QS. An Nahl (Lebah) – surah 16 ayat 59 [QS. 16:59]

یَتَوَارٰی مِنَ الۡقَوۡمِ مِنۡ سُوۡٓءِ مَا بُشِّرَ بِہٖ ؕ اَیُمۡسِکُہٗ عَلٰی ہُوۡنٍ اَمۡ یَدُسُّہٗ فِی التُّرَابِ ؕ اَلَا سَآءَ مَا یَحۡکُمُوۡنَ
Yatawaara minal qaumi min suu-i maa busy-syira bihi ayumsikuhu ‘ala huunin am yadussuhu fiitturaabi alaa saa-a maa yahkumuun(a);

Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya.
Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?.
Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.
―QS. 16:59
Topik ▪ Ilmu manusia sedikit
16:59, 16 59, 16-59, An Nahl 59, AnNahl 59, An-Nahl 59

Tafsir surah An Nahl (16) ayat 59

Tafsir Kementrian Agama RI

Tafsir QS. An Nahl (16) : 59. Oleh Kementrian Agama RI

Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menjelaskan kelanjutan dari perbuatan orang-orang musyrik pada saat mereka mendapat anak perempuan.
Mereka itu bersembunyi dari kaumnya, karena mendapat kabar buruk dengan kelahiran anak perempuan itu.
Mereka bersembunyi dari kaumnya itu, karena takut mendapat hinaan dan tidak menginginkan ada orang yang mengetahui aib yang menimpa dirinya.
Kemudian terbayanglah dalam pikiran mereka apakah anak yang mendatangkan keaiban itu akan dipelihara dengan menanggung kehinaan yang berkepanjangan karena anak perempuan itu tidak berhak mendapat warisan dan tidak mendapat perhatian hidup di tengah-tengah masyarakat yang kedudukannya sebagai pelayan laki-laki, atan apakah mereka akan menguburkannya ke dalam tanah dalam keadaan hidup.
Kebiasaan mereka membenamkan anak perempuan hidup-hidup dipandang sebagai dosa besar yang harus mereka pertanggungjawabkan di hari hisab karena perbuatan itu bertentangan dengan nuraninya sendiri bahkan bertentangan dengan akal yang sehat.
Karena kalau mereka suka kawin mengapa mereka tidak menyenangi anak-anak perempuan.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh?
(Q.S At Takwir: 8-9)

Di akhir ayat Allah subhanahu wa ta’ala menyatakan bahwa alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.
Yang mereka tetapkan dalam ayat yang lalu dan ayat ini ialah:

1) Mereka melakukan peribadatan kepada berhala-berhala.
2) Mereka menganggap bahwa Allah mempunyai anak-anak perempuan yaitu malaikat-malaikat.
3) Mereka mengubur anak-anak perempuan hidup-hidup.

Di samping itu mereka berkeberatan menerima anak perempuan secara berlebih-lebihan:

1) Muka mereka menjadi muram.
2) Mereka bersembunyi dari kaumnya kerana mendapat aib.

3) Mereka telah berani membunuh dan membenamkannya hidup-hidup karena takut mendapat cela dan takut kelaparan.

Tafsir al-Misbah
Oleh Muhammad Quraish Shihab:

Lalu ia berusaha untuk bersembunyi dari penglihatan orang, agar tidak tampak kesedihan yang menimpa dirinya karena kelahiran anak yang dikabarkan kepadanya itu.
Ia pun diliputi kebimbangan antara tetap membiarkan anak itu hidup dan menanggung kehinaan sebagaimana yang ia kira, atau menguburkannya hidup-hidup.
Perhatikanlah, hai orang yang mendengar, alangkah buruknya perbuatan mereka! Sungguh amat buruk ketetapan mereka yang menyatakan bahwa apa yang mereka benci adalah milik Allah.

Tafsir al-Jalalain
Oleh Jalaluddin al-Mahalli & Jalaluddin as-Suyuthi:

(Ia menyembunyikan dirinya) menghilang (dari orang banyak) dari pandangan kaumnya (disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya) karena ia takut akan mendapat celaan, sedangkan ia dalam keadaan bingung untuk melakukan tindakan selanjutnya sebagai pemecahannya.

(Apakah dia akan memeliharanya) yakni membiarkannya tanpa dibunuh (dengan menanggung kehinaan) hina dan direndahkan (ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah hidup-hidup) seumpamanya ia memendam anak perempuan itu ke dalam tanah.

(Ketahuilah, alangkah buruknya) alangkah jeleknya (apa yang mereka tetapkan itu) keputusan mereka itu karena mereka telah menisbatkan kepada Tuhan yang menciptakan mereka mempunyai anak-anak perempuan padahal anak-anak perempuan itu kedudukannya di kalangan mereka serendah itu.

Tafsir al-Muyassar
Oleh tim Mujamma’ Raja Fahd arahan Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Muhammad Alu asy-Syaikh:

Ia menyembunyikan diri dari kaumnya karena tidak suka bertemu mereka dengan diliputi kesedihan dan aib, disebabkan anak perempuan yang dilahirkan untuknya, dan bingung dengan urusan anak perempuan yang dilahirkan ini :
apakah akan membiarkannya hidup dengan menanggung kehinaan, ataukah akan menguburkannya hidup-hidup ke dalam tanah??
Ingatlah, betapa buruknya ketetapan yang mereka putuskan, yaitu menjadikan anak-anak perempuan bagi Allah dan anak-anak laki-laki bagi mereka.

Tafsir Ibnu Katsir
Oleh Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi:

Firman Allah subhanahu wa ta’ala.:

Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak.

Maksudnya, tidak suka bila dirinya dilihat oleh orang-orang.

…disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya.
Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?

Yakni jika dia membiarkan anak perempuannya hidup, berarti dia membiarkannya hidup terhina, dia tidak memberikan hak waris kepada­nya, tidak pula memperhatikannya, dia lebih mengutamakan anak laki-laki daripada anak perempuan.

..ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup).

Yaitu mengebumikannya hidup-hidup, seperti yang biasa mereka lakukan di masa Jahiliah.
Maka apakah yang tidak mereka sukai itu dan mereka menolaknya buat diri mereka, lalu mereka menjadikannya buat Allah?

Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka tetapkan itu.

Alangkah buruknya apa yang mereka katakan itu, alangkah buruknya apa yang mereka bagikan itu, dan alangkah buruknya apa yang mereka nisbatkan kepada-Nya.
Makna ayat ini sama dengan ayat lain yang mengatakan:

Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gem­bira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah, jadilah mukanya hitam pekat, sedangkan dia amat menahan sedih.
(Az Zukhruf:17)


Kata Pilihan Dalam Surah An Nahl (16) Ayat 59

HUUN
هُون

Lafaz ini adalah mashdar dari lafaz haana, artinya kehinaan, kerendahan, keras, makhluk keseluruhannya, lemah.

Lafaz ini disebut 4 kali di dalam Al Qur’an, yaitu dalam surah:
-Al An’aam (6), ayat 93;
-An Nahl (16), ayat 59;
-Fushshilat (41), ayat 17;
-Al Ahqaf (46), ayat 20.

Pada surah Al An’aam, Fushshilat dan Al Ahqaf lafaz al huun dihubungkan dengan lafaz al-adzaab (azab dan siksaan).

Az Zujjaj berkata,
al ‘adzaabal huun adalah azab yang diberikan setelah mengalami kehinaan dan kelemahan yang sangat.”

Ibn Qutaybah berkata,
al huun artinya al hawaan iaitu kehinaan.”

As Suddi berkata,
‘adzaabal huun ialah siksaan yang menghinakan.”

Ibn Juraij berkata,
“ia bermakna azab yang hina di akhirat balasan atas perbuatan mereka

At Tabari berpendapat, ia bermakna siksaan api neraka yang menghinakan mereka, maka mereka merasakan kerendahan sehingga mereka mengetahui kelemahan diri mereka dan hina.

Asy Syawkani menafsirkan, pada saat ini kamu akan disiksa dengan kelemahan dan kerendahan sehingga kamu menjadi orang yang hina dan lemah selepas kamu berasa angkuh dan sombong.

Sedangkan dalam surah An Nahl ia dikaitkan dengan sikap orang kafir Quraisy yang merasa hina jika mendapat anak perempuan kerana menurut dakwaan dan mereka ia disandarkan kepada Allah.

Ibn Katsir menafsirkan jika ia dikekalkan maka ia menjadikan mereka berasa hina sehingga mereka tidak menjaganya dan mewarisinya.

Dalam Al Asas fit Tafsir, makna ayat ini adalah apa yang diberitakan kepada mereka berita gembira (dengan kelahiran seorang perempuan) menjadikan mereka merasa hina

Sayyid Qutub menegaskan, “akidah ilahiah yang bersumber dari Allah memuliakan manusia dengan diiringi kemuliaan itu kepada perempuan, Ia menyifatkannya sebahagian daripada diri manusia itu dan tidak ada perbedaan kedua bahagian yang mulia itu di sisi Allah (kecuali orang yang bertakwa, pen.).

Kesimpulannya, lafaz al huun bermakna kehinaan dan kerendahan.

Sumber : Kamus Al Qur’an, PTS Islamika SDN. BHD.Hal:644

Informasi Surah An Nahl (النحل)
Surat ini terdiri atas 128 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah.
Surat ini dinamakan “An Nahl” yang berarti “lebah” karena di dalamnya terdapat firman Allah subhanahu wa ta’ala ayat 68 yang artinya:
“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah”,
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan keni’matan kepada manu­sia.

Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Qur’anul Karim.

Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penya­kit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Qur’an mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surat (10) Yunus ayat 57 dan surat (17) Al lsra’ ayat 82).

Surat ini dinamakan pula “An Ni’am” artinya ni’mat-ni’mat, karena di dalamnya Allah menyebutkan pelbagai macam ni’mat untuk hamba­ hamba-Nya.

Keimanan:

Kepastian adanya hari kiamat
keesaan Allah
kekuasaan-Nya dan kesempumaan ilmu-Nya serta dalil-dalilnya
pertanggungan jawab manusia kepada Allah terhadap segala apa yang telah dikerjakannya.

Hukum:

Beberapa hukum tentang makanan dan minuman yang diharamkan dan yang di­halalkan
kebolehan memakai perhiasan-perhiasan yang berasal dari dalam laut se­perti marjan dan mutiara
dibolehkan memakan makanan yang diharamkan dalam keadaan terpaksa
kulit dan bulu binatang dari hewan yang halal dimakan
kewajiban memenuhi perjanjian dan larangan mempermainkan sumpah
larangan membuat­ buat hukum yang tak ada dasarnya
perintah membaca isti’aadzah (a’Uudzubillahi minasyaithaanirrajiim = aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk)
larangan membalas siksa melebihi siksaan yang diterima.

Kisah:

Kisah Nabi Ibrahim a.s

Lain-lain:

Asal kejadian manusia
madu adalah untuk kesehatan manusia
nasib pemimpin­ pemimpin palsu di hari kiamat
pandangan orang Arab zaman Jahiliyah terhadap anak perempuan
ajaran moral di dalam Islam
pedoman da’wah dalam Islam.

Audio

Qari Internasional

Q.S. An-Nahl (16) ayat 59 - Oleh Syekh Mishari Alafasy
Q.S. An-Nahl (16) ayat 59 - Oleh Syekh Sa'ad Al-Ghamidi
Q.S. An-Nahl (16) ayat 59 - Oleh Syekh Muhammad Ayyub

Murottal al-Qur'an & Terjemahan Indonesia
Q.S. An-Nahl - Oleh Syekh Misyari Rasyid Alafasy
Full ayat 1 sampai 128 & Terjemahan


Gambar

[ngg src=”tags” ids=”16-59″ display=”basic_thumbnail” images_per_page=”6″ number_of_columns=”2″ order_direction=”DESC”]



Statistik Q.S. 16:59
  • Rating RisalahMuslim

Ayat ini terdapat dalam surah An Nahl.

Surah An-Nahl (bahasa Arab:النّحل, an-Nahl, "Lebah") adalah surah ke-16 dalam al-Qur'an.
Surah ini terdiri atas 128 ayat dan termasuk golongan surah-surah Makkiyah.
Surah ini dinamakan An-Nahl yang berarti lebah karena di dalamnya, terdapat firman Allah subhanahu wa ta'ala ayat 68 yang artinya : "Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah".
Lebah adalah makhluk Allah yang banyak memberi manfaat dan kenikmatan kepada manusia.
Ada persamaan antara madu yang dihasilkan oleh lebah dengan Al Quranul Karim.
Madu berasal dari bermacam-macam sari bunga dan dia menjadi obat bagi bermacam-macam penyakit manusia (lihat ayat 69).
Sedang Al Quran mengandung inti sari dari kitab-kitab yang telah diturunkan kepada Nabi-nabi zaman dahulu ditambah dengan ajaran-ajaran yang diperlukan oleh semua bangsa sepanjang masa untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
(Lihat surah (10) Yunus ayat 57 dan surah (17) Al Isra' ayat 82).
Surah ini dinamakan pula "An-Ni'am" artinya nikmat-nikmat, karena di dalamnya Allah menyebutkan berbagai macam nikmat untuk hamba-hamba-Nya.

Nomor Surah16
Nama SurahAn Nahl
Arabالنحل
ArtiLebah
Nama lainAl-Ni’am, an-Ni'am (Nikmat-Nikmat)
Tempat TurunMekkah
Urutan Wahyu70
JuzJuz 14
Jumlah ruku'0
Jumlah ayat128
Jumlah kata1851
Jumlah huruf7838
Surah sebelumnyaSurah Al-Hijr
Surah selanjutnyaSurah Al-Isra'
4.7
Ratingmu: 4.9 (21 orang)
Sending

✅ URL singkat halaman ini: https://risalahmuslim.id/16-59









Video

Panggil Video Lainnya

[ngg src="galleries" ids="1,2,6" display="basic_thumbnail" override_thumbnail_settings="1" images_per_page="6" number_of_columns="3" ajax_pagination="0" order_by="rand()"]
RisalahMuslim di  







Email: [email protected]
Made with in Yogyakarta