Search
Exact matches only
Cari di judul
Cari di Arti & Tafsir
Search in comments
Search in excerpt
Filter by Custom Post Type
Filter berdasar surah
Pilih atau Semua
Abasa
Ad Dukhaan
Adh Dhuhaaa
Adz Dzaariyaat
Al 'Alaq
Al 'Ashr
Al A'laa
Al A'raaf
Al Aadiyaat
Al Ahqaaf
Al Ahzab
Al An 'aam
Al Anbiyaa
Al Anfaal
Al Ankabut
Al Balad
Al Baqarah
Al Bayyinah
Al Buruuj
Al Fajr
Al Falaq
Al Fath
Al Fatihah
Al Fiil
Al Furqaan
Al Ghaasyiyah
Al Haaqqah
Al Hadid
Al Hajj
Al Hasyr
Al Hijr
Al Hujurat
Al Humazah
Al Ikhlas
Al Infithar
Al Insaan
Al Insyiqaaq
Al Israa
Al Jaatsiyah
Al Jinn
Al Jumu'ah
Al Kaafiruun
Al Kahfi
Al Kautsar
Al Lahab
Al Lail
Al Ma'aarij
Al Maa'idah
Al Maa'un
Al Mu'min
Al Mu'minuun
Al Muddatstsir
Al Mujaadilah
Al Mulk
Al Mumtahanah
Al Munafiquun
Al Mursalat
Al Muthaffifin
Al Muzzammil
Al Qaari'ah
Al Qadr
Al Qalam
Al Qamar
Al Qashash
Al Qiyaamah
Al Waaqi'ah
Al Zalzalah
Alam Nasyrah
Ali Imran
An Naazi'at
An Nabaa
An Nahl
An Najm
An Naml
An Nas
An Nashr
An Nisaa'
An Nuur
Ar Ra'd
Ar Rahmaan
Ar Rum
As Sajdah
Ash Shaff
Ash Shaffaat
Asy Shyuura
Asy Syams
Asy Syu'araa
At Taghaabun
At Tahrim
At Takaatsur
At Takwir
At Taubah
At Tin
Ath Thaariq
Ath Thalaaq
Ath Thuur
Az Zukhruf
Az Zumar
Faathir
Fushshilat
Hud
Ibrahim
Luqman
Maryam
Muhammad
Nuh
Qaaf
Quraisy
Saba
Shaad
Thaa Haa
Yaa Siin
Yunus
Yusuf

💡 Ketik [nomer surah]-[nomer ayat], contoh: 2-255 atau albaqarah 255 atau ke www.risalahmuslim.id/2-255

An Nahl

An Nahl (Lebah) surah 16 ayat 76


وَ ضَرَبَ اللّٰہُ مَثَلًا رَّجُلَیۡنِ اَحَدُہُمَاۤ اَبۡکَمُ لَا یَقۡدِرُ عَلٰی شَیۡءٍ وَّ ہُوَ کَلٌّ عَلٰی مَوۡلٰىہُ ۙ اَیۡنَمَا یُوَجِّہۡہُّ لَایَاۡتِ بِخَیۡرٍ ؕ ہَلۡ یَسۡتَوِیۡ ہُوَ ۙ وَ مَنۡ یَّاۡمُرُ بِالۡعَدۡلِ ۙ وَ ہُوَ عَلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ
Wadharaballahu matsalaa rajulaini ahaduhumaa abkamu laa yaqdiru ‘ala syai-in wahuwa kallun ‘ala maulaahu ainamaa yuwajjihhu laa ya’ti bikhairin hal yastawii huwa waman ya’muru bil ‘adli wahuwa ‘ala shiraathin mustaqiimin;

Dan Allah membuat (pula) perumpamaan:
dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun.
Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?
―QS. 16:76
Topik ▪ Iman ▪ Perbedaan tingkat amal kebaikan ▪ Keingkaran dan kedurhakaan orang kafir
16:76, 16 76, 16-76, An Nahl 76, AnNahl 76, An-Nahl 76
Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 76. Oleh Kementrian Agama RI

Seperti halnya ayat yang lalu, maka pada ayat ini Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan lagi perumpamaan orang-orang musyrik dengan bentuk yang lebih jelas mengenai kepercayaan mereka kepada patung sembahan mereks Allah subhanahu wa ta'ala mengambil perumpamaan dua orang laki-laki.
Yang satu seorang laki yang bisu, bodoh tidak mengerti apa-apa dan seorang lagi ialah laki-laki yang mampu berbicara, lagi cakap.
Laki-laki yang pertama itu diumpamakan untuk patung sembahan orang-orang musyrik, sedang laki-laki yang kedua diumpamakan untuk Tuhan.
Patutkah dipersamakan antara dua orang laki-laki itu?
Jika hal demikian tidak patut, maka lebih tidak patut lagi mempersamakan antara patung dengan Tuhan.

Allah subhanahu wa ta'ala dalam ayat ini menerangkan sifat-sifat persamaan antara patung dengan orang yang bisu yang bukan saja tidak memiliki kemampuan berbicara, tetapi juga tidak memiliki kemampuan batin.
Dia tidak mengerti maksud orang lain, dan juga orang lain tidak dapat memahami maksudnya.
Karena itu dia tidak dapat menyelesaikan urusannya sendiri apalagi urusan orang lain.
Dia hanya jadi beban orang lain.
Di manapun dia ditempatkan dan tugas apapun yang diberikan kepadanya tentulah tidak mendatangkan hasil yang baik.

Menurut keterangan Ibnu Abbas, laki-laki bisu yang dijadikan misal dalam ayat ini ialah seorang budak Usman bin Affan yang telah beliau merdekakan tetapi masih dalam pemeliharaannya.
Bekas budak ini menolak agama Islam.
Keadaannya bisu, tuli dan bodoh, sebab itu sepenuhnya dia bergantung kepada tuannya.
Seperti demikian itu pula patung-patung sembahan musyrikin itu.
Dia bisu dan tuli di mana saja patung-patung diletakkan walaupun dalam gedung yang megah, tetapi dia tidak mendatangkan kebaikan kepada pemujanya.

Laki-laki yang sempurna panca inderanya itu, menurut Ibnu Abbas, ialah Usman bin Affan.
Allah menjadikan perumpamaan untuk Allah subhanahu wa ta'ala laki-laki itu menyeru manusia berbuat adil dan selalu berada di jalan yang lurus dan di dalam agama yang benar.

Sifat-sifat demikian adalah gambaran dari sifat Allah subhanahu wa ta'ala dengan Ke Maha Sucian dan kesempurnaan-Nya dari sifat-sifat manusia.

Sifat Allah subhanahu wa ta'ala "Menyeru kepada keadilan atau kebenaran" mengandung pengertian bahwasannya Dia mengetahui tentang keadilan dan kebenaran itu serta mengajarkannya lagi menyukai keadilan dan kebenran serta mengajarkannya lagi menyukai keadilan dan memerintahkan kepada hamba Nya agar agar bersifat adil.
Dia mencintai orang-orang yang berbuat dan bersifat adil dan tidaklah Dia memerintahkan hamba Nya selain menjunjung keadilan.
Bahkan Allah subhanahu wa ta'ala Maha Suci dari sifat-sifat yang berlawanan dengan keadilan itu seperti bersifat zalim, aniaya, jahil dan bakhil.
Semua perintah dan syariatnya adil seluruhnya.
Mereka yang bersifta dan berbuat adil itulah kekasih dan wali-wali Allah.
Mereka hidup di sisi Allah dan di bawah cahaya Nya.

Sifat Allah subhanahu wa ta'ala, "di jalan yang lurus" mengandung pengertian bahwa tiadalah Allah memfirmankan sesuatu selain kebenaran, tiadalah Dia memerintahkan selain keadilan dan tidaklah Dia mengadakan sesuatu, selain untuk kemaslahatan, rahmat, hikmah dan keadilan.
Allah selalu di atas kebenaran pada perkataan dan perbuatannya.

Maka Dia tidak menjatuhkan hukuman dengan zalim kepada hamba Nya, tidaklah menyiksa tanpa dosa yang dilakukan hamba itu, tidak pula mengurangi sedikitpun kebaikan yang diperbuatnya tidak membebankan dosa orang lain, kepada seseorang atau menyiksanya.
Tiada suatu tindakan dan perbuatan dari Allah tanpa mengandung pujian terhadap Nya.
Dan segala perbuatan itu berakhir dengan kebaikan dan mencapai tujuannya.
Semua itu disebabkan Allah selalu berada dalam keadaan yang lurus.

An Nahl (16) ayat 76 - dibacakan oleh Shaykh Mishari Alafasy An Nahl (16) ayat 76 - dibacakan oleh Syaikh Sa'ad Al-Ghamidi An Nahl (16) ayat 76 - dibacakan oleh Syaikh Muhammad Ayyub

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Allah membuat perumpamaan lain dalam diri dua orang laki-laki.
Yang satu bisu dan tuli, tidak bisa memahami perkataan orang dan memahamkan orang lain.
Ia hanya tergantung pada kemauan orang yang mengatur urusannya, hanya menurut pada kehendak atasan meskipun diperintah untuk melakukan sesuatu yang tidak ada manfaat baiknya.
Apakah lelaki seperti ini dapat disamakan dengan seorang lelaki yang fasih, kuat daya pendengarannya, menyuruh manusia untuk berbuat benar dan menegakkan keadilan, dan ia sendiri berada di atas jalan yang lurus tidak berliku?
Demikianlah gambaran berhala-berhala yang mereka pertuhankan, bagaikan orang yang tuli dan bisu, tidak bisa memahami perkataan dan memahamkan orang lain.
Tuhan-tuhan itu tidak berbicara, tidak mendengar dan tidak berguna.
Samakah mereka--dalam pandangan kalian--dengan Yang Maha Mendengar lagi Maha Menyeru pada keadilan, kebenaran dan Maha Membimbing manusia ke jalan yang lurus?

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Dan Allah membuat pula perumpamaan) lafal matsalan ini kemudian dijelaskan oleh badalnya, yaitu (dua orang lelaki yang seorang bisu) dilahirkan dalam keadaan cacat tidak dapat berbicara (tidak dapat berbuat sesuatu pun) karenanya ia tidak dapat menangkap pemahaman dan tidak pula dapat memberikan pemahaman (dan dia menjadi beban) yang berat (atas orang yang menanggungnya) atas walinya (ke mana saja dia diarahkan) disuruh (dia tidak dapat mendatangkan) dari tindakannya itu (suatu kebaikan pun) artinya ia tidak pernah berhasil, ini perumpamaan orang kafir.
(Samakah orang itu) orang yang bisu itu (dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan) artinya dengan orang yang dapat berbicara dan pembicaraannya itu bermanfaat bagi manusia karena ia menyuruh dan menganjurkan manusia untuk berbuat keadilan (dan dia berada pula di atas jalan) di jalan (yang lurus) ini perumpamaan orang yang kedua, yaitu orang muslim.
Tentu saja keduanya tidak sama.
Akan tetapi menurut suatu pendapat dikatakan bahwa yang kedua ini merupakan misal bagi Allah sedangkan misal yang pertama ditujukan untuk berhala-berhala.
Sedangkan perumpamaan yang ada pada ayat sebelumnya adalah perumpamaan antara orang kafir dan orang mukmin.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Allah membuat perumpamaan lainnya untuk menumbangkan kemusyrikan, dengan dua orang laki-laki :
Salah satunya bisu lagi tuli yang tidak bisa memahami dan tidak pula bisa memberikan pemahaman, tidak mampu memberikan kemanfaatan kepada dirinya atau kepada orang lain, dan dia menjadi beban berat bagi orang yang mengurusi dan menanggungnya (walinya).
Jika walinya menyuruhnya kepada suatu urusan untuk diselesaikannya, ia tidak berhasil dan tidak kembali kepadanya dengan membawa suatu kebaikan pun.
Laki-laki lainnya sehat panca inderanya, ia dapat memberikan kemanfaatan bagi dirinya dan orang lain, menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada di atas jalan yang jelas tiada kebengkokan di dalamnya.
Apakah kedua laki-laki ini sama dalam pandangan orang-orang yang berakal??
Maka, bagaimana mungkin kalian menyamakan antara berhala yang bisu lagi tuli dengan Allah Yang Mahakuasa lagi menganugerahkan segala kebaikan??

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Mujahid mengatakan, hal ini pun mengandung makna perumpamaan yang menggambarkan tentang berhala dan Tuhan Yang Mahahak.
Dengan kata lain, kalau berhala bisu tidak dapat berbicara dan tidak dapat mengung­kapkan kebaikan, tidak dapat melakukan sesuatu pun dan sama sekali tidak mempunyai kemampuan apa pun, maka ia tidak dapat bicara dan tidak dapat berbuat.
Selain itu budak tersebut merupakan beban dan tanggungan bagi pemiliknya.

ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya.

Artinya, ke mana saja ia diarahkan dan disuruh oleh penanggungnya.

Dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun.

Yakni segala upayanya tidak pernah berhasil.

Samakah orang itu.

yang memiliki sifat ini,

dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan.

yang ucapannya adalah benar dan perbuatannya tepat (lurus).

...dan dia berada di atas jalan yang lurus?

Menurut suatu pendapat, yang dimaksud dengan orang yang bisu adalah seorang budak milik Usman.
Demikianlah menurut As-Saddi, Qatadah, dan Ata Al-Khurrasani.
Pendapat ini dipilih oleh Ibnu Jarir.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa hal ini adalah perumpamaan tentang orang kafir dan orang mukmin, sama dengan pendapat yang disebutkan di atas.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnus Sabbah Al-Bazzar, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu lshaq As-Salihini, telah menceritakan kepada kami Hammad, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Usman ibnu Khaisam, dari Ibrahim, dari Ikrimah, dari Ya'la ibnu Umayyah, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatu pun.
Ayat ini diturunkan berkenaan dengan seorang lelaki dari kalangan Quraisy dan hamba sahayanya, yakni firman-Nya:

...seorang hamba sahaya yang dimiliki., hingga akhir ayat.

Dan sehubungan dengan firman-Nya: Dan Allah membuat (pula) perumpamaan dua orang lelaki yang seorang bisu.
sampai dengan firman-Nya:

Dan dia berada pula pada jalan yang lurus.
Bahwa dia adalah Usman ibnu Affan.
Sedangkan mengenai orang yang bisu, yang bila disuruh oleh penanggungnya ke mana saja dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikan pun, dia adalah maula (bekas budak) Usman ibnu Affan.
Usman-lah yang memberinya nafkah, menjamin penghidupannya, dan mencukupi kebutuhannya, sedangkan orang yang ditanggungnya itu tidak suka kepada Islam, menolaknya dan melarang Usman bersedekah dan berbuat kebajikan, maka turunlah ayat ini

Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan "An Nahl" yang berarti "lebah" karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya:
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah",
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni'matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur'anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur'an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra' ayat 82).

Surat ini dinamakan pula "An Ni'am" artinya ni'mat-ni'mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni'mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti'aadzah (a'Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da'wah dalam Islam.


Gambar Kutipan Surah An Nahl Ayat 76 *beta

Surah An Nahl Ayat 76



Statistik
  • Rating RisalahMuslim

Surah An Nahl

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah16
Nama SurahAn Nahl
Arabالنحل
ArtiLebah
Nama lainAl-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu70
JuzJuz 14
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat128
Jumlah kata1851
Jumlah huruf7838
Surah sebelumnyaSurah Al-Hijr
Surah selanjutnyaSurah Al-Isra'
4.6
Rating Pembaca: 4.2 (10 votes)
Sending