Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nahl

An Nahl (Lebah) surah 16 ayat 92


وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّتِیۡ نَقَضَتۡ غَزۡلَہَا مِنۡۢ بَعۡدِ قُوَّۃٍ اَنۡکَاثًا ؕ تَتَّخِذُوۡنَ اَیۡمَانَکُمۡ دَخَلًۢا بَیۡنَکُمۡ اَنۡ تَکُوۡنَ اُمَّۃٌ ہِیَ اَرۡبٰی مِنۡ اُمَّۃٍ ؕ اِنَّمَا یَبۡلُوۡکُمُ اللّٰہُ بِہٖ ؕ وَ لَیُبَیِّنَنَّ لَکُمۡ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ مَا کُنۡتُمۡ فِیۡہِ تَخۡتَلِفُوۡنَ
Walaa takuunuu kaallatii naqadhat ghazlahaa min ba’di quu-watin ankaatsan tattakhidzuuna aimaanakum dakhalaa bainakum an takuuna ummatun hiya arba min ummatin innamaa yabluukumullahu bihi walayubai-yinanna lakum yaumal qiyaamati maa kuntum fiihi takhtalifuun(a);

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain.
Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu.
Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.
―QS. 16:92
Topik ▪ Mempersiapkan diri menghadapi hari kiamat
16:92, 16 92, 16-92, An Nahl 92, AnNahl 92, An-Nahl 92
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 92. Oleh Kementrian Agama RI

Dalam ayat ini Allah mengumpamakan orang yang melanggar perjanjian dan sumpah itu sebagai seorang wanita yang mengurai benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali.
Demikian itu adalah gambaran tingkah laku orang gila dan orang bodoh.

Pelanggaran terhadap baiat perjanjian atau sumpah berarti menjadikan sumpah sebagai alat penipuan sesama manusia.
Sebab bilamana suatu golongan atau seseorang mengadakan ikatan perjanjian dengan golongan lain yang lebih besar dan kuat dari pada dia dengan maksud menenteramkan hati golongan yang besar itu kemudian jika ada kemungkinan mengkhianati perjanjian itu, dia akan mengkhianatinya, maka tingkah laku seperti demikian itu dipandang suatu penipuan.

Allah subhanahu wa ta'ala melarang tingkah laku demikian.
Perbuatan demikian itu perbuatan bodoh dan gila, walaupun dia dari golongan yang kecil berhadapan dengan golongan yang besar.

Lebih terlarang lagi jika golongan besar membatalkan perjanjian terhadap golongan yang lebih kecil.
Diriwayatkan oleh Muawiyah, Khalifah pertama Daulat Bani Umaiyah, mengikat perjanjian damai dengan Kaisar Romawi dalam jangka tertentu.
Menjelang akhir perjanjian damai tersebut, Muawiyah membawa pasukannya ke perbatasan dengan rencana bila saat perjanjian itu berakhir dia langsung akan menyerang.
Maka berkatalah seorang sahabat kepadanya, namanya Amru bin Anbisah: "Allahu Akbar wahai Muawiyah, tepatilah janji, jangan khianat, aku dengar Rasulullah ﷺ bersabda:

Barangsiapa ada perjanjian waktu di antara dia dengan golongan lain, maka sekali-kali janganlah dia membatalkan perjanjian itu sampai habis waktunya.

Setelah Muawiyah mendengarkan peringatan temannya itu, diapun pulang membawa kembali pasukannya.
Demikianlah Islam menetapkan ketentuan-ketentuan dalam tata pergaulan antara manusia untuk menguji di antara mereka siapakah yang paling kuat berpegang kepada perjanjian yang mereka adakan sendiri.
Baik perjanjian itu kepada Allah dan Rasul Nya seperti baiat, ataupun kepada sesama manusia.
Pada hari kiamat kelak akan menjadi kenyataan, mana yang hak, mana yang batal dan mana yang jujur, mana yang khianat.
Segala perselisihan akan dijelaskan, masing-masing akan mendapat ganjaran dari Allah subhanahu wa ta'ala

An Nahl (16) ayat 92 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nahl (16) ayat 92 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nahl (16) ayat 92 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Janganlah kalian--dalam mengingkari sumpah setelah sumpah itu dikukuhkan--seperti perempuan gila yang sedang menenun dengan tekun, hingga ketika telah menjadi kain, tenunan itu dirusaknya kembali hingga bercerai berai.
Sementara itu pula kalian menjadikan sumpah sebagai alat untuk menipu dan memperdayai kelompok lain karena kalian merasa lebih banyak dan lebih kuat dari mereka, atau dengan tujuan memihak kelompok lain yang menjadi musuh mereka karena kelompok baru itu lebih kuat.
Atau kalian bermaksud mencari kekuatan dengan cara berkhianat.
Ketahuilah, bahwa semua itu adalah ujian dari Allah.
Apabila kalian memilih untuk menepati janji, maka kalian akan mendapat keuntungan dunia-akhirat.
Sebaliknya jika kalian memilih berkhianat, kalian akan merugi.
Di hari kiamat Allah akan menjelaskan persoalan-persoalan yang kalian perselisihkan di dunia selama ini dan akan memberi balasan sesuai amal perbuatan kalian[1].

[1] Kedua ayat di atas memberikan pernyataan bahwa asas hubungan antar muslim dan non muslim, selain keadilan, adalah menepati janji.
Kedua ayat ini pun menegaskan bahwa hubungan antarnegara hanya bisa terjalin dengan menepati janji, dan bahwa negara- negara Islam, setiap kali mengadakan perjanjian selalu didasarkan pada penyebutan nama Allah yang mengandung janji dan jaminan- Nya.
Ada tiga hal yang jika dilaksanakan oleh negara-negara di dunia, maka cita-cita perdamaian akan tercapai.
Pertama, perjanjian antarnegara yang telah dibuat bersama tidak dibenarkan sama sekali untuk dijadikan sebagai alat menipu.
Dan upaya penipuan selamanya tidak dapat dibenarkan dalam hubungan kemanusiaan secara total, baik pada tataran individu, masyarakat dan bangsa.
Kedua, menepati janji adalah sebuah kekuatan.
Sehingga siapa pun pihak yang melanggar perjanjian, sama artinya merobohkan unsur- unsur kekuatan yang telah dibangunnya, persis seperti perempuan bodoh yang merusak tenunannya sendiri setelah selesai.
Ketiga, melanggar perjanjian adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun seperti upaya membangun kekuatan sendiri, melegitimasi tindakan-tindakan ekspansif dan sebagainya.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang menguraikan) merusak (benangnya) hasil apa yang telah dipintalnya (yang sudah dipintal dengan kuat) sudah dijadikan benang (menjadi cerai-berai kembali) lafal ankaatsan berkedudukan menjadi hal, bentuk jamak daripada lafal naktsun, artinya mencerai-beraikan benang yang sudah dipintal kuat.
Hal ini merupakan gambaran tentang seorang wanita penduduk kota Mekah, ia setiap hari memintal benang, tetapi sesudah benang itu jadi, lalu ia uraikan kembali, wanita itu dikenal sebagai wanita yang tolol (kalian menjadikan) lafal tattakhidzuuna menjadi hal dari dhamir lafal takuunuu, artinya janganlah kalian seperti wanita yang tolol itu, yaitu kalian menjadikan (sumpah kalian sebagai alat penipu) arti dakhalan ialah memasukkan sesuatu bukan pada tempatnya dan ia bukan merupakan bagian daripadanya, makna yang dimaksud ialah menimbulkan kerusakan atau tipu muslihat (di antara kalian) seumpamanya kalian merusak sumpah itu (disebabkan) lafal an di sini asalnya lian (adanya satu golongan) satu kelompok (yang lebih banyak) jumlahnya (dari golongan yang lain).
Disebutkan bahwa mereka mengadakan sumpah perjanjian pertahanan dengan suatu golongan, tetapi bila mereka melihat ada golongan yang lain yang lebih kuat dan lebih banyak jumlahnya, lalu mereka merusak dan membatalkan perjanjiannya dengan golongan yang pertama itu, kemudian mereka mengadakan perjanjian pertahanan dengan golongan yang baru dan yang lebih kuat itu.
(Sesungguhnya kalian dicoba) diuji (oleh Allah dengannya) yakni dengan perintah supaya kalian memenuhi sumpah, agar Dia melihat siapakah yang taat di antara kalian dan siapa yang durhaka.
Atau membuat suatu umat yang kuat agar Dia melihat apakah mereka memenuhi janjinya atau tidak.
(Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepada kalian apa yang dahulu kalian perselisihkan itu) sewaktu di dunia menyangkut masalah sumpah dan masalah-masalah lainnya, kelak Dia akan mengazab orang yang melanggar sumpahnya dan akan memberi pahala kepada orang yang memenuhinya.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Janganlah kalian membatalkan janji kalian, sehingga perumpamaan kalian seperti perempuan yang memintal benang dengan kuat, kemudian ia menguraikannya.
Kalian menjadikan sumpah-sumpah yang kalian ucapkan ketika mengadakan perjanjian sebagai alat penipu terhadap orang-orang yang kalian mengadakan perjanjian dengan mereka.
Kalian membatalkan janji, ketika kalian mendapati suatu kelompok yang lebih banyak harta dan manfaatnya daripada orang-orang yang kalian berjanji kepada mereka.
Sesungguhnya Allah hanyalah menguji kalian dengan apa yang diperintahkan kepada kalian berupa menepati janji, dan melaarang kalian dari membatalkannya.
Sungguh Dia akan menjelaskan kepada kalian pada Hari Kiamat apa yang dahlu kalian perselisihkan di dunia, yaitu beriman kepada Allah dan kenabian Muhammad

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang meng­uraikan benangnya sesudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai-berai kembali.

Abdullah ibnu Kasir dan As-Saddi mengatakan bahwa wanita itu adalah seorang wanita yang kurang akalnya, ia tinggal di Mekah di masa silam.
Apabila telah memintal sesuatu, ia menguraikannya kembali sesudah kuat pintalannya.

Mujahid, Qatadah, dan Ibnu Zaid mengatakan, hal ini merupakan perumpamaan bagi orang yang membatalkan sumpahnya sesudah mengukuhkannya.
Pendapat ini lebih kuat dan lebih jelas, tanpa memandang apakah di Mekah ada wanita yang menguraikan pintalannya itu ataukah tidak.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

...menjadi cerai-berai kembali.

Dapat diartikan bahwa lafaz ankasa ini adalah isim masdar, artinya 'wanita itu menguraikan kembali pintalannya menjadi cerai-berai'.
Dapat pula diartikan sebagai badal dari khabar kana, yakni 'janganlah kalian menjadi orang yang gemar melanggar sumpahnya', bentuk jamak dari نَكْثٍ berasal dari نَاكِثٍ.
Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:

...kalian menjadikan sumpah (perjanjian) kalian sebagai alat penipu di antara kalian.

Yakni makar dan tipu muslihat.

disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak dari golongan yang lain.
(An Nahl:92)

Artinya, kalian mau berpakta dengan orang lain bila mereka lebih banyak jumlahnya daripada jumlah kalian demi ketenangan kalian.
Tetapi bila kalian mempunyai kesempatan untuk berkhianat, maka kalian berkhianat terhadap mereka.
Karenanya Allah subhanahu wa ta'ala.
melarang sikap tersebut, sebagai gambaran pihak yang sedikit terhadap pihak yang lebih banyak.
Bilamana dalam keadaan demikian Allah subhanahu wa ta'ala.
melarangnya, maka terlebih lagi bila disertai dengan kemampuan dan kekuatan (untuk berbuat khianat), tentunya lebih dilarang.

Dalam surat Al-Anfal telah kami ceritakan kisah Mu'awiyah, ketika terjadi perjanjian gencatan senjata antara dia dengan Raja Romawi.
Manakala perjanjian gencatan senjata itu hampir habis, Mu'awiyah berangkat bersama pasukannya menyerang mereka.
Dan tepat di saat habisnya masa gencatan senjata, Mu'awiyah telah berada di dekat negeri mereka, maka Mu'awiyah langsung menyerang mereka tanpa menyadari bahwa Mu'awiyahlah pihak yang menyerang (yang memulai dahulu).
Maka berkatalah Amr ibnu Anbasah kepadanya, "Allah Mahabesar, hai Mu'awiyah.
Tepatilah perjanjianmu, janganlah kamu berbuat khianat! Karena aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:

'Barang siapa yang antara dia dan suatu kaum terdapat suatu perjanjian, maka janganlah dia melepaskan ikatannya sebelum habis masa berlakunya'.”

Maka Mu'awiyah r.a.
surut mundur dan pulang bersama pasukannya.

Ibnu Abbas mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: disebabkan adanya suatu golongan yang lebih banyak daripada golongan yang lain.
(An Nahl:92) Arba artinya lebih banyak, yakni lebih kuat.

Mujahid mengatakan, dahulu di masa Jahiliah mereka biasa mengadakan perjanjian pakta di antara sesama mereka.
Bilamana suatu golongan menjumpai golongan lain yang lebih banyak jumlahnya daripada diri mereka serta lebih kuat, maka dirusaknyalah perjanjian pakta yang ada, lalu mereka mengadakan perjanjian pakta yang baru dengan golongan yang lebih kuat itu.
Maka dilaranglah mereka dari perbuatan seperti itu.
Ad-Dahhak, Qatadah, dan Ibnu Zaid telah mengatakan hal yang semisal.

Firman Allah subhanahu wa ta'ala.:

Sesungguhnya Allah hanya menguji kalian dengan hal itu.

Sa'id ibnu Jubair mengatakan, makna yang dimaksud ialah Allah menguji mereka dengan adanya golongan yang lebih banyak.
Demikianlah menurut riwayat Ibnu Abu Hatim.

Ibnu Jarir mengatakan bahwa Allah sengaja menguji kalian melalui perintah-Nya yang menganjurkan agar kalian memenuhi janji kalian.

Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepada kalian apa yang dahulu kalian perselisihkan.

Kemudian Allah akan memberikan balasan kepada setiap orang yang beramal sesuai dengan baik buruk amalnya.

Asbabun Nuzul
Sebab-Sebab Diturunkannya Surah An Nahl (16) Ayat 92

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abu Bakr bin Abi Hafsh bahwa Sa’idah al-Asadiyyah adalah seorang gila, yang kerjannya hanyalah mengepang dan mengurai kembali rambutnya berulang kali.
Ayat ini (an-Nahl: 92) turun sebagai perumpamaan bagi orang-orang yang selalu mengikat janji, tapi tidak menepatinya.

Sumber : Asbabun Nuzul-K.H.Q.Shaleh – H.A.A Dahlan dkk.

Kata Pilihan Dalam Surah An Nahl (16) Ayat 92

ANKAATSA
أَنكَٰثً

Ia adalah bentuk jamak dari kata an­ nakts yang berarti apa yang dirobek dari kemah dan baju usang, kemudian dipintal kembali.

Kata ini apabila disandarkan kepada al 'ahd bermakna melanggar ataupun membatalkan perjanjian. Ungkapan hablun nukitsa bermakna tali yang dirusakkan.

Lafaz ankaatsa disebut sekali di dalam Al Qur'an yaitu dalam surah An Nahl (16) ayat 92.

Ibn Katsir berpendapat, lafaz ini mengandung dua alternatif.

Pertama, ia menjadi ism masdar yang bermakna anqadha (penguraian).

Kedua, ia menjadi khabar (predikat) bagi lafaz kaana yang bermaksud janganlah menjadi orang yang menguraikan.

Ibn Manzur berkata,
"Makna lafaz ankaatsa dalam ayat ini ialah pintalan dari bulu (domba) atau rambut yang dipintal dan ditenun. Apabila tenunan atau pintalan itu usang, ia dipotong kecil dan benangnya yang terpintal itu dilepaskan satu-persatu, ia dicampurkan dengan bulu atau benang yang baru dan dilekatkan dengannya, lalu dipukul dengan palu, dipintal-pintal sekali lagi dan digunakan kembali."

At Tabari berkata,
"Makna ankaatsaa ialah setiap sesuatu yang dilepaskan atau dirobek setelah dipintal, dan "nakatsa al ­habl" bermakna ikatan tali dilepaskan selepas menjadi kuat. Maksud di sini adalah melanggar perjanjian dan ikatan."

Ibn Qutaibah berkata,
"Ayat ini adalah perumpamaan bagi yang berjanji dengan Allah dan bersumpah dengannya serta mengingkari perjanjian dan sumpahnya itu," sebagaimana disebut dalam ayat Allah dalam surah An Nahl:

وَأَوْفُوا۟ بِعَهْدِ ٱللَّهِ إِذَا عَٰهَدتُّمْ وَلَا تَنقُضُوا۟ ٱلْأَيْمَٰنَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا

Artinya, "Janganlah kamu melanggar janji-janjimu setelah kamu menegaskannya. Apabila kamu berbuat dernikian, kamu sama seperti seorang perempuan

Kesimpulannya, lafaz ankaatsa bermakna menguraikan atau merobek pintalan yang kokoh.

Maksud ayat di atas adalah perumpamaan bagi mereka yang mengingkari dan melanggar sumpah atau perjanjian yang dikukuhkan dengan nama Allah, yang memintal dan menenun, lalu melepaskan benang tenunan itu sehingga terurai.

Sumber : Kamus Al Qur'an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:56-57

Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan "An Nahl" yang berarti "lebah" karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya:
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah",
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni'matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur'anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur'an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra' ayat 82).

Surat ini dinamakan pula "An Ni'am" artinya ni'mat-ni'mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni'mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti'aadzah (a'Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da'wah dalam Islam.


Gambar Kutipan Surah An Nahl Ayat 92 *beta

Surah An Nahl Ayat 92



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nahl

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah16
Nama SurahAn Nahl
Arabالنحل
ArtiLebah
Nama lainAl-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu70
JuzJuz 14
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat128
Jumlah kata1851
Jumlah huruf7838
Surah sebelumnyaSurah Al-Hijr
Surah selanjutnyaSurah Al-Isra'
4.4
Rating Pembaca: 4.2 (12 votes)
Sending