereka mengakhirkan salat Asar dari waktunya ialah uzur, karena mereka sedang dalam rangka jihad dan mengadakan serangan cepat terhadap segolongan orang-orang Yahudi yang terkutuk, disebabkan mereka melanggar perjanjian.

Menurut pendapat jumhur ulama, semuanya itu dimansukh oleh salat khauf, karena sesungguhnya ayat salat khauf masih belum diturunkan ketika terjadi peristiwa itu.
Setelah ayat salat khauf diturunkan, maka mengakhirkan salat dimansukh olehnya.
Hal ini lebih jelas dalam hadis Abu Sa'id Al-Khudri yang diriwayatkan oleh Imam Syafii dan ahlus sunan.

Akan tetapi, hal ini sulit bila diselaraskan dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari di dalam kitab sahihnya, yaitu dalam Bab "Salat di Saat Mengepung Benteng dan Bersua dengan Musuh".
Disebutkan bahwa Al-Auza'i mengatakan, "Jika kemenangan berada di tangan dan mereka tidak mampu melakukan salat, hendaklah mereka salat dengan memakai isyarat, masing-masing orang mengerjakannya sendiri-sendiri.
Jika mereka tidak mampu memakai isyarat, hendaklah mereka mengakhirkan salat sampai peperangan terhenti atau situasi aman dan terkendali, baru mereka melakukan salatnya dua rakaat.
Jika dua rakaat tidak mampu mereka kerjakan, maka cukup dengan satu rakaat dan dua kali sujud.
Jika hal itu tidak mampu juga mereka kerjakan (karena keadaan masih sangat genting), maka tidak cukup bagi mereka mengerjakan salatnya hanya dengan takbir, melainkan mereka harus mengakhirkannya hingga keadaan benar-benar aman." Hal ini dikatakan oleh Makhul.

Anas ibnu Malik mengatakan, ia ikut mengepung Benteng Tustur di saat fajar menyingsing, lalu pecahlah perang dengan serunya, hingga pasukan kaum muslim tidak dapat melakukan salat Subuh.
Maka kami tidak mengerjakannya kecuali setelah matahari tinggi, lalu baru kami berkesempatan mengerjakannya, saat itu kami berada di bawah pimpinan Abu Musa.
Akhirnya kami beroleh kemenangan dan berhasil merebut Benteng Tustur.

Sahabat Anas mengatakan, "Tidaklah aku gembira bila salat tersebut ditukar dengan dunia dan semua yang ada padanya." Demikianlah menurut apa yang diketengahkan oleh Imam Bukhari.

Selanjutnya Imam Bukhari mengiringinya dengan hadis tentang mengakhirkan salat di saat Perang Ahzab.
Menyusul hadis perintah Nabi ﷺ kepada pasukan kaum muslim yang mengatakan bahwa mereka jangan mengerjakan salat Asar kecuali di tempat Bani Quraizah, seakan-akan Imam Bukhari memilih pendapat ini.

Bagi orang yang cenderung kepada pendapat ini boleh meniru apa yang telah dilakukan oleh Abu Musa dan teman-temannya pada waktu penaklukan Benteng Tustur, karena sesungguhnya hal ini menurut kebanyakan ulama telah dikenal.
Akan tetapi, peristiwa tersebut terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Umar ibnul Khattab, dan tiada suatu nukilan pun yang menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Abu Musa dan teman-temannya diprotes oleh seseorang dari kalangan sahabat.

Para ulama mengatakan bahwa salat khauf disyariatkan pada saat Perang Khandaq, karena Perang Zatur Riqa' terjadi sebelum Perang Khandaq menurut kebanyakan ulama Sirah dan Magazi.
Di antara mereka yang me-nas-kan demikian ialah Muhammad ibnu Ishaq, Musa ibnu Uqbah, Al-Waqidi, Muhammad ibnu Sa'd (juru tulisnya), dan Khalifah ibnul Khayyat serta lain-lainnya.

Lain halnya dengan Imam Bukhari dan lain-lainnya.
Mereka mengatakan bahwa Perang Zatur Riqa' terjadi sesudah Perang Khandaq, karena berdasarkan kepada hadis Abu Musa dan hadis lainnya yang disebut di atas, kecuali Perang Khaibar.

Tetapi yang sangat mengherankan sekali ialah apa yang dikatakan oleh Al-Muzani, Abu Yusuf Al-Qadi, dan Ibrahim ibnu Ismail ibnu Ulayyah.
Mereka berpendapat bahwa salat khauf telah dimansukh oleh perintah Nabi ﷺ yang mengakhirkan salat dalam Perang Khandaq.
Pendapat ini sangat aneh, karena terbukti melalui banyak hadis bahwa salat khauf terjadi sesudah Perang Khandaq.

Sebagai jalan keluarnya menginterpretasikan pengertian mengakhirkan salat pada hari itu menurut apa yang dikatakan oleh Makhul dan Al-Auza'i lebih kuat dan lebih dekat kepada kebenaran.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka.

Maksudnya, apabila kamu salat bersama mereka sebagai imam dalam salat khauf.
Hal ini bukan seperti keadaan yang pertama tadi, karena pada keadaan pertama salat di-qasar-kan (dipendekkan) menjadi satu rakaat, seperti yang ditunjukkan oleh makna hadisnya, yaitu sendiri-sendiri, sambil berjalan kaki ataupun berkendaraan, baik menghadap ke arah kiblat ataupun tidak, semuanya sama.

Kemudian disebutkan keadaan berjamaah dengan bermakmum kepada seorang imam, alangkah baiknya pengambilan dalil yang dilakukan oleh orang-orang yang mewajibkan salat berjamaah berdasar-kan ayat yang mulia ini, mengingat dimaafkan banyak pekerjaan karena jamaah.
Seandainya berjamaah tidak wajib, maka hal tersebut pasti tidak diperbolehkan.

Adapun orang yang menyimpulkan dalil dari ayat ini, bahwa salat khauf dimansukh sesudah Nabi ﷺ, karena berdasarkan kepada firman-Nya: Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka.

Dengan pengertian ini, berarti gambaran salat tersebut terlewatkan olehnya, dan cara penyimpulan dalil seperti ini lemah.
Dapat pula disanggah dengan sanggahan semisal perkataan orang-orang yang tidak mau berzakat, yaitu mereka yang beralasan kepada firman-Nya yang mengatakan:

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kalian membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka.
Sesungguhnya doa kamu itu menjadi ketenteraman jiwa bagi mereka.
(At Taubah:103)

Mereka mengatakan bahwa kami tidak mau membayar zakat kepada siapa pun sesudah Nabi ﷺ, melainkan kami akan mengeluarkannya dengan tangan kami sendiri untuk diberikan kepada orang-orang yang akan kami beri.
Kami tidak akan memberikannya kepada siapa pun kecuali kepada orang yang doanya menjadi ketenteraman jiwa bagi kami.

Sekalipun alasan mereka demikian, para sahabat menyanggah dan menyangkal alasan mereka, dan tetap memaksa untuk membayar zakatnya serta memerangi orang-orang dari kalangan mereka yang membangkang, tidak mau membayar zakat.

Dalam pembahasan berikut akan kami ketengahkan terlebih dahulu asbabun nuzul ayat ini sebelum menerangkan sifat (gambaran)nya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Ibnul Musanna, telah menceritakan kepadaku Ishaq, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Hasyim, telah menceritakan kepada kami Saif, dari Abu Rauq, dari Abu Ayyub, dari Ali r.a.
yang menceritakan bahwa suatu kaum dari kalangan Bani Najjar bertanya kepada Rasulullah ﷺ Mereka mengatakan, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami sering bepergian di muka bumi.
Bagaimanakah caranya kami menunaikan salat?"
Maka Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya: Dan apabila kalian bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kalian meng-qasar salat (kalian).
(An Nisaa:101) Kemudian wahyu terhenti.
Satu tahun kemudian Nabi ﷺ melakukan peperangan lagi dan salat Lohor dalam peperangan itu.
Maka orang-orang musyrik berkata (dengan sesama mereka), "Sesungguhnya Muhammad dan sahabat-sahabatnya memberikan kesempatan kepada kalian punggung mereka, mengapa kalian tidak segera menyerang mereka dari belakang?"
Lalu seseorang dari mereka ada yang berkata, "Sesungguhnya masih ada segolongan lagi dari mereka yang berada di belakangnya melindungi mereka." Ali r.a.
melanjutkan kisahnya, bahwa Allah subhanahu wa ta'ala.
menurunkan firman-Nya di antara kedua salat (Lohor dan Asar), yaitu: jika kalian takut diserang orang-orang kafir.
(An Nisaa:101), hingga akhir ayat berikutnya.
Maka turunlah ayat mengenai salat khauf.

Konteks hadis ini garib, tetapi sebagian darinya ada syahid (penguat)nya yang diketengahkan melalui riwayat Abu Ayyasy Az-Zuraqi, nama aslinya ialah Zaid ibnus Samit Az-Zuraqi r.a.
yang ada pada Imam Ahmad dan Ahli Sunan.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdur-Razzaq, telah menceritakan kepada kami As-Sauri, dari Mansur, dari Mujahid, dari Abu Ayyasy Az-Zuraqi yang menceritakan, "Ketika kami bersama-sama Rasulullah ﷺ di Asfan, orang-orang musyrik yang di bawah pimpinan Khalid ibnul Walid (yang saat itu belum masuk Islam) datang hendak menyerang kami.
Posisi mereka terletak di antara kami dan arah kiblat.
Maka Rasulullah ﷺ melakukan salat Lohor bersama kami." Mereka (pasukan kaum musyrik) berkata, "Sesungguhnya mereka berada di dalam suatu posisi yang menguntungkan, seandainya saja kita menyerang mereka di saat mereka lengah." Kemudian mereka mengatakan pula, "Sekarang telah tiba saatnya bagi mereka suatu salat yang lebih mereka sukai daripada anak-anak dan diri mereka sendiri." Maka turunlah Malaikat Jibril di antara salat Lohor dan Asar dengan membawa ayat-ayat berikut, yaitu firman-Nya: Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka.
(An Nisaa:102) Ketika waktu salat tiba, Rasulullah ﷺ memerintahkan mereka untuk menyandang senjata, lalu membariskan kami di belakangnya menjadi dua saf.
Kemudian Nabi ﷺ rukuk, dan kami semua rukuk, lalu Nabi ﷺ mengangkat tubuhnya dari rukuk, kami pun melakukan hal yang sama semuanya.
Sesudah itu Nabi ﷺ sujud bersama saf yang berada di belakangnya, sedangkan saf berikutnya dalam keadaan tetap berdiri melakukan tugas penjagaan.
Setelah mereka sujud dan bangun, maka golongan yang lainnya duduk, lalu sujud menggantikan mereka yang telah sujud.
Kemudian saf kedua maju menggantikan kedudukan saf pertama, dan saf pertama mundur menggantikan kedudukan saf yang kedua.
Lalu Nabi ﷺ rukuk, maka mereka semuanya rukuk, dan Nabi ﷺ mengangkat kepalanya dari rukuk, maka mereka mengangkat kepalanya pula dari rukuknya.
Hal ini dilakukan mereka secara bersama-sama.
Kemudian Nabi ﷺ sujud bersama saf yang berada di belakangnya, sedangkan saf yang lain tetap berdiri menjaga mereka.
Setelah mereka duduk, maka saf yang lainnya duduk, lalu sujud.
Selanjutnya Nabi ﷺ salam bersama-sama mereka semua, dan selesailah salatnya.
Abu Ayyasy Az-Zuraqi mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ menjalankan salat ini dua kali, sekali di Asfan, dan yang lainnya di tanah tempat orang-orang Bani Sulaim.

Kemudian Imam Ahmad meriwayatkannya dari Gundar, dari Syu'bah, dari Mansur dengan sanad yang sama dan dengan lafaz yang semisal.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, dari Sa'id ibnu Mansur, dari Jarir ibnu Abdul Hamid.
Sedangkan Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Syu'bah dan Abdul Aziz ibnu Abdus Samad, semuanya dari Mansur dengan lafaz yang sama.

Sanad riwayat ini sahih dan mempunyai banyak syahid (penguat), antara lain ialah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepada kami Haiwah ibnu Syuraih, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Harb, dari Az-Zubaidi, dari Az-Zuhri, dari Abdullah ibnu Abdullah ibnu Atabah, dari Ibnu Abbas r.a.
yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ berdiri (untuk salat), lalu orang-orang berdiri pula bersamanya.
Nabi ﷺ bertakbir, maka mereka pun bertakbir mengikutinya, Nabi ﷺ rukuk, dan sebagian dari mereka rukuk bersamanya, kemudian Nabi ﷺ sujud yang diikuti oleh sebagian dari mereka.
Kemudian Nabi ﷺ berdiri untuk rakaat yang kedua, maka berdirilah orang-orang yang tadinya sujud bersamanya dan tetap berdiri menjaga saudara-saudara mereka yang belum salat.
Lalu golongan yang lainnya bergabung bersama Nabi ﷺ rukuk dan sujud bersamanya.
Semua pasukan berada dalam salat, tetapi sebagian dari mereka menjaga sebagian yang lainnya.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ibnu Basysyar, telah menceritakan kepada kami Mu'az ibnu Hisyam, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Qatadah, dari Sulaiman ibnu Qais Al-Yasykuri, bahwa ia pernah bertanya kepada Jabir ibnu Abdullah tentang mengqasar salat, bilakah diturunkan dan pada peristiwa apa?
Jabir menjawab, "Kami berangkat menghadap kafilah orang-orang Quraisy yang datang dari negeri Syam.
Ketika kami berada di Nakhlah (sedang beristirahat), maka datanglah seorang lelaki dari kalangan musuh kepada Rasulullah ﷺ (secara diam-diam), lalu bertanya dengan nada mengancam, 'Hai Muhammad, apakah kamu takut kepadaku?' Nabi ﷺ menjawab, Tidak.' Lelaki itu berkata lagi, "Siapakah yang akan mencegahku darimu?' Nabi ﷺ menjawab, 'Allah yang akan melindungiku darimu.' Maka pedang lelaki itu terjatuh, kemudian Nabi ﷺ berbalik mengancam dan memperingatinya.
Kemudian Nabi ﷺ memerintahkan agar semuanya berangkat dan menyandang senjatanya masing-masing.
Tetapi waktu salat tiba, maka diserukan untuk salat.
Rasulullah ﷺ salat dengan segolongan orang dari kaum, sedangkan kaum yang lain menjaga mereka yang sedang salat.
Rasulullah ﷺ salat bersama-sama saf yang ada di belakangnya sebanyak dua rakaat, kemudian mereka yang telah salat bersamanya mundur ke belakang, lalu kedudukan mereka digantikan oleh orang-orang yang belum salat, dan mereka menggantikan posisi orang-orang yang belum salat itu untuk menjaganya.
Lalu Nabi ﷺ salat bersama mereka dua rakaat lagi, kemudian Nabi ﷺ salam.
Dengan demikian, Nabi ﷺ melakukan salatnya sebanyak empat rakaat, sedangkan bagi masing-masing kaum dua rakaat.
Pada hari itulah Allah menurunkan wahyu yang menerangkan tentang qasar salat dan memerintahkan kepada orang-orang mukmin agar tetap membawa senjatanya."

Imam Ahmad meriwayatkannya pula.
Untuk itu ia mengatakan, telah menceritakan kepada kami Syuraih, telah menceritakan kepada kami Abu Uwwanah, dari Abu Bisyr, dari Sulaiman ibnu Qais Al-Yasykuri, dari Jabir ibnu Abdullah yang menceritakan bahwa Rasu¬lullah ﷺ berperang melawan orang-orang Hafsah.
Lalu datanglah seorang lelaki dari kalangan mereka yang dikenal dengan nama Gauras ibnul Haris, sehingga berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ dengan pedang yang terhunus, (saat itu Rasulullah ﷺ sedang istirahat).
Lalu ia berkata, "Siapakah yang akan melindungimu dariku?"
Nabi ﷺ menjawab, "Allah." Maka saat itu juga pedang terjatuh dari tangan Gauras.
Rasulullah ﷺ mengambil pedangnya, lalu berkata kepadanya, "Siapakah yang akan melindungimu dariku?"
Lelaki itu menjawab, "Semoga engkau adalah orang yang paling baik dalam membalas." Nabi ﷺ bersabda, "Maukah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan aku adalah utusan Allah?"
Lelaki itu menjawab, "Tidak.
Tetapi aku berjanji kepadamu, aku tidak akan memerangimu dan tidak akan membantu orang-orang yang memerangimu." Maka Rasulullah ﷺ melepaskannya.
Gauras kembali kepada kaumnya, lalu mengatakan kepada mereka, "Aku baru saja datang dari manusia yang paling baik." Ketika waktu salat tiba, Rasulullah ﷺ melakukan salat khauf, dan orang-orang dibagi menjadi dua golongan, segolongan berada di hadapan musuh, dan segolongan yang lain salat bersama Rasulullah ﷺ Maka Rasulullah ﷺ salat dua rakaat bersama-sama mereka, lalu mereka bersalam.
Sesudah itu mereka pergi dan menggantikan posisi golongan lain yang belum salat menghadapi musuh, sedangkan mereka yang tadinya berjaga menghadapi musuh, bergabung salat bersama Rasulullah ﷺ sebanyak dua rakaat.
Maka Rasulullah ﷺ melakukan salat empat rakaat, sedangkan bagi masing-masing kaum dua rakaat.

Hadis ini bila ditinjau dari segi sanadnya diriwayatkan oleh Imam Ahmad secara munfarid.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan, telah menceritakan kepada kami Abu Qatn (yaitu Amr ibnul Haisam), telah menceritakan kepada kami Al-Mas'udi, dari Yazid Al-Faqir yang menceritakan bahwa ia pernah bertanya kepada Jabir ibnu Abdullah tentang dua rakaat dalam perjalanan, apakah keduanya adalah salat qasar?
Jabir ibnu Abdullah menjawab, "Salat dua rakaat dalam perjalanan adalah salat yang sempurna.
Sesungguhnya yang dimaksud dengan qasar hanyalah di saat peperangan berkecamuk, yaitu satu rakaat.
Tatkala kami sedang bersama Rasulullah ﷺ dalam suatu peperangan, tiba-tiba salat didirikan.
Maka Rasulullah ﷺ membuat satu saf barisan yang terdiri atas segolongan kaum, sedangkan segolongan yang lain berada di hadapan musuh.
Maka Rasulullah ﷺ salat bersama mereka satu rakaat dan sujud sebanyak dua kali bersama mereka.
Kemudian orang-orang yang tidak ikut salat meninggalkan posisinya untuk menggantikan mereka yang telah salat, dan yang telah salat menggantikan posisi mereka yang belum salat.
Lalu mereka yang belum salat itu bersaf di belakang Rasulullah ﷺ, dan Rasulullah ﷺ salat bersama mereka satu rakaat serta sujud dua kali bersama-sama mereka.
Setelah itu Rasulullah ﷺ duduk (bertasyahhud) dan salam bersama orang-orang yang ada di belakangnya, dan salam pula mereka yang sedang dalam posisi berjaga.
Dengan demikian, berarti Rasulullah ﷺ salat dua rakaat, sedangkan masing-masing dari kedua kaum itu satu rakaat." Kemudian Jabir ibnu Abdullah membacakan firman-Nya: Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka.
(An Nisaa:102), hingga akhir ayat.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Al-Hakam, dari Yazid Al-Faqir, dari Jabir ibnu Abdullah, bahwa Rasulullah ﷺ salat bersama mereka (yaitu salat khauf).
Untuk itu Rasulullah ﷺ mengatur mereka menjadi dua saf, satu saf berada di hadapannya, dan saf yang lain berada di belakangnya.
Kemudian Rasulullah ﷺ salat satu rakaat bersama mereka yang ada di belakangnya dengan dua kali sujud.
Selanjutnya mereka yang telah salat maju ke depan dan menggantikan posisi teman mereka yang belum salat.
Lalu mereka yang belum salat datang dan menggantikan kedudukan mereka yang sudah salat, maka Nabi ﷺ salat bersama mereka satu rakaat lagi berikut dua kali sujud, setelah itu beliau salam.
Maka Nabi ﷺ melakukan salat dua rakaat, dan bagi mereka masing-masing satu rakaat.

Imam Nasai meriwayatkannya melalui hadis Syu'bah.
Hadis ini mempunyai jalur-jalur lain yang bersumber dari Jabir, dan di dalam kitab Sahih Muslim hadis ini diriwayatkan melalui sanad yang lain dan dengan lafaz yang lain pula.
Jamaah telah meriwayatkannya di dalam kitab-kitab sahih, musnad, dan sunan dari Jabir.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Na'im ibnu Hammad, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Mubarak, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya sehubungan dengan firman-Nya: Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu), lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka.
(An Nisaa:102) ia mengatakan, yang dimaksud adalah salat khauf.
Rasulullah ﷺ salat dengan salah satu golongan dari dua golongan yang ada sebanyak satu rakaat, sedangkan golongan yang lain menghadap ke arah musuh sambil berjaga-jaga.
Setelah itu golongan yang tadinya menghadapi musuh datang dan salat bersama Rasulullah ﷺ Rasulullah ﷺ salat satu rakaat lagi bersama mereka, kemudian salam.
Sesudah itu masing-masing dari kedua golongan melakukan salat sendiri-sen-diri masing-masing satu rakaat.

Hadis ini diriwayatkan oleh jamaah dalam kitab-kitab mereka melalui jalur Ma'mar dengan lafaz yang sama.
Hadis ini mempunyai banyak jalur periwayatan dari sejumlah sahabat.

Abu Bakar ibnu Murdawaih sehubungan dengan hadis ini mengetengahkan jalur-jalur dan lafaz-lafaznya dengan cara yang baik.
Hal yang sama dilakukan pula oleh Ibnu Jarir.
Hal ini akan kami catat di dalam Kitabul Ahkam Al-Kabir, insya Allah.

Perintah menyandang senjata dalam salat khauf, menurut segolongan ulama diinterpretasikan berhukum wajib karena berdasarkan kepada makna lahiriah ayat.
Pendapat ini merupakan salah satu dari kedua pendapat yang dikatakan oleh Imam Syafii.
Sebagai dalilnya ialah firman Allah subhanahu wa ta'ala.
yang mengatakan:

Dan tidak ada dosa atas kalian meletakkan senjata kalian, jika kalian mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kalian memang sakit, dan siap siagalah kalian (tetap waspadalah kalian).
(An Nisaa:102)

Dengan kata lain, tetap waspadalah kalian, karena sewaktu-waktu bila diperlukan, kalian pasti akan menyandangnya dengan mudah, tanpa susah payah lagi.

Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang yang kafir itu.
(An Nisaa:102)

Hadits Shahih Yang Berhubungan Dengan Surah An Nisaa' (4) ayat 102
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Muqatil Abu Al Hasan Telah mengabarkan kepada kami Hajjaj dari Ibnu Juraij berkata,
Telah mengabarkan kepadaku Ya'la dari Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas ra. mengenai firman Allah: Jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit (An Nisa: 102) Abdurrahman bin 'Auf berkata,
pada waktu itu beliau dalam keadaan terluka.

Shahih Bukhari, Kitab Tafsir Al Qur'an - Nomor Hadits: 4233

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nisaa' (4) Ayat 102

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ali bahwa kaum Banin Najjar bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Kami sering bepergian berniaga, bagaimanakah shalat kami?” Maka Allah menurunkan sebagian ayat ini (an-Nisaa’: 101) yang membolehkan shalat dikasar.
Wahyu tentang ayat ini kemudian terputus sampai,..
minash shalaah…(…shalat[mu]..).
Di dalam suatu peperangan yang terjadi setelah turunnya ayat di atas (an-Nisaa’: 101) , Rasulullah ﷺ mendirikan shalat dzuhur.
Di saat itulah kaum musyrikin berkata: “Muhammad dan teman-temannya memberikan kesempatan pada kita untuk menggempur dari belakang.
Tidakkah sebaiknya kita perhebat serbuan terhadap mereka sekarang ini?” Maka berkatalah yang lainnya: “Sebaiknya kita ambil kesempatan lain, karena nantipun mereka akan melakukan hal serupa di tempat yang sama.
Maka Allah menurunkan wahyu di antara kedua waktu shalat itu (dzuhur dan asyar) sebagai kelanjutan ayat ini (an-Nisaa’: 101) yaitu,…in khiftum…(…jika kamu takut…) sampai…’adzaabam muhiinaa…(azab yang menghinakan) (an-Nisaa’: 102), dan kemudian ayat shalat khauf (an-Nisaa’: 103).

Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Hakim –dishahihkan oleh al-Hakim-, serta al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, yang bersumber dari Ibnu ‘Iyasy az-Zurqi.
Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Abu Hurairah.
Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari Jabir bin ‘Abdillah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa ketika Rasulullah ﷺ bersama para shahabatnya di ‘Ashfan, datanglah serbuan dari kaum musyrikin, yang di antaranya terdapat Khalid bin al-Walid.
Mereka berada di arah kiblat.
Kemudian Nabi ﷺ mengimami shalat dzuhur.
Kaum musyrikin berkata: “Alangkah baiknya kalau kita bisa membunuh pimpinannya dalam keadaan demikian.” Yang lainnya berkata: “Sebentar lagi akan datang waktu shalat, dan mereka lebih mencintai shalat daripada anaknya ataupun dirinya sendiri.” Lalu turunlah Jibril, antara waktu dzuhur dan asyar, membawa ayat ini (an-Nisaa’: 102).

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas.
Bahwa turunnya ayat..
ing kaana bikum adzam mim matharin au kungtum mardlaa…(..jika kemu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit..) berkenaan dengan ‘Abdurrahman bin ‘Auf pada waktu menderita luka parah.
Ayat ini (an-Nisaa’: 102) memperingatkan kepada orang yang sakit/ luka yang tidak mampu menyandang senjata untuk tetap bersiap siaga.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nisaa' (4) Ayat 102

ASLIHAH
أَسْلِحَت

Lafaz ini adalah dalam bentuk jamak, mufradnya adalah as silah, ia dapat digunakan bagi mudzakkar dan muannats" Maksudnya ialah setiap yang dapat digunakan untuk membunuh atau berperang. Disebut juga sebagai senjata.

Dalam Kamus Dewan, senjata adalah alat yang digunakan untuk berperang atau berkelahi seperti keris, lembing, senapang dan lain-lain

Kata aslihah disebut empat kali di dalam Al Qur'an yaitu dalam ayat 102 surah An Nisaa. Pengertian bahasa lafaz aslihah bersesuaian dengan pendapat para mufassir.

Az Zamakhsyari berkata,
"Aslihah ialah senjata seperti pedang, tombak atau lembing dan selain dari keduanya"

Muhammad Rasyid Rida berkata,
"As silah ialah apa saja yang dapat digunakan untuk berperang dan membunuh seperti pedang, lembing, anak panah dari senjata-senjata pada zaman dahulu dan seperti senapan, pistol yaitu senjata pada zaman moden"

Ibn Abbas, berkata "Perintah mengambil senjata atau membawanya adalah bagi kelompok lain bagi menjaga orang yang sedang melakukan shalat."

Kesimpulannya, lafaz aslihah bermakna senjata.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:72-73

Informasi Surah An Nisaa' (النّساء)
Surat An Nisaa', yang terdiri dari 176 ayat itu, adalah surat Madaniyyah yang terpanjang sesudah surat Al Baqarah.

Dinamakan An Nisaa' karena dalam surat ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surat yang paling banyak membicarakan hal itu dibanding de­ngan surat-surat yang lain.

Surat yang lain yang banyak juga membicarakan tentang hal wanita ialah surat Ath Thalaaq.
Dalam hubungan ini biasa disebut surat An Nisaa' dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Al Kubraa" (surat An Nisaa' yang besar), sedang surat Ath Thalaaq disebut dengan sebutan:
"Surat An Nisaa' Ash Shughraa" (surat An Nisaa' yang kecil).

Keimanan:

Syirik (dosa yang paling besar) akibat kekafiran di hari kemudian.

Hukum:

Kewajiban para washi dan para wall
hukum poligami
mas kawin
memakan harta anak yatim dan orang-orang yang tidak dapat mengurus hartanya
pokok-pokok hukum warisan
perbuatan-perbuatan keji dan hukumannya,
wanita-wanita yang haram dikawini
hukum mengawini budak wanita
larangan memakan harta secara bathil
hukum syiqaq dan nusyuz
kesucian lahir batin dalam shalat
hukum suaka
hukum membunuh seorang Islam
shalat khauf'
larangan melontarkan ucap­an-ucapan buruk
masalah pusaka kalalah.

Kisah:

Kisah-kisah tentang nabi Musa a.s dan pengikutnya.

Lain-lain:

Asal manusia adalah satu
keharusan menjauhi adat-adat zaman jahiliyah dalam perlakuan terhadap wanita
norma-norma bergaul dengan isteri
hak seseorang sesuai dengan kewajibannya
perlakuan ahli kitab terhadap kitab-kitab yang ditu­runkan kepadanya
dasar-dasar pemerintahan
cara mengadili perkara
keharusan siap-siaga terhadap musuh
sikap-sikap orang munafik dalam menghadapi pepe­rangan
berperang di jalan Allah adalah kewajiban tiap-tiap mukalaf
norma dan adab dalam peperangan
cara menghadapi orang-orang munafik
derajat orang yang berjihad.


Gambar Kutipan Surah An Nisaa’ Ayat 102 *beta

Surah An Nisaa' Ayat 102



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nisaa'

Surah An-Nisa' (bahasa Arab:النسآء, an-Nisā, "Wanita") terdiri atas 176 ayat dan tergolong surah Madaniyyah.
Dinamakan An- Nisa (wanita) karena dalam surah ini banyak dibicarakan hal-hal yang berhubungan dengan wanita serta merupakan surah yang paling membicarakan hal itu dibanding dengan surah-surah yang lain.
Surah yang lain banyak juga yang membicarakan tentang hal wanita ialah surah At-Talaq Dalam hubungan ini biasa disebut surah An-Nisa dengan sebutan: Surah An-Nisa Al Kubra (surah An-Nisa yang besar), sedang surah At-Talaq disebut dengan sebutan: Surah An-Nisa As-Sughra (surah An-Nisa yang kecil).

Nomor Surah4
Nama SurahAn Nisaa'
Arabالنّساء
ArtiWanita
Nama lainAl-Nisa Al-Kubra (Surah Al-Nisa yang Besar)
Tempat TurunMadinah
Urutan Wahyu92
JuzJuz 4 (ayat 1-23), juz 5 (ayat 24-147), juz 6 (ayat 148-176)
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat176
Jumlah kata3764
Jumlah huruf16327
Surah sebelumnyaSurah Ali 'Imran
Surah selanjutnyaSurah Al-Ma'idah
4.4
Rating Pembaca: 4.4 (14 votes)
Sending