Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa? Klik di sini sekarang!

QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 69 [QS. 16:69]

ثُمَّ کُلِیۡ مِنۡ کُلِّ الثَّمَرٰتِ فَاسۡلُکِیۡ سُبُلَ رَبِّکِ ذُلُلًا ؕ یَخۡرُجُ مِنۡۢ بُطُوۡنِہَا شَرَابٌ مُّخۡتَلِفٌ اَلۡوَانُہٗ فِیۡہِ شِفَآءٌ لِّلنَّاسِ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً لِّقَوۡمٍ یَّتَفَکَّرُوۡنَ
Tsumma kulii min kullits-tsamaraati faaslukii subula rabbiki dzululaa yakhruju min buthuunihaa syaraabun mukhtalifun alwaanuhu fiihi syifaa-un li-nnaasi inna fii dzalika li-aayatan liqaumin yatafakkaruun(a);
kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).”
Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.
Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.
―QS. An Nahl [16]: 69

Then eat from all the fruits and follow the ways of your Lord laid down (for you)."
There emerges from their bellies a drink, varying in colors, in which there is healing for people.
Indeed in that is a sign for a people who give thought.
― Chapter 16. Surah An Nahl [verse 69]

ثُمَّ kemudian

Then
كُلِى makanlah

eat
مِن dari

from
كُلِّ tiap-tiap

all
ٱلثَّمَرَٰتِ buah-buahan

the fruits
فَٱسْلُكِى lalu berjalanlah/tempuhlah

and follow
سُبُلَ jalan

(the) ways
رَبِّكِ Tuhanmu

(of) your Lord
ذُلُلًا merendahkan diri

made smooth."
يَخْرُجُ keluar

Comes forth
مِنۢ dari

from
بُطُونِهَا perutnya

their bellies
شَرَابٌ minuman

a drink
مُّخْتَلِفٌ bermacam-macam

(of) varying
أَلْوَٰنُهُۥ warnanya

colors,
فِيهِ didalamnya

in it
شِفَآءٌ obat

(is) a healing
لِّلنَّاسِ bagi manusia

for the mankind.
إِنَّ sesungguhnya

Indeed,
فِى pada

in
ذَٰلِكَ demikian

that
لَءَايَةً sungguh tanda-tanda

(is) surely a Sign
لِّقَوْمٍ bagi kaum

for a people
يَتَفَكَّرُونَ mereka memikirkan

who reflect.

Tafsir

Alquran

Surah An Nahl
16:69

Tafsir QS. An Nahl (16) : 69. Oleh Kementrian Agama RI


Allah lalu meminta perhatian para hamba-Nya agar memikirkan bagaimana Allah telah memberikan kemahiran kepada para lebah untuk mengumpulkan makanan dari berbagai macam bunga-bungaan dan meng-ubahnya menjadi madu yang tahan lama dan bergizi.
Kemahiran ini diwariskan lebah secara turun-temurun.


Lebah-lebah mengisap makanan dari bunga-bungaan kemudian masuk ke dalam perutnya dan dari perutnya dikeluarkan madu yang bermacam-macam warnanya.
Ada yang putih, ada yang kekuning-kuningan, dan ada pula yang kemerah-merahan, sesuai dengan jenis lebah itu dan bunga-bungaan yang ada di sekitarnya.


Di antara manfaat madu ialah untuk ketahanan tubuh dan mungkin pula sebagai obat berbagai penyakit.
Hal ini dapat diterima oleh ilmu pengetahu-an, antara lain karena madu mudah dicerna dan mengandung berbagai macam vitamin.



Penjelasan tentang fungsi madu ini dapat dibaca dalam sebuah hadis:
Bahwa seseorang datang kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata,
"Sesungguhnya saudaraku perutnya mulas."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda,
"Minumkan kepadanya madu,"
kemudian orang itu memberinya madu.

Kemudian orang itu datang lagi kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata,
"Ya Rasulullah saya telah memberinya madu, tetapi perutnya bertambah mulas."
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Pergilah dan minumkan (lagi) kepadanya madu.
"
Maka orang itu pergi dan memberinya lagi madu, kemudian orang itu datang lagi kepada Rasulullah ﷺ seraya berkata,
"Ya Rasulullah, perutnya justru tambah mulas,"
kemudian Rasulullah bersabda,
"Allah benar dan perut saudaramu berdusta.
Pergilah dan beri lagi saudaramu itu madu.
"
Lalu orang itu pergi dan memberinya lagi madu, kemudian ia pun sembuh.
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri)


Dan hadis Nabi ﷺ:


Obat itu ada tiga macam:
mengeluarkan darah dengan bekam, minum madu dan membakar kulit dengan api (besi panas), dan aku melarang umatku membakar kulit.
(Riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu ‘Abbas)


Beberapa manfaat yang diberikan lebah sebagai berikut:
1. Madunya merupakan minuman yang lezat berguna bagi kesehatan.
Sarangnya dapat dibuat lilin, bahan untuk membatik, dan lain-lain.
2. Lebah membantu penyerbukan bunga sehingga terjadi pembuahan.

Tafsir QS. An Nahl (16) : 69. Oleh Muhammad Quraish Shihab:


Kemudian Allah memberi petunjuk pada lebah untuk menjadikan buah-buahan dari berbagai jenis pohon dan tumbuhan sebagai makanannya.
Berkat petunjuk yang telah diberikan oleh Tuhan itu, lebah menjalankan tugas-tugas hidupnya dengan sangat mudah.


Dari dalam perut lebah keluar sejenis minuman beraneka warna dan berguna sekali bagi kesehatan manusia.
Dan sesungguhnya pada ciptaan yang unik itu terdapat pertanda akan wujud sang Pencipta Yang Mahakuasa lagi Mahabijaksana.


Orang-orang yang berakal akan merenungkan hal itu sebagai cara untuk mendapatkan kebahagiaan abadi[1].


[1] Madu merupakan jenis zat yang mengandung unsur glukosa dan perfentous (semacam zat gula yang sangat mudah dicerna) dalam porsi cukup besar.


Melalui ilmu kedokteran modern didapat kesimpulan bahwa glukosa berguna sekali bagi proses penyembuhan berbagai macam jenis penyakit melalui injeksi atau dengan perantaraan mulut yang berfungsi sebagai penguat.
Di samping itu, madu juga memiliki kandungan vitamin yang cukup tinggi terutama vitamin B kompleks.

Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:


Kemudian makanlah dari setiap buah-buahan yang kamu sukai, dan tempuhlah jalan-jalan Rabb-mu yang ditundukkan untukmu, untuk mencari rizki di perbukitan dan sela-sela pepohonan.
Sesungguhnya Dia telah menjadikan hal itu mudah bagimu.


Kamu tidak akan tersesat untuk kembali ke sarangmu, walaupun jauh.
Dari perut lebah keluarlah madu yang beraneka warna:
putih,kuning, merah dan selainnya.


Di dalam madu terkandung obat bagi manusia dari berbagai macam penyakit.
Sesungguhnya pada apa yang dilakukan lebah itu benar-benar terdapat tanda yang kuat atas kekuasaan Penciptanya bagi orang-orang yang berpikir, lalu mereka mengambil pelajaran darinya.

Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:



(Kemudian makanlah dari setiap buah-buahan dan tempuhlah) masukilah


(jalan Rabbmu) jalan-jalan yang telah ditunjukkan oleh-Nya kepadamu di dalam mencari rezekimu


(yang telah dimudahkan) lafal dzululan ini adalah bentuk jamak dari lafal tunggal dzaluulun, berkedudukan menjadi hal dari lafal subula rabbiki.
Artinya jalan yang telah dimudahkan bagimu sehingga amat mudah ditempuh sekali pun sangat sulit dan kamu tidak akan sesat untuk kembali ke sarangmu dari tempat itu betapa pun jauhnya.
Akan tetapi menurut pendapat yang lain dikatakan bahwa lafal dzululan ini menjadi hal daripada dhamir yang terdapat di dalam lafal uslukiy sehingga artinya menjadi:
yang telah ditundukkan untuk memenuhi kehendakmu.


(Dari perut lebah itu keluar minuman) yakni berupa madu


(yang bermacam-macam warnanya di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia) dari berbagai macam penyakit.
Menurut suatu pendapat dikatakan dari sebagian penyakit saja karena ditunjukkan oleh pengertian ungkapan lafal syifaaun yang memakai nakirah.
Atau sebagai obat untuk berbagai macam penyakit bila digabungkan dengan obat-obat lainnya.
Aku katakan bila tidak dicampur dengan obat yang lain, maka sesuai dengan niat peminumnya.
Sungguh Nabi ﷺ telah memerintahkan untuk meminum madu bagi orang yang perutnya kembung demikianlah menurut riwayat yang telah dikemukakan oleh Imam Bukhari dan Muslim.


(Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang memikirkan) ciptaan-Nya

Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:


Allah subhanahu wa ta’ala, menganugerahkan insting kepada lebah untuk makan dari sari buah-buahan dan menempuh jalan-jalan yang telah dimudahkan oleh Allah baginya, sehingga lebah dapat menempuh jalan udara yang luas, padang sahara yang membentang luas, lembah-lembah, dan gunung-gunung yang tinggi menurut apa yang disukainya.
Lalu masing-masing lebah dapat kembali ke sarangnya tanpa menyimpang ke arah kanan atau ke arah kiri, melainkan langsung menuju sarangnya, tempat ia meletakkan telur-telurnya dan madu yang dibuatnya.
Lebah membangun lilin untuk sarangnya dengan kedua sayapnya, dan dari mulutnya ia memuntahkan madu, sedangkan lebah betina mengeluarkan telur dari duburnya, kemudian menetas dan terbang ke tempat kehidupannya.

Qatadah dan Abdur Rahman ibnu Zaid ibnu Aslam mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:

…dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Yakni dengan penuh ketaatan.

Qatadah dan Abdur Rahman menjadikan lafaz zululan sebagai hal (keterangan keadaan) dari lafaz fasluki, yakni ‘dan tempuhlah jalan Tuhanmu dengan penuh ketaatan‘.


Makna ayat menurut Ibnu Zaid mirip dengan apa yang disebutkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, dalam ayat lain melalui firman-Nya:

Dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka, maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan.
(QS. Yasin [36]: 72)

Ibnu Zaid mengatakan, tidakkah kamu lihat bahwa orang-orang memin­dahkan lebah-lebah itu berikut sarangnya dari suatu negeri ke negeri yang-lain, sedangkan lebah-lebah itu selalu mengikuti mereka.

Akan tetapi, pendapat yang pertama adalah pendapat yang paling kuat, yaitu yang mengatakan bahwa lafaz zululan menjadi hal dari lafaz subul (jalan).
Dengan kata lain, tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan bagimu.
Demikianlah menurut apa yang telah dinaskan oleh Mujahid.
Ibnu Jarir mengatakan bahwa kedua pendapat tersebut benar.

Sehubungan dengan hal ini Abu Ya’la Al-Mausuli mengatakan:


telah menceritakan kepada kami Syaiban ibnu Farukh, telah menceritakan kepada kami Makin ibnu Abdul Aziz, dari ayahnya, dari sahabat Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Usia serangga empat puluh hari, dan semua jenis serangga dimasukkan ke dalam neraka kecuali lebah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

…Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.

Maksudnya, dengan berbagai macam warnanya, ada yang putih, kuning, merah, dan warna-warna lainnya yang indah sesuai dengan tempat peternakan dan makanannya.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

…di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.

Di dalam madu terdapat obat penawar yang mujarab bagi manusia untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit yang dialami mereka.


Salah seorang ulama yang membicarakan tentang pengobatan cara Nabi mengatakan bahwa seandainya ayat ini menyebutkan Asy-syifa-u lin nas, tentulah madu dapat dijadikan sebagai obat untuk segala macam penyakit.
Akan tetapi, disebutkan syifa-un lin rias, yakni obat penyembuh bagi manusia dari penyakit-penyakit yang disebabkan kedinginan, karena sesungguhnya madu itu panas, dan sesuatu itu diobati dengan lawannya.

Mujahid dan Ibnu Jarir mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya:
di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.
(QS. Al-Hijr [15]: 69)
Bahwa damir yang ada pada fihi kembali kepada Alquran.


Pendapat ini jika terpisah dari konteks dapat dibenarkan, tetapi bila dikaitkan dengan kontek kalimat, jelas bukan makna yang dimaksud, mengingat konteknya menyebutkan tentang masalah madu (bukan Alquran).


Pendapat Mujahid dalam ayat ini tidak dapat diikuti, dan sesungguhnya apa yang dimaksudkan oleh Mujahid hanyalah disebutkan oleh para ulama sehubungan dengan tafsir firman-Nya:

Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
(QS. Al Israa [17]: 82)

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Tuhan kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.
(QS. Yunus [10]: 57)

Dalil yang menunjukkan bahwa makna yang dimaksud oleh firman-Nya:
di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.
(QS. Al-Hijr [15]: 69)
adalah madu yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim di dalam kitab sahihnya masing-masing melalui riwayat Qatadah:


dari Abul Mutawakkil Ali ibnu Daud An-Naji, dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a. yang menceritakan bahwa pernah seorang lelaki datang kepada Rasulullah ﷺ, lalu berkata,
"Sesungguhnya saudara laki-lakiku terkena penyakit buang air."
Maka Nabi ﷺ bersabda,
"Berilah minum madu."
Lelaki itu pulang dan memberi minum madu kepada saudaranya.
Kemudian ia kembali dan berkata,
"Wahai Rasulullah, saya telah memberinya minum madu, tetapi tiada membawa kebaikan melainkan bertambah parah buang airnya."
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Pergilah dan berilah dia minum madu."
Lelaki itu pulang dan memberi minum madu kepada saudaranya yang sakit itu.
Tetapi dia kembali lagi dan berkata,
"Wahai Rasulullah, tiada kemajuan, melainkan makin parah."
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
"Mahabenar Allah dan dustalah perut saudaramu itu.
Pulanglah dan berilah dia minum madu lagi!"
Maka lelaki itu pergi dan memberi minum madu saudaranya, maka sembuhlah saudaranya itu.

Salah seorang ahli ketabiban memberikan analisisnya tentang hadis ini, bahwa lelaki yang dimaksud (si penderita) menderita sakit buang air.
Setelah diberi minum madu, sedangkan madu itu panas, maka penyakitnya menjadi teruraikan, sehingga cepat keluar dan mencretnya makin bertambah.
Akan tetapi, orang Badui itu mempunyai pengertian lain, bahwa madu membahayakan kesehatan saudaranya, padahal kenyataannya bermanfaat bagi saudaranya.

Kemudian ia memberi saudaranya minum madu sekali lagi, tetapi mencret saudaranya itu kian bertambah, lalu diberinya minum madu sekali lagi.
Dan setelah semua endapan yang merusak kesehatan dalam perutnya keluar, barulah perutnya sehat, ia tidak mulas lagi, dan semua penyakit hilang berkat petunjuk yang diberikan oleh Rasulullah ﷺ dari Tuhannya.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadis melalui Hisyam ibnu Urwah, dari ayahnya, dari Siti Aisyah r.a. yang telah mengatakan:

Bahwa sesungguhnya Rasulullah ﷺ suka makanan yang manis dan madu.

Demikianlah menurut lafaz yang ada pada Imam Bukhari.
Di dalam kitab Sahih Bukhari disebutkan pula sebuah hadis melalui Salim Al-Aftas, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Penyembuhan itu dengan tiga macam cara, yaitu melalui sayatan bekam, atau minuman madu, atau setrika dengan api, tetapi Aku larang umatku berobat memakai cara setrika.

Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Na’im, telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnul Gasil, dari Asim ibnu Umar ibnu Qatadah, ia pernah mendengar Jabir ibnu Abdullah mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
Jikalau pada sesuatu dari cara pengobatan kalian mengandung kebaikan, atau bila nanti ada kebaikan dalam salah satu cara pengobatan kalian, maka adanya pada sayatan bekam, atau minuman madu, atau sengatan api yang disesuaikan dengan jenis penyakit, tetapi saya tidak suka dengan cara setrika.

Imam Muslim meriwayatkan hadis ini melalui Asim ibnu Umar ibnu Qatadah, dari Jabir, dengan sanad yang sama.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Ishaq, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Abu Ayyub, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnul Walid, dari Abul Khair, dari Uqbah ibnu Amir Al-Juhani yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Ada tiga cara:
Jika pada salah satunya terdapat kesembuhan, yaitu sayatan bekam, atau minuman madu, atau setrikaan pada anggota yang terkena sakit, tetapi aku benci dan tidak suka pengobatan cara setrika.

Imam Tabrani meriwayatkan hadis ini dari Harun ibnu Salul Al-Masri, dari Abu Abdur Rahman Al-Muqri, dari Abdullah ibnul Walid dengan sanad yang sama.
Lafaznya berbunyi seperti berikut:

Jikalau ada kesembuhan pada cara pengobatan, maka adanya pada sayatan bekam.

Hadis ini disebutkan hingga selesai.
Sanad hadis berpredikat sahih, tetapi mereka tidak mengetengahkannya.

Muhammad ibnu Yazid ibnu Majah Al-Qazwaini mengatakan di dalam kitab sunnahnya bahwa telah menceri­takan kepada kami Ali ibnu Salamah At-Tagallubi, telahmenceritakan kepada kami Zaid ibnu Hubab, telah menceritakan kepada kami Sufyan ibnu Abu Ishaq, dari Abul Ahwas, dari Abdullah ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
Gunakanlah oleh kalian dua penawar, yaitu madu dan Alquran.

Sanad hadis ini berpredikat jayyid, Ibnu Majah mengetengahkannya secara munfarid dengan predikat marfu’.
Ibnu Jarir telah meriwayatkannya dari Sufyan ibnu Waki’, dari ayahnya, dari Sufyan As-Sauri dengan sanad yang sama secara mauquf dan riwayat inilah yang lebih mendekati kebenaran.

Telah diriwayatkan pula kepada kami melalui Amirul Mu’minin Ali ibnu Abu Talib r.a., bahwa ia pernah mengatakan,
"Apabila seseorang di antara kalian menghendaki kesembuhan, hendaklah menulis sebuah ayat dari Kitabullah (QS. Alquran) pada selembar kertas, lalu cucilah kertas itu dengan air dari langit (air hujan).
Kemudian hendaklah ia meminta uang satu dirham dari istrinya secara suka rela, lalu uang itu dibelikan madu, dan madu itu diminum, karena madu itu mengandung kesembuhan pula,"
yakni penyembuh dari berbagai macam penyakit.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
(QS. Al Israa [17]: 82)

Dan Kami turunkan air dari langit yang banyak manfaatnya.
(Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kalian sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.
(
An Nisaa:4)

Dan firman Allah subhanahu wa ta’ala, dalam masalah madu, yaitu:

…di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.

Ibnu Majah mengatakan pula bahwa telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Muhammad ibnu Yusuf ibnu Sarh Al-Faryabi, telah menceritakan kepada kami Amr ibnu Bakr As-Saksaki, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Abu Ablah, ia pernah mendengar Abu Ubay ibnu Ummu Haram yang pernah salat menghadap ke arah dua kiblat, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
Berobatlah kalian dengan biji as-sana dan biji as-sanut, karena sesungguhnya pada keduanya terdapat penyembuh dari berbagai macam penyakit, kecuali Sam.
Ketika ditanyakan,
"Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan sam?"
Rasulullah ﷺ menjawab bahwa sam adalah maut.

Amr berkata bahwa Abu Ablah mengatakan,
"As-sanut adalah biji pohon syabat."
Menurut ulama lain, sanut adalah madu yang disimpan di dalam wadah minyak samin, seperti yang dikatakan oleh seorang penyair mereka, yaitu:
"Mereka menyukai samin dan madu yang tidak mereka campurkan, dan mereka selalu melindungi tetangganya, tidak pernah berbuat aniaya kepadanya."

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala :

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan.

Yakni sesungguhnya ilham dari Allah kepada serangga yang lemah ini —yang memerintahkan kepadanya agar menempuh jalan yang telah ditetapkan untuknya seraya memikul tugas mengisap sari buah-buahan, lalu mengumpulkannya dan memprosesnya secara alami menjadi lilin dan madu— benar-benar terdapat tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang memikirkan keagungan Penciptanya yang telah-mengaturnya, menundukkannya, dan yang memperjalankannya, pada akhirnya mereka mengambil kesimpulan dari fenomena ini bahwa Allah adalah Yang Menciptakan itu, Dia Mahakuasa, Mahabijaksana, Maha Mengetahui, Mahamulia, dan Maha Pengasih.

Unsur Pokok Surah An Nahl (النحل)

Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan "An Nahl" yang berarti "lebah" karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
"Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah",
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Alquranul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Alquran mengandung inti sari dari kitabkitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu, ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula "An Ni’am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Keimanan:

▪ Kepastian adanya hari kiamat.
▪ Ke-Esaan Allah.
▪ Kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya.
▪ Pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

▪ Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang dihalalkan.
▪ Kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut seperti marjan dan mutiara.
▪ Dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa.
▪ Kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan.
▪ Kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah.
▪ Larangan membuat buat hukum yang tak ada dasarnya.
▪ Perintah membaca isti’aadzah (a’uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk).
▪ Larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

▪ Kisah Nabi Ibrahim `alaihis salam.

Lain-lain:

▪ Asal kejadian manusia.
▪ Madu adalah untuk kesehatan manusia.
▪ Nasib pemimpin-pemimpin palsu di hari kiamat.
▪ Pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan.
▪ Ajaran moral di dalam Islam.
▪ Pedoman dakwah dalam Islam.

Audio

QS. An-Nahl (16) : 1-128 ⊸ Misyari Rasyid Alafasy
Ayat 1 sampai 128 + Terjemahan Indonesia

QS. An-Nahl (16) : 1-128 ⊸ Nabil ar-Rifa’i
Ayat 1 sampai 128

Gambar Kutipan Ayat

Surah An Nahl ayat 69 - Gambar 1 Surah An Nahl ayat 69 - Gambar 2 Surah An Nahl ayat 69 - Gambar 3
Statistik QS. 16:69
  • Rating RisalahMuslim
4.5

Ayat ini terdapat dalam surah An Nahl.

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, “Lebah”) adalah surah ke-16 dalam Alquran.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya : “Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”.
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Alquranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Alquran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra’ ayat 82).
Surah ini dinamakan pula “An-Ni’am” artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah16
Nama SurahAn Nahl
Arabالنحل
ArtiLebah
Nama lainAl-Ni’am, an-Ni’am (Nikmat-Nikmat)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu70
JuzJuz 14
Jumlah ruku’0
Jumlah ayat128
Jumlah kata1851
Jumlah huruf7838
Surah sebelumnyaSurah Al-Hijr
Surah selanjutnyaSurah Al-Isra’
Sending
User Review
4.3 (27 votes)
Tags:

16:69, 16 69, 16-69, Surah An Nahl 69, Tafsir surat AnNahl 69, Quran An-Nahl 69, Surah An Nahl ayat 69

Keluarga Anda ada yang belum mahir membaca Alquran? Ingin segera bisa?
Klik di sini sekarang!

Ayat Lainnya

QS. An Nisaa’ (Wanita) – surah 4 ayat 6 [QS. 4:6]

Setelah menjelaskan tentang larangan menyerahkan harta anak yatim dalam kondisi mereka belum mampu mengelola, berikutnya Allah memerintahkan agar para wali menguji terlebih dahulu kematangan berpikir, … 4:6, 4 6, 4-6, Surah An Nisaa’ 6, Tafsir surat AnNisaa 6, Quran AnNisa 6, An-Nisa’ 6, Surah An Nisa ayat 6

QS. Az Zumar (Rombongan-rombongan) – surah 39 ayat 64 [QS. 39:64]

64. Katakanlah, wahai Nabi Muhammad, “Apakah kamu masih menyu-ruh aku menyembah selain Allah, wahai orang-orang yang bodoh? Padahal sudah sangat jelas bukti-bukti keesaan dan kemahakuasaan-Nya dari ya … 39:64, 39 64, 39-64, Surah Az Zumar 64, Tafsir surat AzZumar 64, Quran Az-Zumar 64, Surah Az Zumar ayat 64

Hadits Shahih

Podcast

Hadits & Doa

Soal & Pertanyaan Agama

Surah dalam Alquran yang mengatakan larangan untuk melakukan terlalu banyak, makan dan minum adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.
Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan
--QS. Al A'raf [7]: 31

Fungsi pakaian adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Aurat dari tubuh pria adalah mulai ...

Benar! Kurang tepat!

+

Array

Kejujuran adalah karakteristik dari seorang Muslim, sementara berbohong atau ketidakjujuran adalah fitur dari orang ...

Benar! Kurang tepat!

Setelah Yakin, dalam surah Al-A'raf ayat 26, pakaian terbaik ada di mata Allah Subhanahu Wa Ta`ala adalah ...

Benar! Kurang tepat!

Penjelasan:
Surah Al-A'raf [7] : 26.
Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.
--QS. Al A'raaf (Tempat yang tertinggi) - surah 7 ayat 26

Pendidikan Agama Islam #4
Ingatan kamu cukup bagus untuk menjawab soal-soal ujian sekolah ini.

Pendidikan Agama Islam #4 1

Mantab!! Pertahankan yaa..
Jawaban kamu masih ada yang salah tuh.

Pendidikan Agama Islam #4 2

Belajar lagi yaa...

Bagikan Prestasimu:

Soal Lainnya

Pendidikan Agama Islam #9

Berdasarkan bahasa, ijma artinya adalah … kesepakatan perundingan undang-undang voting rapat Benar! Kurang tepat! Era ketidaktahuan juga disebut zaman …

Pendidikan Agama Islam #19

Berakhirnya seluruh kehidupan di dunia dinamakan … kiamat duniawi kiamat kecil kiamat kubra kiamat sugra alam akhir Benar! Kurang tepat!

Pendidikan Agama Islam #10

Khotbah Nabi Muhammad saat masih di Mekah, difokuskan langsung pada esensi-esensi utama, yaitu … tauhid berperang melawan hawa nafsu zakat

Instagram