QS. An Najm (Bintang) – surah 53 ayat 11 [QS. 53:11]

مَا کَذَبَ الۡفُؤَادُ مَا رَاٰی
Maa kadzabal fu’aadu maa raa;

Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.
―QS. 53:11
Topik ▪ Bersandar kepada Allah
53:11, 53 11, 53-11, An Najm 11, AnNajm 11, An-Najm 11

Tafsir surah An Najm (53) ayat 11

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Najm (53) : 11. Oleh Kementrian Agama RI

Ayat ini menerangkan bahwa kebanyakan manusia menyangka bahwa ia telah menggambarkan apa yang dilihatnya, padahal hatinya belum yakin terhadap apa yang telah ia lihat, tidak demikian penglihatan dan keyakinan Muhammad ﷺ terhadap Jibril meskipun kedatangannya kepada Muhammad ﷺ kerap kali berbeda bentuknya, karena Muhammad ﷺ telah mengetahui bentuk yang aslinya.
Karena Allah subhanahu wa ta’ala menguatkan keterangan bahwa kedatangan Jibril menyamar dalam bentuk seorang sahabat yang bernama Dihyah al-Kalbi tidaklah menghilangkan ciri-cirinya karena Muhammad ﷺ pernah melihat bentuknya yang asli sebelum itu, yaitu di Gua Hira ketika menerima wahyu pertama, walaupun kemudian Jibril menampakkan diri lagi dengan rupa yang lain.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Hati Muhammad tidak mengingkari apa yang dilihat oleh matanya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Tiada mendustakan) dapat dibaca Kadzaba atau Kadzdzaba, artinya tiada mengingkari (hati) atau kalbu Nabi ﷺ (apa yang telah dilihatnya) dengan mata kepalanya sendiri tentang rupa malaikat Jibril.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa’id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid, dari Musa ibnu Ubaidah, dari Muhammad ibnu Ka’b yang mengatakan bahwa para sahabat pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Engkau pernah melihat Tuhanmu?”
Maka beliau ﷺ menjawab: Aku melihat-Nya dengan pandangan hatiku sebanyak dua kali.
Kemudian Rasulullah ﷺ membaca firman-Nya: Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.
(Q.S. An-Najm [53]: 11)

Ibnu Jarir meriwayatkan hadis ini dari Ibnu Humaid, dari Mahran, dari Musa ibnu Ubaidah, dari Muhammad ibnu Ka’b, dari sebagian sahabat Nabi ﷺ yang menceritakan bahwa kami bertanya, “Wahai Rasulullah ﷺ, apakah engkau pernah melihat Tuhanmu?”
Rasulullah ﷺ menjawab: Aku tidak melihat-Nya dengan mataku, tetapi aku melihat-Nya dengan mata hatiku sebanyak dua kali.
Kemudian beliau ﷺ membaca firman-Nya: Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat (lagi).
(Q.S. An-Najm [53]: 8)

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan pula kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdullah Al-Ansari, telah menceritakan kepadaku Abbad ibnu Mansur yang mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ikrimah tentang makna firman-Nya: Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.
(Q.S. An-Najm [53]: 11) Maka Ikrimah menjawab, “Apakah engkau ingin agar aku menceritakan kepadamu bahwa beliau ﷺ pernah melihat-Nya?”
Aku menjawab, “Ya.” Ikrimah berkata, “Benar, beliau telah melihat-Nya, kemudian melihat-Nya lagi.” Abbad ibnu Mansur mengatakan bahwa lalu ia bertanya kepada Al-Hasan tentang masalah ini.
Maka Al-Hasan menjawab, bahwa Nabi ﷺ pernah melihat Keagungan, Kebesaran, dan Kemuliaan-Nya.

Telah menceritakan pula kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mujahid, telah menceritakan kepada kami Abu Amir Al-Aqdi, telah menceritakan kepada kami Abu Khaldah, dari Abul Aliyah yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya, “Apakah engkau pernah melihat Tuhanmu?”
Nabi ﷺ menjawab: Aku melihat sungai, dan aku melihat di balik sungai ada hijab, dan aku melihat di balik hijab ada nur (cahaya); aku tidak melihat selain itu.

Hadis ini garib sekali.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Aswad ibnu Amir, telah menceritakan kepada kami Hammad ibnu Salamah, dari Qatadah, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas r.a.
yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda: Aku telah melihat Tuhanku.

Maka sesungguhnya hadis ini sanadnya dengan syarat sahih, tetapi hadis ini merupakan ringkasan dari hadis Manam (mimpi Nabi ﷺ), seperti yang juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad; disebutkan bahwa:

telah menceritakan kepada kami Abdur Razzaq, telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ayyub dari Abu Qilabah, dari Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah ﷺ telah bersabda: bahwa Tuhannya datang kepadanya dalam penampilan yang terbaik —yakni dalam mimpinya—.
Lalu Tuhan berfirman, “Hai Muhammad, tahukah kamu mengapa mala’ul a’la (para malaikat penghuni langit) berselisih?”
Aku (Nabi ﷺ) menjawab, “Tidak.” Lalu Allah meletakkan tangan -Nya di antara kedua tulang belikatku, hingga aku merasakan kesejukannya menembus sampai kepada kedua susuku, atau leherku, maka sejak itu aku mengetahui semua yang ada di langit dan semua yang ada di bumi.
Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Hai Muhammad, tahukah kamu, apakah yang diperselisihkan oleh al-mala’ul a’la?
Aku menjawab, “Ya, mereka berselisih tentang kifarat-kifarat dan derajat-derajat.” Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Hai Muhammad, apakah kifarat itu?”
Aku menjawab, “Diam di masjid seusai menunaikan tiap-tiap salat (fardu), berjalan melangkahkan kaki menuju ke tempat-tempat salat berjamaah, dan menyempurnakan wudu di saat-saat yang tidak disukai.
Barang siapa yang mengerjakan hal tersebut, niscaya hidup dengan baik dan mati dengan baik, sedangkan mengenai dosa-dosanya (diampuni hingga) seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.” Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Hai Muhammad, apabila engkau salat, ucapkanlah doa ini, ‘Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada Engkau kekuatan untuk mengerjakan amal-amal kebaikan dan menghindari kemungkaran-kemungkaran dan menyukai orang-orang miskin.
Dan apabila Engkau hendak menimpakan cobaan kepada hamba-hamba-Mu, cabutlah aku kembali ke sisi-Mu dalam keadaan tidak terkena cobaan’.” Nabi ﷺ bersabda, “Dan derajat-derajat itu ialah memberi makan (kaum fakir miskin), menyebarkan salam, dan mengerjakan salat di malam hari di saat manusia tenggelam dalam tidurnya.”

Hal yang semisal telah diriwayatkan dari Mu’az dalam tafsir surat Sad.

Ibnu Jarir meriwayatkan hadis ini melalui jalur lain dari Ibnu Abbas dengan teks yang berbeda dan disertai tambahan yang garib.
Untuk itu Ibnu Jarir mengatakan:

telah menceritakan kepadaku Ahmad ibnu Isa At-Tamimi, telah menceritakan kepadaku Sulaiman ibnu Umar Ibnu Sayyar, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Sa’id ibnu Zurabi, dari Umar ibnu Sulaiman, dari Ata, dari Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda, “Aku pernah melihat Tuhanku dalam penampilan yang terbaik, lalu Dia berfirman kepadaku, ‘Hai Muhammad, tahukah kamu apakah yang diperselisihkan oleh al-mala’ul a’la?
Aku menjawab, ‘Tidak, wahai Tuhanku,’ lalu Dia meletakkan tangan -Nya di antara kedua tulang belikatku, maka aku merasakan kesejukannya menembus sampai ke susuku (dadaku), dan aku mengetahui semua yang terjadi di langit dan yang di bumi.
Lalu aku berkata, ‘Ya Tuhanku, mereka berselisih tentang derajat-derajat dan kifarat-kifarat; melangkahkan kaki menuju ke salat Jumat, dan menunggu datangnya waktu salat lain sesudah menunaikan salat.’ Aku berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menjadikan Ibrahim sebagai khalil (kekasih)-Mu, dan Engkau telah berbicara langsung kepada Musa, dan Engkau telah melakukan anu dan anu.’ Maka Allah subhanahu wa ta’ala menjawab, ‘Bukankah Aku telah melapangkan dadamu, bukankah Aku telah menghapus semua dosamu, dan bukankah Aku telah melakukan anu untukmu dan bukankah Aku telah melakukan anu untukmu?’ Lalu Allah subhanahu wa ta’ala membukakan bagiku banyak hal yang Dia tidak memberi izin kepadaku menceritakannya kepada kalian.”

Ibnu Abbas mengatakan bahwa itulah yang dimaksud oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala dalam Kitab-Nya yang mengatakan: Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi).
Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan.
Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.
(Q.S. An-Najm [53]: 8-11)

Maka Dia menjadikan cahaya penglihatanku ke dalam hatiku, dan aku melihat-Nya dengan hatiku.

Tetapi hadis ini daif.

Al-Hafiz ibnu Asakir telah meriwayatkan berikut sanadnya sampai kepada Hubar ibnul Aswad r.a., bahwa Atabah ibnu Abu Lahab ketika berangkat menuju negeri Syam dalam misi dagangnya, sebelumnya ia mengatakan kepada penduduk Mekah, “Ketahuilah, bahwa aku tidak percaya dengan malaikat yang mendekat, lalu bertambah dekat lagi.” Kemudian perkataannya itu sampai terdengar oleh Rasulullah ﷺ, maka beliau bersabda, “Allah akan melepaskan salah seekor dari singa-singa­Nya untuk menyerangnya.” Hubar mengatakan bahwa ia ada bersama kafilah yang menuju ke negeri Syam itu, lalu kami beristirahat di suatu tempat yang terkenal banyak singanya.
Hubar menceritakan bahwa ia benar-benar melihat ada seekor singa yang datang, kemudian singa itu mengendus kepala tiap-tiap orang dari kaum seorang demi seorang, hingga sampailah pada Atabah, lalu ia langsung menyambar kepalanya di antara mereka.

Ibnu Ishaq dan lain-lainnya menyebutkan di dalam kitab Sirah, bahwa peristiwa itu terjadi di Az-Zarqa, dan menurut pendapat yang lain di As-Surrah.
Disebutkan bahwa malam itu Atabah dicekam oleh rasa takut, lalu mereka menempatkan Atabah di tengah-tengah di antara mereka; mereka tidur di sekelilingnya.
Lalu datanglah seekor singa dan mengaum, kemudian melangkahi mereka semua menuju ke tempat Atabah dan langsung menyambar kepalanya.


Informasi Surah An Najm (النجم)
Surat An Najm terdiri atas 62 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al lkhlash.

Nama “An Najm” (Bintang), diambil dari perkataan “An Najm” yang terdapat pada ayat pertama surat ini.
Allah bersumpah dengan “An Najm” (bintang) adalah karena bintang-bintang yang timbul dan tenggelam, amat besar manfaatnya bagi manusia sebagai pedoman bagi manusia dalam melakukan pelayaran di lautan, dalam perjalanan di padang pasir, untuk menentukan peredaran musim dan sebagainya.

Keimanan:

Al Qur’an adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dengan perantaraan Jibril a.s.
kebatilan penyembah berhala
tak ada seseorangpun memberi syafa’at tanpa izin Allah
tiap-tiap orang hanya memikul dosanya sendiri.

Hukum:

Kewajiban menjauhi dosa-dosa besar
kewajiban bersujud dan menyembah Allah saja

Lain-lain:

Nabi Muhammad ﷺ melihat malaikat Jibril 2 kali dalam bentuk aslinya, yaitu sekali waktu menerima wahyu pertama dan sekali lagi di Sidratul Muntaha
anjuran supaya manusia jangan mengatakan dirinya suci karena Allah sendirilah yang mengetahui siapa yang takwa kepada-Nya
orang-orang musyrik selalu memperolok­olokkan Al Qur’an

Ayat-ayat dalam Surah An Najm (62 ayat)

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Najm (53) ayat 11 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Najm (53) ayat 11 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Najm (53) ayat 11 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Najm - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 62 & Terjemahan


Gambar



Statistik Q.S. 53:11
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Najm.

SuraH An-Najm (bahasa Arab :النّجْم) adalah surah ke-53 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 62 ayat, termasuk golongan surah-surah Makkiyah dan diturunkan sesudah surah Al-Ikhlas.
Nama An Najm yang berarti bintang, diambil dari perkataan An Najm yang terdapat pada ayat pertama surat ini.

Nomor Surah 53
Nama Surah An Najm
Arab النجم
Arti Bintang
Nama lain -
Tempat Turun Mekkah
Urutan Wahyu 23
Juz Juz 27
Jumlah ruku' 3 ruku'
Jumlah ayat 62
Jumlah kata 359
Jumlah huruf 1432
Surah sebelumnya Surah At-Tur
Surah selanjutnya Surah Al-Qamar
4.4
Ratingmu: 4.4 (14 orang)
Sending









Iklan

Video

Panggil Video Lainnya


Ikuti RisalahMuslim
               





Copied!

Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta


Ikuti RisalahMuslim